- Beranda
- Stories from the Heart
FADED...
...
TS
menghilanglupa
FADED...
thanks a lot for impressively beautiful cover nya
Quote:
FADED
Dengan hati terbuka,
izinkan aku untuk berbagi rasa, yang apabila ku pendam sendiri nyatanya hanya membawa resah, hanya hampa tanpa kata ketika aku coba pendam dalam dada.
Aku tau, pilu hanya akan kelabu jika aku tak bergerak maju, dan aku paham, menahan dalam kelam pada akhirnya hanya membawa keresahan.
maka dengan segala kerendahan hati, aku ingin coba menbagikan. sebuah kisah tak berujung yang sampai saat ini aku pendam, sendiran
izinkan aku untuk berbagi rasa, yang apabila ku pendam sendiri nyatanya hanya membawa resah, hanya hampa tanpa kata ketika aku coba pendam dalam dada.
Aku tau, pilu hanya akan kelabu jika aku tak bergerak maju, dan aku paham, menahan dalam kelam pada akhirnya hanya membawa keresahan.
maka dengan segala kerendahan hati, aku ingin coba menbagikan. sebuah kisah tak berujung yang sampai saat ini aku pendam, sendiran

Quote:
Pertemuan terkadang menghasilkan sesuatu yang sulit untuk dilupakan,
pertemuan juga kadang membuat kita penuh keheranan,
mengapa waktu begitu ahli dalam mengatur detak hati yang seakan hampir mati.
Pertemuan yang indah selalu membuat kita tak merasa lelah. Ada sebuah gairah yang membuat kita semangat dan tak hentinya tersenyum hingga melupakan resah,
adakalanya pertemuan terjadi begitu tiba-tiba, tanpa permisi atau memberi tanda.
Inilah yang terjadi saat ini,
lagi sebuah pertemuan yang sempat membuat hati bertanya sejuta arti.
Apakah gerangan yang membuat jantung begitu berdetak lebih kencang dari bisanya,
hati bergetar lebih cepat dan napas pun adakalanya ikut-ikutan tak stabil dalam menjalankan fungsinya,
sedikit berlebihan memang,
tapi beginilah keadaannya. Efek dari sebuah pertemuan yang aku khawatirkan akan berubah menjadi sebuah harapan,
yang semakin lama semakin aku rasakan kebenarannya.
Tapi sekali lagi,
siapa yang bisa melawan jika hati telah menentukan pilihan untuk berlabuh.
Sekuat apapun raga, jika hati telah memaksa untuk jatuh kedalam rasa yang dinamakan cinta,
maka semua raga dan segenap jiwa akan bertekuk lutut pada hati,
dan itu tandanya, jatuh cinta telah nyata akan hadirnya.
pertemuan juga kadang membuat kita penuh keheranan,
mengapa waktu begitu ahli dalam mengatur detak hati yang seakan hampir mati.
Pertemuan yang indah selalu membuat kita tak merasa lelah. Ada sebuah gairah yang membuat kita semangat dan tak hentinya tersenyum hingga melupakan resah,
adakalanya pertemuan terjadi begitu tiba-tiba, tanpa permisi atau memberi tanda.
Inilah yang terjadi saat ini,
lagi sebuah pertemuan yang sempat membuat hati bertanya sejuta arti.
Apakah gerangan yang membuat jantung begitu berdetak lebih kencang dari bisanya,
hati bergetar lebih cepat dan napas pun adakalanya ikut-ikutan tak stabil dalam menjalankan fungsinya,
sedikit berlebihan memang,
tapi beginilah keadaannya. Efek dari sebuah pertemuan yang aku khawatirkan akan berubah menjadi sebuah harapan,
yang semakin lama semakin aku rasakan kebenarannya.
Tapi sekali lagi,
siapa yang bisa melawan jika hati telah menentukan pilihan untuk berlabuh.
Sekuat apapun raga, jika hati telah memaksa untuk jatuh kedalam rasa yang dinamakan cinta,
maka semua raga dan segenap jiwa akan bertekuk lutut pada hati,
dan itu tandanya, jatuh cinta telah nyata akan hadirnya.
Quote:
FADED
Bab. 3
Shadow
Intermezzo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Intermezzo
Shadow
Intermezzo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Intermezzo
Bab 4.
Shadow become light
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Intermezzo
Shadow become light
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Intermezzo
the end
Spoiler for dari agan-agan :
Quote:
Quote:
Original Posted By canisfamiliaris►
OLA
Bagai abu arang sate yang terbang
Percikan debu hanya mampu berlalu
Wahai angin, apa salahku?
Kenapa harus aku?
Kau terbangkan aku
Kau ombang-ambingkan aku
Kau hempaskan aku
Kau bawa pergi jiwaku
Jauh......Jauh hingga aku lupa
Lupa akan tiada gunanya aku
Lupa tempatku
Lupa jati diriku
Jika itu kehendakmu, bawalah aku
Bawa aku bersamamu
Bawa aku kemanapun kau mau
Aku yang hanya pelengkapmu
Aku yang hanya mengotorimu
Tak mampuku tanpamu
Bersamamu aku menjadi sesuatu
Jangan kau pudarkan asaku
Bagai abu arang sate yang terbang
Percikan debu hanya mampu berlalu
Wahai angin, apa salahku?
Kenapa harus aku?
Kau terbangkan aku
Kau ombang-ambingkan aku
Kau hempaskan aku
Kau bawa pergi jiwaku
Jauh......Jauh hingga aku lupa
Lupa akan tiada gunanya aku
Lupa tempatku
Lupa jati diriku
Jika itu kehendakmu, bawalah aku
Bawa aku bersamamu
Bawa aku kemanapun kau mau
Aku yang hanya pelengkapmu
Aku yang hanya mengotorimu
Tak mampuku tanpamu
Bersamamu aku menjadi sesuatu
Jangan kau pudarkan asaku
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 210 suara
[ SPOILER ] HATI DIYAS BAKAL BERLABUH KE SIAPA ?
OLA
80%
RHEA
10%
VELIN
10%
Diubah oleh menghilanglupa 14-01-2017 21:33
jenggalasunyi dan 8 lainnya memberi reputasi
7
484.2K
Kutip
2.9K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
menghilanglupa
#185
Guardian Angel
Part 3
to be continued
Part 3
Quote:
dan saat itu cerita ola terhenti, dia dengan perlahan menenggak teh yang sudah terlanjur dingin, sudah tak terlihat lagi kepulan asap tipis dari secangkir teh buatannya.
"yas gue ngantuk"
ola berbicara pelan lalu bangkit berdiri dari kursi
gue saat itu masih belum bisa berkata, hanya melihat ola dengan gaun cinderellanya, cantik, iya hanya kata itu yang terlintas di otak gue, begitu sempurnanya sabrina ola ini, rambut sebahunya dia biarkan tergerai menutupi punggung atasnya yang terbuka, gaun berwarna putih itu pun seakan melekat manis menutupi tubuh rampingnya. tinggi semampainya kini terlihat begitu jelas dalam balutan gaun yang begitu pas, laksana putri yang ingin mengajak menari, ola pun menunduk mendekatkan wajahnya ke arah muka gue.
"yas, gue ngantuk"
dengan perlahan ola duduk bersimpu disamping kaki gue, sedetik kemudian menyandarkan wajahnya di paha gue, dan dia tertidur ! dia tertidur !
ah syiiiit ! gue mikir apa, syiiiiit gue gak boleh terbawa suasana, gak boleh !
"la, ola"
dengan suara perlahan, gue coba membangunkan ola, lebih tepatnya menyadarkan ola. soalnya apa yang udah ola lakuin ini sukses ngebuat gue berpikiran yang 'iya-iya".
tapi nyatanya ola tertidur dengan begitu pulasnya, seakan semua rasa lelah memudar perlahan seiring dengan tidurnya yang begitu dalam, dari wajah polosnya semua aura kecantikan ola perlahan masuk melalui jalan visual hingga akhirnya menari indah di dalam otak gue. dan seketika jantung gue berdebar kencang, mematung tanpa bisa menggerakan badan. gue pun menarik napas dalam-dalam lalu menyenderkan badan.
TIAN.
kampreeeet gue ketiduran, segera gue lihat jam dari tangan kiri gue, WHAT udah jam 1 siang ?!!!!!! segera gue lihat kebawah dan ola udah gak ada !
gawat, gue gak masuk kuliah pagi, padahal baru hari kedua, masak udah harus absen, dan yang lebih membuat gue panik adalah si ola ini, dia gak ada, dia kemana ? atau dia kuliah ? what ? kuliah ? jangan-jangan dia kuliah gak pake itu, iya itu ! gue lalu ambil tas gue dan nyari hp, gue pengen nelpon ola, aaaah syit ! gue kan belum punya nomernya, yang ada nomer mamahnya, masak iya gue nelpon mamahnya. gue pun segera berdiri dari kursi gede ini, sekuat tenaga gue menyadarkan diri gue, rasanya semalem gue tidur pules banget, padahal tidur dalam posisi duduk.
tiba-tiba pintu utama rumah terbuka, dan ULALA itu ola ! dengan perlahan dan seperti biasanya dia datang tanpa kata, mendekat ke arah gue lalu......
sebuah pelukan mendarat hangat di tubuh gue, sontak gue kliyengan, gimana gak kliyengan coba, gue baru bangun tidur dan nyawa belum terkumpul semua, gue udah dikejutin sama pelukan dadakan dan FYI ini adalah pertama kalinya dalam hidup gue, bangun tidur lalu dipeluk, bodo amat kalian mau ketawa atau gimana yang jelas gue belum pernah ngalamin sensasi kayak begini !
dan buat lu ola, bisa gak sih gak buat jantung anak lompat mendadak.
"pagi yas"
ola berkata perlahan lalu melepaskan pelukannya
"la, lu kuliah ? kenapa lu gak bangunin gue ?"
dengan nada sedikit protes gue bilang ke ola.
"marah"
sembari menaruh sepatunya di kursi gede itu ola berbicara perlahan
"marah ? siapa ? gue ?'
gue jawab dengan rada bingung
"iya, nanti lu marah"
ola kemudian mengelap sepatu itu dengan bagian bawah seragam kemeja putih yang dia biarkan keluar.
"hah, enggak lah, lagian kenapa lu gak bangunin gue coba"
saat itu pandangan gue langsung tertuju ke punggung ola, dan syukurlah dia kali ini pake kaos. iya, jadi dia pake baju doble, mendinglah daripada pas hari pertama kuliah kemarin.
"lu laper yas ?"
masih dengan mengelap sepatunya dia berbicara tanpa menoleh ke arah gue.
"mmm lumayan sih, lu laper la ?"
gue balik nanya ke ola
"enggak"
gitu, iya ola cuman bales gitu.
"oh, yaudah deh, gue mau cabut ya la"
saat itu gue laper banget men, laper ! dari kemarin gue belum makan, seharian kemarin gue disibukan nemenin si ola ini. jadi gue pengen balik ke asrama buat nyari makan.
"kemana ?"
saat itu ola mendadak berbalik menghadap ke arah gue, dan menghentikan acara menggosok sepatunya.
"ke asrama lah, kemana lagi ?"
"lu laper yas?"
dan perlahan ola kembali bertanya hal yang sama kayak tadi, seakan ola ini bisa ngebaca isi otak gue.
"iya sih laper, belum makan soalnya dari kemarin"
gue jawab aja jujur
"gue laper"
seketika ola bilang laper, padahal beberapa detik yang lalu dia bilang enggak laper -_-
"lah lu katanya gak laper"
"gue laper"
"serius la, gapapa, gue cabut yak"
"gue laper"
dan si ola ini terus-terusan bilang laper
"yaudah deh kalo lu beneran laper, gue cari makan dulu, lu mau titip apa ?"
gue pun nyerah dan mengurungkan niat gue buat balik ke asrama
"enggak"
ola kemudian mengambil sepatunya lalu berjalan menuju tangga dan perlahan naik ke lantai atas
INI APA
SABARKANLAH HAMBAMU INI YA TUHAN
"lah lu gimana sih la, katanya laper, yaudah gue cabut kalo gitu"
bodo amat, gue saat itu beranjak menuju pintu pengen ke segera ke asrama
"yas, lu mau kemana ?"
dari pertengahan anak tangga ola berbicara perlahan mencoba menghentikan langkah gue
"mau ke barat mencari kitab suci, gue cabut dulu la, lu hati-hati"
bodo amat gue beneran kagak peduli, gue ngeleos pergi menuju pintu.
"yas, lu jadi orang jangan plin plan"
ola berkata sedikit lebih keras
mendengar ucapan ola itu, langkah gue terhenti, gue gak jadi buka pintu lalu berbalik ke belakang, menghadap ke ola.
"siapa yang pin plan la, yang ada elu, katanya laper, gue tawarin mau titip apa lu bilang enggak"
sumpah gue dibikin gedek sama tingkah ola
"lu plin plan yas"
dengan lugu ola bicara gitu ke gue.
"setau gue, orang plin plan itu gak baik, lo jangan gitu yas, gue gak mau lo jadi gak baik"
dan sekarang si sangklek ini malah nasehatin gue, gue laper, gue gedek, gue pengen makan lo la !
"terus gue kudu gimana la ?"
gue yang pasrah sembari menahan emosi coba untuk sabar
"sini ke atas"
dengan pelan ola bilang gitu lalu pergi ke lantai dua rumahnya.
gue udah ga tau lagi, dengan lemes gue turutin omongan ola itu, gue pun ngikutin pergi ke lantai atas.
dan setelah sampai di lantai dua rumah ola, gue baru sadar, ini baru rumah yang wajar. seperti dugaan gue sebelumnya, rumah keluarga ola ada di lantai dua ! iya, seperti rumah mewah pada umumnya, lengkap dengan kursi sofa dan tv raksasa, rasanya gue gak perlu jelasin lebih rinci soal ruangan ini, kalian pasti udah tahu apa aja yang ada di dalem rumah mewah pada umumnya.
gue melihat sekeliling, melihat foto keluarga yang tergantung di dinding dengan ukuran yang besar, gue bisa lihat kedua orang tua ola yang terlihat begitu bahagia, dengan ola yang berada diantara mereka berdua, dengan senyum ceria, cantik seperti aslinya.
dan pandangan gue kemudian teralihkan dengan foto laki-laki yang tergantung tepat dipintu sebuah kamar.
WAIT ! ITU GUE ! ITU MUKA GUE ! ITU FOTO GUE !! ITU GUE !!
seakan gue gak percaya sama apa yang gue lihat saat itu, dengan sedikit berlari, gue melihat lebih dekat foto seukuran A3 itu, dan nyata, ini beneran muka gue, tapi gue gak ngerasa pernah difoto pake baju seperti di foto itu, dan sejak kapan gue pake kacamata, dan sejak kapan gue punya motor ducati warna merah ?!!
dengan gemetar gue tanya sedikit berteriak ke ola.
"LA OLA, INI FOTO SIAPA ?!"
ola yang sedang membuka kulkas itu pun menoleh ke arah gue, dengan pelan dia menjawab
"tian"
"yas gue ngantuk"
ola berbicara pelan lalu bangkit berdiri dari kursi
gue saat itu masih belum bisa berkata, hanya melihat ola dengan gaun cinderellanya, cantik, iya hanya kata itu yang terlintas di otak gue, begitu sempurnanya sabrina ola ini, rambut sebahunya dia biarkan tergerai menutupi punggung atasnya yang terbuka, gaun berwarna putih itu pun seakan melekat manis menutupi tubuh rampingnya. tinggi semampainya kini terlihat begitu jelas dalam balutan gaun yang begitu pas, laksana putri yang ingin mengajak menari, ola pun menunduk mendekatkan wajahnya ke arah muka gue.
"yas, gue ngantuk"
dengan perlahan ola duduk bersimpu disamping kaki gue, sedetik kemudian menyandarkan wajahnya di paha gue, dan dia tertidur ! dia tertidur !
ah syiiiit ! gue mikir apa, syiiiiit gue gak boleh terbawa suasana, gak boleh !
"la, ola"
dengan suara perlahan, gue coba membangunkan ola, lebih tepatnya menyadarkan ola. soalnya apa yang udah ola lakuin ini sukses ngebuat gue berpikiran yang 'iya-iya".
tapi nyatanya ola tertidur dengan begitu pulasnya, seakan semua rasa lelah memudar perlahan seiring dengan tidurnya yang begitu dalam, dari wajah polosnya semua aura kecantikan ola perlahan masuk melalui jalan visual hingga akhirnya menari indah di dalam otak gue. dan seketika jantung gue berdebar kencang, mematung tanpa bisa menggerakan badan. gue pun menarik napas dalam-dalam lalu menyenderkan badan.
TIAN.
kampreeeet gue ketiduran, segera gue lihat jam dari tangan kiri gue, WHAT udah jam 1 siang ?!!!!!! segera gue lihat kebawah dan ola udah gak ada !
gawat, gue gak masuk kuliah pagi, padahal baru hari kedua, masak udah harus absen, dan yang lebih membuat gue panik adalah si ola ini, dia gak ada, dia kemana ? atau dia kuliah ? what ? kuliah ? jangan-jangan dia kuliah gak pake itu, iya itu ! gue lalu ambil tas gue dan nyari hp, gue pengen nelpon ola, aaaah syit ! gue kan belum punya nomernya, yang ada nomer mamahnya, masak iya gue nelpon mamahnya. gue pun segera berdiri dari kursi gede ini, sekuat tenaga gue menyadarkan diri gue, rasanya semalem gue tidur pules banget, padahal tidur dalam posisi duduk.
tiba-tiba pintu utama rumah terbuka, dan ULALA itu ola ! dengan perlahan dan seperti biasanya dia datang tanpa kata, mendekat ke arah gue lalu......
sebuah pelukan mendarat hangat di tubuh gue, sontak gue kliyengan, gimana gak kliyengan coba, gue baru bangun tidur dan nyawa belum terkumpul semua, gue udah dikejutin sama pelukan dadakan dan FYI ini adalah pertama kalinya dalam hidup gue, bangun tidur lalu dipeluk, bodo amat kalian mau ketawa atau gimana yang jelas gue belum pernah ngalamin sensasi kayak begini !
dan buat lu ola, bisa gak sih gak buat jantung anak lompat mendadak.
"pagi yas"
ola berkata perlahan lalu melepaskan pelukannya
"la, lu kuliah ? kenapa lu gak bangunin gue ?"
dengan nada sedikit protes gue bilang ke ola.
"marah"
sembari menaruh sepatunya di kursi gede itu ola berbicara perlahan
"marah ? siapa ? gue ?'
gue jawab dengan rada bingung
"iya, nanti lu marah"
ola kemudian mengelap sepatu itu dengan bagian bawah seragam kemeja putih yang dia biarkan keluar.
"hah, enggak lah, lagian kenapa lu gak bangunin gue coba"
saat itu pandangan gue langsung tertuju ke punggung ola, dan syukurlah dia kali ini pake kaos. iya, jadi dia pake baju doble, mendinglah daripada pas hari pertama kuliah kemarin.
"lu laper yas ?"
masih dengan mengelap sepatunya dia berbicara tanpa menoleh ke arah gue.
"mmm lumayan sih, lu laper la ?"
gue balik nanya ke ola
"enggak"
gitu, iya ola cuman bales gitu.
"oh, yaudah deh, gue mau cabut ya la"
saat itu gue laper banget men, laper ! dari kemarin gue belum makan, seharian kemarin gue disibukan nemenin si ola ini. jadi gue pengen balik ke asrama buat nyari makan.
"kemana ?"
saat itu ola mendadak berbalik menghadap ke arah gue, dan menghentikan acara menggosok sepatunya.
"ke asrama lah, kemana lagi ?"
"lu laper yas?"
dan perlahan ola kembali bertanya hal yang sama kayak tadi, seakan ola ini bisa ngebaca isi otak gue.
"iya sih laper, belum makan soalnya dari kemarin"
gue jawab aja jujur
"gue laper"
seketika ola bilang laper, padahal beberapa detik yang lalu dia bilang enggak laper -_-
"lah lu katanya gak laper"
"gue laper"
"serius la, gapapa, gue cabut yak"
"gue laper"
dan si ola ini terus-terusan bilang laper
"yaudah deh kalo lu beneran laper, gue cari makan dulu, lu mau titip apa ?"
gue pun nyerah dan mengurungkan niat gue buat balik ke asrama
"enggak"
ola kemudian mengambil sepatunya lalu berjalan menuju tangga dan perlahan naik ke lantai atas
INI APA
SABARKANLAH HAMBAMU INI YA TUHAN"lah lu gimana sih la, katanya laper, yaudah gue cabut kalo gitu"
bodo amat, gue saat itu beranjak menuju pintu pengen ke segera ke asrama
"yas, lu mau kemana ?"
dari pertengahan anak tangga ola berbicara perlahan mencoba menghentikan langkah gue
"mau ke barat mencari kitab suci, gue cabut dulu la, lu hati-hati"
bodo amat gue beneran kagak peduli, gue ngeleos pergi menuju pintu.
"yas, lu jadi orang jangan plin plan"
ola berkata sedikit lebih keras
mendengar ucapan ola itu, langkah gue terhenti, gue gak jadi buka pintu lalu berbalik ke belakang, menghadap ke ola.
"siapa yang pin plan la, yang ada elu, katanya laper, gue tawarin mau titip apa lu bilang enggak"
sumpah gue dibikin gedek sama tingkah ola
"lu plin plan yas"
dengan lugu ola bicara gitu ke gue.
"setau gue, orang plin plan itu gak baik, lo jangan gitu yas, gue gak mau lo jadi gak baik"
dan sekarang si sangklek ini malah nasehatin gue, gue laper, gue gedek, gue pengen makan lo la !
"terus gue kudu gimana la ?"
gue yang pasrah sembari menahan emosi coba untuk sabar
"sini ke atas"
dengan pelan ola bilang gitu lalu pergi ke lantai dua rumahnya.
gue udah ga tau lagi, dengan lemes gue turutin omongan ola itu, gue pun ngikutin pergi ke lantai atas.
dan setelah sampai di lantai dua rumah ola, gue baru sadar, ini baru rumah yang wajar. seperti dugaan gue sebelumnya, rumah keluarga ola ada di lantai dua ! iya, seperti rumah mewah pada umumnya, lengkap dengan kursi sofa dan tv raksasa, rasanya gue gak perlu jelasin lebih rinci soal ruangan ini, kalian pasti udah tahu apa aja yang ada di dalem rumah mewah pada umumnya.
gue melihat sekeliling, melihat foto keluarga yang tergantung di dinding dengan ukuran yang besar, gue bisa lihat kedua orang tua ola yang terlihat begitu bahagia, dengan ola yang berada diantara mereka berdua, dengan senyum ceria, cantik seperti aslinya.
dan pandangan gue kemudian teralihkan dengan foto laki-laki yang tergantung tepat dipintu sebuah kamar.
WAIT ! ITU GUE ! ITU MUKA GUE ! ITU FOTO GUE !! ITU GUE !!
seakan gue gak percaya sama apa yang gue lihat saat itu, dengan sedikit berlari, gue melihat lebih dekat foto seukuran A3 itu, dan nyata, ini beneran muka gue, tapi gue gak ngerasa pernah difoto pake baju seperti di foto itu, dan sejak kapan gue pake kacamata, dan sejak kapan gue punya motor ducati warna merah ?!!
dengan gemetar gue tanya sedikit berteriak ke ola.
"LA OLA, INI FOTO SIAPA ?!"
ola yang sedang membuka kulkas itu pun menoleh ke arah gue, dengan pelan dia menjawab
"tian"
to be continued
izinkan ane nyantumin lagunya om alan ya gan
Diubah oleh menghilanglupa 10-12-2016 07:26
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas

