- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#2097
Spoiler for PART XLV - Serangan yang disengaja - 2:
November 2016
Ternyata serangan itu belum berakhir…
Entah siapa yang mengirimkannya padaku. Tapi niatannya untuk mencelakaiku dan Ayano sudah sangat dinyatakan jelas oleh ‘mahluk’ yang dikirimnya.
Lebih gilanya lagi, ada yang hendak melakukan santet kepadaku!
Aku benar-benar takut sekarang… takut kalau cepat lambat, siapapun yang menjadi dalang dibalik ini semua pada akhirnya akan berhasil melukai aku, atau Ayano. Cukup sekali saja aku melihat Ayano harus terbaring dengan luka karena melindungi aku dari ‘mereka’.
Serangan itu kali ini dimulai tadi sore. Setelah lewat jam 7. Aku tau, karena baru saja jam selesai berbunyi dan baru saja aku dan Ayano selesai makan malam di kamar apartementku.
Untung saja…
Kalau tidak, aku benar-benar tidak tau deh akan jadi bagaimana….
Aku sudah terbiasa, mau tidak mau, melihat dan berurusan dengan ‘mereka’. Tapi untuk urusan kali ini.. aku baru tau kalau ilmu santet itu sangat mengerikan…
Aku sedang mencuci piring-piring kotor ketika tiba-tiba kepalaku terasa ringan dan aku merasakan dingin yang menusuk pada tengkukku.
Sebelum semuanya menjadi gelap…
Ketika tersadar, aku merasakan rasa panas pada mataku. Rasa sakit itulah yang membangunkanku.
Dan menghadapkan aku pada pemandangan yang sama sekali asing. Aku sangat sadar saat itu, bahkan mempertanyakan apakah aku sedang berada dalam mimpi?
Aku bahkan mencubit tanganku sendiri dan mendapati rasa sakit.
‘Jadi ini bukan mimpi? Tapi bagaimana aku bisa di sini?’ Pikirku saat itu
Aku berada pada lapangan luas. Di sekelilingku banyak gundukan-gundukan tanah yang ditancapkan oleh sebilah kayu yang menembus gundukan tanah itu tepat di tengah-tengah. Di atas semua bilah kayu itu terikat kain-kain putih yang melambai-lambai terkena angin.
Saat itu aku memang tidak menyadarinya karena bingung. Tapi setelah kupikir lagi sekarang. Aku bisa merasakan sakit, tapi aku tidak merasakan tiupan angin dan perasaan ketika kakiku menapak di tanah.
Dengan bingung, aku melangkah…
Pemandangan yang sama menghampar sepanjang penglihatanku. Gundukan tanah dengan bilah kayu yang menancap dan kain yang terpasang selayaknya bendera putih.
Melihatnya membuat perasaan tidak nyaman. Membuatku teringat pada kuburan atau semacamnya.
Aku terus melangkah melewati gundukan demi gundukan yang terus terbentang di sisi kiri dan kananku dengan perasaan was-was.
Hawa dingin semakin terasa merasuk ke dalam tubuhku.
“Ini di mana sih…” tidak tahan dengan keheningan, aku memberanikan diri untuk berbicara.
Aku bisa gila….
Tapi tidak berapa lama aku mendengar suara lain selain suara hembusan angin dan kepakan kain-kain putih yang tergantung itu…
‘Srekkk… srekkk…’
Bukan suara yang kuharapkan…
‘Srekkk… sreekkkk… srekkkk…. Ssrekkkkk…. Sreekkkkkk….’
Suara-suara itu makin banyak…
Aku melihat sekelilingku dengan panik sekarang… ‘suara apa itu?’ pikirku sambil mencari-cari.
Seharusnya saat ini keringat dingin sudah mengalir, tapi aku tidak merasakannya.
Yang aku rasakan adalah hawa dingin yang semakin menusuk, dan bau bangkai…
Lagi-lagi bau bangkai…
‘Drakkkk…drakkkkk…drakkkk…..’
Suara itu….
Sepertinya pernah dengar….
“Oh!!” aku baru saja mengingat darimana suara itu pernah kudengar ketika sebuah sosok terlihat melintasi celah antar gundukan dengan cepat di depanku. Menggunakan keempat tungkainya…
Aku mundur perlahan.
Dan sosok itu kemudian ‘merayap’ naik ke atas salah satu gundukan di depanku.
Sosok itu berbentuk seperti manusia, dengan tubuh yang gempal, namun memiliki tungkai yang kurus dan panjang membuat penampilannya menjadi cukup aneh.
Namun penampilan aneh itu menjadi mengerikan, karena di tubuh gempalnya banyak sekali lubang-lubang hitam yang dikerubungi belatung-belatung kecil dan mengalirkan darah dalam jumlah yang banyak.
Kepala dari mahluk itu tidak kalah mengerikan, tengkoraknya terbelah dua tepat di tengah, sehingga kulit kepalanya yang terkelupas terbuka hingga ke pipi mahluk itu, membuat separuh wajahnya hanya ditutupi oleh otot, tanpa kulit, sementara kulitnya yang terkelupas menggelantung lemas.
“AAHHHH!!!!!” aku berteriak ketakutan melihat penampakan mengerikan dari mahluk di depanku.
Mahluk itu kemudian mempertontonkan cakarnya, belulang tangannya sangat aneh, seperti tangan manusia, namun dengan pertumbuhan jari-jari tambahan yang tidak wajar di punggung tangannya. Semua dari jari mahluk itu memiliki cakar yang berwarna putih, seputih tulang.
Aku mundur dan hendak berlari.
Namun sesuatu menahan kakiku.
“!!!!”
Aku menatap ke kakiku dan menemukan sosok anak kecil yang kemarin kulihat saat ‘wanita ular’ itu menggangguku.
Saat itulah aku sadar kalau ‘mahluk’ inipun juga adalah kiriman dari seseorang yang entah mengapa ingin mencelakakan aku.
“Kenapa!? Apa salahku?” tanyaku pada mahluk mengerikan di hadapanku yang berjalan semakin dekat denganku.
“Lu sombong, pamer kekuatan” jawab anak kecil yang memegang kakiku erat. Suaranya adalah suara orang dewasa.
“Pamer kekuatan?” tanyaku. (maaf, mulai sekarang aku akan menuliskan sepersis mungkin meskipun kasar)
“Nggak usah ngeles lu ******, ****** kayak lu mau bilang nguasain dunia yang gua pelajarin dengan susah payah? ***!!! Dasar *****!!” suara yang keluar dari mulut anak kecil itu mengata-ngataiku dengan kata-kata yang jorok dan kasar.
Tanpa sadar aku mendengar kalau diriku sendiri sedang terisak. “Nggak, aku nggak pamer kok” kataku.
“Alah, ***** **** **** (maaf, ini sangat rasis, jadi aku sensor semua), nggak usah ngeles lu. Pengen cari terkenal, hah?” teriak suara itu lagi.
“Ini soal apa sih?” tanyaku.
“Lu belagak bego ato apa? Maksud lo bagi-bagi cerita buat cari sensasi? Buat cari belas kasihan?” hardik suara itu lagi.
“Aku.. aku….”
“Elisa!”
Suara Ayano!!
Suara itu bergema di kepalaku.
“Ko!!” teriakku memanggil dia.
“Fokus di suara koko Lis!!” teriak suara Ayano dalam kepalaku.
“PENGGANGGU!! PERGI LU!!!” teriak anak kecil di kakiku.
Aku bergeming.
“Lisa, jangan takut sayang, fokus di suara koko, kemudian tutup mata kamu”
Aku menuruti perintah Ayano. Suara-suara hardikan dan kata-kata kotor dari sosok anak kecil itu masih terdengar di telingaku.
“Jangan dengerin suara itu, sekarang ulang kata-kata koko”
Ayano memintaku mengulangi doa yang sudah sangat kukenal. Perlahan-lahan suara hardikan itu menghilang dan digantikan dengan suaraku dan suara Ayano sendiri.
“Elisa, sekarang koko minta kamu jangan takut. Ingat koko ada di sisi kamu, ok?”
“Ya, ko..”
“Sekarang buka mata kamu dan tatap mahluk itu, jangan takut. Koko akan bantu lawan”
Aku membuka mataku, ‘mahluk’ itu berdiri di tempatnya, menatapku dengan matanya yang jahat, sosok anak kecil itu juga sekarang berdiri di samping ‘mahluk’ itu.
“Tuh, orang yang udah bunuh istri lo, sekarang lo bales dia!!” perintah sosok anak kecil itu ke ‘mahluk’ di sampingnya.
Kemudian ‘mahluk’ itu mulai berjalan kembali ke arahku.
Reflek, aku hendak mundur, namun suara Ayano terdengar lagi “Jangan mundur..” katanya.
“Dia nggak akan bisa menyakiti kamu, Lis” kata Ayano lagi.
Aku mengangguk. Meskipun takut, aku mengikuti kata-kata Ayano. Pasrah pada kata-katanya.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Kaki ‘mahluk’ itu seakan tertempel di tanah, tidak bergeming.
‘GGGGGGGGGGGRRRRRRRRRRRRRRHHHHHHHHHHHH!!!!’ mahluk itu menggeram marah.
“A*NJ*NG!!! S*ALAN!!! SIAPA YANG BERANI GANGGU GUA!!!!” sosok anak kecil itu berteriak dengan marah.
“Harusnya lu tau kalau sudah pasti Elisa ada yang ngelindungin, setan!”
Suara Ayano terdengar dari belakangku. Dan aku bahkan bisa merasakan pelukannya. “Ssstt, jangan nengok Lis. Tenang, koko pasti jaga kamu, nggak apa-apa” kata Ayano.
Aku kembali menatap sosok anak kecil itu yang melongo. “SIAPA LU!?” hardiknya.
“Lu nggak kenal gua? Nah, sekarang lo inget, setan, lu berani ganggu Elisa, berarti lo hadapan sama gua juga!!” balas Ayano ke sosok itu.
“OH, SAMA-SAMA **** **** YA?! KALO GITU LO BEDUA MATI DAH!!” teriak ‘mahluk’ itu lagi.
“Salah, lu bukan cuma ngajak ribut dua orang.” Kata Ayano “Yang seorang lagi, yah selamat menikmati deh. Gua baru kali ini liat orang itu marah. Jadi silahkan tanggung akibatnya, setan!!” lanjut Ayano.
Aku yang mendengarnya waktu itu tidak mengerti. Apa maksudnya?
Aku sempat berpikir apakah yang dimaksud Ayano adalah gurunya?
Tapi sedetik kemudian aku mendengar bunyi yang sangat kukenal.
Bunyi lonceng.
Lonceng itu sangat kukenal.
‘Cring!! Cring!! Cring!!’ bunyi lonceng itu terdengar bergema di tempat ini.
‘GRRRH’ mahluk mengerikan di samping sosok anak kecil itu menggeram dan memegang telinganya.
‘Cring!! Cring!! Cring!!’ lonceng itu berbunyi lagi.
Dan kali ini mahluk mengerikan itu membalikkan badannya ke arah sosok anak kecil di sampingnya dan menaikkan cakarnya.
“OI!! BEGO!! LU MAU NGAPAIN??!!” hardik sosok anak kecil itu ke mahluk yang semakin mendekati dia.
‘CRIRIRIRIRIRIRIRIRIRING!!!!!’ Kali ini lonceng itu berbunyi terus menerus.
‘GRRRAAAHHHHH!!!’
Dengan suara cipratan yang mengerikan, cakar mahluk itu menghantam sosok anak kecil itu dengan keras dan menancap ke tengkorak kepalanya. Darah segar memancar dari tengkorak sosok anak kecil itu.
Teriakan pilu sosok anak kecil itu mengisi tempat itu.
Mahluk itu belum berhenti sampai disitu. Dengan ganas mahluk itu mencakar-cakar sosok tubuh anak kecil yang meronta-ronta dan berteriak-teriak sumpah serapah.
Sementara lonceng masih terus berbunyi.
Aku mual ketika isi perut anak kecil itu terlempar kemana-mana. Mahluk itu terus mencakar dengan ganas dan sesekali memakan jerohan.
Akhirnya dengan jeritan pilu terakhir, anak kecil itu tergolek lemas dengan simbahan darah berceceran di mana-mana.
Sementara ‘mahluk’ itu menatap hampa pada sosok yang baru dia cabik-cabik itu.
‘CRING!!’ bunyi lonceng itu kembali terdengar. Kali ini hanya satu kali, dan sangat kencang.
‘Mahluk’ itu berdiri, dan berjalan menjauh dari aku.
“Lisa, tutup mata kamu sayang, saatnya bangun” kata Ayano lagi.
Aku melakukannya, dan kemudian aku tersentak bangun. Ayano ada di hadapanku dengan senyuman khasnya.
“Kamu nggak apa-apa Lis?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Tadi itu apa?” tanyaku.
“Yang mana? Setan itu? Yang ngirim mahluk kemarin kayaknya.” Jawabku.
“Bukan… sejak kapan koko bisa begitu? Dan tadi itu, lonceng itu?”
“Iya itu oma Elly” jawab Ayano ringan. “Oh, dan soal koko, hmm…. Anggap aja rahasia ya?” lanjutnya sambil tertawa.
Setelah itu Ayano memberikanku teh herbal untuk menenangkanku…
Diary… apakah berbagi cerita yang kutulis ini salah? Aku tidak mau terus begini… apa aku hentikan saja semuanya?
Ternyata serangan itu belum berakhir…
Entah siapa yang mengirimkannya padaku. Tapi niatannya untuk mencelakaiku dan Ayano sudah sangat dinyatakan jelas oleh ‘mahluk’ yang dikirimnya.
Lebih gilanya lagi, ada yang hendak melakukan santet kepadaku!
Aku benar-benar takut sekarang… takut kalau cepat lambat, siapapun yang menjadi dalang dibalik ini semua pada akhirnya akan berhasil melukai aku, atau Ayano. Cukup sekali saja aku melihat Ayano harus terbaring dengan luka karena melindungi aku dari ‘mereka’.
Serangan itu kali ini dimulai tadi sore. Setelah lewat jam 7. Aku tau, karena baru saja jam selesai berbunyi dan baru saja aku dan Ayano selesai makan malam di kamar apartementku.
Untung saja…
Kalau tidak, aku benar-benar tidak tau deh akan jadi bagaimana….
Aku sudah terbiasa, mau tidak mau, melihat dan berurusan dengan ‘mereka’. Tapi untuk urusan kali ini.. aku baru tau kalau ilmu santet itu sangat mengerikan…
Aku sedang mencuci piring-piring kotor ketika tiba-tiba kepalaku terasa ringan dan aku merasakan dingin yang menusuk pada tengkukku.
Sebelum semuanya menjadi gelap…
Ketika tersadar, aku merasakan rasa panas pada mataku. Rasa sakit itulah yang membangunkanku.
Dan menghadapkan aku pada pemandangan yang sama sekali asing. Aku sangat sadar saat itu, bahkan mempertanyakan apakah aku sedang berada dalam mimpi?
Aku bahkan mencubit tanganku sendiri dan mendapati rasa sakit.
‘Jadi ini bukan mimpi? Tapi bagaimana aku bisa di sini?’ Pikirku saat itu
Aku berada pada lapangan luas. Di sekelilingku banyak gundukan-gundukan tanah yang ditancapkan oleh sebilah kayu yang menembus gundukan tanah itu tepat di tengah-tengah. Di atas semua bilah kayu itu terikat kain-kain putih yang melambai-lambai terkena angin.
Saat itu aku memang tidak menyadarinya karena bingung. Tapi setelah kupikir lagi sekarang. Aku bisa merasakan sakit, tapi aku tidak merasakan tiupan angin dan perasaan ketika kakiku menapak di tanah.
Dengan bingung, aku melangkah…
Pemandangan yang sama menghampar sepanjang penglihatanku. Gundukan tanah dengan bilah kayu yang menancap dan kain yang terpasang selayaknya bendera putih.
Melihatnya membuat perasaan tidak nyaman. Membuatku teringat pada kuburan atau semacamnya.
Aku terus melangkah melewati gundukan demi gundukan yang terus terbentang di sisi kiri dan kananku dengan perasaan was-was.
Hawa dingin semakin terasa merasuk ke dalam tubuhku.
“Ini di mana sih…” tidak tahan dengan keheningan, aku memberanikan diri untuk berbicara.
Aku bisa gila….
Tapi tidak berapa lama aku mendengar suara lain selain suara hembusan angin dan kepakan kain-kain putih yang tergantung itu…
‘Srekkk… srekkk…’
Bukan suara yang kuharapkan…
‘Srekkk… sreekkkk… srekkkk…. Ssrekkkkk…. Sreekkkkkk….’
Suara-suara itu makin banyak…
Aku melihat sekelilingku dengan panik sekarang… ‘suara apa itu?’ pikirku sambil mencari-cari.
Seharusnya saat ini keringat dingin sudah mengalir, tapi aku tidak merasakannya.
Yang aku rasakan adalah hawa dingin yang semakin menusuk, dan bau bangkai…
Lagi-lagi bau bangkai…
‘Drakkkk…drakkkkk…drakkkk…..’
Suara itu….
Sepertinya pernah dengar….
“Oh!!” aku baru saja mengingat darimana suara itu pernah kudengar ketika sebuah sosok terlihat melintasi celah antar gundukan dengan cepat di depanku. Menggunakan keempat tungkainya…
Aku mundur perlahan.
Dan sosok itu kemudian ‘merayap’ naik ke atas salah satu gundukan di depanku.
Sosok itu berbentuk seperti manusia, dengan tubuh yang gempal, namun memiliki tungkai yang kurus dan panjang membuat penampilannya menjadi cukup aneh.
Namun penampilan aneh itu menjadi mengerikan, karena di tubuh gempalnya banyak sekali lubang-lubang hitam yang dikerubungi belatung-belatung kecil dan mengalirkan darah dalam jumlah yang banyak.
Kepala dari mahluk itu tidak kalah mengerikan, tengkoraknya terbelah dua tepat di tengah, sehingga kulit kepalanya yang terkelupas terbuka hingga ke pipi mahluk itu, membuat separuh wajahnya hanya ditutupi oleh otot, tanpa kulit, sementara kulitnya yang terkelupas menggelantung lemas.
“AAHHHH!!!!!” aku berteriak ketakutan melihat penampakan mengerikan dari mahluk di depanku.
Mahluk itu kemudian mempertontonkan cakarnya, belulang tangannya sangat aneh, seperti tangan manusia, namun dengan pertumbuhan jari-jari tambahan yang tidak wajar di punggung tangannya. Semua dari jari mahluk itu memiliki cakar yang berwarna putih, seputih tulang.
Aku mundur dan hendak berlari.
Namun sesuatu menahan kakiku.
“!!!!”
Aku menatap ke kakiku dan menemukan sosok anak kecil yang kemarin kulihat saat ‘wanita ular’ itu menggangguku.
Saat itulah aku sadar kalau ‘mahluk’ inipun juga adalah kiriman dari seseorang yang entah mengapa ingin mencelakakan aku.
“Kenapa!? Apa salahku?” tanyaku pada mahluk mengerikan di hadapanku yang berjalan semakin dekat denganku.
“Lu sombong, pamer kekuatan” jawab anak kecil yang memegang kakiku erat. Suaranya adalah suara orang dewasa.
“Pamer kekuatan?” tanyaku. (maaf, mulai sekarang aku akan menuliskan sepersis mungkin meskipun kasar)
“Nggak usah ngeles lu ******, ****** kayak lu mau bilang nguasain dunia yang gua pelajarin dengan susah payah? ***!!! Dasar *****!!” suara yang keluar dari mulut anak kecil itu mengata-ngataiku dengan kata-kata yang jorok dan kasar.
Tanpa sadar aku mendengar kalau diriku sendiri sedang terisak. “Nggak, aku nggak pamer kok” kataku.
“Alah, ***** **** **** (maaf, ini sangat rasis, jadi aku sensor semua), nggak usah ngeles lu. Pengen cari terkenal, hah?” teriak suara itu lagi.
“Ini soal apa sih?” tanyaku.
“Lu belagak bego ato apa? Maksud lo bagi-bagi cerita buat cari sensasi? Buat cari belas kasihan?” hardik suara itu lagi.
“Aku.. aku….”
“Elisa!”
Suara Ayano!!
Suara itu bergema di kepalaku.
“Ko!!” teriakku memanggil dia.
“Fokus di suara koko Lis!!” teriak suara Ayano dalam kepalaku.
“PENGGANGGU!! PERGI LU!!!” teriak anak kecil di kakiku.
Aku bergeming.
“Lisa, jangan takut sayang, fokus di suara koko, kemudian tutup mata kamu”
Aku menuruti perintah Ayano. Suara-suara hardikan dan kata-kata kotor dari sosok anak kecil itu masih terdengar di telingaku.
“Jangan dengerin suara itu, sekarang ulang kata-kata koko”
Ayano memintaku mengulangi doa yang sudah sangat kukenal. Perlahan-lahan suara hardikan itu menghilang dan digantikan dengan suaraku dan suara Ayano sendiri.
“Elisa, sekarang koko minta kamu jangan takut. Ingat koko ada di sisi kamu, ok?”
“Ya, ko..”
“Sekarang buka mata kamu dan tatap mahluk itu, jangan takut. Koko akan bantu lawan”
Aku membuka mataku, ‘mahluk’ itu berdiri di tempatnya, menatapku dengan matanya yang jahat, sosok anak kecil itu juga sekarang berdiri di samping ‘mahluk’ itu.
“Tuh, orang yang udah bunuh istri lo, sekarang lo bales dia!!” perintah sosok anak kecil itu ke ‘mahluk’ di sampingnya.
Kemudian ‘mahluk’ itu mulai berjalan kembali ke arahku.
Reflek, aku hendak mundur, namun suara Ayano terdengar lagi “Jangan mundur..” katanya.
“Dia nggak akan bisa menyakiti kamu, Lis” kata Ayano lagi.
Aku mengangguk. Meskipun takut, aku mengikuti kata-kata Ayano. Pasrah pada kata-katanya.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Kaki ‘mahluk’ itu seakan tertempel di tanah, tidak bergeming.
‘GGGGGGGGGGGRRRRRRRRRRRRRRHHHHHHHHHHHH!!!!’ mahluk itu menggeram marah.
“A*NJ*NG!!! S*ALAN!!! SIAPA YANG BERANI GANGGU GUA!!!!” sosok anak kecil itu berteriak dengan marah.
“Harusnya lu tau kalau sudah pasti Elisa ada yang ngelindungin, setan!”
Suara Ayano terdengar dari belakangku. Dan aku bahkan bisa merasakan pelukannya. “Ssstt, jangan nengok Lis. Tenang, koko pasti jaga kamu, nggak apa-apa” kata Ayano.
Aku kembali menatap sosok anak kecil itu yang melongo. “SIAPA LU!?” hardiknya.
“Lu nggak kenal gua? Nah, sekarang lo inget, setan, lu berani ganggu Elisa, berarti lo hadapan sama gua juga!!” balas Ayano ke sosok itu.
“OH, SAMA-SAMA **** **** YA?! KALO GITU LO BEDUA MATI DAH!!” teriak ‘mahluk’ itu lagi.
“Salah, lu bukan cuma ngajak ribut dua orang.” Kata Ayano “Yang seorang lagi, yah selamat menikmati deh. Gua baru kali ini liat orang itu marah. Jadi silahkan tanggung akibatnya, setan!!” lanjut Ayano.
Aku yang mendengarnya waktu itu tidak mengerti. Apa maksudnya?
Aku sempat berpikir apakah yang dimaksud Ayano adalah gurunya?
Tapi sedetik kemudian aku mendengar bunyi yang sangat kukenal.
Bunyi lonceng.
Lonceng itu sangat kukenal.
‘Cring!! Cring!! Cring!!’ bunyi lonceng itu terdengar bergema di tempat ini.
‘GRRRH’ mahluk mengerikan di samping sosok anak kecil itu menggeram dan memegang telinganya.
‘Cring!! Cring!! Cring!!’ lonceng itu berbunyi lagi.
Dan kali ini mahluk mengerikan itu membalikkan badannya ke arah sosok anak kecil di sampingnya dan menaikkan cakarnya.
“OI!! BEGO!! LU MAU NGAPAIN??!!” hardik sosok anak kecil itu ke mahluk yang semakin mendekati dia.
‘CRIRIRIRIRIRIRIRIRIRING!!!!!’ Kali ini lonceng itu berbunyi terus menerus.
‘GRRRAAAHHHHH!!!’
Dengan suara cipratan yang mengerikan, cakar mahluk itu menghantam sosok anak kecil itu dengan keras dan menancap ke tengkorak kepalanya. Darah segar memancar dari tengkorak sosok anak kecil itu.
Teriakan pilu sosok anak kecil itu mengisi tempat itu.
Mahluk itu belum berhenti sampai disitu. Dengan ganas mahluk itu mencakar-cakar sosok tubuh anak kecil yang meronta-ronta dan berteriak-teriak sumpah serapah.
Sementara lonceng masih terus berbunyi.
Aku mual ketika isi perut anak kecil itu terlempar kemana-mana. Mahluk itu terus mencakar dengan ganas dan sesekali memakan jerohan.
Akhirnya dengan jeritan pilu terakhir, anak kecil itu tergolek lemas dengan simbahan darah berceceran di mana-mana.
Sementara ‘mahluk’ itu menatap hampa pada sosok yang baru dia cabik-cabik itu.
‘CRING!!’ bunyi lonceng itu kembali terdengar. Kali ini hanya satu kali, dan sangat kencang.
‘Mahluk’ itu berdiri, dan berjalan menjauh dari aku.
“Lisa, tutup mata kamu sayang, saatnya bangun” kata Ayano lagi.
Aku melakukannya, dan kemudian aku tersentak bangun. Ayano ada di hadapanku dengan senyuman khasnya.
“Kamu nggak apa-apa Lis?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Tadi itu apa?” tanyaku.
“Yang mana? Setan itu? Yang ngirim mahluk kemarin kayaknya.” Jawabku.
“Bukan… sejak kapan koko bisa begitu? Dan tadi itu, lonceng itu?”
“Iya itu oma Elly” jawab Ayano ringan. “Oh, dan soal koko, hmm…. Anggap aja rahasia ya?” lanjutnya sambil tertawa.
Setelah itu Ayano memberikanku teh herbal untuk menenangkanku…
Diary… apakah berbagi cerita yang kutulis ini salah? Aku tidak mau terus begini… apa aku hentikan saja semuanya?
johny251976 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas