Kaskus

Story

abetteroneAvatar border
TS
abetterone
Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu
Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu


"Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu"

karena terkadang memang kita ga butuh yang namanya alasan buat suka ataupun cinta sama seseorang, karena jika kita menyukai atau mencintai seseorang karena sebuah alasan, maka jika hal yang menjadikannya alasan itu hilang, apa kita masih akan tetap menyukainya?

I
Dear Kaskuser,
Cerita ini menceritakan tentang gue, hidup gue, dan hal-hal yang membuat gueseperti sekarang ini. dan gue mencoba buat nuangin itu semua didalam sebuah cerita yang emang awalnya cuman gue tulis di word. Tapi akhirnya gue coba berbagi cerita gue di SFTH ini. Gue berharap cerita gue bisa diambil hal positifnya dan bisa dijadiin pelajaran hidup walaupun emang sebenernya cerita ini ga ada pelajarannya sama sekali emoticon-Ngakak (S).



#RULES

Quote:


#FAQ

Spoiler for F.A.Q:

#INDEX

Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh abetterone 27-05-2018 11:47
bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
2
89.5K
488
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
abetteroneAvatar border
TS
abetterone
#383
Teh Hangat
‘gimana kalau dia makin deket sama Icha?’ ‘Gimana kalau dia malah jadi suka sama Icha?’ ‘gimana kalau..’ ‘gimana kalau..’ banyak banget deh gimana gimana nya,. Emang wajar sih aku khawatir. Apalagi hubungan kita bertiga itu rumit banget.
*
*
Pulang sekolah, bahkan setelah SMS itu keliatannya Kevin sama sekali gak khawatirin aku, gak ngerasa bersalah gitu sama aku. Disini yg pemeran cewek utamanya tuh aku atau Icha sih?! Kok peran aku direbut sama si Icha, padahal kan..—Oke cukup Ra ,sekarang balik lagi gue yang cerita oke?

POV Kevin

“Cha Makan malem udah siap” teriak gue dari luar pintu kamar Icha

“Iya iya bentar, nanti nyusul” balas Icha dari dalam kamarnya.

Ya, setelah kejadian sore tadi, gue dihukum sama nyokap, gue jadi baikin emak gue, bukan tanpa sebab, gue takut kaga dikasih duit jajan buat besok. Gue bahkan bantuin nyokap buat nyiapin makam malem. Hohoho

“Icha mana?” tanya nyokap gue yang masih nata piring di meja

“Udah dipanggil, katanya bentar” jawab gue

“Oh yaudah , itu tolong dong kamu bawa sayur yg diatas kompor kesini, matiin kompornya juga, hati-hati pegangnya panas” perintah nyokap gue

“Iya iya kalem weh” celoteh gue

“Ih budak dasar”

Singkat cerita gue udah makan, dan Icha sama sekali belum keluar dari kamarinya.
Akhirnya gue sama nyokap gue khawatir dan nyokap gue nyuruh gue buat manggil Icha.

“Cha” panggil gue dari luar kamarnya

Gak ada jawaban, masa iya tidur?

“Cha” panggil gue lagi

Akhirnya gue coba buka pintunya, berharap gak dikunci. Dengan perasaan ragu gue coba buka pintu kamarnya. Karena emang pintu kamar nyokap gue rusak, jadi gue bisa langsung masuk tanpa harus buka kunci dulu soalnya gak bisa dikunci kamarnya.

“Cha, gue masuk ya” ucap gue diikuti dengan tangan gue yang membuka pintu

Kamarnya gelap, AC nya gak dimatiin padahal udara diluar lagi dingin banget. Gue liat dipojokan kamar ada Icha, gak mungkin hantu soalnya hantu lokal gak mungkin rambutnya pirang.

Gue bisa liat Icha dengan penerangan seadanya dari cahaya lampu luar. Gue liat dia lagi duduk memeluk lututnya sendiri, kepalanya bertunduk lesu dia sembunyikan diantara kedua lututnya. Gue langsung deketin Icha.

“Cha, dingin banget loh ini, kok ga dimatiin AC nya” ucap gue

“Eh Kevin” ucapnya dan kemudian melihat gue

“Kamu habis nangis ya?” tanya gue

“Engga“ jawabnya singkat

“Jangan bohong deh, itu ingus di lap dulu” ucap gue yang sebenernya pengen bercanda

“Ih apaan sih kamu” jawabnya tak acuh namun diem-diem mengelap idungnya yang bahkan sama sekali gak ada ingus

“Jadi, sekarang kenapa lagi?” tanya gue to the point

“Kenapa lagi apanya?” tanyanya balik

“Ya kenapa kamu kaya gini? Bukannya tadi siang kita udah seneng-seneng?” tanya gue

“Oh..” Icha mulai melamun seperti melihat jauh ke sesuatu, entah apa yang ia lihat dalam lamunannya itu.

“Sekarang aku cuman makin gak rela aja kalau kamu sama Vira, aku cuman pengen aku aja yang ngerasa bahagia sama kamu” lanjutnya dan kini mulai melihat keluar jendela.

“Egois bukan?” tambahnya lagi

“Cha, cinta itu emang soal keegoisan, kesedihan, dan sakit. Gak ada cinta tanpa luka” ucap gue

“Tanpa luka? Bukannya kamu sama Vira bahagia?” tanya Icha

“Bahagia? Ya, aku emang bahagia, bisa disukain sama orang yang aku suka, tapi apa Vira ngerasa bahagia kalau tau aku tinggal sama orang yang suka sama aku, terus jalan-jalan bareng sama aku” ucap gue

“Aku emang gak pantes ngomong gini, karena aku disini bukan diposisi orang yang bakal terluka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, aku bahkan disukain sama kalian berdua” ucap gue

“Entah kamu yang jahat atau aku yang terlalu bodoh untuk tetap berada didekat kamu, padahal aku tau kamu itu suka sama Vira dan kalian saling suka.” Ucap Icha yang kini mulai terisak

“Cha, aku tunggu diatas” ucap gue dan langsung ninggalin Icha sebelum ada adegan nangis-nangisan

Gue nyeduh teh hangat, dan langsung pergi ke atas. Ya, gue lebih tenang ngobrolin sesuatu diatas sini, daripada harus didalem kamar yang bahkan dingin banget. Seenggaknya angin malam gak sedingin kamar tadi.

Icha pun dateng ke atas, kali ini dia pakai jaketnya karena mungkin tau diluar bakal dingin, walaupun tadi kamar itu dingin banget.

“Nih” ucap gue sambil menyodorkan teh hangat yang udah gue buat dua gelas tadi

“Hmm.makasih” ucapnya dan langsung menyambut gelas yang gue sodorin tadi.

“Minum dulu, biar tenang, baru kita ngobrol lagi” ucap gue sambil menyeruput teh hangat itu
Setelah cukup lama berdiam, sambil memegang gelas hangat itu, baru dia menyeruput teh nya itu, “mungkin tadi panas” pikir gue.

“Hangat” ucap Icha

“Ya.. emang kalau lagi dingin gini enak banget minum yang hangat” ucap gue

“Kaya kamu” ucapnya lagi

“Hah?” jawab gue bingung

“Hangat, kaya kamu.. ketika aku bingung, kamu selalu ada buat aku, setiap aku ketakutan, kamu buat aku berani, setiap aku kedinginan dengan dinginnya sikap orang-orang ke aku, kamu selalu ada dan selalu bikin aku hangat, nyaman.” Ucapnya, lalu Icha menaruh gelas itu diatas meja.

“Itu karena kamu selalu ada didekatku, dan aku selalu didekat kamu, dan itu merupakan hal wajar kan, apalagi kita selalu bareng pas kecil” ucap gue

“Dan karena itu aku suka sama kamu Vin, bukannya aku gak punya harga diri sebagai cewek nyatain perasaannya secara terang-terangan ke cowok. Tapi, aku selalu senang ketika aku bilang aku suka sama kamu. Bahkan jika aku boleh, aku bakal ngomong terus-terusan ke kamu kalau aku suka sama kamu sampai kamu melihat aku Vin” katanya sambil melihat langit yang bahkan gak ada bintangnya sama sekali

“Vin, apa dunia paralel itu bener-bener ada ya kaya di cerita-cerita? Dan kalau ada, apa kita disitu bahagia bersama ya Vin?” tanya Icha sambil ngeliat jauh keatas sana.

“Ya, kalau ada, indah bukan disitu? Apa kamu bisa melihat kita berdua yang bahagia?” tanya gue

“Ya, aku bisa membayanginya. Kita bahagia, tanpa ada Vira” jawab Icha

“Cha...” ucap gue

“Iya iya, maaf” jawabnya mengerti apa maksud gue.

“Tapi Vin..” ucapnya lagi

“Tapi apa Cha, kita udah sering banget bahas soal ini” eluh gue

“Kalau misalnya aku bukan temen kecil kamu, aku bukan tetangga kamu, dan aku itu ada di posisi Vira, apa kamu bakal suka sama aku?” tanyanya

“Entah, aku gak tau apa perasaan suka itu bakal muncul atau engga, karena perasaan ini dateng tanpa kita harap dan kita pinta, bisa jadi aku suka sama kamu cha sama seperti perasaan suka aku ke Vira” jawab gue.

“Tapi kalau itu terjadi, aku berharap kamu gak suka sama aku” ucap Icha

“Loh kenapa?” tanya gue

“Karena aku tau gimana sakitnya orang yang ada di posisi aku misalnya kamu suka sama aku nanti” jawabnya.

Jawaban yg bikin gue kaget, gue cuman bisa liat wajahnya, rambutnya yg pirang itu tertiup hembusan angin, dibawah sinar bulan. Gue bisa liat cantiknya Icha, tapi matanya yang kini gak seceria dulu. Icha, cewek yang mungkin bisa bahagia dengan orang yang lebih pantas daripada gue, cowok culun yang bahkan gak bisa menang buat mempertahankan cewek yang gue sukain, Vira.

Saat gue sedang ngeliatin Icha, diapun menatap gue balik.

“Vin, maaf ya”

‘Cuppp’
Pipi gue basah.
Diubah oleh abetterone 28-10-2016 00:06
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.