Kaskus

Story

carienneAvatar border
TS
carienne
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]


Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
(credit to : risky.jahatfor the beautiful cover)


PROLOG :


Gue selalu percaya, apapun yang kita alami di dunia ini selalu memiliki alasan tersendiri. Ga terkecuali dengan kehadiran orang-orang di kehidupan kita. Setiap orang, setiap hal, memiliki perannya masing-masing di kehidupan kita ini. Ada yang datang untuk sekedar menguji kesabaran kita, ada yang datang untuk menyadarkan kita akan mimpi dan harapan yang selalu mengiringi kita.

Gue menulis cerita ini, sebagai wujud rasa cinta gue terhadap segala yang pernah terjadi kepada gue. Ada yang ingin gue lupakan, dan ada yang ingin gue kenang selamanya. Tapi pada satu titik gue menyadari, bahwa ga ada yang harus gue lupakan, melainkan gue ambil pelajarannya. Dan untuk segala yang pernah hadir di hidup gue, ataupun yang akan hadir, gue mengucapkan terima kasih dari hati gue yang terdalam.

Cerita ini berawal pada tahun 2006, pada saat gue masih culun-culunnya menjalani kehidupan. Gue baru saja lulus SMA, dan memutuskan untuk merantau, meskipun ga jauh-jauh amat, ke ibukota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Gue masih mengingat dengan jelas momen ketika gue mencium tangan ibu, dan elusan kepala dari bapak, yang mengantarkan gue ke gerbang rumah, sebelum gue menaiki angkutan umum yang akan membawa gue ke ibukota.

Ketika angkutan umum yang membawa gue ke ibukota itu mulai berjalan, gue sama sekali ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidup gue selanjutnya. Tentu saja gue ga bisa membayangkan kehadiran seseorang, yang dengan segala keunikan dan keistimewaannya, memberikan warna tersendiri di hati gue.

Nama gue Gilang, dan semoga sekelumit cerita gue ini bisa berkenan bagi kalian semua.


Quote:
Diubah oleh carienne 27-03-2017 21:48
afrizal7209787Avatar border
radoradaAvatar border
elbe94Avatar border
elbe94 dan 51 lainnya memberi reputasi
52
2M
5.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
carienneAvatar border
TS
carienne
#3209
PART 69

“Gilang?” katanya parau.

“ya, Cha, ini gw...” kata gw serak menahan tangis. “ini gw...”

“lo kenapa disini?” tanyanya.

“gw disini buat lo, Cha....”

dia memejamkan matanya.

“sekarang jam berapa?”

gw celingukan mencari jam, karena gw ga memakai jam tangan.

“jam sembilan, Ra...” Jihan menjawab sambil mendekatkan diri ke tepian tempat tidur. Dia tersenyum ke Ara.

“mba Jihan?” tanyanya lirih.

“iya, ini gw...” Jihan tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dia mengelus-elus punggung tangan Ara dengan lembut.

“kok sampe sini juga...”

Jihan hanya tersenyum.

“mama mana?” Ara berusaha memalingkan kepalanya dengan perlahan. Mama Ara yang sedari tadi ada di sisi tempat tidur yang lain segera memegang tangan Ara dengan kedua tangannya.

“mama disini, nak...” beliau mulai meneteskan air mata. “mama disini, jagain Acha... sembuh ya nak...”

“papa mana?”

papa Ara langsung mendekatkan diri di samping tempat tidur, berdiri bersebelahan dengan mama Ara, kemudian membungkuk, mengecup dahi Ara dengan lembut.

“kamu harus sembuh ya, sayang...” kata papa Ara dengan suara agak bergetar. Ara hanya berkedip-kedip dengan lemah, kemudian mengangguk perlahan.

Dia kemudian berpaling ke gw dengan perlahan. Dia hanya memandangi gw dengan sayu, namun lama kelamaan gw melihat matanya berkaca-kaca. Entah apa yang ada di pikirannya waktu itu. Dia memejamkan matanya beberapa saat, dan gw melihat setitik air mata jatuh dari sudut-sudut matanya. Hati gw hancur rasanya melihat kondisinya dan melihat kesedihannya itu. Gw sangat merindukan momen-momen dimana Ara masih bisa tertawa bahagia bersama gw, di kos-kosan yang menjadi kenangan tak tergantikan di dalam memori kami.

“lo kapan sampe?” tanyanya lirih.

“barusan aja, gw langsung kesini dari stasiun...”

“lo sampe harus repot-repot kesini karena gw....” dia memandangi Jihan yang berdiri disamping gw. “sampe ngerepotin mba Jihan juga...”

gw menggeleng. “gw ga merasa repot, Cha. Jihan juga ga merasa repot karena itu. Gw dan Jihan disini buat lo, Cha... Sembuh ya, Cha...” kata gw bersungguh-sungguh.

“gw... gw... gw merindukan lo disana...” gw terbata.

Ara memandangi gw dengan iba. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, dan berusaha memegang tangan gw. Dengan segera gw menyambut tangannya, dan gw pegang erat, seolah gw ga akan melepasnya.

“gw pun kangen lo, Gil...” dia berkata dengan lirih, dan tersenyum pucat. “kamar gw apa kabar?”

“kamar lo baik-baik aja kok, masih sering gw bersihin...” air mata mengalir pelan di pipi gw, tanpa gw berusaha menghapusnya. “makanya lo cepet sembuh yah, biar lo bisa tidur lagi disana...”

dia terdiam, memejamkan mata kemudian membuka matanya kembali dan memandangi gw sambil tersenyum. Gw merasa ada sesuatu yang janggal dibalik senyumannya itu.

“mungkin gw ga bakal ngelihat lagi kamar gw itu...” katanya lirih. Matanya berkaca-kaca.

“Acha!” sela gw sambil terisak. “lo ga boleh ngomong gitu... lo jangan ngomong gt...”

Sementara itu gw melihat kedua orang tua Ara hanya bisa menangis dan memegangi tangan anak tunggalnya itu. Entah betapa hancurnya hati mereka saat itu, gw ga akan pernah tahu.

“Gil...” panggilnya pelan.

“ya, Cha?”

“lo masih inget mimpi gw?”

gw mengangguk bersungguh-sungguh. “iya, gw masih inget banget, Cha...”

“gw pengen lulus....” katanya lirih.

gw memegangi tangannya erat, menoleh ke Jihan sesaat. Ternyata Jihan sedari tadi juga menangis. Dia menghapus air mata di pipinya, kemudian memandangi gw, dan mengangguk. Sepertinya dia memahami apa maksud gw.

“Cha, mungkin gw ga bisa membantu lo untuk mewujudkan mimpi lo yang itu...” kata gw dengan bergetar.

“iya, Gil, gapapa kok, gw tahu itu cuma mimpi gw... semoga gw masih bisa ngelihat itu terwujud ya...” katanya pelan.

“tapi gw bisa mewujudkan mimpi lo yang satunya, Cha...” kata gw dengan perlahan-lahan dan bersungguh-sungguh.

“yang satunya? yang mana?” tanyanya dengan tatapan heran. Dia berkedip-kedip, beberapa saat kemudian meskipun dia ga berkata apapun, tapi gw tahu dia menyadari apa mimpinya yang gw maksud itu. Mimpi yang dia utarakan ke gw berbulan-bulan yang lalu sewaktu di kantin kampus, di hari terakhirnya menjalani hari-hari sebagai mahasiswi.

gw menarik napas panjang, mengumpulkan segala tekad yang ada di setiap relung hati gw. Secara bersamaan gw mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di dalam hati gw, dan menggenggam tangannya semakin erat. Gw merasakan segenap hati dan pikiran gw tertuju pada momen ini. Segala kenangan masa kecil gw, masa remaja gw, hingga masa-masa gw disini hidup bersama Ara, semua bermuara pada satu momen ini. Disinilah jalan hidup menuntun gw. Hingga ke titik ini.

“gw akan menikahi lo, Cha...” kata gw bersungguh-sungguh. Dengan hati dan hidup gw.

gw menarik napas.

“lo mau nikah sama gw?”
julian147
sormin180
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.