- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Diatas Laut
...
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:
Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.
Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.
Quote:
Spoiler for Sambutan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.5K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.raffertha
#1433
Part 51
Quote:
Seketika, telepon dimatikan oleh Calista.
Lalu, aku kembalikan HP ini ke pemiliknya dengan lemas.
Vania : "Kenapa ?"
Rea : "Ga apa-apa, kok.."
Vania : "Dia bilang apa ?"
Rea : "Dia bilang.. Dia benci sama aku.."
Vania : "...."
Rea : "Yang penting aku udah ngomong dan sekarang aku sedikit lebih lega.."
Vania : "Ya udah yuk kita makan dulu.. Kamu belom makan pasti dari siang.."
Rea : "Ya udah, yuk.."
Aku dan Vania berjalan menuju tempat makan yang ada disana.
Setelah makan, kami berdua memutuskan untuk pulang.
Rea : "Mau aku anterin, Van ?"
Vania : "....", dia hanya menggeleng.
Vania : "Aku udah punya Wira, Re.."
Rea : "...."
Vania : "Dan kamu udah punya Calista, dihatimu.."
Rea : "Ya.. Tapi.."
Vania : "Ga ada kata tapi, kalo emang kamu beneran sayang sama dia, kamu tunjukkin.."
Rea : "Iya, suatu saat aku pasti tunjukkin kok.."
Vania : "Aku duluan ya, Re.. Sampe ketemu lagi nanti disekolah.."
Rea : "Iya, Van.. Hati-hati dijalan.."
Aku pulang dengan berjalan perlahan.
Lemas rasanya otot kaki dan tanganku.
Begitu bencinya kah Calista kepadaku ?
Ya sudahlah, tak mengapa.
Yang penting aku sudah bicara kepadanya bahwa aku sayang padanya.
Malam itu, tidak pulang kerumah.
Aku menginap diwarnet.
Pikiranku kusut.
Aku memutuskan untuk bermain saja sampai pagi.
Tak lupa aku mengabarkan Mama supaya tidak mencariku.
Quote:
Aku pacu motor Papa ku ke warnet dekat rumahku.
Disana ternyata ada Adrian dan Reza.
Reza : "Widih, orang ganteng baru nongol.."
Adrian : "Kemana aja lo, Re ?"
Rea : "Pusing kepala gw.."
Adrian : "Gara-gara Vania jadian sama Wira ?"
Rea : "Lo tau ?"
Adrian : "Tau lah.. Gw liat wall-wall an mereka di LC.."
Rea : "...."
Reza : "Udah udah.. Sini main sebelah gw.. Daripada lo mikirin itu, mending kita main sampe pagi.."
Rea : "Bukan itu sih, Dri yang ada dipikiran gw.."
Adrian : "Terus apa dong ?"
Rea : "Ada deh.. Perempuan lain. Udah ah.. Gw mau main.. Roy mana ?"
Adrian : "Didalem noh.. Masuk aja.."
Aku masuk kedalam.
Ternyata ada Roy dan pemilik warnet ini.
Tetapi, aku tidak melihat mobilnya didepan.
Roy : "Wih.. Orang ganteng.. Ngapain lo ?"
Rea : "10 jam.."
Roy : "Begadang ?"
.... : "Eh cowok.. Lo gw kasih main gratis sampe pagi.."
Rea : "Serius ?"
.... : "Iya.. Tapi gw punya permintaan.."
Rea : "Apaan ?"
.... : "Anterin gw.."
Rea : "Anterin kemana ?"
.... : "Hotel di daerah Cikini, nanti gw kasih tau.."
Rea : "Hhmm.."
.... : "Alah.. Kelamaan mikir lo..", dia menarik tanganku keluar.
Sungguh aneh perempuan yang satu ini.
Tiba-tiba saja dia menarikku dan memerintah selayaknya atasanku.
Untung saja dia cantik, kalau tidak, aku juga tidak mau mengantarnya.
Hehehehehehe.
Vina : "Vina..", sambil mengajak jabat tangan.
Rea : "Andrea.. Panggil aja Rea.."
Vina : "Ga sopan.."
Rea : "Lo yang ga sopan ! Main tarik gw aja.. Gw belom bilang mau.."
Vina : "Ga baik nolak permintaan cewek.. Cepetan..", dia langsung naik motor papaku.
Vina : "Buruan.. Gw mau nyobain naik moge.."
Rea : "...."
Vina : "REA !! Buruan iihh.."
Rea : "Iya iya.."
Aku langsung menyalakan motorku dan mengantarkan perempuan ini ketujuannya.
Vina Maheswari.
Aku akui wajahnya cantik, melebihi Vania dan Calista.
Bentuk tubuhnya mendekati sempurna.
Aku yakin, siapapun lelaki yang melihatnya, pasti akan terpukau.
Rambutnya seperti polwan, panjang sampai lehernya.
Kacamata half-frame yang dia pakai, menambah kesan manis yang ada diwajahnya.
Vina : "Itu berenti didepan."
Rea : "Depan mana ? Rumah gw ?"
Vina : "Depan hotel, bego.."
Rea : "Iya iya.. Ngomel aja lo.."
Aku berhenti didepan hotel yang dia tunjuk.
Dia turun dari motor papa.
Vina : "Makasih, Re.."
Rea : "Ya.. Sama-sama.."
Vina : "Nanti gw bilang si Roy buat ngasih lu main sampe pagi.."
Rea : "Hehehehehe.. Oke deh.. Kan jadi semangat gw main.."
Vina : "Gw masuk dulu ya.."
Rea : "Ya.. Gw cabut ya.."
Setelah itu, aku langsung berangkat menuju warnet tercinta.
Sesampainya disana, aku langsung bermain.
Levelku sudah tertinggal oleh Adrian.
Reza : "Asik nih abis nganter Vina.."
Adrian : "Hahahahahaha.. Enak ya dapet yang empuk-empuk.."
Rea : "Ngeres aja otak lo.."
Reza : "Diapain lo sama dia ?"
Rea : "Dirudapaksa.."
Reza : "Widih.. Mau dong.."
Rea : "Sue, lo.. Yang deketin lo kan banyak.. Lo pilih aja.."
Adrian : "Hahahahahaha.. Udah sana main yang bener.. Ntar mati terus ngedumel.. Gw tebalikin nih warnet.."
Kami bermain bertiga sampai pagi.
Aku selesai bermain sekitar pukul 06.30 pagi.
Mataku sudah tidak kuat menahan rasa kantuk.
Aku kedalam untuk menemui Roy yang ikut begadang sampai pagi.
Rea : "Roy, gw cabut ya.."
Roy : "Oke.. Buruan tidur.. Mata sayu banget kayak ayam mabok gele.."
Rea : "Iye iye.. Daahh.."
Aku keluar dari warnet.
Aku nyalakan motor papaku.
Tiba-tiba kepalaku dipukul dari belakang oleh seseorang.
Rea : "Aduh !! Apaan sih !!"
Vina : "Lo tuh !! Gw telponin dari jam 5 pagi !!"
Rea : "Oh itu lo yg nelpon.. Abis ga gw kenal nomornya.. Ngapain gw angkat.."
Vina : "Ah ngeselin banget sih ini anak !!"
Rea : "Apa sih urusan lo !! Lo tau nomor gw dari mana ?"
Vina : "Roy.."
Rea : "Mau ngapain jam segitu ?"
Vina : "Jemput gw.."
Rea : "Idih.. Sudi amat gw jemput cewek kasar macam lo.."
Vina : "....", dia langsung pergi meninggalkanku.
Dasar cewek aneh.
Aku tak pedulikan dia yang meninggalkanku.
Aku langsung pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuh ini diatas tempat tidur dan memejamkan mata.
Rasanya aku ingin beristirahat dialam mimpi pagi ini.
*Tok tok tok !*
Aku mendengar suara pintu rumahku diketuk oleh seseorang.
Karena cukup keras, aku langsung terbangun.
Aku lihat kearah jam yang ada dikamarku.
Waktu menunjukkan pukul 11.30
Keadaan rumahku juga sedang sepi sekali.
Hanya ada aku dirumah ini.
Aku segera keluar kamar dan membuka pintu.
Ketika aku membuka pintu, ternyata ada seorang perempuan dengan rambut panjang.
Dia adalah perempuan yang sekarang membuka pintu hatiku.
Dia langsung mendorongku masuk kedalam rumah.
*PLAK !!*
Sebuah tamparan keras melayang tepat kearah pipiku.
Lista : "Bilang lagi kalau kamu sayang sama aku, Re.."
Rea : "...."
Lista : "Bilang !! Jangan berani nya di telepon !!"
Rea : "...."
Lista : "Masih ga mau bilang langsung ?"
Rea : "Maafin aku, Lista.."
Lista : "...."
Rea : "Maaf.. Aku baru sadar kalo ternyata aku sayang sama kamu.."
Lista : "...."
Tiba-tiba dia memelukku.
Tangisannya pecah dihadapanku.
Baru kali ini aku melihat dia menangis sekencang ini.
Lista : "Kamu jahat !! Kamu jahat, Re !!"
Rea : "...."
Lista : "Aku nunggu ini udah lama.. Kapan kamu bilang sayang sama aku.."
Rea : "...."
Lista : "Dari awal, aku sering merhatiin kamu dari kejauhan.. Aku selalu berdoa supaya kita didekatkan.. Ketika aku udah dekat sama kamu, ternyata kamu juga dekat sama perempuan lain.. Hingga akhirnya sekarang kamu sadar kalo aku sayang kamu.."
Rea : "Maafin aku, Calista.. Aku beneran ga tau kalo kamu merhatiin aku.. Maaf, aku egois.. Aku cuma mikirin perasaan aku aja.."
Pelukannya mulai melonggar.
Dia menatap wajahku.
Lista : "Aku juga.. Sayang kamu, Re.."
Seketika itu, dia mencium bibirku dan kita saling berciuman.
JabLai cOY dan Arsana277 memberi reputasi
2
