- Beranda
- Stories from the Heart
Di ujung jalan
...
TS
3005fm
Di ujung jalan

Prolog cerita dihapus untuk tempat index cerita.
Untuk memudahkan pembacaan cerita dan karena ada beberapa yang request, maka saya bikin list partnya. Setiap part yang udah di update akan langsung dimasukan ke index.
Semoga makin semangat baca ceritanya
Di ujung jalan :
Bab 1 - Wawancara Majalah Food & Travel
Bab 2 - Pameran Seni
Bab 3 - Pertemuan Kedua
Bab 4 - Karyawan Baru
Bab 5 - Mengenal Nata
Bab 6 - Ini Apa ?
Bab 7 - Sakit
Bab 8 - Happiness
Bab 9 - Undefined Feeling
Bab 10 - Penjelasan dan Luka Lama
Bab 11 - Rasa Penasaran
Bab 12 - Something Wrong
Bab 13 - Liar
Bab 14 - Penyakit Bulan
Bab 15 - Egois
Bab 16 - Nekat
Bab 17 - Hurt (again)
Bab 18 - Salah Paham
Bab 19 - Akhir yang Baik
Bab 20 - Finally
Di ujung jalan (Bimo POV) :
Bab 1 - Pertemuan Awal
Bab 2 - Diam-diam
Bab 3 - Kebodohan
Bab 4 - Solo
Bab 5 - Pengakuan
Bab 6 - Shows Her
Bab 7 - Move On
Bab 8 - New Girl
Bab 9 - Nadia
Bab 10 - Jealous
Bab 11 - Jadian
Bab 12 - Kembali
Bab 13 - 1st Anniversary
Bab 14 - Accident
Bab 15 - Lost Her
Diubah oleh 3005fm 15-01-2017 19:24
anasabila memberi reputasi
1
14.4K
117
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
3005fm
#93
Di ujung jalan (Bimo POV)
Bab 9
Nadia
"Jadi gimana ? Kalian bersedia menerima tawaran ibu ?"
Gue berdeham pelan sambil membenarkan posisi duduk gue.
Gue nggak menyangka bakal diminta mengkordinir satu kelas buat persiapan lomba bulan bahasa 3 bulan lagi. Nadia juga, ya akhirnya gue tau namanya setelah beberapa kali Bu Endang menyebut namanya.
"Saya bersedia bu, tapi saya nggak tau kalo Bimonya gimana ..." Nadia membuka suara duluan memecah keheningan.
Bekerja bareng cewek semandiri dan sebaik Nadia, gimana cara gue nolaknya ? Gue pun juga setuju. "Iya saya bersedia bu."
"Bagus-bagus. Ibu tunggu hasil baik kalian saat lomba bulan bahasa 3 bulan lagi."
Gue dan Nadia mengangguk dan permisi untuk keluar dari ruang guru.
Gue berjalan di lorong berdampingan dengan Nadia di sebelah gue. Saat gue mau belok berlawanan arah dengan Nadia, dia memanggil gue.
"Bim...."
Gue menengok. "Apa ?"
"Makasih ya udah mau nolongin adik gue."
"Ternyata lo inget gue... ya sama-sama, Nad."
"Gue udah inget sejak pas pertama gue liat lu setelah libur semester kemaren. Sorry kalo gue belum sempet bilang makasih."
"Its okay, moga-moga kita bisa kerja bareng ya."
Nadia mengangguk sambil tersenyum singkat lalu berjalan melewati gue.
Gue merasa adem tiap kali melihat senyuman Nadia. Gue baru kali ini liat dia bener- bener tersenyum ke arah gue. Biasanya senyum cantiknya bakal dikasih ke banyak orang....
***
Gue dan Nadia udah mempersiapkan matang-matang perlombaan bulan bahasa yang akan diadakan pada bulan Oktober.
Kami jadi sering terlibat segala hal berdua. Belajar bareng, nongkrong di cafe-cafe baru, atau sekedar balapan naik sepeda ke sekolah. Dia bener-bener beda sama Bulan, kalo Nadia itu punya aura yang bikin adem. Cuma liat dia tersenyum, gue pasti bakal langsung ikutan senyum, gak peduli gue lagi badmood atau enggak.
Kalo Bulan, dia lebih cerewet, heboh, jail. Jadi ibaratkan air dan api, Bulan itu api yang bisa bikin gue ikutan terbakar, (apa sih gue) sedangkan Nadia itu air yang bisa menyejukan gue.
Gue pernah mikir, kalo gue nggak akan bisa move on dari Bulan. Tapi gue keliru, hampir 2 bulan, dan gue ngerasa sosok Nadia bisa bikin hari-hari gue nggak sendu lagi.
Gue menemukan sesuatu di Nadia... gue berharap gue nggak salah
Diubah oleh 3005fm 15-12-2016 11:13
0