- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, mereka dan Kamu [a boring story][TAMAT]
...
TS
FBR_master
Aku, mereka dan Kamu [a boring story][TAMAT]
![Aku, mereka dan Kamu [a boring story][TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/07/20/214867_20160720103657.jpg)
many thanks for a perfect cover by quatzlcoatl
Halo gan.. gue dari dulu pengen banget nulis sebenernya, tapi ga pernah bisa, gw harus nulis apa, harus gimana.. setelah gue baca beberapa thread fenomenal di SFTH sebulan terakhir, akhirnya gue ngeberaniin diri buat nulis cerita ini buat dinikmatin smua kalangan..
sebelumnya mohon maaf banget klo tulisan gue ngaco dari segi bahasa, dan mungkin sulit dicerna sama sebagian readers (I wrote by my own style) tapi gue berharap masukan-masukan dan sharing dari agan smua demi tercapainya tulisan-tulisan gue yang semakin baik di tiap part nya..
"boring boss cerita loe, pantesan sepi threadnya"
well, gue ga berharap thread ini rame, kalaupun rame, it's a bonus for me, I just wrote what I wanna write
Selamat ber-Boring-ria..
Quote:
PROLOGUE :
Hi there, I want to tell you about my life.. mostly about love and stuff..
Well, nama gue Ronan Leandro Akbar.. Call me whatever you want, tapi temen-temen gue seringan manggil “Nan”, actually gue juga rada ga sregg sama panggilan ini, gue prefer dipanggil Ronan, or Ron, atau Akbar aja juga boleh, tapi karena temen sekelas gue pas SMP ada yang namanya Roni, akhirnya mulai saat itu gue yang “ngalah” dapet panggilan Nan tadi.. kenapa ga Leandro? Guys, kita di Indonesia, ga mungkin manggil lengkap, biasa manggil nama sepotong-sepotong, entah yang dipotong itu didepan, ato belakang, masa manggil gw Le ato Dro, or even Andro? Android kali ahh

Sedikit gue cerita tentang diri gue ini biar loe-loe pada ada gambaran, or berimajinasi (please lah, jangan yang iya-iya ya imajinasinya
), tinggi badan gue 187cm (tinggi? Ya untuk ukuran Asia gue lumayan tinggi), and badan gue atletis juga, mungkin kalo tinggi itu karena sedari SMP doyan olahraga, terutama basket, yup doyan sob, saban hari ga pernah gue ninggalin olahraga biar pun cuma lari pagi, well kecuali gue sakit tentu. Rambut? Ada yang suka sama Deathnote? Yak, rambut gw berponi ke-emo-emo-an (WTF ni bahasa
) mirip kaya Light Yagami. Muka muka?? Sorry ga mao nyombong sob, tapi gue Alhamdulillah dikaruniai Allah punya muka yang goodlookin’, cool gitu lah
, otak gue juga lumayan tokcer bin encer, saking encernya malah sering keluar lewat kuping (ok stop it, conge itu mah
)Anjir sempurna amat idup lo jing!! Hahaha gue akuin idup gue emang menyenangkan, tapi ga ada gading yang ga retak toh?! dibalik itu semua masih banyak getir hidup yang gue rasain, mulai dari ekonomi gue ma nyokap yang pas-pasan, gue juga ga pernah ngerasain kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtua gue (ok, selagi orangtua loe ada, sayangi mereka, kita akan baru merasa kehilangan ketika orang tersayang tersebut pergi meninggalkan kita selama-lamanya), gue produk dari broken home sedari umur 6 taon, babe gue maen gila sama janda bangs*t sebelah rumah, dan memilih kabur sama tu janda gatel ketimbang milih gue sama nyokap.. Ok that’s all I can tell you bout my shitty life..
Yukk kita mulai..
Part 1 : Dia adalah Dinan My very Dearest Friend
Part 2 : Hello Pelonco

Part 3 : siapa dia?
Part 4 : GUE COWOKNYA!!
Part 5 : biar aku membantumu
Part 6 : terima kasihku padamu
Part 7 : gadis manis itu bernama Zie
Part 8 : Sweating Lunch
Part 9 : Cemburu??
Part 10 : Can I go Home with You??
Part 11 : kutunggu kau disini esok pagi..
Part 12 : Surprise On the Jogging Track
Part 13 : May I Call You....
Part 14 : maaf gue ga maksud..
Part 15 : HBD - Kenapa Kembali??
Part 16 : The Dark Side of Me - Bag 1
Part 16 : The Dark Side of Me - Bag 2
Part 16 : The Dark Side of Me - Bag 3
Part 16 : The Dark Side of Me - Bag 4
Part 16 : The Dark Side of Me - Bag 5 (Tamat)
Part 17 : Mencarimu - Bag 1
Part 17 : Mencarimu - Bag 2 A
Part 17 : Mencarimu - Bag 2 B (Selesai)
Part 18 : I'm always around - Part 1
Part 18 : I'm always around - Part 2 (Selesai)
Part 19 : Aku Menyesal - Bag 1
Spesial Part : Pamit undur diri
Spesial Part : Tolong!! (Bali I'm in Love) - Part 1
Spesial Part : Tolong!! (Bali I'm in Love) - Part 2
Spesial Part : Tolong!! (Bali I'm in Love) - Part 3 - Selesai
Part 19 : Aku Menyesal - Bag 2 - Selesai
Part 20 : Why me? - Part 1
Part 20 : Why me? - Part 2
Part 20 : Why me? - Part 3
Part 20 : Why me? - Part 4 - Selesai
Part 21 : The Lion Queen
Part 22 : Love, Love and Love
Part 23 : The Craziness of Her - Part 1
Part 23 : The Craziness of Her - Part 2
Part 23 : The Craziness of Her - Part 3
Part 23 : The Craziness of Her - Part 4
Part 23 : The Craziness of Her - Part 5
Part 23 : The Craziness of Her - Part 6
Part 23 : The Craziness of Her - Part 7
Part 23 : The Craziness of Her - Part 8
Part 23 : The Craziness of Her - Part 9 - Selesai
Spesial Part : Dia yang pernah singgah - Part 1
Spesial Part : Dia yang pernah singgah - Part 2
Spesial Part : Dia yang pernah singgah - Part 3 - Selesai
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 1
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 2
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 3
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 4
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 5
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 6
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 7
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 8
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 9
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 10
Part 24 : Dia yang Datang dan Pergi - Part 11
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 12
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 13
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 14
Sebuah Intermezzo - EPICLOGUE
Part 24 : Dia Yang Datang dan Pergi - Part 15 - Selesai
Part 25 - Sebuah Titik Balik - Part 1
Part 25 - Sebuah Titik Balik - Part 2
Part 25 - Sebuah Titik Balik - Part 3 - Selesai
Part 25 - Sebuah Titik Balik - Part 4 - Selesai (kali ini benar2 selesai)
Spoiler for last part by suzie:
Spesial Part : Just Another Story (Bag 1)
Spesial Part : Just Another Story (Bag 2) - END
Update
Epilog - Ini Bukan Sebuah Akhir Cerita
Selesai deh cerita cinta gue yang... whatever, you name it..



Diubah oleh FBR_master 17-04-2017 13:40
yongkygouwsa051 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
384K
2.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
widenova
#1493
The Last Part : Everlasting Bag 1
Sebenarnya, hari ulang tahunku dengannya tidak terpaut jauh, hanya 2 bulan saja. Tepat ketika umurku bertambah beberapa waktu yang lalu, ada beberapa hadiah tak bernama yang ‘berkunjung’ kerumahku. Tapi diantaranya, ada satu yang membuatku bingung, tapi aku rasa tau siapa yang mengirimnya, hanya saja tanpa penjelasan darinya aku takkan pernah tau apa maksudnya memberikan ini padaku.
Tapi tak peduli seberapa kerasnya aku berusaha menemuinya, hanya samar sosok bayangnya lah yang tersisa. Aku coba cari kekampus, bahkan Rara yang masi satu kelas dengannya pun mengatakan akhir-akhir ini dia selalu menghilang ketika kuliah berakhir, berkunjung kerumahnya pun sia-sia, bundanya mengatakan kalau Ronan selalu pulang tengah malam hampir satu bulan ini.
“apa dia pernah bilang mau kemana?” tanyaku pada Mom
“ga pernah sayang, dia selalu aja gitu, mudah-mudahan bukan kearah yang buruk” jawabnya
“aammiinn, Mom, Zie boleh minta sesuatu?”
“apa sayang?”
“beberapa jam lagi Ron ulang tahun, boleh aku menginap disini?” tanyaku padanya, dia pun mengecek kalender disamping meja tamu, dan tiba-tiba sedikit berteriak, jujur saja itu cukup membuatku kaget.
“AAHHHH, bener, Mom aja lupa kalau kamu ga kasih tau” ujarnya
“hmm boleh-boleh, sudah bilang sama orangtua kamu?” katanya kemudian.
“sudah Mom, mama titip salam” Mom tersenyum padaku, lalu mempersilahkanku masuk ke kamar Ronan.
Menurutku kamarnya cukup rapi, cenderung rapi malah untuk ukuran kamar seorang cowok, terlihat beberapa action figure anime di meja komputernya (belakangan aku tau kalau itu Monkey D Garp, D Dragon dan D Luffy << masih disimpan, katanya langka), tergantung gitar akustik disisi utara tembok kamarnya, dan figura fotonya, dengan Dinan disampingnya dan fotoku, oh waw, aku tak pernah tau ia menyimpan fotoku, sepertinya candid dari acara pembukaan penerimaan Maba dahulu, rambutku masih berhighlight biru difoto itu, sekarang aku sudah merubahnya ke highlight blonde mild. Dan terakhir, tentu saja, bola basket disudut kamarnya.
Setelah puas melihat isi kamarnya, aku pun duduk disisi ranjang tempat tidurnya, menatap kelangit-langit kamar ini. aku masih gundah tentang perasaan ini, tidak yakin akan jawabanku atas lamaran Dimas sementara hatiku masih terpatri namanya. TOK TOKK, terdengar pintu kamar ini diketuk.
“bole masuk?”
“iya Mom, masuk aja” jawabku, tak lama ibu berumur 40 tahun ini menampakkan diri, membawakanku satu set piyama bermotif polkadot coklat yang lucu.
“Zie, ini piyama Mom, kamu bisa pake buat malam, tapi” ia berhenti berbicara dengan wajah yang sepertinya menunjukkan sesuatu yang kurang mengenakkan.
“tapi kenapa?” tanyaku penasaran
“Ron barusan telepon, dia ga pulang malam ini” jawabnya, tentunya berita yang mengecewakanku saat itu.
“………….”
“kamu masih mau menginap sayang?” tanyanya kemudian
“uhmm.. Ronan bilang mau kemana?” tanyaku balik
“dia Cuma bilang ke tempat yang terbaik untuknya” saat itu juga bulu tengkukku merinding seketika
“hah? Mom ga bercanda kan? Maksud nya apa mom?” tanyaku panik, tapi beliau hanya tersenyum, membuatku makin panik.
“kamu tenang dulu, jangan panik, Inshaa Allah Ronan anak yang baik, dia ga mungkin macem-macem atau ngelakuin hal yang bodoh” jelasnya kemudian
“iya ta..tapi maksudnya apa?” air mataku mulai menetes
“kamu tenang dulu, ga bakal kenapa-kenapa kok sayang, tapi sebenernya mom ga mau bilang ini ke kamu, soalnya Cuma mom aja sama beberapa temen deketnya yang tau tempat ini” aku semakin bingung dengan penjelasan beliau.
“dimana?” tanyaku cepat
“di xxxx, cisarua”
“puncak?” tanyaku kemudian, beliau mengangguk seraya mengelus rambutku
“aku susul, aku pamit ya mom”
“ga usah ngebut ya sayang, santai aja, dia ga bakal kemana-mana ko” pesannya padaku, aku pun memeluknya kemudian.
Aku pun segera memacu X5 silver ini dengan berbekal keterangan alamat yang diberikan mom, entah kenapa walau beliau bilang jangan panik, justru aku merasakan hal yang berlawanan. Kecepatan mobilpun bertambah seiring dengan pedal gas yang semakin dalam ku tekan, entah berapa kali klakson mobil yang ku overtake dengan sembrono berbunyi, aku pun sedikit melepas pedal gas ketika mobil ini mulai limbung karena body mobil sudah tak mampu menahan hempasan angin yang dibelah, banyak-banyak beristighfarlah aku kemudian. Tak terasa kembali mengalir air dari mata ini.
Oh Tuhan, tak henti-hentinya aku mencoba menghapusnya dari ingatanku, semakin kuat usahaku melupakannya, maka semakin terngiang-ngiang wajahnya dimataku.
Tak butuh waktu lama, mobil ini mulai memasuki tol jagorawi menuju arah puncak. Memasuki jam 11 malam terlihat jalan mulai lengang, terlihat hanya 3 – 4 kendaraan didepanku. Mungkin karena ini weekdays, jadi kendaraan pun tak banyak ke arah sana, seperti yang kalian ketahui bahwa tol jagorawi adalah biangnya kemacetan parah jika weekend tiba.
Tepat ketika ku memasuki exit tol, aku pun meminggirkan kendaraan ku tepat didepan mobil patroli untuk bertanya kemana arah alamat tujuanku pada mereka. Ketika penjelasan dirasa cukup, aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Entah dimana ini, aku memasuki jalan setapak yang hanya bisa dimasuki 1 mobil, aku pun cukup berhati-hati karena body mobil ini cukup lebar, aku tak ingin salah satu sisi bannya terperosok.
Tak lama pun aku tiba di sebuah rumah kecil ditengah-tengah.. kebun teh dan pepohonan, terlihat rumah ini begitu cantik dengan nuansa kayu ditiap sisinya. Sebenarnya seketika itu juga aku merinding dibuatnya, pepohonan disini begitu lebatnya dan penerangannya sangat minim. Tapi rasa takut ini hilang begitu saja saat kulihat sosoknya di depan rumah itu, tepat dibawah pohon yang tidak begitu tinggi, terduduk memeluk gitar, sendiri. Ya, benar-benar sendiri.
“Ron” panggilku
Dia menaikkan kepalanya, menoleh padaku.
“……….kok? ah pasti Mom” dia terlihat kaget melihatku
“apa maksud kamu ngasih ini sama aku Ron?” tanyaku seraya mengeluarkan hadiah yang aku rasa ini diberikan olehnya, sebuah kepala kereta cepat shinkansen
“…………..”
“apa artinya ini Ron?” tanyaku lagi
“kamu ibarat kereta tercepat didunia, yang kalau saja aku sampai tertinggal 1 detik darimu, maka kau akan hilang meninggalkanku dibelakangnya, bukan hanya 1 detik, aku telat menyadari semuanya Zie, telat berbulan-bulan, hanya karena aku terlalu mengagungkan cinta pertamaku sampai-sampai aku tidak menyadari cinta yang sesungguhnya selalu dekat denganku, ketika ku sadar, semua ini sudah terlambat, kamu sudah berkeliling dunia meninggalkanku dan tak mungkin kembali lagi” jelasnya panjang.
“lalu kenapa kamu selalu aja menghilang?” tanyaku dengan bulir air yang mulai menggenang disisi mataku
“…………”
“jawab Ron!! Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?”
“aku.. aku ga akan pernah bisa benci sama kamu Zie”
“lalu kenapa Ron??”
“aa.. aku hanya ingin menjauh dari kamu Zie”
“why Ron.. Why” air mata mulai deras membasahi pipiku
Dia perlahan mendekatiku
“Zie, bagaimana mungkin aku kuat melihatmu dengan orang lain, aku hanya bisa mengikhlaskan segalanya tentangmu, aku ga pengen jadi orang ke-3 buat hubunganmu, aku tau betapa sakitnya itu” jelasnya kemudian
“aku hanya ingin menghilang, melupakan semuanya Zie, ya kamu, ya Dinan, semuanya” katanya lagi
“ke..napa kamu ga pernah bertanya sama aku Ron, apa jawabanku tentang lamaran itu”
“lalu apa kamu pikir kereta itu hanya berjalan maju dan tidak akan pernah kembali Ron?” tanyaku padanya
“bodoh kamu Ron, bodoh!!” terlihat dia hanya berdiri mematung memandangiku
“kalau sekarang kereta itu kembali ketitik pertamanya, apa kamu mau ikut serta didalamnya?”
“…………..” terlihat matanya berkaca-kaca
“ja…jadi kamu”
“aku ga bisa ngelupain kamu, ga akan pernah bisa Ron, sampai kapanpun, aku sayang sama kamu Ron”
“……………..” mengalirlah airmatanya kala itu
“bagaimana dengan Dimas?” tanyanya kemudian
“Dimas sudah tau aku ga akan pernah bisa ngelupain kamu, tapi dia tetap berusaha” jawabku
“aku minta waktu buat itu, tapi dia udah tau apa jawabanku” ucapku kemudian
“…………kamu ga lagi ngebohongin aku kan?”
“menurut kamu, aku jauh-jauh kesini, hanya untuk ngebohongin kamu gitu? Ihhh ga peka banget!!” sungutku kesal
Hal yang terjadi kemudian, ia memelukku erat, terasa hangat badannya dimalam yang dingin menusuk tulang ini, terasa dadanya terisak karena menumpahkan semua emosinya.
“Ron, kamu cinta sama aku?”
“banget” jawabnya
“selamat ulang tahun Ron”
“…………makasih Zie, kamu hadiah terbaik dari Allah untukku”
Aku tersenyum dalam peluknya, bersyukur aku dapat jujur dengan hatiku.
“Ron?”
“ya?”
“aku diterima kerja di salah satu Bank plat merah” ucapku
“alhamdulillah, selamet ya Zie”
“dan aku ditempatin di Palembang”
^0^ v
Tapi tak peduli seberapa kerasnya aku berusaha menemuinya, hanya samar sosok bayangnya lah yang tersisa. Aku coba cari kekampus, bahkan Rara yang masi satu kelas dengannya pun mengatakan akhir-akhir ini dia selalu menghilang ketika kuliah berakhir, berkunjung kerumahnya pun sia-sia, bundanya mengatakan kalau Ronan selalu pulang tengah malam hampir satu bulan ini.
“apa dia pernah bilang mau kemana?” tanyaku pada Mom
“ga pernah sayang, dia selalu aja gitu, mudah-mudahan bukan kearah yang buruk” jawabnya
“aammiinn, Mom, Zie boleh minta sesuatu?”
“apa sayang?”
“beberapa jam lagi Ron ulang tahun, boleh aku menginap disini?” tanyaku padanya, dia pun mengecek kalender disamping meja tamu, dan tiba-tiba sedikit berteriak, jujur saja itu cukup membuatku kaget.
“AAHHHH, bener, Mom aja lupa kalau kamu ga kasih tau” ujarnya
“hmm boleh-boleh, sudah bilang sama orangtua kamu?” katanya kemudian.
“sudah Mom, mama titip salam” Mom tersenyum padaku, lalu mempersilahkanku masuk ke kamar Ronan.
Menurutku kamarnya cukup rapi, cenderung rapi malah untuk ukuran kamar seorang cowok, terlihat beberapa action figure anime di meja komputernya (belakangan aku tau kalau itu Monkey D Garp, D Dragon dan D Luffy << masih disimpan, katanya langka), tergantung gitar akustik disisi utara tembok kamarnya, dan figura fotonya, dengan Dinan disampingnya dan fotoku, oh waw, aku tak pernah tau ia menyimpan fotoku, sepertinya candid dari acara pembukaan penerimaan Maba dahulu, rambutku masih berhighlight biru difoto itu, sekarang aku sudah merubahnya ke highlight blonde mild. Dan terakhir, tentu saja, bola basket disudut kamarnya.
Setelah puas melihat isi kamarnya, aku pun duduk disisi ranjang tempat tidurnya, menatap kelangit-langit kamar ini. aku masih gundah tentang perasaan ini, tidak yakin akan jawabanku atas lamaran Dimas sementara hatiku masih terpatri namanya. TOK TOKK, terdengar pintu kamar ini diketuk.
“bole masuk?”
“iya Mom, masuk aja” jawabku, tak lama ibu berumur 40 tahun ini menampakkan diri, membawakanku satu set piyama bermotif polkadot coklat yang lucu.
“Zie, ini piyama Mom, kamu bisa pake buat malam, tapi” ia berhenti berbicara dengan wajah yang sepertinya menunjukkan sesuatu yang kurang mengenakkan.
“tapi kenapa?” tanyaku penasaran
“Ron barusan telepon, dia ga pulang malam ini” jawabnya, tentunya berita yang mengecewakanku saat itu.
“………….”
“kamu masih mau menginap sayang?” tanyanya kemudian
“uhmm.. Ronan bilang mau kemana?” tanyaku balik
“dia Cuma bilang ke tempat yang terbaik untuknya” saat itu juga bulu tengkukku merinding seketika
“hah? Mom ga bercanda kan? Maksud nya apa mom?” tanyaku panik, tapi beliau hanya tersenyum, membuatku makin panik.
“kamu tenang dulu, jangan panik, Inshaa Allah Ronan anak yang baik, dia ga mungkin macem-macem atau ngelakuin hal yang bodoh” jelasnya kemudian
“iya ta..tapi maksudnya apa?” air mataku mulai menetes
“kamu tenang dulu, ga bakal kenapa-kenapa kok sayang, tapi sebenernya mom ga mau bilang ini ke kamu, soalnya Cuma mom aja sama beberapa temen deketnya yang tau tempat ini” aku semakin bingung dengan penjelasan beliau.
“dimana?” tanyaku cepat
“di xxxx, cisarua”
“puncak?” tanyaku kemudian, beliau mengangguk seraya mengelus rambutku
“aku susul, aku pamit ya mom”
“ga usah ngebut ya sayang, santai aja, dia ga bakal kemana-mana ko” pesannya padaku, aku pun memeluknya kemudian.
Aku pun segera memacu X5 silver ini dengan berbekal keterangan alamat yang diberikan mom, entah kenapa walau beliau bilang jangan panik, justru aku merasakan hal yang berlawanan. Kecepatan mobilpun bertambah seiring dengan pedal gas yang semakin dalam ku tekan, entah berapa kali klakson mobil yang ku overtake dengan sembrono berbunyi, aku pun sedikit melepas pedal gas ketika mobil ini mulai limbung karena body mobil sudah tak mampu menahan hempasan angin yang dibelah, banyak-banyak beristighfarlah aku kemudian. Tak terasa kembali mengalir air dari mata ini.
Oh Tuhan, tak henti-hentinya aku mencoba menghapusnya dari ingatanku, semakin kuat usahaku melupakannya, maka semakin terngiang-ngiang wajahnya dimataku.
Tak butuh waktu lama, mobil ini mulai memasuki tol jagorawi menuju arah puncak. Memasuki jam 11 malam terlihat jalan mulai lengang, terlihat hanya 3 – 4 kendaraan didepanku. Mungkin karena ini weekdays, jadi kendaraan pun tak banyak ke arah sana, seperti yang kalian ketahui bahwa tol jagorawi adalah biangnya kemacetan parah jika weekend tiba.
Tepat ketika ku memasuki exit tol, aku pun meminggirkan kendaraan ku tepat didepan mobil patroli untuk bertanya kemana arah alamat tujuanku pada mereka. Ketika penjelasan dirasa cukup, aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Entah dimana ini, aku memasuki jalan setapak yang hanya bisa dimasuki 1 mobil, aku pun cukup berhati-hati karena body mobil ini cukup lebar, aku tak ingin salah satu sisi bannya terperosok.
Tak lama pun aku tiba di sebuah rumah kecil ditengah-tengah.. kebun teh dan pepohonan, terlihat rumah ini begitu cantik dengan nuansa kayu ditiap sisinya. Sebenarnya seketika itu juga aku merinding dibuatnya, pepohonan disini begitu lebatnya dan penerangannya sangat minim. Tapi rasa takut ini hilang begitu saja saat kulihat sosoknya di depan rumah itu, tepat dibawah pohon yang tidak begitu tinggi, terduduk memeluk gitar, sendiri. Ya, benar-benar sendiri.
“Ron” panggilku
Dia menaikkan kepalanya, menoleh padaku.
“……….kok? ah pasti Mom” dia terlihat kaget melihatku
“apa maksud kamu ngasih ini sama aku Ron?” tanyaku seraya mengeluarkan hadiah yang aku rasa ini diberikan olehnya, sebuah kepala kereta cepat shinkansen
“…………..”
“apa artinya ini Ron?” tanyaku lagi
“kamu ibarat kereta tercepat didunia, yang kalau saja aku sampai tertinggal 1 detik darimu, maka kau akan hilang meninggalkanku dibelakangnya, bukan hanya 1 detik, aku telat menyadari semuanya Zie, telat berbulan-bulan, hanya karena aku terlalu mengagungkan cinta pertamaku sampai-sampai aku tidak menyadari cinta yang sesungguhnya selalu dekat denganku, ketika ku sadar, semua ini sudah terlambat, kamu sudah berkeliling dunia meninggalkanku dan tak mungkin kembali lagi” jelasnya panjang.
“lalu kenapa kamu selalu aja menghilang?” tanyaku dengan bulir air yang mulai menggenang disisi mataku
“…………”
“jawab Ron!! Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?”
“aku.. aku ga akan pernah bisa benci sama kamu Zie”
“lalu kenapa Ron??”
“aa.. aku hanya ingin menjauh dari kamu Zie”
“why Ron.. Why” air mata mulai deras membasahi pipiku
Dia perlahan mendekatiku
“Zie, bagaimana mungkin aku kuat melihatmu dengan orang lain, aku hanya bisa mengikhlaskan segalanya tentangmu, aku ga pengen jadi orang ke-3 buat hubunganmu, aku tau betapa sakitnya itu” jelasnya kemudian
“aku hanya ingin menghilang, melupakan semuanya Zie, ya kamu, ya Dinan, semuanya” katanya lagi
“ke..napa kamu ga pernah bertanya sama aku Ron, apa jawabanku tentang lamaran itu”
“lalu apa kamu pikir kereta itu hanya berjalan maju dan tidak akan pernah kembali Ron?” tanyaku padanya
“bodoh kamu Ron, bodoh!!” terlihat dia hanya berdiri mematung memandangiku
“kalau sekarang kereta itu kembali ketitik pertamanya, apa kamu mau ikut serta didalamnya?”
“…………..” terlihat matanya berkaca-kaca
“ja…jadi kamu”
“aku ga bisa ngelupain kamu, ga akan pernah bisa Ron, sampai kapanpun, aku sayang sama kamu Ron”
“……………..” mengalirlah airmatanya kala itu
“bagaimana dengan Dimas?” tanyanya kemudian
“Dimas sudah tau aku ga akan pernah bisa ngelupain kamu, tapi dia tetap berusaha” jawabku
“aku minta waktu buat itu, tapi dia udah tau apa jawabanku” ucapku kemudian
“…………kamu ga lagi ngebohongin aku kan?”
“menurut kamu, aku jauh-jauh kesini, hanya untuk ngebohongin kamu gitu? Ihhh ga peka banget!!” sungutku kesal
Hal yang terjadi kemudian, ia memelukku erat, terasa hangat badannya dimalam yang dingin menusuk tulang ini, terasa dadanya terisak karena menumpahkan semua emosinya.
“Ron, kamu cinta sama aku?”
“banget” jawabnya
“selamat ulang tahun Ron”
“…………makasih Zie, kamu hadiah terbaik dari Allah untukku”
Aku tersenyum dalam peluknya, bersyukur aku dapat jujur dengan hatiku.
“Ron?”
“ya?”
“aku diterima kerja di salah satu Bank plat merah” ucapku
“alhamdulillah, selamet ya Zie”
“dan aku ditempatin di Palembang”
^0^ v
Diubah oleh widenova 28-11-2016 11:13
khodzimzz dan 5 lainnya memberi reputasi
6