- Beranda
- Stories from the Heart
AVALANCHE
...
TS
blasakana
AVALANCHE
Hallo agan dan aganwati. perkenalkan namaku Teostra (bukan nama asli). udah lama jadi sr di sini, baru sekarang kesampean buat nulis cerita sendiri. cerita ini menceritakan dari aku kecil sampai sekarang. ga sedikit yang bilang kalo masa SMA, kuliah, SMP, masa anak-anak itu sebagai masa terbaik mereka, tapi disini semua proses ku pikir membahagiakan, walau pun ga selalu berjalan mulus. Tulisanku emang agak sedikit baku walaupun ga semua sesuai EYD, tapi ini caraku menulis so no comment ya soal tulisannya. Buat update aku ga bisa setiap hari, tapi di usahain buat update and no kentang diantara kita. kalo tulisannya masih acak-acakan harap maklum ya soalnya masih nubi.
untuk ceritanya terserah kalian mau anggap ini real or not. karena semua orang punya pendapatnya masing-masing. nama tokoh, tempat sengaja aku ganti demi menjaga privasi ya.
ga usah lama-lama lagi.
SELAMAT MEMBACA
SECOND CHAPTER IS OUT!! CHECK HEREGUYS
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SIDE STORY (PROLOG)
> HALUSINASI
> ALMOST LOST CONTROL
> LITTLE BOY
untuk ceritanya terserah kalian mau anggap ini real or not. karena semua orang punya pendapatnya masing-masing. nama tokoh, tempat sengaja aku ganti demi menjaga privasi ya.
ga usah lama-lama lagi.
SELAMAT MEMBACA
Quote:
SECOND CHAPTER IS OUT!! CHECK HEREGUYS
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
SIDE STORY (PROLOG)
> HALUSINASI
> ALMOST LOST CONTROL
> LITTLE BOY
Diubah oleh blasakana 10-03-2017 16:53
junti27 dan anasabila memberi reputasi
2
18K
67
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blasakana
#2
PART 2
Ku berjalan menuju rumah, setibanya di depan gerbang terlihat rumah dalam keadaan kososng, bisa kupastikan oangtuaku belum pulang. Bergegas ku menuju kamar merebahkan diri sejenak, sekedar melepas lelah hari ini. Kuperiksa tas gendongku, melihat-lihat buku pelajaran memastikan ada apa tidaknya PR dari sekolah.
Tak tersadar akupun tertidur di atas tumpukan buku yang masih tergeletak di kasur. Ku lihat jam menunjukan pukul 22.15, lalu akupun bergegas keluar kamar karena aku baru ingat lampu rumah belum sempat kunyalakan. Stelah kunyalakan lampu rumah, kukunci semua pintu dan jendela, aku kembali ke kamarku untuk mngambil handuk dan bergegas mandi. Selesai mandi kunyalakan tv di ruang keluarga, kulihat jam menunjukan pukul 23.05 dan orangtuaku belum pulang.
“kring kring”, kudekati telepon yang berada di sebelah tv,
“Teo, kamu sudah dirumah? Sudah makan? Ayah sama ibu ga bisa pulang malem ini, masih harus nunggu barang datang”, ujar ibu ku,
“heemh’, jawabku singkat.
“yaudah kamu jangan tidur malem-malem ya”, ujarnya lagi lalu menutup telepon.
“Home alone”, ujarku dalam hati.
Orangtuaku memiliki sebuah usaha sendiri dalam bidang pertanian, peternakan, perkebunan. Mereka menyediakan barang-barang seperti pupuk, pakan ternak dll, sehingga tak jarang mereka harus tidur di toko ketika ada barang yang akan datang. Ku lanjutkan menonton tv yang pada hari ini menampilkan acara WWE Smackdown. Salah satu acara favoritku memang sehingga aku pun tidak terlalu risih dengan keadaan sendirian di rumah. Pertarungan pun mulai seru, namun apa daya mata ini sudah tidak kuat untuk melihatnya, sehingga ku pejamkan mata dengan keadaan tv yang masih menyala.
Terdengar suara kumandang adzan yang membangunkanku, setelah kulihat ternyata adzan yang kudengar berasal dari tv. Terdiam ku sejenak, menyesuaikan diri dan menunggu hingga diriku terjaga sepenuhnya. Terlihat dari sela-sela ventilasi bahwa langit masih cukup gelap, kubuka gorden, belum ada kegiatan apapun di luar sana.
“hoam”, dengan keadaan yang masih lemas ku gerakan kaki menuju kamar, segera ku ambil handuk dan pergi mandi. Kulihat masih jam 05.30, kuperiksa jadwal pelajaranku untuk hari ini hari Rabu, lalu ku siapkan apa saja yang perlu kubawa untuk mata pelajaran hari ini, setelah itu ku arahkan langkah kakiku menuju dapur untuk membuat sarapan. Jam 06.15 akupun berangkat kesekolah. Ku naiki angkot yang sudah dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang lainnya, aku pun mendapaat tempat duduk paling pojok karena memang sudah mulai penuh. Tak terasa angkot pun sampai di tempat tujuan. Sesaat turun angkot aku melihat anak perempuan sedang memakan roti, lalu ku dekati dia.
“ Rathi”, sapaku,
“eh, teo”, jawabnya agak terbata karena makanan yang ada di mulutnya.
“Ratha mana?”, tanyaku,
“dia udah duluan”, jawabnya sambil tetap memakan rotinya.
“terus lu ngapain ga bareng Ratha?”, tanyaku heran,
“tadi angkot kita sempet jalan barengan terus aku liat kamu, yaudah aku tunggu kamu disini”, jawabnya sambil membersihkan mulutnya menggunakan tissu.
“yuk”, ujarku sambil memegang tangan Rathi dan menyebrangi jalan.
Sepanjang perjalanan kami pun ngobrol mengenai pelajaran hari ini, dan akupun baru ingat kalau hari ini saat pelajaran kesenian akan di bagikan kelompok untuk seleksi paduan suara dari seluruh kelas 6. Sesampainya di sekolah kami pun disambul oleh 4 orang temanku yang tersenyum tanpa ku tahu artinya.
“Ehem”, Velo berdehem, lalu di sambut dengan deheman dari 3 orang yang lain.
“Apaan sih lu pada!”, teriak Rathi sambil mencubit mereka satu per satu.
Tanpa menghiraukan mereka, akupun melanjutkan perjalanan menuju kelas yang ada di lantai 2. Sesampainya di kelas terlihat anak-anak yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang meniup suling, membaca buku, ngobrol. Setelah tiba di tempak dudukku yang terletak di pojokan, kutaruh tasku, lalu ku rengggangkan tubuhku untuk bersiap memulai pelajaran hari ini. Mata pelajaran pertama adalah bahasa indonesia, dilanjutkan dengan mata pelajaran matematika hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Keadaan kelas pun menjadi riuh setelah dibunyikannya bel istirahat, aku pun mulai meninggalkan kelas, dan bersandar di tembok depan kelas hanya untuk menghindari keramaian yang ada.
“Kaya biasa ya kamu diem disini”, ujar Rathi sedikit mngagetkanku,
“gua ga terlalu suka bising Thi”, jawabku,
“aku ganggu ya?”, tanyanya dengan nada agak sedih,
“Thi, kita udah sekelas dari kelas satu dan kita udah temanan deket semenjak dari situ, ga pernah gua anggep kalian berlima itu pengganggu atau apapun”, jawabku,
“tumben jawabnya panjang”, ujarnya sambil tersenyum dan akupun membalasnya dengan senyuman.
“Teo”, terdengar suara Velo dari kelas,
“kekantin yuk, laper nih gua belum sarapan”, ujarnya,
“gua ga laper, tapi gua nemenin lu aja makan”, jawabku,
“ kebiasaan lu mah cuma nemenin doang”, sahut Cepha yang berjalan dari belakang Velo,
“ iya nih, ayolah kita makan bareng-bareng”, sahut Ratha yang di balas anggukan oleh Remo yang muncul dari belakang Cepha.
Tetapi tetap ku gelengkan kepala karena memang aku tidak merasa lapar dan karena kantin adalah tempat yang ramai, sudah pasti akan berisik disana.
“ayolah”, Ratha menarik tanganku,
mereka pun menggiringku kekantin, dan benar saja begitu ramainya kantin, dari suara pedagang dan suara para murid yang membeli ini itu. Ku rasakan ketidaknyamanan saat ini, ingin ku berteriak meminta mereka semua diam. Kami ber enam pun duduk berhadapan, Ratha dan yang lain sedang menikmati makanan mereka, sedangkan Rathi hanya duduk. Diriku mulai menggoyang-goyangkan kaki, dan meremas tanganku sendiri dengan erat, aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Terlihat mereka sudah mulai menghabiskan makanannya,
wakazsurya77 dan 5 lainnya memberi reputasi
6