- Beranda
- Stories from the Heart
(FANTASY) The Last Blue Knight
...
TS
wongintrovert
(FANTASY) The Last Blue Knight

Hai Guys... agan aganwati penduduk jagat kaskus, izin kan ane yang newbie dan cupu ini mendongeng cerita fantasy, dari pada bejubel menuhin otak ane dan bisa-bisa over load, mending ane tulis di sini dah, selamat membaca, dan TS sangat mengharap kritik dan saran yang membangun demi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini... Salam Kuper...
Spoiler for "PROLOG":
Prolog
Ray Xander adalah seorang anak yang tidak pernah tahu darimana asal usulnya, dia di adopsi oleh sepasang suami istri Gerald dan Anne yang hidup sederhana dan tinggal di pingiran desa Melvix, Ray masih bayi ketika ditemukan Gerald dan Anne di pinggiran hutan Terz saat mereka sedang mencari tumbuhan obat untuk keperluan pengobatan. Gerald sendiri bekerja sebagai tabib yang membuka praktek pengobatan di rumahnya, Gerald menggabungkan pengetahuannya tentang berbagai penyakit, tumbuhan obat dan kekuatan zein untuk menyembuhkan penyakit. Hingga usia 35 tahun Gerald dan Anne belum juga dikaruniai anak, hingga mereka menemukan Ray dan dengan suka cita merawat Ray seperti darah daging mereka sendiri. tidak ada sedikitpun petunjuk tentang asal usul Ray, ketika ditemukan ia hanya terbungkus kain sutra halus berwarna merah darah, didalam sebuah kotak yang berukir membentuk pola yang rumit namun tampak indah, dan ada sedikit keanehan dari diri Ray, di punggung sebelah kiri terdapat rajah tattoo berbentuk pola rantai membentuk lingkaran, di tengahnya tergambar ular melingkar dengan mulut menggigit pisau belati. Entah siapa yang tega merajah tubuh mungil dan lucu dengan tattoo seperti itu.
Desa Melvix sendiri terletak di belahan bumi sebelah barat tepatnya benua Eurosia, melvix termasuk bagian dari kerajaan Alexor yang dipimpin oleh Raja Victor. Melvix terletak di sisi sebalah barat dari pusat kerajaan sehingga berbatasan langsung dengan hutan. Sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dengan bercocok tanam diladang atau mencari hasil alam di hutan yang hasilnya akan dijual langsung di pusat kota kerajaan.
Gerald bertubuh tinggi dan kekar, rambut berwarna coklat, mata berwarna coklat dengan paras yang masih terlihat ketampanannya walaupun usianya sudah 35 tahun, dia mempelajari ilmu pengobatan dari orang tuanya yang kebetulan dulunya adalah seorang tabib kerajaan, namun karena suatu fitnah dari tabib kerajaan lain yang iri atas kemampuan orang tua Gerald, akhirnya keluarga Gerald di usir dari kerajaan dan menetap tinggal di Melvix. Sedangkan Anne sosok wanita yang Anggun, kecantikan khas perempuan desa yang sederhana, Anne hanya anak petani, ia teman bermain Gerald sewaktu kecil hingga takdir yang menyatukan mereka menjadi pasangan suami istri.
Ray kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berhati lembut, terkadang juga bersifat konyol namun begitu kuat memegang teguh pendiriannya. Karena ia di didik dengan penuh kasih sayang dari Gerald dan Anne, walaupun Ray bukan darah daging mereka sendiri. perbedaan mencolok dari Ray dengan kedua orang tuanya adalah rambut ray yang berwarna agak kebiru-biruan dan matanya yang berwarna biru cerah. Penduduk di sekitar rumah Ray sudah mengetahui bahwa Ray bukan anak kandung Gerald dan Anne sehingga mereka tidak terlalu memperdulikan fisik Ray.
Di dunia ini manusia mengenal zein yaitu kekuatan dalam diri manusia yang yang berkaitan dengan fisik karena kekuatan tersebut sudah ada semenjak manusia dilahirkan dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, seperti untuk pengobatan, untuk bertarung, untuk menambah kepekaan indra manusia dll. Ada pula kekuatan spiritual yang mampu dipergunakan untuk berbagai macam magic dengan media mantra-mantra khusus sehingga menimbulkan efek tertentu.
Cepat atau lambat Ray akan tubuh dewasa dan menyadari bahwa dia bukan anak kandung Gerald dan Anne, lalu dimulailah petualangan Ray untuk mengungkap siapakah identitas Ray yang sebenarnya? Dan perlahan-lahan Ray mulai menyadari kekuatan besar yang tersimpan dalam dirinya.
------------
INDEX
INDEX
------------
Pengenalan Karakter
Spoiler for "RAY":

Nama : RAY XANDER
Usia : 20 tahun
Tempat tinggal : Melvix
Diubah oleh wongintrovert 21-12-2016 21:52
anasabila memberi reputasi
2
52.8K
Kutip
467
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wongintrovert
#337
Chapter XIXc
Quote:
Kesadarannya mulai kembali, ia mendengar suara-suara pertarungan disekitar, sehingga ia menyadari kini ia sudah kembali ketubuh fisiknya. Ia merasakan aliran zein ditubuhnya mulai bereaksi memulihkan luka-luka disekujur tubuh, dan perlahan-lahan ia mulai membuka matanya. Ia mengitarkan pandangannya sesaat kesekitar, yang terlihat adalah mayat-mayat bergelimpangan membuat miris.
"Ray bagaimana keadaan mu?"
Ray mengalihkan pandangannya kearah sumber suara, dan ia melihat Dilly yang jongkok disampingnya. " Aku baik-baik saja kawan." Ucapnya dan bangkit duduk, tangannya mengusap dahi karena ia merasakan cairan lengket didahinya.
"Darah."Gumam Ray setelah melihat jari tangannya memerah karena darahnya sendiri.
Ray merasakan sesuatu yang berbeda, ia merasakan aliran zein disekitarnya, bahkan tanah yang ia pijak terus mengalirkan zein ketubuh Ray hingga kini tubuhnya benar-benar pulih seperti semula.
Ray melirik kearah Zion yang sedang memperhatikan Carmen dan Marlin bertarung, dan ia pun mengalihkan pandangannya kearah pertarungan. Ray menyipitkan pandangannya saat melihat Marlin dan Carmen yang sedang bertarung dan terlihat Carmen semakin terdesak.
Ia terpekik tertahan ketika melihat Marlin mengeluarkan angin kencang yang bergulung dari tangannya dan hendak menerjang Carmen. Spontan Ray menggerakan tangannya kearah angin yang diciptakan Marlin, Ia keheranan saat merasakan tangannya seolah bisa menyentuh angin itu padahal jaraknya cukup jauh, dan ia mencoba menegangkan tangannya untuk menahan dorongan angin yang hendak menerjang Carmen. Ia sendiri terlonjak kaget dan berdiri dengan tangan masih terangkat ketika melihat angin yang hendak menerjang Carmen berhenti. Semua orang keheranan menatap Ray yang seolah bisa mengendalikan angin serangan Marlin.
"Mundur paman." Teriak Ray pada Carmen.
Carmen yang mendengar suara Ray, tiba-tiba menghilang dan muncul kembali samping Ray dengan nafas yang memburu. Ray tersentak kaget saat melihat Carmen tiba-tiba ada disampingnya. Angin yang tadi ia tahan pun kembali bergerak menerjang rumah-rumah disekitarnya.
"Kau seperti hantu saja, membuatku kaget." Ucap Ray sambil mengusap dadanya.
Carmen hanya menggeleng pelan mendengar ucapan Ray." Kau ini sudah kubantu bukannya berterima kasih." Sahut Carmen kesal.
Ray tak menyahuti, ia malah asik mengibaskan tangannya pelah kedepan, Ray bisa menyentuh udara, dan saat Ray mengibaskan tangannya tercipta putaran angin kecil.
"Ray sampai kapan kau mau main-main, Marlin menyerang kita." Teriak Dilly, matanya membelalak melihat angin topan bergulung kearahnya, benda-benda disekitar tersedot angin beterbangan.
Teriakan Dilly membuyarkan keasikan Ray, Ia mengalihkan pendangnnya kedepan, kearah angin topan yang cukup besar. Ray tersenyum sesaat, lalu mengarahkan telapak tangannya kearah angin itu, Ray menyerap zein diangin topan dan membuangnya ketanah. Semua orang terperangah saat melihat angin serangan Marlin berhenti, perlahan-lahan mulai menghilang, dan keadaan kembali tenang.
Ray menatap tajam mata Marlin yang bersinar merah terang, kali ini ia tak merasa ketakutan saat menatap matanya, ia merasa Marlin hanyalah bagian kecil dari seluruh kekuatan alam yang bisa ia kendalikan. Ia menghentakan kakinya ketanah dan melompat menerjang Marlin, semua orang kembali dibuat terperangah karena melihat Ray seperti terbang, melesat kearah Marlin.
Ray tak mau lengah lagi, ia membuat perisai dari zeinnya, kali ini cahaya biru ditubuh Ray lebih terang dari sebelumnya. Ia merasakan zein ditubuhnya bertambah kuat berkali-kali lipat. Ray menerjang Marlin dengan tendangan kearah kepala, Namun Marlin tak kalah sigap, ia menangkap kaki Ray kemudian membantingnya ketanah. Suara ledakan keras terdengar saat tubuh Ray mengahantam tanah, Tanah yang terhantam tubuh Ray berhamburan membumbung tinggi.
Ray kembali bangkit, dan melesat cepat kearah Marlin, kali ini Ia mengarahkan tinjunya pada Marlin. Marlin menganggap enteng Ray karena tadi ia bisa mengalahkannya, ia hanya mengangkat satu tangannya untuk menahan pukulan Ray, dan hasilnya Marlin terpelanting jauh menabrak beberapa dinding rumah-rumah yang berjajar hingga jebol, dan baru berhenti saat menabrak dinding rumah yang ke enam.
Ray kembali mengejar Marlin, ia melesat melalui dinding rumah yang jebol terkena terjangan tubuh Marlin, dan ternyata Marlin pun sudah melesat kearah Ray. Secepatnya Ray menyerap sebanyak-banyaknya zein dan mengumpulkannya di pukulan, adu pukulan pun tak bisa dihindari. Dentuman sangat keras terdengar saat pukulan mereka beradu, kerusakan yang dihasilkan sungguh mengerikan, rumah diradius 20 kaki hancur berantakan, Ray dan Marlin sama-sama terlempar kebelakang.
Setelah Ray berhenti dari daya dorong adu pukalan tadi, ia bangkit dan tak terluka sedikit pun, ia memutarkan pandangannya kesekitar. Ray sendiri kaget saat melihat efek adu pukulan yang tadi ia lakukan, rumah-rumah disekitarnya rata dengan tanah. kemudian ia melesat kembali mencari keberadaan Marlin ditengah reruntuhan bangunan. keadaan lengang tak terlihat ada gerakan sedikitpun.
Ray tak mau lengah, saat mencari Marlin, ia tak mengurangi kesiagaannya, karena bisa saja Marlin sedang bersembunyi dan kapan saja bisa menyerang Ray. Namun anggapan Ray salah, ia melihat Marlin tergeletak diantara reruntuh bangunan, dengan kepala yang memerah dibanjiri darah, dan tangan kanannya patah hingga terlihat tulang yang menonjol keluar. Ray mendekati tubuh Marlin dan hampir melepaskan pukulannya lagi saat melihat Marlin sedikit bergerak, tapi Ray mengurungkan niatnya karena gerakan Marlin hanya helaan dan hembusan nafas terakhir sebelum nyawanya terlepas.
Ray menghembuskan nafas lega- saat tahu Marlin sudah tak bernyawa, lalu melangkah meinggalkan tubuh Marlin kearah Dilly,Carmen, dan Zion yang menatap ngeri kearah bangunan-bangun yang hancur karena pertarungab Ray dan Marlin.
"Erza dimana paman?" tanya Ray sesaat setelah sampai digerbang istana.
" Erza aman, dirumah." Sahut Carmen, benar-benar menjaga kerahasiaan kerajaan Either.
"Sukurlah... aku titip Erza dulu paman sampai keadaan disini membaik." Ucap Rey lega.
"Tak usah kau minta pun aku akan menjaganya Ray." Ucap Carmen tersenyum. "Baiklah aku pulang dulu Ray. nanti kalau sudah aman aku akan mengembalikan Erza kepada mu." Ucap Carmen.
tanpa menunggu jawaban Ray, Carmen memanggil seluruh pengawalnya untuk berkumpul, lalu ia memejamkan matanya dan sesaat kemudian muncul cahaya putih yang menyilaukan menyelimuti tubuh Carmen dan para pengawalnya. Dalam sekejap Carmen dan pengawalnya sudah lenyap dari hadapan Ray.
Para pasukan Marlin yang ada disekitar gerbang istana mulai menjatuhkan senjata dan berlutut menyerah, setelah tahu pimpinannya sudah tewas di tangan Ray. Zion memerintahkan pasukannya untuk menangkap dan mengumpulkan sisa-sisa pasukan Marlin.
"Orang tadi siapa Ray?" tanya Zion sambil menunjuk tempat tadi Carmen menghilang.
"itu pamannya Erza tuan, oh iya... bagaimana keadaan raja Victor?" Sahut Ray mengalihkan pembicaraan karena harus menjaga rahasia.
Dilly terlonjak kaget saat mendengar pertanyaan Ray, ia sampai lupa dengan Raja Victor yang disandera Redryc. "Maaf aku lupa, Raja Victor disandera Redryc dan aku tak tahu dimana mereka sakarang." Ucap Dilly setengah berteriak.
"Kau serius Dilly?" Tanya Zion tak percaya, penasehat kerajaan berkhianat.
"Serius tuan, tadi aku ke ruang evakuasi ingin menyelamatkan raja, tapi aku ditusuk An..." Ucapan Dilly terputus saat dia mengingat Anne, Ia ragu untuk menceritakan. " aku ditusuk pengawal Redryc dan akhirnya bertemu Carmen yang kemudian mengobati ku." Lanjut Dilly mengubah kata-katanya.
Ray terdiam sejenak, ia tahu apa yang akan dikatakan Dilly, dan muncul pertanyaan kenapa Anne sampai berbuat begitu.
"Mereka ada di aula kerajaan." Teriak Zion tiba-tiba. " Redryc ingin memaksa Raja Victor untuk menobatkan Marlin menjadi Raja, pantas saja Marlin tergesa-gesa menuju istana." Lanjut Zion lalu segera berlari kearah Aula kerajaan.
Dilly dan Ray saling pandang sejenak, lalu berlari menyusul Zion untuk menyelamatkan raja Victor.
0
Kutip
Balas