- Beranda
- Stories from the Heart
Karena kita dulu pernah pacaran
...
TS
moncherry
Karena kita dulu pernah pacaran
Prolog
Gue nggak pernah merokok, dan nggak punya niat untuk memulainya. Gue nggak masalah kalau orang lain merokok, cuman ya plis tahu diri aja. Kalau emang di angkot, tolong jangan sempet-sempetin ngerokok biarpun sekarang sebatang juga udah kaya segenggam berlian. Dan karena gue pemalu, gue nggak punya hati buat negur orang yang kelakuannya sedikit miring begitu. Sehingga ketika lo tahu-tahu mukulin tangannya orang itu sampai rokoknya jatuh dari tangan ke luar pintu angkot. Gue menjadi terkagum-kagum. Berusaha untuk melihat ke dalam mata lo. Tapi saking pemalunya gue, gue cuma sanggup melihat ke baju lo, dan menganggumi teramat-sangat dari situ. Dan mungkin, mungkin aja dari situ titik mula kenapa gue mencoba-coba untuk mengenal lo.
Gue ingat ketika sekolah kita tinggal lima meter lagi, lo melihat ke arah gue dari sudut mata, kelihatan ketus tapi lo berkata dengan suara lembut. " Jangan bengong terus. Sekolah bentar lagi nyampe. "Dan saat itu juga gue langsung merasa nggak enak. Sama persis perasaannya seperti perasaan baru ketahuan nyolong permen karet sama kasir alfamidi. Gue nggak enak begitu karena gue ada rasa sama lo. Dan ketika angkotnya berhenti didepan gerbang sekolah kita, lo membuang muka, turun duluan dan berjalan lurus aja ke pagar tanpa melihat ke belakang terlebih dahulu. Membuat gue melihat punggung lo dengan perasaan nggak keruan. Dan mungkin, mungkin aja dari situ titik dimana gue sadar bahwa menjadikan lo sebuah crush adalah kesalahan pertama gue menjadi teenager.
Tapi itu nggak menghentikan gue, karena dua tahun dari kejadian itu, kita somewhat resmi pacaran.
Dan terluka di tahun berikutnya.
*
Gue nggak pernah merokok, dan nggak punya niat untuk memulainya. Gue nggak masalah kalau orang lain merokok, cuman ya plis tahu diri aja. Kalau emang di angkot, tolong jangan sempet-sempetin ngerokok biarpun sekarang sebatang juga udah kaya segenggam berlian. Dan karena gue pemalu, gue nggak punya hati buat negur orang yang kelakuannya sedikit miring begitu. Sehingga ketika lo tahu-tahu mukulin tangannya orang itu sampai rokoknya jatuh dari tangan ke luar pintu angkot. Gue menjadi terkagum-kagum. Berusaha untuk melihat ke dalam mata lo. Tapi saking pemalunya gue, gue cuma sanggup melihat ke baju lo, dan menganggumi teramat-sangat dari situ. Dan mungkin, mungkin aja dari situ titik mula kenapa gue mencoba-coba untuk mengenal lo.
Gue ingat ketika sekolah kita tinggal lima meter lagi, lo melihat ke arah gue dari sudut mata, kelihatan ketus tapi lo berkata dengan suara lembut. " Jangan bengong terus. Sekolah bentar lagi nyampe. "Dan saat itu juga gue langsung merasa nggak enak. Sama persis perasaannya seperti perasaan baru ketahuan nyolong permen karet sama kasir alfamidi. Gue nggak enak begitu karena gue ada rasa sama lo. Dan ketika angkotnya berhenti didepan gerbang sekolah kita, lo membuang muka, turun duluan dan berjalan lurus aja ke pagar tanpa melihat ke belakang terlebih dahulu. Membuat gue melihat punggung lo dengan perasaan nggak keruan. Dan mungkin, mungkin aja dari situ titik dimana gue sadar bahwa menjadikan lo sebuah crush adalah kesalahan pertama gue menjadi teenager.
Tapi itu nggak menghentikan gue, karena dua tahun dari kejadian itu, kita somewhat resmi pacaran.
Dan terluka di tahun berikutnya.
*
Quote:
Quote:
Diubah oleh moncherry 21-12-2016 11:47
anasabila memberi reputasi
1
12.5K
150
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
moncherry
#45
Waktu kita makan siang bareng
Hari ini nyokap bangun lebih pagi dan membuatkan bekal buat gue, dan buat lo. Entah apa maksudnya, tapi Nyokap janji buat terus buatin dua bekal sekaligus sekalipun itu berarti jatah cokelatnya dikurangin. Gue tersenyum aja sambil mengangkat tas bekal yang jadi jauh lebih berat, dan ketika mau pergi ke sekolah dianterin Bokap. Nyokap remes bahu gue sambil bisik-bisik, " Titip salam ya sama Aldi, sama nanti tanyain dia kalau masakan Mama enak atau nggak, ok? "
Makin kesini gue rasa kebaikan Nyokap gue ke elo cuma sebatas karena elo mirip artis, yang dia suka, pakai banget. (Sekalipun, dia sendiri lupa sama artis yang dia suka)
Bokap nganterin gue pakai Sepeda karena Bokap orangnya peduli lingkungan banget. Kalau bisa lebih organik, dibela-belain sama dia. Sehingga nggak jarang Mobil cuma dibawa keluar kalau udah waktunya ganti oli, atau acara yang penting-penting banget. Kalau buat yang nggak penting, kita semua dipaksa naik Bus. Membuat gue jadi hapal mati sama rute busway, dan sebagainya.
Saat ngebonceng gue, Bokap cerita panjang lebar soal gimana dia bisa ngedapetin Nyokap. Dan ini sama sekali nggak aneh, karena selain preaching soal lingkungan dan Kangen Water, Bokap bangga banget sama sisi dia yang ngedapetin Nyokap. Sehingga ingatan gue soal betapa dahsyatnya mereka berdua di 'refresh' melulu, seakan-akan gue belum pernah mendengar bagian yang ini dan itu sebelumnya. Tapi gue suka dan sedih disaat yang sama. Karena cerita cintanya mereka membuat gue yakin, bahwa nggak akan mungkin gue bisa merasakan apa yang mereka dapatkan. Terlalu too good, to be true. Tapi beneran.
Lagian romance udah mati ketika memasuki jamannya gue.
Sesampainya di Sekolah, Bokap juga remes bahu gue dan bisik. " Titip salam sama Aldi, bilang kalau Bapak beneran serius soal tawaran yang kemarin ya? "
Belum apa-apa elo udah kayak anak mereka dan gue cuma sebatas penyiar radio, nganterin salam doang.
Gue berjalan ke lantai dua, dimana letak kelas gue berada. Sekilas gue melihat ke arah kelas lo yang cuma beda tiga pintu dari kelas gue. Berharap, kalau-kalau elo keluar untuk buang sampah atau nongkrong di balkon buat melihat ke lapangan. Tapi nggak ada yang keluar satupun, sekalipun kelas lo kedengaran berisiknya sampai tangga sini. Membuat gue iri. I mean, kelas gue emang kelas unggulan yang berarti semua anaknya serba serius, dan rajin. Tapi kita terlalu individual, nggak kompak, dan akrab ke beberapa orang sehingga terbentuk sebuah geng. Dan kelas gue, nggak pernah seberisik kelas elo.
Entah kenapa, gue rela memberikan segalanya untuk merasakan menjadi satu bagian dari kalian yang membuat kelas itu menjadi yang super bahagia.
Ketika gue berjalan ke pintu kelas dan lesu, di tempat duduk gue ada elo yang sedang menanti. Dan dengan suara yang keras, lo memanggil nama gue. " Icha! Sini! "
Melihat elo ada disitu membuat jantung gue lompat dari ruangannya, dan pipi gue serasa dipanggang. Semua orang yang ada dikelas memandang kita berdua secara berganti-gantian, salah satunya jadi bisik-bisikan. Elo bangkit dari tempat duduk gue dan berjalan menghampiri gue yang membeku ditempat. Lalu lo menarik gue keluar dari pintu sehingga kita ngomong dideket balkon.
" Gimana motor gue? Selamat kan? " Tanya lo langsung membuka pembicaraan. Gue langsung sadar bahwa situasinya sama sekali bukan jiplakan dari drama korea, cuma Elo yang sekedar menjadi 'elo'. Cuma perduli sama motor lo sendiri.
" Aman kok. " Gue menghela napas. " Cuman semuanya udah gue pretelin dan gue kotakin, mau gue jual di Ebay biar dikirim sampe ke Amerika. " kata gue, yang langsung membuat lo menyipitkan mata.
" Oh jadi elo begitu orangnya, gue kira elo titisan Gandhi. " tapi nggak berapa lama kemudian elo ketawa. " By the way, tadi malem Bokap lo smsan gue. "
Kalau nggak karena gue inget tas bekal gue isinya makanan, bakal langsung jatoh di lantai berserakan dimana-mana saking syoknya gue. " Ah demi apa?!"
" Iya, ternyata bokap lo emang lain ya dari bokap-bokap biasanya. " Kata lo, kagum. " Bokap lo bahkan sampe janjiin bakalan ngosongin lowongan kerjaan khusus buat gue, kalau nanti gue udah lulus. Ahahaha "
Gue bener-bener nganga dengan rahang yang terbuka saking nggak nemu kata-kata yang tepat buat ngejelasin betapa cengoknya gue.
" Oh ya, nyokap lo juga bilang lewat sms bahwa hari ini gue dibawain bekel lewat elo. Berarti nanti kita makan dimana? "
Gue menggarukan pipi gue sampai ke bawah, saking frustasinya. " Oh my god. "
" Heh, jawab. Mau makan dimana kita nanti?! " desak lo, nggak sabaran.
" Terserah lo! " seru gue nggak perduli.
" Yaudah, di kelas gue aja yak kalau gitu. " kata lo santai. " Habis kayaknya kalau di kelas lo, kaku banget. Mana enak makan di tempat kayak gitu? "
Dan ketika detik berikutnya terdengar bel masuk, lo menepuk bahu gue dan berkata. " Awas lo jangan dimakan bekel gue pas jam pelajaran! "
Saat lo memutar punggung dan berlari kecil ke arah kelas lo, membuat gue tersenyum kecil. Dan senyuman itu bertahan, sampai sekiranya lima puluh menit pelajaran pertama. Gue jadi nggak sabaran sama jam makan siang nanti, karena gue, seenggaknya bakalan ngerasain ricuhnya kelas lo.
*
Periode yang gue tunggu-tunggu, akhirnya tiba juga. Dan belum apa-apa, lo udah sprint didepan pintu kelas gue. Bahkan sampai nyapa Guru yang baru mau keluar di pintu kelas gue.
" Cha, ayo cha! " kata lo semangat, " Gue laper nih. "
" Iya ya, " Kata gue bergegas mengambil tas bekel gue dan jalan keluar kelas. Semua orang di kelas ngelihatin kita berdua dan membuat gue kikuk, tapi gue paksain jalan karena kalau enggak si tolol bisa lebih berisik daripada ini.
Sambil jalan ke kelasnya lo, Elo cerita ke gue soal betapa betenya lo dengan Matematika. " Kalau andaikan gue mati di kelas, lo mau ya berjuang ngehapusin Matematika dari seluruh dunia? Demi gue? "
" Ya kali. " jawab gue pendek.
" Cie Aldi bawa adeknya ke sekolahan. " Kata temen sekelasnya, yang kemarin ngatain gue juga di parkiran motor.
" Tai lu, pergi sana dadar melon. " jawab elo sekenanya dan habis itu bawa gue masuk ke kelas lo. Kelas lo udah sepi, karena rata-rata dari mereka pada ngibrit lari ke kantin buat beli roti buatan Ibu kantin yang katanya enak banget sekalipun cuma enam ribu. Elo nyuruh gue duduk di bangku yang ada tas lo sementara lo memutarkan bangku didepan meja lo ke hadapan gue. Gue mengeluarkan kotak bekal satu-persatu ke atas meja, dan elo langsung mengusap-usapkan tangan.
" Mari, mari. " Kata lo antusias sambil buka tutupan tupperware. " Omigattt, " elo melotot sambil tersenyum. " Nyokap lo bawain kita bento! "
" Ah demi apa, " gue ikut buka juga kotak bekal gue dan kaget sama yang ada di kotak bekal gue. " Eh iya lho, demi apa. " kata gue nggak percaya. Yang membuat gue langsung kesal karena selama ini Nyokap nggak pernah mau bangun pagi buat ngurusin bekalnya gue, sehingga gue harus masak sendiri dan makanin makanan yang gue buat sendiri. setiap hari. tanpa terkecuali.
Elo membuka sumpitnya dan mengangkat sosis gurita, " Ya ampun, kayak Crayon shin-chan ya? dibikinin kayak begini? "
" He he he " tawa gue dipaksakan karena gue masih kesel dengan Nyokap gue yang rela bikin sosis gurita buat Aldi, tapi nggak kalau buat gue. " Iya ya, kayak Crayon Shin-chan. "
" Berarti bekel yang kemarin itu buatan lo ya? Yang nasi campur minyak? "
" Udah ayo makan! Ayo makan! " Kata gue kesal dibawa napas. Elo ketawa-tawa dan mulai ngeceritain tentang sms Bokap gue dengan sukarela. Dari cara lo cerita gue sadar bahwa lo seneng banget sama keluarga gue, membuat gue sedikit penasaran dengan keluarga elo. I mean, gue tahu dia ada adek cewek yang lebih tua setahun dari gue (damn!) dan abang cowok. Tapi soal orang tua, gue sama sekali nggak tahu. Dan seragam elo itu selalu kusut, kadang masih ada bekas kecap dari hari kemarin yang belum ke cuci. Jadi bukan cuma orang tua gue doang yang seneng sama elo, tapi elo juga ke mereka?
Membuat gue semakin mati penasaran sama orang yang satu ini.
Jadi tolong, gue jangan dibikin mati dulu sebelum tahu semuanya tentang anak ini. Karena elo, somewhat kayak orang yang spesial.
*
Diubah oleh moncherry 14-12-2016 20:56
0