Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Yaudah, gue mati aja

Cover By: kakeksegalatahu


Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.





Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue



emoticon-Bettyemoticon-Betty emoticon-Betty



----------




SECOND STORY VOTE:
A. #teambefore
B. #teamafter
C. #teamfuture

PREDIKSI KASKUSER = EMIL



----------



PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.



----------


Spoiler for QandA:


WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+



NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY


Spoiler for Ilustrasi:


Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.


Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
mazyudyudAvatar border
xue.shanAvatar border
agoritmeAvatar border
agoritme dan 11 lainnya memberi reputasi
12
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#2678
PART 80

Balik dari toilet enggak ada yang berbeda, iya enggak ada yang berbeda, kecuali penampilan Pepy. Kemejanya dilepas dan dia hanya menggunakan kaos polos warna hitam.

“Pokoknya lo ada hutang sama gue dua ratus lima puluh ribu!”
“Ogah! Lo sendiri yang masukin baju lo ke lubang toilet, masa iya gue harus ganti,” ucap gue membela diri.
Pepy menarik telinga gue pelan, “Heh, kalo bukan gara-gara muntahan lo juga enggak bakal masuk kesana. Lagian udah kena muntahan lo mana mungkin gue pake.”
“Yaelah… Pep, emang muntahan gue seberbahaya itu.”
“Lebih mematikan dari cairan asam lambung tapir tau enggak,” jelas Pepy sambil manggut-manggut.

Balik ke table, disana cuma ada Grace sendirian. Gue langsung duduk menghampiri dan dia langsung memalingkan muka, cuma selisih sepersekian detik.

“Hei, Grace,” sapa gue.
“Hmmmh….”

Pepy cuma diem aja sambil masih kelihatan kesal.

“Udah lama?” basa-basi gue.
“Bukannya lo tadi liat kalo gue baru dateng?” kata Grace.
Gue melirike ke arah Pepy, “Iya juga sih.”
“Kenapa? Mau nanya kenapa gue berubah jadi jutek kayak gini sama lo? Iya?!” tanya Grace tiba-tiba. “Disini dunia gue yang sebenernya, bukan sama lo, yang dilihat keren tapi kenyataannya cupu, lo itu fake!”

GUE FAKE!

Gue fake, cuma kata itu doang yang gue tangkep diantara dentuman bass yang kencengnya ngalahin suara gong di taman jomblo Bandung. Gue paham kalo Grace barusan ngatain kalo gue ini fake. Gue enggak tau, apa dia ngatain gue dalam keadaan sadar atau terpengaruh alkohol dalam kadar yang berlebihan. Yang jelas dia barusan ngatain gue.

Tapi masa iya Grace yang biasanya kalem dan riang sama gue tiba-tiba berubah jadi kayak gini?! Gue harus memperjelas semua ini, lagipula tujuan gue kesini pertama kali kan emang mau ngomong sama Grace, bukan beneran mau dugem.
Belum jadi gue mengajak Grace mengobrol lebih jauh, dia menarik tangan Pepy dan mengajaknya naik ke floor. Iya, gue ditinggal sendirian.

“Kayaknya tadi gue lihat Grace?” kata Bentigo yang tiba-tiba ada disebelah gue.
“Naik dia.”
“Lo beneran mau baikin hubungan lo sama Grace?”

Gue cuma menganggukkan kepala pelan.

“Tapi abis ini lo tanggung semuannya sendiri ya? gue lepas tangan.”
“Lepas tangan? Tanggung apaan?” Tiba-tiba otak gue kepikiran harga minuman disini, “Gue harus nanggung semua minuman disini?!”
Bentigo ketawa kecil, “Ya enggaklah bego, gue juga tau kalo lo enggak bakal kuat. Ntar deh lo tau sendiri. SeFkarang lo gue kasih kunci, balik ke mobil terus tungguin gue disana.”

Gue cuma manggut-manggut sambil menerima kunci mobil Bentigo.

Jujur gue masih belum punya firasat buruk atau gambaran tentang tanggungan yang nanti harus gue tanggung sendiri. Tapi demi gue dapet kata maaf dari Grace, gue harus rela berkorban, kalo kata orang-orang gym, “no pain no gain”.

Beneran aja, enggak lama gue menunggu di mobil, Bentigo datang dengan kedua tangan sibuk, yang satu membawa kotak panjang dan yang satunya menarik Grace. Dia mengetok kaca mobil dengan memberi kode minta dibukakan pintu.

“Masuk Grace!” perintah Bentigo.
Grace masih menolak Bentigo, “Apa sih Ben! Tinggalin aku! Aku bisa pulang sendiri!”
“Kamu mau masuk apa aku laporin papa?!” teriak Ben.

Grace hanya diam sambil menutup pintu kencang-kencang.

Bentigo masuk ke mobil dan memberi kode gue untuk jalan.

“Mau kemana kita, Ben?” tanya gue.
“Tempat yang ukurannya tiga kali tiga, yang baunya minta ampun, dan biasa lo pake buat tidur,” jelas Bentigo.

Jelas aja gue langsung injek rem mendadak.

DUK! Kedengeran suara lumayan kenceng dari kursi belakang.

“Woe! Kalo bawa mobil yang bener dong! supir kampungan!” gerutu Grace.
“Yang bener aja, Ben?!”
“Lo mau Grace makin marah sama lo?” tanya Bentigo.
Gue menggeleng cepat.
“Yaudah jalan, lo bilang berani nanggung resiko kan?”

Tanpa ba-bi-bu gue bawa itu mobil menuju kosan gue.

Masih enggak ada firasat buruk? Jelas ada, bahkan firasat gue kali ini kerasa buruk banget! Lebih buruk dari firasat yang pernah gue dapet sebelumnya. Firasat ini jauh lebih buruk daripada firasat seorang anak laki-laki yang ketahuan abis matahin lipstick punya nyokap, iya, lipstick punya nyokap. Ngapain juga itu anak laki-laki mainan lipstick.

Sesampainya di kosan gue enggak langsung parkir ke halaman kos, gue cek dulu satu persatu tiap lampu kamar. Gue enggak mau berbuat ceroboh, kalo anak kosan tau gue pulang dugem bawa cewek mabok, gue bisa dilaporin ke Pak Jendral, dan bisa-bisa gue diusir dari kosan. Gila aja gue sampe diusir dari kosan.

Gue harus segera mengatur siasat gimana caranya biar Bentigo sama Grace biar bisa masuk ke dalam kamar gue tanpa ketahuan. Bangkenya, orang mabok enggak bisa diajak buat kerja sama. Entah sejak kapan Bentigo udah di depan pagar kosan dan mencoba membukanya.

“TERUS… TERUS, WI! YA, LURUS!” seru Bentigo meemberi aba-aba parkir setengah mabok.

Jelas aja gue langsung parkirin mobil ke halaman dengan harapan Bentigo cepet diem.

“Parah lo! Lo pengin banget gue diusir dari kosan?!”
Bentigo menunjuk Gue, “Lo … gendong Grace, bawa ke atas.”

Tanpa berdebat dengan Bentigo, gue langsung membuka pintu tengah dan menarik Grace keluar.

“Jangan gendong belakang, ntar dia bisa muntah,” saran Bentigo. “Gendong depan, biar mulutnya diatas.”

Entah beruntung atau sial, keadaan kosan malam ini sepi banget. Bentigo dan Grace bisa masuk ke kamar gue tanpa ada orang yang tau. Grace mengacak-acak kamar gue, sedangkan Bentigo, dia sibuk membuat catatan di dalam hapenya.

Inget kotak yang di bawa sama Bentigo? Ternyata itu sebuah minuman beralkohol. Dan ternyata Bentigo memang sudah menyiapkan sesuai dengan rencanannya.

“Lo siap nanggung resiko kan?” Bentigo membuka botol minuman itu, “Sekarang lo, gue, sama Grace abisin ini minuman. Gue enggak tau apa yang bakalan yang terjadi dalam keadaan mabok nanti, yang jelas kita bertiga udah sama-sama siap nanggung resikonya”
“Lo udah gila? Grace itu cewek! Gimana kalo kejadian yang engg—”
Grace membungkam mulut gue, “Lo udah siap nanggung resikonya kan? Kalo lo mau gue maafin, lakuin. Kalo enggak, mending enggak perlu kenal-kenal lagi.”
“Lihat kan? ini emang kedengerannya kayak hal gila—”
“Ini emang hal gila, Ben!” potong gue.
Bentigo menepuk pundak gue, “Tapi ini satu-satunya cara yang bikin gue sama Grace bisa percaya seratus persen sama orang.”

Satu-satunya cara?! Apa mungkin mereka udah pernah ngelakuin cara lain, terus mereka pikir ini satu-satunya yang mereka anggap paling cocok?!

“Udah berapa kali kalian berdua lakuin kayak gini?” tanya gue.
Grace menunjukkan dua jarinya, “Dua-duannya gagal, gue hampir kehilangan nyawa, hehe.”
“Ini kelima kalinya, dua berhasil, tiga gagal. Yang gagal enggak gue anggap temen lagi, yang lain satunya udah mati, satunya lagi sekarang masih dugem,” jelas Bentigo.
“Pepy?” tanya gue.
Bentigo menggeleng, “Bukan dia."

Oke, mari kita pertimbangkan. Belum lama tadi gue ikutan minum alkohol sama Bentigo, dan hasilnya, gue muntah ke badan temen gue sendiri. Bentigo yang sering minum aja kalo mabok jadi gila begini, gimana gue nanti? Selain itu Bentigo sama Grace bisa gue pastikan bukan pasangan kakak-adek yang normal, bisa jadi mereka adalah sepasang kakak adek yang psikopat, dan bisa jadi juga sewaktu mabok gue bakalan di bunuh. Apa iya gue berani ambil resiko kayak gitu?

“Jadi gimana? Lo berani enggak?”
Gue mengangkat gelas gue ke depan Bentigo dengan mantap, “Bring it on!”


END OF CHAPTER 8
Diubah oleh dasadharma10 19-12-2016 20:20
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.