- Beranda
- Stories from the Heart
Sosoknya tinggi melebihi Pohon Kelapa# Longga
...
TS
cali.ari
Sosoknya tinggi melebihi Pohon Kelapa# Longga
Sosoknya tinggi melibihi pohon kelapa, terbang tanpa sayap, dan melayang tak menyentu tanah#Longga,Poppodan Parakang
#1997, iya, tahun tersebut sangat berkesan bagiku, usiaku pada waktu itu sekitar 6 tahun dan masih bersekolah di taman kanak-kanak yang ada di kotaku, salah satu kota yang berjarak sekitar empat 4 jam dari ibu kota propinsi Sulawesi selatan.
Malam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh kami; Aku, Arman, Dede, Kiki, Jumi, Pendi dan kemungkinan masih ada teman lain tetapi sekarang saya sudah lupa, hehe. seingat saya kelima orang tersebut hadir pada malam itu, iya malam seperti biasanya kami keluar untuk bermain sebelum tidur, meskipun daerah yang kami tinggali adalah kota Dati 2, akan tetapi masih banyak wilayahnya yang jauh dari keramaian, iya tempat tersebut termasuk daerahku, kami memang Cuma punya hiburan yang sangat terbatas pada waktu itu, tak Ada Internet, Ps4, Instagram,Fazebuk, Peth, Lain, Bbm dan sebagainya, haha, yaiyalah.
#
kebersamaan sangat terasa bagi kami, kebersamaan yang sekrang sudah hilang Karena sudah mempunyai kesibukan masing-masing entah dimana mereka semua aku kurang tahu!, Karena memang sudah lama aku meninggalkan kota tersebut kemudian tinggal di perantauan.
Kembali ke malam pada tahun 1997, malam dimana kami bermain seperti malam-malam sebelumnya, Mallebba kacubbu permainan bersembunyi yang mirip dengan petak umpet, permainanan ini dimulai dengan memilih siapa yang menjadi petugas jaga, iya “petugas jaga yang kami sebut pallellung, metode pemilihan pallellung dilakukan dengan hom pim pa , iya dengan hom pim pa kami semua dapat dengan mudah untuk memilih siapa yang akan menjadi pallellung, tiga kali hom pim pa, akhirnya terpilih Kiki sebagai Pallellung, Kiki salah seorang perempuan yang ikut bermain pada malam itu dengan kami, iya Kiki, dia juga merupakan salah satu tetangga kami, rumahnya tepat depan jalan pinggir ledeng/aliran air irigasi, irigasi yang di sebelahnya menjadi tempat kami bermain pada malam itu, tepat di depan rumah Kiki terdapat pohon mangga yang menjulang tinggi dan lebat, di samping pohon mangga rumah Kiki terdapat rumah nenek yang dulu menjadi rumah keduaku, tempat dimana menghabiskan masa taman kanak-kanak hingga kelas 2 sekolah dasar, disamping belakang sebelah kanan rumah nenek terdapat pohon Aju Jawa pohon yang lebih besar dari mangga serta lebih lebat hingga hampir menutupi atap rumah nenek, pohon Aju Jawa berarti Aju Jawa; Aju= Kayu dan Jawa= Jawa, iya artinya kayu jawa, Karena mungkin kayu ini dulu dibawa oleh orang jawa, haha, tak taulah.
#
Takut ceritanya melebar, kembali kepermainan Malleba Kacubbu, saat kiki mengambil tempat pos jaga Pallellung, yaitu tiang listrik tempat iya menyilangkan kedua lengannya dan menutup mata sambil menghitung yang biasanya sampai bilangan kesepuluh.
Sebelum hitungan Kiki sampai pada bilangan kesepuluh kami harus mendapatkan tempat bersembunyi, tapi kami rasa itu cukup mudah!, Karena baru pada hitungan kelima sebagian dari kami telah hilang dalam gelapnya malam, tapi tidak denganku, aku masih kebingungan untuk mencari tempat bersembunyi, mau keutara, ketimur, barat maupun selatan, entahlah aku sangat bingung!, hitungan Kiki sudah ketujuh. Arah selatan pun menjadi tujuanku, melewati samping rumah nenek meski aku tahu ada lorong yang cukup lebar di sampingnya, tetapi Karena takut ketahuan berlari, akupun memilih jalur tersebut, jalur yang penuh dengan sayur kangkung. iya,kangkung yang biasa dijadikan lauk makan, hamparan kangkung tersebut mungkin merasa kesakitan Karena injakan kakiku yang masih kecil, akupun terus berlari hingga mencapai pagar yang terbuat dari besi atau kami menyebutnya Palla Bessi, seperti pencuri saja aku dengan mudah melewatinya dengan tubuhku yang kecil, setelah melewati Palla Bessi akupun sampai pada rumah panggung tiga petak, yang dibawahnya terdapat berbagai macam alat perbaikan mobil, tak hanya alat, mobil yang sudah dipreteli juga ada, kalau tidak salah ada dua buah, rumah panggung tersebut memiliki pohon Kaluku iya kaluku biasa juga di sebut kelapa yang tinggi hampir setinggi pohon Aju Jawa dirumah nenek.
Iya memang rata-rata daerah kami memiliki pohon kelapa, Karena mungkin pohon kelapa sangat bermanfaat menurut kami, hampir setiap bagian kelapa berguna bagi kehidupan warga di daerah kami, pada waktu itu, Dari buah, daun, sari, batang, bahkan uratnya pun dapat bermanfaat, selain itu pohon kelapa juga dijadikan lambang untuk umur yang pangjang, biasanya ari-ari kami ketika lahir dikubur dalam tanah berdampingan dengan tunas kelapa, mungkin agr maksudnya dapat tumbuh seperti kelapa dan memberikan banyak manfaat bagi orang lain di sekitar, cukup masuk akal menurutku.
#
Maaf melebar lagi,heh. balik ke tempat saya bersembunyi, dalam kegelapan malam itu mataku masih dapat melihat siluet Bola-bola. Bola-Bola= bale-bale yang terbuat dari bamboo dapt digunakan tiduran, maupun untuk duduk bersantai ketika siang hari, yang berada tepat disamping pintu mobil yang terlepas dari bodinya, akupun bersembunyi dibawahnya, cukup bagi tubuh kecilku untuk masuk, tanyaku dalam hati; “Lettuni kapang bilangenna Kiki ro” atau dalam Bahasa kalian Mungkin Kiki sudah selesai menghitung, dan sedang mencari kami semua yang bersembunyi.
#
Beberapa saat setelah masuk kedalam kolong bale-bale, kaki bagian kiriku terasa hangat sehangat selimut, dengan acuhnya akupun tidak menghiraukan hal tersebut, lama kelamaan semakin terasa hangat hingga kaki bagian kananku pun merasakannya, aku tak berani menegok kebelakang, perasaan anehpun muncul dalam diriku, apa ini? Tanyaku dalam hati, yang berdebar keras diiringi degup jangtung yang lebih cepat dari biasanya, aku terdiam cukup lama, begitu pula dengan kehangatan yang kurasa masih tetap menyelimuti kedua kakiku kiri dan kanan, untuk bergerak sedikitpun aku tak mau, “lebih baik aku tetap disini”, kataku dalam hati, menitpun berlalu aku tak sadar hal itu, dari kejauhan terdengar beberapa suara yang memanggil namaku, sepertinya aku kenal suara-suara tersebut dan tak asing bagiku, tak tahu siapa saja yang memanggil Karena terhalang beberapa perangkat kendaraan serta rangka mobil, sesekali suara tersebut tedengar begitu dekat hingga aku ingin menjawabnya, tapi dalam kondisi seperti ini, mulutku seperti terkunci dan tak bisa berucap, mungkin Karena dalam ketakutan atau apa, aku tidak tahu!., beberapa kali suara panggilan tersebut terdengar sangat dekat dan kemudian terdengar kecil seperti menjauh dari lokasiku, menitpun berganti jam, aku masih tak ingin bergerak, tapi degup jangtungku mulai stabil tidak seperti awal masuk kedalam kolong bale-bale, meskipun begitu rasa hangat dikedua kakiku masih sangat terasa, dengan penasaran aku memberanikan diri untuk menegok kebelakang dan mencoba menerka apa yang ada pada kaki, apa yang begitu kuat untuk membungkam mulutku, yang begitu terasa besar hingga membuat jantungku berdegup kencang, Karena terlalu lama memejamkan mata, pada saat tengokan pertama aku masih belum melihat ada sesuatu, tapi rasa hangat di kedua kaki masih terasa, kembali aku membalikkan kepalaku dan tak menegok kebelakang lagi, hingga akhirnya sayup-sayup terdengar suara mirip seperti bayi, tapi sangat kecil dan tidak jelas. Dibarengi dengan suara gesekan tanah, seperti tikus memakan sesuatu.
#
Pikirku dalam hati suara apa ini,! Selang hampir satu menit suara itu kembali muncul, iya muncul kembali terdengar lebih keras sedikit dari sebelumnya, tapi aku masih tidak tahu apa itu, tak sadar tangangku yang kotorpun kugunakan untuk menutup kedua telingaku. Tubuhku masih dalam kekakuan dan tak bisa bergerak, babarapa lama kemudian kembali aku mememberanikan diri untuk menengok kebagian belakang, bagitu takutnya aku hingga celana yang aku gunakan pada waktu itu terasa basah Karena tak kuat menahan-pipis, dengan celana kebasahan sambil tetap menegok kebelakang dengan samar terlihat adanya gerakan, tapi aku belum tahu apa itu, garakan sekilas tersebut kembali membuat jangtungku, berdegup kencang seperti kontak pertama saya dengan sesuatu yang berada di belakang, membuatku teringat dengan cerita-cerita rakyat kami tentang Parakang, menurut cerita yang ada di daerah kami adalah sejenis Hantu, dalam khayalanku pada waktu itu Parakang memiliki sosok yang lebih besar dari manusia biasa, memiliki tinggi sekitas 3 meter, wajah yang tak Nampak alias tertutup kain yang terluntai dari atas kepalanya, kakinya tak dapat terlihat bagaikan melayang diatas tanah, dan mengenakan baju putih mirip kuntilanak, Parakang dikenal suka menghisap darah seperti vampire atau drakula, suka menyembunyikan anak-anak dalam tempat persembunyiannya dan selalu hadir di dekat orang yang sakaratul maut.
Dalam keadaan terpejam dan merasa ketakutan di benakku terus berpikir “ini Parakang” , kedua kata tersebut babarapa kali kuulangi, hingga terlintas di benakku untuk membaca ayat suci yang saya hapal pada waktu itu, al fatiha, tak ingat lagi aku mengulangya beberapa kali, Karena Cuma itu yang kuketahui pada usia tersebut, aku masih kaku dalam diam, kemudian kembali hal aneh pun terjadi, suara dentuman keras, terdengar dari arah utara. Iya! tepat arah jam 11 dari posisiku berbaring tengkurap, aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya kembali membaca ayat yang hafalan dalam hati, hampir semenit kemudian aku berpikir bahwa itu suara kelapa yang sudah tua terjatuh, menghempas ke tanah, dan terdengar begitu keras.
#
Dibenakku tak hanya Parakang, Longga yang juga sejenis hantu menjadi momok dalam imajinasiku tentang sosok yang dibelakang, Longga adalah sosok yang tinggi, setinggi pohon kelapa yang tubuhnya terbuat dari bamboo yang berwarna kuning kecoklatan, dengan retakan di setiap persimpangan tulangnya, Longga memiliki lengan yang pangjang hingga jemarinya mampu menggapai tanah walau dalam keadaan berdiri tegap, dalam benakku sambal terpejam aku membayangkan jari jemari Longga yang mengeggam kakiku hingga lama kelamaan terasa seperti mati rasa, aku membayangkan wajahnya menatap kebawah sedang menyaksikanku dalam katakutan, iya! Menurutku Longga dapat melihat tembus pandang melewati atap rumah panggung dimana aku bersembunyi, melihat tembus di bawah bale-bale di mana aku menggunakan lengan kotorku untuk menutup mata, aduh! Badanku rasanya sangat dingin hanya kakiku saja yang hangat, Longga tidak seseram Parakang yang dapat menghisap darah, dia lebih memilih untuk menculik anak-anak kecil dan menyembunyikannya diatas pohon yang tinggi, seperti Pohon mangga depan rumah Kiki, pohon Aju Jawa samping rumah nenek dan pohon kelapa dirumah ini. Longga hanya sebatas menculik dan suatu waktu dapat mengembalikan korbannya, masih memikirkan Longga dalam benakku akan membawaku keatas pohon dan menutup mulutku hingga tak ada yang mampu melihat dan mendengar teriakanku, aku bisa saja berhari-hari ditawannya, tanpa sepengetahuan keluargaku,
#
Jemariku yang kotor masih menutupi telinga, kemudian terdengar lagi suara-suara yang memanggil namaku, suaranya kian lama, makin mendekat dan aku masih tak ingin berucap, takut kalau-kalau “Longga” menarik kakiku dan membawaku keatas pohon, Kemudian menawanku berhari hari. Beberap detik berlalu suara yang tadinya terdengar besar kini semakin kecil hingga menghilang mengarah ke selatan,
Sudah terlalau lama rasanya berada dibawah sini, hingga aku merasakan tanah dibawahku meresap sampai ketulang menembus dagingku yang tipis, aku tak bisa lagi bertahan, rasanya sudah berjam-jam dibawah sini, hingga suara yang muncul tepat dibelakangku, suara yang membuat dengup jangtungku terasa lebih baik, dan tubuhku mengabaikan dinginnya tanah, suara yang terdengar merdu seperti dewa penolong malamku, suara tersebut saya kenal yaitu suara anak angjing yang mungkin baru berumur beberap hari, sesaat setelah mendengar suara tersebut keberaniangku untuk menengok kebelakan semakin besar, iya, menegok kebelakang dan memaksa mata kecilku untuk melihat sesuatu yang selama ini menghangatkan kedua kakiku,
#
Iya betul, saja yang ada dipikiranku, suara yang baru saja terdengar adalah memang anak anjing dan induknya yang sedang terlelap tidur, kakiku yang kecil sedikit bersentuhan dengan bulu mereka yang hangat dan masih halus, juga kehadiranku disini sedikit menggangu ketenangan mereka yang sedang beristirahat, meski telah mengetahui kejelasan bahwa bukan Parakang ataupun Longga yang menjadikan kedua kakiku hangat, tapi ketakutanku masih ada, aku masih takut untuk bergerak meninggalkan tempat tersebut, iya. Karena pikirku anjing yang sedang beranak/menyusui sangat sensitive terhadap gangguan mahluk lain, tapi setidaknya ketakutanku kini berubah ke anjing, iya, sekarang aku berpikir untuk keluar dari bawah bale-bale,
#
Memerlukan waktu hanya semenit untuk menenangka pikiran dan mencoba sedikit-demi sedikit menarik kakiku dari sentuhan induk anjing tersebut, semoga saja tidak membangunkannya, iya, kakiku sudah terlepas darinya aku tidak merasakan kehangatannya lagi, tinggal memilih jalan untuk keluar dari sini, mengingat di samping kiri ada pintu mobil yang menghalangi, akupun mencoba keluar melalui bagian depan sebelah kanan bale-bale, dan akhirnya aku dapat keluar tanpa membangunkan induk angjing, kemudian mempercepat langkah menuju pintu keluar rumah tersebut melewati dua rangka mobil, hingga menggapai lorong, dan bertiriak memanggil Ibuku, “Mak” iya aku memanggilnya Karena suara yang dari tadi memanggilku mirip dengan suaranya, dan ternya benar Ibuku dan Ibu Arman sedang berkeliling disekitar tempat tinggal kami dan berteriak memanggil namaku, dari lorong aku berlari ke selatan menghampiri Ibuku, dan memeluknya, beliau berkata “Tenroko pole, nak!?To silladde sappako” atau dalam Bahasa Indonesia “ kamu darimana, Nak? Kami setengah mati mencarimu. Kalimat tersebut sampai sekarang belum saya jawab, seingatku, setelah itu aku diberi segelas air minum, tanpa ragu akupun langsung menghabiskannya, rasanya memang sangat haus dan lapar, aku tak sempat lagi bertemu dengan teman-temanku, terlalu Lelah dan saya sangat ngantuk serta kehabisan energi, aku lansung masuk ke rumah hanya mencuci kaki, tanganku yang penuh tanah serta mengganti baju, kemudian tidur, dan berharap besok pagi dapat melupakan segalanya.
##
Tak ingat berapa lama setelah kejadian malam tersebut, ternyata cerita yang berkembang di tetangga dan teman temanku, bahwa aku telah dibawa oleh Sosok Poppo, Poppodapat terbang tapi tidak memiliki sayap, badannya kurus dan pangjang hampir seperti Parakang , hidungnya pangjang dan mempunyai kulit hitam berteksstur seperti kadal serta memiliki jubah putih kusam. Katanya aku dibawah ke alam antah berantah dimana merupakan tempat yang asing bagiku dan di sana merupakan tempat semua korban tawanan Poppo berada.
[CENTER]#
by. Cali.150591
Spoiler for Indeks:
Diubah oleh cali.ari 23-12-2016 16:13
anasabila memberi reputasi
1
3.8K
33
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cali.ari
#25
#Mengikuti kami sejauh 189 kilometer
#
Malam itu kami; Aku, Bapak, Mamak, Tante Tima, Ai, dan Ibunya sedang dalam perjalanan menuju kota kecil kami yang jaraknya kurang lebih 180an kilometer ke utara kota Makassar, kami semua menumpang mobil tante Tima, kijang baru warna merah kecoklatan khas mobil dinas kecamatan, iya Karena memang mobil ini mobil dianas kecamatan berplat merah, yang biasa kami sebut “DD” . Kode plat Nomer untuk Wilayah Sulawesi bagian selatan
#
Kami berangkat dari makassar kira-kira sekitar pukul delapan malam, keberangkatan kami diiringi hujan gerimis yang terjadi sedari sore, iya, gerimis Karena memang pada waktu itu bulan desember, tahunnya sudah lupa, heheh, awal musim hujan. Bapak yang mengendarai mobil tante Tima berada di sampingnya, DI kursi bagian tengah ada Mamak dan Ibu dari Ai, sedangkan kami berdua Aku dan Ai, duduk paling belakang dengan kursi berhadapan.
#
Mobil masih membelah gerimis hingga tak terasa sudah melewati kecamatan Daya, Daya bagian pinggiran kota makassar yang berbatasan lansung dengan wilayah Kabupaten Maros,
#
Hampir pukul Sembilan kami pun sudah melewati perbatasan antara makassar dan maros, pada waktu itu di daerah Sulawesi bagian selatan masih belum terlalu banyak pembangunan, infrastruktur jalan juga masih sempit tak selebar sekarang yang sampai dua jalur, Daerah yang belum banyak terdapat perumahan pun masih banyak, kendaraan masih sedikit sekali, Perjalan kami ini menurutku yang masih kecil pada waktu itu, i merupakan perjalanan yang sangat pangjang.
#
Beberapa menit berlalu, mobil yang kami tumpangi melewati kota Maros. Kota ini berbatasan langsung dengan Kota Makassar, setelah melewati tengah kota kami pun memasuki kawasan yang belum terlalu banyak penduduk di sepangjang jalannya terlihat disamping ada lampu tambak bibit udang atau biasa kami sebut Benur/nener. Tak lupa sebelah kanan terdapat hamparan sawah yang tak begitu kelihatan dalam gelap, Setahu saya!, hehe
#
kalau hari terang kita dapat menyaksikan pengunungan tempat pabrik semen bosowa berada, perjalanan kami melewati kawasan ini di sambut hujan deras, sangat deras hingga atap mobil yang kami tumpangi ini, serasa dijatuhi batu kerikil, sangat gelap sekali di belakang sini, dan jalanannya sangat sepi, di belakang terlihat sesuatu dari kejauhan menembus kaca yang terhalau tetesan air hujan, Sinar kecil yang semakin lama semakin mendekat, sangat cepat, kearah kami, hingga kami merasa mau ditabrak olehnya, aku pikir sinar tersebut berasal dari kendaraan yang berada di belakang kami yang ingin over taking kendaraan kami.
#
Aku rasa bukan! ucapku dalam hati, Sinarnya sangat cepat dan tak mungkin ada supir yang berani mengebut dengan kecepatan seperti itu dalam kondisi hujan deras,
#
Aku yakin bukan!, Karena saat sinarnya berada sangat dengan jendela belakang mobil, Aku sendiri menyaksikanya berbelok ke kiri, sedangkan mobil kami melaju pada jalur kiri, pikirku tak mungkin kendaraan menyalip melalui jalur kiri, “Ai muliat itu mobil moki nasambung kiri” atau “Ai kamu lihat mobil itu, masa mau menyalip kiri” tanyaku kepada Ai yang tidak terlalu focus, mungkin Karena dia sudah mengantuk, ”manaje’e” atau ”dimana” jawabnya.
#
Iya., memang Ai tidak sempat melihat sinar tersebut, hanya aku yang duduk sebelah kanan selurus dengan bapak, yang sedang mengemudi, pada saat itu posisi tubuhku menghadap kearah barat.
#
kota kami berada sebelah utara kota Makassar jadi kami mengarah keutara pulau selawesi bagian selatan, lama kami berkendara!, hujan masih tetap mengiringi kami, sesekali datang dari depan dua tiga mobil yang mungkin sedang menuju makassar dimana kami berangkat tadi, tetapi dari belakang belum pernah ada mobil yang menyalip kami, mungkin sekitar sepuluh menitan ini, semenjak Sinar terakhir seperti yang datang dengan cepat dari belakang tadi, kemudian menghilang menuju kearah tambak.
#
Sepertinya Ai sudah pulas tertidur!, dengan posisi menghadap ke saya dan kakinya memanjang kearah belakang mobil, iya kami waktu itu belum setingggi sekarang, jadi kabin belakang mobil masih cukup untuk tubuh kecil kami, sedangkan aku,! aku terlanjur tidak bisa tidur.! tidak tahu kenapa!
#
Memang aku jarang tertidur jika berkendara keluar kota, Karena ingin menyaksikan semua pemandangan yang tersedia, sampai sekarangpun aku masih suka seperti itu, Karena kami anak kampong, hehe maksudnya kota kami yang kecil. Aku jarang-jarang pergi keluar, jadi setiap perjalanan keluar kota aku pasti sangat antusias untuk ikut.
#
Hujan masih bersama kami, Kijang plat merah masih berpacu melintasi kabupaten Maros, pemandangan masih tak jauh berbeda, situasinya pun sama, tapi saya dibagian belakang mobil merasa sangat kedinginan, Memang pada waktu itu saya mengenakan celana pendek selutut dan baju kaos biasa, pikirku dalam hati “Mungkin Karena masih hujan jadi begini dinginnya”, kemudian menyanggah dalam hati “tapikan, seharusnya pengap ya!”
#
Iya pengap!. Karena saya melihat semua jendela mobilnya tertutup hingga tetesan seperti embun terlihat di kaca jendela mobil, lagian mobil ini belum memiliki Air Condisioner, kenapa dingin sekali perasaanku?, sambil menatap Ai yang tertidur, aku mencoba meyilangkan kedua tanganku agar teras lebih hangat, sesekali menyapu kaca jendela bagian belakang, agar aku dapat melihat jelas jalan yang kami lalui, aku memperhatikan terus kaca belakang, dari dalam mobil aku melihat Sinar kecil yang hanya satu titik, mirip sinar lampu motor!, iya mirip, tapi kayaknya bukan sinar motor, saya tahu persis sinar lampu motor, warnanya kekuningan!, sedangkan Sinar ini berwarna putih bersih dan mempunyai nuasa warna merah mengelilinginya, kenapa? Iya kenapa, aku tidak yakin itu lampu/sinar kendaraan motor, Karena pada tahun itu belum marak penggunaan lampu led, yang sinarnya putih terang.
#
Sinar yang datang ini kelihatan terus mendekati mobil, sama seperti sinar yang pertama, tapi yang ini lebih lambat, semakin kearah mobil kami sinarnya semakin terang, hingga mampu menyinari aspal di bawahnya, aku dapat melihat jelas garis putih yang ada di tengah jalan dari dalam mobil. Aku semakin dingin dan terus menyilangkan kedua tanganku, aku juga terus memperhatikan sinar tersebut, yang nampaknya menyelaraskan lajunya hingga sama dengan kecepatan mobil kami, kira-kira sekitar 50-60 km/jam.
#
Mendengar tante Tima berbicara dengan bapak, mungkin menjaga agar bapak tetap sadar dan tidak mengantuk, kalau mengantuk bisa-bisa kami mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.. hehe Makanya harus terus diajak berbicara.! Aku juga terus memperhatikan sinar tersebut. Sinar yang sudah bersama kami beberapa kilometer ini.
#
Tidak tau kenapa, apa karena mataku berkedip atau apalah!. Tetiba Sinar yang mengikuti kami menghilang, setelah itu hampir 5 detik kemudian saya mendengar teriakan bapak, “Batu” iya bapak berteriak batu dengan keras Hingga Ai terbangun mendengarnya, Ai bukan terbangun akibat teriakan bapak, tapi karena kendaraan kami berkurang kecepatannya secara tiba-tiba, Karena bapak mengerem secara mendadak, kami pun memberhentikan kendaraan sebentar, mencoba menenagkan semua yang ada di dalam kendaraan, tidak sampai sepuluh menit kemudian, kami melanjutkan perjalananan, dan masih diiringi hujan yang sam derasnya.
#
Baru kemudian saya mendengar perbincangan mereka di depan (Mamak, tante Tima, Ibu Ai, dan Bapak. bapak mengatakan telah melihat kucing dengan bulu putih bersih, serta mata yang memantulkan cahaya dari lampu kendaraan kami, muncul dengan tiba-tiba, sehingga membuat bapak reflex untuk mengerem mendadak, dan berteriak “Batu”. Kenapa batu? Padahal sebenarnya jelas-jelas itu merupakan kucing.
#
Aku kurang tau juga tapi menurut beberapa orang di wilayah kami percaya, percaya bahwa pada saat kita berkendara dan melihat kucing, kemudian hampir menabraknya kita harus mengucap kata “batu”, kata batu tersebut untuk menggati sebutan kucing, mungkin dengan harapan untuk menjadikan kucing tersebut kebal sekuat batu, hehe! sehingga dapat menahan lindasan ban mobil. sekali lagi ini pendapatku ya..Mungkin masing masing memiliki keparcayaan sendiri, lagian konon katanya Kucing memiliki nyawa lebih dari satu, jadi ngak papa kalau di lindas kendaraan. Heheh.
#
Kembali membahas yang tadi, dalam benakku mungkin ada hubungan antara sinar yang mengikuti kami sejak dari tadi dengan kemunculan kucing secara tiba-tiba, dalam pikiranku Sinar yang mengikuti kami adalah sosok Poppo, karena dapat terbang dan mampu memindahkan seseorang atau apapun itu dari satu tempat ke tempat lain, kemungkinan Poppo yang memindahkan kucing yang tadi dari tempatnya sehingga berada tepat di depan kendaraan yang kami tumpangi, walaupun aku belum melihatnya secara jelas, sosok Poppo yang berkulit kasar seperti kadal tergiang dalam pikiranku pada waktu itu.
#
Tak terasa mobil yang kami kendarai, ternyata sudah melewati kabupaten pangkep dan hampir masuk ke kabupaten Barru, Ai yang tampaknya tidak bisa tidur lagi, gara-gara kucing yang tadi! kucing yang tak tau kami tabrak atau tidak!, Apa karena hujan sehingga kami tidak dapat melihatnya pergi!? atau karena ada Sesuatu yang memindahkannya, akupun tak tau.!
#
Jalan yang kami lalui disini sudah sedikit berubah, sebelah kanan aku masih agak jelas merlihat bebatuan dan sedikit pepohonan yang tumbuh di lerengnya, iya, kami sedang melewati pinggiran pengunungan, dan samping kiri kami adalah laut selat Sulawesi, jika siang hari pemandangan di sekitar sini memang bagus dan indah, tapi pada malam hari apalagi dalam kondisi hujan seperti ini, sepertinya berbeda 360 derajat, masih sedikit sekali kendaraan yang berpapasan dengan kami, mungkin karena hujan atau mungkin karena sudah hampir tengah malam, kiria-kira jam 10, Iya jam sepuluh malam, dan kami sudah dua jam dalam kendaraaan membela hujan yang kadang deras dan kadang sedang.
#
Masih di sekitar kawasan pinggir laut, susasananya masih hujan, Ai kembali membaringkan kepalanya, dengan posisi seperti sebelumnya, tiduran dengan kepala diutara dan kaki memangjang ke selatan, sampai pada tikungan ke kanan yang berada di pinggir jurang, disana aku kembali melihat Sinar yang sama, muncul dari sebelah kiri, iya sebelah kiri dari arah laut yang sejajar dengan kendaraaan kami, mendekat semakin mendekat,! hingga mencapai bagian belakang sebelah kiri tepat di bawah kaki Ai, iya aku masih melihatnya diantara kaca yang berembun akibat hujan, tetapi dengan mata kecilku! aku masih dapat melihatnya jelas, Sinarnya menembus kaca tersebut, aku dapat melihat berkas sinarnyatetapi inti dari sinar tersebut terhalang oleh lekukang sudut jendela kaca mobil, iya tetap disana bagai melekat dan mengiringi kendaraan kami melewati hujan.
#
Akupun tak berani menerka apa itu, waktu itu aku sama sekali tidak berpikir untuk bertanya kepada orang dewasa yang ada dalam mobil, menurutku itu hal yang biasa!, itu hanya sinar biasa, hasil pantulan dari lampu belakang yang terkena air hujan.
#
aku kembali melihat kedepan kearah pengemudi, beberapa saat kemudian berbalik lagi melihat ke sudut sebelah kiri tepat diatas kaki Ai, iya sinarnya sudah tak ada lagi entah pergi kemana,!
#
Sudah hampir tiga jam lebih kami berkendara, dan telah melewati kota Barru sepertinya tak lama lagi kami mencapai Pare-pare, perjalanan Barru ke Pare-pare, biasanya hanya sejam, tapi aku kurang tau klw dengan cuaca seperti ini.
#
Jalan didaerah sini sudah agak ramai, sudah banyak sekali rumah, di pinggir jalan hampir tak kelihatan pantai dan lahan yang kosong lagi, cahayanya pun bertambah terang walau sudah agak tengah malam dan hujan!, ditegah perjalanan antara kedua kabupaten ini, hujan kembali membesar, kali ini memang seperti hujan batu, telingaku yang kecil sangat peka terhadapnya, Apalagi tepat pada bagian atas kami (Aku dan Ai) rasanya seperti dipukul palu besi, sinar diluaran sangat banyak, aku merasa cukup dingin hingga berbaring mengikuti posisi Ai, kaki dibelakang dan kepala didepan, sambil melihat kebelakang!
#
Begitu aku memperbaiki posisi tidurku dan bersiap untuk menutup mata, Sinar tersebut kembali datang, dan lebih terang lagi, kali ini berkasnya kelihatan berada tepat diatas kendaraaan kami, Aku masih bisa melihat sinar, seperti mengekor kearah belakang, kebelakang seperti api yang melawan angin, mobil kami melaju seperti roket yang mengeluarkan api berwarna putih, hingga tak terasa memasuki kota Pare-pare.
#
Berhunbung Ai dan Ibunya tinggal di sini, Kami pun berbelok sebentar mengantarnya.
karena hujan deras sekali rencana kami untuk singgah di rumahnya pun batal, dan memilih melanjutkan perjalanan langsung balik ke kota kami.
#
Sekarang tinggal kami Berempat, iya, Aku, Ibuku, Bapak, dan Tante Tima.
#
Sejam lagi perjalanan yang harus kami tempuh menuju Kota kami, jalur disini pun sangat berbeda, bukan jurang tapi pengunungan, dimana terdapat beberapa tanjakan dan turunan, yang cukup tinggi, meski kursi tengah sudah kosong aku tetap memiliHduduk di kursi belakang, hujan masih deras, sama ketika kami meninggalkan pare-pare.
#
Kendaraan kami masih melaju dengan kecepatan yang sama dan tak terasa Sekarang kami sudah berada sekitar 14 kilometer di luar kota Pare-pare, tepatnya di Pucu’e, disini hujan tak kalah derasnya, aku kembali membaringkan badan, saat mobil terasa, menukik kebawah melewati turunan yang terjal, tepat disana! kepalaku yang menghadap ke belakang, sedikit mengarah keatas (ke langit),melihat secara tiba-tiba Sinar yang sama muncul kembali, berada di bagian tengah, persis seperti tadi, seakan-akan mendorong kami lebih cepat untuk melaju turun dari puncak Pucu’e. iya, aku merasakan dorongannya, seperti rem mobil tidak berfungsi lagi,.
#
Masih terus memperhatikannya, mencoba memfokuskan mataku, Sinar tersebut benar-benar putih seperti kain mengkilap, mengkilapnya mengeluarkan cahaya sendiri, tanpa pantulan apapun dari sumber cahaya lain. Sinar tersebut masih menempel di bagian belakang, hingga terus bersama kami di turunnan kedua setelah Pucu’e yaitu Data’e.
#
Iya di Data’e, Sinar tersebut masih menempel di bagian belakang, Sinarnya pun sekarang tidak terlihat cukup terang tetapi lebih terlihat menyala, seperti seragam polisi lalu lintas, yang kalau malam hari dapat terlihat mengeluarkan Sinar, iya persis seperti itu tetapi warnaya Putih, Putih menyalah dan kelihatan halus seperti kain gorden tertiup kipas angin, dibandingkan kain gorden Sinar ini lebih pangjang, mengekor di belakang mobil kami, yang terus mendorong menuju dasar turunan Data’e.
#
dari Data’e Rumah Tante Tima pun sudah dekat, tempat yang nantinya kami menumpang istirahat, sebelum diantar pulang besok pagi.
#
Setelah berada di dasar turunan akupun sempat bangun dan berpaling dari sinar tersebut, setelah berpaling dan menatap kearah depan pengemudi, aku sempat berbalik lagi, dan ternya sinarnya sudah menghilang dari pandanganku, mengingat rumah Tante Tima sudah dekat, akupun berpindah ke kursi tengah bersama Mamak.
#
Hampir jam duabelas, Kami sudah melewati belokan terakhir menuju rumah Tante Tima, beberapa saat setelah itu kamipun berbelok ke kiri memasuki rumahnya, yang berada di pinggir jalan raya Poros Makassar- Palopo, aku tidak bercerita apupun tentang sinar yang mengikuti kami sedari berangkat tadi, bukan karena aku takut memceritakankannya, tapi saya rasa!, mereka sangat Lelah untuk mendengar ceritaku nanti.#
………
#
Malam itu kami; Aku, Bapak, Mamak, Tante Tima, Ai, dan Ibunya sedang dalam perjalanan menuju kota kecil kami yang jaraknya kurang lebih 180an kilometer ke utara kota Makassar, kami semua menumpang mobil tante Tima, kijang baru warna merah kecoklatan khas mobil dinas kecamatan, iya Karena memang mobil ini mobil dianas kecamatan berplat merah, yang biasa kami sebut “DD” . Kode plat Nomer untuk Wilayah Sulawesi bagian selatan
#
Kami berangkat dari makassar kira-kira sekitar pukul delapan malam, keberangkatan kami diiringi hujan gerimis yang terjadi sedari sore, iya, gerimis Karena memang pada waktu itu bulan desember, tahunnya sudah lupa, heheh, awal musim hujan. Bapak yang mengendarai mobil tante Tima berada di sampingnya, DI kursi bagian tengah ada Mamak dan Ibu dari Ai, sedangkan kami berdua Aku dan Ai, duduk paling belakang dengan kursi berhadapan.
#
Mobil masih membelah gerimis hingga tak terasa sudah melewati kecamatan Daya, Daya bagian pinggiran kota makassar yang berbatasan lansung dengan wilayah Kabupaten Maros,
#
Hampir pukul Sembilan kami pun sudah melewati perbatasan antara makassar dan maros, pada waktu itu di daerah Sulawesi bagian selatan masih belum terlalu banyak pembangunan, infrastruktur jalan juga masih sempit tak selebar sekarang yang sampai dua jalur, Daerah yang belum banyak terdapat perumahan pun masih banyak, kendaraan masih sedikit sekali, Perjalan kami ini menurutku yang masih kecil pada waktu itu, i merupakan perjalanan yang sangat pangjang.
#
Beberapa menit berlalu, mobil yang kami tumpangi melewati kota Maros. Kota ini berbatasan langsung dengan Kota Makassar, setelah melewati tengah kota kami pun memasuki kawasan yang belum terlalu banyak penduduk di sepangjang jalannya terlihat disamping ada lampu tambak bibit udang atau biasa kami sebut Benur/nener. Tak lupa sebelah kanan terdapat hamparan sawah yang tak begitu kelihatan dalam gelap, Setahu saya!, hehe
#
kalau hari terang kita dapat menyaksikan pengunungan tempat pabrik semen bosowa berada, perjalanan kami melewati kawasan ini di sambut hujan deras, sangat deras hingga atap mobil yang kami tumpangi ini, serasa dijatuhi batu kerikil, sangat gelap sekali di belakang sini, dan jalanannya sangat sepi, di belakang terlihat sesuatu dari kejauhan menembus kaca yang terhalau tetesan air hujan, Sinar kecil yang semakin lama semakin mendekat, sangat cepat, kearah kami, hingga kami merasa mau ditabrak olehnya, aku pikir sinar tersebut berasal dari kendaraan yang berada di belakang kami yang ingin over taking kendaraan kami.
#
Aku rasa bukan! ucapku dalam hati, Sinarnya sangat cepat dan tak mungkin ada supir yang berani mengebut dengan kecepatan seperti itu dalam kondisi hujan deras,
#
Aku yakin bukan!, Karena saat sinarnya berada sangat dengan jendela belakang mobil, Aku sendiri menyaksikanya berbelok ke kiri, sedangkan mobil kami melaju pada jalur kiri, pikirku tak mungkin kendaraan menyalip melalui jalur kiri, “Ai muliat itu mobil moki nasambung kiri” atau “Ai kamu lihat mobil itu, masa mau menyalip kiri” tanyaku kepada Ai yang tidak terlalu focus, mungkin Karena dia sudah mengantuk, ”manaje’e” atau ”dimana” jawabnya.
#
Iya., memang Ai tidak sempat melihat sinar tersebut, hanya aku yang duduk sebelah kanan selurus dengan bapak, yang sedang mengemudi, pada saat itu posisi tubuhku menghadap kearah barat.
#
kota kami berada sebelah utara kota Makassar jadi kami mengarah keutara pulau selawesi bagian selatan, lama kami berkendara!, hujan masih tetap mengiringi kami, sesekali datang dari depan dua tiga mobil yang mungkin sedang menuju makassar dimana kami berangkat tadi, tetapi dari belakang belum pernah ada mobil yang menyalip kami, mungkin sekitar sepuluh menitan ini, semenjak Sinar terakhir seperti yang datang dengan cepat dari belakang tadi, kemudian menghilang menuju kearah tambak.
#
Sepertinya Ai sudah pulas tertidur!, dengan posisi menghadap ke saya dan kakinya memanjang kearah belakang mobil, iya kami waktu itu belum setingggi sekarang, jadi kabin belakang mobil masih cukup untuk tubuh kecil kami, sedangkan aku,! aku terlanjur tidak bisa tidur.! tidak tahu kenapa!
#
Memang aku jarang tertidur jika berkendara keluar kota, Karena ingin menyaksikan semua pemandangan yang tersedia, sampai sekarangpun aku masih suka seperti itu, Karena kami anak kampong, hehe maksudnya kota kami yang kecil. Aku jarang-jarang pergi keluar, jadi setiap perjalanan keluar kota aku pasti sangat antusias untuk ikut.
#
Hujan masih bersama kami, Kijang plat merah masih berpacu melintasi kabupaten Maros, pemandangan masih tak jauh berbeda, situasinya pun sama, tapi saya dibagian belakang mobil merasa sangat kedinginan, Memang pada waktu itu saya mengenakan celana pendek selutut dan baju kaos biasa, pikirku dalam hati “Mungkin Karena masih hujan jadi begini dinginnya”, kemudian menyanggah dalam hati “tapikan, seharusnya pengap ya!”
#
Iya pengap!. Karena saya melihat semua jendela mobilnya tertutup hingga tetesan seperti embun terlihat di kaca jendela mobil, lagian mobil ini belum memiliki Air Condisioner, kenapa dingin sekali perasaanku?, sambil menatap Ai yang tertidur, aku mencoba meyilangkan kedua tanganku agar teras lebih hangat, sesekali menyapu kaca jendela bagian belakang, agar aku dapat melihat jelas jalan yang kami lalui, aku memperhatikan terus kaca belakang, dari dalam mobil aku melihat Sinar kecil yang hanya satu titik, mirip sinar lampu motor!, iya mirip, tapi kayaknya bukan sinar motor, saya tahu persis sinar lampu motor, warnanya kekuningan!, sedangkan Sinar ini berwarna putih bersih dan mempunyai nuasa warna merah mengelilinginya, kenapa? Iya kenapa, aku tidak yakin itu lampu/sinar kendaraan motor, Karena pada tahun itu belum marak penggunaan lampu led, yang sinarnya putih terang.
#
Sinar yang datang ini kelihatan terus mendekati mobil, sama seperti sinar yang pertama, tapi yang ini lebih lambat, semakin kearah mobil kami sinarnya semakin terang, hingga mampu menyinari aspal di bawahnya, aku dapat melihat jelas garis putih yang ada di tengah jalan dari dalam mobil. Aku semakin dingin dan terus menyilangkan kedua tanganku, aku juga terus memperhatikan sinar tersebut, yang nampaknya menyelaraskan lajunya hingga sama dengan kecepatan mobil kami, kira-kira sekitar 50-60 km/jam.
#
Mendengar tante Tima berbicara dengan bapak, mungkin menjaga agar bapak tetap sadar dan tidak mengantuk, kalau mengantuk bisa-bisa kami mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.. hehe Makanya harus terus diajak berbicara.! Aku juga terus memperhatikan sinar tersebut. Sinar yang sudah bersama kami beberapa kilometer ini.
#
Tidak tau kenapa, apa karena mataku berkedip atau apalah!. Tetiba Sinar yang mengikuti kami menghilang, setelah itu hampir 5 detik kemudian saya mendengar teriakan bapak, “Batu” iya bapak berteriak batu dengan keras Hingga Ai terbangun mendengarnya, Ai bukan terbangun akibat teriakan bapak, tapi karena kendaraan kami berkurang kecepatannya secara tiba-tiba, Karena bapak mengerem secara mendadak, kami pun memberhentikan kendaraan sebentar, mencoba menenagkan semua yang ada di dalam kendaraan, tidak sampai sepuluh menit kemudian, kami melanjutkan perjalananan, dan masih diiringi hujan yang sam derasnya.
#
Baru kemudian saya mendengar perbincangan mereka di depan (Mamak, tante Tima, Ibu Ai, dan Bapak. bapak mengatakan telah melihat kucing dengan bulu putih bersih, serta mata yang memantulkan cahaya dari lampu kendaraan kami, muncul dengan tiba-tiba, sehingga membuat bapak reflex untuk mengerem mendadak, dan berteriak “Batu”. Kenapa batu? Padahal sebenarnya jelas-jelas itu merupakan kucing.
#
Aku kurang tau juga tapi menurut beberapa orang di wilayah kami percaya, percaya bahwa pada saat kita berkendara dan melihat kucing, kemudian hampir menabraknya kita harus mengucap kata “batu”, kata batu tersebut untuk menggati sebutan kucing, mungkin dengan harapan untuk menjadikan kucing tersebut kebal sekuat batu, hehe! sehingga dapat menahan lindasan ban mobil. sekali lagi ini pendapatku ya..Mungkin masing masing memiliki keparcayaan sendiri, lagian konon katanya Kucing memiliki nyawa lebih dari satu, jadi ngak papa kalau di lindas kendaraan. Heheh.
#
Kembali membahas yang tadi, dalam benakku mungkin ada hubungan antara sinar yang mengikuti kami sejak dari tadi dengan kemunculan kucing secara tiba-tiba, dalam pikiranku Sinar yang mengikuti kami adalah sosok Poppo, karena dapat terbang dan mampu memindahkan seseorang atau apapun itu dari satu tempat ke tempat lain, kemungkinan Poppo yang memindahkan kucing yang tadi dari tempatnya sehingga berada tepat di depan kendaraan yang kami tumpangi, walaupun aku belum melihatnya secara jelas, sosok Poppo yang berkulit kasar seperti kadal tergiang dalam pikiranku pada waktu itu.
#
Tak terasa mobil yang kami kendarai, ternyata sudah melewati kabupaten pangkep dan hampir masuk ke kabupaten Barru, Ai yang tampaknya tidak bisa tidur lagi, gara-gara kucing yang tadi! kucing yang tak tau kami tabrak atau tidak!, Apa karena hujan sehingga kami tidak dapat melihatnya pergi!? atau karena ada Sesuatu yang memindahkannya, akupun tak tau.!
#
Jalan yang kami lalui disini sudah sedikit berubah, sebelah kanan aku masih agak jelas merlihat bebatuan dan sedikit pepohonan yang tumbuh di lerengnya, iya, kami sedang melewati pinggiran pengunungan, dan samping kiri kami adalah laut selat Sulawesi, jika siang hari pemandangan di sekitar sini memang bagus dan indah, tapi pada malam hari apalagi dalam kondisi hujan seperti ini, sepertinya berbeda 360 derajat, masih sedikit sekali kendaraan yang berpapasan dengan kami, mungkin karena hujan atau mungkin karena sudah hampir tengah malam, kiria-kira jam 10, Iya jam sepuluh malam, dan kami sudah dua jam dalam kendaraaan membela hujan yang kadang deras dan kadang sedang.
#
Masih di sekitar kawasan pinggir laut, susasananya masih hujan, Ai kembali membaringkan kepalanya, dengan posisi seperti sebelumnya, tiduran dengan kepala diutara dan kaki memangjang ke selatan, sampai pada tikungan ke kanan yang berada di pinggir jurang, disana aku kembali melihat Sinar yang sama, muncul dari sebelah kiri, iya sebelah kiri dari arah laut yang sejajar dengan kendaraaan kami, mendekat semakin mendekat,! hingga mencapai bagian belakang sebelah kiri tepat di bawah kaki Ai, iya aku masih melihatnya diantara kaca yang berembun akibat hujan, tetapi dengan mata kecilku! aku masih dapat melihatnya jelas, Sinarnya menembus kaca tersebut, aku dapat melihat berkas sinarnyatetapi inti dari sinar tersebut terhalang oleh lekukang sudut jendela kaca mobil, iya tetap disana bagai melekat dan mengiringi kendaraan kami melewati hujan.
#
Akupun tak berani menerka apa itu, waktu itu aku sama sekali tidak berpikir untuk bertanya kepada orang dewasa yang ada dalam mobil, menurutku itu hal yang biasa!, itu hanya sinar biasa, hasil pantulan dari lampu belakang yang terkena air hujan.
#
aku kembali melihat kedepan kearah pengemudi, beberapa saat kemudian berbalik lagi melihat ke sudut sebelah kiri tepat diatas kaki Ai, iya sinarnya sudah tak ada lagi entah pergi kemana,!
#
Sudah hampir tiga jam lebih kami berkendara, dan telah melewati kota Barru sepertinya tak lama lagi kami mencapai Pare-pare, perjalanan Barru ke Pare-pare, biasanya hanya sejam, tapi aku kurang tau klw dengan cuaca seperti ini.
#
Jalan didaerah sini sudah agak ramai, sudah banyak sekali rumah, di pinggir jalan hampir tak kelihatan pantai dan lahan yang kosong lagi, cahayanya pun bertambah terang walau sudah agak tengah malam dan hujan!, ditegah perjalanan antara kedua kabupaten ini, hujan kembali membesar, kali ini memang seperti hujan batu, telingaku yang kecil sangat peka terhadapnya, Apalagi tepat pada bagian atas kami (Aku dan Ai) rasanya seperti dipukul palu besi, sinar diluaran sangat banyak, aku merasa cukup dingin hingga berbaring mengikuti posisi Ai, kaki dibelakang dan kepala didepan, sambil melihat kebelakang!
#
Begitu aku memperbaiki posisi tidurku dan bersiap untuk menutup mata, Sinar tersebut kembali datang, dan lebih terang lagi, kali ini berkasnya kelihatan berada tepat diatas kendaraaan kami, Aku masih bisa melihat sinar, seperti mengekor kearah belakang, kebelakang seperti api yang melawan angin, mobil kami melaju seperti roket yang mengeluarkan api berwarna putih, hingga tak terasa memasuki kota Pare-pare.
#
Berhunbung Ai dan Ibunya tinggal di sini, Kami pun berbelok sebentar mengantarnya.
karena hujan deras sekali rencana kami untuk singgah di rumahnya pun batal, dan memilih melanjutkan perjalanan langsung balik ke kota kami.
#
Sekarang tinggal kami Berempat, iya, Aku, Ibuku, Bapak, dan Tante Tima.
#
Sejam lagi perjalanan yang harus kami tempuh menuju Kota kami, jalur disini pun sangat berbeda, bukan jurang tapi pengunungan, dimana terdapat beberapa tanjakan dan turunan, yang cukup tinggi, meski kursi tengah sudah kosong aku tetap memiliHduduk di kursi belakang, hujan masih deras, sama ketika kami meninggalkan pare-pare.
#
Kendaraan kami masih melaju dengan kecepatan yang sama dan tak terasa Sekarang kami sudah berada sekitar 14 kilometer di luar kota Pare-pare, tepatnya di Pucu’e, disini hujan tak kalah derasnya, aku kembali membaringkan badan, saat mobil terasa, menukik kebawah melewati turunan yang terjal, tepat disana! kepalaku yang menghadap ke belakang, sedikit mengarah keatas (ke langit),melihat secara tiba-tiba Sinar yang sama muncul kembali, berada di bagian tengah, persis seperti tadi, seakan-akan mendorong kami lebih cepat untuk melaju turun dari puncak Pucu’e. iya, aku merasakan dorongannya, seperti rem mobil tidak berfungsi lagi,.
#
Masih terus memperhatikannya, mencoba memfokuskan mataku, Sinar tersebut benar-benar putih seperti kain mengkilap, mengkilapnya mengeluarkan cahaya sendiri, tanpa pantulan apapun dari sumber cahaya lain. Sinar tersebut masih menempel di bagian belakang, hingga terus bersama kami di turunnan kedua setelah Pucu’e yaitu Data’e.
#
Iya di Data’e, Sinar tersebut masih menempel di bagian belakang, Sinarnya pun sekarang tidak terlihat cukup terang tetapi lebih terlihat menyala, seperti seragam polisi lalu lintas, yang kalau malam hari dapat terlihat mengeluarkan Sinar, iya persis seperti itu tetapi warnaya Putih, Putih menyalah dan kelihatan halus seperti kain gorden tertiup kipas angin, dibandingkan kain gorden Sinar ini lebih pangjang, mengekor di belakang mobil kami, yang terus mendorong menuju dasar turunan Data’e.
#
dari Data’e Rumah Tante Tima pun sudah dekat, tempat yang nantinya kami menumpang istirahat, sebelum diantar pulang besok pagi.
#
Setelah berada di dasar turunan akupun sempat bangun dan berpaling dari sinar tersebut, setelah berpaling dan menatap kearah depan pengemudi, aku sempat berbalik lagi, dan ternya sinarnya sudah menghilang dari pandanganku, mengingat rumah Tante Tima sudah dekat, akupun berpindah ke kursi tengah bersama Mamak.
#
Hampir jam duabelas, Kami sudah melewati belokan terakhir menuju rumah Tante Tima, beberapa saat setelah itu kamipun berbelok ke kiri memasuki rumahnya, yang berada di pinggir jalan raya Poros Makassar- Palopo, aku tidak bercerita apupun tentang sinar yang mengikuti kami sedari berangkat tadi, bukan karena aku takut memceritakankannya, tapi saya rasa!, mereka sangat Lelah untuk mendengar ceritaku nanti.#
………
Diubah oleh cali.ari 15-12-2016 11:31
0