Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Yaudah, gue mati aja

Cover By: kakeksegalatahu


Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.





Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue



emoticon-Bettyemoticon-Betty emoticon-Betty



----------




SECOND STORY VOTE:
A. #teambefore
B. #teamafter
C. #teamfuture

PREDIKSI KASKUSER = EMIL



----------



PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.



----------


Spoiler for QandA:


WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+



NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY


Spoiler for Ilustrasi:


Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.


Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
mazyudyudAvatar border
xue.shanAvatar border
agoritmeAvatar border
agoritme dan 11 lainnya memberi reputasi
12
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#2719
PART 85

“Ini pertama kalinya aku ketemu sama orangtuanya pacar aku,” kata seorang cewek di dalam mobilnya.
“Dasar cupu! Ketemu camer aja enggak berani.”
Cewek itu mencubit pinggang cowok disebelahnya, “Kok kamu gitu?!”
Dengan cepat cowok itu mengusap-usap pinggangnya, “Sakit, Ma!”

Di tengah perjalanan ke rumah cowok itu, mereka melihat seorang anak perempuan duduk di atas kursi roda. Anak perempuan itu menyita pandangan mereka dan sekaligus membuat cewek itu penasaran.

“Itu kenapa, ya?” tanya Irma.
“Paling juga mau ke tempat simbah,” jawab cowok itu santai.
Dengan sigap si cewek menarik muka cowk diseblahnya, “Ron, dia kanker?”
“Ya apalagi kalo bukan kanker, dia kan ke rumah simbah. Apa perlu aku berhentiin motornya terus nanya sama dia, ‘Dek kamu kena kanker, ya?’ ”
“Sembarangan!”

Simbah? Ya, bener banget. Simbah yang di maksud adalah temennya eyang Masayu yang biasa mengobati permasalahan sel kanker.
Pertemuan yang enggak sengaja itulah yang bisa dibilang memperpanjang umur Masayu untuk beberapa tahun ke depan.

“Ron! Dia beneran ke sini!”
“Tuh kan bener dia kena kanker.”
“Kasihan, ya? masih kecil gitu udah harus kena kanker.”
“Cantik lagi.”
Cewek itu dengan cekatan mencubit pinggang si cowok, “Kamu ngomong apa?!”
“AMPUN!”

Pengobatan anak perempuan itu dimulai pada hari itu. Selama berminggu-minggu setelahnya pasangan itu dan Masayu bertemu. Awalnya mereka hanya saling melempar senyum, tapi lama kelamaan cewek itu penasaran dan ingin mengobrol dengan cewek itu.

“Hei, Dek. Namanya siapa?” sapa cewek itu.
“Aku Masayu, Kak. Kalo kakak?”
“Aku Irma, kalo yang gendut itu namanya Roni.”
“Sembarangan bilang aku gendut!” Roni menepuk-nepuk pertunya, “Ini tuh energi, biar bisa jagain orang-orang kayak kalian.”

Sejak perkenalan itu mereka bertiga jadi sering ngobrol ketika Masayu datang ke rumah simbah suntuk berobat. Masayu juga jadi lebih sering senyum dari sebelumnya. Tingkah konyol mas Roni, ditambah mbak Irma yang sering marah-marah enggak jelas mengisi hari-hari Masayu.
Gue tau, gue juga paham, ini semua kayak dongeng. Tapi siapa yang kira kalo tokoh-tokoh di dongeng itu beneran ada di dunia nyata. Dan kisah mereka pun nyata adanya.

“Kalian berdua ini cocok banget,” kata Masayu.
“Masa sih, Yu?” mbak Irma mencolek hidung Masayu.
“Dibilang juga apa, Roni gitu loh.”
Masayu mencolek pinggang mbak Irma, “Buruan nikah sih, nunggu apa lagi coba?”
“Nunggu apa Ron?” goda mbak Irma.
“Nunggu sampe ada yang jagain Ayu selain kita berdua kali, haha.”

Pengobatan yang paling mujarab adalah tertawa. Memang sih belum ada pembuktian konkritnya tentang teori ini. Tapi kenyataannya, sering ketemu sama mas Roni dan mbak Irma keajaiban pun terjadi, Masayu bisa balik jalan lagi.

“Ma! Ayu bisa jalan lagi! Ma! Pengobatannya berhasil!” seru Masayu senang.
Mama memeluk Masayu, “Alhamdulillah! Kamu jangan lupa banyakin berdoanya ya, sayang.”
“Makasih ya, Mbah. Berkat bantuan dari simbah anak saya bisa jalan lagi,” kata Papa.
Simbah hanya tersenyum, “Pertolongan dari yang di atas itu nyata.”

Sejak hari itu Masayu dan mama memutuskan untuk tinggal di Jogja, sementara papa balik lagi ke daerah asalnya. Masayu sadar, bukan cuma pengobatan simbah yang menyembuhkan dia, tapi juga dukungan dari orang-orang disekitarnya. Dia memilih tinggal di Jogja karena dekat dengan mbak Irma dan mas Roni, selain itu, semisal terjadi apa-apa, simbah bisa lebih dekat untuk dihubungi.

Hari-hari Masayu selanjutnya di habiskan untuk terapi di rumah sakit. Sesekali dia meminta mama untuk mampir ke kosan mas Roni dan mbak Irma sekedar hanya untuk main.

“Ma, Ayu punya permintaan.”
“Apa, sayang?”
“Mama pulang aja temenin papa. Biarin Ayu di Jogja sendirian.”
“Enggak mungkinlah, sayang. Kamu nanti disini gimana kalo mama tinggal?”
“Ma, aku udah enggak kenapa-napa. Ayu pengin jadi lebih mandiri disini. Mama sama papa enggak perlu khawatir, lagipula ada mas Roni sama mbak Irma yang bisa jagain Ayu.”
“Tapi, sayang—”
“Ma….”
“Mama turutin, tapi kamu harus kos di tempat Roni sama Irma.”

Mulai hari itu Masayu tinggal di kos yang sama dengan mas Roni dan mbak Irma. Mama meminta tolong pada mas Roni dan mbak Irma buat menjaga dan membantu Masayu sebisa mereka, dia juga meminta Masayu untuk tidak terlalu merepotkan mereka. Mas Roni dan mbak Irma menyanggupi, begitu juga dengan Masayu.
xue.shan
xue.shan memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.