- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Quote:
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
293
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#284
PART XXV KELIRU
PART XXV
KELIRU
Oh... Tuhan
Maafkan diriku
Telah melangkah lugu
Memberi bimbang di hatinya
KutahuEngkau telah berdua
Tak mungkin kurasa
Melepas kasih antara kita
Hari ini berjalan seperti biasa. Sore sudah mulai menjelang, suara adzan maghrib terdengar berkumandang dan gua sendiri di teras rumah gua.
Perlahan Ruth Sahanaya seperti menyindir gua habis habisan dengan lirik lagu nya “Keliru”. Ya gua merasa selama ini gua sudah keliru melangkah. Keliru melangkah dengan apa pilihan hati gua.
Praktis sejak kejadian di rumah duka semalam, pikiran gua benar benar kacau. Gua berusaha menutupi semuanya, dengan senyum yang terus kupasang di wajah.
‘Ganteng-ganteng kok melamun…’
Lamunan gua terpecah dengan suara tadi.
‘Lena..’ Gua terkejut ternyata Lena sudah bersandar di depan rumah gua.
‘Bapak ni ih.. ada cewek cantik juga ga noleh sama sekali’ Lena mencoba mencairkan suasana.
‘Hehe.. Udah lama di situ Len?’
‘Lumayan Pak, kalo bikin mie ya udah mateng’
‘Haha ada ada aja. Sini duduk dulu Len. Mw minum apa?’
Lena beranjak masuk halaman rumah gua dan duduk di kursi, sebelah kursi tempat gua duduk.
‘Ga usah repot Pak, hehe’
‘….’ Gua tersenyum kecut. Entah kenapa saat Lena datang gua merasa ingin menumpahkan segalanya. Namun Gua masih tercekat, antara keegoisan dan kegelisahan saling beradu argument di dalam hati gua. Apa Lena sudah tau dengan masalah gua ya? Batin Gua.
‘Bapak sedang banyak pikiran?’ Lena mulai membuka pembicaraan, Memang gua akui wanita yang satu ini punya sensitifitas yang tinggi.
‘Ga kok Len, capek aja’ Gua mencoba tersenyum.
‘Kayaknya stress ni..’ Lena menebak
‘Ya bisa dibilang begitu’
Tak terasa gua mulai larut dengan pembicaraan dengan Lena. Entah rasa sayang dari Lena begitu hangat gua rasa. Lena mengajak gua mengobrol ringan tanpa menyinggung sedikitpun tentang masalah gua, dia dan tentu Fia. Mungkin Ihsan bisa dimasukkan dalam permasalahan ini sekarang.
‘Pak, temenin ngopi yuk’ Lena mengajak gua keluar. Mungkin dia masih menangkap kegelisahan dalam pandangan mata gua.
‘Yuk.. Aku bosan ni di rumah’
‘Kemana pak???’ Lena bersemangat gua menyanggupi ajakannya.
‘Yang jauh sekalian aja biar seru hehe’ Gua beranjak bangun dan mengepalkan kedua tangan.
‘Horeeee…’ Lena berteriak sambil ikut ikutan mengepalkan tangannya.
Konyol sumpah gua bayangin juga geli sendiri. Tapi biarlah yang penting gua bisa sejenak mengistirahatkan pikiran gua. Hm bukan, hati gua yang perlu diistirahatkan.
Dan malam itu (Gua ingat berangkat dr rumah sekitar jam 7 malam), Gua dan Lena menuju tempat ngopi di Bukit B*ntang, Jogjakarta. Sekitar 2-3 jam perjalanan.
Sepanjang jalan Lena terus mengajak gua mengobrol. Dan entah dia sama sekali tidak menanyakan masalah Fia. Apakah Lena sudah tau? Hm entah. Gak kerasa obrolan gua terus berlanjut dengan Lena, saling menceritakan masa kecil kami, artis, sampai politik dibicarakan semua. Malam semakin larut, Lena akhirnya ketiduran, mungkin karena saking capeknya ngoceh dari tadi. Sambil berbantal kan jaket gua, Lena berbaring di samping gua yang masih menikamti sebatang rokok.
…..
‘Len.. Bangun mau pulang gak?’ Gua menepuk pelan bahu Lena yang tertidur di tikar warung kopi. Gua melirik jam sudah hamper jam 1 malam.
‘Ngantuk banget Pak’
‘Loh bsk kan kerja, ayo lanjut tidur di mobil’ Gua mencoba merayu.
‘Hemm… Bapak apa ga capek langsungan nyetir sampai rumah?’
‘Mau gimana lagi? Masak mau check in?’ Gua asal nyeplos.
‘Gpp yuk check in aja, pulang pagi-pagi’ jawab Lena..
Eh… Jujur ni Gua terkejut dengan jawaban Lena
Malah gua yang terdiam. Oke secara gua pria normal ya. Jadi ya kalo mendengar kata check in agak ada rasa geli gitu. Apalagi sama cewek, secantik Lena. Hm..
‘Ayok Pak, cari cari yg deket sini aja yang searah’
‘Eh.. Iya iya ayok’ Gua lekas bangun menggandeng Lena yang tampak sempoyongan karena mengantuk. Warung-warung juga sudah banyak yang bersiap untuk tutup. Memang hari sudah malam.
Gua mengarahkan mobil gua ke sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Selesai mengurus administrasi, gua masuk ke kamar bersama Lena.
‘Ga ada twin bed, adanya ya Double Bed’ Gua memberitahu Lena.
‘Iya gpp kok Pak’ Jawab Lena singkat.
Gua masuk ke kamar mandi untuk sekedar mmbersihkan wajah, tampak Lena sudah tidak sabar untuk menenyentuh kasur. Gua sempat melirik hp gua, tidak ada pesan sama sekali dari Fia, Ah apa yang Fia pikirkan ya. Sementara Lena tampak sudah memejamkan matanya. Mungkin kecapean pikir gua.
Gua menuju kasur dan berbaring di samping Lena. Rasa kantuk memang tidak bisa gua hindarkan karena memang saat itu sudah selayaknya manusia normal untuk tidur. Gua mencoba memejamkan mata, rasanya malam kemarin gua tidak tidur sama sekali karena pikiran yang berkecamuk.
‘Pak..’
Gua yang sudah memejamkan mata mencoba membuka pelan mata gua.
Cupp… Hangat.. Basah.. Gua merasa bibir gua basah. Gua membuka mata melihat mata Lena, sangat dekat dengan mata gua. Mungkin hanya beberapa cm. Lena mencium gua!
Entah kenapa gua tidak melepas ciuman itu, perlahan malah gua membelai rambut Lena.
Cukup lama kami berciuman.
‘Aku… masih ada di sini’ Lena berbisik.
‘Hemm..?’
‘Kalo Fia memutuskan kembali pada suaminya… Kembalilah padaku’ Lena berbisik hangat di telinga ku..
‘Len..’
‘Ya?’
‘Apa aku keliru dengan keputusanku?’
KELIRU
Oh... Tuhan
Maafkan diriku
Telah melangkah lugu
Memberi bimbang di hatinya
KutahuEngkau telah berdua
Tak mungkin kurasa
Melepas kasih antara kita
Hari ini berjalan seperti biasa. Sore sudah mulai menjelang, suara adzan maghrib terdengar berkumandang dan gua sendiri di teras rumah gua.
Perlahan Ruth Sahanaya seperti menyindir gua habis habisan dengan lirik lagu nya “Keliru”. Ya gua merasa selama ini gua sudah keliru melangkah. Keliru melangkah dengan apa pilihan hati gua.
Praktis sejak kejadian di rumah duka semalam, pikiran gua benar benar kacau. Gua berusaha menutupi semuanya, dengan senyum yang terus kupasang di wajah.
‘Ganteng-ganteng kok melamun…’
Lamunan gua terpecah dengan suara tadi.
‘Lena..’ Gua terkejut ternyata Lena sudah bersandar di depan rumah gua.
‘Bapak ni ih.. ada cewek cantik juga ga noleh sama sekali’ Lena mencoba mencairkan suasana.
‘Hehe.. Udah lama di situ Len?’
‘Lumayan Pak, kalo bikin mie ya udah mateng’
‘Haha ada ada aja. Sini duduk dulu Len. Mw minum apa?’
Lena beranjak masuk halaman rumah gua dan duduk di kursi, sebelah kursi tempat gua duduk.
‘Ga usah repot Pak, hehe’
‘….’ Gua tersenyum kecut. Entah kenapa saat Lena datang gua merasa ingin menumpahkan segalanya. Namun Gua masih tercekat, antara keegoisan dan kegelisahan saling beradu argument di dalam hati gua. Apa Lena sudah tau dengan masalah gua ya? Batin Gua.
‘Bapak sedang banyak pikiran?’ Lena mulai membuka pembicaraan, Memang gua akui wanita yang satu ini punya sensitifitas yang tinggi.
‘Ga kok Len, capek aja’ Gua mencoba tersenyum.
‘Kayaknya stress ni..’ Lena menebak
‘Ya bisa dibilang begitu’
Tak terasa gua mulai larut dengan pembicaraan dengan Lena. Entah rasa sayang dari Lena begitu hangat gua rasa. Lena mengajak gua mengobrol ringan tanpa menyinggung sedikitpun tentang masalah gua, dia dan tentu Fia. Mungkin Ihsan bisa dimasukkan dalam permasalahan ini sekarang.
‘Pak, temenin ngopi yuk’ Lena mengajak gua keluar. Mungkin dia masih menangkap kegelisahan dalam pandangan mata gua.
‘Yuk.. Aku bosan ni di rumah’
‘Kemana pak???’ Lena bersemangat gua menyanggupi ajakannya.
‘Yang jauh sekalian aja biar seru hehe’ Gua beranjak bangun dan mengepalkan kedua tangan.
‘Horeeee…’ Lena berteriak sambil ikut ikutan mengepalkan tangannya.
Konyol sumpah gua bayangin juga geli sendiri. Tapi biarlah yang penting gua bisa sejenak mengistirahatkan pikiran gua. Hm bukan, hati gua yang perlu diistirahatkan.
Dan malam itu (Gua ingat berangkat dr rumah sekitar jam 7 malam), Gua dan Lena menuju tempat ngopi di Bukit B*ntang, Jogjakarta. Sekitar 2-3 jam perjalanan.
Sepanjang jalan Lena terus mengajak gua mengobrol. Dan entah dia sama sekali tidak menanyakan masalah Fia. Apakah Lena sudah tau? Hm entah. Gak kerasa obrolan gua terus berlanjut dengan Lena, saling menceritakan masa kecil kami, artis, sampai politik dibicarakan semua. Malam semakin larut, Lena akhirnya ketiduran, mungkin karena saking capeknya ngoceh dari tadi. Sambil berbantal kan jaket gua, Lena berbaring di samping gua yang masih menikamti sebatang rokok.
…..
‘Len.. Bangun mau pulang gak?’ Gua menepuk pelan bahu Lena yang tertidur di tikar warung kopi. Gua melirik jam sudah hamper jam 1 malam.
‘Ngantuk banget Pak’
‘Loh bsk kan kerja, ayo lanjut tidur di mobil’ Gua mencoba merayu.
‘Hemm… Bapak apa ga capek langsungan nyetir sampai rumah?’
‘Mau gimana lagi? Masak mau check in?’ Gua asal nyeplos.
‘Gpp yuk check in aja, pulang pagi-pagi’ jawab Lena..
Eh… Jujur ni Gua terkejut dengan jawaban Lena
Malah gua yang terdiam. Oke secara gua pria normal ya. Jadi ya kalo mendengar kata check in agak ada rasa geli gitu. Apalagi sama cewek, secantik Lena. Hm..
‘Ayok Pak, cari cari yg deket sini aja yang searah’
‘Eh.. Iya iya ayok’ Gua lekas bangun menggandeng Lena yang tampak sempoyongan karena mengantuk. Warung-warung juga sudah banyak yang bersiap untuk tutup. Memang hari sudah malam.
Gua mengarahkan mobil gua ke sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Selesai mengurus administrasi, gua masuk ke kamar bersama Lena.
‘Ga ada twin bed, adanya ya Double Bed’ Gua memberitahu Lena.
‘Iya gpp kok Pak’ Jawab Lena singkat.
Gua masuk ke kamar mandi untuk sekedar mmbersihkan wajah, tampak Lena sudah tidak sabar untuk menenyentuh kasur. Gua sempat melirik hp gua, tidak ada pesan sama sekali dari Fia, Ah apa yang Fia pikirkan ya. Sementara Lena tampak sudah memejamkan matanya. Mungkin kecapean pikir gua.
Gua menuju kasur dan berbaring di samping Lena. Rasa kantuk memang tidak bisa gua hindarkan karena memang saat itu sudah selayaknya manusia normal untuk tidur. Gua mencoba memejamkan mata, rasanya malam kemarin gua tidak tidur sama sekali karena pikiran yang berkecamuk.
‘Pak..’
Gua yang sudah memejamkan mata mencoba membuka pelan mata gua.
Cupp… Hangat.. Basah.. Gua merasa bibir gua basah. Gua membuka mata melihat mata Lena, sangat dekat dengan mata gua. Mungkin hanya beberapa cm. Lena mencium gua!
Entah kenapa gua tidak melepas ciuman itu, perlahan malah gua membelai rambut Lena.
Cukup lama kami berciuman.
‘Aku… masih ada di sini’ Lena berbisik.
‘Hemm..?’
‘Kalo Fia memutuskan kembali pada suaminya… Kembalilah padaku’ Lena berbisik hangat di telinga ku..
‘Len..’
‘Ya?’
‘Apa aku keliru dengan keputusanku?’
0
