- Beranda
- Stories from the Heart
Greg and the Apocalypse
...
TS
RadeonHD4670
Greg and the Apocalypse
Welcooome 

Spoiler for baca dulu ini:
- Sebelumnya, ane minta izin kepada mimin, momod dan warga SFTH yang sejahtera. Semoga bacaan ane ini bisa dinikmati sambil ngopi

- Cerita ini juga ane tulis di mari Greg and the Apocalypse
- Di update berkala
- Nama ane pakai nama temen-temen ane dan beberapa ada nama samaran.
- Cerita murni fiktif dan murni dari pikiran ane sendiri.
===============================================================
Spoiler for Malam Pertama:
Memang, padam listrik tengah malam adalah hal yang sangat menjengkelkan. Walaupun saat malam adalah saat untuk beristirahat, tidak demikian untuk pemuda–pemuda yang doyan begadang hingga larut malam ini. Biasanya, pemuda-pemuda ini menghabiskan waktu begadang dengan bermain DotA 2. Greg, Djohan, Ipan, Indra dan Bobi adalah sekumpulan pemuda-pemuda yang menghabiskan hampir separuh harinya untuk bermain Game. Tapi, malam ini terasa berbeda karena padamnya listrik di daerah mereka. Malam yang biasanya terasa ‘sibuk’ di rumah tersebut, sekarang menjadi sunyi. Masing-masing hanya sibuk dengan smartphone yang dimiliki. Ada yang sibuk chat dengan gebetan, ada yang bermain game, ada juga yang hanya men-scroll news feed Facebook. Padahal, setengah jam yang lalu mereka masih sangat asyik bermain bersama. Semua tidak mengira jika malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Tiba-tiba, tedengar suara gaduh dari arah jalan raya yang terletak sekitar 15 meter dari rumah Greg.
“Apaan, tuh? Kayaknya rame banget di jalan.” tanya Ipan heran.
“Iya, gw juga denger. Djo, coba cek sana ke jalan. Takut ada perang aja.” sahut Ipan.
“Oke, bang. Meluncur!” Djohan pun bergegas lari ke jalan raya menanggapi permintaan Ipan.
Selang 10 menit, Djohan tidak kunjung kembali dari jalan. Greg mulai merasa heran, ia mencoba mengintip dari teras rumah. Ia tidak melihat apapun, semua menjadi sepi.
“Waduh, kayanya ada yang gak beres. Kita mesti nyusul, nih.” ajak Greg.
“Ayo, dah. Sambil jalan-jalan aja kayanya, daripada nunggu gak nyala-nyala ini listrik.”
Mereka ber-empat pun turut turun ke jalan untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Dari kejauhan, suara ribut yang tadinya terdengar menjadi hilang bak di telan bumi. Dan sesampainya di jalan, Greg dan teman-temannya terkejut dengan apa yang mereka lihat. Ada mayat… Tidak, banyak mayat bergelimpangan. Suasana sangat kacau, banyak kendaraan yang bertabrakan dengan kendaraan lainnya. Semua berserakan seperti habis terjadi kerusuhan hebat. Keempat pemuda tersebut tediam dan bingung. Tidak hanya bingung dengan apa yang mereka lihat, namun mereka juga tidak menemukan dimana teman mereka, Djohan berada. Entah berada di antara mayat-mayat yange bergelimpangan, ataupun dimana. Mereka tidak mempunyai petunjuk.
“Ini…. ada apaan, nih?” sambil terheran, Bobi berkata.
“Djo!! Djohan!!” Ipan berteriak memanggil temannya. Dan tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara rintihan. Arahnya dari balik pohon yang terletak tidak jauh dari mereka. Greg bergegas lari ke arah asalnya suara tersebut. Dan ia menemukan Djohan terduduk tak berdaya di balik sebuah pohon mahoni. Kaki kanannya terkilir sehingga ia tidak bisa berjalan.
“Lu kenapa, djo? Kok bisa gini?” tanya Indra heran.
“Tadi pas saya kesitu, saya kan liat rame-rame orang lari ketakutan. Kaya dikejar gitu, tapi gak tau apaan yang ngejar. Pas saya melangkah sedikit, dari arah kanan ada orang yang nyenggol kaki saya, dan kami jatuh. Orang yang nabrak bangun lagi terus lari. Tapi saya gak bisa bangun, kaki saya kayanya terkilir. Jadi saya merangkak aja ngumpet di balik pohon.” Djohan menceritakan apa yang ia alami.
Ketika semuanya sedang fokus dengan pengakuan Djohan, dari arah belakang mereka terdengar suara seseorang menggeram.
Sontak mereka berlima terdiam karena mendengar suara geram seseorang dari arah belakang. Greg memberanikan diri menengok ke belakang dengan perlahan, sambil tangan kanannya memegang batu yang berada di tanah.
Dilihatnya sesosok berwajah kacau nan seram. Terlihat kepalanya miring dan jalannya yang aneh. Keluar tetesan darah dari mulut dan hidung sosok tersebut. Persis seperti yang biasa Greg lihat di Film-film ataupun Game. Sosok tersebut adalah sosok Zombie.
“Guys… lo pada percaya Zombie gak?” tanya Greg kepada teman-temannya sambil menoleh kebelakang.
“Di hitungan ketiga, gw saranin kita lari.”
“Tapi, saya gimana bang?” tanya Djohan memelas. Greg hampir lupa kalau kaki kanan Djohan terkilir sehingga tidak mungkin ia ikut melarikan diri bersama.
“
“Kalo kata gw, lo lawan aja, Greg. Lo lempar batu ke kepalanya, terus bikin sibuk deh.” Ipan mencoba memberikan saran.
“Gila lu, masa gw yang di korbanin?” Greg seketika menyela.
Namun, terlihat sosok Zombie tersebut semakin jalan mendekat ke arah mereka. Suara geramannya membuat suasana semakin mencekam dan horror.
“DUAK!” Bobi melempar sebongkah batu bata tepat ke arah sosok Zombie tersebut. Seketika sosok Zombie tersebut jatuh tersungkur.
“Bah! Gila lu, Bob. Pas banget. Ayo, kita angkat Djohan terus balik ke rumah. Cepetan!”
“Tahan ya, Djo. Kita angkat lu nih.” sahut Greg sambil mulai mengangkat bahu Djohan.
Sementara Bobi dan Indra masih mengawasi Zombie yang tadi tersungkur. Walau tersungkur, ternyata Zombie ini masih bergerak. Bobi dan Indra memikirkan cara untuk membunuh Zombie ini.
“Bob, lu kan doyan liat video-video sadis di Youtube, masa gak ngerti sih bunuh ginian doing?” tanya Indra kepada Bobi.
“Ya gw kan sering liatnya udah ancur gitu. Kalo prosesnya gw gak ngerti.” sahut Bobi. Memang Bobi disini ternyata senang menonton video dengan unsur sadis ataupun gore. Bobi mulai beranjak mencari sesuatu yang bisa benar-benar membunuh Zombie tadi.
Hingga ujung jalan, akhirnya Bobi menemukan sebuah ranting kayu sepanjang sekitar 1 meter dengan diameter seukuran diameter sebuah stik drum. Dibawa lah ranting tersebut kembali ke tempat Zombie yang masih tergeletak. Dengan berani, Bobi arahkan ujung kayu tersebut ke kepala Zombie dan langsung menancapkan tepat ke bagian kanan kepala hingga menghujam sekitar beberapa inci. Dengan perasaan lega, Bobi bergumam kepada Indra.
“Dari dulu gua udah nantiin saat ini. Ha Ha Ha Ha.” Terlihat wajah Bobi yang sangat bahagia setelah membunuh Zombie tersebut. Tak dipungkiri, kebiasaan Bobi menonton video sadis memang ada gunanya. Apalagi di saat seperti ini. Sementara Greg dan Ipan sudah kembali memboyong Djohan kembali ke rumah. Ipan mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan fitur flashlight untuk memeriksa kaki Djohan. Terlihat ada lebam di sekitar mata kaki Djohan dan juga sedikit lecet akibat terjatuh. Dengan begini, mobilitas Djohan akan terbatas. Di pikiran Greg hanya terlintas bagaimana cara untuk bertahan di tengah keadaan yang seperti ini. Keadaan kacau seperti di sebuah Film.
“Sekarang bagusnya kita ngapain? Cari bantuan? Kemana?” tanya Greg
“Coba gw cek BBM dulu, pasti ada info kalo emang masih banyak yang bertahan.” jawab Ipan sambil men-scroll ponselnya. Namun nihil, karena jaringan internet saat ini mengalami gangguan. Entah penyebabnya karena kekacauan ini atau hal lain. Yang jelas, keadaan semakin darurat. Mereka tidak mempunyai petunjuk sama sekali.
“Djo, hape lu banyak pulsa, kan? Gue pinjem buat telpon, ya? Pulsa gw abis.” pinta Greg kepada Djohan. Ia berencana mencoba menghubungi teman ataupun keluarganya yang lain. Sementara Ipan juga mencoba menghubungi keluarga serta pacarnya.
“Halo? Mas?” Greg terlihat mendapat jawaban. Yang Greg hubungi adalah Sepupunya, Karjo. Beda halnya dengan Ipan, berkali-kali ia menghubungi orang-orang terdekatnya. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Wajahnya mulai lusuh.
“Sabar, bang. Saya yakin mereka baik-baik aja.” Djohan berusaha menghibur Ipan.
“Iya, Djo..” sahut Ipan.
“Woi, Mas Karjo masih selamet, nih! Dia sendiri dirumah. Keluarga yang lain masih di luar kota.” Teriak Greg.
“Terus? Kita nyusul?” tanya Ipan
“Iya. Rencana gue, kita kumpulin orang-orang dulu, nanti kita cari tempat buat berlindung.” jawab Greg antusias. Dari kejauhan, Bobi dan Indra pun kembali dari jalan dan Bobi langsung menanggapi rencana Greg. “Ide bagus, gue ikut lo.”
“Saya juga.” sahut Indra.
“Tapi, Djohan gimana?”
“Djohan biar disini dulu aja ngumpet. Kalau ada apa-apa, dia bisa telepon kita nanti. Yang penting, kita susul Mas Karjo dulu. Setelah itu, kita kembali kesini dan nanti kita mulai cari pasukan lagi.” Greg memberi saran kepada teman-temannya.
“Lu gak apa-apa disini? Tenang, yang penting lu ngumpet aja di dalem, jangan buat suara sampe kita semua kembali.” tanya Ipan kepada Djohan.
“Yaudah, deh. Saya coba. Saya juga gak punya pilihan. Yang penting, abang-abang sekalian balik lagi.” jawab Djohan kepada yang lain. Sementara Ipan mulai memboyong Djohan ke dalam rumah. Greg terdiam sejenak, terlintas di pikirannya apa yang sebenarnya terjadi. Apa penyebab semua ini dan dimana semua ini berasal. Benar-benar tidak terpikir sedikitpun hal seperti ini akan terjadi, apalagi di kota dimana Greg berasal. Rasanya seperti didalam mimpi saja.
Ipan dan Bobi mulai menyalakan motor mereka masing-masing. Ipan membonceng Greg, sementara Bobi membonceng Indra.
“Djo, tunggu disini! Kita akan kembali, tenang aja!” teriak Greg seraya motor mulai melaju menuju tempat Karjo tinggal. Di sepanjang jalan, hanya ada pemandangan yang kacau yang terlihat. Mobil dan motor hancur, ada juga yang masih terbakar mengeluarkan asap. Serta ada beberapa Zombie yang telah melahap seonggok mayat. Suasana yang sangat mencekam dan tidak terbayangkan sebelumnya.
“Pan, lu pernah bayangin bakal nya jadi gini?” tanya Greg kepada Ipan
“Sama sekali nggak. Gue tuh cuma bayangin malem ini kita bisa MMR-an sampe pagi.” sahut Ipan sambil memacu motornya dengan kecepatan lumayan kencang. Sementara Bobi dan Indra mengikuti dari belakang. Rencana mereka tadinya memang hanya ingin bermain Dota 2 hingga pagi, karena malam ini adalah malam Sabtu, yang artinya esok adalah weekend. Tapi kenyataannya tidak terbayang, mereka akan memulai petualangan baru di hidup mereka. Petualangan hidup dan mati.
Setelah hampir selama 5 menit, mereka akhirnya sampai. Letak rumah Greg dan Karjo memang tidak begitu jauh. Hanya beda 2 kelurahan saja. Tampak dirumah ini juga terjadi padam listrik. Sepertinya listrik di kota ini memang padam total. Sebab, di sepanjang jalan tadi tidak ada satupun rumah atau bangunan yang menunjukkan listrik menyala. Greg mulai memanggil Karjo dari luar, “Maaas! Udah nyampe, nih!”
Pintu depan rumah Karjo pun terbuka pelan. Namun, yang keluar ternyata hanya hanya seekor kucing persia milik Karjo. Sementara ada sosok tinggi yang berada di belakang kucing tersebut. “Mas?” Greg berusaha memanggil sosok tersebut, karena keadaan yang sangat gelap, tidak terlihat siapa sebenarnya sosok tersebut. Tidak lama, sosok tersebut menyahut dengan suara rendah, “Udah sampe aja, dikira gak jadi kesini.” Ternyata sosok tersebut adalah Karjo, Greg dan yang lainnya sudah mengira bahwa itu adalah sosok Zombie yang lain. Mereka pun beranjak masuk rumah Karjo dan segera menutup pintu.
“Jadi, disini gimana keadaannya mas?” tanya Greg.
“Sepi-sepi aja tuh. Emang ada apaan, sih? Karjo bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Tadi sih kaya ada ribut sebentar, abis itu sepi lagi. Di komplek sini rasanya sepi-sepi aja.”
“Ikut sini keluar, liat yg sebenernya.” ajak Greg. Karjo pun mengikuti Greg ke luar rumah, dan melihat kekacauan yang tengah terjadi.
“Bu...set.....” Karjo terkejut dengan keadaan kacau yang dilihatnya. “Ini sih, namanya Apocalypse.”
“Nah, makanya. Saya ada rencana nih, Mas. Kaya Walking Dead gitu.” kata Greg kepada Karjo. Ia pun mulai menjelaskan rencana yang telah dipikirkannya. Rencananya adalah mengumpulkan orang terdekat yang masih selamat, lalu bersama-sama mencari tempat yang sangat jauh untuk menetap hingga keadaan normal. Tentu saja rencana ini akan menjadi rencana yang sangat beresiko dan membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat lama.
“Abis dari sini, kita balik dulu ke rumah gue untuk jemput Djohan. Abis itu, kita hubungi yang masih bisa di hubungi dan selamat aja. Abis itu, kita tentuin tempat yang bakal kita tuju. Pada setuju?” tanya Greg kepada teman-temannya.
“Gue ama Indra setuju.” sahut Bobi
“Gue juga. Kalo ketemu Zombie lagi, gue bakal hajar ampe mati!” jawab Ipan antusias.
“Boleh deh.” Karjo ikut setuju dengan rencana Greg.
Di jalan kembali menuju rumah Greg, mereka melintasi rumah seorang teman. Yaitu, Projo. Rumah Projo tidak terlalu jauh dengan rumah Karjo. Greg dan Ipan yang berada di paling depan rombongan konvoi pun belok ke rumah Projo. Sementara yang lain tetap mengikuti.
Greg turun dari motor dan mulai mengetuk pintu garasi Projo, berusaha memanggil apa ada seseorang di dalam sini. Sampai sekitar lima menit, tidak kunjung ada tanda-tanda kehidupan dari rumah tersebut. Greg pun menyuruh Ipan untuk mencoba menghubunginya via ponsel.
Ipan berulang kali mencoba menghubungi nomor Projo, namun tidak ada jawaban. Mereka cemas karena kemungkinan besar Projo ataupun keluarganya tidak selamat. Mendapati tidak adanya kabar dari Projo, mereka bergegas melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah Greg. Baru sebentar mereka berjalan, ada sekawanan Zombie yang menghadang. Jumlahnya ada 4. Kali ini mereka tidak bisa lolos, karena walaupun ingin memutar arah dan mengambil jalan lain, hal itu tidak mungkin. Karena jalan sebagian besar tertutup oleh mobil-mobil yang hancur. Tidak ada jalan lain kecuali melawan 4 Zombie ini.
“Guys, kita gak punya pilihan. Kita harus lawan. Jumlah kita 5, masing-masing lawan 1 Zombie kecuali Indra dan Bobi. Kalian berdua melawan 1 Zombie.” Greg memberi saran kepada teman-temannya.
“Oke! Ayo, Bob. Hajar!” Indra dan Bobi bergegas maju dan melawan salah satu Zombie. Sementara yang lain mengikuti dan menghajar masing-masing Zombie. Greg langsung mengambil sebuah pecahan kaca mobil yang tergeletak dan langsung menghujam leher Zombie. “Mati kau!!” 1 Zombie telah jatuh. Di sisi lain, Ipan dalam keadaan yang terdesak. Ia hanya bisa menahan leher Zombie dengan pergelangan tangannya agar si Zombie tidak bisa menggigit bagian tubuh Ipan.
~
Di rumah Greg, Djohan masih berusaha bertahan sendirian dengan memegang sebilah mandau yang biasa menjadi hiasan kamar Greg. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya jika tiba-tiba ada Zombie menyerang, sedangkan kondisi kakinya tidak memungkinkan untuk melawan ataupun melarikan diri. Hanya perasaan sangat cemas yang saat ini ia rasakan. Sudah satu jam lebih lamanya, sejak teman-temannya pergi untuk menyusul Karjo. Tidak pula ada tanda-tanda bahwa mereka akan kembali. Tiba-tiba dari kejauhan, ada suara motor yang mendekat. Djohan ingin mencoba mengintip siapa yang sebenarnya datang. Sayangnya untuk berdiri sendiri, ia kali ini tidak bisa. Suara motor itu semakin dekat hingga akhirnya tiba di depan rumah. Yang kali ini muncul adalah Yaumu. Namun ia tidak melihat ada tanda-tanda seseorang yang muncul dari dalam rumah Greg. “Siapa itu?!” dari dalam rumah, terdengar suara Djohan yang berteriak. “Saya disini, toloong!”
Yaumu beranjak dari motornya dan mulai masuk ke dalam rumah Greg. “Oh, elu. Gue kira siapa.” “Mana yang lain?” tanya Yaumu seraya mengarahkan flashlight ponselnya ke arah wajah Djohan.
“Bang, silau bang.” sahut Djohan.
“Eh, iya lupa. Maap Djo, sengaja.” jawab Yaumu sambil tertawa.
“Tadi Bang Greg, Bang Bobi, Bang Indra ama Bang Ipan lagi nyusul Mas Karjo, kelihatannya masih selamet dia. Abang sendiri kok bisa selamet?” tanya Djohan.
“Gue tadinya emang mau kesini, tapi gue mampir dulu ke Betamart. Terus tiba-tiba listrik mati. Akhirnya gue gak jadi belanja, gue cabut langsung. Tapi pas di jalan, gue liat ada rame-rame gitu rusuh. Pemandangannya serem banget, Djo. Gue liat ada yang di makan Zombie. Ada mobil tabrakan ama motor, tapi yang naik mobil ternyata Zombie. Pokoknya serem banget. Akhirnya gue langsung gas aja motor. Tapi gue ambil jalan aman yang sepi sampe akhirnya kesini.” kata Yaumu dengan antusias menceritakan kejadian tadi.
“Oh, gitu. Tapi abang beruntung ya, gak ketangkep ama Zombie.” jawab Djohan.
“Lu kenapa gak ikut yang lain?” tanya Yaumu.
“Kaki saya terkilir jadi gak bisa jalan, bang. Jadi saya ditinggal disini.” jawab Djohan sambil mengelus-elus kakinya yang terkilir.
“Sedih amat.” jawab Yaumu.
~
Indra mengambil perhatian Zombie sementara Bobi bersiap menabrakan motornya ke si Zombie dengan kecepatan penuh.
“Bruak!”
Bobi berhasil melindas kaki Zombie hingga jatuh tidak berdaya. Ia pun memundurkan motornya lagi hingga jarak yang lumayan jauh. Yang dia arahkan sekarang adalah melindas kepala si Zombie. Setelah mengambil posisi yang tepat, Bobi mulai memainkan gasnya dan mulai melaju. Dengan kecepatan seperti itu, kepala Zombie tadi langsung hancur terlindas motor yang di kendarai Bobi.
“Ha ha ha ha ha. Keren gak, Dra?” sahut Bobi kepada Indra sambil tertawa lepas.
“Dasar psikopat. Takut gue temenan ama lu” jawab Indra sambil melihat tubuh Zombie yang kepalanya hancur.
update di post #2
update lanjutan di post #14
update 2nd chapter di post #15
update 2nd chapter lanjutan di post #19
update 2nd chapter lanjutan di post #20
update 2nd chapter lanjutan di post #21
Diubah oleh RadeonHD4670 20-11-2016 17:54
anasabila memberi reputasi
1
2.8K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
RadeonHD4670
#19
update lageee~
Dari kegelapan, muncul seseorang dan langsung memegang tangan kanan Greg. Greg terkejut dan langsung melayangkan kapak yang ada di tangan kirinya. Namun seseorang tersebut langsung menahan tangan Greg. Ternyata seseorang tersebut adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut saat masih beroperasi.
“Siapa anda?!” tanya Greg.
“Saya dokter disini.” jawab Dokter itu.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Greg lagi.
“Aku bisa jelaskan. Tapi ikut aku.” ujar si dokter.
“Kemana?” jawab Greg.
“Ikuti saja.” kata dokter itu sambil menarik Greg.
Diajaklah Greg kesuatu tempat di dalam area rumah sakit tersebut. Mereka memasuki sebuah ruang isolasi yang terlihat remang-remang. Ternyata listrik menyala di ruang isolasi tersebut yang berasal dari sebuah genset. Setelah berada di dalam, sang dokter langsung menutup rapat-rapat dan mengunci pintu ruang isolasi dari dalam. Ia mulai menjelaskan maksud tujuan ia meminta bantuan Greg.
“Jadi, apa sebenarnya tujuan anda?” ujar Greg.
“Anda lihat situasi di luar sana? Anda lihat makhluk-makhluk itu?” dokter itu bertanya balik.
“Ya. Saya melihatnya.” jawab Greg.
“Itu semua adalah hasil kesalahan rumah sakit ini. Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang membawa pasien dengan penyakit aneh. Ketika tiba di rumah sakit ini, tubuh pasien tersebut kejang-kejang dan banyak luka yang telah membusuk. Kami mencoba melakukan pertolongan pertama, karena awalnya kami pikir pasien ini korban tabrak lari ataupun kekerasan.” ujar dokter itu.
“Lalu, apa kesalahannya?” tanya Greg.
“Segala cara telah kami lakukan, namun nihil. Akhirnya pasien tersebut tidak bernafas lagi. Setelah itu, saya mencoba menghubungi seseorang yang telah membawa pasien tersebut. Namun orang itu hilang. Kami pun memutuskan untuk menyimpan jenazah pasien tadi di ruang pendingin jenazah. Tapi ketika kami akan memasukan jenazah itu ke ruang pendingin, jenazah itu terbangun. Lalu seorang perawat terkejut dan mencoba menjauhi jenazah itu. Namun jenazah itu mengamuk dan menggigit leher perawat itu.” ujar dokter itu sambil memerhatikan jendela.
“Jadi, semua ini berawal dari pasien itu?” tanya Greg lagi.
“Ya. Kami juga berasumsi seperti itu. Perawat yang terkena gigitan pasien itu juga berubah seperti pasien tersebut. Dan semuanya menyebar dengan cepat karena tidak ada seorang pun yang menduganya. Dan kami menyesal karena tidak sempat mendiagnosa pasien tersebut. Seluruh rekan-rekanku ikut terserang. Tidak ada satupun yang selamat. Melihat kejadian seperti itu, aku langsung menyelamatkan diri dan bersembunyi di ruangan ini selama berhari-hari hingga aku mendengar suaramu dan temanmu tadi.” ujar dokter tersebut.
“Ah, iya. Aku mengerti sekarang. Lagipula, aku juga punya tujuan tersendiri mengapa aku dan teman-teman ku datang kesini.” jawab Greg.
“Apa tujuanmu?” tanya dokter itu.
“Aku meminta donor darah untuk saudara ku. Ia terkena gigitan di tangan kirinya, namun untuk mencegah infeksi menyebar, tangan kirinya itu dipotong. Sehingga ia kehilangan banyak darah.” jawab Greg.
“Aku bisa membantumu. Aku akan cari sisa darah yang tersedia. Tapi aku harus memeriksa apa darahnya cocok dengan darah yang masih tersedia di sini.” ujar dokter itu.
“Baiklah. Aku akan menyusul mereka. Aku juga merasakan mereka dalam bahaya.” jawab Greg.
Dengan ayunan yang sangat kuat, Bobi menghantamkan kapaknya ke bokong Zombie besar itu. Zombie itu bereaksi dan memegangi bokongnya. Terlihat luka yang lumayan besar, Zombie itu kesakitan. Sementara dari berbagai arah, Zombie-zombie mulai berdatangan. Djohan yang kakinya masih sedikit sakit, nekat turun dan langsung membantu yang lainnya. Dari dalam, Yaumu berteriak dan memperingati Djohan, “Djo! Lu kan gak bawa apa-apa!” katanya.
“Tenang, bang! Saya bawa ini!” teriak Djohan sambil mengeluarkan mandau yang ternyata Ia bawa sejak dari rumah Greg.
Djohan langsung bergabung dengan yang lainnya untuk membantu. “Djo! Lu ama Indra lawan Zombie yang pada dateng aja, biar gue ama Bobi dan Ipan yang ngurus Zombie jumbo ini!” kata Projo. Djohan mendengarkan perintah itu sambil bersiap dengan Zombie-zombie yang berdatangan. Projo mencoba mengarahkan tembakan yang ke-empat ke arah kepala Zombie besar itu. Kali ini Ia berusaha untuk tenang agar tidak meleset lagi.
Tembakan ke-empat pun keluar. Akhirnya sebuah peluru bersarang di samping leher Zombie besar itu. Sang Zombie besar yang sadar tembakan itu langsung memegang lehernya dan terdiam. Bobi, Ipan dan Projo juga terdiam. “Mati? Mati gak nih?” bisik Ipan yang masih berdiri di hadapan Zombie besar itu bersama Bobi. Bobi tidak tinggal diam, Ia mengambil kesempatan Zombie yang terdiam itu dengan melayangkan lagi kapaknya tepat ke perut Zombie besar itu. Zombie itu mulai ambruk, tubuhnya jatuh ke depan. Ipan dan Bobi yang berada di depannya, langsung berlari menghindar. Setelah jatuh tengkurap, Bobi melayangkan lagi kapaknya. Kali ini Ia menghajar nya berkali-kali. Hingga kepala Zombie itu hancur tak terbentuk.
“Sadis. Gue gak mau liat.” ujar Ipan yang berada di dekat Bobi.
“Hajar, Bob! Bantai!!” teriak Projo.
“Ha ha ha ha ha” Bobi terlihat puas seperti biasanya.
Indra mulai melayangkan tebasan pertamanya ke kepala salah satu Zombie yang berdatangan. Satu Zombie rubuh. Begitu juga Djohan yang berhasil merubuhkan satu Zombie lainnya. “Djo, taruhan lah. Yang paling banyak bunuh Zombie, ditraktir.” ujar Indra. “Ayo, bang. Siapa takut?” jawab Djohan dengan semangat. Mereka berdua pun langsung menghajar Zombie satu-persatu.
Dari dalam rumah sakit, terlihat Greg dan sang dokter muncul. Merisa yang melihat itu langsung berteriak dan memanggil, “Greg! Syukurlah kamu selamat!”
Begitu pula dengan Projo dan yang lainnya, mereka menyadari kedatangan Greg dan seseorang di sampingnya. Merisa bergegas turun dan langsung berlari menuju Greg dan memegang tangan Greg.
“Kamu, gak apa-apa kan?” tanya Merisa sambil melihat-lihat luka yang ada di sekujur tubuh Greg.
“Tenang. Gak apa-apa, kok.” jawab Greg sambil mengacungkan jempolnya.
“Ini, siapa?” tanya Merisa.
“Oh, maaf. Perkenalkan, saya Dr. Joni.” ujar si dokter memperkenalkan diri.
“Iya, ini dokter Joni. Katanya dia bisa ngebantu ngobatin mas Karjo.” sahut Greg.
“Betul. Saya bisa membantu teman kalian yang terluka.” kata dokter Joni.
Sementara dari kejauhan, Indra dan Djohan masih sibuk menghajar kerumunan Zombie yang datang. Mereka mulai kelelahan dan mulai berteriak meminta bantuan. “Woi! Bantuin sini!”teriak Indra. Bobi yang mendengar itu langsung berlari ke arah Indra diikuti Projo dan Ipan. Dengan sigap, mereka membantai habis Zombie-zombie yang tersisa. Tidak ada insiden yang berarti kali ini, hanya saja mereka kelelahan karena banyaknya Zombie yang berdatangan. Terdapat puluhan Zombie tergeletak di antara mereka. Suasana kembali sepi dan mencekam. Mereka berlima pun kembali ke dekat mobil mereka, dimana yang lainnya masih berada. Dr. Joni menyarankan agar Karjo dibawa ke dalam area rumah sakit untuk diperiksa darahnya dan supaya bisa langsung didonorkan darahnya.
“Mas, masih kuat jalan?” tanya Greg.
“Masih, kok.” jawab Karjo sambil mulai berdiri.
“Ayo, ikutin dokter Joni biar semuanya dia yang urus.” ajak Greg.
Greg dan Projo pun membantu Karjo yang masih lemas itu untuk berjalan dan mengikuti Dr. Joni ke dalam area rumah sakit. Ipan menyalakan kembali flashlight di ponselnya agar jalan yang mereka lalui bisa terlihat. Sementara mereka yang habis bertarung habis-habisan juga terlihat lemas dan haus. “Mu, lu kan gak ngapa-ngapain tadi, ambilin minuman di mobil, dong. Buat semuanya,nih.” ujar Ipan kepada Yaumu. Dan Yaumu pun langsung berbalik arah kembali ke mobil untuk mengambil minuman.
Setelah sampai disuatu ruangan, Karjo disuruh berbaring untuk di ambil darahnya dan di cek oleh Dr. Joni. Setelah dicek, Dr. Joni langsung mencari sisa darah yang cocok untuk didonorkan kepada Karjo. Dr. Joni pun menemukan ada satu kantong darah yang cocok dengan Karjo dan langsung menyalurkannya ke tubuh Karjo.
Yaumu yang tidak kunjung kembali dari mobil sejak setengah jam yang lalu membuat Greg khawatir.
Spoiler for Let's fight together -lanjutan 2-:
Dari kegelapan, muncul seseorang dan langsung memegang tangan kanan Greg. Greg terkejut dan langsung melayangkan kapak yang ada di tangan kirinya. Namun seseorang tersebut langsung menahan tangan Greg. Ternyata seseorang tersebut adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut saat masih beroperasi.
“Siapa anda?!” tanya Greg.
“Saya dokter disini.” jawab Dokter itu.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Greg lagi.
“Aku bisa jelaskan. Tapi ikut aku.” ujar si dokter.
“Kemana?” jawab Greg.
“Ikuti saja.” kata dokter itu sambil menarik Greg.
Diajaklah Greg kesuatu tempat di dalam area rumah sakit tersebut. Mereka memasuki sebuah ruang isolasi yang terlihat remang-remang. Ternyata listrik menyala di ruang isolasi tersebut yang berasal dari sebuah genset. Setelah berada di dalam, sang dokter langsung menutup rapat-rapat dan mengunci pintu ruang isolasi dari dalam. Ia mulai menjelaskan maksud tujuan ia meminta bantuan Greg.
“Jadi, apa sebenarnya tujuan anda?” ujar Greg.
“Anda lihat situasi di luar sana? Anda lihat makhluk-makhluk itu?” dokter itu bertanya balik.
“Ya. Saya melihatnya.” jawab Greg.
“Itu semua adalah hasil kesalahan rumah sakit ini. Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang membawa pasien dengan penyakit aneh. Ketika tiba di rumah sakit ini, tubuh pasien tersebut kejang-kejang dan banyak luka yang telah membusuk. Kami mencoba melakukan pertolongan pertama, karena awalnya kami pikir pasien ini korban tabrak lari ataupun kekerasan.” ujar dokter itu.
“Lalu, apa kesalahannya?” tanya Greg.
“Segala cara telah kami lakukan, namun nihil. Akhirnya pasien tersebut tidak bernafas lagi. Setelah itu, saya mencoba menghubungi seseorang yang telah membawa pasien tersebut. Namun orang itu hilang. Kami pun memutuskan untuk menyimpan jenazah pasien tadi di ruang pendingin jenazah. Tapi ketika kami akan memasukan jenazah itu ke ruang pendingin, jenazah itu terbangun. Lalu seorang perawat terkejut dan mencoba menjauhi jenazah itu. Namun jenazah itu mengamuk dan menggigit leher perawat itu.” ujar dokter itu sambil memerhatikan jendela.
“Jadi, semua ini berawal dari pasien itu?” tanya Greg lagi.
“Ya. Kami juga berasumsi seperti itu. Perawat yang terkena gigitan pasien itu juga berubah seperti pasien tersebut. Dan semuanya menyebar dengan cepat karena tidak ada seorang pun yang menduganya. Dan kami menyesal karena tidak sempat mendiagnosa pasien tersebut. Seluruh rekan-rekanku ikut terserang. Tidak ada satupun yang selamat. Melihat kejadian seperti itu, aku langsung menyelamatkan diri dan bersembunyi di ruangan ini selama berhari-hari hingga aku mendengar suaramu dan temanmu tadi.” ujar dokter tersebut.
“Ah, iya. Aku mengerti sekarang. Lagipula, aku juga punya tujuan tersendiri mengapa aku dan teman-teman ku datang kesini.” jawab Greg.
“Apa tujuanmu?” tanya dokter itu.
“Aku meminta donor darah untuk saudara ku. Ia terkena gigitan di tangan kirinya, namun untuk mencegah infeksi menyebar, tangan kirinya itu dipotong. Sehingga ia kehilangan banyak darah.” jawab Greg.
“Aku bisa membantumu. Aku akan cari sisa darah yang tersedia. Tapi aku harus memeriksa apa darahnya cocok dengan darah yang masih tersedia di sini.” ujar dokter itu.
“Baiklah. Aku akan menyusul mereka. Aku juga merasakan mereka dalam bahaya.” jawab Greg.
Dengan ayunan yang sangat kuat, Bobi menghantamkan kapaknya ke bokong Zombie besar itu. Zombie itu bereaksi dan memegangi bokongnya. Terlihat luka yang lumayan besar, Zombie itu kesakitan. Sementara dari berbagai arah, Zombie-zombie mulai berdatangan. Djohan yang kakinya masih sedikit sakit, nekat turun dan langsung membantu yang lainnya. Dari dalam, Yaumu berteriak dan memperingati Djohan, “Djo! Lu kan gak bawa apa-apa!” katanya.
“Tenang, bang! Saya bawa ini!” teriak Djohan sambil mengeluarkan mandau yang ternyata Ia bawa sejak dari rumah Greg.
Djohan langsung bergabung dengan yang lainnya untuk membantu. “Djo! Lu ama Indra lawan Zombie yang pada dateng aja, biar gue ama Bobi dan Ipan yang ngurus Zombie jumbo ini!” kata Projo. Djohan mendengarkan perintah itu sambil bersiap dengan Zombie-zombie yang berdatangan. Projo mencoba mengarahkan tembakan yang ke-empat ke arah kepala Zombie besar itu. Kali ini Ia berusaha untuk tenang agar tidak meleset lagi.
Tembakan ke-empat pun keluar. Akhirnya sebuah peluru bersarang di samping leher Zombie besar itu. Sang Zombie besar yang sadar tembakan itu langsung memegang lehernya dan terdiam. Bobi, Ipan dan Projo juga terdiam. “Mati? Mati gak nih?” bisik Ipan yang masih berdiri di hadapan Zombie besar itu bersama Bobi. Bobi tidak tinggal diam, Ia mengambil kesempatan Zombie yang terdiam itu dengan melayangkan lagi kapaknya tepat ke perut Zombie besar itu. Zombie itu mulai ambruk, tubuhnya jatuh ke depan. Ipan dan Bobi yang berada di depannya, langsung berlari menghindar. Setelah jatuh tengkurap, Bobi melayangkan lagi kapaknya. Kali ini Ia menghajar nya berkali-kali. Hingga kepala Zombie itu hancur tak terbentuk.
“Sadis. Gue gak mau liat.” ujar Ipan yang berada di dekat Bobi.
“Hajar, Bob! Bantai!!” teriak Projo.
“Ha ha ha ha ha” Bobi terlihat puas seperti biasanya.
Indra mulai melayangkan tebasan pertamanya ke kepala salah satu Zombie yang berdatangan. Satu Zombie rubuh. Begitu juga Djohan yang berhasil merubuhkan satu Zombie lainnya. “Djo, taruhan lah. Yang paling banyak bunuh Zombie, ditraktir.” ujar Indra. “Ayo, bang. Siapa takut?” jawab Djohan dengan semangat. Mereka berdua pun langsung menghajar Zombie satu-persatu.
Dari dalam rumah sakit, terlihat Greg dan sang dokter muncul. Merisa yang melihat itu langsung berteriak dan memanggil, “Greg! Syukurlah kamu selamat!”
Begitu pula dengan Projo dan yang lainnya, mereka menyadari kedatangan Greg dan seseorang di sampingnya. Merisa bergegas turun dan langsung berlari menuju Greg dan memegang tangan Greg.
“Kamu, gak apa-apa kan?” tanya Merisa sambil melihat-lihat luka yang ada di sekujur tubuh Greg.
“Tenang. Gak apa-apa, kok.” jawab Greg sambil mengacungkan jempolnya.
“Ini, siapa?” tanya Merisa.
“Oh, maaf. Perkenalkan, saya Dr. Joni.” ujar si dokter memperkenalkan diri.
“Iya, ini dokter Joni. Katanya dia bisa ngebantu ngobatin mas Karjo.” sahut Greg.
“Betul. Saya bisa membantu teman kalian yang terluka.” kata dokter Joni.
Sementara dari kejauhan, Indra dan Djohan masih sibuk menghajar kerumunan Zombie yang datang. Mereka mulai kelelahan dan mulai berteriak meminta bantuan. “Woi! Bantuin sini!”teriak Indra. Bobi yang mendengar itu langsung berlari ke arah Indra diikuti Projo dan Ipan. Dengan sigap, mereka membantai habis Zombie-zombie yang tersisa. Tidak ada insiden yang berarti kali ini, hanya saja mereka kelelahan karena banyaknya Zombie yang berdatangan. Terdapat puluhan Zombie tergeletak di antara mereka. Suasana kembali sepi dan mencekam. Mereka berlima pun kembali ke dekat mobil mereka, dimana yang lainnya masih berada. Dr. Joni menyarankan agar Karjo dibawa ke dalam area rumah sakit untuk diperiksa darahnya dan supaya bisa langsung didonorkan darahnya.
“Mas, masih kuat jalan?” tanya Greg.
“Masih, kok.” jawab Karjo sambil mulai berdiri.
“Ayo, ikutin dokter Joni biar semuanya dia yang urus.” ajak Greg.
Greg dan Projo pun membantu Karjo yang masih lemas itu untuk berjalan dan mengikuti Dr. Joni ke dalam area rumah sakit. Ipan menyalakan kembali flashlight di ponselnya agar jalan yang mereka lalui bisa terlihat. Sementara mereka yang habis bertarung habis-habisan juga terlihat lemas dan haus. “Mu, lu kan gak ngapa-ngapain tadi, ambilin minuman di mobil, dong. Buat semuanya,nih.” ujar Ipan kepada Yaumu. Dan Yaumu pun langsung berbalik arah kembali ke mobil untuk mengambil minuman.
Setelah sampai disuatu ruangan, Karjo disuruh berbaring untuk di ambil darahnya dan di cek oleh Dr. Joni. Setelah dicek, Dr. Joni langsung mencari sisa darah yang cocok untuk didonorkan kepada Karjo. Dr. Joni pun menemukan ada satu kantong darah yang cocok dengan Karjo dan langsung menyalurkannya ke tubuh Karjo.
Yaumu yang tidak kunjung kembali dari mobil sejak setengah jam yang lalu membuat Greg khawatir.
0
Kutip
Balas