- Beranda
- Stories from the Heart
Di ujung jalan
...
TS
3005fm
Di ujung jalan

Prolog cerita dihapus untuk tempat index cerita.
Untuk memudahkan pembacaan cerita dan karena ada beberapa yang request, maka saya bikin list partnya. Setiap part yang udah di update akan langsung dimasukan ke index.
Semoga makin semangat baca ceritanya
Di ujung jalan :
Bab 1 - Wawancara Majalah Food & Travel
Bab 2 - Pameran Seni
Bab 3 - Pertemuan Kedua
Bab 4 - Karyawan Baru
Bab 5 - Mengenal Nata
Bab 6 - Ini Apa ?
Bab 7 - Sakit
Bab 8 - Happiness
Bab 9 - Undefined Feeling
Bab 10 - Penjelasan dan Luka Lama
Bab 11 - Rasa Penasaran
Bab 12 - Something Wrong
Bab 13 - Liar
Bab 14 - Penyakit Bulan
Bab 15 - Egois
Bab 16 - Nekat
Bab 17 - Hurt (again)
Bab 18 - Salah Paham
Bab 19 - Akhir yang Baik
Bab 20 - Finally
Di ujung jalan (Bimo POV) :
Bab 1 - Pertemuan Awal
Bab 2 - Diam-diam
Bab 3 - Kebodohan
Bab 4 - Solo
Bab 5 - Pengakuan
Bab 6 - Shows Her
Bab 7 - Move On
Bab 8 - New Girl
Bab 9 - Nadia
Bab 10 - Jealous
Bab 11 - Jadian
Bab 12 - Kembali
Bab 13 - 1st Anniversary
Bab 14 - Accident
Bab 15 - Lost Her
Diubah oleh 3005fm 15-01-2017 19:24
anasabila memberi reputasi
1
14.4K
117
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
3005fm
#92
Di ujung jalan (Bimo POV)
Bab 8
New Girl
Nggak kerasa udah menginjak tahun ke-2 gue di SMA. Gue sekarang duduk di kelas 11 IPS 3. Gue, Ardi, dan Bulan berada di satu kelas yang sama. Gue nggak tau mesti bersyukur atau kecewa, karena sekelas sama Bulan lagi. Gue juga belum tau perasaan gue gimana ke dia... setelah omongan nyokap gue beberapa bulan yang lalu, gue bener-bener berusaha untuk move on.
Gue membiarkan Ardi dan Bulan jalan berdua, dengan sengaja membatalkan janji atau cari-cari alasan supaya gue nggak ketemu Bulan untuk sementara waktu. Dan terbukti, gue sedikit-banyak udah bisa merelakan Bulan. Hari ini, hari pertama gue masuk di kelas 11. Setahun dulu gue masih jadi adik kelas, tapi sekarang bahkan gue udah bisa membully adik-adik baru gue. Bercanda... gue bukan tipe anak sok jagoan yang tukang bully kok.
"Ya jadi siapa yang mau jadi ketua kelas XI IPS 3 ?" Tanya Bu Endang, wali kelas XI IPS 3 sambil mengetuk-ngetukan ujung spidol ke meja guru.
"BIMO AJA BU !"
Gue langsung menegok ke asal suara. Si Ardi meneriakan nama gue dengan kenceng sambil menunjuk-nunjuk gue.
Gue menjitak kepala Ardi sambil menggelengkan kepala. "Enggak bu, saya nggak bisa jadi ketua kelas. Guntur aja bu. Dia udah jadi ketua kelas dari kelas X."
"Justru karena dia udah tahun lalu, saya mau kamu gantiin dia. Saya denger kamu cukup baik di kelas X...."
"Tapi bu..."
"Bimo jadi ketua kelas XI IPS 3." Bu Endang menolak mendengarkan bantahan gue, ia menulis nama gue di papan sambil tersenyum puas.
"Jadi untuk kelas kita, semua susunan pengurus kelasnya sudah lengkap ya. Untuk Bimo dan Nadia, ketua kelas dan wakil ketua kelas yang baru... sepulang sekolah ini bertemu saya sebentar di ruang guru."
Gue melirik cewek yang bernama 'Nadia' itu, wajahnya mengingatkan gue pada seseorang yang gue temuin beberapa waktu lalu.... Cantik. Gue bergumam pelan sambil memperhatikan gerak-geriknya yang duduk di barisan depan kelas. Tapi perlahan semakin gue inget wajahya... gue mengingat kejadian 2 minggu lalu
***
2 minggu lalu...
Bimo mengaduk-aduk mie kuah yang ia pesan. Ini mangkok ke-2 yang dipesannya, perutnya lapar karena sibuk menjaga kakak perempuannya pasca melahirkan. Umurnya baru 17 tahun dan ia sudah punya keponakan. Bimo membayangkan betapa lucunya keponakannya yang baru lahir itu. Namanya Sarah, pipinya tembam mirip Mas Danu, kakak ipar Bimo.
Ia duduk sambil menghabiskan mie kuahnya di dalam kantin rumah sakit. Mata Bimo terhenti ketika mengamati seorang cewek berambut hitam sebahu yang sedang menyuapi seorang bocah laki-laki yang berumur 3 tahun. Umurnya mungkin sekitar 17-18 tahun.
"Makan yang banyak dek. Biar kamu tumbuh kuat." kata cewek itu sambil menyedokan bubur ke mulut bocah tersebut.
Bimo hanya mengamati cewek itu dari jauh sambil menunjukan ekspresi kagum. Beberapa menit kemudian, cewek itu pergi dan meninggalkan bocah laki-laki itu sendirian. Bocah itu baru menyadari setelah kakaknya pergi selama 2 menit. Bocah itu menangis keras begitu menyadarinya.
Bimo memutuskan untuk menghampiri bocah itu dan mencoba menenangkannya. "Dek, kenapa ? Tadi bukannya ada kakak kamu ?"
"Pergi.... lama." Bocah laki-laki itu menjawab sambil mengusap air matanya.
"Jangan nangis. Kakak lagi ke toilet. Kita beli permen dulu yuk." Bimo menujuk etalase makanan yang terdapat aneka permen.
Bocah itu berhenti menangis begitu Bimo memberikannya permen. Bimo tersenyum sambil mengusap pelan kepala bocah laki-laki itu.
0