- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Diatas Laut
...
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:
Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.
Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.
Quote:
Spoiler for Sambutan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.6K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
.raffertha
#1162
Part 43
Rea : "Lista.. ibu.. Saya pulang ya.."
Lista : "Iya.. Makasih buat hari ini, Re.."
Mama Lista : "Hati-hati dijalan ya, Nak.."
Aku pulang dengan jalan perlahan.
Karena pikiranku dikacaukan sesuatu.
Vania ?
Bukan..
Tetapi kata mama nya Calista.
Tunangan.
Astaga, aku masih muda.
Yang benar saja disuruh tunangan.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku.
Aku cek HPku ternyata ada SMS dari Calista.
Beberapa menit kemudian, HPku berdering.
Vania menyudahi teleponnya.
Pikiranku kembali lagi teringat memoriku dengan Vania.
Jujur, aku masih sangat menyayanginya.
Tapi, dia sudah ada lelaki lain.
Untuk apa dia menghubungiku lagi.
Aku segera tarik selimutku dan memejamkan mata ini.
Aku bermimpi.
Diatas lautan yang biru, aku berdiri.
Dipayungi oleh awan putih, dari matahari yang menyinari.
Aku melihat banyak orang-orang disekitarku, salah satunya ada Vania.
Mereka semua terbang keatas langit, lalu terbentuklah pelangi diatas lautan.
Sungguh indah pelangi tersebut.
"Andrea...", ada suara yang menanggilku.
"Andrea.."
Mama : "Rea !! Sudah jam 5 nih.. Kamu ga sholat shubuh ?"
Rea : "Hhmm.. Mama.. Iya, Ma.. Aku bangun.."
Aku segera bangun dari tidurku.
Lalu mengambil air wudhu dan sholat.
Setelah itu, aku bersiap menuju sekolah.
Tak lupa untuk sarapan bersama orang tuaku.
Papa : "Gimana kemaren, katanya ikutan lomba ?"
Rea : "Kalah, Pa.. Kemarin tuh keren-keren peserta nya.."
Mama : "Kamu sama Calista kan ?"
Rea : "Iya.. Aku sama dia kalah.."
Mama : "Ya namanya juga lomba.."
Rea : "Aku kemarin ketemu mama nya Calista.."
Papa : "Terus ?"
Rea : "Kata mama nya, aku sama dia tunangan dulu aja setelah sekolah ?"
Papa : "Hahahahahahaha.. Tunangan ?"
Mama : "Aduh.. Sampe keselek mama nih.."
Rea : "Beneran.. Aku serius.."
Mama : "Hahahahahaha.. Udah kamu sekolah dulu yang bener.. Kalo emang jodoh, pasti ketemu lagi.."
Papa : "Tapi, Gw setuju aja sih, lo sama Calista.. Ya ga, Ma ?"
Mama : "Iya.. Dia baik.. Cantik lagi.."
Rea : "Ah mama sama papa sama aja.. Aku berangkat ya.. Assalamu 'alaikum.."
Mama : "Wa 'alaikum salam.."
Papa : "Wa 'alaikum salam.."
Aku berangkat kesekolah menggunakan angkutan umum.
Karena aku kurang suka dengan motor Papa.
Terlalu besar.
Angkutan umum ini berhenti didepan jalan dimana tempat Vania biasa naik.
Dan benar saja, Vania naik kedalam dan kami berdua satu angkutan.
Dia terlihat kaget melihatku.
Tak ada tegur sapa antara kami berdua.
Sampai akhirnya kami turun ditempat pemberentian terakhir.
Aku dan Vania jalan bersampingan.
Sesekali aku mencuri pandanganku untuk melihatnya.
Vania, kenapa sekarang engkau terlihat lebih cantik dari biasanya ?
Aku benci keadaan ini.
Perasaanku semakin mendalam kepada Vania.
Tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutku atau Vania.
Lebih baik aku tak bertemu dengannya daripada terjebak dalam keadaan seperti ini.
Terus keadaan ini berlanjut sampai kami masuk kelas.
Hanya ada kami berdua disini.
Murid-murid belum ada yang datang karena masih pagi sekali.
Suasana hening menyelimuti kami berdua.
Aku mendengar suara isak tangis dari Vania.
Ya, dia menangis dengan kepala tertunduk.
Dan tangannya mencoba menghapus air mata yang keluar.
Vania, jangan menangis didepanku.
Aku sungguh tidak tega melihatnya.
Aku memberanikan diri untuk berbicara kepadanya.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Jujur, aku ga mau kita kayak gini terus-terusan.. Diem-dieman.. Ga enak rasanya..."
Vania : "...."
Rea : "Aku sayang sama kamu, Van.."
Vania : "...."
Rea : "Maafin aku, Van.. Aku yang salah dari awal.. Aku ga peka sama perasaanmu.."
Vania : "Kamu emang ga pernah peka sama aku dari awal, Re.. Aku udah tunjukin perasaanku lewat perbuatanku, tapi kamu malah terima Nia jadi pacarmu.. Sedangkan aku.. Cuma jadi pelarianmu.."
Rea : "...."
Vania : "Makanya, aku cari pelampiasan di LC.. Tapi, tetep aja perasaanku ke kamu ga berubah.."
Rea : "...."
Vania : "Cuma kamu yang bisa hibur aku, Andrea.."
Rea : "Van, Maafin aku.. Udah jangan nangis lagi ya.. Sebentar lagi, temen-temen dateng.. Malu ah liat kamu begini..", sambil menggenggam tangannya.
Vania : "...."
Rea : "Lihat aku, Van..", aku angkat wajahnya dan aku hapus airmatanya.
Vania : "...."
Rea : "Jangan nangis lagi ya.. Aku sayang kamu, Van.."
Vania : "Aku juga.. Sayang kamu, Re.."
Rea : "Nah jangan nangis lagi.. Senyum dong.. Kan kalo kayak gitu, kamu cantik, Van.. Hehehehehe.."
Vania : "Makasih, Re.. Aku ga nangis lagi kok.."
Sebenanya, aku ingin menceritakan hal yang terjadi padaku kemarin dengan Vania.
Tetapi, aku takut dia semakin sakit hati karena kata-kata mama nya Calista yang ingin menjodohkanku dengan Calista.
Ya aku memang tak menanggapi serius omongannya.
Aku hanya menganggap dia cuma bercanda.
Murid-murid berdatangan satu persatu.
Calista juga sudah datang.
Bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai.
Kali ini, aku bisa berkonsentrasi penuh karena Vania sudah tersenyum seperti biasa kepadaku.
Keadaan ini terus berlanjut sampai istirahat makan siang.
Aku dan Vania menuju ke masjid terlebih dahulu untuk sholat, setelah itu kami berdua menuju kantin untuk makan.
Karena disana penuh, aku dan Vania bergabung dengan Zabir dan kawan-kawanku.
Kebetulan mereka menyiapkan tempat duduk untukku dan Vania.
Zabir : "Gimana kemaren ? Menang ?"
Rea : "Ngga.. Kalah gw.. Keren-keren yang tampil.."
Farrel : "Dimana sih emang tempatnya ?"
Rea : "Akademi Sekre gitu deh.. Isinya cewek semua.."
Farrel : "Ya iyalah.. Kalo ada cowoknya, bengkok dong tuh cowok.. Hahahahahaha.."
Zabir : "Cantik-cantik ga ?"
Rea : "Lo liat aja sendiri sana kalo mau ketemu kakak cantik.."
Zabir : "Van.. Diem aja.. Cemburu ya sama Rea ?"
Vania : "Cemburu kenapa gw ?"
Zabir : "Rea lomba disana.. Pasti digodain kakak-kakak cantik.. Hahahahahaha.."
Valen : "Woi.. Lo jangan bikin suasana panas kenapa.."
Vania : "Kamu digodain, Re ?"
Rea : "I.. Iya.."
Vania : "Seneng ?"
Rea : "Ngggg..."
Zabir : "Seneeeng.. Seneng banget.. Hahahahahaha.. Mau dong digodain.."
Vania : "PULANG SEKOLAH BELIIN AKU ES KRIM !!", sambil menggebrak meja lalu pergi.
Valen : "Bir, tega lo.."
Zabir : "Lah.. Gw kan becanda doang.."
Rea : "Halah.. Nyusahin idup gw aja lo, setan.."
Farrel : "Yah, kan.. Ga ikutan loh gw.."
Zabir : "Duh.. Sori, Re.. Kok jadi gini ya.."
Rea : "Udah tau hubungan gw sama Vania lagi tegang.."
Zabir : "Yah gw pikir udah balikan.."
Rea : "Udah udah.. Santai santai.. Tenang, bro.."
Karena sebentar lagi bel berbunyi, aku memutuskan untuk kembali kekelas.
Sesampainya disana, aku langsung duduk disamping Vania.
Rea : "Hehehehe.. Vania.."
Vania : "....", dia memalingkan wajahnya.
Rea : "Vania sayaaang.. Hehehehehe..", aku mencoba menggodanya.
Vania : "Sayang sayang.. Pala lo peyang !!"
Rea : "Tuh kan.. Cemberut aja kamu.. Kalo cemberut ga aku beliin nih.."
Vania : "Aahhh.. Kamu mah gitu.."
Rea : "Bodo.."
Vania : "Hehehehe.. Andrea sayaaang.. Beliin ya.. Ya ya ya..", dia menggodaku.
Rea : "Hhmmm.."
Vania : "Beliin.."
Rea : "Iya nanti aku beliin satu sendok.."
Vania : "Kok satu sendok ?"
Rea : "Sendok semen.. Hahahahahahaha.."
Vania : "Kamu pikir aku buruh bangunan pake sendok semen.."
Pelajaran dimulai.
Aku mencoba untuk memerhatikan apa yang dijelaskan oleh guru.
Ya walaupun akhirnya aku tidak mengerti.
Hahahahahaha.
Sampai akhirnya bel pulang tiba.
Vania : "Jadi kan ?"
Rea : "Ya udah, yuk.."
Belum sempat aku dan Vania pergi, Calista menghampiriku.
Lista : "Rea.. Gw main kerumah lo ya.. Gw mau lanjutin the sims gw yang kemarin.."
Vania langsung menatap Calista dengan penuh amarah.
Begitu juga Calista, yang menatap Vania dengan rasa tidak menyenangkan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Calista dan Vania ?
Lista : "Iya.. Makasih buat hari ini, Re.."
Mama Lista : "Hati-hati dijalan ya, Nak.."
Aku pulang dengan jalan perlahan.
Karena pikiranku dikacaukan sesuatu.
Vania ?
Bukan..
Tetapi kata mama nya Calista.
Tunangan.
Astaga, aku masih muda.
Yang benar saja disuruh tunangan.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku.
Aku cek HPku ternyata ada SMS dari Calista.
Quote:
Beberapa menit kemudian, HPku berdering.
Quote:
Vania menyudahi teleponnya.
Pikiranku kembali lagi teringat memoriku dengan Vania.
Jujur, aku masih sangat menyayanginya.
Tapi, dia sudah ada lelaki lain.
Untuk apa dia menghubungiku lagi.
Aku segera tarik selimutku dan memejamkan mata ini.
Aku bermimpi.
Diatas lautan yang biru, aku berdiri.
Dipayungi oleh awan putih, dari matahari yang menyinari.
Aku melihat banyak orang-orang disekitarku, salah satunya ada Vania.
Mereka semua terbang keatas langit, lalu terbentuklah pelangi diatas lautan.
Sungguh indah pelangi tersebut.
"Andrea...", ada suara yang menanggilku.
"Andrea.."
Mama : "Rea !! Sudah jam 5 nih.. Kamu ga sholat shubuh ?"
Rea : "Hhmm.. Mama.. Iya, Ma.. Aku bangun.."
Aku segera bangun dari tidurku.
Lalu mengambil air wudhu dan sholat.
Setelah itu, aku bersiap menuju sekolah.
Tak lupa untuk sarapan bersama orang tuaku.
Papa : "Gimana kemaren, katanya ikutan lomba ?"
Rea : "Kalah, Pa.. Kemarin tuh keren-keren peserta nya.."
Mama : "Kamu sama Calista kan ?"
Rea : "Iya.. Aku sama dia kalah.."
Mama : "Ya namanya juga lomba.."
Rea : "Aku kemarin ketemu mama nya Calista.."
Papa : "Terus ?"
Rea : "Kata mama nya, aku sama dia tunangan dulu aja setelah sekolah ?"
Papa : "Hahahahahahaha.. Tunangan ?"
Mama : "Aduh.. Sampe keselek mama nih.."
Rea : "Beneran.. Aku serius.."
Mama : "Hahahahahaha.. Udah kamu sekolah dulu yang bener.. Kalo emang jodoh, pasti ketemu lagi.."
Papa : "Tapi, Gw setuju aja sih, lo sama Calista.. Ya ga, Ma ?"
Mama : "Iya.. Dia baik.. Cantik lagi.."
Rea : "Ah mama sama papa sama aja.. Aku berangkat ya.. Assalamu 'alaikum.."
Mama : "Wa 'alaikum salam.."
Papa : "Wa 'alaikum salam.."
Aku berangkat kesekolah menggunakan angkutan umum.
Karena aku kurang suka dengan motor Papa.
Terlalu besar.
Angkutan umum ini berhenti didepan jalan dimana tempat Vania biasa naik.
Dan benar saja, Vania naik kedalam dan kami berdua satu angkutan.
Dia terlihat kaget melihatku.
Tak ada tegur sapa antara kami berdua.
Sampai akhirnya kami turun ditempat pemberentian terakhir.
Aku dan Vania jalan bersampingan.
Sesekali aku mencuri pandanganku untuk melihatnya.
Vania, kenapa sekarang engkau terlihat lebih cantik dari biasanya ?
Aku benci keadaan ini.
Perasaanku semakin mendalam kepada Vania.
Tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutku atau Vania.
Lebih baik aku tak bertemu dengannya daripada terjebak dalam keadaan seperti ini.
Terus keadaan ini berlanjut sampai kami masuk kelas.
Hanya ada kami berdua disini.
Murid-murid belum ada yang datang karena masih pagi sekali.
Suasana hening menyelimuti kami berdua.
Aku mendengar suara isak tangis dari Vania.
Ya, dia menangis dengan kepala tertunduk.
Dan tangannya mencoba menghapus air mata yang keluar.
Vania, jangan menangis didepanku.
Aku sungguh tidak tega melihatnya.
Aku memberanikan diri untuk berbicara kepadanya.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Jujur, aku ga mau kita kayak gini terus-terusan.. Diem-dieman.. Ga enak rasanya..."
Vania : "...."
Rea : "Aku sayang sama kamu, Van.."
Vania : "...."
Rea : "Maafin aku, Van.. Aku yang salah dari awal.. Aku ga peka sama perasaanmu.."
Vania : "Kamu emang ga pernah peka sama aku dari awal, Re.. Aku udah tunjukin perasaanku lewat perbuatanku, tapi kamu malah terima Nia jadi pacarmu.. Sedangkan aku.. Cuma jadi pelarianmu.."
Rea : "...."
Vania : "Makanya, aku cari pelampiasan di LC.. Tapi, tetep aja perasaanku ke kamu ga berubah.."
Rea : "...."
Vania : "Cuma kamu yang bisa hibur aku, Andrea.."
Rea : "Van, Maafin aku.. Udah jangan nangis lagi ya.. Sebentar lagi, temen-temen dateng.. Malu ah liat kamu begini..", sambil menggenggam tangannya.
Vania : "...."
Rea : "Lihat aku, Van..", aku angkat wajahnya dan aku hapus airmatanya.
Vania : "...."
Rea : "Jangan nangis lagi ya.. Aku sayang kamu, Van.."
Vania : "Aku juga.. Sayang kamu, Re.."
Rea : "Nah jangan nangis lagi.. Senyum dong.. Kan kalo kayak gitu, kamu cantik, Van.. Hehehehehe.."
Vania : "Makasih, Re.. Aku ga nangis lagi kok.."
Sebenanya, aku ingin menceritakan hal yang terjadi padaku kemarin dengan Vania.
Tetapi, aku takut dia semakin sakit hati karena kata-kata mama nya Calista yang ingin menjodohkanku dengan Calista.
Ya aku memang tak menanggapi serius omongannya.
Aku hanya menganggap dia cuma bercanda.
Murid-murid berdatangan satu persatu.
Calista juga sudah datang.
Bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai.
Kali ini, aku bisa berkonsentrasi penuh karena Vania sudah tersenyum seperti biasa kepadaku.
Keadaan ini terus berlanjut sampai istirahat makan siang.
Aku dan Vania menuju ke masjid terlebih dahulu untuk sholat, setelah itu kami berdua menuju kantin untuk makan.
Karena disana penuh, aku dan Vania bergabung dengan Zabir dan kawan-kawanku.
Kebetulan mereka menyiapkan tempat duduk untukku dan Vania.
Zabir : "Gimana kemaren ? Menang ?"
Rea : "Ngga.. Kalah gw.. Keren-keren yang tampil.."
Farrel : "Dimana sih emang tempatnya ?"
Rea : "Akademi Sekre gitu deh.. Isinya cewek semua.."
Farrel : "Ya iyalah.. Kalo ada cowoknya, bengkok dong tuh cowok.. Hahahahahaha.."
Zabir : "Cantik-cantik ga ?"
Rea : "Lo liat aja sendiri sana kalo mau ketemu kakak cantik.."
Zabir : "Van.. Diem aja.. Cemburu ya sama Rea ?"
Vania : "Cemburu kenapa gw ?"
Zabir : "Rea lomba disana.. Pasti digodain kakak-kakak cantik.. Hahahahahaha.."
Valen : "Woi.. Lo jangan bikin suasana panas kenapa.."
Vania : "Kamu digodain, Re ?"
Rea : "I.. Iya.."
Vania : "Seneng ?"
Rea : "Ngggg..."
Zabir : "Seneeeng.. Seneng banget.. Hahahahahaha.. Mau dong digodain.."
Vania : "PULANG SEKOLAH BELIIN AKU ES KRIM !!", sambil menggebrak meja lalu pergi.
Valen : "Bir, tega lo.."
Zabir : "Lah.. Gw kan becanda doang.."
Rea : "Halah.. Nyusahin idup gw aja lo, setan.."
Farrel : "Yah, kan.. Ga ikutan loh gw.."
Zabir : "Duh.. Sori, Re.. Kok jadi gini ya.."
Rea : "Udah tau hubungan gw sama Vania lagi tegang.."
Zabir : "Yah gw pikir udah balikan.."
Rea : "Udah udah.. Santai santai.. Tenang, bro.."
Karena sebentar lagi bel berbunyi, aku memutuskan untuk kembali kekelas.
Sesampainya disana, aku langsung duduk disamping Vania.
Rea : "Hehehehe.. Vania.."
Vania : "....", dia memalingkan wajahnya.
Rea : "Vania sayaaang.. Hehehehehe..", aku mencoba menggodanya.
Vania : "Sayang sayang.. Pala lo peyang !!"
Rea : "Tuh kan.. Cemberut aja kamu.. Kalo cemberut ga aku beliin nih.."
Vania : "Aahhh.. Kamu mah gitu.."
Rea : "Bodo.."
Vania : "Hehehehe.. Andrea sayaaang.. Beliin ya.. Ya ya ya..", dia menggodaku.
Rea : "Hhmmm.."
Vania : "Beliin.."
Rea : "Iya nanti aku beliin satu sendok.."
Vania : "Kok satu sendok ?"
Rea : "Sendok semen.. Hahahahahahaha.."
Vania : "Kamu pikir aku buruh bangunan pake sendok semen.."
Pelajaran dimulai.
Aku mencoba untuk memerhatikan apa yang dijelaskan oleh guru.
Ya walaupun akhirnya aku tidak mengerti.
Hahahahahaha.
Sampai akhirnya bel pulang tiba.
Vania : "Jadi kan ?"
Rea : "Ya udah, yuk.."
Belum sempat aku dan Vania pergi, Calista menghampiriku.
Lista : "Rea.. Gw main kerumah lo ya.. Gw mau lanjutin the sims gw yang kemarin.."
Vania langsung menatap Calista dengan penuh amarah.
Begitu juga Calista, yang menatap Vania dengan rasa tidak menyenangkan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Calista dan Vania ?
JabLai cOY dan Arsana277 memberi reputasi
3
