- Beranda
- Supranatural
Diary Mata Indigo - Sebuah Cerita Indigo Interdimensional
...
TS
jeniussetyo09
Diary Mata Indigo - Sebuah Cerita Indigo Interdimensional
Salam Sejahtera Agan & Sista
Welcome to My Thread

Thread ini dibuat untuk berbagi pengalaman dan cerita yang bisa dibilang… well, mungkin tidak bisa dikatakan biasa. Karena cerita dan pengalaman ini adalah cerita dan pengalaman yang dihasilkan dari penglihatan seorang yang bisa melihat “mereka”. Mereka yang tak kasat mata, mereka yang berada di alam sebelah. Mereka yang sering disebut dengan hantu, makhluk halus atau arwah.
Diary ini bercerita tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakan dari seorang Indigo. Istilah indigo adalah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan indra keenam, dan dalam thread ini khusus hanya membahas tentang pengalaman Indigo Interdimensional, bukan indigo yang lain. Indigo Interdimensional adalah salah satu kemampuan Indigo dimana seseorang bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk halus atau penghuni alam sebelah.
Isi thread ini sepenuhnya OOT karena di sini tidak bicara tentang pengertian atau pemahaman tertentu, tapi bicara tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakan. Bagi orang yang mungkin punya pemahaman atau pengertian yang berbeda dipersilahkan. Tapi yang jelas hal-hal itu tidak akan direspon, karena orang-orang Indigo adalah orang-orang yang berpikiran merdeka, karena sejak awal mereka memang berbeda. Mereka tidak suka dikontrol dan tidak suka diminta mengikuti pola yang sudah ada atau umum. Only God can judge me, begitu prinsip orang Indigo umumnya.
Thread ini tidak melulu akan berisi cerita yang bernuansa dark atau horror, karena di alam sebelahpun cerita yang sedih, lucu, bahkan mirispun ada. Alam “mereka” tidak sepenuhnya seperti cerita-cerita di film-film atau sinetron. Banyak pelajaran juga bisa diambil, dan semuanya akan berujung pada kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
Penulis tidak mengharapkan komentar yang menimbulkan perpecahan apalagi yang berbau SARA, akan tetapi jika ternyata ada juga yang berkomentar demikian, maka semoga mendapatkan hidayah dan semoga orang tersebut semakin dimulikan dan dan ditinggikan derajatnya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Terlepas nanti ada syarat dan ketentuan berlakunya atau tidak.
Selebihnya ane cuma bisa mengucapkan, selamat menikmati. Enjoy….
PS :
Untuk memudahkan dan karena Diary ini terdiri dari beberapa part ane sediakan link nya. Dengan rendah hati ane juga tidak lupa menghimbau untuk membudayakan komeng bagi Agan & Sista. Cendol bila Agan & Sista ikhlas, rate jika berkenan, bata mohon ditiadakan
Part 1 : Mata Indigo - Pendahuluan
Part 2 : Mata Indigo - Penyebab
Part 3 : Mata Indigo - Percobaan dari Eyang
Part 4 : Mata Indigo - Kelahiranku
Part 5 : Mata Indigo - Dinamika Alam Sebelah Part 1
Part 6 : Mata Indigo - Dinamika Alam Sebelah Part 2
Part 7 : Mata Indigo - Pak Sam Part 1
Part 8 : Mata Indigo - Pak Sam Part 2
Part 9 : Mata Indigo - Pak Sam Part 3
Part 10 : Mata Indigo - Tirakat Part 1
Part 11 : Mata Indigo - Tirakat Part 2
Part 12 : Mata Indigo - Setelah Tirakat Part 1
Part 13 : Mata Indigo - Setelah Tirakat Part 2
Part 14 : Mata Indigo – Residual Energi Part 1
Part 15 : Mata Indigo - Residual Energi Part 2
Part 16 : Mata Indigo - Tempat Angker
Part 17 : Mata Indigo - Romansa Alam Sebelah
Part 18 : Mata Indigo - "Mereka" yang Suka Membonceng
Part 19 : Mata Indigo - Merapi dan Sebuah Pertanda
Part 20 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 1
Part 21 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 2
Part 21 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 3
Part 22 : Mata Indigo : Eyang Uyut Part 4
Part 23 : Mata Indigo - Epilog (Eyang Uyut Part 5) - TAMAT
LINK : Lanjut SEASON 2
Sebuah Tulisan dari Agan Kris : Fakta-Fakta Tentang Diary Mata Indigo
Berhubung cerita Season 1 nya dah Tamat, lanjut Season 2 nya di mari :SEASON 2 : DIARY MATA INDIGO

Mata Indigo – Pendahuluan
Seeing is believing, begitu quote yang mungkin Aku sendiri pun tidak tahu asalnya dari mana. Semua nya bersumber dari penglihatan. Mempercayai apa yang dilihat oleh mata. Tentu saja oleh mata kepala sendiri. Namun bagaimana jika yang mampu kulihat tidak seperti yang mampu orang lain lihat. Apakah hanya Aku yang harus percaya apa yang kulihat itu?
Indigo, sebutan itu pertama kali aku dapat dari sebuah buku berbahasa inggris yang kubaca. Sebenarnya itu buku milik paman ku, tapi sepertinya bisa menjawab apa yang terjadi pada diriku. Semenjak kecil aku bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang biasa. Aku bisa melihat “mereka”. Sebutan mereka dalam keseharian bermacam-macam. Ada yang menyebutnya hantu, jin, setan, arwah, siluman dan lain sebagainya. Pada awalnya ini kusadari waktu aku berumur kurang lebih lima atau enam tahun. Aku bisa mengingatnya dengan persis.
Pada waktu itu hari sudah mulai gelap dan Azan Maghrib sudah setengah jam yang lalu berkumandang. Aku bersama Ibuku berjalan melewati jalanan menuju kompleks rumahku. Kami habis pulang dari tempat kerabat. Sebelum masuk ke komplek perumahan tempat kami tinggal, kami harus melewati sebuah bangunan sekolah tua yang tidak lagi terpakai. Di sebelah sekolah itu, di belakang taman bermain ada rumpun bambu yang sangat tinggi dan lebat. Sudah lama aku dengar di daerah situ, terutama di rumpun bambu itu banyak “penghuninya”. Ibu berjalan hampir seperti menyeretku. Langkahnya semakin cepat saat melewati sekolah itu, namun mataku seperti diarahkan tertuju pada taman bermain yang ada di dekat rumpun bambu. Lama kuperhatikan satu persatu alat bermain di situ. Mulai dari ayunan, perosotan, palang bermain, bak pasir,dan lain-lain. Tiba-tiba aku melihat ayunan yang ada di situ bergerak sendiri, dan kemudian tampak perlahan-lahan pada ayunan yang bergoyang itu terbentuk siluet yang semakin lama semakin jelas. Sosoknya seperti wanita menimang bayi dengan posisi agak membelakangi . Aku masih bisa melihat lengkungan tangannya seperti menggendong sesuatu. Lirih aku mendengar sosok itu bersenandung. Melantunkan nada lagu Nina Bobo. Sesaat aku melihat lehernya hampir menoleh ke arahku, namun tiba-tiba lengan Ibu menyentak ku sambil menghardik “Kamu jalan cepat sedikit”. Aku pun menurut dan mencoba menyamai kecepatan langkah ibu.
Itu pengalaman pertamaku. Aku sampai sekarang tidak pernah lupa pengalam itu. Aku mencoba menceritakan pengalaman itu pada Ibu beberapa hari kemudian. Namun Ibu hanya menjawab “ itu tidak ada”, “Kamu salah lihat”, “Itu cuma bayangan mu” dan semacamnya. Aku berusaha menerima hal itu walaupun pikiranku malah mengatakan sebaliknya. Penglihatan mata ku tidak salah.
Indigo interdimensional, mungkin itu sebutan bagi jenis Indigo milik ku. Aku bisa melihat mereka, merasakan kehadiran mereka. Bahkan jika aku mau, aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Setelah pengalaman melihat sosok di bekas gedung sekolah itu, semakin sering aku melihat mereka. Aku bisa melihat di dapur rumahku ada sesosok wanita bergaun merah panjang dengan muka yang menyeramkan sering hilir mudik. Kadang sosok itu membuat suara-suara dan keributan di dapur, sampai-sampai Ayahku sering mengira Ibu ku ada di dapur padahal Ibu ku sedang tidak ada disitu.
Kondisi ini membuatku frustasi. Ayah dan Ibu seperti tidak menganggap apa yang selalu kuceritakan. Mereka malah menganggap Aku bocah penakut, bahkan menduga aku punya masalah kejiwaan. Kadang pun aku merasa mereka juga takut. Hidupku sendiri mulai tidak tenang. Saat tidur aku berusaha keras memejamkan mata, walaupun sebelumnya dari jendela aku melihat sosok tinggi besar, berbulu hitam dengan mata merah menyala dan bergigi taring menatapku dari bawah pohon mangga di dekat jendela kamarku. Hampir tiap malam yang kualami adalah suasana horor. Aku tidak berani sendiri. Bahkan untuk kencing atau ke kamar kecil sekalipun aku minta ditemani. Aku tidak berani melihat ke arah-arah tertentu. Karena Aku tahu di arah itu penampakan mereka akan kujumpai. Kadang ada yang muncul dengan kepala terjuntai dari atas lemari. Kepalanya panjang menjulur ke arahku. Kadang ada yang menindihku berupa sosok nenek-nenek saat aku tidur. Membuat napasku sesak setengah mati dan badanku kadang kejang-kejang. Persis sakit ayan. Ayah Ibu ku membawaku ke dokter. Tentu saja dokter tidak menemukan penyakit ayan di tubuhku.
Lama-kelamaan aku tidak hanya bisa melihat mereka, tetapi juga mendengar jelas suara mereka. Suara seperti geraman, desahan berat, cekikik tawa, dengusan napas, atau benda-benda yang mereka gerakkan bisa kudengar dengan jelas. Sampai pada titik itu aku merasa hidupku adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang panjang dan melelahkan. Aku mencoba lebih dekat dengan Tuhan. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh banyak. Mereka memang seperti sedikit memberi batas padaku. Tetapi mata ini tetap bisa melihat mereka. Suara mereka juga masih bisa terdengar. Bagi ku mimpi buruk itu tidak terhenti. Sampai pada satu titik aku merasa Tuhan seperti tidak ada. Bahkan dalam tidur, saat aku bermimpi aku pun bertanya “ Tuhan Engkau dimana?”
Welcome to My Thread

Thread ini dibuat untuk berbagi pengalaman dan cerita yang bisa dibilang… well, mungkin tidak bisa dikatakan biasa. Karena cerita dan pengalaman ini adalah cerita dan pengalaman yang dihasilkan dari penglihatan seorang yang bisa melihat “mereka”. Mereka yang tak kasat mata, mereka yang berada di alam sebelah. Mereka yang sering disebut dengan hantu, makhluk halus atau arwah.
Diary ini bercerita tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakan dari seorang Indigo. Istilah indigo adalah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan indra keenam, dan dalam thread ini khusus hanya membahas tentang pengalaman Indigo Interdimensional, bukan indigo yang lain. Indigo Interdimensional adalah salah satu kemampuan Indigo dimana seseorang bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk halus atau penghuni alam sebelah.
Isi thread ini sepenuhnya OOT karena di sini tidak bicara tentang pengertian atau pemahaman tertentu, tapi bicara tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakan. Bagi orang yang mungkin punya pemahaman atau pengertian yang berbeda dipersilahkan. Tapi yang jelas hal-hal itu tidak akan direspon, karena orang-orang Indigo adalah orang-orang yang berpikiran merdeka, karena sejak awal mereka memang berbeda. Mereka tidak suka dikontrol dan tidak suka diminta mengikuti pola yang sudah ada atau umum. Only God can judge me, begitu prinsip orang Indigo umumnya.
Thread ini tidak melulu akan berisi cerita yang bernuansa dark atau horror, karena di alam sebelahpun cerita yang sedih, lucu, bahkan mirispun ada. Alam “mereka” tidak sepenuhnya seperti cerita-cerita di film-film atau sinetron. Banyak pelajaran juga bisa diambil, dan semuanya akan berujung pada kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
Penulis tidak mengharapkan komentar yang menimbulkan perpecahan apalagi yang berbau SARA, akan tetapi jika ternyata ada juga yang berkomentar demikian, maka semoga mendapatkan hidayah dan semoga orang tersebut semakin dimulikan dan dan ditinggikan derajatnya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Terlepas nanti ada syarat dan ketentuan berlakunya atau tidak.
Selebihnya ane cuma bisa mengucapkan, selamat menikmati. Enjoy….
PS :
Untuk memudahkan dan karena Diary ini terdiri dari beberapa part ane sediakan link nya. Dengan rendah hati ane juga tidak lupa menghimbau untuk membudayakan komeng bagi Agan & Sista. Cendol bila Agan & Sista ikhlas, rate jika berkenan, bata mohon ditiadakan
Part 1 : Mata Indigo - Pendahuluan
Part 2 : Mata Indigo - Penyebab
Part 3 : Mata Indigo - Percobaan dari Eyang
Part 4 : Mata Indigo - Kelahiranku
Part 5 : Mata Indigo - Dinamika Alam Sebelah Part 1
Part 6 : Mata Indigo - Dinamika Alam Sebelah Part 2
Part 7 : Mata Indigo - Pak Sam Part 1
Part 8 : Mata Indigo - Pak Sam Part 2
Part 9 : Mata Indigo - Pak Sam Part 3
Part 10 : Mata Indigo - Tirakat Part 1
Part 11 : Mata Indigo - Tirakat Part 2
Part 12 : Mata Indigo - Setelah Tirakat Part 1
Part 13 : Mata Indigo - Setelah Tirakat Part 2
Part 14 : Mata Indigo – Residual Energi Part 1
Part 15 : Mata Indigo - Residual Energi Part 2
Part 16 : Mata Indigo - Tempat Angker
Part 17 : Mata Indigo - Romansa Alam Sebelah
Part 18 : Mata Indigo - "Mereka" yang Suka Membonceng
Part 19 : Mata Indigo - Merapi dan Sebuah Pertanda
Part 20 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 1
Part 21 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 2
Part 21 : Mata Indigo - Eyang Uyut Part 3
Part 22 : Mata Indigo : Eyang Uyut Part 4
Part 23 : Mata Indigo - Epilog (Eyang Uyut Part 5) - TAMAT
LINK : Lanjut SEASON 2
Sebuah Tulisan dari Agan Kris : Fakta-Fakta Tentang Diary Mata Indigo
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Berhubung cerita Season 1 nya dah Tamat, lanjut Season 2 nya di mari :SEASON 2 : DIARY MATA INDIGO
Quote:

Mata Indigo – Pendahuluan
Seeing is believing, begitu quote yang mungkin Aku sendiri pun tidak tahu asalnya dari mana. Semua nya bersumber dari penglihatan. Mempercayai apa yang dilihat oleh mata. Tentu saja oleh mata kepala sendiri. Namun bagaimana jika yang mampu kulihat tidak seperti yang mampu orang lain lihat. Apakah hanya Aku yang harus percaya apa yang kulihat itu?
Indigo, sebutan itu pertama kali aku dapat dari sebuah buku berbahasa inggris yang kubaca. Sebenarnya itu buku milik paman ku, tapi sepertinya bisa menjawab apa yang terjadi pada diriku. Semenjak kecil aku bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang biasa. Aku bisa melihat “mereka”. Sebutan mereka dalam keseharian bermacam-macam. Ada yang menyebutnya hantu, jin, setan, arwah, siluman dan lain sebagainya. Pada awalnya ini kusadari waktu aku berumur kurang lebih lima atau enam tahun. Aku bisa mengingatnya dengan persis.
Pada waktu itu hari sudah mulai gelap dan Azan Maghrib sudah setengah jam yang lalu berkumandang. Aku bersama Ibuku berjalan melewati jalanan menuju kompleks rumahku. Kami habis pulang dari tempat kerabat. Sebelum masuk ke komplek perumahan tempat kami tinggal, kami harus melewati sebuah bangunan sekolah tua yang tidak lagi terpakai. Di sebelah sekolah itu, di belakang taman bermain ada rumpun bambu yang sangat tinggi dan lebat. Sudah lama aku dengar di daerah situ, terutama di rumpun bambu itu banyak “penghuninya”. Ibu berjalan hampir seperti menyeretku. Langkahnya semakin cepat saat melewati sekolah itu, namun mataku seperti diarahkan tertuju pada taman bermain yang ada di dekat rumpun bambu. Lama kuperhatikan satu persatu alat bermain di situ. Mulai dari ayunan, perosotan, palang bermain, bak pasir,dan lain-lain. Tiba-tiba aku melihat ayunan yang ada di situ bergerak sendiri, dan kemudian tampak perlahan-lahan pada ayunan yang bergoyang itu terbentuk siluet yang semakin lama semakin jelas. Sosoknya seperti wanita menimang bayi dengan posisi agak membelakangi . Aku masih bisa melihat lengkungan tangannya seperti menggendong sesuatu. Lirih aku mendengar sosok itu bersenandung. Melantunkan nada lagu Nina Bobo. Sesaat aku melihat lehernya hampir menoleh ke arahku, namun tiba-tiba lengan Ibu menyentak ku sambil menghardik “Kamu jalan cepat sedikit”. Aku pun menurut dan mencoba menyamai kecepatan langkah ibu.
Itu pengalaman pertamaku. Aku sampai sekarang tidak pernah lupa pengalam itu. Aku mencoba menceritakan pengalaman itu pada Ibu beberapa hari kemudian. Namun Ibu hanya menjawab “ itu tidak ada”, “Kamu salah lihat”, “Itu cuma bayangan mu” dan semacamnya. Aku berusaha menerima hal itu walaupun pikiranku malah mengatakan sebaliknya. Penglihatan mata ku tidak salah.
Indigo interdimensional, mungkin itu sebutan bagi jenis Indigo milik ku. Aku bisa melihat mereka, merasakan kehadiran mereka. Bahkan jika aku mau, aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Setelah pengalaman melihat sosok di bekas gedung sekolah itu, semakin sering aku melihat mereka. Aku bisa melihat di dapur rumahku ada sesosok wanita bergaun merah panjang dengan muka yang menyeramkan sering hilir mudik. Kadang sosok itu membuat suara-suara dan keributan di dapur, sampai-sampai Ayahku sering mengira Ibu ku ada di dapur padahal Ibu ku sedang tidak ada disitu.
Kondisi ini membuatku frustasi. Ayah dan Ibu seperti tidak menganggap apa yang selalu kuceritakan. Mereka malah menganggap Aku bocah penakut, bahkan menduga aku punya masalah kejiwaan. Kadang pun aku merasa mereka juga takut. Hidupku sendiri mulai tidak tenang. Saat tidur aku berusaha keras memejamkan mata, walaupun sebelumnya dari jendela aku melihat sosok tinggi besar, berbulu hitam dengan mata merah menyala dan bergigi taring menatapku dari bawah pohon mangga di dekat jendela kamarku. Hampir tiap malam yang kualami adalah suasana horor. Aku tidak berani sendiri. Bahkan untuk kencing atau ke kamar kecil sekalipun aku minta ditemani. Aku tidak berani melihat ke arah-arah tertentu. Karena Aku tahu di arah itu penampakan mereka akan kujumpai. Kadang ada yang muncul dengan kepala terjuntai dari atas lemari. Kepalanya panjang menjulur ke arahku. Kadang ada yang menindihku berupa sosok nenek-nenek saat aku tidur. Membuat napasku sesak setengah mati dan badanku kadang kejang-kejang. Persis sakit ayan. Ayah Ibu ku membawaku ke dokter. Tentu saja dokter tidak menemukan penyakit ayan di tubuhku.
Lama-kelamaan aku tidak hanya bisa melihat mereka, tetapi juga mendengar jelas suara mereka. Suara seperti geraman, desahan berat, cekikik tawa, dengusan napas, atau benda-benda yang mereka gerakkan bisa kudengar dengan jelas. Sampai pada titik itu aku merasa hidupku adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang panjang dan melelahkan. Aku mencoba lebih dekat dengan Tuhan. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh banyak. Mereka memang seperti sedikit memberi batas padaku. Tetapi mata ini tetap bisa melihat mereka. Suara mereka juga masih bisa terdengar. Bagi ku mimpi buruk itu tidak terhenti. Sampai pada satu titik aku merasa Tuhan seperti tidak ada. Bahkan dalam tidur, saat aku bermimpi aku pun bertanya “ Tuhan Engkau dimana?”
Diubah oleh jeniussetyo09 13-06-2018 10:13
coki4games472 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
1.2M
1.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jeniussetyo09
#751
MATA INDIGO – EPILOG (EYANG UYUT PART 5)
Aku terbangun di kamar rumah sakit P*nti R*pi*. Cahaya matahari yang terang hangat perlahan membangkitkan syaraf-syaraf ku. Ibu yang ternyata setia berada di sampingku langsung menghambur ke arahku dan menangis bombay. Katanya Aku sudah tidak sadarkan selama sehari semalam. Berarti sekarang sudah hari kedua Aku di rumah sakit. Walaupun sudah tersadar kembali, tetapi tubuhku rasanya sangat lemah dan tak bertenaga. Bawaan ku hanya ingin tidur saja sepanjang waktu. Praktis selama 3 hari Aku lebih banyak menghabiskan waktu ku dengan tidur sepanjang hari. Dokter yang merawatku bilang aku terserang chronic fatique syndrome (CFS) alias kelelahan kronis.
Hari ke 4, Pak Sam datang menjenguk ku. Rupanya sudah sekitar 2-3 hari dia juga mengalami dan melakukan hal yang sama. Hanya beristirahat di rumah. Ternyata hal yang sudah kami lakukan benar-benar sangat menguras dan menghabiskan seluruh daya dan tenaga kami. Bahkan sampai pada tingkat yang sebenarnya sangat membahayakan bagi diri kami. Pak Sam coba sedikit memberikan transfer energi dengan menekan ruas ke 9 tulang belakangku. Membuat tubuhku berangsur-angsur terasa pulih dan membaik. Beliau lalu menyarankan agar setelah keluar dari rumah sakit, Aku datang ke rumah nya untuk menjalani terapi pemulihan energi.
Aku sempat bertanya pada Ibu bagaimana keadaan Eyang Uyut. Ibu mengatakan kondisi Eyang Uyut sudah tidak seperti sebelumnya. Sekarang Eyang Uyut sudah tampak normal seperti manusia pada umum nya. Pasca prosesi penarikan sukma itu Eyang Uyut akhirnya bisa tersadar dan bisa mengenali sekelilingnya. Selain itu Eyang Uyut saat ini juga sudah bisa diajak berkomunikasi, dan bahkan dengan jelas menceritakan apa yang dia alami dan rasakan saat pertama kali terperangkap di alam sana. Awalnya Eyang Uyut seperti merasa ajalnya sudah tiba, dan kemudian ada seperti sosok yang mengaku sebagai saudara jauh datang menjemputnya. Tetapi Eyang Uyut tidak mengenal sosok itu. Eyang Uyut lalu seperti dibawa menjauh dari raga nya, dan diantarkan ke sebuah hutan lebat yang indah, namun sama sekali asing. Orang itu mengatakan bahwa untuk sampai ke tempat yang sesungguhnya harus naik sampan. Eyang Uyut lalu menurut dan naik ke atas sampan. Ternyata sampai di tengah danau orang itu tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba keindahan hutan itu sirna berganti dengan kegelapan dan kesunyian yang senyap. Eyang Uyut mulai panik dan berteriak minta tolong, tapi yang ada malah tiba-tiba terdengar suara tawa keras mengerikan tanpa wujud. Setelah itu Eyang Uyut tidak bisa menghitung sudah berapa lama dia terapung-apung di atas sampan itu. Sampai akhirnya tiba-tiba sampan bergerak dan dia melihat ku dan Pak Sam berusaha keras menarik sampan itu ke tepian. Setelah itu Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dalam hati Aku cuma bisa bersyukur Eyang Uyut baik-baik saja.
Ibu lalu meneruskan cerita. Bahwa dugaan Eyang Uyut awalnya bisa mengalami nasib yang mengerikan seperti itu kemungkinan karena Eyang Roto terlalu memasrahkan Eyang Uyut pada pihak lain atau Pramurukti. Sebelum Eyang Uyut mengalami nasib seperti itu ada seorang Pramurukti yang merawat Eyang Uyut yang mengeluh merasa tugasnya dari hari ke hari semakin berat, sementara tidak ada satu pun pihak keluarga Eyang Roto yang membantu dan perduli. Setelah kurang lebih 2 Tahun merawat Eyang uyut, Pembantu (Pramurukti) itu menyampaikan keinginan nya untuk naik gaji, Tetapi hal itu ditolak oleh Eyang Roto, karena merasa tidak ada alasan yang tepat untuk menerima permintaan itu. Pada suatu hari, ternyata Eyang Uyut rewel dan meminta macam-macam. Pramurukti itu lalu mencoba menyampaikan hal itu ke istri Eyang Roto, namun istri Eyang Roto malah memarahi Pramurukti itu habis-habisan karena dianggap tidak becus berkerja. Sejak saat itu keesokan harinya Pramurukti itu menghilang dan tidak berapa lama kemudian Eyang Uyut keadaannya berubah menjadi seperti itu. Aku paham hal itu. Karena dendam semua nya menjadi lumrah dan masuk akal untuk dilakukan. Mungkin dukun berpakaian hitam-hitam itu disuruh oleh bekas Pramurukti Eyang itu untuk mengerjai Eyang. Mungkin juga Pramurukti dan Dukun itu masih bersaudara. Ahh... sudahlah, yang bisa kulakukan hanya menduga-duga
Genap hari ke 7 Aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Berhubung cuti Ayah juga sudah habis, Ibu dan Ayah pada hari itu juga langsung berangkat kembali ke J*kar*ta. Selesai mengantar Ayah dan Ibu ke bandara Aku langsung lanjut ke rumah Pak Sam sesuai saran beliau. Terapi pemulihan energi sebenarnya bukan tujuan utama ku mendatangi Pak Sam, tetapi lebih kepada untuk mengobati rasa penasaranku tentang apa yang terjadi dan dilakukan oleh Pak Sam ketika sukma ku terperangkap di alam sana.
Terapi pemulihan energy yang dilakukan oleh Pak Sam lebih pada proses transfer energi dan teknik penyembuhan prana. Pak Sam bilang tubuh bioplasmik ku (red – tubuh energi pembentuk sosok astral) babak belur. Mungkin karena dibanting berulang kali oleh sosok astral orang berbaju hitam itu. Sambil Pak Sam melakukan pengobatan dan penyembuhan prana itu Aku bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi saat aku terperangkap di sana. Ternyata proses untuk menarik sukma diriku malah lebih alot dari Eyang Uyut.
Pak Sam bercerita, usaha untuk menarik sukma ku kembali tersebut terus dihalang-halangi oleh sosok tubuh berpakaian hitam-hitam itu. Saat Pak Sam kembali masuk ke alam roh dan mencoba untuk menarik ku kembali, sosok itu ternyata kembali muncul. Pak Sam mengatakan bahwa jika harus memilih, dirinya mending disuruh untuk melawan makhluk gaib daripada meladeni sosok berpakaian hitam itu. Sebab baginya manusia malah justru lebih berbahaya daripada makhluk gaib. Pertempuran tidak dapat dielak kan. Pak Sam mengatakan posisi dirinya kurang menguntungkan. Selain energinya sudah terkuras habis-habisan hari itu, dia masih harus menyisakan tenaga nya untuk menarik ku kembali. Sementara itu ibaratnya dirinya bertanding di kandang lawan. Dia harus bertarung di alam roh buatan dukun berpakaian hitam itu. Waktu Pak Sam semakin sempit. Tenaganya juga hampir habis. Sementara itu lawan nya masih beringas menyerang. Pilihannya adalah kembali ke jasadnya atau tetap melawan dan kehabisan tenaga. Pada saat semakin genting, Sang Dukun berpakaian hitam malah berhasil mengunci lehernya dengan jurus pitingan dan hampir membuatnya kehabisan napas.
Sampai pada saat itu Pak Sam menghentikan ceritanya.
“Sakdurunge tak teruske Aku meh takok karo kowe Le, opo kowe kie nduwe ingon-ingon wong alus? Opo tau ono perjanjian karo danyang ngendi ngono? – Sebelum Saya teruskan, saya mau tanya sama kamu nak, apa kamu punya peliharaan makhluk gaib atau pernah ada perjanjian dengan penghuni alam sana gitu?”
Aku hanya menggeleng, “Mboten tau Pak, la kados pripun? – Tidak pernah Pak, memang kenapa?”.
Pak Sam menceritakan pada saat keadaannya terdesak dan dirinya sudah benar-benar kepayahan, ada beberapa sosok sinar bercahaya dan satu berwarna kebiruan yang tiba-tiba datang dan turut membantu melawan sosok berpakaian hitam itu. Sosok itu terdiri dari 3 perempuan, 1 anak kecil dan 1 pria dewasa. Mereka membuat Sang Dukun berpakaian hitam itu jadi kerepotan, dan pada saat itu Pak Sam berhasil melepaskan diri dari pitingan Sang Dukun. Tanpa membuang waktu Pak Sam lalu memberikan beberapa pukulan dan tendangan balasan. Setelah itu sosok-sosok bercahaya itu seolah membantu untuk membuat Dukun berpakaian hitam itu seperti terpaku dan tidak bisa bergerak pada sebatang pohon. Seolah mereka membantu untuk memegangi kaki dan tangan dukun itu. Pada saat dukun itu tidak bisa bergerak Pak Sam memanfaatkan momen itu untuk menarik ku kembali. Aku langsung mengerti siapa sosok-sosok yang Pak Sam maksud. Tapi apakah itu mungkin?
“Pak, nek wong wes mangkat madhep Gusti Pangeran opo yo iso bali meneh, mbantu turut campur urusane dhewe? – Pak kalau orang sudah meninggal dan menghadap Tuhan apa ya bisa kembali lagi dan membantu ikut campur urusan kita?”, Aku coba bertanya kepada Pak Sam.
“La nek Gusti Kanjeng Pangeran kerso njuk purun, opo yo ono seng ora iso? – La kalau Tuhan memang sudah berkehendak dan memperbolehkan apa yang tidak mungkin (bisa)”.
Jawaban Pak Sam jadi membuatku tersenyum. Sekali lagi Aku teringat pada Mbak Rohana, Pasangan legendaris B*bars*ri, dan Ibu – anak yang aku temui di jalan C*lomb*. Tidak salah lagi. Mereka yang telah membantu Pak Sam melawan Dukun berpakaian hitam-hitam itu sehingga Pak Sam mampu menarik sukma ku kembali. Gusti ora sare – Tuhan tidak tidur. Aku lalu menceritakan kepada Pak Sam bahwa Aku mengenal sosok-sosok yang membantu Pak Sam itu.
Rupanya karena kerusakan dan luka-luka secara spiritual yang Aku alami lumayan parah, terapi pemulihan yang harus kulakukan tidak cukup sekali. Pak Sam menyuruhku untuk datang beberapa kali lagi menjalani terapi pemulihan energi.
Hari itu hari ke 3 Aku menjalani terapi pemulihan energi. Pak Sam mengatakan bahwa ternyata Mata Ketiga ku mengalami kerusakan yang cukup berat. Mungkin karena Aku menggunakannya secara berlebihan dan terlalu memaksakan diri. Butuh waktu lama dan usaha lagi untuk bisa memulihkan nya. Tentu saja dengan menjalani lagi lelaku dan tirakat yang sebelumnya sudah pernah kujalani. Pak Sam menawarkan, bahwa apakah sebaiknya mata ketiga ku ditutup permanen. Pak Sam mengatakan ini lah saat yang tepat jika memang Aku ingin menutup mata ketiga ku. Pak Sam memastikan bahwa memang bila ingin dihancurkan dan ditutup maka bisa dipastikan Aku tidak bisa melihat “mereka” lagi.
Aku agak terkejut mendengarnya. Hampir tidak percaya. Ternyata Mata Ketiga ku rusak parah dan hampir tidak bisa digunakan. Pantas saja setelah sembuh kemarin rasanya seperti ada yang kurang. Aku baru ingat, kalau setelah itu Aku hampir tidak bisa menangkap penampakan “mereka”
“Lho piye?… kok malah meneng wae….. Iki meh diajur trus ditutup permanen wae opo kowe milih diobati Le? Nek diobati kowe kudu poso Mbedug tekan Pati Geni meneh lho iki – Bagaimana? Kok malah diam saja, ini mau dihancurkan atau ditutup permanen saja atau kamu memilih diobati? Kalau diobati kamu harus puasa mulai dari Mbedug sampai Pati Geni lagi lho ini…..”, Pak Sam mencoba mengingatkan ku. Aku yang sedari tadi terdiam lama jadi semakin bingung. Aku jadi tidak bisa memutuskan. Kalau indigo ku hilang, Aku bisa normal seperti orang-orang pada umumnya. Tapi jika dihilangkan Aku merasa seperti bukan diriku.
“La menurut Pak Sam bagaimana?”. Aku malah balik bertanya.
“We… La….. Ini keputusan mu Le. Kamu kan yang menjalani. Ingat Le……
Rejeki iku ora iso ditiru.
Sanajan padha lakumu,
sanajan padha dodolanmu,
sanajan padha kerjamu,
hasil sing ditampa bakal beda.
Isa beda ning akehe bandha,
isa uga ana ning rasa lan ayeme ati ya iku sing jenenge bahagia.
Kabeh iku saka trisnane Gusti kang maha kuwasa.
Sapa temen bakal tinemu, sapa wani bakal rekasa bakal gayuh mulya.
Dudu akehe nanging berkahe kang ndadekake cukup lan nyungkupi
Terjemahan :
Rejeki itu tidak bisa ditiru. Meski sama caranya, meski sama barang jualannya, meski sama model kerjamu, hasil yang diterima tetap bakal beda. Bisa beda pada jumlah, bisa juga beda dalam rasa dan ketenangan hati, itulah yang dinamakan bahagia.
Semua itu dari kecintaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Siapa yang serius akan mendapatkan, siapa yang berani bekerja keras akan mendapatkan kemuliaan. Bukan dari banyaknya, melainkan berkah yang bisa menjadikan semuanya tercukupi/terpenuhi
Aku terdiam mendengarnya. Rejeki itu bukan hanya soal materi, kemampuan Indigo ku ini juga rejeki dari Yang Maha Kuasa. Banyak orang ingin seperti ku, berusaha seperti ku tapi bahkan hasil yang mereka terima juga mungkin tidak akan pernah sama seperti ku. Kalau Aku bahagia dengan kemampuan yang aku dapatkan kenapa Aku harus menolaknya. Kalau ternyata kemampuanku ini mendatangkan berkah, bukan hanya buatku namun untuk orang bahkan makhluk lain, maka hidupku tidak perlu risau. Sesulit apa pun dan se susah apapun kondisi yang aku hadapi pasti nanti nya akan ada yang membantu (Tuhan pasti akan memberikan pertolongan).
“Piye Le? Meh ditutup opo di ben ke wae? – Bagaimana Nak, mau ditutup atau mau di biarkan saja”, Pak Sam bertanya kepada ku sekali lagi.
Aku memejamkan mata. Menarik napas panjang. Memantapkan hati dan pikiran. Tuhan. Ke dalam tangan mu, kuserahkan semuanya........
“Biarkan Saja Pak. Tidak usah ditutup”, Jawabku mantab
“Ah…. Tenane – Ah yang bener?”, tanya Pak Sam pada ku. Dirinya memastikan sekali lagi, setengah menggoda.
“Beneran Pak. Saya akan tetap menjadi Indigo dengan kemampuan Mata Ketiga saya”.
Aku memutuskan untuk tetap hidup dengan mata ketiga dan kemampuan Interdimensionalku, tidak perduli apakah Aku akan di cap orang aneh atau freak. Aku memutuskan untuk tetap hidup dengan kemampuan Indigo ku ini. Apapun yang terjadi
Pak Sam tersenyum melihatku.
“Yo wes …… nek ngono mengko tak ajari ilmu-lmu liyane……- Ya sudah, kalau begitu nanti Saya ajari ilmu-ilmu yang lain.
Aku tercekat, “ Ilmu apa Pak?”
Pak Sam memandangku serius, perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke telingaku. Mulutnya bersiap untuk membisikkan sesuatu. Aku jadi tegang dan jadi ikut serius. Bersiap mendengarkan apa yang akan diberitahu oleh Pak Sam. Aku sudah membayangkan ilmu-ilmu keren seperti yang ada di komik Naruto Shipuden
“R-A-H-A-S-I-A……”, bisik Pak Sam lirih.
Aku hanya melongo dibuatnya. Sementara Pak Sam tergelak-gelak tak karuan. Kurang ajar. Aku baru sadar kalau hanya dikerjai Pak Sam
“Gojekmu, gojek kere Pak – Candaan mu, candaan murahan Pak”. Pungkas ku kemudian sambil tersenyum dan menepuk pundak nya. Kemudian ikut tertawa gelak bersama Pak Sam.
Aku terbangun di kamar rumah sakit P*nti R*pi*. Cahaya matahari yang terang hangat perlahan membangkitkan syaraf-syaraf ku. Ibu yang ternyata setia berada di sampingku langsung menghambur ke arahku dan menangis bombay. Katanya Aku sudah tidak sadarkan selama sehari semalam. Berarti sekarang sudah hari kedua Aku di rumah sakit. Walaupun sudah tersadar kembali, tetapi tubuhku rasanya sangat lemah dan tak bertenaga. Bawaan ku hanya ingin tidur saja sepanjang waktu. Praktis selama 3 hari Aku lebih banyak menghabiskan waktu ku dengan tidur sepanjang hari. Dokter yang merawatku bilang aku terserang chronic fatique syndrome (CFS) alias kelelahan kronis.
Hari ke 4, Pak Sam datang menjenguk ku. Rupanya sudah sekitar 2-3 hari dia juga mengalami dan melakukan hal yang sama. Hanya beristirahat di rumah. Ternyata hal yang sudah kami lakukan benar-benar sangat menguras dan menghabiskan seluruh daya dan tenaga kami. Bahkan sampai pada tingkat yang sebenarnya sangat membahayakan bagi diri kami. Pak Sam coba sedikit memberikan transfer energi dengan menekan ruas ke 9 tulang belakangku. Membuat tubuhku berangsur-angsur terasa pulih dan membaik. Beliau lalu menyarankan agar setelah keluar dari rumah sakit, Aku datang ke rumah nya untuk menjalani terapi pemulihan energi.
Aku sempat bertanya pada Ibu bagaimana keadaan Eyang Uyut. Ibu mengatakan kondisi Eyang Uyut sudah tidak seperti sebelumnya. Sekarang Eyang Uyut sudah tampak normal seperti manusia pada umum nya. Pasca prosesi penarikan sukma itu Eyang Uyut akhirnya bisa tersadar dan bisa mengenali sekelilingnya. Selain itu Eyang Uyut saat ini juga sudah bisa diajak berkomunikasi, dan bahkan dengan jelas menceritakan apa yang dia alami dan rasakan saat pertama kali terperangkap di alam sana. Awalnya Eyang Uyut seperti merasa ajalnya sudah tiba, dan kemudian ada seperti sosok yang mengaku sebagai saudara jauh datang menjemputnya. Tetapi Eyang Uyut tidak mengenal sosok itu. Eyang Uyut lalu seperti dibawa menjauh dari raga nya, dan diantarkan ke sebuah hutan lebat yang indah, namun sama sekali asing. Orang itu mengatakan bahwa untuk sampai ke tempat yang sesungguhnya harus naik sampan. Eyang Uyut lalu menurut dan naik ke atas sampan. Ternyata sampai di tengah danau orang itu tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba keindahan hutan itu sirna berganti dengan kegelapan dan kesunyian yang senyap. Eyang Uyut mulai panik dan berteriak minta tolong, tapi yang ada malah tiba-tiba terdengar suara tawa keras mengerikan tanpa wujud. Setelah itu Eyang Uyut tidak bisa menghitung sudah berapa lama dia terapung-apung di atas sampan itu. Sampai akhirnya tiba-tiba sampan bergerak dan dia melihat ku dan Pak Sam berusaha keras menarik sampan itu ke tepian. Setelah itu Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dalam hati Aku cuma bisa bersyukur Eyang Uyut baik-baik saja.
Ibu lalu meneruskan cerita. Bahwa dugaan Eyang Uyut awalnya bisa mengalami nasib yang mengerikan seperti itu kemungkinan karena Eyang Roto terlalu memasrahkan Eyang Uyut pada pihak lain atau Pramurukti. Sebelum Eyang Uyut mengalami nasib seperti itu ada seorang Pramurukti yang merawat Eyang Uyut yang mengeluh merasa tugasnya dari hari ke hari semakin berat, sementara tidak ada satu pun pihak keluarga Eyang Roto yang membantu dan perduli. Setelah kurang lebih 2 Tahun merawat Eyang uyut, Pembantu (Pramurukti) itu menyampaikan keinginan nya untuk naik gaji, Tetapi hal itu ditolak oleh Eyang Roto, karena merasa tidak ada alasan yang tepat untuk menerima permintaan itu. Pada suatu hari, ternyata Eyang Uyut rewel dan meminta macam-macam. Pramurukti itu lalu mencoba menyampaikan hal itu ke istri Eyang Roto, namun istri Eyang Roto malah memarahi Pramurukti itu habis-habisan karena dianggap tidak becus berkerja. Sejak saat itu keesokan harinya Pramurukti itu menghilang dan tidak berapa lama kemudian Eyang Uyut keadaannya berubah menjadi seperti itu. Aku paham hal itu. Karena dendam semua nya menjadi lumrah dan masuk akal untuk dilakukan. Mungkin dukun berpakaian hitam-hitam itu disuruh oleh bekas Pramurukti Eyang itu untuk mengerjai Eyang. Mungkin juga Pramurukti dan Dukun itu masih bersaudara. Ahh... sudahlah, yang bisa kulakukan hanya menduga-duga
Genap hari ke 7 Aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Berhubung cuti Ayah juga sudah habis, Ibu dan Ayah pada hari itu juga langsung berangkat kembali ke J*kar*ta. Selesai mengantar Ayah dan Ibu ke bandara Aku langsung lanjut ke rumah Pak Sam sesuai saran beliau. Terapi pemulihan energi sebenarnya bukan tujuan utama ku mendatangi Pak Sam, tetapi lebih kepada untuk mengobati rasa penasaranku tentang apa yang terjadi dan dilakukan oleh Pak Sam ketika sukma ku terperangkap di alam sana.
Terapi pemulihan energy yang dilakukan oleh Pak Sam lebih pada proses transfer energi dan teknik penyembuhan prana. Pak Sam bilang tubuh bioplasmik ku (red – tubuh energi pembentuk sosok astral) babak belur. Mungkin karena dibanting berulang kali oleh sosok astral orang berbaju hitam itu. Sambil Pak Sam melakukan pengobatan dan penyembuhan prana itu Aku bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi saat aku terperangkap di sana. Ternyata proses untuk menarik sukma diriku malah lebih alot dari Eyang Uyut.
Pak Sam bercerita, usaha untuk menarik sukma ku kembali tersebut terus dihalang-halangi oleh sosok tubuh berpakaian hitam-hitam itu. Saat Pak Sam kembali masuk ke alam roh dan mencoba untuk menarik ku kembali, sosok itu ternyata kembali muncul. Pak Sam mengatakan bahwa jika harus memilih, dirinya mending disuruh untuk melawan makhluk gaib daripada meladeni sosok berpakaian hitam itu. Sebab baginya manusia malah justru lebih berbahaya daripada makhluk gaib. Pertempuran tidak dapat dielak kan. Pak Sam mengatakan posisi dirinya kurang menguntungkan. Selain energinya sudah terkuras habis-habisan hari itu, dia masih harus menyisakan tenaga nya untuk menarik ku kembali. Sementara itu ibaratnya dirinya bertanding di kandang lawan. Dia harus bertarung di alam roh buatan dukun berpakaian hitam itu. Waktu Pak Sam semakin sempit. Tenaganya juga hampir habis. Sementara itu lawan nya masih beringas menyerang. Pilihannya adalah kembali ke jasadnya atau tetap melawan dan kehabisan tenaga. Pada saat semakin genting, Sang Dukun berpakaian hitam malah berhasil mengunci lehernya dengan jurus pitingan dan hampir membuatnya kehabisan napas.
Sampai pada saat itu Pak Sam menghentikan ceritanya.
“Sakdurunge tak teruske Aku meh takok karo kowe Le, opo kowe kie nduwe ingon-ingon wong alus? Opo tau ono perjanjian karo danyang ngendi ngono? – Sebelum Saya teruskan, saya mau tanya sama kamu nak, apa kamu punya peliharaan makhluk gaib atau pernah ada perjanjian dengan penghuni alam sana gitu?”
Aku hanya menggeleng, “Mboten tau Pak, la kados pripun? – Tidak pernah Pak, memang kenapa?”.
Pak Sam menceritakan pada saat keadaannya terdesak dan dirinya sudah benar-benar kepayahan, ada beberapa sosok sinar bercahaya dan satu berwarna kebiruan yang tiba-tiba datang dan turut membantu melawan sosok berpakaian hitam itu. Sosok itu terdiri dari 3 perempuan, 1 anak kecil dan 1 pria dewasa. Mereka membuat Sang Dukun berpakaian hitam itu jadi kerepotan, dan pada saat itu Pak Sam berhasil melepaskan diri dari pitingan Sang Dukun. Tanpa membuang waktu Pak Sam lalu memberikan beberapa pukulan dan tendangan balasan. Setelah itu sosok-sosok bercahaya itu seolah membantu untuk membuat Dukun berpakaian hitam itu seperti terpaku dan tidak bisa bergerak pada sebatang pohon. Seolah mereka membantu untuk memegangi kaki dan tangan dukun itu. Pada saat dukun itu tidak bisa bergerak Pak Sam memanfaatkan momen itu untuk menarik ku kembali. Aku langsung mengerti siapa sosok-sosok yang Pak Sam maksud. Tapi apakah itu mungkin?
“Pak, nek wong wes mangkat madhep Gusti Pangeran opo yo iso bali meneh, mbantu turut campur urusane dhewe? – Pak kalau orang sudah meninggal dan menghadap Tuhan apa ya bisa kembali lagi dan membantu ikut campur urusan kita?”, Aku coba bertanya kepada Pak Sam.
“La nek Gusti Kanjeng Pangeran kerso njuk purun, opo yo ono seng ora iso? – La kalau Tuhan memang sudah berkehendak dan memperbolehkan apa yang tidak mungkin (bisa)”.
Jawaban Pak Sam jadi membuatku tersenyum. Sekali lagi Aku teringat pada Mbak Rohana, Pasangan legendaris B*bars*ri, dan Ibu – anak yang aku temui di jalan C*lomb*. Tidak salah lagi. Mereka yang telah membantu Pak Sam melawan Dukun berpakaian hitam-hitam itu sehingga Pak Sam mampu menarik sukma ku kembali. Gusti ora sare – Tuhan tidak tidur. Aku lalu menceritakan kepada Pak Sam bahwa Aku mengenal sosok-sosok yang membantu Pak Sam itu.
Rupanya karena kerusakan dan luka-luka secara spiritual yang Aku alami lumayan parah, terapi pemulihan yang harus kulakukan tidak cukup sekali. Pak Sam menyuruhku untuk datang beberapa kali lagi menjalani terapi pemulihan energi.
Hari itu hari ke 3 Aku menjalani terapi pemulihan energi. Pak Sam mengatakan bahwa ternyata Mata Ketiga ku mengalami kerusakan yang cukup berat. Mungkin karena Aku menggunakannya secara berlebihan dan terlalu memaksakan diri. Butuh waktu lama dan usaha lagi untuk bisa memulihkan nya. Tentu saja dengan menjalani lagi lelaku dan tirakat yang sebelumnya sudah pernah kujalani. Pak Sam menawarkan, bahwa apakah sebaiknya mata ketiga ku ditutup permanen. Pak Sam mengatakan ini lah saat yang tepat jika memang Aku ingin menutup mata ketiga ku. Pak Sam memastikan bahwa memang bila ingin dihancurkan dan ditutup maka bisa dipastikan Aku tidak bisa melihat “mereka” lagi.
Aku agak terkejut mendengarnya. Hampir tidak percaya. Ternyata Mata Ketiga ku rusak parah dan hampir tidak bisa digunakan. Pantas saja setelah sembuh kemarin rasanya seperti ada yang kurang. Aku baru ingat, kalau setelah itu Aku hampir tidak bisa menangkap penampakan “mereka”
“Lho piye?… kok malah meneng wae….. Iki meh diajur trus ditutup permanen wae opo kowe milih diobati Le? Nek diobati kowe kudu poso Mbedug tekan Pati Geni meneh lho iki – Bagaimana? Kok malah diam saja, ini mau dihancurkan atau ditutup permanen saja atau kamu memilih diobati? Kalau diobati kamu harus puasa mulai dari Mbedug sampai Pati Geni lagi lho ini…..”, Pak Sam mencoba mengingatkan ku. Aku yang sedari tadi terdiam lama jadi semakin bingung. Aku jadi tidak bisa memutuskan. Kalau indigo ku hilang, Aku bisa normal seperti orang-orang pada umumnya. Tapi jika dihilangkan Aku merasa seperti bukan diriku.
“La menurut Pak Sam bagaimana?”. Aku malah balik bertanya.
“We… La….. Ini keputusan mu Le. Kamu kan yang menjalani. Ingat Le……
Rejeki iku ora iso ditiru.
Sanajan padha lakumu,
sanajan padha dodolanmu,
sanajan padha kerjamu,
hasil sing ditampa bakal beda.
Isa beda ning akehe bandha,
isa uga ana ning rasa lan ayeme ati ya iku sing jenenge bahagia.
Kabeh iku saka trisnane Gusti kang maha kuwasa.
Sapa temen bakal tinemu, sapa wani bakal rekasa bakal gayuh mulya.
Dudu akehe nanging berkahe kang ndadekake cukup lan nyungkupi
Terjemahan :
Rejeki itu tidak bisa ditiru. Meski sama caranya, meski sama barang jualannya, meski sama model kerjamu, hasil yang diterima tetap bakal beda. Bisa beda pada jumlah, bisa juga beda dalam rasa dan ketenangan hati, itulah yang dinamakan bahagia.
Semua itu dari kecintaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Siapa yang serius akan mendapatkan, siapa yang berani bekerja keras akan mendapatkan kemuliaan. Bukan dari banyaknya, melainkan berkah yang bisa menjadikan semuanya tercukupi/terpenuhi
Aku terdiam mendengarnya. Rejeki itu bukan hanya soal materi, kemampuan Indigo ku ini juga rejeki dari Yang Maha Kuasa. Banyak orang ingin seperti ku, berusaha seperti ku tapi bahkan hasil yang mereka terima juga mungkin tidak akan pernah sama seperti ku. Kalau Aku bahagia dengan kemampuan yang aku dapatkan kenapa Aku harus menolaknya. Kalau ternyata kemampuanku ini mendatangkan berkah, bukan hanya buatku namun untuk orang bahkan makhluk lain, maka hidupku tidak perlu risau. Sesulit apa pun dan se susah apapun kondisi yang aku hadapi pasti nanti nya akan ada yang membantu (Tuhan pasti akan memberikan pertolongan).
“Piye Le? Meh ditutup opo di ben ke wae? – Bagaimana Nak, mau ditutup atau mau di biarkan saja”, Pak Sam bertanya kepada ku sekali lagi.
Aku memejamkan mata. Menarik napas panjang. Memantapkan hati dan pikiran. Tuhan. Ke dalam tangan mu, kuserahkan semuanya........
“Biarkan Saja Pak. Tidak usah ditutup”, Jawabku mantab
“Ah…. Tenane – Ah yang bener?”, tanya Pak Sam pada ku. Dirinya memastikan sekali lagi, setengah menggoda.
“Beneran Pak. Saya akan tetap menjadi Indigo dengan kemampuan Mata Ketiga saya”.
Aku memutuskan untuk tetap hidup dengan mata ketiga dan kemampuan Interdimensionalku, tidak perduli apakah Aku akan di cap orang aneh atau freak. Aku memutuskan untuk tetap hidup dengan kemampuan Indigo ku ini. Apapun yang terjadi
Pak Sam tersenyum melihatku.
“Yo wes …… nek ngono mengko tak ajari ilmu-lmu liyane……- Ya sudah, kalau begitu nanti Saya ajari ilmu-ilmu yang lain.
Aku tercekat, “ Ilmu apa Pak?”
Pak Sam memandangku serius, perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke telingaku. Mulutnya bersiap untuk membisikkan sesuatu. Aku jadi tegang dan jadi ikut serius. Bersiap mendengarkan apa yang akan diberitahu oleh Pak Sam. Aku sudah membayangkan ilmu-ilmu keren seperti yang ada di komik Naruto Shipuden
“R-A-H-A-S-I-A……”, bisik Pak Sam lirih.
Aku hanya melongo dibuatnya. Sementara Pak Sam tergelak-gelak tak karuan. Kurang ajar. Aku baru sadar kalau hanya dikerjai Pak Sam
“Gojekmu, gojek kere Pak – Candaan mu, candaan murahan Pak”. Pungkas ku kemudian sambil tersenyum dan menepuk pundak nya. Kemudian ikut tertawa gelak bersama Pak Sam.
TAMAT
END OF SEASON 1
DIARY MATA INDIGO
END OF SEASON 1
DIARY MATA INDIGO
Diubah oleh jeniussetyo09 31-10-2016 23:19
mmuji1575 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup




