Kaskus

Story

.rafferthaAvatar border
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:


Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.

Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.

Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.


Quote:


Spoiler for Sambutan:


Quote:

Quote:

Quote:

Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
samsung66Avatar border
fikrifbsAvatar border
Arsana277Avatar border
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.1K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
.rafferthaAvatar border
TS
.raffertha
#956
Part 34
Aku tidak bisa melawan apa kata orang tuaku.
Minggu depan aku harus meninggalkan sekolah ini.
Dan juga, meninggalkan Vania.
Vania menatapku.
Sungguh terlalu cepat untukku meninggalkan semua ini.

Vania : "Minggu depan, Re ?"
Rea : "....", aku hanya menganggukkan kepalaku.
Vania : "Ga bisa diundur lagi ?"
Rea : "....", aku menggelengkan kepalaku.

Rea : "Aku pikir.. 6 bulan lagi.."
Vania : "...."
Rea : "Ternyata, mama minta aku pindah minggu depan.."
Vania : "...."
Rea : "Maafin aku, Van.."
Vania : "Kamu ga salah, Re.."
Rea : "...."
Vania : "Mungkin memang udah jalannya kita berpisah sampai disini.."
Rea : "...."
Vania : "Re.."
Rea : "Ya, Van.."
Vania : "Masih ada 4 hari lagi kita ketemu.. Aku harap, jangan sia-siain waktu ini.."
Rea : "...."
Vania : "Aku bingung harus apa.."
Rea : "Apa aku harus bilang, aku ga mau pindah, Van ?"
Vania : "Jangan.. Jangan kamu bantah perintah orang tuamu.."
Rea : "...."
Vania : "Aku.. Sayang kamu.."
Rea : "Aku juga.. Sayang kamu, Van.."

Suasana menjadi hening.
Aku dan Vania tak bisa berkata apa-apa.
Hingga bel masuk tiba.
Kami melanjutkan pelajaran hingga istirahat siang tiba.

Rea : "Van.. Mau kebawah ga ?"
Vania : "....", dia menggelengkan kepalanya.
Rea : "Aku kebawah ya.."

Aku turun kebawah dan berjalan menuju masjid dibelakang sekolah ini.
Setelah selesai sholat dzuhur, aku pergi menuju belakang laboratorium bahasa.
Disana sudah ada Zabir dan kawan-kawanku yang lain.

Zabir : "Wiihh.. Andrea.."
Kevin : "Kenapa lo kusut gitu, Re ?"
Valen : "Ada masalah ?"
Rea : "Iya.."
Farrel : "Berat ?"
Rea : "Banget.."
Zabir : "Vania ?"
Rea : "Salah satunya itu.."
Kevin : "Terus satu lagi apa ?"
Rea : "Gw diminta pindah sekolah ?"

"APA..!!", semua temanku kaget.

Zabir : "Alesannya apa lo disuruh pindah ?"
Rea : "Gw ga ada kemampuan di IPS atau IPA.. Jadi orang tua gw nyari sekolah yang ada kelas bahasanya.."
Kevin : "Ya.. Gimana ya.. Ga bisa disalahin juga sih.."
Farrel : "Tapi Vania gimana, bro ?"
Rea : "Itu dia yang gw bingung.."
Farrel : "Kalo gw bilang sih, mending jangan pindah.. Kalo lo pindah, yang jaga sekolah ini siapa ? Gw, Zabir, sama yang lain udah pada mau lulus.."
Zabir : "Haduh, Re.. Cobaan hubungan lo banyak bener sih.. Tapi asli dah, gw salut banget sama Vania.. Tahan aja sama lo.."
Valen : "Namanya udah cinta.. Susah.."
Rea : "Terus gw harus gimana ?"
Zabir : "Lo maunya gimana ?"
Rea : "Gw ga mau pindah.. Gw ga mau tinggalin Vania.."
Zabir : "Ya udah lo ngomong dah sama orang tua lo baik-baik.."
Farrel : "Orang tua itu harusnya dukung kemauan anaknya, bukan ngatur hidup anaknya.."
Kevin : "Bener tuh.."
Farrel : "Biji lo ! Tadi lo ga bisa ngasih pendapat.. Maen bener bener aja.."
Kevin : "Hehehehehehe.."
Rea : "Pusing gw.. Sini bagi gw..", aku ambil rokok yang ada ditangan Zabir.
Zabir : "Buset.. Berat kayaknya masalah lo.."
Valen : "Eh eh eh.. Jangan jangan..", sambil mengambil rokok yang ada ditanganku.

Valen : "Lo boleh bingung.. Lo boleh marah.. Tapi, jangan pake rokok.. Lo mau Vania nyium bau rokok ?"
Rea : "Iya juga sih.. Tau ah.. Pusing gw.. Gw balik ke kelas aja ya.."
Zabir : "Oi.. Kalo ada apa-apa, kabarin Zabir tampan.."
Rea : "Sip.. Makasih ya semua.."

Aku berjalan perlahan menuju kelasku.
Masih ada sisa waktu beberapa menit sebelum bel masuk tiba.
Aku lihat dikelasku, Vania tidak ada.
Kelasku kosong.
Kecuali ada satu anak perempuan yang sedang duduk disana.

Lista : "Re.. Sini.."
Rea : "Vania mana ?"
Lista : "Masih dimasjid.. Belom keluar daritadi.."
Rea : "...."
Lista : "Gw denger dari Vania.."
Rea : "...."
Lista : "Secepat itu kah, Re ?"
Rea : "Ga tau gw.. Gw juga pusing.. Mendadak nyokap nelpon dan bilang, gw pindah minggu depan.."
Lista : "...."
Rea : "Gw ga tau harus ngapain sekarang.."
Lista : "Lo harus yakinin diri lo.."
Rea : "Gw ga mau pindah, Lis.. Gw sayang Vania.. Gw mulai suka sekolah ini.."
Lista : "Gw ngerti perasaan lo, Re.."

Dilema.
Itulah yang aku rasakan saat itu.
Aku juga tidak menyangka kalau aku akan pindah secepat itu.
Ini semua diluar dugaanku.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.
Vania sudah kembali duduk disampingku.

Vania : "Udah kamu siapin berkas untuk kepindahanmu ?"
Rea : "....", aku hanya menggelengkan kepalaku.

Rea : "Aku ga mau pindah.."
Vania : "...."
Rea : "Aku ga mau pindah, Van.."

Guru telah masuk ke kelasku.
Waktunya untuk melanjutkan pelajaran.
Walaupun pikiranku sedang melayang entah kemana.
Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.
Aku dan Vania masih duduk terdiam dikelas.
Sedangkan yang lain sudah pulang kerumah masing-masing.

Rea : "...."
Vania : "Boleh aku disampingmu lebih lama lagi ?"
Rea : "...."
Vania : "Sebelum aku ga lihat kamu lagi disini.."
Rea : "Aku ga mau pindah, Van.."
Vania : "Tapi, orang tuamu udah ngurus semuanya, Re.. Apa lagi mama mu bilang minggu depan.."
Rea : "Aku ga bisa apa-apa kalo ga ada kamu Van.."
Vania : "...."
Rea : "Kita ga bisa berdua lagi.. Ga bisa berangkat bareng lagi.."
Vania : "Re.."
Rea : "Kita ga bisa bercanda lagi dikelas.."
Vania : "Re.. Udah.. Jangan bikin aku tambah sedih.."
Rea : "Aku ga mau semuanya hilang, Van.."

Vania memegang tanganku.
Lalu, dia menyandarkan kepalanya dibahuku.

Vania : "Kalau memang ini jalan kita untuk berpisah, aku akan coba untuk ikhlasin kamu.."
Rea : "...."
Vania : "Aku bisa apa.. Kalau memang kamu ditakdirkan untuk pindah dan ga sama aku lagi.."
Rea : "Aku coba ngomong sama orang tuaku dulu ya.."
Vania : "Tapi jangan marah ke mereka.."
Rea : "Iya.. Mudah-mudahan aja mereka ngerti keadaanku.."
Vania : "Aku bantu doa dari jauh ya, Re.."
Rea : "Iya.. Yuk pulang.."

Aku dan Vania keluar dari kelas kami.
Kami berjalan menuju halte bus dan naik angkutan umum menuju rumah masing-masing.
Tak lupa aku mengantarkan Vania dulu sampai rumahnya.
Setelah itu aku lanjutkan perjalananku.
Kali ini aku langusng pulang ke rumah karena pikiranku sedang tidak ingin bermain.

Aku menunggu orang tuaku pulang.
Adzan maghrib telah berkumandang.
Aku segera shalat maghrib.
Kebetulan saja, orang tuaku baru saja pulang.
Setelah itu aku mencoba untuk berbicara masalah kepindahanku.

Mama : "Mana berkasnya ?"
Rea : "Belum aku urus, Ma.."
Mama : "Loh ? Kok belom ?"
Rea : "Ma.. Aku ga mau pindah.."
Mama : "Gimana sih kamu ? Kan kamu mau kelas bahasa.."
Rea : "Aku udah ga peduli, Ma.. Aku nyaman disana.."
Papa : "Tuh kan.. Apa kata papa tadi ? Jangan maksain, Ma.."
Mama : "Ya tapi kan buat kebaikan Andrea juga.."
Rea : "Yang terbaik saat ini, aku tetap bertahan disana, Ma.. Masalah pelajaran mah gampang.. Aku nyaman disana.."
Mama : "Gimana, Pa ?"
Papa : "Kalo Rea ga mau ya Papa juga ga mau ngurus kepindahannya, Ma.."
Mama : "Iya juga sih.. Susah kalo Rea ga mau.. Nanti malah ga ada semangat buat sekolah.."
Rea : "Jadi gimana, Ma ?"
Mama : "Tapi kamu yakin ga mau pindah ?"
Rea : "Yakin, Ma.."
Mama : "Ya udah kalo gitu.. Kita batalin aja pindahan kamu.."
Rea : "Bener, Ma ?"
Mama : "Iya, bener dong.. Asal kamu seneng.."
Rea : "Alhamdulillah.. Makasih, Ma.. Makasih, Pa.."

Aku senang sekali.
Mama dan Papa membatalkan perpindahanku kesekolah lain.
Tak lupa aku mengabarkan Lista.
Sengaja aku tak kabarkan Vania terlebih dahulu


Quote:


Quote:
JabLai cOY
JabLai cOY memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.