- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#2038
Spoiler for PART XLIII (lanjutan):
Ritual Dimulai
- (Aku akan menceritakan ulang pada saat pelaksaan ritual dengan tidak terlalu mendetail, karena aku tidak menulis diary saat pelaksaan ritual, hanya menulis setelah ritual selesai dan itu tidak menggambarkan hal yang terjadi saat ritual. Karena itu aku akan menuliskannya kembali.)
Aku diminta duduk di lingkaran yang dikelilingi oleh lonceng-lonceng yang diikat pada batang-batang bercat merah yang ditancapkan di tanah. Dengan satu pesan dari nenek Elly “Jangan pernah keluar dari lingkaran”.
Ayano berada di tempat yang memang disediakan untuknya sekitar dua sampai tiga meter di belakangku. Tidak cukup dekat, tapi lumayan untuk membuatku sedikit merasa aman. Karena , entah mengapa ‘dewa jahat’ itu tidak mau mendekatiku kalau ada Ayano di dekatku. Jadi, biasanya dia akan berusaha memisahkan dulu kami berdua.
Dan sekarang tidak ada dinding, pohon atau apapun yang berada di lapangan luas ini. Ayano bisa langsung melihat ke arahku dan aku berpikir, kalau sampai terjadi apa-apa, dia akan bisa langsung berlari ke sisiku.
Terdengar egois ya? Tapi aku benar-benar dalam kondisi panik dan takut sekarang.. membayangkan kalau aku harus berhadap-hadapan dengan si ‘dewa jahat’ itu lagi…
‘CRINGG!!’
Aku dikagetkan dengan bunyi krincingan lonceng yang ternyata berasal dari untaian ratusan lonceng di tongkat yang dipegang oleh nenek Elly.
Bersama dengan bunyi lonceng itu, puluhan ‘pendeta wanita’ yang berpakaian sama dengan nenek Elly, yaitu kebaya putih bersih. Yang membedakan adalah selendang hijau yang dikenakan oleh nenek Elly.
Lalu mereka mulai menari.
Tarian mereka begitu indah dan menawan. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari gerakan-gerakan gemulai para penari yang mengelilingi nenek Elly, dan gerakan nenek Elly sendiri yang begitu luwes dan menghipnotis. Tidak nampak kalau beliau sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun.
‘cringg..cringg…cringg…cringg…’ bunyi lonceng yang dipegang oleh para penari berbunyi nyaring dan berirama. Seakan mengikuti irama tarian mereka.
Kemudian beberapa puluh wanita lainnya, yang juga mengenakan kebaya putih-putih berlari memasuki lapangan yang dipenuhi dengan tarian tersebut. Namun mereka tidak mengenakan lonceng dan tidak membawa satupun lonceng. Sebagai gantinya, mereka membawa semacam tempat yang dianyam dari bamboo yang berbentuk seperti wadah. Besarnya hampir sebesar gendongan jamu.
Para wanita yang membawa wadah itu kemudian berbalik ke arahku dan mulai berlarian membentuk barisan yang memanjang dari tempat nenek Elly menari sampai ke tempatku duduk di tengah lingkaran.
Kemudian mereka menyebarkan kelopak-kelopak bunga yang sangat banyak jumlahnya dan berwarna warni. Mereka menyebarkan kelopak bunga sampai terbentuk semacam karpet bunga yang berwarna-warni. Menutupi jalur yang terbentang dari tempatku sampai tempat barisan penari dan nenek Elly berada.
Lalu, para wanita yang menyebarkan bunga bergabung dengan semua barisan penari lainnya dan membentuk barisan rapi di sebelah kiri dan kanan nenek Elly yang kini sudah duduk bersila tepat tegak lurus berhadapan denganku.
‘CRRIIIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIIIIINGG!!!!!!’
Tiba-tiba seluruh lonceng yang mengelilingiku bergetar kencang begitu kencang seakan hampir membuat lonceng yang berjumlah ratusan itu seperti hampir lepas dari tempatnya diikat.
“Ahhhh!!!” aku berteriak sambil menutup telingaku karena bunyi lonceng yang Cumiakkan telinga itu.
Dengan mata setengah tertutup, aku melihat barisan nenek Elly juga menggoyang-goyangkan lonceng yang dipegangnya dengan berirama. Sehingga seluruh lapangan itu dipenuhi dengan bunyi lonceng.
‘CRINGG!!!!!’
Dan seketika semuanya terhenti. Semua bunyi lonceng berhenti bersamaan. Aku mulai membuka mataku perlahan dan melihat nenek Elly dan barisan yang berada bersamanya kini berwajah tegang menatap ke arahku.
‘cring…’
Beberapa lonceng yang berada di sekelilingku berbunyi pelan.
‘cring..’
‘cring..’
‘krrssskk..’ terdengar bunyi gemerisik bercampur dengan bau korek api terbakar yang sangat menyengat di udara dan menusuk hidungku.
Beberapa kelopak bunga yang berada di tengah-tengah jalur antara aku dan nenek Elly terlihat menghitam dan menekuk, seakan-akan terbakar.
‘cringg…’
‘cringg…’
‘cringg…’
Lonceng yang berada di sekelilingku masih berbunyi berirama dengan pelan. Seirama dengan jantungku yang mulai berdegup keras.
Kemudian aku merasakan hawa dingin yang sangat familier bagiku. Aku memeluk tubuhku dengan reflek.
Tepat di tempat di mana kelopak-kelopak bunga menghitam, asap berwarna hitam mulai bermunculan dan berkumpul membentuk gumpalan besar di atas karpet bunga itu.
Bau korek api terbakar semakin tercium di udara.
‘CRING!!’
Aku tersentak ketika nenek Elly membunyikan loncengnya.
Kemudian, satu per satu barisan yang ada di belakangnya juga ikut membunyikan loncengnya.
‘cring!!...’
‘cring!!...’
‘cring!!...’
Dan asap hitam yang berkumpul itu perlahan-lahan mulai membubung naik dan menghilang. Meninggalkan sosok yang sangat kukenal.
Si ‘dewa jahat’.
‘Mahluk’ itu terlihat sedang duduk di tempat di mana asap itu berada tadinya. Penampilannya kini sudah berubah lagi dari terakhir kali aku melihatnya.
Kini dia sudah mengenakan pakaian raja namun dengan berhiaskan duri-duri yang membengkok seperti tandung yang berjumlah puluhan yang terpasang pada berbagai bagian pakaiannya yang berwarna merah hati. Keliman berwarna emas menghiasi pakaiannya itu dan membuatnya terlihat seperti raja.
Topeng naga yang menutup wajahnya semakin buruk rupa, topeng itu terlihat semakin menempel pada wajah si ‘dewa jahat’ itu. Matanya yang berwarna kemerahan bersinar nanar.
“Ahhh…. Ahhh…..” dengan reflek aku mundur ketakutan sampai salah satu jariku memegang batangan penuh lonceng yang terikat di belakangku.
Si ‘dewa jahat’ itu melihatku. Dan berdiri.
Dengan dibarengi oleh rasa takutku, aku melihatnya berjalan ke arahku seperti biasa. Tangannya teracung membentuk cakar yang aku tau merupakan tandanya kalau dia akan mencekikku.
Sebuah ancaman…
Dan itu jelas membuatku sangat ketakutan. Terakhir kalinya aku disakiti olehnya, dia mencekikku sampai jarinya menembus tenggorokanku. Membuatku merasakan rasanya hampir mati karena kehabisan nafas.
Aku menatap sosok ‘dewa jahat’ itu dengan lemas dan takut. Aku mendengar suara lirih dari mulutku, tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar. Aku membeku dalam ketakutan.
Tiba-tiba…
‘HAH!!’ ‘CRING!!!’
Nenek Elly berteriak keras sambil membunyikan lonceng yang dipegangnya. ‘Mahluk’ itu berhenti dan menoleh ke nenek Elly. Aku tidak bisa melihat ekspresinya karena tertutup topeng naganya. Tapi aku bisa merasakan auranya semakin mendingin.
Perlahan-lahan, ‘dewa jahat’ itu melangkah mendekati ke arah nenek Elly dan barisannya.
Para ‘pendeta wanita’ yang ada bersama nenek Elly membelalakkan mata mereka dalam ketakutan.
Aku juga merasakan diriku membeku ketakutan.
‘Cringg…’
Suara lonceng yang berbunyi tepat dari belakangku membuatku terkejut. Namun kemudian aku merasakan ada hawa hangat yang berhembus dari belakangku.
Dan diikuti oleh angin kencang hangat yang berhembus tepat ke wajahku.
Sedetik kemudian, aku merasakan hawa hangat dari belakangku, aku kembali berbalik arah dan mendapati sang Piyak sudah berdiri membelakangiku.
Dengan langkah yang bagaikan melayang, sang Piyak meluncur maju.
Aku melihat si ‘dewa jahat’ kini sudah berhenti berjalan, namun, yang membuatku lebih terkejut adalah melihat satu sosok lagi, yang berbentuk sama persis dengan sang Piyak berdiri di depan nenek Elly. Tapi, sosok yang satu ini terlihat jauh lebih berkuasa, dengan baju berwarna hijau zamrud yang terang. Dan sorban mewah berwarna hijau dan bertatahkan batu-batu mengkilat berwarna hijau juga seperti yang dikenakan oleh raja-raja turki.
Kedua sosok sang Piyak meluncur mendekati si ‘dewa jahat’, namun berhenti kurang lebih satu meter sebelum mencapai ‘mahluk’ tersebut.
Kemudian, nenek Elly dan para ‘pendeta wanita’ yang bersamanya mulai bernyanyi.
Nyanyian mantra yang berkumandang bernada sendu, dengan diiringi oleh kerincingan dari lonceng-lonceng yang digoyangkan dengan tarian lembut oleh para ‘pendeta wanita’ sementara nenek Elly bersimpuh sambil mengatupkan tangannya dan menancapkan lonceng yang dipegangnya tepat di depannya.
Dan kemudian kedua sang Piyak mulai mengeluarkan mandaunya dan…
Menari….
Mereka berdua menari dengan mandaunya dan mengelilingi si ‘dewa jahat’ itu. Sementara sang ‘mahluk’ yang berada di tengah-tengahnya itu tampak seperti memberontak seakan sesuatu sedang mengikat dia.
‘HAH!!!’ ‘CRINGG!!!!’
Nenek Elly tiba-tiba berteriak kencang dan dengan serentak, semua lonceng, baik dari batangan yang tertanam tepat di depannya, dan semua lonceng yang mengelilingiku berbunyi bersamaan.
Aku bisa merasakan udara menjadi semakin berat. Seakan menekanku.
Aku semakin merasakan lemas dan pusing seiring dengan bunyi teriakan sesekali dari nenek Elly yang selalu dibarengi dengan kerincingan lonceng yang mengelilingiku.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHH!!!!!’
Aku terkejut.
Selama ini ‘mahluk’ yang selalu datang untuk menyakitiku itu tidak pernah sekalipun mengeluarkan suara. Namun kali ini, di tengah-tengah tarian kedua sang Piyak, aku bisa mendengar suara teriakan dari ‘mahluk’ itu. Teriakan serupa dengan lolongan marah.
Kemudian ‘mahluk’ itu menoleh ke arahku.
Lubang hitam topeng naganya seakan menatapku tembus. Aku benar-benar ketakutan, badanku gemetaran tanpa bisa dicegah.
Dan…
Dengan mengerikan, leher ‘mahluk’ itu memanjang, dan menerjang dengan cepat ke arahku.
Aku begitu ketakutan sehingga tanpa sadar aku melompat dan mundur.
Tanpa disadari aku sudah melewati lingkaran lonceng itu. Tapi saat itu aku tidak sadar kalau aku sudah melewati lingkaran itu, aku begitu ketakutan dan ingin lari sejauh mungkin dari ‘mahluk’ mengerikan itu. Dengan wajah topeng naganya yang semakin mendekat.
Wajah dari ‘mahluk’ itu sudah benar-benar dekat denganku dan aku semakin melangkah ke belakang.
Dan seseorang memelukku dari belakang.
“Eh?”
Ayano memelukku, dan seketika itu wajah dengan leher yang memanjang itu berhenti di tempatnya.
Aku bisa melihat sebuah cahaya kecil berkilat kemerahan dari dalam lubang mata topeng naga ‘mahluk’ itu.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHH!!!!!!’
‘Mahluk’ itu kembali berteriak, kali ini dia meliuk-liukkan kepalanya dengan lehernya yang memanjang di hadapanku. Di hadapan kami berdua.
Suaranya terdengar marah dan frustasi. Entah bagaimana aku memang bisa merasakannya.
Kemudian Ayano menarikku menyamping, sehingga kini seluruh tubuhku sudah berada di luar lingkaran lonceng itu.
Aku menyadarinya ketika pergelangan kakiku menyenggol lonceng ketika kakiku yang tersisa di lingkaran bergeser keluar.
“Ah!!” teriakku kaget menyadari kalau aku sudah keluar dari lingkaran perlindungan nenek Elly.
Namun, dengan suara lantang, nenek Elly kembali berteriak. ‘HAHHHH!!!!!!’ sambil menggoyang-goyangkan lonceng yang dipegangnya.
Dan entah dari mana, tiba-tiba kedua sang Piyak sudah muncul di sisi kiri dan kanan leher ‘mahluk’ itu.
Dengan tebasan Mandau mereka yang berbarengan, leher ‘mahluk’ itu putus seketika.
Aku menatap kejadian itu tanpa bisa mengatakan apapun….
Aku melihat ketika kepala ‘mahluk’ itu yang putus terjatuh dan berguling di dalam lingkaran lonceng yang dibuat nenek Elly untuk melindungiku.
Tidak, maksudnya yang kupikir dibuat untuk melindungiku.
Aku tidak mengira kalau ada fungsi lain dari lingkaran itu.
Fungsi yang baru kuketahui setelah nenek Elly dan para ‘pendeta wanita’ mengumandangkan nyanyian mantra mereka sekali lagi.
‘CRINGG!!!!’
Setelah nyanyian itu selesai, sekali lagi mereka membunyikan lonceng berbarengan.
Bedanya adalah kali ini seluruh lonceng yang terikat pada batangan yang ditanam membentuk lingkaran itu putus dan memenuhi lingkaran itu dengan lonceng-lonceng yang berpantulan tidak teratur.
Dan ketika lonceng-lonceng itu selesai memantul, kepala ‘mahluk’ itu sudah menghilang. Tubuh 'mahluk' itupun sudah menghilang menjadi asap hitam.
Aku menatapnya dengan terpana dan takjub, juga dengan rasa bingung…..
Kemudian, aku dijelaskan kalau memang pada rencana awalnya, Ayano yang nantinya akan ‘menjemputku’ untuk meninggalkan lingkaran, sembari mereka akan memancing ‘mahluk’ itu untuk mencapai lingkaran tempatku. Ayano memegang peranan untuk menjagaku karena nenek Elly mendengar kalau ‘mahluk’ itu enggan mendekat kalau ada Ayano bersamaku.
Dan fungsi sebenarnya dari lingkaran itu adalah penjara bagi 'mahluk' itu.
Memang hal yang terjadi berbeda dari rencana awalnya, namun setidaknya penyegelan ‘mahluk’ itu sudah selesai di laksanakan.
Aku sempat menanyakan perihal sang Piyak hijau, namun nenek Elly hanya tersenyum dan berkata “sebaiknya ada hal-hal yang tidak kamu tau” katanya bijak.
Aku masih tidak percaya kalau ‘mahluk’ yang telah menyakitiku selama bertahun-tahun kini sudah tidak akan menggangguku lagi…
====
Beberapa hari kemudian, kami, aku dan Ayano kembali pulang ke Jakarta.
Dan sesampainya di Jakarta, aku dikejutkan dengan banyaknya miss call dari nenekku di kampung yang bersahabat dengan nenek Elly (bukan nenekku yang meninggal saat adikku lahir ya, ini nenekku dari pihak ibu, dan masih hidup sampai cerita ini dituliskan kembali).
Beliau mengatakan, tepat pukul 9:00, yang berarti bertepatan dengan waktu pesawat kami lepas landas, nenek Elly menghembuskan nafas terakhirnya.
Beliau pergi dalam meditasinya dan sambil tersenyum.
Butuh waktu dua jam bagi Ayano untuk menenangkanku dari tangisanku di bandara. Kepergian sosok nenek Elly yang sudah seperti nenekku sendiri begitu berat menghantamku. Apalagi, kepergian beliau itu setelah beliau menyelamatkan aku dari mahluk yang selama ini menggangguku.
Aku sempat depresi untuk beberapa saat, dengan berpikir kalau apakah nenek Elly meninggal karena menyegel ‘mahluk’ itu? Apakah nenek Elly melakukannya dengan terpaksa? Hanya untuk diriku ini? Apakah nenek Elly pernah menyesal karena melindungi aku?
Aku belum mendapat jawabannya sampai ketika Ayano mengatakan kalau nenek Elly masih ada, dan saat ini, beliau malah menjadi malaikat pelindungku…
Tidak akan ada cukupnya rasa terimakasihku kepada nenek Elly.
- (Aku akan menceritakan ulang pada saat pelaksaan ritual dengan tidak terlalu mendetail, karena aku tidak menulis diary saat pelaksaan ritual, hanya menulis setelah ritual selesai dan itu tidak menggambarkan hal yang terjadi saat ritual. Karena itu aku akan menuliskannya kembali.)
Aku diminta duduk di lingkaran yang dikelilingi oleh lonceng-lonceng yang diikat pada batang-batang bercat merah yang ditancapkan di tanah. Dengan satu pesan dari nenek Elly “Jangan pernah keluar dari lingkaran”.
Ayano berada di tempat yang memang disediakan untuknya sekitar dua sampai tiga meter di belakangku. Tidak cukup dekat, tapi lumayan untuk membuatku sedikit merasa aman. Karena , entah mengapa ‘dewa jahat’ itu tidak mau mendekatiku kalau ada Ayano di dekatku. Jadi, biasanya dia akan berusaha memisahkan dulu kami berdua.
Dan sekarang tidak ada dinding, pohon atau apapun yang berada di lapangan luas ini. Ayano bisa langsung melihat ke arahku dan aku berpikir, kalau sampai terjadi apa-apa, dia akan bisa langsung berlari ke sisiku.
Terdengar egois ya? Tapi aku benar-benar dalam kondisi panik dan takut sekarang.. membayangkan kalau aku harus berhadap-hadapan dengan si ‘dewa jahat’ itu lagi…
‘CRINGG!!’
Aku dikagetkan dengan bunyi krincingan lonceng yang ternyata berasal dari untaian ratusan lonceng di tongkat yang dipegang oleh nenek Elly.
Bersama dengan bunyi lonceng itu, puluhan ‘pendeta wanita’ yang berpakaian sama dengan nenek Elly, yaitu kebaya putih bersih. Yang membedakan adalah selendang hijau yang dikenakan oleh nenek Elly.
Lalu mereka mulai menari.
Tarian mereka begitu indah dan menawan. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari gerakan-gerakan gemulai para penari yang mengelilingi nenek Elly, dan gerakan nenek Elly sendiri yang begitu luwes dan menghipnotis. Tidak nampak kalau beliau sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun.
‘cringg..cringg…cringg…cringg…’ bunyi lonceng yang dipegang oleh para penari berbunyi nyaring dan berirama. Seakan mengikuti irama tarian mereka.
Kemudian beberapa puluh wanita lainnya, yang juga mengenakan kebaya putih-putih berlari memasuki lapangan yang dipenuhi dengan tarian tersebut. Namun mereka tidak mengenakan lonceng dan tidak membawa satupun lonceng. Sebagai gantinya, mereka membawa semacam tempat yang dianyam dari bamboo yang berbentuk seperti wadah. Besarnya hampir sebesar gendongan jamu.
Para wanita yang membawa wadah itu kemudian berbalik ke arahku dan mulai berlarian membentuk barisan yang memanjang dari tempat nenek Elly menari sampai ke tempatku duduk di tengah lingkaran.
Kemudian mereka menyebarkan kelopak-kelopak bunga yang sangat banyak jumlahnya dan berwarna warni. Mereka menyebarkan kelopak bunga sampai terbentuk semacam karpet bunga yang berwarna-warni. Menutupi jalur yang terbentang dari tempatku sampai tempat barisan penari dan nenek Elly berada.
Lalu, para wanita yang menyebarkan bunga bergabung dengan semua barisan penari lainnya dan membentuk barisan rapi di sebelah kiri dan kanan nenek Elly yang kini sudah duduk bersila tepat tegak lurus berhadapan denganku.
‘CRRIIIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIIIIINGG!!!!!!’
Tiba-tiba seluruh lonceng yang mengelilingiku bergetar kencang begitu kencang seakan hampir membuat lonceng yang berjumlah ratusan itu seperti hampir lepas dari tempatnya diikat.
“Ahhhh!!!” aku berteriak sambil menutup telingaku karena bunyi lonceng yang Cumiakkan telinga itu.
Dengan mata setengah tertutup, aku melihat barisan nenek Elly juga menggoyang-goyangkan lonceng yang dipegangnya dengan berirama. Sehingga seluruh lapangan itu dipenuhi dengan bunyi lonceng.
‘CRINGG!!!!!’
Dan seketika semuanya terhenti. Semua bunyi lonceng berhenti bersamaan. Aku mulai membuka mataku perlahan dan melihat nenek Elly dan barisan yang berada bersamanya kini berwajah tegang menatap ke arahku.
‘cring…’
Beberapa lonceng yang berada di sekelilingku berbunyi pelan.
‘cring..’
‘cring..’
‘krrssskk..’ terdengar bunyi gemerisik bercampur dengan bau korek api terbakar yang sangat menyengat di udara dan menusuk hidungku.
Beberapa kelopak bunga yang berada di tengah-tengah jalur antara aku dan nenek Elly terlihat menghitam dan menekuk, seakan-akan terbakar.
‘cringg…’
‘cringg…’
‘cringg…’
Lonceng yang berada di sekelilingku masih berbunyi berirama dengan pelan. Seirama dengan jantungku yang mulai berdegup keras.
Kemudian aku merasakan hawa dingin yang sangat familier bagiku. Aku memeluk tubuhku dengan reflek.
Tepat di tempat di mana kelopak-kelopak bunga menghitam, asap berwarna hitam mulai bermunculan dan berkumpul membentuk gumpalan besar di atas karpet bunga itu.
Bau korek api terbakar semakin tercium di udara.
‘CRING!!’
Aku tersentak ketika nenek Elly membunyikan loncengnya.
Kemudian, satu per satu barisan yang ada di belakangnya juga ikut membunyikan loncengnya.
‘cring!!...’
‘cring!!...’
‘cring!!...’
Dan asap hitam yang berkumpul itu perlahan-lahan mulai membubung naik dan menghilang. Meninggalkan sosok yang sangat kukenal.
Si ‘dewa jahat’.
‘Mahluk’ itu terlihat sedang duduk di tempat di mana asap itu berada tadinya. Penampilannya kini sudah berubah lagi dari terakhir kali aku melihatnya.
Kini dia sudah mengenakan pakaian raja namun dengan berhiaskan duri-duri yang membengkok seperti tandung yang berjumlah puluhan yang terpasang pada berbagai bagian pakaiannya yang berwarna merah hati. Keliman berwarna emas menghiasi pakaiannya itu dan membuatnya terlihat seperti raja.
Topeng naga yang menutup wajahnya semakin buruk rupa, topeng itu terlihat semakin menempel pada wajah si ‘dewa jahat’ itu. Matanya yang berwarna kemerahan bersinar nanar.
“Ahhh…. Ahhh…..” dengan reflek aku mundur ketakutan sampai salah satu jariku memegang batangan penuh lonceng yang terikat di belakangku.
Si ‘dewa jahat’ itu melihatku. Dan berdiri.
Dengan dibarengi oleh rasa takutku, aku melihatnya berjalan ke arahku seperti biasa. Tangannya teracung membentuk cakar yang aku tau merupakan tandanya kalau dia akan mencekikku.
Sebuah ancaman…
Dan itu jelas membuatku sangat ketakutan. Terakhir kalinya aku disakiti olehnya, dia mencekikku sampai jarinya menembus tenggorokanku. Membuatku merasakan rasanya hampir mati karena kehabisan nafas.
Aku menatap sosok ‘dewa jahat’ itu dengan lemas dan takut. Aku mendengar suara lirih dari mulutku, tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar. Aku membeku dalam ketakutan.
Tiba-tiba…
‘HAH!!’ ‘CRING!!!’
Nenek Elly berteriak keras sambil membunyikan lonceng yang dipegangnya. ‘Mahluk’ itu berhenti dan menoleh ke nenek Elly. Aku tidak bisa melihat ekspresinya karena tertutup topeng naganya. Tapi aku bisa merasakan auranya semakin mendingin.
Perlahan-lahan, ‘dewa jahat’ itu melangkah mendekati ke arah nenek Elly dan barisannya.
Para ‘pendeta wanita’ yang ada bersama nenek Elly membelalakkan mata mereka dalam ketakutan.
Aku juga merasakan diriku membeku ketakutan.
‘Cringg…’
Suara lonceng yang berbunyi tepat dari belakangku membuatku terkejut. Namun kemudian aku merasakan ada hawa hangat yang berhembus dari belakangku.
Dan diikuti oleh angin kencang hangat yang berhembus tepat ke wajahku.
Sedetik kemudian, aku merasakan hawa hangat dari belakangku, aku kembali berbalik arah dan mendapati sang Piyak sudah berdiri membelakangiku.
Dengan langkah yang bagaikan melayang, sang Piyak meluncur maju.
Aku melihat si ‘dewa jahat’ kini sudah berhenti berjalan, namun, yang membuatku lebih terkejut adalah melihat satu sosok lagi, yang berbentuk sama persis dengan sang Piyak berdiri di depan nenek Elly. Tapi, sosok yang satu ini terlihat jauh lebih berkuasa, dengan baju berwarna hijau zamrud yang terang. Dan sorban mewah berwarna hijau dan bertatahkan batu-batu mengkilat berwarna hijau juga seperti yang dikenakan oleh raja-raja turki.
Kedua sosok sang Piyak meluncur mendekati si ‘dewa jahat’, namun berhenti kurang lebih satu meter sebelum mencapai ‘mahluk’ tersebut.
Kemudian, nenek Elly dan para ‘pendeta wanita’ yang bersamanya mulai bernyanyi.
Nyanyian mantra yang berkumandang bernada sendu, dengan diiringi oleh kerincingan dari lonceng-lonceng yang digoyangkan dengan tarian lembut oleh para ‘pendeta wanita’ sementara nenek Elly bersimpuh sambil mengatupkan tangannya dan menancapkan lonceng yang dipegangnya tepat di depannya.
Dan kemudian kedua sang Piyak mulai mengeluarkan mandaunya dan…
Menari….
Mereka berdua menari dengan mandaunya dan mengelilingi si ‘dewa jahat’ itu. Sementara sang ‘mahluk’ yang berada di tengah-tengahnya itu tampak seperti memberontak seakan sesuatu sedang mengikat dia.
‘HAH!!!’ ‘CRINGG!!!!’
Nenek Elly tiba-tiba berteriak kencang dan dengan serentak, semua lonceng, baik dari batangan yang tertanam tepat di depannya, dan semua lonceng yang mengelilingiku berbunyi bersamaan.
Aku bisa merasakan udara menjadi semakin berat. Seakan menekanku.
Aku semakin merasakan lemas dan pusing seiring dengan bunyi teriakan sesekali dari nenek Elly yang selalu dibarengi dengan kerincingan lonceng yang mengelilingiku.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHH!!!!!’
Aku terkejut.
Selama ini ‘mahluk’ yang selalu datang untuk menyakitiku itu tidak pernah sekalipun mengeluarkan suara. Namun kali ini, di tengah-tengah tarian kedua sang Piyak, aku bisa mendengar suara teriakan dari ‘mahluk’ itu. Teriakan serupa dengan lolongan marah.
Kemudian ‘mahluk’ itu menoleh ke arahku.
Lubang hitam topeng naganya seakan menatapku tembus. Aku benar-benar ketakutan, badanku gemetaran tanpa bisa dicegah.
Dan…
Dengan mengerikan, leher ‘mahluk’ itu memanjang, dan menerjang dengan cepat ke arahku.
Aku begitu ketakutan sehingga tanpa sadar aku melompat dan mundur.
Tanpa disadari aku sudah melewati lingkaran lonceng itu. Tapi saat itu aku tidak sadar kalau aku sudah melewati lingkaran itu, aku begitu ketakutan dan ingin lari sejauh mungkin dari ‘mahluk’ mengerikan itu. Dengan wajah topeng naganya yang semakin mendekat.
Wajah dari ‘mahluk’ itu sudah benar-benar dekat denganku dan aku semakin melangkah ke belakang.
Dan seseorang memelukku dari belakang.
“Eh?”
Ayano memelukku, dan seketika itu wajah dengan leher yang memanjang itu berhenti di tempatnya.
Aku bisa melihat sebuah cahaya kecil berkilat kemerahan dari dalam lubang mata topeng naga ‘mahluk’ itu.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHH!!!!!!’
‘Mahluk’ itu kembali berteriak, kali ini dia meliuk-liukkan kepalanya dengan lehernya yang memanjang di hadapanku. Di hadapan kami berdua.
Suaranya terdengar marah dan frustasi. Entah bagaimana aku memang bisa merasakannya.
Kemudian Ayano menarikku menyamping, sehingga kini seluruh tubuhku sudah berada di luar lingkaran lonceng itu.
Aku menyadarinya ketika pergelangan kakiku menyenggol lonceng ketika kakiku yang tersisa di lingkaran bergeser keluar.
“Ah!!” teriakku kaget menyadari kalau aku sudah keluar dari lingkaran perlindungan nenek Elly.
Namun, dengan suara lantang, nenek Elly kembali berteriak. ‘HAHHHH!!!!!!’ sambil menggoyang-goyangkan lonceng yang dipegangnya.
Dan entah dari mana, tiba-tiba kedua sang Piyak sudah muncul di sisi kiri dan kanan leher ‘mahluk’ itu.
Dengan tebasan Mandau mereka yang berbarengan, leher ‘mahluk’ itu putus seketika.
Aku menatap kejadian itu tanpa bisa mengatakan apapun….
Aku melihat ketika kepala ‘mahluk’ itu yang putus terjatuh dan berguling di dalam lingkaran lonceng yang dibuat nenek Elly untuk melindungiku.
Tidak, maksudnya yang kupikir dibuat untuk melindungiku.
Aku tidak mengira kalau ada fungsi lain dari lingkaran itu.
Fungsi yang baru kuketahui setelah nenek Elly dan para ‘pendeta wanita’ mengumandangkan nyanyian mantra mereka sekali lagi.
‘CRINGG!!!!’
Setelah nyanyian itu selesai, sekali lagi mereka membunyikan lonceng berbarengan.
Bedanya adalah kali ini seluruh lonceng yang terikat pada batangan yang ditanam membentuk lingkaran itu putus dan memenuhi lingkaran itu dengan lonceng-lonceng yang berpantulan tidak teratur.
Dan ketika lonceng-lonceng itu selesai memantul, kepala ‘mahluk’ itu sudah menghilang. Tubuh 'mahluk' itupun sudah menghilang menjadi asap hitam.
Aku menatapnya dengan terpana dan takjub, juga dengan rasa bingung…..
Kemudian, aku dijelaskan kalau memang pada rencana awalnya, Ayano yang nantinya akan ‘menjemputku’ untuk meninggalkan lingkaran, sembari mereka akan memancing ‘mahluk’ itu untuk mencapai lingkaran tempatku. Ayano memegang peranan untuk menjagaku karena nenek Elly mendengar kalau ‘mahluk’ itu enggan mendekat kalau ada Ayano bersamaku.
Dan fungsi sebenarnya dari lingkaran itu adalah penjara bagi 'mahluk' itu.
Memang hal yang terjadi berbeda dari rencana awalnya, namun setidaknya penyegelan ‘mahluk’ itu sudah selesai di laksanakan.
Aku sempat menanyakan perihal sang Piyak hijau, namun nenek Elly hanya tersenyum dan berkata “sebaiknya ada hal-hal yang tidak kamu tau” katanya bijak.
Aku masih tidak percaya kalau ‘mahluk’ yang telah menyakitiku selama bertahun-tahun kini sudah tidak akan menggangguku lagi…
====
Beberapa hari kemudian, kami, aku dan Ayano kembali pulang ke Jakarta.
Dan sesampainya di Jakarta, aku dikejutkan dengan banyaknya miss call dari nenekku di kampung yang bersahabat dengan nenek Elly (bukan nenekku yang meninggal saat adikku lahir ya, ini nenekku dari pihak ibu, dan masih hidup sampai cerita ini dituliskan kembali).
Beliau mengatakan, tepat pukul 9:00, yang berarti bertepatan dengan waktu pesawat kami lepas landas, nenek Elly menghembuskan nafas terakhirnya.
Beliau pergi dalam meditasinya dan sambil tersenyum.
Butuh waktu dua jam bagi Ayano untuk menenangkanku dari tangisanku di bandara. Kepergian sosok nenek Elly yang sudah seperti nenekku sendiri begitu berat menghantamku. Apalagi, kepergian beliau itu setelah beliau menyelamatkan aku dari mahluk yang selama ini menggangguku.
Aku sempat depresi untuk beberapa saat, dengan berpikir kalau apakah nenek Elly meninggal karena menyegel ‘mahluk’ itu? Apakah nenek Elly melakukannya dengan terpaksa? Hanya untuk diriku ini? Apakah nenek Elly pernah menyesal karena melindungi aku?
Aku belum mendapat jawabannya sampai ketika Ayano mengatakan kalau nenek Elly masih ada, dan saat ini, beliau malah menjadi malaikat pelindungku…
Tidak akan ada cukupnya rasa terimakasihku kepada nenek Elly.
dengan part ini, berarti hanya tersisa 5 part lagi ya. Dan 5 part terakhir akan berhubungan / bersambung.
-Salam-
Elisa
Diubah oleh ayanokouji 17-11-2016 13:10
johny251976 dan bakulmenyan memberi reputasi
2
Kutip
Balas