Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Yaudah, gue mati aja

Cover By: kakeksegalatahu


Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.





Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue



emoticon-Bettyemoticon-Betty emoticon-Betty



----------




SECOND STORY VOTE:
A. #teambefore
B. #teamafter
C. #teamfuture

PREDIKSI KASKUSER = EMIL



----------



PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.



----------


Spoiler for QandA:


WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+



NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY


Spoiler for Ilustrasi:


Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.


Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
JabLai cOYAvatar border
mazyudyudAvatar border
xue.shanAvatar border
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#2961
Buat yang udah kasih prediksi enggak ada yang boleh dirubah prediksinya.
Biar makin seru, tiap komen bisa pake hashtag siapa yang udah ente prediksiin, contoh: #TeamEmil / #TeamArin.
Yang belum prediksi lanjutin aja pake A. annannana atau B. nanananananan.

PREDIKSI SEMENTARA:

A. Arin = 14
B. Masayu = 2
C. Emil = 16
D. Grace = 0
E. Icha = 2
F. Nyokap Masayu = 2
G. Etc. (Mas Roni, Bentigo, Inah Incest, cewek sarkem, dll) = 5

Lanjut ke part 98, mungkin kalian bisa cari klu disini. Tapi inget, enggak boleh ganti prediksi.

PART 98

Masayu berdiri dari kursi rodanya dan mendudukkan gue disana. Sementara itu, cewek yang daritadi mendorong kursi Masayu mengikat kedua tangan dan kaki gue ke kursi roda. Masayu mengambil ikat pinggang dan memaksa gue untuk menggigitnya, sementara mamanya, dia sudah menunggu gue dengan pandangan yang mengerikan.

“Gimana kabarnya, nak?” tanya mamanya Masayu membuyarkan lamunan gue. “Sehat-sehat aja, kan?”
“Se-sehat, tante. Alhamdulillah sehat. Tante sendiri gimana?”
Mamanya Masayu menggeretekkan lehernya ke kiri dan ke kanan, “Alhamdulliah, sehat juga. Orang kosan sehat juga, kan?”
Gue menelan ludah berat-berat, “I-iya, tan. Mas Roni sama mbak Irma lagi cari EO buat nikahannya.”
“Alhamdulillah ya kalo gitu.” Mamanya Masayu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, ‘Halo? Gimana tadi? Iya, yang itu langsung eksekusi aja.’

Eksekusi? Seriusan?! Jadi dia beneran punya pembunuh bayaran?!
Mamanya Masayu memandang tajam ke gue, “Kalian ngobrol bertiga dulu, ya? tante lagi ada perlu.”

Sepeninggalan mamanya Masayu, gue langsung pindah duduk dekat Masayu.

“Yu, bantuin aku napa? Mamamu malem ini kelihatan serem banget. Aku masih sayang sama nyawaku, Yu.”

Masayu dan cewek itu saling berpandangan kemudian tertawa.

“Kamu ini kenapa, deh? Malem ini kok jadi aneh gini?”
“Mamamu! Dia kayaknya berencana buat bunuh aku!”
“Tante Mira emang kayak gitu kali.”
“Emang kayak gitu?” Gue memandang ke cewek yang duduk di samping kiri Masayu, “Pembunuh?!”
“Bukan… dia suka bercanda.”

Ini cewek ngeselin juga. Gue udah berusaha sekuat tenaga biar enggak panek, eh, dianya seenak jidat ngetroll gue.

“Eh, tunggu, lo siapa?”
“Oh, iya. Wi, kenalin, ini Icha. Cha, kenalin, ini Dawi yang kemarin aku ceritain.”
“Aku Icha,” ucapnya mengulurkan tangan.
Gue menjabat tangannya, “Gue Dawi.”
“Udah, sih. Enggak perlu lama-lama salamannya, ntar suka lagi,” komentar Masayu.
“Enggaklah, Yu,” kata Icha.

Suka? Siapa tau. Icha tuh sebelas duabelas kalo dibandingin sama Masayu. Yang bikin beda cuma cuma dibagian muka, Icha dari bagian alis sampe bawah hidung mirip kayak Scarlett Johansson. Cuma bagian itu yang mirip, selebihnya dia kayak kebanyakan cewek seksi di Indonesia. Gue enggak melebih-lebihkan, cuma kenyataannya kayak gitu.

“Ngeliatin apa, Wi? mirip artis ya?” ledek Icha.
“Eh… enggak. Cuma … itu mata lo kayak Scarlett Johansson.”
“Scarlett Johansson?”
“Ah … pemeran Black Widow di Avenger.”
Icha menggeleng, “Enggak ngerti.”
“Duh… baru ditinggal bentar udah pada pedekate,” sindir Masayu.
“Apa sih, Yu,” kata gue.
“Iya nih… Masayu apa sih.”
“Eh, Yu, kata mamamu udah bisa digerakin kakinya? Kok enggak dicobain buat gerak-gerak gitu?”

Masayu dan Icha saling pandang tanpa memjawab pertanyaan gue.

“Ah… kayaknya gue salah ngomong, ya?”
Masayu memutar kursi rodanya mendekati gue, “Mama bilang apa aja ke kamu?”
“Kayaknya aku keluar aja deh, ya?”
Icha beranjak tapi ditahan oleh Masayu.
“Kita ngobrol bertiga, aku pengin denger dari kalian langsung apa yang mamaku udah minta ke kalian.”

Gue cerita? Iya. Kalo ada cewek yang memiliki permintaan pasti gue berusaha buat kabulin, apalagi ceweknya cakep.

“Mama segitunya?! Dia mau maksa kamu buat dijodohin sama ak?! Kok kamu baru cerita?”
“Ya… mau gimana lagi. Aku kira kamu tau, makanya aku kesini mau memperjelas semua ini. Kita akhirin semua ini, aku udah enggak bisa bohong jadi pacarmu lagi?”
“Bohong jadi pacar? Jadi kalian berdua ini enggak pacaran?!”
Gue menggeleng, “Enggak, kita berdua udah lama putus.”
Masayu menatap gue tajam, “Jadi… apa rencanamu?”

Gue menghela nafas panjang, sementara Icha dan Masayu menunggu penjelasan dari gue.

“Aku bakal bilang ke mamamu kalo kita enggak pacaran. Dan kalo aku bisa jelasin tanpa bikin mamamu marah, mungkin kita masih bisa lanjut temenan. Dengan gitu aku bisa ungkapin perasaanku ke Emil.”
“Emil?!”
“Emil siapa?”
“Iya… Emil. Temen satu kosan aku.”
“Kamu suka sama Emil? Dari kapan?”
“Enggak tau juga, sih. Aku sendiri juga kurang yakin dari kapan. Tapi yang jelas, sekarang ini aku sayang sama dia.”
Masayu tiba-tiba melempar senyum sinis ke gue, “Emil? Kenapa harus dia, sih?”
“Ah… maksud kamu?
“Jadi… kamu mau bilang ke mama kita enggak pacaran biar bisa deketin Emil? Gitu?”
“Wi, mending kamu pergi. Masayu kayaknya mulai enggak stabil lagi.”
“Mana mungkin gue balik? Gue belum ngomong ke mamanya masalah pacar bohongan ini.”

Masayu dengan muka geram dan mulai meracau memutar rodanya meninggalkan kamar.

“Balik sekarang, apa enggak balik sama sekali?”
“Maksud lo?”
Icha menarik tangan gue ke parkiran, “Kamu balik sekarang! Kalo mamanya Masayu tau kalo kamu bikin dia kayak gini, bisa-bisa kamu enggak dibolehin pulang!”

Belum jadi gue nanya masalah enggak stabil, Masayu dateng didorong sama mamanya.

“Dawi! mau kemana kamu?!” seru mamanya Masayu.
Tanpa ba-bi-bu gue langsung mengeluarkan motor dari parkiran, “Mau pulang, tante!”
“Cha! Berhentiin dia! Dia udah hamilin aku!” teriak Masayu.

Hamilin? Sejak kapan gue berani segitunya sama cewek?! Gila, kenapa Masayu jadi kayak gini sih?! Apa dia ketularan mamanya yang ngebet mau nikahin gue? Emang gila obsesi itu bisa nular?!

“Cha? Lo tetep disini?”
“Buruan pergi!” perintah Icha.

========================================

“Kopinya enggak kamu minum, Wi?”
“Eh? kopi?”
Arin duduk disebelah gue, “Iya kopi, dibiarin kayak gitu?”
“Rin, semalem gue dikejar-kejar Masayu sama mamany—”
“Terus Masayu teriak kalo kamu udah hamilin dia?” Arin mengambil gelas di tangan gue, “Dari semalem udah kamu ceritain ke aku berapa kali coba.”
“Enggak tau, deh.”
“Bisa sampe segitunya, ya?” Arin meminum kopi gue, “Padahal di foto dia kelihatan anggun banget.”

Gue cuma bisa menggeleng mendengar komentar Arin.

“Tapi kamu beneran enggak hamilin dia, kan?”
“Gila, lo. Ya enggaklah, gue masih suci cuma kalian yang penuh dosa.”
“Cuma nanya, enggak perlu marah gitu.”
“Eh, si Emil mana?” tanya gue.
“Ke kampus, katanya mau cari buku di perpustakaan.”

Tangan Arin tiba-tiba dilingkarkan ke bahu gue, dengan perlahan dia gapai sesuatu dileher gue.

SREET!

“ARGGHH! Sakit tau!” ucap gue menggosok-gosok leher gue, “Main cabut hansaplas orang aja lo.”
“Wi, kayaknya malah jadi tambah merah bekas aku cium kemarin.”
“Ya iyalah lo kasar begitu cabutnya!” Gue beranjak menigngalkan Arin.
“Mau kemana, Wi?”
“Mau pergi, bete gue sama lo.”
“Pergi kemana? Mending sini aku bantuin mikir masalahmu.”
“Lo enggak ngebantu sama sekali, yang ada malah bikin tambah ribet.”
“Tinggal delapan hari, lho. Yakin enggak mau dibantu?”

Kalimat Arin menghentikan langkah kaki gue
.
“Enggak yakin juga, sih. Lo kadang malah bikin makin berat.”
“Wi! mamanya Masayu dateng nih, mau ketemu kamu!” seru mas Roni.

Mamanya Masayu dateng?! Gila, mau apalagi dia sekarang?!

“Ops, ada yang dicari calon mertua.”
Diubah oleh dasadharma10 08-12-2016 15:45
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.