Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#55
The Dog


Sebenarnya aku udah minta pulang sehari setelah aku siuman, tapi anak-anak nggak setuju, lebih-lebih Wiwid dan Yesi.

Malam itu aku ditemani sama Yesi, Dani, Jhon, dan Ikmal. Wiwid juga tadi ada di sini, dari pagi malah dia datangnya. Tapi sekitar lima belas menit lalu dia udah pulang, si Choki yang nganterin.

Ketika pintunya kamarnya kebuka, kami kira yang masuk itu Choki ataupun perawat rumah sakit. Tak ayal, kami yang awalnya lagi ngecengin si Jhon-lagi berantem dia sama pacarnya, temannya Wiwid, si Cici itu- pun langsung terdiam kompak.

“Mita?” aku langsung ingin bangkit.

“Ang!” Yesi langsung menahanku.

“Hey,” Mita memberanikan diri untuk menyapa anak-anak. Dan tak satu pun dari mereka yang membalas, lebih-lebih Yesi dengan tatapannya yang dingin.

Setelahnya dia mendekatiku ke samping tempat tidur.

“Mau apa kamu?”

“Yes,” kutenangkan dia.

“Kamu nggak apa-apa, Yo?”

“Nggak apa-apa? Kamu nggak bisa lihat?”

“Yeees. Udaah.”

“Maaf ya, Yo,” kata Mita lagi dengan wajah murung.

“Kamu nggak apa-apa, Mit? Kamu sama siapa ke sini?”

“Sendiri. Yo, aku mau ngomong sama kamu.”

“Kamu nggak apa-apa?” kuulang lagi pertanyaanku, seolah tak puas kalau belum mendengar dari dia sendiri.

Mita melihat ke anak-anak sebelum dia menatapku lagi. “Aku mau ngomong berdua.”

“Heh, kamu itu....”

“Yees, udaaah. Jhon, Mal, Dan, nggak apa-apa, ya? Kalian keluar dulu. Kalian makan aja dulu. Yes, kamu, kan, juga belum makan. Sana sekalian sama anak-anak.”

“Ya udah. Ayolah, lapar juga, nih,” kata Ikmal. Setelahnya anak-anak pun keluar. Yesi jadi yang terakhir, itupun setelah si Jhon mengajaknya lagi.

“Maaf, ya, Yo. Aku sebenarnya mau ke sini dari kemaren-kemaren.”

“Kamu nggak apa-apa, kan, Mit?”

Mita menggeleng. “Aku baik-baik aja, kok.”

“Orang-orang itu siapa?”

Mita diam sebentar, setelahnya dia langsung berubah. “Aku minta maaf, Yo! Tapi aku takut banget waktu itu! Aku nggak tau kalau ujungnya bakal kayak gini! Aku harusnya nggak histeris kayak gitu,” ungkapnya emosional, tapi suaranya tetap dijaga.

“Mit, tenang dulu kamu.”

“Kamu inget, kan?! HP-ku waktu itu lagi dicas di kamar, dompetku juga di situ!” Mita kemudian mendengus “Aku nggak tau! Aku benar-benar
nggak tau kalau dompetku udah ditempelin penyadap sama dia!”

“Mit, satu-satu. Kamu ini ngomong apaan? Penyadap? Penyadap apa’an, Mit?”

Mita diam lagi.

“Aku itu takut banget sama yang namanya cicak!”

?????????????????

“Cicak?”

“Iya! Cicaknya jatuh di badanku! Geli banget, Yo, rasanya!” ungkapnya lagi. Nadanya itu seolah dia sedang dituduh atas sesuatu yang sama sekali nggak benar. "Mereka ngira kamu mau nyakitin aku. Mereka rupanya ada di rumah sebelah. Mereka ngikutin kita."

Pintunya terbuka lagi. Kemudian masuklah satu orang yang penampilannya rapi begitupun dengan rambutnya.

“Lho, kamu ternyata,” dia menyapaku....

.....yang saat itu langsung tercengang-cengang.

“Non Mita harusnya nggak menghilang. Bapak jadi khawatir.”

Mita terkekeh. “Khawatir?”

“Ayo, Non, kita pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri.”

Orang itu menggeleng. “Non Mita harus pulang sama saya.”

“Aku bisa pulang sendiri!”

“Bahaya, Non.”

“Bahaya? Apanya yang bahaya?! Kalian itu bodoh. Kalian udah lihat sendiri, kan, kemarin cuma salah paham?!”

Orang itu mencoba untuk bersikap tenang. “Bukan itu juga, Non. Di luar sana banyak orang-orangnya Bono. Dan mereka udah tahu Non Mita itu siapa.”

Aku hanya terdiam melihat semua ini.

“Ayo, Non. Bapak udah nungguin di rumah.”

“Berapa kali aku bilang? Aku bisa pulang sendiri.”

“Non,” bujuknya. “Non harus pulang sama saya biar Bapak nggak khawatir.”

“Khawatir kamu bilang? Kamu kira dia itu perduli samaku?”

“Saya sudah bilang, Bapak itu sayang sama Non Mita.”

“Sayang?” Mita kian terkekeh. “Habis ini apa? Kamu mau bilang kalau pramuria itu juga sayang samaku? Iya, hah?”

“...................”

Orang itu mendekat. Mita lalu menepisnya ketika tangannya akan dipegang.

“Tapi aku perduli sama kamu.”

Mita langsung tertawa. Hanya sebentar, sampai dia menggantinya dengan tatapan yang nanar. Baru kali itu aku melihat Mita seperti itu. Ngeri juga. “Bullshit! Kamu itu anjingnya dia. Kamu....cuma perduli sama posisimu.”

Anj#ng. Aku benar-benar jadi orang bisu, nggak tau harus ngapain.

“Iya. Aku memang anjingnya Papamu. Tapi...anjing itu tau bagaimana harus berterimakasih. Dan anjing pun nggak akan ngegigit tangan majikannya sendiri. Jadi, sebagai anjing yang setia, tugasku sekarang adalah ngebawa kamu pulang. Ngejaga kamu....terutama dari bajingan satu ini.”

“Aku berapa kali bilang kalau itu cuma salah paham?”

Orang itu menggeleng. “Enggak, aku lebih suka nganggap itu keberuntungan. Sekarang, kamu pulang. Kamu ikut sama aku. Kamu ngerti?”

“.........................”

“KAMU NGERTI?!”

“Tolong, Bapak, dijaga suaranya,” seorang perawat langsung muncul dan menegurnya.

Orang itu langsung membungkuk sopan. “Maaf, saya terbawa suasana.”

***

Diubah oleh kawmdwarfa 02-12-2016 18:30
ariefdias
ariefdias memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.