- Beranda
- Stories from the Heart
Cinta di Bumi Manusia
...
TS
Nandhe
Cinta di Bumi Manusia
Spoiler for Perhatian:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Nandhe 16-11-2016 15:17
anasabila memberi reputasi
1
4.3K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Nandhe
#46
Bagian 5-2
Sebelum pulang, kami berenam menyempatkan diri untuk mengobrol bersama sebelum pulang. Hitung-hitung sekalian istirahat. Abang warkop di depan GOR jadi lebih sibuk malam ini.
“Bro, ikut terus latihan bareng kita-kita ya setiap malam Kamis.” Bang Catur membuka obrolan.
“Iya, bang. Kalau sempet ya, hehe.” Balas Rian.
Dia ikut memanggil bang Catur dengan panggilan bang, mungkin karena kami semua memanggil dia bang. Kecuali Lia, pacarnya.
“Lu sibuk apa bro, biasanya?” Tanya Kakek.
“Gw kerja di retail, bro.”
“Sibuk banget dong ya.” Lanjut Kakek.
“Lumayan deh hehe.”
“Tapi biar di retail, Rian selalu nyempetin jemput Agnes ya.”
Agnes hanya tersenyum.
“Nyindir aku?” kata Bang Catur.
“Dih, baper. Enggak lah, kamu biasa pulang aja jam 7 malam, aku pulang jam setengah 5. Enggak mau nunggu 2 jam lagi ya. Terima kasih.”
“Aku tahu kok, bercanda doang tadi biar lebih seru.”
“Tuh, Ki. Makanya kalau punya pacar dijemput. Biar enggak putus.” Timpal Kakek.
“Sial, Sudirman-Depok, rush hour? Ogah terima kasih.” Jawabku.
“Oh begitu Kek? Kiki putusnya gara-gara enggak jemput pacar?” Ledek Lia.
“Enggak juga lah. Ribet deh kalau diceritain.”
“Diceritain aja ribet, gimana dijalanin ya?” Timpal Kakek.
Bang Catur dan Lia tertawa mendengarnya. Sial, kenapa aku yang jadi bahan ledekan di sini?
“Mantanlu udah kerja apa kuliah, bro?” Tanya Rian.
“Masih kuliah.”
“Oh.”
Suasana hening.
“Enggak ada yang ngerokok selain gue ya?” Tanyaku.
“Gue udah berhenti, bro. Udah berhenti juga lah. Sayang badan.” Jawab Rian.
“Berhenti gara-gara apa, bro?”
Mata Rian melirik Agnes yang ada di sebelahnya.
“Apa? Kok aku? Paru-paru kamu tuh yang udah minta ampun. Ya kalau masih sayang hidup mendingan berhenti lah ya. Lagian enggak ada
untungnya juga ngerokok.” Jawab Agnes.
“Tuh, denger sendiri kan bro? Hahaha.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, gue ngerokok sendiri aja deh.” Kataku sambil menjauh dari mereka ke arah warkop.
Dari kejauhan aku melihat mereka kembali. Agnes dan pacarnya biasa saja, tidak ada mesra-mesraan seperti anak kecil sama seperti Lia dan Bang Catur. Kakek malah asik main telepon pintarnya. Menolak jadi obat nyamuk.
Rian berdiri pamit dengan teman-teman, lalu dia menujuku. Pamit juga. Genggaman tangannya tidak kuat juga tidak lemah. Sehabis bersalamanku dia menuju warkop. Agnes juga berdiri dan pamit. Aku pergi menuju teman-teman. Lalu bersalaman dengan Agnes. Ternyata hatiku tidak bergejolak seperti kemarin.
Mungkin tidak malam ini, siapa tahu malam-malam selanjutnya. Tapi aku rasa lebih baik disudahi saja perasaan ini. Bisa saja apa yang dari mata belum tentu selaras dengan hati. Aku berharap.
Rian pacar yang baik. Sungguh jahat jika perasaanku ini malah menghancurkan hubungan mereka. Agnes sepertinya juga cocok dengan dia. Aku pun juga belum terlalu kenal dengan Agnes. Siapa tahu, apa yang ada dirinya jika semakin terlihat membuatku jadi tidak suka. Buat apa terus-terusan berada di posisi seperti ini.
Agnes dan Rian masuk ke dalam mobil Yaris hitam. Di dekat gerbang, Agnes membuka kaca pintu dan melambaikan tangannya ke kami. Kami membalas dan menyampaikan agar berhati-hati di jalan. Tidak lama dari itu, kami pun juga menyusul pulang.
Sesudah bersih-bersih. Aku rebahkan tubuhku di kasur. Aku memandangi langit-langit kamarku yang pernah dihias oleh mantanku. Apakah perasaanku dengan Agnes hanya sebuah perasaan karena sepi? Aku rasa tidak. Ini bukan karena kesepian. Aku yakin ini cinta, cinta pada pandangan pertama.
Aku pusing jadinya, merasakan ini semua. Tapi aku mulai merasakan lagi yang sudah lama tidak kurasakan. Ini tidak pernah aku rasakan bersama mantanku sebelumnya. Aku merasa bodoh. Bodoh yang teramat sangat. Ini bukan aku yang biasanya. Aku tidak kebal.
“Bro, ikut terus latihan bareng kita-kita ya setiap malam Kamis.” Bang Catur membuka obrolan.
“Iya, bang. Kalau sempet ya, hehe.” Balas Rian.
Dia ikut memanggil bang Catur dengan panggilan bang, mungkin karena kami semua memanggil dia bang. Kecuali Lia, pacarnya.
“Lu sibuk apa bro, biasanya?” Tanya Kakek.
“Gw kerja di retail, bro.”
“Sibuk banget dong ya.” Lanjut Kakek.
“Lumayan deh hehe.”
“Tapi biar di retail, Rian selalu nyempetin jemput Agnes ya.”
Agnes hanya tersenyum.
“Nyindir aku?” kata Bang Catur.
“Dih, baper. Enggak lah, kamu biasa pulang aja jam 7 malam, aku pulang jam setengah 5. Enggak mau nunggu 2 jam lagi ya. Terima kasih.”
“Aku tahu kok, bercanda doang tadi biar lebih seru.”
“Tuh, Ki. Makanya kalau punya pacar dijemput. Biar enggak putus.” Timpal Kakek.
“Sial, Sudirman-Depok, rush hour? Ogah terima kasih.” Jawabku.
“Oh begitu Kek? Kiki putusnya gara-gara enggak jemput pacar?” Ledek Lia.
“Enggak juga lah. Ribet deh kalau diceritain.”
“Diceritain aja ribet, gimana dijalanin ya?” Timpal Kakek.
Bang Catur dan Lia tertawa mendengarnya. Sial, kenapa aku yang jadi bahan ledekan di sini?
“Mantanlu udah kerja apa kuliah, bro?” Tanya Rian.
“Masih kuliah.”
“Oh.”
Suasana hening.
“Enggak ada yang ngerokok selain gue ya?” Tanyaku.
“Gue udah berhenti, bro. Udah berhenti juga lah. Sayang badan.” Jawab Rian.
“Berhenti gara-gara apa, bro?”
Mata Rian melirik Agnes yang ada di sebelahnya.
“Apa? Kok aku? Paru-paru kamu tuh yang udah minta ampun. Ya kalau masih sayang hidup mendingan berhenti lah ya. Lagian enggak ada
untungnya juga ngerokok.” Jawab Agnes.
“Tuh, denger sendiri kan bro? Hahaha.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, gue ngerokok sendiri aja deh.” Kataku sambil menjauh dari mereka ke arah warkop.
Dari kejauhan aku melihat mereka kembali. Agnes dan pacarnya biasa saja, tidak ada mesra-mesraan seperti anak kecil sama seperti Lia dan Bang Catur. Kakek malah asik main telepon pintarnya. Menolak jadi obat nyamuk.
Rian berdiri pamit dengan teman-teman, lalu dia menujuku. Pamit juga. Genggaman tangannya tidak kuat juga tidak lemah. Sehabis bersalamanku dia menuju warkop. Agnes juga berdiri dan pamit. Aku pergi menuju teman-teman. Lalu bersalaman dengan Agnes. Ternyata hatiku tidak bergejolak seperti kemarin.
Mungkin tidak malam ini, siapa tahu malam-malam selanjutnya. Tapi aku rasa lebih baik disudahi saja perasaan ini. Bisa saja apa yang dari mata belum tentu selaras dengan hati. Aku berharap.
Rian pacar yang baik. Sungguh jahat jika perasaanku ini malah menghancurkan hubungan mereka. Agnes sepertinya juga cocok dengan dia. Aku pun juga belum terlalu kenal dengan Agnes. Siapa tahu, apa yang ada dirinya jika semakin terlihat membuatku jadi tidak suka. Buat apa terus-terusan berada di posisi seperti ini.
Agnes dan Rian masuk ke dalam mobil Yaris hitam. Di dekat gerbang, Agnes membuka kaca pintu dan melambaikan tangannya ke kami. Kami membalas dan menyampaikan agar berhati-hati di jalan. Tidak lama dari itu, kami pun juga menyusul pulang.
Sesudah bersih-bersih. Aku rebahkan tubuhku di kasur. Aku memandangi langit-langit kamarku yang pernah dihias oleh mantanku. Apakah perasaanku dengan Agnes hanya sebuah perasaan karena sepi? Aku rasa tidak. Ini bukan karena kesepian. Aku yakin ini cinta, cinta pada pandangan pertama.
Aku pusing jadinya, merasakan ini semua. Tapi aku mulai merasakan lagi yang sudah lama tidak kurasakan. Ini tidak pernah aku rasakan bersama mantanku sebelumnya. Aku merasa bodoh. Bodoh yang teramat sangat. Ini bukan aku yang biasanya. Aku tidak kebal.
0