- Beranda
- Stories from the Heart
Serial Killer : Trio Legend
...
TS
schilfouts
Serial Killer : Trio Legend

Quote:
Spoiler for Serial Killer : Trio Legend:
Indeks
Spoiler for Indeks:

Diubah oleh schilfouts 17-04-2017 22:04
anasabila memberi reputasi
1
12.8K
160
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
schilfouts
#31
Part 3 ~ Mengawasi Ken
"Ayolah Rif, izinkan Ken yang mengambil alih target itu."
Surep memohon pada Arif, biasanya Surep tidak mau melakukan hal ini.
Surep mengikuti langkah Arif yang hendak menuju Dapur.
"Kenapa kamu ingin sekali Ken yang mengambil alih?"
Arif mengambil gelas dan kopi sachet lalu menyeduhnya dengan air hangat.
"Kamu menyukai Ken?" Arif membalikkan badan lalu minum kopi yang masih hangat itu.
Surep menaikan sebelah alisnya, tanda dia kebingungan. Surep harus bisa membuat Arif setuju dengan apa yang dia katakan.
"Wait.. Tidak mungkin aku menyukai Ken, dia terlalu muda buat ku." Surep duduk di kursi lalu memperhatikan Arif.
"Tidak ada yang tidak mungkin Rep," Arif menegaskan. "Dan dia seperti mantan istrimu yang telah tewas ditangan Ibnu."
Surep tertegun, memang benar yang dikatakan oleh Arif. Ken mirip dengan mantan istrinya, postur tubuhnya juga mirip. Tapi tidak mungkin kalau Ken adalah mantan istrinya.
"Mantan istriku tewas dihadapanku, jadi dia bukan mantan istriku." Surep menuangkan teh chamomile kedalam cangkir miliknya.
Hening. Tidak ada percakapan diantara Surep dan Arif. Mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi...."
Surep mengambil cangkir yang berisi teh favoritnya lalu berjalan ke arah jendela dapur dan melihat Ken yang sedang berdiri menatap langit malam.
"Apa kau setuju jika Ken yang mengambil alih?"
Menatap Ken yang sedang berdiri membelakangi jendela dapur mengingatkan Surep pada mantan istrinya.
"Ya , saya setuju." Arif akhirnya menyetujui permintaan Surep dan berjalan menghampiri Surep.
***
Ken berdiri di luar gedung sambil menatap indahnya langit malam.
Memikirkan banyak hal yang selama ini terjadi di hidupnya.
Ken memejamkan mata nya sejenak, hari ini cukup membuatnya lelah.
Angin malam semakin dingin, Ken membalikan tubuhnya dan tak sengaja melihat Surep dan Arif yang terang-terangan menatap dirinya.
***
"Ken, bisa kamu ikut denganku sebentar?" pinta Arif yang menghampiri Ken.
Arif berjalan ke tempat mereka bekerja dan Ken mengikutinya.
Badan yang tegap dan terlihat berwibawa, itulah pandangan Ken pada Arif. Pria yang usianya jauh lebih tua dari Ken, tapi entah mengapa Ken begitu tertarik pada Trio Legend tersebut.
Menurut dokumen yang Ken terima dari Dr. Alif, Trio Legend adalah mantan anggota Ichidian, disana tempat bernaungnya para pembunuh profesional. Jiwa membunuh Arif masih melekat pada dirinya, sudah ratusan orang yang dia bunuh. Ketika Ken membaca profil milik Arif, dia cukup merinding dengan pernyataan itu.
"Brrukkkk!!!"
Ken menabrak tubuh seseorang, dia melihat siapa yang ditabraknya.
"Ah pak Arif, maaf pak." Ken mundur selangkah dan sedikit membungkuk pada Arif.
Arif melihat tubuh Ken dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ketika melihat mata Ken, Arif seperti mengenal gadis ini.
Bibir Ken yang ranum, seolah-olah ingin Arif lumat bibirnya. Badannya yang ramping, seakan-akan mengajak Arif untuk bercinta. Dan dadanya...
'Astaga, kenapa aku bisa mesum begini.' batin Arif.
Arif mengacak-ngacak rambutnya karna berfikiran mesum terhadap Ken. Ken yang melihat kejadian itu memiringkan kepalanya tanda dia tidak mengerti kenapa atasannya melakukan hal itu.
Mata mereka saling bertatap. Yang satunya bingung, yang satu lagi canggung.
"Pak Arif , mau berbicara apa?" tanya Ken memecahkan keheningan diantara mereka.
"Ah iya, ini.." Arif memberikan selembar kertas yang berisikan target minggu ini. "Kamu yang bertugas membunuh pria itu."
Ken tertegun, dia harus membunuh manusia. Dia melihat ke Arif dengan tatapan tidak percaya.
"Pak, ini seriusan? Saya belum pernah membunuh orang."
Ken menerima kertas tersebut dan membaca profil orang yang menjadi target.
"Iya serius, kami semua sedang sibuk. Karena ada pekerjaan lainnya, kami memilih kamu yang kebetulan sedang senggang. Bagaimana?"
Ken sebenernya senang jika ada pekerjaan tapi kalau harus membunuh orang..
Ken menghela nafas, " baiklah pak saya akan melakukan pekerjaan itu."
Arif tersenyum puas karena Ken mau mengambil alih pekerjaan tersebut.
'Surep , puas kau.' batin Arif.
Arif meninggalkan Ken yang sedang membaca lembaran target yang akan dia buru.
Harusnya , Surep lah yang memburu target itu bukan Ken. Arif yakin, Surep pasti akan mendatangi club malam lagi karna dia memohon untuk Ken yang mengambil alih.
'Aku sudah tahu tabiat mu Surep, menyuruh Ken yg mengambil alih pekerjaan karena kau ingin datang ke club malam lagi dan bermain dengan para wanita disana.' batin Arif.
"Rif, bagaimana? Apa Ken mau?" Ibnu berjalan menghampiri Arif.
"Ya dia mau, tapi kita bertiga harus tetap mengawasi dia bekerja."
Arif melirik Ibnu yang sedang memakan cemilan. Dicomotnya cemilan yang ada di tangan Ibnu.
"Whoa kampret nih om-om maen nyomot makanan saya." Ibnu tidak terima makanan nya di comot oleh Arif.
***
Ken sedang berdiri didepan Ibnu. Hari ini dia akan memulai pekerjaannya sebagai psycho hunter, ditatapnya wajah Ibnu dengan tatapan kesal.
Bagaimana tidak kesal, Hari pertama memulai pekerjaan harus sendirian. Ken sempat berfikir kalau salah satu dari trio legend akan menemaninya, tapi ternyata dia harus bekerja sendiri.
Dia harus bergabung dengan salah satu komunitas All About Us secara terpaksa.
"Ayolah Ken, jangan marah dulu. Ini perintah Arif bukan kemauan ku."
Ibnu memohon pada Ken agar si gadis mungil yang berada di hadapannya tidak marah lagi.
"Aku kan tidak tahu bagaimana caranya memakai pistol."
Ken cemberut, amatiran seperti dirinya mana bisa memakai pistol.
"Aku kan sudah memberi tahu mu, Ken.."
Ibnu memberikan tas pada Ken.
"Di tas itu ada senjata milikmu, semua sudah ku siapkan. Dan sudah di pastikan akan lolos dari pemeriksaan keamanan di Mall itu."
Ibnu melihat Ken yang sedang memakai sepatu. Ibnu tersenyum, gadis mungil ini walaupun terlihat tidak suka tapi tetap dilakukan walaupun terpaksa.
"Setelah tugas mu selesai, aku akan mentraktirmu."
Ibnu berjanji pada Ken dan berharap Ken tidak marah.
"Traktir makan??? Kamu serius om?"
Ken bangkit dari tempat ia duduk dan menatap Ibnu dengan penuh semangat.
"Iya Ken serius. Nah sekarang segera berangkat ke blok m tempat dimana target akan berkumpul dengan temannya." perintah Ibnu.
"Baiklah."
Ken pergi meninggalkan Ibnu dengan perasaan riang sebab akan di traktir oleh Ibnu.
Ibnu mengambil handphonenya, "Arif, Ken sudah jalan ke tempat tujuan."
****
Surep memohon pada Arif, biasanya Surep tidak mau melakukan hal ini.
Surep mengikuti langkah Arif yang hendak menuju Dapur.
"Kenapa kamu ingin sekali Ken yang mengambil alih?"
Arif mengambil gelas dan kopi sachet lalu menyeduhnya dengan air hangat.
"Kamu menyukai Ken?" Arif membalikkan badan lalu minum kopi yang masih hangat itu.
Surep menaikan sebelah alisnya, tanda dia kebingungan. Surep harus bisa membuat Arif setuju dengan apa yang dia katakan.
"Wait.. Tidak mungkin aku menyukai Ken, dia terlalu muda buat ku." Surep duduk di kursi lalu memperhatikan Arif.
"Tidak ada yang tidak mungkin Rep," Arif menegaskan. "Dan dia seperti mantan istrimu yang telah tewas ditangan Ibnu."
Surep tertegun, memang benar yang dikatakan oleh Arif. Ken mirip dengan mantan istrinya, postur tubuhnya juga mirip. Tapi tidak mungkin kalau Ken adalah mantan istrinya.
"Mantan istriku tewas dihadapanku, jadi dia bukan mantan istriku." Surep menuangkan teh chamomile kedalam cangkir miliknya.
Hening. Tidak ada percakapan diantara Surep dan Arif. Mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi...."
Surep mengambil cangkir yang berisi teh favoritnya lalu berjalan ke arah jendela dapur dan melihat Ken yang sedang berdiri menatap langit malam.
"Apa kau setuju jika Ken yang mengambil alih?"
Menatap Ken yang sedang berdiri membelakangi jendela dapur mengingatkan Surep pada mantan istrinya.
"Ya , saya setuju." Arif akhirnya menyetujui permintaan Surep dan berjalan menghampiri Surep.
***
Ken berdiri di luar gedung sambil menatap indahnya langit malam.
Memikirkan banyak hal yang selama ini terjadi di hidupnya.
Ken memejamkan mata nya sejenak, hari ini cukup membuatnya lelah.
Angin malam semakin dingin, Ken membalikan tubuhnya dan tak sengaja melihat Surep dan Arif yang terang-terangan menatap dirinya.
***
"Ken, bisa kamu ikut denganku sebentar?" pinta Arif yang menghampiri Ken.
Arif berjalan ke tempat mereka bekerja dan Ken mengikutinya.
Badan yang tegap dan terlihat berwibawa, itulah pandangan Ken pada Arif. Pria yang usianya jauh lebih tua dari Ken, tapi entah mengapa Ken begitu tertarik pada Trio Legend tersebut.
Menurut dokumen yang Ken terima dari Dr. Alif, Trio Legend adalah mantan anggota Ichidian, disana tempat bernaungnya para pembunuh profesional. Jiwa membunuh Arif masih melekat pada dirinya, sudah ratusan orang yang dia bunuh. Ketika Ken membaca profil milik Arif, dia cukup merinding dengan pernyataan itu.
"Brrukkkk!!!"
Ken menabrak tubuh seseorang, dia melihat siapa yang ditabraknya.
"Ah pak Arif, maaf pak." Ken mundur selangkah dan sedikit membungkuk pada Arif.
Arif melihat tubuh Ken dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ketika melihat mata Ken, Arif seperti mengenal gadis ini.
Bibir Ken yang ranum, seolah-olah ingin Arif lumat bibirnya. Badannya yang ramping, seakan-akan mengajak Arif untuk bercinta. Dan dadanya...
'Astaga, kenapa aku bisa mesum begini.' batin Arif.
Arif mengacak-ngacak rambutnya karna berfikiran mesum terhadap Ken. Ken yang melihat kejadian itu memiringkan kepalanya tanda dia tidak mengerti kenapa atasannya melakukan hal itu.
Mata mereka saling bertatap. Yang satunya bingung, yang satu lagi canggung.
"Pak Arif , mau berbicara apa?" tanya Ken memecahkan keheningan diantara mereka.
"Ah iya, ini.." Arif memberikan selembar kertas yang berisikan target minggu ini. "Kamu yang bertugas membunuh pria itu."
Ken tertegun, dia harus membunuh manusia. Dia melihat ke Arif dengan tatapan tidak percaya.
"Pak, ini seriusan? Saya belum pernah membunuh orang."
Ken menerima kertas tersebut dan membaca profil orang yang menjadi target.
"Iya serius, kami semua sedang sibuk. Karena ada pekerjaan lainnya, kami memilih kamu yang kebetulan sedang senggang. Bagaimana?"
Ken sebenernya senang jika ada pekerjaan tapi kalau harus membunuh orang..
Ken menghela nafas, " baiklah pak saya akan melakukan pekerjaan itu."
Arif tersenyum puas karena Ken mau mengambil alih pekerjaan tersebut.
'Surep , puas kau.' batin Arif.
Arif meninggalkan Ken yang sedang membaca lembaran target yang akan dia buru.
Harusnya , Surep lah yang memburu target itu bukan Ken. Arif yakin, Surep pasti akan mendatangi club malam lagi karna dia memohon untuk Ken yang mengambil alih.
'Aku sudah tahu tabiat mu Surep, menyuruh Ken yg mengambil alih pekerjaan karena kau ingin datang ke club malam lagi dan bermain dengan para wanita disana.' batin Arif.
"Rif, bagaimana? Apa Ken mau?" Ibnu berjalan menghampiri Arif.
"Ya dia mau, tapi kita bertiga harus tetap mengawasi dia bekerja."
Arif melirik Ibnu yang sedang memakan cemilan. Dicomotnya cemilan yang ada di tangan Ibnu.
"Whoa kampret nih om-om maen nyomot makanan saya." Ibnu tidak terima makanan nya di comot oleh Arif.
***
Ken sedang berdiri didepan Ibnu. Hari ini dia akan memulai pekerjaannya sebagai psycho hunter, ditatapnya wajah Ibnu dengan tatapan kesal.
Bagaimana tidak kesal, Hari pertama memulai pekerjaan harus sendirian. Ken sempat berfikir kalau salah satu dari trio legend akan menemaninya, tapi ternyata dia harus bekerja sendiri.
Dia harus bergabung dengan salah satu komunitas All About Us secara terpaksa.
"Ayolah Ken, jangan marah dulu. Ini perintah Arif bukan kemauan ku."
Ibnu memohon pada Ken agar si gadis mungil yang berada di hadapannya tidak marah lagi.
"Aku kan tidak tahu bagaimana caranya memakai pistol."
Ken cemberut, amatiran seperti dirinya mana bisa memakai pistol.
"Aku kan sudah memberi tahu mu, Ken.."
Ibnu memberikan tas pada Ken.
"Di tas itu ada senjata milikmu, semua sudah ku siapkan. Dan sudah di pastikan akan lolos dari pemeriksaan keamanan di Mall itu."
Ibnu melihat Ken yang sedang memakai sepatu. Ibnu tersenyum, gadis mungil ini walaupun terlihat tidak suka tapi tetap dilakukan walaupun terpaksa.
"Setelah tugas mu selesai, aku akan mentraktirmu."
Ibnu berjanji pada Ken dan berharap Ken tidak marah.
"Traktir makan??? Kamu serius om?"
Ken bangkit dari tempat ia duduk dan menatap Ibnu dengan penuh semangat.
"Iya Ken serius. Nah sekarang segera berangkat ke blok m tempat dimana target akan berkumpul dengan temannya." perintah Ibnu.
"Baiklah."
Ken pergi meninggalkan Ibnu dengan perasaan riang sebab akan di traktir oleh Ibnu.
Ibnu mengambil handphonenya, "Arif, Ken sudah jalan ke tempat tujuan."
****
Diubah oleh schilfouts 19-11-2016 00:23
0