- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1662
Catatan Elisa :
- Bagian pertama
(sebagian aku ambil langsung dari Diaryku – penceritaan ulang menyusul)
November 2014 (Tanggalnya aku sembunyikan karena tanggal ulang tahunku, maaf)
Beberapa kata yang bisa menggambarkan hari ini adalah :
SUCKS, SH*TTY dan SCARY…
Aku bukan orang yang terbiasa berkata kasar. Tapi kali ini sudah keterlaluan.
Karena melindungiku, lagi-lagi Ayano mengalami celaka karena ‘mereka’. Aku sangat benci hal itu.
Sayangnya ‘dia’, ‘mahluk’ sialan yang mengutuk mataku menjadi begini tidak sekalian memberikanku semacam kemampuan apa yang bisa membuatku bisa melindungi diriku sendiri, atau seharusnya yang bisa membuatku dapat menyakiti mereka secara langsung.
Belum pernah aku merasakan kemarahan kepada ‘mereka’ seperti hari ini.
Biasanya aku menganggap ‘mereka’ adalah kesialanku, ketakutanku dan kutukanku. Aku tidak pernah merasakan kesal atau marah karena gangguan dari ‘mereka’. Yang ada hanyalah rasa takut, pasrah dan lelah. Tidak pernah marah seperti saat ini.
Aku mengulang-ulang beberapa cara mengerikan di kepalaku yang akan kuperbuat untuk ‘mereka’ yang telah berbuat hal ini kepada cowok yang saat ini sedang terbaring di depanku. Seandainya aku mempunyai kemampuan untuk itu….
Tapi sialnya, semua orang pintar yang kudatangi, bahkan oma Elly juga mengatakan aku sama sekali tidak berbakat untuk belajar kemampuan seperti itu.
Aku benci ini…
Aku tidak suka melihat Ayano terluka karena ‘mereka’.
Aku juga takut… Bahkan sangat ketakutan ketika melihat Ayano yang terbaring dengan perban penuh darah di kepalanya.
Aku takut kehilangan dia..
Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa menjadi tempatku berlindung dari ‘mereka’.
Aku takut…
Takut…
Dan rasa takut itu membawaku sampai pada suatu titik yang mengakibatkan semuanya berubah.
Takut itu berubah menjadi kemarahan..
Murka…
Aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini seumur hidupku. Aku benar-benar ingin mencabik-cabik mahluk sial yang melakukan ini pada Ayano.
Aku pasti akan membalas mahluk sialan itu. Tapi bagaimana?
Sepertinya aku tidak akan bisa tidur hari ini, setelah menulis ini, aku akan mencari caranya di Internet.
===
Itu adalah catatan Diaryku. Sebelum aku melakukan suatu kesalahan yang kusesali sampai sekarang.
Tapi sebelumnya, aku akan menceritakan mengenai apa yang terjadi pada Ayano dulu.
Ini terjadi di hari yang sama dengan catatan Diaryku itu.
Yaitu di hari ulang tahunku.
Bayangkan!
Hari ulang-tahunku yang begitu spesial. Malah berakhir dengan Ayano yang harus terbaring di rumah sakit.
Ulang tahun paling menyakitkan sampai sekarang…
===
Pagi hari itu, semuanya terasa sangat indah dan aku bahkan tidak akan mengira semuanya akan menjadi buruk pada sore harinya.
Pagi-pagi, Ayano sudah datang di rumah kostku dan membuatkan makan pagi khusus ulang tahunku di untuk dimakan di kasur. Yaitu Apple Struddle hangat, Sandwidch Tuna dan kopi Tiramisu (semua favoritku!)
Lengkap dengan Black Forest Ice Cream yang sangat spesial untuk dessert.
Iya memang, dia itu sehebat ibu-ibu kalau masak.
Dengan awal pagi hari yang baik, kemudian ditambah dengan idenya untuk pergi jalan-jalan untuk memilih hadiahku sendiri setelah bimbingan skripsiku selesai.
Kemudian ditambah kejutan pada saat makan siang di restoran dimana pada saat kami makan berdua tiba-tiba teman-temanku datang dan memberikan selamat dan kado-kado untukku. Aku mengira kalau ini akan menjadi ulang tahun yang paling berkesan selama ini dalam hidupku.
Berkesan dalam arti ulang tahun terindah.
Kalau saja aku tidak melihat ‘mahluk’ itu.
Aku melihatnya tanpa sengaja. Karena mengira ‘mahluk’ itu adalah seorang nenek-nenek yang hendak menyebrang jalan, namun kesulitan karena lalu lintas yang padat.
Dengan segera aku beranjak menghampirinya dengan niat membantu “Sebentar, aku bantu nenek itu nyebrang ya ko” kataku pada Ayano.
“Lisa, hei!!” teriak Ayano memanggilku.
Seharusnya aku sadar saat itu.
Aku benar-benar bodoh….
Kalau memang ‘nenek’ itu nyata, sudah barang pasti Ayano yang menghampirinya duluan untuk membantunya menyebrang. Iya, kenyataan bahwa Ayano memanggilku dengan nada melarang adalah pertanda kalau dia tidak melihat ‘nenek’ apapun yang kumaksud itu.
Hal itu seharusnya kusadari…
Tapi dengan bodohnya aku memanggil ‘nenek’ itu dengan lantang “Nek, hati-hati nyebrangnya!” teriakku seraya berlari kecil ke arah ‘nenek’ itu yang terlihat seakan hendak melangkah ke jalanan yang ramai oleh mobil berlalu-lalang.
Tapi ‘nenek’ itu seakan tidak mendengarku dan melompat ke jalan bertepatan dengan bus yang melintas dengan kencang.
“Ahh!!” teriakku kaget.
Tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada bunyi benturan, tidak ada tubuh yang terpelanting, tidak ada bunyi decitan rem, tidak ada apapun.
Jalanan yang ramai tetap berlangsung seperti tidak terjadi apapun.
“Hah?”
Nenek itu menghilang…
Aku celingak-celinguk mencari sosok nenek itu sebelum merasakan sesuatu yang sangat berat, bagaikan batu besar yang ditaruh di punggungku ditambah dengan suhu dingin yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Uhhh!!” desahku sambil terjatuh berlutut di jalan.
“… Anak baik…” bisik sebuah suara dari belakangku.
Aku hendak menengok ke belakang. Tapi leherku terasa kaku. Aku hanya bisa menggerakkan seperempat dari kemampuanku melihat ke samping kanan atau kiri. Selebihnya, seperti ada sesuatu yang menahan leherku agar tidak bisa berputar ke samping.
“A-apa?” kataku dengan gemetar.
“Kamu mau bantu nenek kan?” bisik suara itu dari punggungku.
“Ah……!!” geramku sementara punggungku terasa sakit karena menahan sesuatu yang berat.
“Nenek mau nyebrang...” kata suara itu lagi.
“….” Aku tidak menjawab, pundakku serasa mau copot.
Dan tiba-tiba aku merasakan jambakan pada rambutku.
“NENEK BILANG NENEK MAU MENYEBRANG!!” teriak suara nenek itu dari punggungku.
“I.. iya..” jawabku sambil merintih.
“Bagus, nenek maunya menyebrang ke dunia sana” katanya lagi.
“Hah?” aku merinding hebat mendengar ucapannya. Kemudian aku merasakan rambutku kembali disentakkan ke belakang dengan keras. Sepertinya beberapa helai rambutku ikut tertarik jambakan itu karena aku merasakan rasa sakit di kepalaku.
“Ahhh!!!” teriakku kesakitan.
“BANGUN!!” hardik ‘nenek’ yang menempel di punggungku.
Aku berdiri dengan susah payah dan dengan tangisan di pipiku.
Pada waktu itulah Ayano datang dan membantuku berdiri. “Elisa? Apa yang terjadi?” tanyanya.
Aku menatapnya dengan putus asa. Sebelum kembali rambutku disentakkan kebelakang dengan keras oleh ‘nenek’ itu.
“Aduh!!” kataku kesakitan sementara leherku tertarik ke belakang.
“Ada sesuatu di belakang kamu ya Elisa?” tanya Ayano. Berkat terbiasa dengan hal-hal seperti soal ‘mereka’ Ayano langsung mengetahui kalau ada ‘mereka’ yang menggangguku. Walaupun dia tidak bisa melihat ‘mereka’.
Ayano memegang bahuku dan berkata dengan tegas “Apapun yang mengganggu Elisa, pergi sekarang!! Kalau mau ganggu, kalau berani ke aku saja!! Jangan ke Elisa!!” desis Ayano tegas.
“HUH!!” teriak suara di belakangku dengan keras.
Kemudian punggungku terasa ringan dan suhu tubuhku kembali normal.
“Ko…” bisikku sambil menghambur ke pelukannya.
Iya.. kuakui akhir-akhir ini aku jadi sangat manja pada Ayano.
“Lisa? Kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
“Sudah nggak apa ko, kayaknya udah hilang…” kataku.
Ayano memelukku sebentar sebelum berbisik “Ya udah, kamu pucet Lis, kita ke kost kamu dulu ya, istirahat dulu, biar nggak batal acara dinnernya”
Dinner yang dijanji-janjikan akan menjadi surprise itu sangat kunantikan…
Karena itu aku menurut perkataan Ayano.
Kami berdua naik ke mobil dan pulang.
Aku tidak menyangka apapun akan terjadi. Tapi tiba-tiba aku merasakan kembali rasa dingin di sekujur tubuhku.
Dan bisikan dari belakangku.
“Ayo menyebrang”
‘CIIIITTT!!’
Detik-detik selanjutnya terasa terjadi banyak hal sekaligus. Truck tronton yang melaju kencang di samping kami tiba-tiba berbelok dan memepet mobil kami.
Hal terakhir yang kuingat adalah benturan keras di sisi pintu Ayano, dan pelukan Ayano kepada diriku sebelum aku tersadar di kasur rumah sakit.
Butuh waktu sehari sebelum aku diizinkan bangun dari tempat tidur setelah dipastikan aku tidak terkena gegar otak atau sebagainya.
Tapi tidak dengan Ayano….
Dia masih tidak sadarkan diri, terbaring di rumah sakit dengan perban penuh darah membalut kepalanya.
(Bersambung di part selanjutnya - kesalahan terbesar yang kulakukan)
Maaf ya tidak terlalu panjang partnya.
Spoiler for Harap dibaca dulu:
Hallo, aku Elisa.
Aku melewatkan catatan dimana nenek Elly mengajariku cara untuk mengontrol ‘mata’ku agar tidak melakukan sesuatu yang disebut ‘terawangan’ dengan otomatis. Untungnya menurut nenek Elly, kemampuan ‘terawangan’ ini adalah sesuatu yang ‘terlihat’ dan tidak ‘tersembunyi’ seperti kemampuan ‘mata’ku yang bisa melihat ‘mereka’. Karena itu nenek Elly masih bisa mengupayakan untuk menyegel kemampuan itu, meskipun katanya aku tetap harus menggunakannya sesekali agar segelnya tidak bocor.
Kenapa aku melewatkan catatan waktu itu karena aku tidak mau mengakibatkan isu sara. Meskipun tidak semua, ada beberapa dari pembaca thread ini yang senantiasa mencoba mencari-cari suatu keanehan dari kejadian yang kualami. Yah, aku mengatakan silahkan saja, dan mungkin mereka akan lebih yakin apabila mengalaminya sendiri. Tapi, tetap isu sara adalah hal yang sangat sulit untuk diselesaikan di negara ini. Daripada aku menceritakan ulang catatan pada waktu itu yang sarat dengan tata-cara ibadah dari agama kepercayaan kuno nenek Elly yang nantinya akan menimbulkan pertentangan berbau sara dan pada akhirnya membuat cerita ini tidak bisa dilanjutkan. Lebih baik aku melewatkannya saja, sama seperti Ayano yang sebisa mungkin mengedit bagian-bagian catatan dimana kami mengucapkan doa atau apapun yang menyangkut agama dari catatanku.
Mungkin ada yang keberatan, mungkin ada yang bisa mengerti alasanku. Tapi apapun itu, aku tetap bersikeras untuk tidak memasukkan apapun dan akan mengedit ulang untuk menghilangkan apapun yang berbau agama dari catatanku selama itu memungkinkan dan tidak membuat cerita menjadi aneh.
Salam,
Elisa
Aku melewatkan catatan dimana nenek Elly mengajariku cara untuk mengontrol ‘mata’ku agar tidak melakukan sesuatu yang disebut ‘terawangan’ dengan otomatis. Untungnya menurut nenek Elly, kemampuan ‘terawangan’ ini adalah sesuatu yang ‘terlihat’ dan tidak ‘tersembunyi’ seperti kemampuan ‘mata’ku yang bisa melihat ‘mereka’. Karena itu nenek Elly masih bisa mengupayakan untuk menyegel kemampuan itu, meskipun katanya aku tetap harus menggunakannya sesekali agar segelnya tidak bocor.
Kenapa aku melewatkan catatan waktu itu karena aku tidak mau mengakibatkan isu sara. Meskipun tidak semua, ada beberapa dari pembaca thread ini yang senantiasa mencoba mencari-cari suatu keanehan dari kejadian yang kualami. Yah, aku mengatakan silahkan saja, dan mungkin mereka akan lebih yakin apabila mengalaminya sendiri. Tapi, tetap isu sara adalah hal yang sangat sulit untuk diselesaikan di negara ini. Daripada aku menceritakan ulang catatan pada waktu itu yang sarat dengan tata-cara ibadah dari agama kepercayaan kuno nenek Elly yang nantinya akan menimbulkan pertentangan berbau sara dan pada akhirnya membuat cerita ini tidak bisa dilanjutkan. Lebih baik aku melewatkannya saja, sama seperti Ayano yang sebisa mungkin mengedit bagian-bagian catatan dimana kami mengucapkan doa atau apapun yang menyangkut agama dari catatanku.
Mungkin ada yang keberatan, mungkin ada yang bisa mengerti alasanku. Tapi apapun itu, aku tetap bersikeras untuk tidak memasukkan apapun dan akan mengedit ulang untuk menghilangkan apapun yang berbau agama dari catatanku selama itu memungkinkan dan tidak membuat cerita menjadi aneh.
Salam,
Elisa
Spoiler for PART XXXVII:
- Bagian pertama
(sebagian aku ambil langsung dari Diaryku – penceritaan ulang menyusul)
November 2014 (Tanggalnya aku sembunyikan karena tanggal ulang tahunku, maaf)
Beberapa kata yang bisa menggambarkan hari ini adalah :
SUCKS, SH*TTY dan SCARY…
Aku bukan orang yang terbiasa berkata kasar. Tapi kali ini sudah keterlaluan.
Karena melindungiku, lagi-lagi Ayano mengalami celaka karena ‘mereka’. Aku sangat benci hal itu.
Sayangnya ‘dia’, ‘mahluk’ sialan yang mengutuk mataku menjadi begini tidak sekalian memberikanku semacam kemampuan apa yang bisa membuatku bisa melindungi diriku sendiri, atau seharusnya yang bisa membuatku dapat menyakiti mereka secara langsung.
Belum pernah aku merasakan kemarahan kepada ‘mereka’ seperti hari ini.
Biasanya aku menganggap ‘mereka’ adalah kesialanku, ketakutanku dan kutukanku. Aku tidak pernah merasakan kesal atau marah karena gangguan dari ‘mereka’. Yang ada hanyalah rasa takut, pasrah dan lelah. Tidak pernah marah seperti saat ini.
Aku mengulang-ulang beberapa cara mengerikan di kepalaku yang akan kuperbuat untuk ‘mereka’ yang telah berbuat hal ini kepada cowok yang saat ini sedang terbaring di depanku. Seandainya aku mempunyai kemampuan untuk itu….
Tapi sialnya, semua orang pintar yang kudatangi, bahkan oma Elly juga mengatakan aku sama sekali tidak berbakat untuk belajar kemampuan seperti itu.
Aku benci ini…
Aku tidak suka melihat Ayano terluka karena ‘mereka’.
Aku juga takut… Bahkan sangat ketakutan ketika melihat Ayano yang terbaring dengan perban penuh darah di kepalanya.
Aku takut kehilangan dia..
Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa menjadi tempatku berlindung dari ‘mereka’.
Aku takut…
Takut…
Dan rasa takut itu membawaku sampai pada suatu titik yang mengakibatkan semuanya berubah.
Takut itu berubah menjadi kemarahan..
Murka…
Aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini seumur hidupku. Aku benar-benar ingin mencabik-cabik mahluk sial yang melakukan ini pada Ayano.
Aku pasti akan membalas mahluk sialan itu. Tapi bagaimana?
Sepertinya aku tidak akan bisa tidur hari ini, setelah menulis ini, aku akan mencari caranya di Internet.
===
Itu adalah catatan Diaryku. Sebelum aku melakukan suatu kesalahan yang kusesali sampai sekarang.
Tapi sebelumnya, aku akan menceritakan mengenai apa yang terjadi pada Ayano dulu.
Ini terjadi di hari yang sama dengan catatan Diaryku itu.
Yaitu di hari ulang tahunku.
Bayangkan!
Hari ulang-tahunku yang begitu spesial. Malah berakhir dengan Ayano yang harus terbaring di rumah sakit.
Ulang tahun paling menyakitkan sampai sekarang…
===
Pagi hari itu, semuanya terasa sangat indah dan aku bahkan tidak akan mengira semuanya akan menjadi buruk pada sore harinya.
Pagi-pagi, Ayano sudah datang di rumah kostku dan membuatkan makan pagi khusus ulang tahunku di untuk dimakan di kasur. Yaitu Apple Struddle hangat, Sandwidch Tuna dan kopi Tiramisu (semua favoritku!)
Lengkap dengan Black Forest Ice Cream yang sangat spesial untuk dessert.
Iya memang, dia itu sehebat ibu-ibu kalau masak.
Dengan awal pagi hari yang baik, kemudian ditambah dengan idenya untuk pergi jalan-jalan untuk memilih hadiahku sendiri setelah bimbingan skripsiku selesai.
Kemudian ditambah kejutan pada saat makan siang di restoran dimana pada saat kami makan berdua tiba-tiba teman-temanku datang dan memberikan selamat dan kado-kado untukku. Aku mengira kalau ini akan menjadi ulang tahun yang paling berkesan selama ini dalam hidupku.
Berkesan dalam arti ulang tahun terindah.
Kalau saja aku tidak melihat ‘mahluk’ itu.
Aku melihatnya tanpa sengaja. Karena mengira ‘mahluk’ itu adalah seorang nenek-nenek yang hendak menyebrang jalan, namun kesulitan karena lalu lintas yang padat.
Dengan segera aku beranjak menghampirinya dengan niat membantu “Sebentar, aku bantu nenek itu nyebrang ya ko” kataku pada Ayano.
“Lisa, hei!!” teriak Ayano memanggilku.
Seharusnya aku sadar saat itu.
Aku benar-benar bodoh….
Kalau memang ‘nenek’ itu nyata, sudah barang pasti Ayano yang menghampirinya duluan untuk membantunya menyebrang. Iya, kenyataan bahwa Ayano memanggilku dengan nada melarang adalah pertanda kalau dia tidak melihat ‘nenek’ apapun yang kumaksud itu.
Hal itu seharusnya kusadari…
Tapi dengan bodohnya aku memanggil ‘nenek’ itu dengan lantang “Nek, hati-hati nyebrangnya!” teriakku seraya berlari kecil ke arah ‘nenek’ itu yang terlihat seakan hendak melangkah ke jalanan yang ramai oleh mobil berlalu-lalang.
Tapi ‘nenek’ itu seakan tidak mendengarku dan melompat ke jalan bertepatan dengan bus yang melintas dengan kencang.
“Ahh!!” teriakku kaget.
Tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada bunyi benturan, tidak ada tubuh yang terpelanting, tidak ada bunyi decitan rem, tidak ada apapun.
Jalanan yang ramai tetap berlangsung seperti tidak terjadi apapun.
“Hah?”
Nenek itu menghilang…
Aku celingak-celinguk mencari sosok nenek itu sebelum merasakan sesuatu yang sangat berat, bagaikan batu besar yang ditaruh di punggungku ditambah dengan suhu dingin yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Uhhh!!” desahku sambil terjatuh berlutut di jalan.
“… Anak baik…” bisik sebuah suara dari belakangku.
Aku hendak menengok ke belakang. Tapi leherku terasa kaku. Aku hanya bisa menggerakkan seperempat dari kemampuanku melihat ke samping kanan atau kiri. Selebihnya, seperti ada sesuatu yang menahan leherku agar tidak bisa berputar ke samping.
“A-apa?” kataku dengan gemetar.
“Kamu mau bantu nenek kan?” bisik suara itu dari punggungku.
“Ah……!!” geramku sementara punggungku terasa sakit karena menahan sesuatu yang berat.
“Nenek mau nyebrang...” kata suara itu lagi.
“….” Aku tidak menjawab, pundakku serasa mau copot.
Dan tiba-tiba aku merasakan jambakan pada rambutku.
“NENEK BILANG NENEK MAU MENYEBRANG!!” teriak suara nenek itu dari punggungku.
“I.. iya..” jawabku sambil merintih.
“Bagus, nenek maunya menyebrang ke dunia sana” katanya lagi.
“Hah?” aku merinding hebat mendengar ucapannya. Kemudian aku merasakan rambutku kembali disentakkan ke belakang dengan keras. Sepertinya beberapa helai rambutku ikut tertarik jambakan itu karena aku merasakan rasa sakit di kepalaku.
“Ahhh!!!” teriakku kesakitan.
“BANGUN!!” hardik ‘nenek’ yang menempel di punggungku.
Aku berdiri dengan susah payah dan dengan tangisan di pipiku.
Pada waktu itulah Ayano datang dan membantuku berdiri. “Elisa? Apa yang terjadi?” tanyanya.
Aku menatapnya dengan putus asa. Sebelum kembali rambutku disentakkan kebelakang dengan keras oleh ‘nenek’ itu.
“Aduh!!” kataku kesakitan sementara leherku tertarik ke belakang.
“Ada sesuatu di belakang kamu ya Elisa?” tanya Ayano. Berkat terbiasa dengan hal-hal seperti soal ‘mereka’ Ayano langsung mengetahui kalau ada ‘mereka’ yang menggangguku. Walaupun dia tidak bisa melihat ‘mereka’.
Ayano memegang bahuku dan berkata dengan tegas “Apapun yang mengganggu Elisa, pergi sekarang!! Kalau mau ganggu, kalau berani ke aku saja!! Jangan ke Elisa!!” desis Ayano tegas.
“HUH!!” teriak suara di belakangku dengan keras.
Kemudian punggungku terasa ringan dan suhu tubuhku kembali normal.
“Ko…” bisikku sambil menghambur ke pelukannya.
Iya.. kuakui akhir-akhir ini aku jadi sangat manja pada Ayano.
“Lisa? Kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
“Sudah nggak apa ko, kayaknya udah hilang…” kataku.
Ayano memelukku sebentar sebelum berbisik “Ya udah, kamu pucet Lis, kita ke kost kamu dulu ya, istirahat dulu, biar nggak batal acara dinnernya”
Dinner yang dijanji-janjikan akan menjadi surprise itu sangat kunantikan…
Karena itu aku menurut perkataan Ayano.
Kami berdua naik ke mobil dan pulang.
Aku tidak menyangka apapun akan terjadi. Tapi tiba-tiba aku merasakan kembali rasa dingin di sekujur tubuhku.
Dan bisikan dari belakangku.
“Ayo menyebrang”
‘CIIIITTT!!’
Detik-detik selanjutnya terasa terjadi banyak hal sekaligus. Truck tronton yang melaju kencang di samping kami tiba-tiba berbelok dan memepet mobil kami.
Hal terakhir yang kuingat adalah benturan keras di sisi pintu Ayano, dan pelukan Ayano kepada diriku sebelum aku tersadar di kasur rumah sakit.
Butuh waktu sehari sebelum aku diizinkan bangun dari tempat tidur setelah dipastikan aku tidak terkena gegar otak atau sebagainya.
Tapi tidak dengan Ayano….
Dia masih tidak sadarkan diri, terbaring di rumah sakit dengan perban penuh darah membalut kepalanya.
(Bersambung di part selanjutnya - kesalahan terbesar yang kulakukan)
Maaf ya tidak terlalu panjang partnya.
bakulmenyan dan anissa.rn memberi reputasi
2
Kutip
Balas