- Beranda
- Stories from the Heart
Siluet Kebebasan Raka
...
TS
a112aditya
Siluet Kebebasan Raka
Hai gan/sis.. Balik lagi nih dilapak lama.. Setelah hiatus 2 tahun lamanya.. Eh selama itu? Maapkeun ya gaes.. Ane bakal lanjut lapak ini.. Cerita sebelumnya telah mendapat revisi yang agak banyak.. Umm banyak banget deh.. Dari pengurangan beberapa tokoh.. Pemadatan cerita.. Dan juga ending yang jelas.. Ini apaan sih?
Untuk sementara masih agak berantakan.. Tapi ane usahain dalam waktu dekat ane rapihin lapaknya.. Makasih banyak buat mod dipretelin udah buka gemboknya lagi.. Habis ini ane minta ganti judul.. Ngerepotin amat yak.. Makasih yak mom mod radheka udah mau direpotin..
Cerita ini juga dipublish di wattpad dan blog pribadi.. Kalo emang ada keterlambatan di lapak ini cek aja platform lain.. Tapi tetep buat agan sista ane utamakan post di mari..
Last but not last.. Makasih buat kalian semua..
Everything you need to know before start reading.
Temukan chapter yang ingin kalian baca di sjni
Ch 1 : Tanda Tanya
Ch 2 : Wanita Berbahaya
Ch 3 : Nona Kesepian
Ch 4 : Janggal
Ch 5 : rilis 18/5/19
Untuk sementara masih agak berantakan.. Tapi ane usahain dalam waktu dekat ane rapihin lapaknya.. Makasih banyak buat mod dipretelin udah buka gemboknya lagi.. Habis ini ane minta ganti judul.. Ngerepotin amat yak.. Makasih yak mom mod radheka udah mau direpotin..
Cerita ini juga dipublish di wattpad dan blog pribadi.. Kalo emang ada keterlambatan di lapak ini cek aja platform lain.. Tapi tetep buat agan sista ane utamakan post di mari..
Last but not last.. Makasih buat kalian semua..
Everything you need to know before start reading.
Quote:
Quote:
Temukan chapter yang ingin kalian baca di sjni
Ch 1 : Tanda Tanya
Ch 2 : Wanita Berbahaya
Ch 3 : Nona Kesepian
Ch 4 : Janggal
Ch 5 : rilis 18/5/19
Diubah oleh a112aditya 12-05-2019 15:00
0
63.9K
606
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
a112aditya
#51
Ch 4 : Janggal
÷÷÷÷÷÷
Badai yang berkecamuk selalu berhasil mengaduk-aduk perasaan Raka. Bahkan di dalam buaian gelap malam sekali pun. Terlindung dalam naungan yang menawarkan rasa aman, tetap saja ia terlihat gelisah di atas pembaringan. Dinginnya udara gagal menahan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Tanpa sadar ia membolak-balikkan badan. Hingga akhirnya hal itu membuat Wahyu ikut terganggu. Sempat terkejut ketika suara petir menyambar sesuatu di luar sana-entah dimana, Wahyu lanjut memeriksa keadaan yang terjadi di ranjang atas.
"Ra...," Wahyu menggoyang-goyang tubuh Raka seraya berdiri di tangga kasur. "Hei. Ada apa Ra?"
Tubuh Raka perlahan tenang. Ia berbalik menghadap Wahyu yang masih terlihat mengantuk. Sedikit kebingungan mendapati Wahyu sedang memandanginya dengan mata yang sayu. Pandangannya sekilas menyisir keadaan sekitar. Kamar mereka gelap, walau sesekali cahaya kilat menerangi disusul dentuman suara yang keras. Ia sempat melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Mimpi buruk kawan?" tanya Wahyu sekali lagi. Raka hanya tersenyum simpul seraya menggeleng. "Mau tukar tempat? Mungkin di bawah membuatmu lebih nyaman."
"Tidak perlu, Yu. Maaf membuatmu terbangun. Aku mau ke depan sebentar ambil minum. Bisa permisi?"
Wahyu pun menyingkir dari tangga agar Raka bisa turun. Sedikit lunglai, Raka berjalan meninggalkan kamar. Wahyu hanya memandanginya hingga pintu tertutup, lalu melanjutkan kembali tidurnya. Di dapur kecil Raka terduduk bersama segelas air putih menemani. Ia terdiam memandanginya. Meresapi sesuatu yang tengah mengganjal di ulu hati, yang rasanya amat tak nyaman.
÷÷÷÷÷
Belum selesai pengarahan yang Wahyu berikan pagi itu sebelum kegiatan dimulai, konsentrasi Raka terganggu dengan nada getar gawai pintar di kantong celananya. Tapi profesionalitas tetap yang utama. Di tempat kerja pada jam kerja, Raka harus tetap menjaga tanggung jawab yang diamanahkan padanya. Meski toleransi datang di saat-saat tertentu, ia selalu berusaha menahannya hingga titik kritis.
Ketika jam coffebreak tiba, ia pun langsung memeriksa gawai pintar yang mengganggunya sejak awal. Keras kepala tidak mengenal batas. Ia pun akhirnya harus menelan rasa sesal akibat kebodohannya sendiri. Belasan pesan singkat beserta panggilan tak terjawab hendak memberitahukannya bahwa adik tercintanya tengah berada di ruang operasi. Keadaan semakin buruk ketika bu Ani berusaha menyampaikan bahwa asuransi yang ia buat semata-mata untuk sang adik mengalami kendala.
"Tidak! Bukan itu yang kalian katakan saat aku mendaftarkan adikku. Ini sama saja dengan penipuan! Kalian mungkin bisa tenang di sana. Tapi di sini nyawa adikku sedang dipertaruhkan!" Di balik salah satu kontainer yang dijadikan kantor sementara, Raka gusar. Pelayanan pelanggan dari asuransi yang ia gunakan tampak membuatnya kecewa.
"Pihak rumah sakit tidak mau mengambil tindak lanjut karena dikatakan operasi tersebut di luar tanggungan asuransi. Lalu apa yang kalian tanggung?!"
Emosi Raka mengaburkan semua jawaban yang diberikan pihak asuransi. Semua yang mereka katakan terdengar sama. Dan itu tidak mampu memuaskan keinginan Raka. Sampai suara lain mengambil alih pembicaraan Raka dengan salah satu layanan pelanggan sebelumnya.
"Selamat pagi... Pak Rahadian. Saat ini anda berbicara langsung dengan saya, Tiara, selaku manajer layanan pelanggan regional kalimantan." Raka tidak menyangka keluhannya pagi itu ditanggapi langsung oleh seorang petinggi.
"Sebelumnya saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Menanggapi keluhan anda terkait tanggungan biaya yang...." Belum selesai wanita bernama Tiara itu menjelaskan, Raka tiba-tiba saja memotong.
"Tolong mba. Saya minta sekali ini saja. Bantu saya. Selamatkan adik saya."
Di sisi lain panggilan genting tersebut, di belakang pegawainya, Tiara memandangi layar komputer yang menampilkan data pelanggan atas nama Rahadian Eka. Butuh beberapa detik ia menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ambil berdasarkan data pelanggannya tersebut. Dari kelas dan produk yang ia ambil, kelancaran transaksi pembayaran setiap bulannya, dan belum adanya tagihan biaya yang masuk dari rumah sakit manapun.
"Baik pak. Sesegera mungkin akan kami urus masalah tersebut."
Jawaban dari Tiara memang terdengar ambigu di telinga Raka. Namun setidaknya ia bisa kembali berharap meski kemungkinannya terbilang kecil. Setelahnya, Raka kembali melanjutkan pembicaraan dengan pegawai layanan pelanggan perihal segala yang terkait kendalanya dengan pihak rumah sakit, dimana adiknya berjuang untuk hidup.
÷÷÷÷
"Ahaha. Rasanya memalukan kalau diingat-ingat. Saya sampai bingung harus bilang apa. Tapi... Terima kasih. Dan sekali lagi maaf atas semua masalah yang saya buat."
Raka menutup panggilan telepon yang ia terima lima belas menit lalu. Dadanya terasa sedikit berdebar. Ia merasa khawatir panggilan itu akan berakhir buruk. Namun akhirnya tidak seperti yang ia bayangkan. Sekarang Raka bisa sedikit lebih lega. Ia bahkan sempat tersipu.
Bu Ani memberikan kabar baik tentang kondisi terakhir Fitri ketika ia telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Operasi pengangkatan tumor yang bersarang di dekat paru-parunya berjalan lancar setelah pihak rumah sakit menerima konfirmasi dari pihak asuransi. Tiara yang mewakili pihak asuransi tidak hanya telah membantunya. Ia bahkan tidak mempermasalahkan sikap Raka sebelumnya. Ditambah lagi wanita itu memberikan kontak pribadinya langsung agar dapat memudahkan Raka. Walau agak janggal untuk Raka terima, tapi ia menghargai tindakan Tiara.
"Dih. Senyum-senyum sendiri. Waras?" Entah sejak kapan Wahyu berada di samping Raka seraya menikmati sebatang rokok yang telah dipantik. "Gadis mana lagi yang kamu php?"
"Enak saja! Jangan cari perkara deh." Raka membantah seraya mengambil sebatang rokok yang Wahyu tawarkan.
"Santai bos. Kalau tidak salah, artinya bagus. Kapan lagi seorang Raka bisa move on."
"Jangan bawa-bawa Sany. Sudah lima tahun."
"Tuh sadar. Buat undangan itu gampang kok. Toh anak gadis sini juga banyak yang mau sama kamu. Tinggal kamu pilih." Wahyu mengedikkan kepalanya ke arah warung kopi milik pak haji Thamrin.
"Sembarangan! Kamu pikir belanja di warung. Lagipula aku ke sini buat kerja."
"Buat apa susah payah buang keringat kalau yang mau diajak senang-senang tidak ada. Jangan berpikiran buruk dulu lho. Maksudku di sini pendamping hidup," ucap Wahyu berlagak bijak.
"Kaca mana kaca."
÷÷÷
Lembar demi lembar buku novel dibalik Raka perlahan. Kesunyian yang mengawaninya malam ini. Ia berusaha menangkap pesan-pesan yang tersirat di dalamnya dengan seksama. Raka membaca gambaran besarnya. Mencoba menyelaraskan irama. Suasana mendadak berubah melankolik. Berempati pada tokoh pendukung sesekali menurutnya wajar. Terutama di kala jalan takdirnya di dalam cerita tak terhindarkan dari petaka. Begitu acak, tapi berpola. Seperti panggilan masuk yang mengganggu waktu tenangnya. Acak.
"Tiara?" Raka membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo?" Ragu-ragu Raka berbicara.
"Pak Rahadian?" balas suara di sisi lain panggilan bertanya.
"Ya dengan saya sendiri. Ini bu Tiara kan?"
"Tiara saja pak. Panggilan ini tidak direkam kok. Bagaimana kabar adiknya pak?" Raka agak heran dengan cara bicara Tiara yang terdengar seolah berusaha akrab.
"Ya. Syukurlah sampai saat ini perkembangan kondisinya cukup memuaskan. Maaf bu. Ada perlu apa ya malam-malam seperti ini?" Raka mulai curiga. Walau pun Tiara bukan orang asing, tetap saja wanita itu bukan siapa-siapa dalam lingkaran sosialnya.
"Yah. Masih dipanggil bu." Raka merasa Tiara sedang tidak berbicara dengannya. Suaranya terdengar pelan dan sedikit jauh.
"Bu?"
"Ah iya. Tidak pak. Tidak ada keperluan apa-apa. Saya mengganggu ya pak?" Nyatanya panggilan itu memang mengganggu konsentrasinya. Namun karena mendengar nada suara yang sendu jauh di sana, Raka mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kesibukannya. Dia pun meluangkan sedikit waktu untuk salah satu orang yang berjasa untuk kesembuhan adiknya tersebut.
"Tidak. Tidak mengganggu. Kebetulan lagi lenggang bu. Hanya saja, saya kira ada masalah lagi dengan asuransi adik saya." Sesopan mungkin Raka menjawab. Ia bahkan sampai kebingungan mencari-cari alasan.
"Kalau untuk itu, semuanya aman kok pak. Panggil saya Tiara saja pak. Jangan terlalu formal. Saya sedang tidak di kantor," ucap Tiara santai. Raka hanya tidak suka caranya yang memaksa untuk memanggil nama secara langsung.
"Oh. Syukurlah."
Ada jeda tanpa suara untuk sesaat. Walau tak berhadapan secara langsung, Raka merasa canggung. Saat sadar, ia sendiri sampai keheranan. "Ada apa denganku ini?" pikirnya.
"Umm. Maaf ya pak. Saya hanya bingung mau bicara dengan siapa. Kebetulan saja saat melihat-lihat daftar kontak, nama pak Rahadian yang saya pikir mau angkat telpon saya." Tiba-tiba saja Tiara menjelaskan alasan ia menghubungi Raka di waktu yang cukup larut.
"Oh. Ternyata seperti itu ceritanya. Kenapa tidak tidur?" Entah kenapa Raka merasa salah bicara sampai-sampai ia menepuk dahinya sendiri.
"Ada apa pak?!" Suara tepukan Raka malah memancing reaksi Tiara.
"Eh? Nyamuk? Iya nyamuk. Ada nyamuk tadi." Lagi-lagi Raka dipaksa berkilah. Terdengarlah suara tawa di panggilan yang sedang berjalan itu.
"Ya ampun pak. Saya pikir bapak ketangkap basah istri lagi telponan sama wanita lain." Tiara kembali terbahak. Dia pikir itu lelucon. Padahalnya semua itu hanya salah satu keanehan Raka ketika sedang canggung.
"Saya belum nikah bu!" Sesegera mungkin Raka menutup mulutnya dengan tangan yang masih bebas. Ia bisa merasakan bahwa Tiara sedang memandangnya dengan wajah kecut.
"Bapaknya kaku kayak papan. Saya cuma bercanda kok. Saya dipanggil ibu terus. Punya anak saja belum. Tiara pak. Tiara."
"Kalau begitu, jangan panggil saya pak terus! Saya masih dua puluh tahunan!"
"Dih? Kok emosi?"
∆
Kemana kau mengajak ku pergi, gadis kecil? Kemana kau akan pergi? Ini sudah terlalu jauh. Apa kau tidak lelah? Garis bercabang ini membuatku pusing. Kenapa aku selalu dihadapkan pada pilihan? Apa satu tidak pernah cukup?
...
Trivia Ch 5 :
Sany hidup di dunia yang berbeda dengan Raka. Terseret atau diseret masuk? Pertahanan Raka.
Diubah oleh a112aditya 11-05-2019 15:57
0