- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Diatas Laut
...
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:
Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.
Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.
Quote:
Spoiler for Sambutan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.1K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.raffertha
#937
Part 33
Sesampainya dirumahku, aku mengajak Calista untuk masuk kedalam.
Kami beristirahat sebentar.
Setelah itu, aku mengantarnya pulang dengan motor milik papaku.
Lista : "Lo bisa bawanya ?"
Rea : "Bisa.."
Lista : "Pelan-pelan ya.."
Rea : "Iya.. Pegangan, Lis.."
30 menit kemudian, sampailah aku dirumah Calista.
Lista : "Mau mampir dulu, Re ?"
Rea : "Lain kali aja ya, Lis.. Gw mau balik aja.. Makasih udah nemenin gw.."
Lista : "Sama-sama.. Kalo ada apa-apa.. Hubungin gw aja, Re.."
Rea : "Iya.. Gw balik dulu ya.."
Lista : "Hati-hati dijalan, Re.."
Setelah mengantar Calista, aku langsung pulang kerumah.
Aku naik keatas dan masuk kedalam kamarku.
Tak lupa aku kabari Vania.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku masih memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Vania.
Sudah terlalu banyak masalah dalam hubungan ini.
Apakah hubunganku akan kandas ditengah jalan ?
Karena masih tidak bisa tidur, aku SMS Calista.
Akhirnya, malam itu aku tertidur juga.
Walaupun agak susah untuk memejamkan mata ini.
Pagi itu, aku bangun karena masjid dekat rumahku sudah mengumandangkan adzan shubuh.
Aku segera bangun lalu mengambil air wudhu dan sholat.
Tak lupa aku membangunkan Vania.
Setelah menelponnya, aku segera bersiap menuju kesekolah.
Tak lupa untuk sarapan bersama orang tuaku dimeja bawah.
Mama : "Gimana, Re ? Jadi mau pindah ?"
Rea : "Ga tau, Ma.."
Mama : "Mama udah dapet sekolahnya nih.."
Rea : "Kok cepet banget, Ma ?"
Mama : "Mama kan searching, Re.."
Rea : "Dimana emang sekolahnya ?"
Mama : "Di daerah Jakarta Selatan.. Nanti kalau kejauhan, kamu kost aja.."
Rea : "...."
Papa : "Cewek yang kemaren, siapa lagi ?"
Rea : "Itu Calista, Pa.. Temenku.."
Papa : "Temen apa ban serep ? Anaknya manis loh.."
Mama : "Papa apa sih.."
Rea : "Ban serep apa, Pa ?"
Papa : "Cewek cadangan.. Hahahahahahaha.. Tuh, Ma.. Anak kita sekarang jadi pleboi kayak babehnya.."
Mama : "Jangan ikut-ikutan papa, Re.. Ga baik.."
Rea : "Apa sih.. Dia temen biasa.. Aku berangkat ya.. Assalamu 'alaikum.."
Mama : "Wa 'alaikum salam.."
Papa : "Wa 'alaikum salam.."
Aku berangkat menuju rumah Vania.
Dalam perjalanan, aku terus berpikir bagaimana Vania jika tak bersamaku.
Sesampainya dirumah Vania, aku masuk dan duduk diruang tamu untuk menunggunya selesai bersiap-siap.
Setelah dia selesai, dia turun kebawah untuk menemuiku.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Kamu kenapa nangis ?"
Vania : "....", dia menggelengkan kepalanya lalu memelukku.
Rea : "Aduh.. Van.. Udah dong.. Pagi-pagi gini jangan nangis.."
Vania : "Jangan tinggalin aku.."
Rea : "Iya iya.. Aku ga akan tinggalin kamu..", sambil mengusap kepalanya.
Vania : "Tapi kamu mau pindah.."
Rea : "...."
Vania : "Andrea jahat sama aku.."
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Mama udah dapet sekolah buatku.."
Vania : "GA BOLEH !! REA GA BOLEH PINDAH !!"
Rea : "...."
Vania : "Aku ga mau.."
Rea : ""Udah udah.. Tuh kan jadi jelek kamu nangis.. Jangan nangis lagi ya.. Yuk kita berangkat.."
Kakiku lemas seketika.
Aku tidak tega melihat Vania sedih karena kepindahanku.
Jika aku pindah, aku tak bisa melihat senyumnya Vania disampingku.
Aku tidak akan bisa berangkat bersama dia lagi.
Jika aku pindah, Vania tidak bisa tersenyum lagi.
Dia tidak akan bangun pagi lagi.
Dan tentunya, dia tidak bisa bersamaku lagi.
Kami sampai ditempat pemberhentian terakhir dari angkutan umum yang kami naiki.
Kami berjalan perlahan menuju sekolah.
Sesekali aku melihat Vania.
Dia masih tertunduk lemas.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Vania : "....", air matanya keluar dan jatuh kepipinya.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Lebih baik, kamu cari cowok lain untuk gantiin aku.."
Tiba-tiba dia mendorongku.
Dia berlari menuju sekolah.
Aku hanya bisa melihatnya menjauh dariku.
Aku terus melanjutkan perjalananku dengan perlahan.
Perasaanku menjadi tidak karuan.
Aku bingung dengan masalah ini.
Apa yang harus aku lakukan ?
Akhirnya, sampailah aku didepan kelasku.
Aku melihat seorang perempuan duduk sambil menutupi wajahnya.
Aku hampiri dia dan duduk disampingnya.
Aku peluk dia dengan erat.
Rea : "Vania.. Udah dong.."
Vania : "Bener kan kamu mau ninggalin aku.."
Rea : "...."
Vania : "Buat apa kamu suruh aku cari penggantimu, Re ? Cuma ada kamu dihati aku, Re.."
Rea : "Daripada kamu sedih terus.. Nangis terus.."
Vania : "...."
Rea : "Aku cuma bisa bikin kamu nangis dan sakit hati.."
Vania : "...."
Rea : "Sebentar lagi, anak-anak datang.. Lebih baik kamu cuci muka dulu.."
Vania : "Iya, Re.. Aku ke toilet dulu.."
Vania berdiri lalu berjalan menuju toilet perempuan.
Tak lama kemudian, datanglah Calista.
Lista : "Vania kenapa ?"
Rea : "Lo tau jawabannya, Lis.."
Calista datang menghampiriku.
Dia sekarang ada disampingku.
Lista : "Lo jadi pindah ?"
Rea : "Ga tau gw.. Nyokap gw udah dapet sekolahannya.."
Lista : "Secepat itu ?"
Rea : "Makanya.. Gw juga bingung.."
Lista : "Re..", dia menggenggam erat kedua tanganku.
Rea : "....", aku menatap wajahnya yang manis.
Lista : "Gw mohon sama lo.. Lo tetep disini ya.. Vania butuh lo.."
Rea : "Gw coba pikirin dulu.. Soalnya, Vania salah satu alasan kenapa gw berat ninggalin sekolah ini.."
Lista : "Gw yakin, lo tau mana yang terbaik buat lo dan Vania.."
Rea : "Iya, Lis.. Gw sih maunya gw ga pindah.. Tapi gimana orang tua gw yang udah rela nyariin sekolah buat gw.."
Lista : "...."
Rea : "Lis.."
Lista : "Ya.."
Rea : "Lo bisa jaga Vania kalo gw pindah dari sini ?"
Lista : "Masih 6 bulan lagi kan ? Sekarang, jalanin yang ada dulu ya.."
Rea : "...."
Lista : "Re.. Gw akan jaga Vania buat lo.. Kalo emang lo beneran pindah dari sini.."
Rea : "Makasih ya.. Lo baik banget sama gw.."
Lista : "Sama-sama.. Gw balik ke meja gw ya.."
Calista kembali ke mejanya.
Murid-murid sudah berdatangan.
Bel masuk berbunyi.
Vania kembali duduk disampingku.
Pelajaran dimulai, tetapi mataku tak lepas dari Vania.
Seakan-akan aku akan segera pergi meninggalkannya.
Hari ini, aku tidak fokus dengan pelajaran.
Pikiranku melayang kemana-mana.
Hingga akhirnya, bel istirahat berbunyi.
Vania masih tetap ada disampingku.
Tak lama kemudian, HPku bergetar.
Tanda ada telepon masuk.
Ada nama Mama dilayar ponselku ini.
Kami beristirahat sebentar.
Setelah itu, aku mengantarnya pulang dengan motor milik papaku.
Lista : "Lo bisa bawanya ?"
Rea : "Bisa.."
Lista : "Pelan-pelan ya.."
Rea : "Iya.. Pegangan, Lis.."
30 menit kemudian, sampailah aku dirumah Calista.
Lista : "Mau mampir dulu, Re ?"
Rea : "Lain kali aja ya, Lis.. Gw mau balik aja.. Makasih udah nemenin gw.."
Lista : "Sama-sama.. Kalo ada apa-apa.. Hubungin gw aja, Re.."
Rea : "Iya.. Gw balik dulu ya.."
Lista : "Hati-hati dijalan, Re.."
Setelah mengantar Calista, aku langsung pulang kerumah.
Aku naik keatas dan masuk kedalam kamarku.
Tak lupa aku kabari Vania.
Quote:
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku masih memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Vania.
Sudah terlalu banyak masalah dalam hubungan ini.
Apakah hubunganku akan kandas ditengah jalan ?
Karena masih tidak bisa tidur, aku SMS Calista.
Quote:
Akhirnya, malam itu aku tertidur juga.
Walaupun agak susah untuk memejamkan mata ini.
Pagi itu, aku bangun karena masjid dekat rumahku sudah mengumandangkan adzan shubuh.
Aku segera bangun lalu mengambil air wudhu dan sholat.
Tak lupa aku membangunkan Vania.
Quote:
Setelah menelponnya, aku segera bersiap menuju kesekolah.
Tak lupa untuk sarapan bersama orang tuaku dimeja bawah.
Mama : "Gimana, Re ? Jadi mau pindah ?"
Rea : "Ga tau, Ma.."
Mama : "Mama udah dapet sekolahnya nih.."
Rea : "Kok cepet banget, Ma ?"
Mama : "Mama kan searching, Re.."
Rea : "Dimana emang sekolahnya ?"
Mama : "Di daerah Jakarta Selatan.. Nanti kalau kejauhan, kamu kost aja.."
Rea : "...."
Papa : "Cewek yang kemaren, siapa lagi ?"
Rea : "Itu Calista, Pa.. Temenku.."
Papa : "Temen apa ban serep ? Anaknya manis loh.."
Mama : "Papa apa sih.."
Rea : "Ban serep apa, Pa ?"
Papa : "Cewek cadangan.. Hahahahahahaha.. Tuh, Ma.. Anak kita sekarang jadi pleboi kayak babehnya.."
Mama : "Jangan ikut-ikutan papa, Re.. Ga baik.."
Rea : "Apa sih.. Dia temen biasa.. Aku berangkat ya.. Assalamu 'alaikum.."
Mama : "Wa 'alaikum salam.."
Papa : "Wa 'alaikum salam.."
Aku berangkat menuju rumah Vania.
Dalam perjalanan, aku terus berpikir bagaimana Vania jika tak bersamaku.
Sesampainya dirumah Vania, aku masuk dan duduk diruang tamu untuk menunggunya selesai bersiap-siap.
Setelah dia selesai, dia turun kebawah untuk menemuiku.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Kamu kenapa nangis ?"
Vania : "....", dia menggelengkan kepalanya lalu memelukku.
Rea : "Aduh.. Van.. Udah dong.. Pagi-pagi gini jangan nangis.."
Vania : "Jangan tinggalin aku.."
Rea : "Iya iya.. Aku ga akan tinggalin kamu..", sambil mengusap kepalanya.
Vania : "Tapi kamu mau pindah.."
Rea : "...."
Vania : "Andrea jahat sama aku.."
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Mama udah dapet sekolah buatku.."
Vania : "GA BOLEH !! REA GA BOLEH PINDAH !!"
Rea : "...."
Vania : "Aku ga mau.."
Rea : ""Udah udah.. Tuh kan jadi jelek kamu nangis.. Jangan nangis lagi ya.. Yuk kita berangkat.."
Kakiku lemas seketika.
Aku tidak tega melihat Vania sedih karena kepindahanku.
Jika aku pindah, aku tak bisa melihat senyumnya Vania disampingku.
Aku tidak akan bisa berangkat bersama dia lagi.
Jika aku pindah, Vania tidak bisa tersenyum lagi.
Dia tidak akan bangun pagi lagi.
Dan tentunya, dia tidak bisa bersamaku lagi.
Kami sampai ditempat pemberhentian terakhir dari angkutan umum yang kami naiki.
Kami berjalan perlahan menuju sekolah.
Sesekali aku melihat Vania.
Dia masih tertunduk lemas.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Vania : "....", air matanya keluar dan jatuh kepipinya.
Rea : "Van.."
Vania : "...."
Rea : "Lebih baik, kamu cari cowok lain untuk gantiin aku.."
Tiba-tiba dia mendorongku.
Dia berlari menuju sekolah.
Aku hanya bisa melihatnya menjauh dariku.
Aku terus melanjutkan perjalananku dengan perlahan.
Perasaanku menjadi tidak karuan.
Aku bingung dengan masalah ini.
Apa yang harus aku lakukan ?
Akhirnya, sampailah aku didepan kelasku.
Aku melihat seorang perempuan duduk sambil menutupi wajahnya.
Aku hampiri dia dan duduk disampingnya.
Aku peluk dia dengan erat.
Rea : "Vania.. Udah dong.."
Vania : "Bener kan kamu mau ninggalin aku.."
Rea : "...."
Vania : "Buat apa kamu suruh aku cari penggantimu, Re ? Cuma ada kamu dihati aku, Re.."
Rea : "Daripada kamu sedih terus.. Nangis terus.."
Vania : "...."
Rea : "Aku cuma bisa bikin kamu nangis dan sakit hati.."
Vania : "...."
Rea : "Sebentar lagi, anak-anak datang.. Lebih baik kamu cuci muka dulu.."
Vania : "Iya, Re.. Aku ke toilet dulu.."
Vania berdiri lalu berjalan menuju toilet perempuan.
Tak lama kemudian, datanglah Calista.
Lista : "Vania kenapa ?"
Rea : "Lo tau jawabannya, Lis.."
Calista datang menghampiriku.
Dia sekarang ada disampingku.
Lista : "Lo jadi pindah ?"
Rea : "Ga tau gw.. Nyokap gw udah dapet sekolahannya.."
Lista : "Secepat itu ?"
Rea : "Makanya.. Gw juga bingung.."
Lista : "Re..", dia menggenggam erat kedua tanganku.
Rea : "....", aku menatap wajahnya yang manis.
Lista : "Gw mohon sama lo.. Lo tetep disini ya.. Vania butuh lo.."
Rea : "Gw coba pikirin dulu.. Soalnya, Vania salah satu alasan kenapa gw berat ninggalin sekolah ini.."
Lista : "Gw yakin, lo tau mana yang terbaik buat lo dan Vania.."
Rea : "Iya, Lis.. Gw sih maunya gw ga pindah.. Tapi gimana orang tua gw yang udah rela nyariin sekolah buat gw.."
Lista : "...."
Rea : "Lis.."
Lista : "Ya.."
Rea : "Lo bisa jaga Vania kalo gw pindah dari sini ?"
Lista : "Masih 6 bulan lagi kan ? Sekarang, jalanin yang ada dulu ya.."
Rea : "...."
Lista : "Re.. Gw akan jaga Vania buat lo.. Kalo emang lo beneran pindah dari sini.."
Rea : "Makasih ya.. Lo baik banget sama gw.."
Lista : "Sama-sama.. Gw balik ke meja gw ya.."
Calista kembali ke mejanya.
Murid-murid sudah berdatangan.
Bel masuk berbunyi.
Vania kembali duduk disampingku.
Pelajaran dimulai, tetapi mataku tak lepas dari Vania.
Seakan-akan aku akan segera pergi meninggalkannya.
Hari ini, aku tidak fokus dengan pelajaran.
Pikiranku melayang kemana-mana.
Hingga akhirnya, bel istirahat berbunyi.
Vania masih tetap ada disampingku.
Tak lama kemudian, HPku bergetar.
Tanda ada telepon masuk.
Ada nama Mama dilayar ponselku ini.
Quote:
JabLai cOY memberi reputasi
2
