- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1981
Hallo aku Elisa,
untuk update kali ini aku sendiri yang akan melakukannya. Untuk menghormati dia yang diceritakan di part ini.
Maaf untuk part kali ini bukan pengalaman yang mengerikan, tapi aku tetap akan menceritakannya ulang untuk menghormati dia.
Xx September 2016 (pagi)
Hari ini benar-benar hari yang…
Entahlah.. aku bingung harus merasakan apa di hari ini…
Pada satu sisi harusnya aku bahagia hari ini… tapi di sisi lain….
Bagaimana ya… entahlah…
Semuanya diawali dengan pagi hari ini, pada sekitar jam 2 pagi, aku dibangunkan karena udara yang tiba-tiba mendingin dengan tidak wajar.
Kedinginan yang disertai dengan debaran kencang jantungku.
Karena itulah ketika bangun aku langsung tau ada yang tidak beres…
Aku menatap kamarku yang gelap untuk beberapa saat… tidak ada apapun yang tampaknya tidak beres..
Tidak ada bau darah, melati, kemenyan, belerang ataupun bau-bau lain yang menandakan kehadiran ‘mereka’ yang ditandai dengan bau khusus itu.
Tapi bulu kudukku berdiri dan leherku menegang, selain itu, aku juga merasakan kalau ‘sesuatu’ sedang memandangi aku.
Perlahan aku menggapai remote lampu yang tergeletak di nakas dan menghidupkan lampu kamarku.
“AHHH!!!” teriakku terkejut karena begitu aku menyalakan lampu, aku melihat Robert sedang berdiri dalam diam di pinggiran lemariku. Hampir-hampir tersembunyi di balik baju-baju yang kugantung.
“Kamu membuatku kaget aja!!” omelku pada sosok Robert itu.
Tapi yang bersangkutan tidak bereaksi pada omelanku, bahkan sepertinya tidak mendengarku.
“Robert?” panggilku.
“Hei? Robert?” aku turun dari tempat tidurku dan mendekatinya.
Dari situlah aku merasakan sedikit keanehan padanya. Sosoknya terlihat lebih pudar dan lebih pucat dari biasanya.
“Robert?” aku mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Tapi begitu jariku menyentuh permukaan dari ‘tubuh’nya itu, sosoknya membuyar dan aku merasakan rasa dingin yang bagaikan menusuk jariku.
“AHH!!” teriakku kaget sambil menarik jariku.
Aku menatap ujung jariku yang terasa perih..
Berdarah..
Kulit yang berada di sekitar luka kecil di ujung jariku berkeriput dan terlipat secara tidak wajar, membuat bentuk luka yang mengerikan.
“Elisa?” aku mendengar suara Robert. Aku mengalihkan kembali pandanganku ke sosoknya yang sedang menatapku dengan bingung.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya padaku.
“Hah? Ini kan memang kost ku” jawabku.
Robert tampak terkejut, lalu melihat sekelilingnya “Bagaimana aku sampai di sini?” tanyanya, dia benar-benar tampak terkejut dan bingung.
Dan akupun sama bingungnya dengan dia.
“Robert? Kamu nggak apa kan?” tanyaku khawatir.
Dia menatapku kembali, senyuman sedih muncul di wajahnya. “Sebentar lagi mungkin tidak apa-apa” jawabnya.
Aku bingung “Maksudmu?”
Senyuman sedih itu kembali “Selamat ya, akhirnya kamu menerima dia kan?” kata Robert.
Aku tersipu, aku sangat yakin aku tersipu karena pipiku terasa panas. “Eh.. ah.. iya, begitulah…” jawabku.
“Dia pasti bisa menjagamu kok” kata Robert lagi.
Aku menatap Robert dengan penuh keheranan “Kamu kenapa?” tanyaku.
“Kenapa kamu nanya gitu?” tanya Robert.
“Nggak biasanya kamu nggak manggil Ayano dengan sebutan ‘si bego’ atau ‘playboy sialan’ atau panggilan lainnya yang jelas aku nggak suka” jelasku. “Malahan aku kira kamu yang bakal paling nolak hubungan aku sama Ayano”
Robert menatapku lagi dengan tersenyum teduh, walaupun masih terdapat kegetiran di sana “Yah, sebenarnya aku cuma ngiri aja sih, dia orang baik kok” kata Robert lagi.
“Kamu benar-benar aneh hari ini deh, udah dateng tiba-tiba, terus ngomong begini, aneh amat kayak kamu mau pergi jauh aja” kataku.
“Memang” jawab Robert singkat.
Mataku terasa hampir keluar karena melotot “APA!?”.
Robert cengengesan… bayangkan, cengengesan! Padahal dia hampir membuatku mengeluarkan bola mataku untuk melotot padanya “Coba ulangi!!” pintaku.
“Lisa, aku…. Gimana ya ngomongnya…” Robert tampak bingung “Kali ini aku udah mati beneran” lanjutnya.
Aku hanya diam dan bingung, berusaha untuk mengerti arah pembicaraannya.
“Aku udah mati Lisa, kali ini aku bukan lagi roh yang terusir dari tubuhnya” Robert tertunduk sedih “Aku bisa ngerasain, tubuhku udah mati. Aku sudah benar-benar lepas dari tubuhku sekarang”
Selama beberapa detik kami berdua diam dalam hening. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bertanya padanya.
“Lalu…..?”
Aku sengaja membiarkan pertanyaanku menggantung. Dalam hatiku, aku sudah mengetahui arah pembicaraan ini. Kedatangan Robert ke tempatku, dan kondisinya sekarang ini… sudah hampir menjawab semuanya…
“Aku.. tadinya nggak bermaksud ke sini.. tapi tau-tau aja aku udah ada di sini” kata Robert.
Aku membiarkannya berbicara.
“Aku… mau pamit Lis” katanya akhirnya.
Tanpa kusadari, aku mulai terisak. Tapi aku tidak mengalihkan pandanganku dari Robert. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegak dan menunggunya berbicara sampai selesai.
“Kalau aku terus di sini, aku bakal seperti mbak M***** (wanita dengan dress putih), aku nggak mau sampai jadi mahluk seperti dia. Mumpung aku masih bisa pergi sebagai seperti sekarang, aku mau pamit, lagipula…..”
“Lagipula apa?”
“Sekarang aku udah nggak ada beban. Si buaya itu pasti bisa menjagamu. Aku yakin” kata Robert sambil menyunggingkan senyum geli.
“Darimana kamu bisa yakin?” tanyaku.
“Hmmm… aku sudah menyuruh mbak M***** tiga kali untuk masuk ke mimpinya dan menggodanya, dan tiga-tiganya gagal tuh” katanya masih tersenyum geli.
“Robert!!!!” teriakku.
“Iya tau, sorry, tapi seperti yang aku bilang tadi, aku cemburu.” Robert membela dirinya “Tapi dengan begitu aku yakin, kalau godaan mbak M****** aja bisa ditepis, orang beneran pasti bisa ditepis juga” katanya.
“Kamu ngomong gitu kayak tau aja gimana kalo digodain ama Mbak M******” godaku.
“Percayalah, aku tau” katanya.
Sekali lagi aku membelalak kaget mendengar kata-katanya. “Memang dulu pernah di datengin?” tanyaku. Sebab aku tidak pernah mendengar kalau ternyata Robert juga pernah di datangi wanita berdress putih itu.
“Nggak, bukan dulu pas masih hidup, pas udah begini kok” katanya.
“Apa?!”
“Iya, tau-tau dia muncul pakai sosok kamu” kata Robert.
Aku merasa darahku menghilang dari wajahku. Masalahnya, penampilan wanita berdress putih itu ketika menggoda laki-laki adalah….
Oh Tuhanku…
“Robert… kasihtau aku, JUJUR!! Seperti apa yang diperlihatkan ke kamu…” ancamku pada Robert. Kali ini selain mukaku yang panas, aku juga merasakan darahku sedikit mendidih.
Aku benar-benar akan mengusir wanita ber-dress putih itu.
“Hei-hei, bukan cuma aku yang dapat tontonan tanpa busana seperti itu, Ayano juga lho, pernah didatangi juga sebagai sosok kamu”
Aku membeku.
Benar-benar membeku seiringan dengan bunyi ‘DEG!!’ kencang dari jantungku.
“A…a…a….a…..a….” lidahku terasa kelu, dan untuk sementara aku menjadi orang idiot yang tidak tau caranya berbicara.
Robert mengangkat kedua tangannya dalam posisi memohon “Aku tau, sorry, aku nggak minta dia muncul pakai sosok kamu, dan soal Ayano… aku minta maaf karena… eeee….. aku yang bilang ke Mbak M***** supaya adil antara aku dan dia”
Kali ini aku merasakan sesuatu yang meletus di belakang kepalaku.
“KAMU YANG SURUH MBAK M***** MUNCUL DEPAN AYANO SEBAGAI AKUU!!!????” teriakku.
“Ssstttt… Sssstttt!!!” ujar Robert panik “Kamu lupa ini jam berapa?”
“Jawab!!!” teriakku menuntut.
“Ya… aku minta maaf…” kata Robert.
Oh Tuhanku…. Astaga… bagaimana aku harus menatap Ayano besok….
Dia sudah melihatku… oh! Astaga!!
“Andai aja aku bisa udah aku tonjok kamu sampai bonyok!!” geramku pada Robert yang masih mengiba-iba minta ampun.
Aku benar-benar marah, sampai kemudian aku melihat sosoknya memudar sedikit.
“Ah….” Gumamnya. “Kamu bisa dengar lonceng itu Lis?”
Aku menatapnya bingung “Lonceng apa?”
Robert tersenyum “Sepertinya sudah waktunya…”
“Lonceng apa Robert?” desakku.
“Sepertinya penjemputku” katanya “Aku harus pergi, kalau tidak, aku akan jadi mahluk yang bukan aku lagi” lanjutnya.
Aku menatapnya dalam diam. Semua rasa kemarahanku menguap. Yang tersisa hanyalah rasa iba dan sepi yang seperti meremas jantungku.
“Robert….” Bisikku.
“Dadah Lisa” katanya sambil berbalik menuju tembok.
“Robert!!!” teriakku memanggilnya.
Robert menengok. “Selamat Jalan!!!” teriakku.
Robert tersenyum dan kembali berjalan menembus tembok.
Kemudian aku mendengar suara alarm dan terbangun.
Air mata masih mengalir di kedua mataku “Mimpi?” gumamku sambil menyeka air mata.
‘Drrrttt!’ ‘Drrrrtttt!’
Handphoneku bergetar. Telepon dari Ayano yang masuk.
“Halo…” jawabku dengan suara masih bergetar.
“Mendengar kamu habis menangis, berarti koko nggak cuma mimpi” kata Ayano di seberang telepon.
“Hah?” ucapku bingung.
“Robert datang kemarin, terasa seperti mimpi, tapi sepertinya beneran karena bekas cekikannya masih ada di leher koko” kata Ayano lagi.
“Eh? Cekikan?” ujarku kaget.
“Iya, dia ngancem koko jangan sampai ada perempuan lainnya lagi selama koko bersama kamu” jelasnya. “Terus setelah selesai, dia pamit pergi katanya.”
Aku terdiam.
“Dia sudah benar-benar pergi?” tanya Ayano lagi.
“Uhm” jawabku menyetujui.
“Kalau begitu, nanti jam 10 koko datang jemput kamu.” Kata Ayano.
“Jemput aku? Kenapa?”
“Kita ke makam Robert buat doain perjalanannya ke Surga”
Dan aku menyetujui usulnya itu.
==
Catatan Elisa : yang bingung kenapa Robert ada makamnya, makam yang kami maksud adalah makam kosong, karena setelah Robert diputuskan menghilang di gunung, pihak keluarga terdekatnya (paman dan tantenya) membuat pemakaman tanpa jasad. Makamnya terletak bersama-sama dengan kedua orang tua dan adiknya yang sudah meninggal lebih dulu.
untuk update kali ini aku sendiri yang akan melakukannya. Untuk menghormati dia yang diceritakan di part ini.
Maaf untuk part kali ini bukan pengalaman yang mengerikan, tapi aku tetap akan menceritakannya ulang untuk menghormati dia.
Spoiler for PART XLI:
Xx September 2016 (pagi)
Hari ini benar-benar hari yang…
Entahlah.. aku bingung harus merasakan apa di hari ini…
Pada satu sisi harusnya aku bahagia hari ini… tapi di sisi lain….
Bagaimana ya… entahlah…
Semuanya diawali dengan pagi hari ini, pada sekitar jam 2 pagi, aku dibangunkan karena udara yang tiba-tiba mendingin dengan tidak wajar.
Kedinginan yang disertai dengan debaran kencang jantungku.
Karena itulah ketika bangun aku langsung tau ada yang tidak beres…
Aku menatap kamarku yang gelap untuk beberapa saat… tidak ada apapun yang tampaknya tidak beres..
Tidak ada bau darah, melati, kemenyan, belerang ataupun bau-bau lain yang menandakan kehadiran ‘mereka’ yang ditandai dengan bau khusus itu.
Tapi bulu kudukku berdiri dan leherku menegang, selain itu, aku juga merasakan kalau ‘sesuatu’ sedang memandangi aku.
Perlahan aku menggapai remote lampu yang tergeletak di nakas dan menghidupkan lampu kamarku.
“AHHH!!!” teriakku terkejut karena begitu aku menyalakan lampu, aku melihat Robert sedang berdiri dalam diam di pinggiran lemariku. Hampir-hampir tersembunyi di balik baju-baju yang kugantung.
“Kamu membuatku kaget aja!!” omelku pada sosok Robert itu.
Tapi yang bersangkutan tidak bereaksi pada omelanku, bahkan sepertinya tidak mendengarku.
“Robert?” panggilku.
“Hei? Robert?” aku turun dari tempat tidurku dan mendekatinya.
Dari situlah aku merasakan sedikit keanehan padanya. Sosoknya terlihat lebih pudar dan lebih pucat dari biasanya.
“Robert?” aku mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Tapi begitu jariku menyentuh permukaan dari ‘tubuh’nya itu, sosoknya membuyar dan aku merasakan rasa dingin yang bagaikan menusuk jariku.
“AHH!!” teriakku kaget sambil menarik jariku.
Aku menatap ujung jariku yang terasa perih..
Berdarah..
Kulit yang berada di sekitar luka kecil di ujung jariku berkeriput dan terlipat secara tidak wajar, membuat bentuk luka yang mengerikan.
“Elisa?” aku mendengar suara Robert. Aku mengalihkan kembali pandanganku ke sosoknya yang sedang menatapku dengan bingung.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya padaku.
“Hah? Ini kan memang kost ku” jawabku.
Robert tampak terkejut, lalu melihat sekelilingnya “Bagaimana aku sampai di sini?” tanyanya, dia benar-benar tampak terkejut dan bingung.
Dan akupun sama bingungnya dengan dia.
“Robert? Kamu nggak apa kan?” tanyaku khawatir.
Dia menatapku kembali, senyuman sedih muncul di wajahnya. “Sebentar lagi mungkin tidak apa-apa” jawabnya.
Aku bingung “Maksudmu?”
Senyuman sedih itu kembali “Selamat ya, akhirnya kamu menerima dia kan?” kata Robert.
Aku tersipu, aku sangat yakin aku tersipu karena pipiku terasa panas. “Eh.. ah.. iya, begitulah…” jawabku.
“Dia pasti bisa menjagamu kok” kata Robert lagi.
Aku menatap Robert dengan penuh keheranan “Kamu kenapa?” tanyaku.
“Kenapa kamu nanya gitu?” tanya Robert.
“Nggak biasanya kamu nggak manggil Ayano dengan sebutan ‘si bego’ atau ‘playboy sialan’ atau panggilan lainnya yang jelas aku nggak suka” jelasku. “Malahan aku kira kamu yang bakal paling nolak hubungan aku sama Ayano”
Robert menatapku lagi dengan tersenyum teduh, walaupun masih terdapat kegetiran di sana “Yah, sebenarnya aku cuma ngiri aja sih, dia orang baik kok” kata Robert lagi.
“Kamu benar-benar aneh hari ini deh, udah dateng tiba-tiba, terus ngomong begini, aneh amat kayak kamu mau pergi jauh aja” kataku.
“Memang” jawab Robert singkat.
Mataku terasa hampir keluar karena melotot “APA!?”.
Robert cengengesan… bayangkan, cengengesan! Padahal dia hampir membuatku mengeluarkan bola mataku untuk melotot padanya “Coba ulangi!!” pintaku.
“Lisa, aku…. Gimana ya ngomongnya…” Robert tampak bingung “Kali ini aku udah mati beneran” lanjutnya.
Aku hanya diam dan bingung, berusaha untuk mengerti arah pembicaraannya.
“Aku udah mati Lisa, kali ini aku bukan lagi roh yang terusir dari tubuhnya” Robert tertunduk sedih “Aku bisa ngerasain, tubuhku udah mati. Aku sudah benar-benar lepas dari tubuhku sekarang”
Selama beberapa detik kami berdua diam dalam hening. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bertanya padanya.
“Lalu…..?”
Aku sengaja membiarkan pertanyaanku menggantung. Dalam hatiku, aku sudah mengetahui arah pembicaraan ini. Kedatangan Robert ke tempatku, dan kondisinya sekarang ini… sudah hampir menjawab semuanya…
“Aku.. tadinya nggak bermaksud ke sini.. tapi tau-tau aja aku udah ada di sini” kata Robert.
Aku membiarkannya berbicara.
“Aku… mau pamit Lis” katanya akhirnya.
Tanpa kusadari, aku mulai terisak. Tapi aku tidak mengalihkan pandanganku dari Robert. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegak dan menunggunya berbicara sampai selesai.
“Kalau aku terus di sini, aku bakal seperti mbak M***** (wanita dengan dress putih), aku nggak mau sampai jadi mahluk seperti dia. Mumpung aku masih bisa pergi sebagai seperti sekarang, aku mau pamit, lagipula…..”
“Lagipula apa?”
“Sekarang aku udah nggak ada beban. Si buaya itu pasti bisa menjagamu. Aku yakin” kata Robert sambil menyunggingkan senyum geli.
“Darimana kamu bisa yakin?” tanyaku.
“Hmmm… aku sudah menyuruh mbak M***** tiga kali untuk masuk ke mimpinya dan menggodanya, dan tiga-tiganya gagal tuh” katanya masih tersenyum geli.
“Robert!!!!” teriakku.
“Iya tau, sorry, tapi seperti yang aku bilang tadi, aku cemburu.” Robert membela dirinya “Tapi dengan begitu aku yakin, kalau godaan mbak M****** aja bisa ditepis, orang beneran pasti bisa ditepis juga” katanya.
“Kamu ngomong gitu kayak tau aja gimana kalo digodain ama Mbak M******” godaku.
“Percayalah, aku tau” katanya.
Sekali lagi aku membelalak kaget mendengar kata-katanya. “Memang dulu pernah di datengin?” tanyaku. Sebab aku tidak pernah mendengar kalau ternyata Robert juga pernah di datangi wanita berdress putih itu.
“Nggak, bukan dulu pas masih hidup, pas udah begini kok” katanya.
“Apa?!”
“Iya, tau-tau dia muncul pakai sosok kamu” kata Robert.
Aku merasa darahku menghilang dari wajahku. Masalahnya, penampilan wanita berdress putih itu ketika menggoda laki-laki adalah….
Oh Tuhanku…
“Robert… kasihtau aku, JUJUR!! Seperti apa yang diperlihatkan ke kamu…” ancamku pada Robert. Kali ini selain mukaku yang panas, aku juga merasakan darahku sedikit mendidih.
Aku benar-benar akan mengusir wanita ber-dress putih itu.
“Hei-hei, bukan cuma aku yang dapat tontonan tanpa busana seperti itu, Ayano juga lho, pernah didatangi juga sebagai sosok kamu”
Aku membeku.
Benar-benar membeku seiringan dengan bunyi ‘DEG!!’ kencang dari jantungku.
“A…a…a….a…..a….” lidahku terasa kelu, dan untuk sementara aku menjadi orang idiot yang tidak tau caranya berbicara.
Robert mengangkat kedua tangannya dalam posisi memohon “Aku tau, sorry, aku nggak minta dia muncul pakai sosok kamu, dan soal Ayano… aku minta maaf karena… eeee….. aku yang bilang ke Mbak M***** supaya adil antara aku dan dia”
Kali ini aku merasakan sesuatu yang meletus di belakang kepalaku.
“KAMU YANG SURUH MBAK M***** MUNCUL DEPAN AYANO SEBAGAI AKUU!!!????” teriakku.
“Ssstttt… Sssstttt!!!” ujar Robert panik “Kamu lupa ini jam berapa?”
“Jawab!!!” teriakku menuntut.
“Ya… aku minta maaf…” kata Robert.
Oh Tuhanku…. Astaga… bagaimana aku harus menatap Ayano besok….
Dia sudah melihatku… oh! Astaga!!
“Andai aja aku bisa udah aku tonjok kamu sampai bonyok!!” geramku pada Robert yang masih mengiba-iba minta ampun.
Aku benar-benar marah, sampai kemudian aku melihat sosoknya memudar sedikit.
“Ah….” Gumamnya. “Kamu bisa dengar lonceng itu Lis?”
Aku menatapnya bingung “Lonceng apa?”
Robert tersenyum “Sepertinya sudah waktunya…”
“Lonceng apa Robert?” desakku.
“Sepertinya penjemputku” katanya “Aku harus pergi, kalau tidak, aku akan jadi mahluk yang bukan aku lagi” lanjutnya.
Aku menatapnya dalam diam. Semua rasa kemarahanku menguap. Yang tersisa hanyalah rasa iba dan sepi yang seperti meremas jantungku.
“Robert….” Bisikku.
“Dadah Lisa” katanya sambil berbalik menuju tembok.
“Robert!!!” teriakku memanggilnya.
Robert menengok. “Selamat Jalan!!!” teriakku.
Robert tersenyum dan kembali berjalan menembus tembok.
Kemudian aku mendengar suara alarm dan terbangun.
Air mata masih mengalir di kedua mataku “Mimpi?” gumamku sambil menyeka air mata.
‘Drrrttt!’ ‘Drrrrtttt!’
Handphoneku bergetar. Telepon dari Ayano yang masuk.
“Halo…” jawabku dengan suara masih bergetar.
“Mendengar kamu habis menangis, berarti koko nggak cuma mimpi” kata Ayano di seberang telepon.
“Hah?” ucapku bingung.
“Robert datang kemarin, terasa seperti mimpi, tapi sepertinya beneran karena bekas cekikannya masih ada di leher koko” kata Ayano lagi.
“Eh? Cekikan?” ujarku kaget.
“Iya, dia ngancem koko jangan sampai ada perempuan lainnya lagi selama koko bersama kamu” jelasnya. “Terus setelah selesai, dia pamit pergi katanya.”
Aku terdiam.
“Dia sudah benar-benar pergi?” tanya Ayano lagi.
“Uhm” jawabku menyetujui.
“Kalau begitu, nanti jam 10 koko datang jemput kamu.” Kata Ayano.
“Jemput aku? Kenapa?”
“Kita ke makam Robert buat doain perjalanannya ke Surga”
Dan aku menyetujui usulnya itu.
==
Catatan Elisa : yang bingung kenapa Robert ada makamnya, makam yang kami maksud adalah makam kosong, karena setelah Robert diputuskan menghilang di gunung, pihak keluarga terdekatnya (paman dan tantenya) membuat pemakaman tanpa jasad. Makamnya terletak bersama-sama dengan kedua orang tua dan adiknya yang sudah meninggal lebih dulu.
johny251976 dan marcellaal memberi reputasi
2
Kutip
Balas