- Beranda
- Stories from the Heart
My World, Your World
...
TS
brinde
My World, Your World
Spoiler for Part:
Quote:
Prologue
Apalah arti dari kehidupan? Kemanakah kita saat terakhir hayat hidup kita datang menjemput? Apakah hidup adalah sesuatu hal berharga yang harus kita jalani sampai titik darah penghabisan terakhir kita? Menikmati hidup dengan bahagia sampai kita kembali menjadi debu dan tanah?
meskipun,
semua itu berat?
Apalah arti dari kehidupan? Kemanakah kita saat terakhir hayat hidup kita datang menjemput? Apakah hidup adalah sesuatu hal berharga yang harus kita jalani sampai titik darah penghabisan terakhir kita? Menikmati hidup dengan bahagia sampai kita kembali menjadi debu dan tanah?
meskipun,
semua itu berat?
Quote:
PART 1 - My World
Kedua mataku terbuka pagi itu. Aku mengamati kalendar yang bertuliskan tanggal 18 Juli 2016 dengan hati berdegup kencang. Apa yang kurasakan saat ini? apakah aku merasa senang, sedih, kecewa, takut, atau aku hanya merasa malu karena aku memasuki masa SMA ku dengan gadis yang sangat kupuja dahulu? Aku tidak membuang waktu, kuambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarku, bergegas aku ke kamar mandi dan seketika itu langsung kubersihkan semua badanku pagi itu. Bergegas aku sarapan, pamit dengan orang tua sembari memakai sepatu, lalu kubuka pintu yang menungguku untuk menyambut hariku pagi itu.
Aku merupakan salah satu anak SMA biasa. Orang tuaku bukanlah orang kaya ataupun orang berpengaruh di negara ini. Ayahku hanyalah seorang salesman Bank dan ibuku tidak bekerja alias ibu rumah tangga. Aku pun bukan lelaki yang punya bakat khusus atau ketampanan yang wow. Nilai aku saat SMP biasa saja, aku bisa bermain basket namun aku tidak mengikuti lomba apapun di bidang non-akademik. Yang aku tahu, sejak kelas 2 SMP aku sudah jatuh cinta pada seorang teman perempuan yang bernama Nana. Ya, dia berkebangsaan Jepang. Ayahnya orang Jepang sedangkan ibu nya merupakan orang Surabaya. Kenapa aku bisa tau sampai sejauh itu? mungkin secercah penggalan cerita nanti bisa menceritakan kisah ku ini.
"Woi Han, ngapain lu pagi-pagi senyum sendiri begitu kayak orang gila!?" teriak temanku dari kejauhan.
"Eh si otong, gue degdegan nih hari pertama masuk sekolah. Kira-kira hari pertama SMA kayak gimana ya? ini celana kita udah panjang aseeek!!" sautku ke Dhika, salah satu teman dekatku.
"Alah elu mah palingan cuma mau liat si Nana doang kan? Ketauan dari selangkangan lu tuh bro, kendor!"
"Eh perut kerdus, gua emang suka sama si Nana udah lama. Tapi lu kan tau sendiri gua ama si Nana begitu-begitu aja gaada kemajuan. Jangan bikin gua ngarep ah tong!" sautku dengan nada bercanda.
Saat memasuki gerbang, entah ada angin apa yang menerpaku. Aku melihat sesosok wanita dengan rambut terurai panjang dengan warna hitam manisnya. Kulit terang dengan lesung pipit di pipi sebelah kirinya, sungguh manis sekali. Ya, dialah wanita yang sudah kusukai sejak lama, Nana. Dia berjalan sendirian kearah gerbang pintu sekolah. Tak menunggu waktu yang terus berjalan aku langsung bergegas menghampirinya.
"Woi Na, pakabar lu? gile udah ga keliatan pas liburan, rambut lu makin panjang aja ya?" tuturku basa basi.
"Ealah Ndy, lu kok makin kurus aja? Gada yang perhatiin ya makanya kagak pernah makan? hahaha" saut nana dengan nada bercanda
"Buset, udah lama ga ketemu kok begitu sih? Jahat lu Na. Gini-gini gua menyimpan hati nunggu buat orang yang tepat tau!!" balasku ke Nana
Aku hanya bisa melihat si Dhika tertawa sembunyi-sembunyi di sebelahku. Ya beginilah aku, aku hanya bisa bersahabat dengan Nana sejak awal masuk SMP. Namun dia tidak pernah tau bahwa aku menyukai nya sejak lama, bahkan sampai sekarang. Apakah itu membuat ku sedih? tentu saja tidak. Aku sudah cukup bahagia dengan apa yang kupunya sampai saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan cerita ku selanjutnya, mungkin inilah saat dimana aku merasakan ini adalah momen paling bahagia di dalam hidupku. Ya, Momen saat terakhir kali aku mengobrol dan bercanda bersama Nana.
Kedua mataku terbuka pagi itu. Aku mengamati kalendar yang bertuliskan tanggal 18 Juli 2016 dengan hati berdegup kencang. Apa yang kurasakan saat ini? apakah aku merasa senang, sedih, kecewa, takut, atau aku hanya merasa malu karena aku memasuki masa SMA ku dengan gadis yang sangat kupuja dahulu? Aku tidak membuang waktu, kuambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarku, bergegas aku ke kamar mandi dan seketika itu langsung kubersihkan semua badanku pagi itu. Bergegas aku sarapan, pamit dengan orang tua sembari memakai sepatu, lalu kubuka pintu yang menungguku untuk menyambut hariku pagi itu.
Aku merupakan salah satu anak SMA biasa. Orang tuaku bukanlah orang kaya ataupun orang berpengaruh di negara ini. Ayahku hanyalah seorang salesman Bank dan ibuku tidak bekerja alias ibu rumah tangga. Aku pun bukan lelaki yang punya bakat khusus atau ketampanan yang wow. Nilai aku saat SMP biasa saja, aku bisa bermain basket namun aku tidak mengikuti lomba apapun di bidang non-akademik. Yang aku tahu, sejak kelas 2 SMP aku sudah jatuh cinta pada seorang teman perempuan yang bernama Nana. Ya, dia berkebangsaan Jepang. Ayahnya orang Jepang sedangkan ibu nya merupakan orang Surabaya. Kenapa aku bisa tau sampai sejauh itu? mungkin secercah penggalan cerita nanti bisa menceritakan kisah ku ini.
"Woi Han, ngapain lu pagi-pagi senyum sendiri begitu kayak orang gila!?" teriak temanku dari kejauhan.
"Eh si otong, gue degdegan nih hari pertama masuk sekolah. Kira-kira hari pertama SMA kayak gimana ya? ini celana kita udah panjang aseeek!!" sautku ke Dhika, salah satu teman dekatku.
"Alah elu mah palingan cuma mau liat si Nana doang kan? Ketauan dari selangkangan lu tuh bro, kendor!"
"Eh perut kerdus, gua emang suka sama si Nana udah lama. Tapi lu kan tau sendiri gua ama si Nana begitu-begitu aja gaada kemajuan. Jangan bikin gua ngarep ah tong!" sautku dengan nada bercanda.
Saat memasuki gerbang, entah ada angin apa yang menerpaku. Aku melihat sesosok wanita dengan rambut terurai panjang dengan warna hitam manisnya. Kulit terang dengan lesung pipit di pipi sebelah kirinya, sungguh manis sekali. Ya, dialah wanita yang sudah kusukai sejak lama, Nana. Dia berjalan sendirian kearah gerbang pintu sekolah. Tak menunggu waktu yang terus berjalan aku langsung bergegas menghampirinya.
"Woi Na, pakabar lu? gile udah ga keliatan pas liburan, rambut lu makin panjang aja ya?" tuturku basa basi.
"Ealah Ndy, lu kok makin kurus aja? Gada yang perhatiin ya makanya kagak pernah makan? hahaha" saut nana dengan nada bercanda
"Buset, udah lama ga ketemu kok begitu sih? Jahat lu Na. Gini-gini gua menyimpan hati nunggu buat orang yang tepat tau!!" balasku ke Nana
Aku hanya bisa melihat si Dhika tertawa sembunyi-sembunyi di sebelahku. Ya beginilah aku, aku hanya bisa bersahabat dengan Nana sejak awal masuk SMP. Namun dia tidak pernah tau bahwa aku menyukai nya sejak lama, bahkan sampai sekarang. Apakah itu membuat ku sedih? tentu saja tidak. Aku sudah cukup bahagia dengan apa yang kupunya sampai saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan cerita ku selanjutnya, mungkin inilah saat dimana aku merasakan ini adalah momen paling bahagia di dalam hidupku. Ya, Momen saat terakhir kali aku mengobrol dan bercanda bersama Nana.
Quote:
EXTRA
Ane baru pertama kali nyoba nulis cerita begini. mungkin karena ane bosen kuliah yang begitu2 aja, jadi buat para mastah2 yang sudah sering nulis, tolong kasih masukan buat ane ya biar ane bisa belajar untuk kedepannya!!

Ane baru pertama kali nyoba nulis cerita begini. mungkin karena ane bosen kuliah yang begitu2 aja, jadi buat para mastah2 yang sudah sering nulis, tolong kasih masukan buat ane ya biar ane bisa belajar untuk kedepannya!!

PART 4 UPDATED (21/11/2016 - 03:32)
Diubah oleh brinde 26-11-2016 03:32
anasabila memberi reputasi
1
2.5K
Kutip
26
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
brinde
#22
Quote:
PART 4 - Your World
"Nana, Lu gapapa? Lu gapapa kan!?"
"Hah? Kenapa han emangnya? Gua gapapa kok. Emangnya kenapa?" Sahutnya ringkas.
"Lu kemarin kan kecelakaan parah! Lu ketabrak mobil di perempatan sono sampe mental jauh banget, darah dimana-dimana. Lu seriusan gapapa?"
"Ih lu ngomong apaan sih? Jangan nyumpahin deh! Bikin serem aja tau gak. Orang gua ga kenapa-napa, bisa lu liat sendiri kan?"
Nana terlihat sangat marah. Raut mukanya yang cerah pagi itu tersentak menghilang. Dia langsung pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Mungkinkah kemarin hanya mimpi? Aku tidak tahu. Aku hanya berlari mengejar Nana yang berjalan mendahuluiku.
"Na, minggu besok jadi kan?"
"Hah? Jadi apaan? Minggu besok gua pergi sama temen gua. Emang minggu besok ada apaan?"
"Lah, kemarin kan gua ngajak lu jalan minggu ini. Kata lu kemarin oke. Gua ngajak lu kemarin yang di perempatan sono lohh." Jelas ku.
"Gausah ngaco Ndy. Kemarin kita gaada pulang bareng. Kemarin gua pulang bareng gua. Abis pulang sekolah aja gua gaketemu lu lagi kok. Lu kenapa sih pagi-pagi ngaco begini? Lu mabok ya?" Jawabnya dingin.
Aku tersentak. Entah apa yang dia maksut. Jelas-jelas kita kemarin jalan berdua setelah sekolah selesai, dan aku berhasil mengajak dia untuk pergi bersamaku menonton film akhir minggu ini. Aku langsung menghentikan langkahku dan menghampiri Dhika yang tadi sempat kutinggalkan.
"Dhik, kemarin kita makan di kantin ga?" Tanyaku bingung
"Kemarin kan kita makan bekal bareng di kelas, sejak kapan kita ke kantin kemarin? Ngaco lu Han. Pake ngelantur si Nana pake kecelakaan begitu, kelewatan lu ndro" Jawabnya dengan santai
"Ah, yang penting Nana ada. Itu yang terpenting"
Ya, mungkin dia ada sekarang. Aku tidak mau merasakan penyasalan seperti apa yang kurasakan sebelumnya.
Tapi, apakah dia benar-benar ada?
............................................
*BERSAMBUNG*
"Nana, Lu gapapa? Lu gapapa kan!?"
"Hah? Kenapa han emangnya? Gua gapapa kok. Emangnya kenapa?" Sahutnya ringkas.
"Lu kemarin kan kecelakaan parah! Lu ketabrak mobil di perempatan sono sampe mental jauh banget, darah dimana-dimana. Lu seriusan gapapa?"
"Ih lu ngomong apaan sih? Jangan nyumpahin deh! Bikin serem aja tau gak. Orang gua ga kenapa-napa, bisa lu liat sendiri kan?"
Nana terlihat sangat marah. Raut mukanya yang cerah pagi itu tersentak menghilang. Dia langsung pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Mungkinkah kemarin hanya mimpi? Aku tidak tahu. Aku hanya berlari mengejar Nana yang berjalan mendahuluiku.
"Na, minggu besok jadi kan?"
"Hah? Jadi apaan? Minggu besok gua pergi sama temen gua. Emang minggu besok ada apaan?"
"Lah, kemarin kan gua ngajak lu jalan minggu ini. Kata lu kemarin oke. Gua ngajak lu kemarin yang di perempatan sono lohh." Jelas ku.
"Gausah ngaco Ndy. Kemarin kita gaada pulang bareng. Kemarin gua pulang bareng gua. Abis pulang sekolah aja gua gaketemu lu lagi kok. Lu kenapa sih pagi-pagi ngaco begini? Lu mabok ya?" Jawabnya dingin.
Aku tersentak. Entah apa yang dia maksut. Jelas-jelas kita kemarin jalan berdua setelah sekolah selesai, dan aku berhasil mengajak dia untuk pergi bersamaku menonton film akhir minggu ini. Aku langsung menghentikan langkahku dan menghampiri Dhika yang tadi sempat kutinggalkan.
"Dhik, kemarin kita makan di kantin ga?" Tanyaku bingung
"Kemarin kan kita makan bekal bareng di kelas, sejak kapan kita ke kantin kemarin? Ngaco lu Han. Pake ngelantur si Nana pake kecelakaan begitu, kelewatan lu ndro" Jawabnya dengan santai
"Ah, yang penting Nana ada. Itu yang terpenting"
Ya, mungkin dia ada sekarang. Aku tidak mau merasakan penyasalan seperti apa yang kurasakan sebelumnya.
Tapi, apakah dia benar-benar ada?
............................................
*BERSAMBUNG*
Diubah oleh brinde 26-11-2016 03:29
0
Kutip
Balas