- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1870
Part XXXIX
Kadang kala kau tidak tau benda-benda yang kau beli bisa membawa “sesuatu” di dalamnya.
Bahkan untuk barang yang terbilang baru sekalipun…
Aku baru saja membeli sebuah cermin besar yang kubeli setelah pindah ke apartement yang sama dengan Ayano.
Meja cermin itu cukup murah dijual di toko furniture dan dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Aku bisa menempatkannya di ruangan tengah, pikirku. Setidaknya cermin itu adalah solusi daripada aku harus bercermin di kamar mandi terus.
Yang aku tidak menyangka adalah kalau cermin itu ternyata membawa “sesuatu” bersamanya.
Dan yang menyadari ini, meskipun belum sampai melihat ‘mahluk’ apa yang berada di cermin itu, adalah Ayano.
Ceritanya dimulai pada dua hari setelah cermin itu terpasang di ruang tengahku. Dan ketika Ayano datang berkunjung ke kamar apartmentku. Dan hari itu adalah pertama kalinya dia melihat adanya cermin baru yang terpasang pada ruangan tengahku itu. Maklum, biasanya aku yang datang ke apartement dia yang lebih nyaman dan bersih, kamarku sendiri masih berantakan karena dus-dus pindahan yang sangat banyak jumlahnya dan belum sempat untuk kubongkar semua.
Letak cermin itu kurang lebih berada 2 meter parallel dari sofa duduk di depan televisi.
Aku baru saja menyeduh kopi untuk kami berdua ketika aku melihat Ayano sedang memandangi cermin itu dengan alis berkerenyit.
“Kenapa ko?” tanyaku seraya menghampirinya.
“Oh? Eh, nggak sih..” jawabnya ketika menyadari kehadiranku “Cuma rasanya aneh aja tu cermin” lanjutnya.
“Aneh kenapa?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
“Nggak tau sih, feeling aja kayak ada yang ngeliatin” jelasnya.
Semenjak Ayano mulai melatih kemampuan spiritualnya, kadang kala dia mempunyai kepekaan atas kehadiran ‘mereka’ melebihi aku. Yahh, mungkin karena dia bisa merasakannya dengan seluruh tubuhnya sedangkan aku hanya bisa merasakannya lewat ‘mata’ku.
Tapi kepekaannya itu sangat berguna.
Karena itu aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke cermin besar itu, dengan Ayano di sisiku.
“Aku nggak bisa melihat apa-apa ko, kamu bisa lihat?” tanyaku.
Ayano memperhatikan cermin itu “Nggak, kalau kamu aja nggak bisa lihat aku pasti juga nggak lihat apa-apa”
Aku agak ragu. Karena walaupun memang aku tidak melihat ataupun merasakan apa-apa dari ‘mata’ku, tapi tetap saja…
Meskipun begitu, keraguanku itu terlupakan setelah menonton beberapa episode video bersama Ayano setelahnya. Apa boleh buat, adegan kematian Jon Snow terlalu mengejutkanku lebih dari yang kukira. Sehingga masalah cermin itu terlupakan sejenak.
Tetapi, ketika aku sedang menggosok gigiku di depan cermin besar kamar mandi. Aku melihat sekelebatan bayangan dari belakangku. Aku tidak pernah menutup pintu kamar mandi ketika menggosok gigi, sehingga pantulan dari ruang tengah sangat jelas nampak dari tempatku menyikat gigi.
Dan aku seakan melihat ‘sesuatu’ seperti berkelebat layaknya orang berlari, melintas di ruang tengah apartementku.
Aku menghentikan kegiatan menyikat gigiku untuk memperhatikan lebih jeli.
Tidak ada pergerakan apapun lagi.
Aku menunggu selama beberapa detik sebelum melanjutkan menyikat gigi.
Sekali lagi aku melihat ‘sesuatu’ bagaikan melompat menyebrangi ruang tengahku tepat ketika aku akan menundukkan kepalaku untuk membuang air kumur.
Setelah meletakkan dan merapihkan peralatan sikat gigiku, perlahan aku berjalan menuju ruang tengah.
Sialnya aku meninggalkan handphone-ku di ruang tengah. Aku harus mengambilnya terlebih dulu sebelum memutuskan apakah aku harus memanggil Ayano atau tidak. Inilah keuntungan untuk tinggal di satu gedung apartment yang sama. Aku bisa memintanya datang dengan cepat dan tidak khawatir karena dia harus pulang malam-malam ke tempat yang jauh. Di sini kami hanya berbeda lantai. Kurasa keputusan untuk pindah cukup tepat.
Apapun ‘sesuatu’ yang berkelebat itu tidak meninggalkan jejak apapun. Aku memperhatikan dengan detail ruang tengah itu dan tidak menemukan apa-apa.
Sampai secara tidak sengaja, aku melihat ke arah cermin itu.
Sekilas aku melihat sosok wajah yang sedang menempelkan wajah dan tangannya untuk mengintip.
Dari sisi sebelah cermin…
“Mustahil…” bisikku.
Aku segera berlari menuju cermin itu dan menatapnya.
Tidak ada…
Aku baru saja akan berpikir kalau barusan itu hanya bayanganku saja ketika aku merasakan perasaan sedang diawasi dari belakangku.
Dengan cepat aku menengok ke belakangku dan mendapati ‘sesuatu’ yang baru saja terlihat berlari dari layar televisiku yang mati hingga memantulkan bayangan bagaikan cermin. Aku tidak melihat dengan jelas bentuk ‘mahluk’ itu selain bentuk bayangan dengan mata yang memantulkan cahaya seperti mata kucing.
Dan sekali lagi aku melihatnya sedang melintas di jendela yang juga memantulkan cahaya.
‘Mahluk’ itu berlari ke arah kamar mandi.
Dan di cermin kamar mandi itu, aku bisa melihatnya sedang bersembunyi di sudut kamar mandi. Hanya sebagian dari tubuh mahluk itu yang terpantul pada cermin besar di kamar mandiku.
Aku berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandiku dan dengan gerakan cepat, pintu kamar mandi itu menutup dengan bunyi kencang ‘BRAKKK!!!’
“Ahh!?” aku melompat terkejut. Dan seketika itu juga lampu kamarku berkedip dan mati.
“!!?”
‘Krekk-krekkk’
‘Pats!’
Lampu kembali menyala, namun pintu kamar mandi yang tadinya terbanting kini sudah terbuka kembali.
Dan bayangan dari ‘mahluk’ itu sama sekali tidak terlihat di manapun.
“Dimana…….”
“ !!!!?” aku berbalik dengan cepat ketika satu per satu gorden yang tergantung di jendelaku terlepas dari ikatannya dan menutup.
“A-apa…..?” aku bergumam dengan bingung. Sebelum tiba-tiba cermin besar yang berdiri di pinggir ruangan bergetar dengan kencang dan…
‘Sreeett..’
Cermin itu bergeser ke tengah dan berputar sehingga posisi cermin itu kini berhadapan tegak lurus berhadapan denganku.
“Ahh!!!” teriakku kaget ketika aku menatap cermin itu.
Pada bayanganku yang terpantul di cermin ‘sesuatu’ sedang tepat berada di belakangku, dan menatapku tajam dengan mata bercahayanya, bagaikan terbuat dari kaca.
Mahluk itu berkepala botak, memiliki telinga aneh yang runcing, tidak memiliki hidung dan berkulit seperti hijau bercampur biru. Dengan baju compang-camping berwarna gelap yang bergelombang bagaikan gumpalan asap yang sangat pekat.
Dengan cepat aku berbalik.
Tidak ada apapun…
Aku kembali berbalik ke cermin itu… tidak ada apapun juga…
Sampai akhirnya aku melihat jari-jari panjang dan ramping berwarna hijau bercampur biru yang terpantul sedang memegang pinggiran cermin itu. Tapi sosok ‘mahluk’ itu sendiri tidak nampak secara fisik.
Dan…
‘pats!!’
Kembali lampu kamarku mati dengan tiba-tiba.
Namun, berkat cahaya yang masuk dari lampu-lampu di jalanan dari satu-satunya jendela yang gordennya belum tertutup, aku dapat melihatnya dengan penuh kengerian.
‘Mahluk’ itu dengan perlahan seakan melangkah keluar dari cermin. Bayangan hitam itu terlihat sedang merangkak keluar dan menuju ke arahku. Kemudian ‘mahluk’ itu mendongak dan aku bisa melihat dua bola mata bercahaya yang sedang menatap ke arahku.
“Ahhh!!!” kedua pergelangan kakiku digenggam oleh sesuatu yang dingin dan menahannya di tempatnya.
Aku tidak bisa bergerak!! Pikirku dengan panik.
Dan dengan ngeri, aku melihat perlahan-lahan, ‘mahluk’ itu bangkit dari posisinya yang merangkak perlahan-lahan. Kedua tanganya yang menahan kakiku masih kokoh pada tempatnya. Kakiku seperti dijepit pada batu yang sangat berat.
Aku melihat dalam gelap bagaimana ‘mahluk’ itu perlahan-lahan semakin meninggi hingga sepertinya kepalanya sejajar dengan wajahku. Dan kemudian ‘dia’ mendongak. Kedua mata yang bercahaya itu berada hanya beberapa senti dari wajahku.
“Ahhh!!!” teriakku histeris ketika kedua mata bercahaya itu semakin dekat dengan wajahku.
‘Krek’
“Lisa!”
Dari pintu masuk di sampingku, aku melihat Ayano datang.
Berbarengan dengan itu, cahaya yang berasal dari senter handphone yang dipegang oleh Ayano menyinari ke arahku dan ‘mahluk’ itu.
Genggaman ‘mahluk’ itu lepas dan membuatku jatuh terduduk.
“Aduh!” teriakku kesakitan ketika bokongku terhempas pada lantai..
“Lis!” seru Ayano sembari mendekatiku dan membantuku berdiri “Kamu nggak apa?” tanyanya.
“Kok koko bisa kemari?” tanyaku.
Aku mengira kalau Ayano merasakan kehadiran ‘mahluk’ ini. Namun berbeda dari dugaanku, Ayano mengatakan “Kan kamu takut gelap, jadi koko dateng”
“Lalu koko denger kamu teriak, jadi koko langsung buru-buru masuk” lanjutnya lagi sambil merangkulku dan membawaku ke sofa “Tadi itu apa?” tanyanya.
“Aku nggak tau ko, tapi sepertinya dia itu dari bayangan gitu” kataku.
“Bayangan?” tanya Ayano.
“Iya, dari pantulan cermin” jawabku, lalu aku menunjuk ke cermin besar itu “Cermin itu… ahh!!!?”
‘Mahluk’ bayangan itu, entah apalah itu, terlihat sedang berdiri menatap kami dari dalam cermin…
Matanya yang bersinar tampak seperti mengawasi aku dan Ayano.
Ayano mengarahkan cahaya dari senter handphonenya pada cermin itu.
‘Mahluk’ itu menghilang…
“Oh?” seru Ayano. Kemudian dia menggeser cahaya dari handphonenya dan ‘mahluk’ itu muncul kembali.
“Mahluk itu ada di dalam cermin?” tanya Ayano yang lebih ke dirinya sendiri. Kemudian perlahan, Ayano bangkit berdiri dan aku menahannya “Koko mau kemana?”
“Pegangin hp koko ya” katanya sambil menyerahkan hpnya kepadaku.
“Ko?” tanyaku bingung sambil memegang handphone Ayano yang masih bercahaya. “Sebentar, pegang aja itu dulu, kalau ada bahaya senterin aja” katanya.
Kemudian Ayano dengan cepat mendekati cermin itu, aku melihat kejadian itu dengan takut ketika Ayano dengan sigap membalikkan cermin itu agar menghadap ke jendela.
‘GRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!’ aku mendengar geraman kencang dan getaran kencang pada cermin itu yang bahkan bisa terlihat olehku ketika cermin itu berhadap-hadapan dengan jendela yang memantulkan kembali bayangan cermin itu.
“Waaa!!” teriak Ayano ketika tiba-tiba tangannya seperti ditarik oleh sesuatu hingga tubuhnya menabrak cermin besar itu.
‘PRANNGG!!’
Cermin besar itu jatuh ke lantai dan pecah diiringi dengan bunyi geraman ‘mahluk’ itu.
‘pats!’
Tepat setelah itu, kemudian lampu menyala. Aku segera berlari menghampiri Ayano yang sedang memegangi tangannya yang berdarah karena terkena pecahan kaca.
Aku sedang melihat luka-luka Ayano ketika mendengar geraman rendah dari arah jendela ‘grrr!!’
Dengan terkejut aku menatap ke arah jendela dan melihat dua mata bercahaya yang menatapku dari jendela yang memantul, dan perlahan-lahan menghilang.
Semenjak itu, ‘mahluk’ itu menghilang, aku tidak pernah lagi melihatnya…
Tapi, semenjak itu juga aku merasa seperti ada yang mengawasi aku dari jauh.. terutama apabila aku berada di dekat cermin..
Spoiler for Part XXXIX - Cermin :
Kadang kala kau tidak tau benda-benda yang kau beli bisa membawa “sesuatu” di dalamnya.
Bahkan untuk barang yang terbilang baru sekalipun…
Aku baru saja membeli sebuah cermin besar yang kubeli setelah pindah ke apartement yang sama dengan Ayano.
Meja cermin itu cukup murah dijual di toko furniture dan dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Aku bisa menempatkannya di ruangan tengah, pikirku. Setidaknya cermin itu adalah solusi daripada aku harus bercermin di kamar mandi terus.
Yang aku tidak menyangka adalah kalau cermin itu ternyata membawa “sesuatu” bersamanya.
Dan yang menyadari ini, meskipun belum sampai melihat ‘mahluk’ apa yang berada di cermin itu, adalah Ayano.
Ceritanya dimulai pada dua hari setelah cermin itu terpasang di ruang tengahku. Dan ketika Ayano datang berkunjung ke kamar apartmentku. Dan hari itu adalah pertama kalinya dia melihat adanya cermin baru yang terpasang pada ruangan tengahku itu. Maklum, biasanya aku yang datang ke apartement dia yang lebih nyaman dan bersih, kamarku sendiri masih berantakan karena dus-dus pindahan yang sangat banyak jumlahnya dan belum sempat untuk kubongkar semua.
Letak cermin itu kurang lebih berada 2 meter parallel dari sofa duduk di depan televisi.
Aku baru saja menyeduh kopi untuk kami berdua ketika aku melihat Ayano sedang memandangi cermin itu dengan alis berkerenyit.
“Kenapa ko?” tanyaku seraya menghampirinya.
“Oh? Eh, nggak sih..” jawabnya ketika menyadari kehadiranku “Cuma rasanya aneh aja tu cermin” lanjutnya.
“Aneh kenapa?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
“Nggak tau sih, feeling aja kayak ada yang ngeliatin” jelasnya.
Semenjak Ayano mulai melatih kemampuan spiritualnya, kadang kala dia mempunyai kepekaan atas kehadiran ‘mereka’ melebihi aku. Yahh, mungkin karena dia bisa merasakannya dengan seluruh tubuhnya sedangkan aku hanya bisa merasakannya lewat ‘mata’ku.
Tapi kepekaannya itu sangat berguna.
Karena itu aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke cermin besar itu, dengan Ayano di sisiku.
“Aku nggak bisa melihat apa-apa ko, kamu bisa lihat?” tanyaku.
Ayano memperhatikan cermin itu “Nggak, kalau kamu aja nggak bisa lihat aku pasti juga nggak lihat apa-apa”
Aku agak ragu. Karena walaupun memang aku tidak melihat ataupun merasakan apa-apa dari ‘mata’ku, tapi tetap saja…
Meskipun begitu, keraguanku itu terlupakan setelah menonton beberapa episode video bersama Ayano setelahnya. Apa boleh buat, adegan kematian Jon Snow terlalu mengejutkanku lebih dari yang kukira. Sehingga masalah cermin itu terlupakan sejenak.
Tetapi, ketika aku sedang menggosok gigiku di depan cermin besar kamar mandi. Aku melihat sekelebatan bayangan dari belakangku. Aku tidak pernah menutup pintu kamar mandi ketika menggosok gigi, sehingga pantulan dari ruang tengah sangat jelas nampak dari tempatku menyikat gigi.
Dan aku seakan melihat ‘sesuatu’ seperti berkelebat layaknya orang berlari, melintas di ruang tengah apartementku.
Aku menghentikan kegiatan menyikat gigiku untuk memperhatikan lebih jeli.
Tidak ada pergerakan apapun lagi.
Aku menunggu selama beberapa detik sebelum melanjutkan menyikat gigi.
Sekali lagi aku melihat ‘sesuatu’ bagaikan melompat menyebrangi ruang tengahku tepat ketika aku akan menundukkan kepalaku untuk membuang air kumur.
Setelah meletakkan dan merapihkan peralatan sikat gigiku, perlahan aku berjalan menuju ruang tengah.
Sialnya aku meninggalkan handphone-ku di ruang tengah. Aku harus mengambilnya terlebih dulu sebelum memutuskan apakah aku harus memanggil Ayano atau tidak. Inilah keuntungan untuk tinggal di satu gedung apartment yang sama. Aku bisa memintanya datang dengan cepat dan tidak khawatir karena dia harus pulang malam-malam ke tempat yang jauh. Di sini kami hanya berbeda lantai. Kurasa keputusan untuk pindah cukup tepat.
Apapun ‘sesuatu’ yang berkelebat itu tidak meninggalkan jejak apapun. Aku memperhatikan dengan detail ruang tengah itu dan tidak menemukan apa-apa.
Sampai secara tidak sengaja, aku melihat ke arah cermin itu.
Sekilas aku melihat sosok wajah yang sedang menempelkan wajah dan tangannya untuk mengintip.
Dari sisi sebelah cermin…
“Mustahil…” bisikku.
Aku segera berlari menuju cermin itu dan menatapnya.
Tidak ada…
Aku baru saja akan berpikir kalau barusan itu hanya bayanganku saja ketika aku merasakan perasaan sedang diawasi dari belakangku.
Dengan cepat aku menengok ke belakangku dan mendapati ‘sesuatu’ yang baru saja terlihat berlari dari layar televisiku yang mati hingga memantulkan bayangan bagaikan cermin. Aku tidak melihat dengan jelas bentuk ‘mahluk’ itu selain bentuk bayangan dengan mata yang memantulkan cahaya seperti mata kucing.
Dan sekali lagi aku melihatnya sedang melintas di jendela yang juga memantulkan cahaya.
‘Mahluk’ itu berlari ke arah kamar mandi.
Dan di cermin kamar mandi itu, aku bisa melihatnya sedang bersembunyi di sudut kamar mandi. Hanya sebagian dari tubuh mahluk itu yang terpantul pada cermin besar di kamar mandiku.
Aku berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandiku dan dengan gerakan cepat, pintu kamar mandi itu menutup dengan bunyi kencang ‘BRAKKK!!!’
“Ahh!?” aku melompat terkejut. Dan seketika itu juga lampu kamarku berkedip dan mati.
“!!?”
‘Krekk-krekkk’
‘Pats!’
Lampu kembali menyala, namun pintu kamar mandi yang tadinya terbanting kini sudah terbuka kembali.
Dan bayangan dari ‘mahluk’ itu sama sekali tidak terlihat di manapun.
“Dimana…….”
“ !!!!?” aku berbalik dengan cepat ketika satu per satu gorden yang tergantung di jendelaku terlepas dari ikatannya dan menutup.
“A-apa…..?” aku bergumam dengan bingung. Sebelum tiba-tiba cermin besar yang berdiri di pinggir ruangan bergetar dengan kencang dan…
‘Sreeett..’
Cermin itu bergeser ke tengah dan berputar sehingga posisi cermin itu kini berhadapan tegak lurus berhadapan denganku.
“Ahh!!!” teriakku kaget ketika aku menatap cermin itu.
Pada bayanganku yang terpantul di cermin ‘sesuatu’ sedang tepat berada di belakangku, dan menatapku tajam dengan mata bercahayanya, bagaikan terbuat dari kaca.
Mahluk itu berkepala botak, memiliki telinga aneh yang runcing, tidak memiliki hidung dan berkulit seperti hijau bercampur biru. Dengan baju compang-camping berwarna gelap yang bergelombang bagaikan gumpalan asap yang sangat pekat.
Dengan cepat aku berbalik.
Tidak ada apapun…
Aku kembali berbalik ke cermin itu… tidak ada apapun juga…
Sampai akhirnya aku melihat jari-jari panjang dan ramping berwarna hijau bercampur biru yang terpantul sedang memegang pinggiran cermin itu. Tapi sosok ‘mahluk’ itu sendiri tidak nampak secara fisik.
Dan…
‘pats!!’
Kembali lampu kamarku mati dengan tiba-tiba.
Namun, berkat cahaya yang masuk dari lampu-lampu di jalanan dari satu-satunya jendela yang gordennya belum tertutup, aku dapat melihatnya dengan penuh kengerian.
‘Mahluk’ itu dengan perlahan seakan melangkah keluar dari cermin. Bayangan hitam itu terlihat sedang merangkak keluar dan menuju ke arahku. Kemudian ‘mahluk’ itu mendongak dan aku bisa melihat dua bola mata bercahaya yang sedang menatap ke arahku.
“Ahhh!!!” kedua pergelangan kakiku digenggam oleh sesuatu yang dingin dan menahannya di tempatnya.
Aku tidak bisa bergerak!! Pikirku dengan panik.
Dan dengan ngeri, aku melihat perlahan-lahan, ‘mahluk’ itu bangkit dari posisinya yang merangkak perlahan-lahan. Kedua tanganya yang menahan kakiku masih kokoh pada tempatnya. Kakiku seperti dijepit pada batu yang sangat berat.
Aku melihat dalam gelap bagaimana ‘mahluk’ itu perlahan-lahan semakin meninggi hingga sepertinya kepalanya sejajar dengan wajahku. Dan kemudian ‘dia’ mendongak. Kedua mata yang bercahaya itu berada hanya beberapa senti dari wajahku.
“Ahhh!!!” teriakku histeris ketika kedua mata bercahaya itu semakin dekat dengan wajahku.
‘Krek’
“Lisa!”
Dari pintu masuk di sampingku, aku melihat Ayano datang.
Berbarengan dengan itu, cahaya yang berasal dari senter handphone yang dipegang oleh Ayano menyinari ke arahku dan ‘mahluk’ itu.
Genggaman ‘mahluk’ itu lepas dan membuatku jatuh terduduk.
“Aduh!” teriakku kesakitan ketika bokongku terhempas pada lantai..
“Lis!” seru Ayano sembari mendekatiku dan membantuku berdiri “Kamu nggak apa?” tanyanya.
“Kok koko bisa kemari?” tanyaku.
Aku mengira kalau Ayano merasakan kehadiran ‘mahluk’ ini. Namun berbeda dari dugaanku, Ayano mengatakan “Kan kamu takut gelap, jadi koko dateng”
“Lalu koko denger kamu teriak, jadi koko langsung buru-buru masuk” lanjutnya lagi sambil merangkulku dan membawaku ke sofa “Tadi itu apa?” tanyanya.
“Aku nggak tau ko, tapi sepertinya dia itu dari bayangan gitu” kataku.
“Bayangan?” tanya Ayano.
“Iya, dari pantulan cermin” jawabku, lalu aku menunjuk ke cermin besar itu “Cermin itu… ahh!!!?”
‘Mahluk’ bayangan itu, entah apalah itu, terlihat sedang berdiri menatap kami dari dalam cermin…
Matanya yang bersinar tampak seperti mengawasi aku dan Ayano.
Ayano mengarahkan cahaya dari senter handphonenya pada cermin itu.
‘Mahluk’ itu menghilang…
“Oh?” seru Ayano. Kemudian dia menggeser cahaya dari handphonenya dan ‘mahluk’ itu muncul kembali.
“Mahluk itu ada di dalam cermin?” tanya Ayano yang lebih ke dirinya sendiri. Kemudian perlahan, Ayano bangkit berdiri dan aku menahannya “Koko mau kemana?”
“Pegangin hp koko ya” katanya sambil menyerahkan hpnya kepadaku.
“Ko?” tanyaku bingung sambil memegang handphone Ayano yang masih bercahaya. “Sebentar, pegang aja itu dulu, kalau ada bahaya senterin aja” katanya.
Kemudian Ayano dengan cepat mendekati cermin itu, aku melihat kejadian itu dengan takut ketika Ayano dengan sigap membalikkan cermin itu agar menghadap ke jendela.
‘GRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!’ aku mendengar geraman kencang dan getaran kencang pada cermin itu yang bahkan bisa terlihat olehku ketika cermin itu berhadap-hadapan dengan jendela yang memantulkan kembali bayangan cermin itu.
“Waaa!!” teriak Ayano ketika tiba-tiba tangannya seperti ditarik oleh sesuatu hingga tubuhnya menabrak cermin besar itu.
‘PRANNGG!!’
Cermin besar itu jatuh ke lantai dan pecah diiringi dengan bunyi geraman ‘mahluk’ itu.
‘pats!’
Tepat setelah itu, kemudian lampu menyala. Aku segera berlari menghampiri Ayano yang sedang memegangi tangannya yang berdarah karena terkena pecahan kaca.
Aku sedang melihat luka-luka Ayano ketika mendengar geraman rendah dari arah jendela ‘grrr!!’
Dengan terkejut aku menatap ke arah jendela dan melihat dua mata bercahaya yang menatapku dari jendela yang memantul, dan perlahan-lahan menghilang.
Semenjak itu, ‘mahluk’ itu menghilang, aku tidak pernah lagi melihatnya…
Tapi, semenjak itu juga aku merasa seperti ada yang mengawasi aku dari jauh.. terutama apabila aku berada di dekat cermin..
bakulmenyan memberi reputasi
1
Kutip
Balas