- Beranda
- Stories from the Heart
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
...
TS
dianmaya2002
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
Cuma mau berbagi cerita buatan ane yang absurd bin ngarang 
butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk

butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk
Quote:
Darren Pradipta remaja berusia 19 tahun yang patah hati karena perceraian kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk pergi ke Paris menjauhi orang - orang yang menatapnya dengan tatapan iba. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai seorang pengawas CCTV di sebuah hotel megah berbintang lima bernama La Chandelier.
Pekerjaannya sebagai pengawas CCTV membawanya kedalam tragedi dan sejarah kelam yang pernah terjadi di hotel itu. Akankah Darren sanggup menghadapi kemistisan hotel ini??
-Cerita ini mengandung konten dewasa dengan bahasa kasar, sexual harrasement dan segala hal yang memang harus disingkapi dengan pemikiran yang dewasa-
Spoiler for Prolog:
PROLOG
Sorot matanya menatap tajam hamparan gedung – gedung pencakar langit yang dilengkapi dengan cahaya gemerlapan dari atas sebuah rooftop gedung tertinggi di Metropolis. Sejenak ia menutup kedua matanya mencoba menikmati hembusan angin malam berhawa panas. Tidak ada kesejukan di kota ini kecuali penemuan brilian yang dinamakan Air Conditioning (AC). Sumpek satu kata yang melintas dibenaknya.
Rambutnya telah memanjang, terakhir ia memangkasnya adalah sehari sebelum kelulusan SMA-nya. Masa – masanya sebagai remaja bengal langganan guru BP telah berakhir. Sekarang ia bingung dengan masa depan dihadapannya.
‘Apa yang harus aku lakukan?’
Pertanyaan itu seakan – akan selalu saja menganggunya. Memaksa untuk dijawab seolah – olah tidak akan ada hari esok. Realita seakan mengejarnya seperti seorang polisi mengejar penjahat. Dunia cukup kejam, huh?!
Seharusnya saat ini ia sedang duduk disofa rumahnya sambil meminum segelas susu cokelat hangat ditemani sosok ayah dan ibu. Membagi keluh kesahnya akan masa depan. Masa dimana ia harus berdiri dibawah kakinya sendiri. Masa dimana ia harus mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai pria dewasa. Tapi semua itu hanya menjadi impian fana seorang Darren Pradipta yang takkan pernah terwujud. Orang tuanya bercerai dua hari setelah hari kelulusan dan setelah itu mereka sibuk dengan diri mereka sendiri.
Apa kau baik – baik saja?
Orang – orang disekitarnya tak berhenti menanyakan hal itu hingga Darren sampai pada limit dimana dirinya sudah tak mampu lagi menerima pertanyaan simple itu. Ingin sekali ia berteriak dengan kencang tepat didepan wajah orang – orang sok peduli itu.
I’m not fucking okay! I’m broken…
Tentu saja hal itu urung dilakukan. Buat apa ia harus buang energi untuk menceritakan isi hatinya pada orang – orang tak jelas seperti itu. Jadi disinilah ia! Rooftop sebuah gedung pencakar langit. Mencoba menjauh dari semua orang yang menatapnya dengan pandangan kasihan dan menghakiminya sebagai sosok broken home. Tak terlintas sedikit pun dipikirannya untuk menjadi anak emo yang akan menyayat pergelangan tangannya dengan silet tajam untuk mencari perhatian. Atau seorang junkies yang dengan tololnya menjatuhkan diri di kubangan obat – obatan terlarang hingga mati. Atau menggantung dirinya di langit – langit kamar hingga tewas dan akhirnya menjadi headline di koran kriminal.
I’m in pain but I’m not that stupid!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
Ditengah – tengah renungannya, Darren dikejutkan dengan suara yang memang sudah familiar ditelinganya.
“Ternyata kau ada disini.”
Suara familiar itu milik sahabatnya Erick Alcander, anak si pemilik gedung pencakar langit. Seulas senyuman tercetak jelas diwajahnya. Darren pun berbalik dan melihatnya berdiri tak jauh di belakangnya.
“Rokok?”
Tanpa aba – aba ia melempar sebungkus rokok menthol kearahnya. Tangan kanannya menangkap sebungkus rokok menthol yang isinya sudah berkurang satu itu. Ia mengambil sesebatang rokok lalu menyelipkannya disela – sela sebelum menyalakannya dengan pemantik berwarna silver berlogo kuda yang selalu dibawanya disaku jeans-nya. Pemantik itu pemberian Donny Geraldine, anak angkat seorang mafia Italia yang juga sahabat baiknya.
“Waktu berlalu sangat cepat.” Ujar Erick setelah menghembuskan gumpalan asap putih dari mulutnya. “Aku masih merasa jika kemarin baru saja di MOS.”
Darren masih saja diam tak menanggapi perkataan Erick yang menurutnya terlalu sentimental. Ia menyibukkan dirinya dengan menghisap rokok putih itu hingga asap memenuhi paru – parunya lalu menghembuskannya dengan ekspresi nikmat tiada tara. Rokok memang membuatnya melupakan kesuraman hidupnya walau untuk sejenak.
“Apa rencanamu setelah ini?”
Ia mengedikkan bahunya karena tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin didunia ini cuma dirinya saja yang tidak punya rencana masa depan.
“Keichiro dan Donny telah memilih pilihan hidup mereka. Sekarang giliranmu Darren.”
Kali ini perkataan Erick benar – benar menohok ulu hatinya. Keichiro, pria keturunan Jepang yang penakut itu telah kembali ke Jepang untuk mengambil alih posisinya sebagai ketua Yakuza dari Klan Yamaguchi. Sedangkan Donny ditugaskan ayahnya, Don Geraldine, dalam misi penaklukan Golden Triangle dimana ia harus membangun kerajaan bisnis narkotiknya di perbatasan Thailand, Filipina dan Myanmar. Ia benar – benar merasa jika dirinya adalah seorang pecundang sejati yang tak punya masa depan.
“Ikutlah denganku ke Paris.”
Darren tersenyum kecut. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia terdiam cukup lama, berusaha untuk fokus mencari jawaban yang pas untuk menanggapi perkataan Erick.
“Dengan satu syarat.” Jawabnya dengan suara bariton yang selalu membuat lawan jenis terpesona. “Aku akan mencari pekerjaan. Tinggal di flat kecil dan menikmati waktuku sendiri. Intinya aku butuh waktu untukku sendiri Erick.”
“Baiklah kalau begitu!”
Dua hari kemudian, Darren berangkat ke Paris bersama Erick dan keluarga besar Alcander. Sementara itu Rafael Pradipta sang ayah mendengar kabar keberangkatan putra sulungnya dari Anthony Alcander, sahabat baik yang juga ayah dari Erick.
***
INDEX
NEW
Komen +Ratting + Cendol
Diubah oleh dianmaya2002 12-11-2016 04:01
aripinastiko612 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
34.5K
Kutip
197
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#173
Sorry buat apdetan yang lamanya banget... banget... sampe kentang
Renata Whitby melangkahkan kaki jenjangnya ke ruang manajemen yang baru saja direnovasi. Hari ini ia mempunyai jadwal meeting dengan beberapa orang staff karyawannya untuk membahas event yang akan diselenggarakan pada hari natal dan tahun baru. Kegiatan kantor memang belum dimulai, mengingat ini masih jam 06.30 pagi. Salah satu kebiasaan yang dianggap menyebalkan oleh bawahannya adalah ia selalu datang pagi – pagi sekali bahkan sebelum jam kantor mulai. Terkadang para bawahannya pun bingung sebenarnya apa yang ada dibenak seorang Renata Whitby.
Para bawahannya pun sering dibuat penasaran dengan kehidupan seks dan percintaan seorang Renata Whitby. Mereka sering memperdebatkan apakah wanita berusia 27 tahun itu masih perawan atau tidak, mengingat bahwa ia tidak pernah sekalipun dekat dengan seorang pria ataupun wanita. Pergi ke pub atau diskotik atau hanya untuk bersenang – senang mungkin hanya setahun sekali itu pun jika ia ingat. Banyak yang beranggapan jika Miss Whitby terlalu memforsir dirinya dalam bekerja. Workaholic akut!
Akhirnya ia pun sampai didepan ruang karyawan. Dirinya sungguh terkejut ketika mendapati dua orang berbeda kelamin tengah tak sadarkan diri dilantai ruangan. Miss Whitby pun berjalan mendekati kedua orang itu, lalu berjongkok dan mencoba untuk membangunkannya. Sayangnya kedua orang yang diketahui bernama Darren dan Sissy itu tak bergeming sedikit pun. Akhirnya ia menyadari bahwa kedua orang itu pingsan. Miss Whitby berlari ke arah meja dimana disana terdapat telepon kantor, lalu dengan cepat ia men-dial security yang saat itu bertugas untuk segera datang ke sana.
Tak beberapa lama Justin si kepala sekuriti dan beberapa orang bawahannya datang.
"Kalian! Bawa mereka ke ruang kesehatan. Cek juga CCTV. Cari tahu apa yang terjadi pada mereka."
"Baik."
Tiba – tiba salah seorang sekuriti tergopoh – gopoh menghampiri mereka. Raut wajahnya memucat dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
"Miss Whitby... Tuan Alcander.."
"Tolong bicara yang jelas."
"Sa... saya menemukan Tuan Alcander di to... toilet."
"So?!"
"Tak sadarkan diri dengan... Sebaiknya anda melihatnya sendiri."
Miss Whitby ditemani oleh dua orang sekuriti berjalan menuju toilet. Ia begitu terkejut ketika melihat bosnya tengah tak sadarkan diri disebelah pria berkulit hitam dengan celana panjang yang melorot. Pikirannya sudah mengarah ke segala hal yang berbau negatif. Apa yang ia lihat sekarang adalah berita besar yang dapat mengguncang dunia persilatan. Maksudnya Erick Alcander adalah putera sulung pebisnis sukses kaya raya tersohor, Anthony Alcander, jika foto mereka berdua tersebar maka akan menjadi skandal besar. Dengan satu foto saja maka boom! Akan banyak sekali pesaing bisnis Anthony Alcander yang membayarnya mahal dan ia akan menjadi bilyuner dadakan. Namun sayangnya, Miss Whitby tak sepicik itu.
"Kau periksa mereka."
Salah seorang sekuriti mendekati tubuh Erick dan Miccah, lalu memeriksa denyut nadinya. Mereka berdua masih hidup, hanya saja tak sadarkan diri seperti Sissy dan Darren. Lalu beberapa orang sekuriti membawa kedua orang itu ke ruang kesehatan dimana Miss Whitby sudah menghubungi dokter khusus yang memang sudah dipercaya untuk bekerja sama dengan pihak hotel. Tentunya dokter itu sudah disumpah untuk tutup mulut.
"Mereka berempat mengalami koma."
"Koma? Apa anda tidak salah diagnosis?"
"Ini hanya diagnosis sementara Miss. Saya harap mereka berempat dibawa ke rumah sakit sekarang juga agar dapat didiagnosis secara mendalam."
Miss Whitby menghela nafas panjang, ia tak habis pikir bahwa peristiwa ganjil ini terjadi begitu saja. Mimpi apa dirinya semalam sampai menemukan empat orang yang koma secara bersamaan. Tak berapa lama mereka berempat dibawa ke rumah sakit khusus yang memang sudah menjalin kerja sama dengan pihak La Chandelier. Dan tentunya semua orang yang tahu kejadian ini diharuskan tutup mulut, jika tidak maka hidup mereka tidak akan tenang karena berhadapan langsung dengan Anthony Alcander.
***
"SHIT! DIMANA KITA?"
Kalimat itu adalah kalimat yang pertama kali meluncur dari bibir Darren saat pintu lift itu terbuka. Mereka berempat terkejut ketika melihat pintu lift terbuka disebuah tempat asing yang begitu suram dan menakutkan.
"The Other Side." Gumam Erick pelan
"Maksud anda?" tanya Sissy sambil mencengkeram lengan Darren dengan sangat erat karena ketakutan.
"Singkatnya tiga hantu sialan itu menarik kita ke alamnya. Jika kau pernah menonton film – film horror dimana si cenayang memasuki alam lain untuk menjemput jiwa seseorang yang terjebak disana. Dengan kata lain kita berempat berada dialam itu."
"..."
"Tenang saja kita masih berada di La Chandelier hanya saja dengan versi horror. Kalian tidak usah takut."
"Apa maksud anda dengan tidak usah takut?" Protes Miccah sambil mengerutkan keningnya. "Dengan kata lain kita sedang mengalami apa yang namanya mati. Oh Man! Aku belum merasakan nikmatnya dunia ini dan aku tidak mau berakhir disini bersama kalian."
"Lebay! Tenanglah! Sebaiknya kita keluar dan melihat – lihat. Aku akan menjadi tour guide kalian. Jangan takut!" Ujar Erick tenang. "Aku kenal baik dengan sebagian besar penghuni tak kasat mata di hotel ini."
"Kau pikir ini karya wisata hah?!" protes Darren. "Kita harus keluar dari sini secepatnya Erick. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Haha... Aku hanya tidak ingin kalian tegang jadi dibawa santai saja. Kita harus mencari portal untuk kembali ke tubuh kita Darren."
"Dan bagaimana kita mencarinya Tuan Alcander?" tanya Sissy.
"Panggil saja aku Erick tidak usah terlalu formal ini bukan jam kantor. Portal itu berbentuk cermin, kita harus menemukannya sebelum 24 jam. Jika kita tidak menemukannya tepat waktu maka kita akan terjebak disini selamanya dan menjadi penghuni tak kasat mata La Chandelier."
"Itu mudah! Kita hanya perlu ke toilet atau gym. Disana banyak sekali cermin." Ujar Miccah.
"Kau pikir semudah itu?" ujar Erick sambil menatap Miccah dengan tatapan tajam. "Cermin yang menjadi portal antara dunia ini dengan dunia kita adalah cermin tua berbingkai keemasan yang berada disalah satu kamar penthouse dilantai 35. Aku lupa nomer berapa kamar penthouse itu hanya saja jalan kita tidak akan mudah karena kita harus bertemu dengan berbagai jenis mahluk halus."
"..."
"Dan yang pertama harus kita lakukan adalah pergi ke kafetaria. Kita harus mempersenjatai diri kita dengan senjata tajam seperti pisau atau benda tajam lainnya."
"Percuma saja mereka tidak akan mati." Celetuk Miccah
"Kau ini menyebalkan sekali!" ujar Erick sinis. "Paling tidak kita dapat memperlambat gerak mereka walaupun kau tidak dapat membunuhya."
"Sebaiknya kita bergegas! Jika terlalu lama disini, maka waktu kita akan terbuang percuma." Ujar Darren yang melangkah duluan keluar dari lift diikuti oleh mereka bertiga.
***
Anthony Alcander melangkahkan kakinya menuju ruang IGD salah satu rumah sakit terbaik di Paris. Ia begitu terkejut saat Miss Whitby tiba – tiba menghubungi sekretarisnya dan memberitahukan bahwa anaknya laki – lakinya, Erick masuk rumah sakit karena koma. Anthony pun langsung menghentikan meeting direksi saat itu juga dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Kini mata tajamnya tengah menatap Miss Whitby, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Saya juga kurang tahu Sir. Saya menemukan mereka berempat sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ketika kami membawanya ke ruang kesehatan, dokter Jeremy memeriksanya dan memberikan diagnosis bahwa mereka berempat mengalami koma."
"Bagaimana dengan kamera CCTV?"
"Sebenarnya malam itu dua pegawai yang bernama Darren dan Miccah sedang bertugas untuk memasang kamera CCTV di kantor manajemen yang baru. Mereka berdua baru selesai memasang kamera CCTV yang berada di ruang kerja karyawan saja."
"..."
"Kamera CCTV dalam ruang kerja karyawan berfungsi sangat baik dan hmmm... ada beberapa kejadian ganjil yang terekam tapi saya kurang begitu yakin."
Anthony Alcander memijit dahinya yang berdenyut.
"Aku ingin melihat rekaman itu secepatnya."
"Baik Sir."
***
Ruang kafetaria itu sangat sepi dan mencekam. Tidak ada satu pun orang... Ralat! Tidak ada satu pun mahluk halus atau hantu yang terlihat disana. Paling tidak mereka berempat bisa bernafas dengan lega ketika mengetahui bahwa mereka aman. Mereka berempat langsung melangkah kearah kitchen. Tidak ada apa pun disana, kosong.
"Ambil semua barang yang berguna untuk self defence kalian. Simpan baik – baik dan gunakan jika benar – benar terdesak." Ujar Erick lagi.
Mereka berempat pun langsung sibuk mencari pisau, gunting, dan berbagai benda tajam yang dapat digunakan untuk pertahanan diri. Tidak ada satu pun diantara mereka berempat yang mengeluarkan suara sedikit pun, masing – masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Sampai suara gebrakan keras mengagetkan mereka.
BRAKKK!!!
Darren menatap Erick tanpa bersuara sedikit pun namun ia seakan mengerti apa yang akan ditanyakan oleh sahabatnya itu. Erick memberikan aba – aba kepada mereka bertiga agar menunduk dan bersembunyi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Suara mengerikan itu pun kembali terdengar.
BRAKKK!!!
Erick merangkak secara perlahan menuju sebuah sebuah jendela kecil yang biasanya berfungsi untuk menyampaikan orderan karyawan yang sudah jadi kepada pelayan yang bertugas di bagian depan sebagai kasir. Ia sedikit menengadahkan kepalanya hingga dirinya begitu terkejut saat melihat sesosok pria berbadan besar dengan perut buncit yang dibalut dengan kulit putih kekusaman. Sosok mengerikan itu mengenakan pakaian singlet dan apron putih yang usang dan penuh bercak darah. Kepalanya botak hanya sedikit helaian rambut yang tumbuh disana. Wajahnya sungguh buruk rupa dengan gigi bagian bawah yang tak beraturan menonjol keluar. Kedua matanya berwarna putih tanpa ada bola mata hitamnya sama sekali. Di beberapa bagian terlihat kulitnya terkelupas berwarna kemerahan. Tangan kirinya membawa sebuah pisau dapur berukuran besar yang ia gunakan untuk membelah meja dan kursi yang ada di kafetaria sedangkan tangan kanannya membawa hook yang biasa digunakan untuk menggantung daging. Hook itu tersambung dengan rantai besi yang dapat dilempar dan ditarik kembali dengan mudahnya oleh si pengguna.
BRAAKKK!!!
Monster itu mengayunkan pisau dapur besarnya itu pada sebuah meja hingga hancur berkeping – keping. Erick langsung bersembunyi dengan cepat sebelum monster itu menyadari keberadaan mereka. Darren yang tak jauh dari sana kembali menatap Erick dengan pandangan bertanya – tanya. Erick masih saja bungkam, ia hanya menjawab pertanyaan Darren dengan telunjuk yang ditempelkan ke bibirnya. Mengisyaratkan untuk diam dan tidak banyak bertanya.
Suasana menjadi sangat hening tapi mereka berempat dapat merasakan aura kengerian yang lebih mencekam daripada awal mereka tiba di tempat itu. Erick yang penasaran pun kembali menengadahkan kepalanya untuk mengecek apakah monster itu sudah pergi atau belum. Naasnya wajah monster itu ternyata tengah menatap Erick melalui jendela kecil itu.
GROOOOAAAAAARRRRRRR!!!!!!
Suara keras dan bau mulutnya yang busuk langsung menerpa wajah Erick yang jaraknya hanya sejengkal dari monster itu. Erick nyaris pingsan karena bau busuk yang ia cium hanya saja Darren berhasil menarik tubuhnya menjauh dari sana. Mahluk itu masih terus meraung – raung tiada henti sambil memasukkan tangannya yang besar dari jendela itu hanya saja usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Tubuhnya terlalu besar sehingga ia tidak dapat memasuki Kitchen apalagi jika harus melalui jendela itu.
"Shit! Mahluk apa itu?" tanya Darren.
"The Butcher. Monster besar bodoh penunggu kafetaria."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ujar Miccah sambil menahan tangis "Aku tidak ingin mati disini."
"Aku ta..kut." Sissy mengeratkan pelukannya pada lengan Darren.
"Tenang aku akan melindungimu." Ujar Darren menenangkan gadis itu. "Erick kita harus mencari cara untuk keluar dari sini."
Erick terdiam sambil memikirkan rencana untuk keluar dari sana.
"Baiklah! Aku akan memancing mahluk itu agar mengejarku sehingga kalian bisa langsung kabur ke arah lift." Ujar Erick pada mereka bertiga.
"Tapi itu beresiko. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada anda?" tanya Sissy yang masih berusaha tegar dengan situasi seperti ini.
"Sissy benar Erick!" timpal Darren.
Miccah hanya diam sambil menatap langit – langit dapur. Matanya berbinar ketika ia melihat ventilasi udara yang memang terpasang tepat diatasnya. Ventilasi itu muat jika dimasuki oleh ukuran tubuh pria dewasa.
"Bagaimana jika kita keluar dari sana saja!" ujarnya sambil menunjuk ventilasi tersebut. "Tidak ada yang perlu menjadi pancingan."
Darren dan Erick saling memandang lalu tersenyum.
"Kau jenius Miccah."
Namun senyum mereka semua sirna ketika terdengar bunyi berdebum yang sangat kencang dari arah pintu dapur. Tak lama kemudian, sebuah pisau besar menembus pintu itu dengan mudahnya bagaikan menembus selembar kertas tipis.
"SHIT!"
"Miccah bantu aku menggeser meja ini." ujar Darren
Mereka berdua menggeser meja berbahan stainless steel tepat dibawah ventilasi udara itu. Dengan cepat Darren naik keatasnya dan membuka paksa penutup ventilasi tersebut. Setelah terbuka, Darren langsung menaikinya disusul dengan Sissy, Miccah dan terakhir Erick. Monster yang dijuluki The Butcher itu kini telah merangsek masuk kedalam dapur. Auman kemarahan kembali terdengar karena ia gagal menangkap mereka berempat.
Perlahan mereka merangkak didalam lubang ventilasi tersebut yang entah bermuara kemana. Merangkak dalam diam tanpa suara sedikit pun hingga tiba – tiba Miccah berteriak.
"Aaaarrggghhh."
Erick yang berada dibelakangnya terkejut karena Miccah yang berhenti tiba – tiba hingga wajah tampannya menabrak pantat pria berkulit hitam itu. Sedangkan Darren dan Sissy sudah berada jauh didepan mereka.
"Fuck! Kenapa kau berhenti tiba – tiba?"
Miccah menahan napasnya karena sebuah pisau besar yang tiba – tiba muncul dihadapannya. Pisau besar itu sepertinya sengaja ditusukkan ke arah langit – langit oleh monster yang diberi julukan The Butcher itu. Bayangkan saja bagaimana jika kau sedang merangkak diatas langit – langit rumahmu, lalu ada sebuah mata pisau yang muncul tepat di bawah hidungmu.
Tidak beberapa lama mata pisau itu ditarik oleh pemiliknya. Miccah merangkak dengan cepat untuk menyusul Sissy dan Darren sedangkan Erick dibuat kebingungan dengan tingkahnya sampai ia tersadar saat sebuah meat hook (pengait daging) mulai menembus dan mengoyakbagian belakangnya. Koyakan itu membuat beberapa bagian langit – langit dapur runtuh hingga sekarang The Butcher bertingkah semakin gila.
"Shit! Percepat gerakan kalian!"
Ketiga orang didepan Erick langsung merangkak dengan cepat ketika mendengar umpatan Erick. Darren yang berada diposisi paling depan terus merangkak sampai ia tidak memperhatikan langkahnya dan terjatuh karena langit – langit yang menopang dirinya tidak begitu kuat.
BRUAKKKK!!!
Beruntung ia terjatuh dekat dengan lift yang pintunya masih tertutup tapi sialnya kini monster jelek itu tengah menatapnya dengan tatapan membunuh. Belum sempat ia menetralkan detak jantungnya, tubuh Sissy terjatuh menimpa dirinya.
"Maaf Darren." ujar Sissy dengan wajah imutnya.
Darren hanya menggelengkan kepalanya, kemudian pandangan mereka berdua tertuju pada The Butcher yang kini mulai berteriak kembali.
GROAAAAARRRRRRRR!!!!!
Darren pun membantu Sissy berdiri lalu bersama – sama berlari menuju lift dengan gemetaran. Kini giliran Miccah dan Erick yang terjatuh dari langit – langit.
"Awww..." erang Erick sambil mengusap – usap pantatnya yang menyentuh lantai marmer dengan keras begitu juga dengan Miccah yang meringis kesakitan.
Erick dan Miccah yang masih meringis kesakitan tidak menyadari jika posisi The Butcher telah sangat dekat dengan mereka. Mahluk itu dengan cepat melemparkan hook yang berada ditangan kanannya, untungnya hook itu tidak mengenai Erick dan Miccah. Hook itu meleset beberapa jengkal dari tubuh Erick. Dalam hatinya, Erick terus mengucap syukur karena hampir saja mati konyol. Mereka berdua langsung berdiri dan berlari menuju Darren dan Sissy yang memang sudah berdiri didepan lift. Sibuk menekan tombol lift dengan panik, berharap pintu lift cepat terbuka.
"Shit! Kita akan mati jika terus berada disini." Ujar Erick frustasi.
"Bagaimana jika kita menggunakan tangga darurat?" tanya Sissy dengan suara yang bergetar karena takut.
"Ide bagus." Jawab Darren dan Erick bersamaan.
"Guys! Sepertinya tangga darurat bukan ide yang bagus." Cicit Miccah pelan dengan pandangan kearah pintu tangga darurat.
Mereka bertiga mengikuti arah pandang Miccah. Disana terdapat sesosok wanita bertubuh jangkung dengan jari – jari kurus seperti tengkorak. Wanita itu memakai gaun berwarna hitam panjang hingga menyentuh lantai. Muka wanita itu sangat tirus dengan kulit pucat kehitaman. Rongga matanya kosong, tidak ada bola mata sama sekali disana. Rambutnya hitam lurus beterbangan seperti ditiup angin dengan aura gelap kehitaman yang menguar dari dalam tubuhnya.
"Sial! Kita terkepung." Umpat Erick.
The Butcher melangkah perlahan menuju kearah mereka berempat sedangkan wanita mengerikan itu pun juga melayang mendekati mereka. Terjepit! Itu salah satu kata yang tepat untuk mengungkapkan keadaan mereka saat ini. Suara lift terbuka seakan menyelamatkan mereka berempat namun suara bariton seorang pria mengagetkan mereka.
"Apa yang kalian berempat lakukan disini?" ujar pria bermantel hitam itu dari dalam lift.
"Aldric senang melihatmu!" jawab Erick yang langsung menghambur masuk kedalam lift diikuti oleh Darren, Sissy dan Miccah.
Sebelum pintu lift tertutup, mereka sempat mendengar raungan kemarahan dan kekecewaan dari The Butcher yang gagal menangkap mereka berempat.
"Jawab pertanyaanku anak muda." Ujar Aldric lagi.
"Hantu ibu dan dua anak kembar itu menyeret kami kemari." jawab Darren
"Kalian harus keluar dari sini secepatnya." Sambung Aldric lagi. "Kau tahu kan dimana portal itu?"
Erick mengangguk.
Sissy dan Miccah hanya diam sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Portal itu dijaga ketat oleh beberapa arwah yang berbahaya. Semua gara – gara ulahmu Darren." ujar Aldric tenang.
"Aku?!"
"Kau ingat saat pergi ke dunia Florien untuk menjemput Miss Lynch?" Darren mengangguk. "Kau membawa jiwa yang salah dan hal itu berakibat sangat fatal!"
Darren masih terdiam mencerna perkataan Aldric.
"Kau tahu siapa yang kau bawa?" Darren menggelengkan kepalanya. "Sophie Lavigne, istri dari Kolonel Jacques Lavigne. Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, Sophie sendiri yang berniat melarikan diri dari tempat ini."
"..."
"Kolonel Jacques bukanlah orang yang dapat diajak berkompromi. Jadi berhati – hatilah!" ujarnya lagi. "Aku akan keluar di lantai berikutnya. Kalian pergilah ke lantai 5 lalu masuklah ke kamar nomer 55. Ketuk tiga kali dan sebutkan nama lengkapku."
Sebelum keluar dari dalam lift, Aldric menyerahkan sebuah jam saku berwarna silver dan sebuah pistol kepada Erick.
"Kalian memerlukan ini! Ingat waktu kalian hanya 24 jam, jika lebih dari itu maka kalian tidak akan bisa kembali ke alam manusia."
Aldric melangkah keluar dari lift tersebut. Sebelum lift tertutup sepenuhnya, mereka berempat melihat kepala Aldric meledak seperti ditembak tepat dikepalanya. Sissy yang melihat kejadian itu terpekik, kemudian bersembunyi dibalik lengan Darren.
"Jadi pria tadi hantu?" cicit Miccah perlahan.
"Hanya kita berempat manusia yang terjebak disini Miccah." Jawab Erick.
Mereka berempat pun menuju lantai 5 dengan hening.
To be continue...
***
Bagi Vomments nya ya!
hope you like it
(16) The Other Side: The Butcher #1
Spoiler for read:
Renata Whitby melangkahkan kaki jenjangnya ke ruang manajemen yang baru saja direnovasi. Hari ini ia mempunyai jadwal meeting dengan beberapa orang staff karyawannya untuk membahas event yang akan diselenggarakan pada hari natal dan tahun baru. Kegiatan kantor memang belum dimulai, mengingat ini masih jam 06.30 pagi. Salah satu kebiasaan yang dianggap menyebalkan oleh bawahannya adalah ia selalu datang pagi – pagi sekali bahkan sebelum jam kantor mulai. Terkadang para bawahannya pun bingung sebenarnya apa yang ada dibenak seorang Renata Whitby.
Para bawahannya pun sering dibuat penasaran dengan kehidupan seks dan percintaan seorang Renata Whitby. Mereka sering memperdebatkan apakah wanita berusia 27 tahun itu masih perawan atau tidak, mengingat bahwa ia tidak pernah sekalipun dekat dengan seorang pria ataupun wanita. Pergi ke pub atau diskotik atau hanya untuk bersenang – senang mungkin hanya setahun sekali itu pun jika ia ingat. Banyak yang beranggapan jika Miss Whitby terlalu memforsir dirinya dalam bekerja. Workaholic akut!
Akhirnya ia pun sampai didepan ruang karyawan. Dirinya sungguh terkejut ketika mendapati dua orang berbeda kelamin tengah tak sadarkan diri dilantai ruangan. Miss Whitby pun berjalan mendekati kedua orang itu, lalu berjongkok dan mencoba untuk membangunkannya. Sayangnya kedua orang yang diketahui bernama Darren dan Sissy itu tak bergeming sedikit pun. Akhirnya ia menyadari bahwa kedua orang itu pingsan. Miss Whitby berlari ke arah meja dimana disana terdapat telepon kantor, lalu dengan cepat ia men-dial security yang saat itu bertugas untuk segera datang ke sana.
Tak beberapa lama Justin si kepala sekuriti dan beberapa orang bawahannya datang.
"Kalian! Bawa mereka ke ruang kesehatan. Cek juga CCTV. Cari tahu apa yang terjadi pada mereka."
"Baik."
Tiba – tiba salah seorang sekuriti tergopoh – gopoh menghampiri mereka. Raut wajahnya memucat dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
"Miss Whitby... Tuan Alcander.."
"Tolong bicara yang jelas."
"Sa... saya menemukan Tuan Alcander di to... toilet."
"So?!"
"Tak sadarkan diri dengan... Sebaiknya anda melihatnya sendiri."
Miss Whitby ditemani oleh dua orang sekuriti berjalan menuju toilet. Ia begitu terkejut ketika melihat bosnya tengah tak sadarkan diri disebelah pria berkulit hitam dengan celana panjang yang melorot. Pikirannya sudah mengarah ke segala hal yang berbau negatif. Apa yang ia lihat sekarang adalah berita besar yang dapat mengguncang dunia persilatan. Maksudnya Erick Alcander adalah putera sulung pebisnis sukses kaya raya tersohor, Anthony Alcander, jika foto mereka berdua tersebar maka akan menjadi skandal besar. Dengan satu foto saja maka boom! Akan banyak sekali pesaing bisnis Anthony Alcander yang membayarnya mahal dan ia akan menjadi bilyuner dadakan. Namun sayangnya, Miss Whitby tak sepicik itu.
"Kau periksa mereka."
Salah seorang sekuriti mendekati tubuh Erick dan Miccah, lalu memeriksa denyut nadinya. Mereka berdua masih hidup, hanya saja tak sadarkan diri seperti Sissy dan Darren. Lalu beberapa orang sekuriti membawa kedua orang itu ke ruang kesehatan dimana Miss Whitby sudah menghubungi dokter khusus yang memang sudah dipercaya untuk bekerja sama dengan pihak hotel. Tentunya dokter itu sudah disumpah untuk tutup mulut.
"Mereka berempat mengalami koma."
"Koma? Apa anda tidak salah diagnosis?"
"Ini hanya diagnosis sementara Miss. Saya harap mereka berempat dibawa ke rumah sakit sekarang juga agar dapat didiagnosis secara mendalam."
Miss Whitby menghela nafas panjang, ia tak habis pikir bahwa peristiwa ganjil ini terjadi begitu saja. Mimpi apa dirinya semalam sampai menemukan empat orang yang koma secara bersamaan. Tak berapa lama mereka berempat dibawa ke rumah sakit khusus yang memang sudah menjalin kerja sama dengan pihak La Chandelier. Dan tentunya semua orang yang tahu kejadian ini diharuskan tutup mulut, jika tidak maka hidup mereka tidak akan tenang karena berhadapan langsung dengan Anthony Alcander.
***
"SHIT! DIMANA KITA?"
Kalimat itu adalah kalimat yang pertama kali meluncur dari bibir Darren saat pintu lift itu terbuka. Mereka berempat terkejut ketika melihat pintu lift terbuka disebuah tempat asing yang begitu suram dan menakutkan.
"The Other Side." Gumam Erick pelan
"Maksud anda?" tanya Sissy sambil mencengkeram lengan Darren dengan sangat erat karena ketakutan.
"Singkatnya tiga hantu sialan itu menarik kita ke alamnya. Jika kau pernah menonton film – film horror dimana si cenayang memasuki alam lain untuk menjemput jiwa seseorang yang terjebak disana. Dengan kata lain kita berempat berada dialam itu."
"..."
"Tenang saja kita masih berada di La Chandelier hanya saja dengan versi horror. Kalian tidak usah takut."
"Apa maksud anda dengan tidak usah takut?" Protes Miccah sambil mengerutkan keningnya. "Dengan kata lain kita sedang mengalami apa yang namanya mati. Oh Man! Aku belum merasakan nikmatnya dunia ini dan aku tidak mau berakhir disini bersama kalian."
"Lebay! Tenanglah! Sebaiknya kita keluar dan melihat – lihat. Aku akan menjadi tour guide kalian. Jangan takut!" Ujar Erick tenang. "Aku kenal baik dengan sebagian besar penghuni tak kasat mata di hotel ini."
"Kau pikir ini karya wisata hah?!" protes Darren. "Kita harus keluar dari sini secepatnya Erick. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Haha... Aku hanya tidak ingin kalian tegang jadi dibawa santai saja. Kita harus mencari portal untuk kembali ke tubuh kita Darren."
"Dan bagaimana kita mencarinya Tuan Alcander?" tanya Sissy.
"Panggil saja aku Erick tidak usah terlalu formal ini bukan jam kantor. Portal itu berbentuk cermin, kita harus menemukannya sebelum 24 jam. Jika kita tidak menemukannya tepat waktu maka kita akan terjebak disini selamanya dan menjadi penghuni tak kasat mata La Chandelier."
"Itu mudah! Kita hanya perlu ke toilet atau gym. Disana banyak sekali cermin." Ujar Miccah.
"Kau pikir semudah itu?" ujar Erick sambil menatap Miccah dengan tatapan tajam. "Cermin yang menjadi portal antara dunia ini dengan dunia kita adalah cermin tua berbingkai keemasan yang berada disalah satu kamar penthouse dilantai 35. Aku lupa nomer berapa kamar penthouse itu hanya saja jalan kita tidak akan mudah karena kita harus bertemu dengan berbagai jenis mahluk halus."
"..."
"Dan yang pertama harus kita lakukan adalah pergi ke kafetaria. Kita harus mempersenjatai diri kita dengan senjata tajam seperti pisau atau benda tajam lainnya."
"Percuma saja mereka tidak akan mati." Celetuk Miccah
"Kau ini menyebalkan sekali!" ujar Erick sinis. "Paling tidak kita dapat memperlambat gerak mereka walaupun kau tidak dapat membunuhya."
"Sebaiknya kita bergegas! Jika terlalu lama disini, maka waktu kita akan terbuang percuma." Ujar Darren yang melangkah duluan keluar dari lift diikuti oleh mereka bertiga.
***
Anthony Alcander melangkahkan kakinya menuju ruang IGD salah satu rumah sakit terbaik di Paris. Ia begitu terkejut saat Miss Whitby tiba – tiba menghubungi sekretarisnya dan memberitahukan bahwa anaknya laki – lakinya, Erick masuk rumah sakit karena koma. Anthony pun langsung menghentikan meeting direksi saat itu juga dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Kini mata tajamnya tengah menatap Miss Whitby, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Saya juga kurang tahu Sir. Saya menemukan mereka berempat sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ketika kami membawanya ke ruang kesehatan, dokter Jeremy memeriksanya dan memberikan diagnosis bahwa mereka berempat mengalami koma."
"Bagaimana dengan kamera CCTV?"
"Sebenarnya malam itu dua pegawai yang bernama Darren dan Miccah sedang bertugas untuk memasang kamera CCTV di kantor manajemen yang baru. Mereka berdua baru selesai memasang kamera CCTV yang berada di ruang kerja karyawan saja."
"..."
"Kamera CCTV dalam ruang kerja karyawan berfungsi sangat baik dan hmmm... ada beberapa kejadian ganjil yang terekam tapi saya kurang begitu yakin."
Anthony Alcander memijit dahinya yang berdenyut.
"Aku ingin melihat rekaman itu secepatnya."
"Baik Sir."
***
Ruang kafetaria itu sangat sepi dan mencekam. Tidak ada satu pun orang... Ralat! Tidak ada satu pun mahluk halus atau hantu yang terlihat disana. Paling tidak mereka berempat bisa bernafas dengan lega ketika mengetahui bahwa mereka aman. Mereka berempat langsung melangkah kearah kitchen. Tidak ada apa pun disana, kosong.
"Ambil semua barang yang berguna untuk self defence kalian. Simpan baik – baik dan gunakan jika benar – benar terdesak." Ujar Erick lagi.
Mereka berempat pun langsung sibuk mencari pisau, gunting, dan berbagai benda tajam yang dapat digunakan untuk pertahanan diri. Tidak ada satu pun diantara mereka berempat yang mengeluarkan suara sedikit pun, masing – masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Sampai suara gebrakan keras mengagetkan mereka.
BRAKKK!!!
Darren menatap Erick tanpa bersuara sedikit pun namun ia seakan mengerti apa yang akan ditanyakan oleh sahabatnya itu. Erick memberikan aba – aba kepada mereka bertiga agar menunduk dan bersembunyi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Suara mengerikan itu pun kembali terdengar.
BRAKKK!!!
Erick merangkak secara perlahan menuju sebuah sebuah jendela kecil yang biasanya berfungsi untuk menyampaikan orderan karyawan yang sudah jadi kepada pelayan yang bertugas di bagian depan sebagai kasir. Ia sedikit menengadahkan kepalanya hingga dirinya begitu terkejut saat melihat sesosok pria berbadan besar dengan perut buncit yang dibalut dengan kulit putih kekusaman. Sosok mengerikan itu mengenakan pakaian singlet dan apron putih yang usang dan penuh bercak darah. Kepalanya botak hanya sedikit helaian rambut yang tumbuh disana. Wajahnya sungguh buruk rupa dengan gigi bagian bawah yang tak beraturan menonjol keluar. Kedua matanya berwarna putih tanpa ada bola mata hitamnya sama sekali. Di beberapa bagian terlihat kulitnya terkelupas berwarna kemerahan. Tangan kirinya membawa sebuah pisau dapur berukuran besar yang ia gunakan untuk membelah meja dan kursi yang ada di kafetaria sedangkan tangan kanannya membawa hook yang biasa digunakan untuk menggantung daging. Hook itu tersambung dengan rantai besi yang dapat dilempar dan ditarik kembali dengan mudahnya oleh si pengguna.
BRAAKKK!!!
Monster itu mengayunkan pisau dapur besarnya itu pada sebuah meja hingga hancur berkeping – keping. Erick langsung bersembunyi dengan cepat sebelum monster itu menyadari keberadaan mereka. Darren yang tak jauh dari sana kembali menatap Erick dengan pandangan bertanya – tanya. Erick masih saja bungkam, ia hanya menjawab pertanyaan Darren dengan telunjuk yang ditempelkan ke bibirnya. Mengisyaratkan untuk diam dan tidak banyak bertanya.
Suasana menjadi sangat hening tapi mereka berempat dapat merasakan aura kengerian yang lebih mencekam daripada awal mereka tiba di tempat itu. Erick yang penasaran pun kembali menengadahkan kepalanya untuk mengecek apakah monster itu sudah pergi atau belum. Naasnya wajah monster itu ternyata tengah menatap Erick melalui jendela kecil itu.
GROOOOAAAAAARRRRRRR!!!!!!
Suara keras dan bau mulutnya yang busuk langsung menerpa wajah Erick yang jaraknya hanya sejengkal dari monster itu. Erick nyaris pingsan karena bau busuk yang ia cium hanya saja Darren berhasil menarik tubuhnya menjauh dari sana. Mahluk itu masih terus meraung – raung tiada henti sambil memasukkan tangannya yang besar dari jendela itu hanya saja usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Tubuhnya terlalu besar sehingga ia tidak dapat memasuki Kitchen apalagi jika harus melalui jendela itu.
"Shit! Mahluk apa itu?" tanya Darren.
"The Butcher. Monster besar bodoh penunggu kafetaria."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ujar Miccah sambil menahan tangis "Aku tidak ingin mati disini."
"Aku ta..kut." Sissy mengeratkan pelukannya pada lengan Darren.
"Tenang aku akan melindungimu." Ujar Darren menenangkan gadis itu. "Erick kita harus mencari cara untuk keluar dari sini."
Erick terdiam sambil memikirkan rencana untuk keluar dari sana.
"Baiklah! Aku akan memancing mahluk itu agar mengejarku sehingga kalian bisa langsung kabur ke arah lift." Ujar Erick pada mereka bertiga.
"Tapi itu beresiko. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada anda?" tanya Sissy yang masih berusaha tegar dengan situasi seperti ini.
"Sissy benar Erick!" timpal Darren.
Miccah hanya diam sambil menatap langit – langit dapur. Matanya berbinar ketika ia melihat ventilasi udara yang memang terpasang tepat diatasnya. Ventilasi itu muat jika dimasuki oleh ukuran tubuh pria dewasa.
"Bagaimana jika kita keluar dari sana saja!" ujarnya sambil menunjuk ventilasi tersebut. "Tidak ada yang perlu menjadi pancingan."
Darren dan Erick saling memandang lalu tersenyum.
"Kau jenius Miccah."
Namun senyum mereka semua sirna ketika terdengar bunyi berdebum yang sangat kencang dari arah pintu dapur. Tak lama kemudian, sebuah pisau besar menembus pintu itu dengan mudahnya bagaikan menembus selembar kertas tipis.
"SHIT!"
"Miccah bantu aku menggeser meja ini." ujar Darren
Mereka berdua menggeser meja berbahan stainless steel tepat dibawah ventilasi udara itu. Dengan cepat Darren naik keatasnya dan membuka paksa penutup ventilasi tersebut. Setelah terbuka, Darren langsung menaikinya disusul dengan Sissy, Miccah dan terakhir Erick. Monster yang dijuluki The Butcher itu kini telah merangsek masuk kedalam dapur. Auman kemarahan kembali terdengar karena ia gagal menangkap mereka berempat.
Perlahan mereka merangkak didalam lubang ventilasi tersebut yang entah bermuara kemana. Merangkak dalam diam tanpa suara sedikit pun hingga tiba – tiba Miccah berteriak.
"Aaaarrggghhh."
Erick yang berada dibelakangnya terkejut karena Miccah yang berhenti tiba – tiba hingga wajah tampannya menabrak pantat pria berkulit hitam itu. Sedangkan Darren dan Sissy sudah berada jauh didepan mereka.
"Fuck! Kenapa kau berhenti tiba – tiba?"
Miccah menahan napasnya karena sebuah pisau besar yang tiba – tiba muncul dihadapannya. Pisau besar itu sepertinya sengaja ditusukkan ke arah langit – langit oleh monster yang diberi julukan The Butcher itu. Bayangkan saja bagaimana jika kau sedang merangkak diatas langit – langit rumahmu, lalu ada sebuah mata pisau yang muncul tepat di bawah hidungmu.
Tidak beberapa lama mata pisau itu ditarik oleh pemiliknya. Miccah merangkak dengan cepat untuk menyusul Sissy dan Darren sedangkan Erick dibuat kebingungan dengan tingkahnya sampai ia tersadar saat sebuah meat hook (pengait daging) mulai menembus dan mengoyakbagian belakangnya. Koyakan itu membuat beberapa bagian langit – langit dapur runtuh hingga sekarang The Butcher bertingkah semakin gila.
"Shit! Percepat gerakan kalian!"
Ketiga orang didepan Erick langsung merangkak dengan cepat ketika mendengar umpatan Erick. Darren yang berada diposisi paling depan terus merangkak sampai ia tidak memperhatikan langkahnya dan terjatuh karena langit – langit yang menopang dirinya tidak begitu kuat.
BRUAKKKK!!!
Beruntung ia terjatuh dekat dengan lift yang pintunya masih tertutup tapi sialnya kini monster jelek itu tengah menatapnya dengan tatapan membunuh. Belum sempat ia menetralkan detak jantungnya, tubuh Sissy terjatuh menimpa dirinya.
"Maaf Darren." ujar Sissy dengan wajah imutnya.
Darren hanya menggelengkan kepalanya, kemudian pandangan mereka berdua tertuju pada The Butcher yang kini mulai berteriak kembali.
GROAAAAARRRRRRRR!!!!!
Darren pun membantu Sissy berdiri lalu bersama – sama berlari menuju lift dengan gemetaran. Kini giliran Miccah dan Erick yang terjatuh dari langit – langit.
"Awww..." erang Erick sambil mengusap – usap pantatnya yang menyentuh lantai marmer dengan keras begitu juga dengan Miccah yang meringis kesakitan.
Erick dan Miccah yang masih meringis kesakitan tidak menyadari jika posisi The Butcher telah sangat dekat dengan mereka. Mahluk itu dengan cepat melemparkan hook yang berada ditangan kanannya, untungnya hook itu tidak mengenai Erick dan Miccah. Hook itu meleset beberapa jengkal dari tubuh Erick. Dalam hatinya, Erick terus mengucap syukur karena hampir saja mati konyol. Mereka berdua langsung berdiri dan berlari menuju Darren dan Sissy yang memang sudah berdiri didepan lift. Sibuk menekan tombol lift dengan panik, berharap pintu lift cepat terbuka.
"Shit! Kita akan mati jika terus berada disini." Ujar Erick frustasi.
"Bagaimana jika kita menggunakan tangga darurat?" tanya Sissy dengan suara yang bergetar karena takut.
"Ide bagus." Jawab Darren dan Erick bersamaan.
"Guys! Sepertinya tangga darurat bukan ide yang bagus." Cicit Miccah pelan dengan pandangan kearah pintu tangga darurat.
Mereka bertiga mengikuti arah pandang Miccah. Disana terdapat sesosok wanita bertubuh jangkung dengan jari – jari kurus seperti tengkorak. Wanita itu memakai gaun berwarna hitam panjang hingga menyentuh lantai. Muka wanita itu sangat tirus dengan kulit pucat kehitaman. Rongga matanya kosong, tidak ada bola mata sama sekali disana. Rambutnya hitam lurus beterbangan seperti ditiup angin dengan aura gelap kehitaman yang menguar dari dalam tubuhnya.
"Sial! Kita terkepung." Umpat Erick.
The Butcher melangkah perlahan menuju kearah mereka berempat sedangkan wanita mengerikan itu pun juga melayang mendekati mereka. Terjepit! Itu salah satu kata yang tepat untuk mengungkapkan keadaan mereka saat ini. Suara lift terbuka seakan menyelamatkan mereka berempat namun suara bariton seorang pria mengagetkan mereka.
"Apa yang kalian berempat lakukan disini?" ujar pria bermantel hitam itu dari dalam lift.
"Aldric senang melihatmu!" jawab Erick yang langsung menghambur masuk kedalam lift diikuti oleh Darren, Sissy dan Miccah.
Sebelum pintu lift tertutup, mereka sempat mendengar raungan kemarahan dan kekecewaan dari The Butcher yang gagal menangkap mereka berempat.
"Jawab pertanyaanku anak muda." Ujar Aldric lagi.
"Hantu ibu dan dua anak kembar itu menyeret kami kemari." jawab Darren
"Kalian harus keluar dari sini secepatnya." Sambung Aldric lagi. "Kau tahu kan dimana portal itu?"
Erick mengangguk.
Sissy dan Miccah hanya diam sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Portal itu dijaga ketat oleh beberapa arwah yang berbahaya. Semua gara – gara ulahmu Darren." ujar Aldric tenang.
"Aku?!"
"Kau ingat saat pergi ke dunia Florien untuk menjemput Miss Lynch?" Darren mengangguk. "Kau membawa jiwa yang salah dan hal itu berakibat sangat fatal!"
Darren masih terdiam mencerna perkataan Aldric.
"Kau tahu siapa yang kau bawa?" Darren menggelengkan kepalanya. "Sophie Lavigne, istri dari Kolonel Jacques Lavigne. Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, Sophie sendiri yang berniat melarikan diri dari tempat ini."
"..."
"Kolonel Jacques bukanlah orang yang dapat diajak berkompromi. Jadi berhati – hatilah!" ujarnya lagi. "Aku akan keluar di lantai berikutnya. Kalian pergilah ke lantai 5 lalu masuklah ke kamar nomer 55. Ketuk tiga kali dan sebutkan nama lengkapku."
Sebelum keluar dari dalam lift, Aldric menyerahkan sebuah jam saku berwarna silver dan sebuah pistol kepada Erick.
"Kalian memerlukan ini! Ingat waktu kalian hanya 24 jam, jika lebih dari itu maka kalian tidak akan bisa kembali ke alam manusia."
Aldric melangkah keluar dari lift tersebut. Sebelum lift tertutup sepenuhnya, mereka berempat melihat kepala Aldric meledak seperti ditembak tepat dikepalanya. Sissy yang melihat kejadian itu terpekik, kemudian bersembunyi dibalik lengan Darren.
"Jadi pria tadi hantu?" cicit Miccah perlahan.
"Hanya kita berempat manusia yang terjebak disini Miccah." Jawab Erick.
Mereka berempat pun menuju lantai 5 dengan hening.
To be continue...
***
Bagi Vomments nya ya!
hope you like it

0
Kutip
Balas