- Beranda
- Stories from the Heart
Don't say "I Love You" too much
...
TS
dewiskumaneko
Don't say "I Love You" too much
*Judul diganti (sebelumnya Don't say "I Love You" too much) karena judul yg lama kesannya agak terlalu dramatis
*Selamat pagi buat semua momod, agan, sista dan para master lainnya yang sudah terlebih dulu meramaikan jagad SFTH
setelah sering baca kisah yang ada di SFTH ini, saya jadi tergelitik untuk menuliskan kisah yang saya alami ini. hehehe
ini murni aku alami semuanya, ceritanya agak gak penting dan maybe kurang menarik. tapi ini murni pengen cerita karena aku gak mau inget-inget ini sendirian, maunya bisa berbagi sama yg lainnya, semoga bisa berguna ya cerita ini
mungkin ada beberapa bagian yang kurang sesuai sama kejadian aslinya, harap maklum dikarenakan ingatanku yang super duper payah jadi ya agak lupa gitu, tapi tetep bakal diceritakan kok meski gak detail dan gak bakal ngerubah esensi ceritanya
dan seperti kisah SFTH pada umumnya, semua nama tokoh dalam cerita ini disamarkan ya kak (mohon pengertiannya
)RULES!
1. Kepo diperbolehkan asal masih batas wajar
2. dilarang komentar dengan kata-kata kasar
3. kritik, saran sangat diperbolehkan asal masih dalam batas wajar dan tidak menyudutkan pihak manapun
4. selebihnya saya manut sama general rules SFTH
RALAT
Update aku usahakan tiap hari kalo lagi mood/udah inget lagi sama kejadiannya
"aku menghargai readers yang kasih semangat buat update, jadi meski mungkin dalam penulisan cerita ini masih banyak kekurangan, aku berjanji tidak akan ada kentang diantara kita alias cerita ini akan aku selesaikan
" Quote:
so, bisa kita mulai ceritanya?
Quote:
Diubah oleh dewiskumaneko 22-10-2017 19:08
anasabila memberi reputasi
1
4K
35
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dewiskumaneko
#15
Part 4
Hari-hari ujian kelulusan udah lewat, bahkan ujian masuk SMP juga udah lewat. Aku lulus dengan nilai yang cukup bagus dan nilai ujian masuk SMP ku juga cukup bagus. Sekarang yang ada di hadapanku adalah sebuah formulir pemilihan sekolah yang dua jam lagi sudah harus aku serahkan. Tapi sampai detik ini formulir itu masih kosong. Pikiranku kembali ke percakapan saat hari terakhir bimbel berminggu-minggu yang lalu.
“adi, jadinya kamu mau masuk SMP mana?”
“rencananya sih SMP 44, tuh yang di depan rumahmu”
“hee… kamu kan pinter? Kenapa gak pilih yang agak bagusan sih? SMP 1 apa 3 gitu.”
“gak mau ah, mau yang deket-deket sini aja sekolahnya.”
Inget percakapan itu bikin aku pengen milih sekolah itu juga apalagi liat nilaiku hasil ujian masukku, aku 100% optimis bisa masuk SMP 44. Alasanku waktu itu sederhana, aku pengen ketemu dia setiap hari, maka satu-satunya jalan ya aku sekolah di tempat yang sama kayak dia.
“udah mutusin mau milih mana?”
mamaku keluar dari kamarnya bersama papa dan menghampiriku
Aku menggeleng pelan dan mataku masih menatap ke formulir, kosong.
Papa mengambil formulirku dan bertanya,
”masih mau milih SMP 44?”
Aku menatap beliau dan mengangguk mantap,
“kan enak pa, deket rumah. Gak bakalan terlambat juga.”
“gak! Mama gak setuju kamu sekolah disitu!”
Sudah kuduga pasti mama begitu, aku menggerutu dalam hati.
“mau jadi apa kamu kalo sekolah disitu? Mutunya kurang bagus, Unas kemaren aja banyak yang gak lulus. Mama mau kamu pilih sekolah yang bagus, sekolahnya mbakmu atau yang setara itu lah. Pokoknya jangan sekolah di depan rumah! Mama gak setuju.”
Mama mengambil alih formulirku dan meminta papa untuk menuliskannya. Gak perlu waktu lama untuk mengisi formulir itu karena gak lama kemudian, mama mengajakku ke tempat dimana aku tes untuk mengumpulkan formulir. Di perjalanan aku buka formulir itu, sekedar pengen tau sekolah pilihan orang tuaku. Aku tersenyum tipis membaca pilihan sekolah dari mereka.
1. SMPN 1
2. SMPN 3
3. SMPN 39
*
Hari itu aku mengenakan seragam pramuka menginjakkan kaki di sekolah baruku, SMP 3. Masih teringat jelas wajah bahagia mama waktu itu
“dek, bangun dek.. mama ada kabar bagus”
“apa sih ma? Kabar bagus apa? Aku masih ngantuk.”
Aku bangun dengan keengganan, bahkan aku lupa hari itu hari apa.
“selamat ya dek.. kamu masuk SMPN 3. Mama bangga sama kamu.”
Mama memelukku, disusul papa dan mbak yang kasih selamat. Aku tersenyum pura-pura senang atas berita itu, sebenarnya mah gak seneng sama sekali.
Keadaan sekolah baruku waktu itu udah rame banget. Banyak anak-anak berseragam pramuka berkumpul. Beberapa dari mereka bergerombol sama teman-temannya, mungkin mereka dari sd yang sama. Aku gak peduli. Mataku sibuk mencari sosok temanku dari SD yang sama, ketemu! Satu-satunya hal yang harus aku syukuri adalah aku masuk sekolah ini gak sendirian, ada dua teman SD ku yang juga masuk di sekolah ini, namanya Iwan dan Alfa. Aku bergabung dengan mereka dan kami pun asyik ngobrol sampai ada pengumuman pembagian kelas. Alfa masuk 7-1, aku 7-2 dan Iwan di 7-4. Kami pun segera memasuki kelas masing-masing. Aku memasuki kelasku dan aku lupa waktu itu aku duduk sama siapa, yang aku inget cuma waktu itu aku duduk di belakang. Aku mengeluarkan permen karet dan mengunyahnya perlahan, biar gak ngantuk. Gak lama kemudian beberapa kakak OSIS masuk ke kelasku, member pengarahan sedikit dan meminta kami untuk rolling tempat duduk dimulai dari cewek dulu dan nanti cowoknya yang akan milih mau duduk sama siapa. Aku gak peduli mau duduk sama siapa, toh pasti jarang juga yang mau duduk sama cewek jelek macem aku
. Gak lama nih, bangku sebelahku diisi oleh cowok berkacamata dan agak botak, namanya Dino. Di depanku duduk cewek bernama Rasti dan cowok bernama Ken. Kegiatan MOS berjalan normal, tanpa peralatan aneh dan tanpa tugas aneh (kecuali tugas menulis surat untuk kakak OSIS yang aku rasa cukup aneh). Aku gak banyak bicara karena masih canggung waktu itu hehe. Dan dari sinilah kehidupanku yang buruk dimulai.
“adi, jadinya kamu mau masuk SMP mana?”
“rencananya sih SMP 44, tuh yang di depan rumahmu”
“hee… kamu kan pinter? Kenapa gak pilih yang agak bagusan sih? SMP 1 apa 3 gitu.”
“gak mau ah, mau yang deket-deket sini aja sekolahnya.”
Inget percakapan itu bikin aku pengen milih sekolah itu juga apalagi liat nilaiku hasil ujian masukku, aku 100% optimis bisa masuk SMP 44. Alasanku waktu itu sederhana, aku pengen ketemu dia setiap hari, maka satu-satunya jalan ya aku sekolah di tempat yang sama kayak dia.
“udah mutusin mau milih mana?”
mamaku keluar dari kamarnya bersama papa dan menghampiriku
Aku menggeleng pelan dan mataku masih menatap ke formulir, kosong.
Papa mengambil formulirku dan bertanya,
”masih mau milih SMP 44?”
Aku menatap beliau dan mengangguk mantap,
“kan enak pa, deket rumah. Gak bakalan terlambat juga.”
“gak! Mama gak setuju kamu sekolah disitu!”
Sudah kuduga pasti mama begitu, aku menggerutu dalam hati.
“mau jadi apa kamu kalo sekolah disitu? Mutunya kurang bagus, Unas kemaren aja banyak yang gak lulus. Mama mau kamu pilih sekolah yang bagus, sekolahnya mbakmu atau yang setara itu lah. Pokoknya jangan sekolah di depan rumah! Mama gak setuju.”
Mama mengambil alih formulirku dan meminta papa untuk menuliskannya. Gak perlu waktu lama untuk mengisi formulir itu karena gak lama kemudian, mama mengajakku ke tempat dimana aku tes untuk mengumpulkan formulir. Di perjalanan aku buka formulir itu, sekedar pengen tau sekolah pilihan orang tuaku. Aku tersenyum tipis membaca pilihan sekolah dari mereka.
1. SMPN 1
2. SMPN 3
3. SMPN 39
*
Hari itu aku mengenakan seragam pramuka menginjakkan kaki di sekolah baruku, SMP 3. Masih teringat jelas wajah bahagia mama waktu itu
“dek, bangun dek.. mama ada kabar bagus”
“apa sih ma? Kabar bagus apa? Aku masih ngantuk.”
Aku bangun dengan keengganan, bahkan aku lupa hari itu hari apa.
“selamat ya dek.. kamu masuk SMPN 3. Mama bangga sama kamu.”
Mama memelukku, disusul papa dan mbak yang kasih selamat. Aku tersenyum pura-pura senang atas berita itu, sebenarnya mah gak seneng sama sekali.

Keadaan sekolah baruku waktu itu udah rame banget. Banyak anak-anak berseragam pramuka berkumpul. Beberapa dari mereka bergerombol sama teman-temannya, mungkin mereka dari sd yang sama. Aku gak peduli. Mataku sibuk mencari sosok temanku dari SD yang sama, ketemu! Satu-satunya hal yang harus aku syukuri adalah aku masuk sekolah ini gak sendirian, ada dua teman SD ku yang juga masuk di sekolah ini, namanya Iwan dan Alfa. Aku bergabung dengan mereka dan kami pun asyik ngobrol sampai ada pengumuman pembagian kelas. Alfa masuk 7-1, aku 7-2 dan Iwan di 7-4. Kami pun segera memasuki kelas masing-masing. Aku memasuki kelasku dan aku lupa waktu itu aku duduk sama siapa, yang aku inget cuma waktu itu aku duduk di belakang. Aku mengeluarkan permen karet dan mengunyahnya perlahan, biar gak ngantuk. Gak lama kemudian beberapa kakak OSIS masuk ke kelasku, member pengarahan sedikit dan meminta kami untuk rolling tempat duduk dimulai dari cewek dulu dan nanti cowoknya yang akan milih mau duduk sama siapa. Aku gak peduli mau duduk sama siapa, toh pasti jarang juga yang mau duduk sama cewek jelek macem aku
. Gak lama nih, bangku sebelahku diisi oleh cowok berkacamata dan agak botak, namanya Dino. Di depanku duduk cewek bernama Rasti dan cowok bernama Ken. Kegiatan MOS berjalan normal, tanpa peralatan aneh dan tanpa tugas aneh (kecuali tugas menulis surat untuk kakak OSIS yang aku rasa cukup aneh). Aku gak banyak bicara karena masih canggung waktu itu hehe. Dan dari sinilah kehidupanku yang buruk dimulai.Diubah oleh dewiskumaneko 15-11-2016 10:29
0