Saya yang menyadari jatuhnya besel S langsung mengambilnya dan berniat untuk menyerahkan langsung kepada pemiliknya.
S sadar beselnya jatuh, dengan agak terburu-buru S langsung menyambar pemberian guru spiritual itu dari tangan ku.
S : "Ojo sembarangan nyekel iki."(Jangan pernah menyentuh barang ini dengan sembarangan)
Saya hanya menganggukan kepala, kami berjalan menuju ruang depan. Ku lirik S sedang mengembalikan beselnya kedalam dompet usang yang berwarna hitam.
Beberapa kali saya mendengar suara petir, entah menyambar apa petir tersebut yang jelas tak ada kilatan melewati pandangan ku. S yang sedari tadi terduduk diruang tamu sambil menghisap rokoknya hanya mengamati jendela melihat langit.
Lama kami terdiam sambil mendengarkan keramaian orang-orang yang sedang 'jagong' dari dalam rumah, S beranjak dari sofa.
S : "Ayo, melu aku." (Ayo ikut saya)
Saya menganggukkan kepala menjawab ajakan S, saya tinggal teman-teman saya yang sedang sibuk bercanda ria di ruang tengah. Kami melangkahkan kaki keluar rumah di pintu depan yang kemudian mengitari rumah melewati jalan belakang.
Perumah di desa saya sampai saya menuliskan ini masih renggang antara rumah yang satu dengan yang lainnya, sehingga banyak jalan kecil atau jalan sempit untuk dilalui pejalan kaki maupun sepeda motor.
Melewati jalan belakang, kami menuruni jalanan becek dari tanah merah menuju jalan aspal, tujuan kami adalah sungai besar, S penasaran apa yang dilakukan Pak N beserta papah saya dan Om Rud di sana.
Selama di jalan kami tidak bicara apapun. S lebih seperti orang yang marah dengan mata terbelalak, melihat pohon besar di kanan kiri jalan, terkadang melangkah perlahan kemudian berjalan cepat lagi. Sekali lagi, karena saya tidak melihat apa-apa jadi saya berjalan dengan biasa saja.
Sekitar 10 menit kami berjalan dan telah terlihat sungai besar. Suara keramaian dari acara resepsi tidak terdengar lagi, hanya suara serangga malam serta aliran sungai yang deras mengisi kesunyian.
S menahan langkah ketika kami hampir sampai pinggir sungai.
S : "Aku ndelok buntut e, kae pak mu karo kancane lagi ngopo neng cedak buntut e? (Aku lihat ekornya, itu papah mu dan temannya lagi ngapain di dekat ekor ular?)
Saya : "Ha?"
Hanya itu kata yang keluar dari saya, saking bingungnya dengan yang di katakan S.
S melangkahkan kakinya lagi mendekati sungai melalui anak sungai yang lebarnya hanya 1 meter. Hawa dingin malam hari di desa ini benar-benar membekukan tubuh ku, sialnya saya tidak memakai jaket, hanya menggunakan kemeja pendek dan celana halus hitam layaknya orang mau datang ke acara resmi.
Sambil setengah menggigil saya mengikuti jalannya S, saking fokusnya melangkah saya tidak menyadari ada yang melempari kami dengan kerikil kecil.
S : "Melayuuu, . . .!!!" (Lariiii!!)
Tanpa banyak bertanya saya mengikuti S, berlari menuju jalan utama.
Sesampainya di samping jembatan, sambil ngos-ngosan saya bertanya kepada S.
Saya : "Ngopo cook, hah, hah, . . ." (Kenapa broo, hosh-hosh?)
S : "Di balangi genderuwo mau awak e dewe. lempooh sikil ku, . .." (Tadi kita dilempari kerikil sama genderuwo. Pegel kaki ku.)
Saya : "Hasu, podo cok, lha ora mbok usir wae?" (Sama aku juga pegel, by the way gak kamu usir aja itu setan?)
S : "Suk kapan-kapan tak sinau jurus pengusiran demit, nek ngejak omongan aku iso, tapi bongso ngusir-ngusir urung iso." (Entar kapan-kapan saya belajar ilmu pengusiran setan, aku kan baru bisa sebatas melihat dan mengajak ngobrol.)
Kali ini saya yang merasa kalau saya dilempari batu.
Saya : "Genderuwo ne melu rene ?" (Genderuwonya ngikutin kita kesini?)
S : "Cangkemu, kui Pak mu kae lho seng mbalangi." (Mulutmu itu, Bapak mu yang ngelempari kali ini)
Sambil menoleh kebelakang ternyata bapak saya yang melempari batu.
Bapak : "Pulang, jangan ke sini!" Kata beliau sambil membentak.
Saya : "Gah, aku meh njaluk udud lagi gelem balek
." (Ogah, saya mau minta rokok baru mau pulang)
Bapak saya melemparkan batu lagi, kemudian Om Rud mendatangi kami bersama Pak N yang di ikuti bapak saya.
Mereka mengajak saya dan S pulang ke rumah.
Pak N : "Wes rampung Le." (Udah kelar kok nak)
[
B]S : "Lha niku pak?"[/B] (Lha itu pak?)
Pak N cuman tersenyum. Saya menatap jembatan yang di lihat oleh S, terdengar suara besi hampir roboh, kayu yang menjadi jalan dasar dijembatan tersebut sedikit demi sedikit mulai bergeser menyamping. Seketika itu pula jembatan roboh dengan pecahnya tengah-tengah jembatan tersebut seperti ada yang menghantam dari tengah.
S : "Tekke, . . .
" (WTF)
Saya : "Karaten jembatan e, ambruk maneh." (Jembatannya karatan itu, makanya ambruk lagi)
S memandang saya seperti ingin memberi tahu tapi tertahan. Suara runtuhnya jembatan tersebut memasuki sungai membuat gesekan antar besi, kayu, dan batu beradu. Sungguh risih di telinga.
Kemudian kami semua pulang menuju desa lagi melewati jalan aspal bukan jalan tanah merah seperti saya dan S sebelumnya lewati. Bapak saya bersama Om Rud dan Pak N menuju rumah Pak N, sedangkan saya dan S duduk di luar rumah, menghadap sumur tua yang sudah tidak terpakai lama.
Malam ini masih panjang, . . .