- Beranda
- Stories from the Heart
REBORN : Terlahir Kembali (70 % Real + 30% Fiction)
...
TS
prsdmn
REBORN : Terlahir Kembali (70 % Real + 30% Fiction)

Sebelumnya saya mohon ijin kepada para sepuh, penghuni, dan momod di forum SFTTH ini. Ini cerita pertama saya tentang lika liku ,hal hal diluar nalar, dan fantasi yang ada di hidup saya. So, ready to ride ?
Quote:
Spoiler for Deskripsi:
Seorang anak manusia mengutuk dan membenci dirinya sendiri, mendapat perlakuan istimewa dari zat pencipta yang bernama Tuhan.
Tuhan mengirimkan suatu mahluk dari jarak bermiliar-miliar tahun cahaya ke bumi untuk membantu anak manusia ini.
Mahluk cerdas itu memberinya alat untuk merekayasa gelombang otak manusia sehingga menjadi kenyataan bernama BER (Brainwave Eternal Reality).
Partikel - partikel di alam semesta seakan berkontraksi dengan anak manusia itu yang bernama Abiyogga prawata.
Akankah alat itu mengubah hidupnya ?
Akankah dia menjadi manusia yang sempurna ?
Tuhan mengirimkan suatu mahluk dari jarak bermiliar-miliar tahun cahaya ke bumi untuk membantu anak manusia ini.
Mahluk cerdas itu memberinya alat untuk merekayasa gelombang otak manusia sehingga menjadi kenyataan bernama BER (Brainwave Eternal Reality).
Partikel - partikel di alam semesta seakan berkontraksi dengan anak manusia itu yang bernama Abiyogga prawata.
Akankah alat itu mengubah hidupnya ?
Akankah dia menjadi manusia yang sempurna ?
Quote:
Spoiler for FAQ:
Kaskuser : Apa Kabar ?
Ane : Alhamdulillah Baik
Kaskuser : Nama asli ente siapa ?
Ane : Rahasia
Kaskuser : Real atau Hoax nih ?
Anda : Terserah mau anda mau menilai apa
Kaskuser : kalo dipersentasekan kira-kira ?
Ane : 70% Real, 30% Fantasi
Kaskuser : Buktinya apa ?
Ane : Cerita saya
Kaskuser : Jadinya yang fiksi itu yang mana ?
Ane : Ayo ditebak dong, hal hal yang diluar nalar juga ada yang real loh
Kaskuser : Alien itu ada ?
Ane : The short answer is yes.
Vastness of the universe is truly beyond human comprehension. The sun and planets of our solar system, along with two hundred billion other stars, comprises our galaxy and our local heaven "The Milky Way." At the edge of Milky way galaxy our sun is just like a tiny speck when compared to the size of the galaxy. "The Milky Way," is one hundred and fifty thousand light years across. This means that traveling at the speed of light, it would take one hundred and fifty thousand years to go from one side of Milky Way to the other. The galaxies on the average are separated from each other by about ten million light years. There are about 500 hundred billion or more such galaxies in the truly gigantic universe. The above raises the possibility of trillions of earth like planets with intelligent life in the incredibly vast universe.
Ane : Alhamdulillah Baik
Kaskuser : Nama asli ente siapa ?
Ane : Rahasia
Kaskuser : Real atau Hoax nih ?
Anda : Terserah mau anda mau menilai apa
Kaskuser : kalo dipersentasekan kira-kira ?
Ane : 70% Real, 30% Fantasi
Kaskuser : Buktinya apa ?
Ane : Cerita saya
Kaskuser : Jadinya yang fiksi itu yang mana ?
Ane : Ayo ditebak dong, hal hal yang diluar nalar juga ada yang real loh
Kaskuser : Alien itu ada ?
Ane : The short answer is yes.
Vastness of the universe is truly beyond human comprehension. The sun and planets of our solar system, along with two hundred billion other stars, comprises our galaxy and our local heaven "The Milky Way." At the edge of Milky way galaxy our sun is just like a tiny speck when compared to the size of the galaxy. "The Milky Way," is one hundred and fifty thousand light years across. This means that traveling at the speed of light, it would take one hundred and fifty thousand years to go from one side of Milky Way to the other. The galaxies on the average are separated from each other by about ten million light years. There are about 500 hundred billion or more such galaxies in the truly gigantic universe. The above raises the possibility of trillions of earth like planets with intelligent life in the incredibly vast universe.
Prologue
Quote:
Aku adalah jiwa dan raga yang gagal dibentuk oleh suatu zat bernama tuhan. Aku dinamakan Abiyoga Prawata, itu berarti gunung yang mempunyai banyak kelebihan. Nama tersebut tidak menyatu kedalam jiwa dan raga milikku, nama itu terus memukul dan menendang setiap organ dalam tubuhku, memberontak dalam tubuhku, nama itu pun kehilangan arti. Aku terus mengalami kegagalan dan ketidaksenangan akan dunia ini. Aku sering bertanya apakah tuhan menciptakan ku dari tanah nan jauh disana yang tidak berguna, sehingga tanah itu tidak mempunyai unsur hara apapun atau mungkin aku diciptakan dari sperma cacat yang terlunta-lunta, berkelahi dengan sperma lain, terus menerus menabrak dinding rahim, dan dengan keberuntungannya sperma cacat itu masuk ke dalam sel telur ibuku ? Aku mengutuk diriku sendiri, manusia tidak berguna apakah yang telah diciptakan oleh tuhan ? Di suatu malam zat bernama tuhan itu memberikan cahaya kepadaku mengutus seorang mahluk yang tempat tinggalnya bermiliar-miliar tahun cahaya dan diberikannya aku sebuah alat bernama BER (Brainwave Eternal Reality). Seketika semua hal itu sirna, lenyap, tak berbekas, 1 triliun neuron sel otak ku mulai bekerja membentuk jaringan-jaringan menjadikan aku sebagai manusia yang sempurna. Aku dilahirkan kembali oleh tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.
CHILDHOOD - PART 1
Quote:
Suara itu terus mendenging dan terus menyiksa telingaku, bagai deru kereta api melintas yang sedang aku dengar, tidak lain dan tidak bukan itu adalah suara dengkur ibuku. Ketika ibuku sedang lelah-lelahnya, dia pasti akan mendengkur, bahkan dengkuran itu bisa menggetarkan seluruh tembok rumah. Rasanya diriku ini ingin menyumpal mulut ibuku dengan sebuah sarung bantal tapi apalah yang bisa diperbuat, alih alih ingin tidur nyeyak nanti malah aku akan berakhir dengan mendapatkan label “maling kundang” di atas kepalaku dan juga memar merah di pahaku. Jadi aku lanjutkan saja tidurku dibawah dengan kasur lipat yang berada persis dibawah kasur ibuku dan berusaha untuk menutupi kupingku.
Panasnya Jakarta inilah yang menyebabkan aku tidur dibawah lantai, bahkan diriku ini sampai sekarang sangat menyukai tidur dilantai dan pastinya ibuku sangat bermasalah dengan itu jikalau aku tidak memakai kasur lipat. Ibuku adalah orang yang sangat disiplin, pekerja keras, dan sangat menyayangi anak-anaknya, ya walaupun sedikit menjengkelkan.
“Abi, bangun sudah jam 3 ini, ayo pergi ngaji !!!” bentak ibuku ditengah tengah lubang kupingku
“Ahhh maaa, sebentar lagi..”
“Ayo cepaaaat” dijewernya kuping kecilku ini olehnya
“Iyaaaa”
Dengan lugas aku pergi ke kamar mandi dengan sebuah gayung berwarna merah muda menyala ditanganku dan aku mulai mengambil air untuk membasahi seluruh badanku. Malas, ya itulah yang kurasakan, rasa itu bisa menjerumuskan manusia kedalam jurang tingkatan sosial yang rendah. Bukannya aku tidak suka pergi mengaji ataupun merasa lelah dalam perjalanan menuju pengajianku, tapi aku malas bertemu orang-orang yang selalu mencela dan mencemooh diriku.
“Gitong.. Beliin gua juga dong..” teriak salah satu anak berbadan tinggi dengan alis mata tebal seperti ulat bulu yang menempel di matanya.
“Iyeee nih nihh, satu aja”
“Dua ahhh, sini !” direbut dengan paksa jajananku
“Ahhh elahh, nihh !”gumamku
Gitong adalah akronim dari gigi tonggos, tidak ada yang tahu sebenarnya orang yang pertama membuat dan pertama menyebut diriku dengan nama ini. Gigiku ini lebih maju 0.38 cm dari manusia normal kebanyakan, gigi tonggos sudah menjadi trademarkdiriku sejak kecil. Nama ini terus menyebar bagai api yang membakar sebuah daun dan terus merambat melalui ranting-ranting sehingga satu pohon bahkan satu hutan pun bisa terbakar, ya itulah wilayah ini, sehingga hampir semua anak-anak diusiaku memanggilku dengan sebutan ini.
Salah satunya adalah jagoan di pengajianku yang telah merebut jajanananku ini mempunyai nama panggilan yaitu “kutek” sejarah yang terkandung dari nama ini sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa dia bisa dipanggil seperti itu. Entah dulu sewaktu kecil dia sering memakai kutek kakaknya atau mungkin dahulu dia menjadikan kutek sebagai makanan pokok, dicampur dengan nasi, only god knows. Dia dengan gengnya sering mencemoohku dengan kata-kata yang berhubungan tentang gigi, apapun itu mulai dari gigi motor, gigi sepeda, pokoknya kata yang mempunyai gigi dikaitkan denganku. Aku hanya pasrah dan menangis saja terhadap ocehan mereka. Setelah kejadian itu pasti aku mengadu ke wonder woman ku yang tak lain dan tak bukan adalah ibuku. Dengan mata yang melotot dan suara agak tinggi melengking ibuku mengomeli mereka, aku hanya menahan tawa saja dibelakang ibuku. Mengingat kejadian 10 tahun yang lalu itu sering membuatku tertawa geli.
Panasnya Jakarta inilah yang menyebabkan aku tidur dibawah lantai, bahkan diriku ini sampai sekarang sangat menyukai tidur dilantai dan pastinya ibuku sangat bermasalah dengan itu jikalau aku tidak memakai kasur lipat. Ibuku adalah orang yang sangat disiplin, pekerja keras, dan sangat menyayangi anak-anaknya, ya walaupun sedikit menjengkelkan.
“Abi, bangun sudah jam 3 ini, ayo pergi ngaji !!!” bentak ibuku ditengah tengah lubang kupingku
“Ahhh maaa, sebentar lagi..”
“Ayo cepaaaat” dijewernya kuping kecilku ini olehnya
“Iyaaaa”
Dengan lugas aku pergi ke kamar mandi dengan sebuah gayung berwarna merah muda menyala ditanganku dan aku mulai mengambil air untuk membasahi seluruh badanku. Malas, ya itulah yang kurasakan, rasa itu bisa menjerumuskan manusia kedalam jurang tingkatan sosial yang rendah. Bukannya aku tidak suka pergi mengaji ataupun merasa lelah dalam perjalanan menuju pengajianku, tapi aku malas bertemu orang-orang yang selalu mencela dan mencemooh diriku.
“Gitong.. Beliin gua juga dong..” teriak salah satu anak berbadan tinggi dengan alis mata tebal seperti ulat bulu yang menempel di matanya.
“Iyeee nih nihh, satu aja”
“Dua ahhh, sini !” direbut dengan paksa jajananku
“Ahhh elahh, nihh !”gumamku
Gitong adalah akronim dari gigi tonggos, tidak ada yang tahu sebenarnya orang yang pertama membuat dan pertama menyebut diriku dengan nama ini. Gigiku ini lebih maju 0.38 cm dari manusia normal kebanyakan, gigi tonggos sudah menjadi trademarkdiriku sejak kecil. Nama ini terus menyebar bagai api yang membakar sebuah daun dan terus merambat melalui ranting-ranting sehingga satu pohon bahkan satu hutan pun bisa terbakar, ya itulah wilayah ini, sehingga hampir semua anak-anak diusiaku memanggilku dengan sebutan ini.
Salah satunya adalah jagoan di pengajianku yang telah merebut jajanananku ini mempunyai nama panggilan yaitu “kutek” sejarah yang terkandung dari nama ini sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa dia bisa dipanggil seperti itu. Entah dulu sewaktu kecil dia sering memakai kutek kakaknya atau mungkin dahulu dia menjadikan kutek sebagai makanan pokok, dicampur dengan nasi, only god knows. Dia dengan gengnya sering mencemoohku dengan kata-kata yang berhubungan tentang gigi, apapun itu mulai dari gigi motor, gigi sepeda, pokoknya kata yang mempunyai gigi dikaitkan denganku. Aku hanya pasrah dan menangis saja terhadap ocehan mereka. Setelah kejadian itu pasti aku mengadu ke wonder woman ku yang tak lain dan tak bukan adalah ibuku. Dengan mata yang melotot dan suara agak tinggi melengking ibuku mengomeli mereka, aku hanya menahan tawa saja dibelakang ibuku. Mengingat kejadian 10 tahun yang lalu itu sering membuatku tertawa geli.
Spoiler for Upadate Index:
Update Index (Part 3.5 Updated)
1. CHILDHOOD - PART 1
2. TIME SKIP - PART 2
3. UNDEFINED PLACE - PART 3
4. NEW HOPE - PART 3.5
1. CHILDHOOD - PART 1
2. TIME SKIP - PART 2
3. UNDEFINED PLACE - PART 3
4. NEW HOPE - PART 3.5
Diubah oleh prsdmn 28-11-2016 15:21
anasabila memberi reputasi
1
11.9K
Kutip
74
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prsdmn
#12
TIME SKIP - PART 2
Quote:
Gelombang cahaya dari dinding hijau ini tercermin pada pupil melalui kornea. Beratapkan sebuah kayu dan dihiasi dengan lampu berwana kuning menyala, ini adalah tempat tinggalku 4 tahun kedepan. Entah apa yang ada dipikiran ku dulu sehingga aku memilih sebuah rumah di desa terpencil seperti ini. Aku baru saja mulai kuliah tahun ini di umur yang sudah terbilang cukup tua yaitu 20 tahun. Alasannya hanya kampus ini adalah PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Aku menimba ilmu di sebuah daerah perbatasan antara bandung-sumedang, hal ini memang cukup merepotkan bagi manusia seperti diriku ini yang tak mau jauh dari rumah. Masalahnya bukan sampai disitu saja, memilih kampus ini juga satu dari alasan diriku meringankan beban orang tuaku karena PTN cenderung berbiaya murah. Orang tua ku adalah sepasang mahluk yang pendapatannya naik turun bahkan bisa lebih dikatakan banyak turunnya, kadang di kala malam aku sangat iri dengan orang tua teman-teman sebaya ku, banyak dari orang tua mereka mempunyai pendapatan berlebih. Ayahku hanya bekerja sebagai pemilik percetakan tingkat menengah dengan dua karyawan dan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Keadaanku yang dari dulu sering dicemooh, keadaan yang tidak mempunyai kelebihan dalam olahraga ,bermusik, bahkan tidak mempunyai uang jajan berlebih seperti ini, telah menghancurkan sisi sosial ku, aku cenderung lebih minder ketika bertemu orang baru. Aku telah mengutuk diriku sendiri dan aku benci terhadap setiap sel-sel yang melekat dalam tubuhku ini.
Rumah dengan atap yang bocor dan suara alarm berbunyi kencang menggetarkan seluruh tulangku.
“Shittt.. Gua telat rapat makrab”
Hari ini diadakan rapat makrab dengan jurusan ku, aku terburu-buru bak dikejar oleh malaikat maut. Aku menunggangi motor bermerk yamaha, melintasi jalan-jalan berkelok dan dengan kecepatan tinggi aku menuju ke kampusku.
“Kemana aja lu nyet ?” ucap laki-laki berbibir tebal, kurus, berambut acak-acakan bernama priyayi.
“Sorry-sorry, gua telat, gua ketiduran tadi.”
“Ah kebiasaan lu” suara itu keluar dari mulut yang kecil dari seorang perempuan bernama nina.
“Ya maaf, ayo lanjut lagi” mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Dahulu aku bersyukur karena aku lebih tua dari mereka, aku dianggap lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih berpengalaman dari mereka. Tapi sekarang hal itu lama-lama telah memudar, mereka seakan tidak mau mendengar perkataan dariku lagi. Turunnya respect mereka terhadap diriku mungkin disebabkan oleh suatu zat beracun yang berkumpul menjadi suatu pasang manusia bernama Radit dan Eli. Dari pertama kali aku kenal mereka, aku bisa lihat bola mata mereka seakan berbicara mereka tidak senang terhadapku, mereka iri melihatku yang selalu tampil di depan dan berkontribusi untuk kepentingan jurusanku. Mereka adalah manusia yang mempunyai racun yang lebih besar dari ular bernama King Cobra, mereka menyebarkan setitik demi setitik benih-benih kebencian kepada manusia lain. Setitik benih kebencian itu telah menumpuk sehingga membentuk bangunan yang sangat besar dan telah ditanamkan dihati selusin manusia. Harus aku akui mereka sangat amat berbakat dalam memberikan sugesti buruk dan menggaungkan hal-hal negatif, mungkin itu adalah berkat dari tuhan.
“Jadi gimana ? udah fix belum tanggalnya, ada banyak yang tidak bisa ikut loh, tanggal 30 November” tanyaku lugas.
“Gatauu nih” priyayi mencoba menjawab seadanya dengan muka yang aku tahu bahwa dia sedang ada masalah denganku.
“Jadi gimana dit ?” Aku mencoba bertanya kepada temanku yang lain bernama adit.
Adit hanya memalingkan muka dan tidak menanggapi pertanyaanku, sosok yang mempunyai rambut seperti Elvis Presley ini pun membuka pembicaraan dengan orang lain.
Saat itu pun aku hanya menguji mereka, apakah kebencian yang ditanamkan oleh Radit dan Eli sudah berbentuk gedung bertingkat di hati mereka. Mereka menganggapku tidak ada, mereka sudah menghapus diriku, mereka tidak mengakui keberadaanku. Rasa sakit dan pilu menumpuk di hatiku, rasa itu akan meledak dalam hitungan detik di kepalaku.
“JADI GIMANAA ? KALIAN NGGAK MENGANGGAP GUA ADA DISINI ?” dengan wajah marah dan mata terbuka lebar aku menggebrak meja.
“Santai dong, lu juga ga berkontribusi apa-apa buat acara ini, lagi memang harus ada lu ya kalau ada cara ?” ucap eli sang wanita bermulut racun ini.
“GA BERKONTRIBUSI, MAKSUD LU ? DISINI GUA YANG PERTAMA KALI MEMBERI IDE SUPAYA JURUSAN KITA DIADAKAN ACARA MAKRAB” menggebu-gebu aku membalas pertanyaannya.
“ITU DOANG ?” terdengar suara dari laki-laki bernama radit yang duduk di pojok ruangan.
“OH DAMMNN FUCK YOU MAN, GUA 3 HARI YANG MEMBERI IDE DAN MASUKAN-MASUKAN SUPAYA ACARA KITA GA GARING, 2 HARI YANG LALU GUA NGASIH MASUKAN TRANSPORTASI APA YANG HARUS KITA GUNAKAN, KEMARIN GUA NGASIH MASUKAN TENTANG DEKOR RUANGAN. BAHKAN GUA YANG BIKIN POSTER MAKRAB !!! COBA BANDINGKAN DENGAN LU YANG HANYA DUDUK SAMBIL BENGONG DI POJOK SITU !!! SEBENERNYA LU INGIN EKSIS MASUK PANITIA INI KAN !?!?!” urat leherku terlihat keluar semua.
“UDAH SI BI, GITU AJA DIPERMASALAHIN !” panitia yang lain membentak.
“OH UDAH MULAI BERANI YA, KALIAN TUH MASIH BARU LULUS SMA JANGAN SOK-SOK TAU DEH, UDAH BERAPA EVENT ATAU ACARA YANG UDAH KALIAN IKUTIN JADI PANITIA ?” aku berbicara dengan nafas menderu-deru.
“Tau deh yang udah tua mah beda” eli berkata diselingi tawa para panitia.
“SHUT THE FUCK UP YOU BITCH. KITA ITU JURUSAN BARU BAHKAN DI FAKULTAS, KITA DIPANDANG SEBELAH MATA, GUA HANYA INGIN MENAIKAN DERAJAT JURUSAN INI. KALAU NGGAK ADA GUA MANA IYA JURUSAN INI BISA LUMAYAN PUNYA NAMA SEPERTI SEKARANG SETELAH GUA IKUT PANITIA SANA SINI, KALIAN INI BUKAN ANAK KEDOKTERAN JANGAN BANGGA DEH, KITA INI CUMA JURUSAN BUANGAN. I’M ENOUGH OF THIS” aku berbicara dengan diikuti tendangan ke pintu
Aku sudah menduga akan jadi seperti ini, otakku meletup letup bagai pasukan amerika yang membom wilayah Hiroshima dan Nagasaki. Muak, ya aku sudah muak dengan kehidupan ini. Otakku sudah tidak bekerja dan tidak bisa menggapai batas-batas wajar dalam sisi rasionalitas. Motor berplat B inipun aku nyalakan, darahku berdesir, jantungku memompa lebih cepat, aku bahkan bisa mendengar tulang-tulangku yang berdenting. Rasa yang telah aku tanam dari 20 tahun lalu mencuat, meyembur, dan meluluhlantahkan jaringan-jaringan tubuhku, aku kehilangan akal. Ku laju motor ini dengan kecepatan tinggi, ku lalui jalanan yang berkelak kelok, tak tahu akan kubawa kemana tubuh ini. Tiba – tiba ada hal aneh yang terjadi, aku tersadar bahwa ada sepasang cahaya mengikuti, terus mengikuti dan mengendap-ngendap di belakangku. Pikiranku mulai bekerja kembali, daerah ini memang tergolong sangat sepi, dan para begal mencari mangsa di daerah seperti ini.
“Temen udah ilang, masa motor ikut ilang juga, begini amat nasib gua” ujarku dalam hati
Aku terus melaju dengan kecepatan maksimal sampai aku tidak tahu daerah antah berantah mana ini. Seketika cahaya itu dengan cepat melewati motorku. Membentuk suatu zat-zat padat, bergerumul, menyatu, dan cahaya itu pun berubah menjadi seorang manusia. Manusia itu berada tepat 10 m di hadapanku, aku mencoba untuk menginjak dan menarik rem tapi tetap saja usaha ku sia-sia, motorku kehilangan keseimbangan, tak sengaja aku menabrak mahluk itu, tapi ternyata motorku menembus dia. Masih dalam kecepatan tinggi motor olengku terpelanting menabrak pembatas jalan berwana abu yang membatasi antara jurang dan jalan. Aku terpental menuju jurang di kegelapan malam, membiaskan memori-memori tentang kenangan burukku.
Terpental, terguling, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Gravitasi telah menarik ku untuk terus kebawah menuju dasar jurang. Batang pohon yang tajam itupun terlihat, tiba-tiba tubuhku tertusuk oleh batang pohon yang diam itu, menembus sampai belakang badanku. Gravitasi adalah sesuatu yang jahat.
Aku tertusuk dan tersangkut bersamaan di batang pohon itu, semua menjadi gelap, aku hanya melihat hanya ada mahkuk aneh berjas merah yang melayang-layang. Itu adalah mahluk yang mengejarku tadi, mungkin dia sedang tertawa melihat keadaanku ini. Detik demi detik memudarkan ingatanku. Ototku tidak bisa dirasakan lagi. Darah menetes diantara batang-batang pohon yang tua itu. Materi gelap di alam semesta sudah masuk ke dalam tubuhku. Aku hilang.
Rumah dengan atap yang bocor dan suara alarm berbunyi kencang menggetarkan seluruh tulangku.
“Shittt.. Gua telat rapat makrab”
Hari ini diadakan rapat makrab dengan jurusan ku, aku terburu-buru bak dikejar oleh malaikat maut. Aku menunggangi motor bermerk yamaha, melintasi jalan-jalan berkelok dan dengan kecepatan tinggi aku menuju ke kampusku.
“Kemana aja lu nyet ?” ucap laki-laki berbibir tebal, kurus, berambut acak-acakan bernama priyayi.
“Sorry-sorry, gua telat, gua ketiduran tadi.”
“Ah kebiasaan lu” suara itu keluar dari mulut yang kecil dari seorang perempuan bernama nina.
“Ya maaf, ayo lanjut lagi” mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Dahulu aku bersyukur karena aku lebih tua dari mereka, aku dianggap lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih berpengalaman dari mereka. Tapi sekarang hal itu lama-lama telah memudar, mereka seakan tidak mau mendengar perkataan dariku lagi. Turunnya respect mereka terhadap diriku mungkin disebabkan oleh suatu zat beracun yang berkumpul menjadi suatu pasang manusia bernama Radit dan Eli. Dari pertama kali aku kenal mereka, aku bisa lihat bola mata mereka seakan berbicara mereka tidak senang terhadapku, mereka iri melihatku yang selalu tampil di depan dan berkontribusi untuk kepentingan jurusanku. Mereka adalah manusia yang mempunyai racun yang lebih besar dari ular bernama King Cobra, mereka menyebarkan setitik demi setitik benih-benih kebencian kepada manusia lain. Setitik benih kebencian itu telah menumpuk sehingga membentuk bangunan yang sangat besar dan telah ditanamkan dihati selusin manusia. Harus aku akui mereka sangat amat berbakat dalam memberikan sugesti buruk dan menggaungkan hal-hal negatif, mungkin itu adalah berkat dari tuhan.
“Jadi gimana ? udah fix belum tanggalnya, ada banyak yang tidak bisa ikut loh, tanggal 30 November” tanyaku lugas.
“Gatauu nih” priyayi mencoba menjawab seadanya dengan muka yang aku tahu bahwa dia sedang ada masalah denganku.
“Jadi gimana dit ?” Aku mencoba bertanya kepada temanku yang lain bernama adit.
Adit hanya memalingkan muka dan tidak menanggapi pertanyaanku, sosok yang mempunyai rambut seperti Elvis Presley ini pun membuka pembicaraan dengan orang lain.
Saat itu pun aku hanya menguji mereka, apakah kebencian yang ditanamkan oleh Radit dan Eli sudah berbentuk gedung bertingkat di hati mereka. Mereka menganggapku tidak ada, mereka sudah menghapus diriku, mereka tidak mengakui keberadaanku. Rasa sakit dan pilu menumpuk di hatiku, rasa itu akan meledak dalam hitungan detik di kepalaku.
“JADI GIMANAA ? KALIAN NGGAK MENGANGGAP GUA ADA DISINI ?” dengan wajah marah dan mata terbuka lebar aku menggebrak meja.
“Santai dong, lu juga ga berkontribusi apa-apa buat acara ini, lagi memang harus ada lu ya kalau ada cara ?” ucap eli sang wanita bermulut racun ini.
“GA BERKONTRIBUSI, MAKSUD LU ? DISINI GUA YANG PERTAMA KALI MEMBERI IDE SUPAYA JURUSAN KITA DIADAKAN ACARA MAKRAB” menggebu-gebu aku membalas pertanyaannya.
“ITU DOANG ?” terdengar suara dari laki-laki bernama radit yang duduk di pojok ruangan.
“OH DAMMNN FUCK YOU MAN, GUA 3 HARI YANG MEMBERI IDE DAN MASUKAN-MASUKAN SUPAYA ACARA KITA GA GARING, 2 HARI YANG LALU GUA NGASIH MASUKAN TRANSPORTASI APA YANG HARUS KITA GUNAKAN, KEMARIN GUA NGASIH MASUKAN TENTANG DEKOR RUANGAN. BAHKAN GUA YANG BIKIN POSTER MAKRAB !!! COBA BANDINGKAN DENGAN LU YANG HANYA DUDUK SAMBIL BENGONG DI POJOK SITU !!! SEBENERNYA LU INGIN EKSIS MASUK PANITIA INI KAN !?!?!” urat leherku terlihat keluar semua.
“UDAH SI BI, GITU AJA DIPERMASALAHIN !” panitia yang lain membentak.
“OH UDAH MULAI BERANI YA, KALIAN TUH MASIH BARU LULUS SMA JANGAN SOK-SOK TAU DEH, UDAH BERAPA EVENT ATAU ACARA YANG UDAH KALIAN IKUTIN JADI PANITIA ?” aku berbicara dengan nafas menderu-deru.
“Tau deh yang udah tua mah beda” eli berkata diselingi tawa para panitia.
“SHUT THE FUCK UP YOU BITCH. KITA ITU JURUSAN BARU BAHKAN DI FAKULTAS, KITA DIPANDANG SEBELAH MATA, GUA HANYA INGIN MENAIKAN DERAJAT JURUSAN INI. KALAU NGGAK ADA GUA MANA IYA JURUSAN INI BISA LUMAYAN PUNYA NAMA SEPERTI SEKARANG SETELAH GUA IKUT PANITIA SANA SINI, KALIAN INI BUKAN ANAK KEDOKTERAN JANGAN BANGGA DEH, KITA INI CUMA JURUSAN BUANGAN. I’M ENOUGH OF THIS” aku berbicara dengan diikuti tendangan ke pintu
Aku sudah menduga akan jadi seperti ini, otakku meletup letup bagai pasukan amerika yang membom wilayah Hiroshima dan Nagasaki. Muak, ya aku sudah muak dengan kehidupan ini. Otakku sudah tidak bekerja dan tidak bisa menggapai batas-batas wajar dalam sisi rasionalitas. Motor berplat B inipun aku nyalakan, darahku berdesir, jantungku memompa lebih cepat, aku bahkan bisa mendengar tulang-tulangku yang berdenting. Rasa yang telah aku tanam dari 20 tahun lalu mencuat, meyembur, dan meluluhlantahkan jaringan-jaringan tubuhku, aku kehilangan akal. Ku laju motor ini dengan kecepatan tinggi, ku lalui jalanan yang berkelak kelok, tak tahu akan kubawa kemana tubuh ini. Tiba – tiba ada hal aneh yang terjadi, aku tersadar bahwa ada sepasang cahaya mengikuti, terus mengikuti dan mengendap-ngendap di belakangku. Pikiranku mulai bekerja kembali, daerah ini memang tergolong sangat sepi, dan para begal mencari mangsa di daerah seperti ini.
“Temen udah ilang, masa motor ikut ilang juga, begini amat nasib gua” ujarku dalam hati
Aku terus melaju dengan kecepatan maksimal sampai aku tidak tahu daerah antah berantah mana ini. Seketika cahaya itu dengan cepat melewati motorku. Membentuk suatu zat-zat padat, bergerumul, menyatu, dan cahaya itu pun berubah menjadi seorang manusia. Manusia itu berada tepat 10 m di hadapanku, aku mencoba untuk menginjak dan menarik rem tapi tetap saja usaha ku sia-sia, motorku kehilangan keseimbangan, tak sengaja aku menabrak mahluk itu, tapi ternyata motorku menembus dia. Masih dalam kecepatan tinggi motor olengku terpelanting menabrak pembatas jalan berwana abu yang membatasi antara jurang dan jalan. Aku terpental menuju jurang di kegelapan malam, membiaskan memori-memori tentang kenangan burukku.
Terpental, terguling, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Gravitasi telah menarik ku untuk terus kebawah menuju dasar jurang. Batang pohon yang tajam itupun terlihat, tiba-tiba tubuhku tertusuk oleh batang pohon yang diam itu, menembus sampai belakang badanku. Gravitasi adalah sesuatu yang jahat.
Aku tertusuk dan tersangkut bersamaan di batang pohon itu, semua menjadi gelap, aku hanya melihat hanya ada mahkuk aneh berjas merah yang melayang-layang. Itu adalah mahluk yang mengejarku tadi, mungkin dia sedang tertawa melihat keadaanku ini. Detik demi detik memudarkan ingatanku. Ototku tidak bisa dirasakan lagi. Darah menetes diantara batang-batang pohon yang tua itu. Materi gelap di alam semesta sudah masuk ke dalam tubuhku. Aku hilang.
Diubah oleh prsdmn 25-11-2016 18:16
0
Kutip
Balas