- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1461
Update sebelum pergi kencan
Yang kami lakukan pertama kali adalah mencari mereka kembali ke dapur untuk mencari Diana dan Dewi.
Namun, kami sama sekali tidak menemukan apa-apa. Yang terjadi malah kami menemukan keanehan dari pemandangan di dapur itu.
Pisau yang menancap di talenan menghilang…
Dan kami sama sekali tidak mendatangi dapur ini sebelumnya, alih-alih membereskannya.
“Pisau…. Pisaunya hilang” Gumam Felix di sampingku. Sepertinya dia juga memperhatikan hal yang sama sepertiku.
Perasaanku agak tidak enak ketika mengetahui pisau itu hilang. Pada saat itulah Wati berteriak “Eh, itu si Dewi di luar!” katanya. “Eh? Sama siapa itu dia?” lanjutnya.
Aku buru-buru menengokkan kepalaku ke arah Wati melihat. Dan ya… Dewi sedang diluar, di bawah pohon rindang yang tinggi besar. Dia sedang bersama orang yang terlihat menuntunnya dengan menggenggam tangannya.
“Siapa itu?” tanya boy A dan boy B yang baru saja ikut bergabung bersama kami.
Aku, Ayano, Cindy dan Felix menutup mulut kami rapat-rapat.
Bukan karena kami berniat merahasiakan mengenai “siapa” sosok itu. Tapi karena sosok itu sudah jelas bukan mahluk hidup, tidak, bahkan sosok itu sama sekali bukan manusia.
Kenapa?
Karena tidak ada manusia yang mempunyai tangan sekurus gagang sapu.
Atau tengkorak, sepertinya…..
Entahlah, yang pasti sosok itu membuat pucat ketiga orang temanku, termasuk aku… mungkin….
“Hei..hei.. sepertinya orang itu sedang mengajak Dewi ke dalam hutan?” seru si boy A sambil menunjuk ke arah Dewi dan sosok aneh itu.
“Hentikan mereka!!!”
Ayano berteriak. Aku belum pernah mendengar dia berteriak sebelumnya. Tapi wajahnya terlihat sangat tegang, dan aku menyadari dia sedang mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga terlihat kukunya menancap pada telapak tangannya hingga memutih.
“Ko?” panggilku.
Ayano sepertinya masih mengenali suaraku, karena dia menoleh dan menggosok wajahnya dengan tanganya dan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya. Kebiasaan yang sering dilakukannya saat stress.
“Hentikan mereka” katanya lagi, kali ini dia mengatakannya tanpa berteriak. Tapi ketegasan dari suaranya masih dapat kurasakan “Hutan terlalu berbahaya, ajak Dewi kembali!!” ajaknya pada boy A dan boy B.
Mereka berdua mengangguk dan kemudian bersama-sama dengan Ayano berlari ke luar.
Tidak lama kemudian Felix juga ikut mengejar mereka.
Dan aku merasakan lenganku ditarik. “Ayo Lis!! Mending kita ikutan, dan lu lebih aman deket suami lu!!” seru Cindy sambil menarik tanganku.
“Siapa yang suami……” kataku terputus karena menyadari kalau percuma saja membantah kata-kata Cindy yang sudah sangat terfokus menatap ke depan.
Aku melihat Wati lari mendahului kami. Dan aku juga melihat kalau jauh di depan kami, Dewi dan ‘sosok’ yang sedang menggandeng tangannya tampak menengok kepada kami yang sedang berlari menuju tempatnya, dan kemudian merekapun ikut berlari masuk ke dalam hutan.
“Dewi!! Berhenti!!” panggil Ayano berteriak yang diikuti oleh boy A dan boy B.
Tapi Dewi tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti dan bahkan tidak menengok ke arah kami sekalipun lagi.
Untuk mengikuti Dewi dan ‘sosok’ misterius itu, boy A dan boy B berlari memasuki hutan. Sedangkan Ayano berbalik dan menunggui sampai aku tiba di sisi luar hutan itu.
“Ko?” tanyaku padanya ketika mencapai tempatnya menungguku.
Dia mengulurkan tangannya dan menggandengku “Koko merasakan firasat kurang enak… dan sebaiknya koko tidak berpisah dari kamu, takut ada apa-apa” jelasnya.
Felix menatap kami berdua dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama pada Cindy.
Sedangkan Wati berlari melesat masuk ke dalam hutan menyusul kedua cowok yang sudah masuk duluan.
“Lix…” panggil Ayano sambil berlari “Kasitau gua apa yang lu liat” pintanya.
“Gua nggak ngelihat apapun” kata Felix sambil terengah-engah.
“Apa aja boleh!” desak Ayano.
“Serius!! Gua nggak bisa lihat apapun, semuanya berkabut di mata gua” balas Felix “Harusnya lu tanya dia” teriaknya sambil menunjukku.
Ayano melirikku sejenak, dan menarikku mendekat untuk bersembunyi di punggungnya. “Jangan bawa-bawa Elisa..” geramnya.
Eh?
Apa maksudnya?
“Apa maksud lo?” tuntut Felix “Jangan ngelibatin dia? Jelas-jelas dia lebih bisa ngeliat daripada gua!!” semburnya sambil tetap menunjuk ke arahku yang disembunyikan di belakang punggung Ayano.
“Iya ko.. kenapa?” bisikku pada Ayano.
Ayano berbalik ke arahku, wajahnya penuh dengan kekhawatiran “Justru karena kamu sendiri aja yang bisa lihat Lis…” katanya dengan lembut “Koko nggak mau ‘mahluk’ itu tau kamu bisa lihat dia dengan jelas. Koko nggak mau ambil resiko ‘mahluk’ itu nempel sama kamu”
Waktu itu aku benar-benar merasa terharu ketika mendengarnya. Aku bahkan tidak berpikir sampai ke sana. Aku mengerti alasan Ayano melakukannya. Namun sayangnya, kita sedang berbicara mengenai salah seorang teman kami yang menghilang. Dan mungkin saja bisa mengalami nasib buruk.
Karena itulah aku memutuskan untuk tetap membantu. Meskipun aku merasa bersalah pada Ayano…
“Thanks..” kataku pada Ayano. “Tapi, Dewi perlu ditolong ko, dan aku bisa lihat ‘mahluk’ itu pergi kemana” tambahku.
Mata Ayano terbelalak, namun suara yang kudengar bukanlah suaranya, melainkan Felix “Kamu bisa tau kemana dia pergi?” tanya Felix tidak percaya.
Aku mengangguk “Aura ‘mahluk’ itu terlihat olehku seperti meninggalkan jejak asap yang mengarah ke dalam hutan.
“Ke sana!!” tunjukku.
Ayano dan yang lainnya melihat ke arah yang kutunjuk.
“Baiklah” Ayano mengangguk. “Semuanya, ke arah sana!! Gua liat Dewi sekilas!!” teriaknya kepada Wati, boy A dan boy B yang sudah berada agak jauh dan berlawanan arah dengan arah kemana ‘mahluk’ itu pergi.
Aku menatap Ayano bingung. Dia balas menatapku dan berkata “Kasihtau koko aja petunjuknya. Koko nggak mau ambil resiko kamu ketahuan sama ‘mereka’ ataupun sama teman-teman yang lain”
Ah… benar juga.. pikirku.
Ayano kembali menggandengku selama kami memasuki daerah hutan lebih dalam lagi.
‘Asap’ seperti kabut berwarna hitam yang ditinggalkan oleh ‘mahluk’ itu semakin pekat. Aku yakin kalau kami sudah sangat dekat dengannya.
Pengejaran kami terhenti pada pohon besar berada di hutan itu. Aku melihat kabut asap ‘mahluk’ itu berkumpul bagaikan awan di dasar pohon itu.
Namun hanya itu saja. Aku tidak melihat lagi kabut asap itu ke tempat lainnya. Ini adalah ujung terakhir dari jejak ‘mahluk’ itu.
Aku memberitahukan hal itu pada Ayano. Wajahnya tampak bingung dan dia segera mengatakannya pada Felix yang pada saat ini sudah hampir kehilangan seluruh warna dari wajahnya dan terengah-engah dengan keringat mengucur deras.
Felix nampak bingung mendengar penjelasan dari Ayano itu, namun kemudian dia seakan berpikir sesuatu, dan mengatakan satu kata yang disebutkannya dengan susah payah karena kehabisan nafas.
Jebakan?
Itulah kata-kata Felix yang berhasil dia keluarkan.
Tidak perlu waktu lama untukku dan Ayano untuk mengerti kata-kata Felix itu. Jebakan? Benar juga… apa dasarnya aku memutuskan kalau jejak itu adalah dari ‘mahluk’ itu? Kenapa aku bahkan tidak memperkirakan kalau itu bisa saja upaya ‘mahluk’ itu untuk mengarahkan kami pada arah yang salah?
Memikirkan kalau kesalahanku ini bisa saja mengakibatkan Dewi menjadi korban membuat perutku serasa melilit dan diremas-remas. Aku diselimuti panik, bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir di wajahku. Aku merasa dingin pada tubuhku. Ingatan akan ‘kematian’ Robert membuatku sangat panik.
Aku benar-benar tidak dapat berpikir apa-apa lagi. Rasa takut dan bersalah menguasai diriku dan mengambil semua tenaga yang ada dalam diriku untuk tetap berdiri tegak.
Aku jatuh terduduk.
“Elisa!!” teriak Ayano yang terdengar bagiku seakan terdengar dari tempat yang jauh dan menggema.
Pandanganku mulai kabur dan gelap.
Aku merasakan pelukan Ayano di tubuhku, namun aku seakan tidak bisa membuat tubuhku bergerak. Sementara, panggilan Ayano kepadaku menggema dari tempat yang jauh.
Kesadaranku hampir saja hilang dan gelap ketika aku mendengar satu teriakan yang mengembalikan semua indraku bersamaan.
Teriakan dari Wati “Itu dia!! Dewi!! Di sana!!!” teriaknya.
Aku merasakan sesuatu yang kurasa adalah pacuan adrenalin. Kalimat Wati itu membuat kesadaranku pulih. Harapan!! Aku tidak membawa temanku ke arah yang salah… Dewi ada di sini…
Pikiranku saat itu benar-benar bagaikan badai, karena aku memikirkan berbagai hal sekaligus hingga kepalaku terasa pusing karenanya.
Aku menatap ke arah Wati yang masih berteriak-teriak sambil menunjuk ke atas.
Sebentar…
Ke atas?
Aku menengadahkan kepalaku dan melihat Dewi sedang berada di ranting pohon besar yang berada kurang lebih 5 meter di atas kami.
“Dewi!!” teriak kawan-kawan kami “Kamu ngapain di atas? Turun Wi!!” pinta Wati.
Sementara kami berteriak-teriak memanggil Dewi, gadis itu menatap kami dengan pandangan kosong.
Dan seketika, pandangan kosong itu memudar dan membentuk sebuah senyuman jahat.
“Hihihi…” tawa lirih terdengar dari mulut Dewi. Meskipun suara itu bukanlah suara milik gadis itu.
Gadis itu memiliki suara yang sedikit unik karena falsetto yang seakan selalu keluar sementara dia bicara. Tapi suara ini tajam dan tinggi bagaikan lengkingan.
“Hihihihi… hihihihi… hihihihi!!!” tawanya lagi dengan suara kencang.
Mendengar tawa itu, aku merasakan seluruh bulu kudukku meremang. Wati dan yang lainnya pun terdiam menatap kawannya yang tertawa itu.
Kemudian, dengan mengacuhkan kengerian kami semua, Dewi berdiri di dahan pohon besar itu dengan lincah. Dan melompat turun…..
“Waaaahhh!!!”
“Ahhhhhhh!!!”
Kami semua berteriak ketakutan ketika Dewi melompat turun.
Tapi gadis itu hanya meluncur kurang lebih dua meter dan melakukan hal yang mengejutkan.
Dia mencengkram batang pohon besar itu dengan tangannya dan merangkak turun seperti laba-laba.
Kami semua menganga melihat pemandangan itu.
Dewi terus merangkak turun dengan cepat dan melompat ke tanah dari jarak dua meter dan mendarat dengan tangan dan kakinya.
“Hihihihi….” tawa Dewi sembari berdiri goyah di depan kami.
“Dewi!!” teriak boy A sambil mendekati dan memegang lengan Dewi dan mengguncang-guncangkan gadis itu.
Aku melihat sesuatu keluar dari tubuh Dewi, seperti hewan melata yang menghilang dengan cepat di balik pohon.
“Hilang…” gumam Ayano yang berdiri di depanku.
“Apa?” tanyaku.
“Rasa ‘itu’ hilang….” kata Ayano. Yang dia maksudkan adalah perasaan dingin di tulang belakangnya setiap kali ada ‘mereka’ yang jahat di dekat kami.
“Ahh…” aku mendengar Dewi menggumam dan ambruk di pelukan boy A.
“Dewi!! Dewi!!” panggil kami, namun tubuh gadis itu tetap lunglai. Ayano menggandengku untuk maju mendekati tubuh gadis itu dan setelah dekat, ia berlutut di samping Dewi dan memegang pergelangan tangannya.
“Dia hanya pingsan… sepertinya” kata Ayano. “Tapi detaknya lemah dan tubuhnya sangat dingin…” tambahnya lagi.
Ayano mendongak untuk melihat kerumunan yang mengerubungi Dewi “Kita harus cepat bawa dia balik ke Villa” katanya.
Mendengar itu, boy A menggendong Dewi di punggungnya dan berkata “Ayo!!”.
Tidak ada seorangpun yang membantahnya dan kami semua mencari jalan keluar dari hutan itu. Beruntung sekali aplikasi kompas yang ada di handphone kami masih berjalan dengan baik sehingga tersasar adalah hal yang tidak terlalu kami khawatirkan.
Dan untungnya hal itu memang benar. Beberapa menit kemudian, tanpa kesulitan yang berarti kami berhasil mencapai di pinggiran hutan dan dapat melihat villa kami di kejauhan.
“Hei… ngomong-ngomong… Diana masih belum ketemu lho..” kata boy B mengingatkan kami.
Benar..
Kami terlalu sibuk mengejar Dewi sampai melupakan ada satu teman kami yang masih hilang.
“Untuk sementara kita harus hangatkan Dewi dulu, para cewek nanti bisa jagain Dewi sementara kita cari Diana” kata Ayano yang masih memelukku untuk melindungiku dari semak-semak tajam di jalan setapak hutan.
Seluruh kawanan kami mengangguk setuju. Terlalu lelah untuk berkomentar apapun.
Sebenarnya aku juga sudah terasa lelah. Kami bahkan belum makan siang. Perutku sudah mulai memberontak semenjak kami meninggalkan hutan dan menginjak padang rumput yang terawat di depan villa tempat kami menginap.
Kami mencapai villa tanpa gangguan apapun lagi, membaringkan Dewi dan menyelimutinya agar hangat. Kemudian Wati mengusulkan untuk membuat coklat panas untuk mengisi energi kami sementara. Cindy mengikutinya sementara aku terduduk di salah satu bangku karena kelelahan.
Para cowokpun tampak kelelahan. Ayano duduk tidak jauh dariku, sebelumnya dia mengatakan dilemanya untuk meninggalkan aku apabila dia akan mencari Diana dengan para cowok lain. Tapi dia juga mengatakan lebih banyak orang akan membantu dalam pencarian, apalagi hari semakin gelap dan akan semakin berbahaya.
Sedangkan aku dengan egois memintanya untuk tidak ikut.
Setelah hal yang terjadi hari ini, entah mengapa kejadian mengenai Robert yang ‘meninggal’ di hutan menggangguku. Dan aku memutuskan untuk mempercayai firasatku dan tidak memperbolehkan Ayano pergi.
Aku dan Ayano masih berbicara mengenai hal-hal yang terjadi hari ini. Semuanya terjadi begitu cepat dan membingungkan.
Pada saat itulah kami mendengar suara itu. Dari lantai dua.
‘tok…tok…tok….’
‘tok…tok…tok…’
Aku dan Ayano dengan cepat bangkit berdiri dan melihat ke arah lantai dua.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Pasti Ayano dan teman-teman yang lain juga begitu.
Aku melihat Diana….
Diana teman kami yang hilang.
Dan dia sedang berdiri di lantai dua dengan pandangan menyeringai yang sama seperti Dewi.
Setelah itu segala sesuatunya terjadi dengan sangat cepat…
Seiring dengan teriakan nyaring ‘KHIIIIIII!!!!’, Diana melompat dari lantai dua itu.
Menuju ke arahku….
Hal terakhir yang aku ingat adalah beban tubuh Diana yang menimpa tubuhku. Dan rasa sakit di belakang kepalaku.
Kemudian semuanya gelap….
Spoiler for Part XXXIV:
Yang kami lakukan pertama kali adalah mencari mereka kembali ke dapur untuk mencari Diana dan Dewi.
Namun, kami sama sekali tidak menemukan apa-apa. Yang terjadi malah kami menemukan keanehan dari pemandangan di dapur itu.
Pisau yang menancap di talenan menghilang…
Dan kami sama sekali tidak mendatangi dapur ini sebelumnya, alih-alih membereskannya.
“Pisau…. Pisaunya hilang” Gumam Felix di sampingku. Sepertinya dia juga memperhatikan hal yang sama sepertiku.
Perasaanku agak tidak enak ketika mengetahui pisau itu hilang. Pada saat itulah Wati berteriak “Eh, itu si Dewi di luar!” katanya. “Eh? Sama siapa itu dia?” lanjutnya.
Aku buru-buru menengokkan kepalaku ke arah Wati melihat. Dan ya… Dewi sedang diluar, di bawah pohon rindang yang tinggi besar. Dia sedang bersama orang yang terlihat menuntunnya dengan menggenggam tangannya.
“Siapa itu?” tanya boy A dan boy B yang baru saja ikut bergabung bersama kami.
Aku, Ayano, Cindy dan Felix menutup mulut kami rapat-rapat.
Bukan karena kami berniat merahasiakan mengenai “siapa” sosok itu. Tapi karena sosok itu sudah jelas bukan mahluk hidup, tidak, bahkan sosok itu sama sekali bukan manusia.
Kenapa?
Karena tidak ada manusia yang mempunyai tangan sekurus gagang sapu.
Atau tengkorak, sepertinya…..
Entahlah, yang pasti sosok itu membuat pucat ketiga orang temanku, termasuk aku… mungkin….
“Hei..hei.. sepertinya orang itu sedang mengajak Dewi ke dalam hutan?” seru si boy A sambil menunjuk ke arah Dewi dan sosok aneh itu.
“Hentikan mereka!!!”
Ayano berteriak. Aku belum pernah mendengar dia berteriak sebelumnya. Tapi wajahnya terlihat sangat tegang, dan aku menyadari dia sedang mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga terlihat kukunya menancap pada telapak tangannya hingga memutih.
“Ko?” panggilku.
Ayano sepertinya masih mengenali suaraku, karena dia menoleh dan menggosok wajahnya dengan tanganya dan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya. Kebiasaan yang sering dilakukannya saat stress.
“Hentikan mereka” katanya lagi, kali ini dia mengatakannya tanpa berteriak. Tapi ketegasan dari suaranya masih dapat kurasakan “Hutan terlalu berbahaya, ajak Dewi kembali!!” ajaknya pada boy A dan boy B.
Mereka berdua mengangguk dan kemudian bersama-sama dengan Ayano berlari ke luar.
Tidak lama kemudian Felix juga ikut mengejar mereka.
Dan aku merasakan lenganku ditarik. “Ayo Lis!! Mending kita ikutan, dan lu lebih aman deket suami lu!!” seru Cindy sambil menarik tanganku.
“Siapa yang suami……” kataku terputus karena menyadari kalau percuma saja membantah kata-kata Cindy yang sudah sangat terfokus menatap ke depan.
Aku melihat Wati lari mendahului kami. Dan aku juga melihat kalau jauh di depan kami, Dewi dan ‘sosok’ yang sedang menggandeng tangannya tampak menengok kepada kami yang sedang berlari menuju tempatnya, dan kemudian merekapun ikut berlari masuk ke dalam hutan.
“Dewi!! Berhenti!!” panggil Ayano berteriak yang diikuti oleh boy A dan boy B.
Tapi Dewi tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti dan bahkan tidak menengok ke arah kami sekalipun lagi.
Untuk mengikuti Dewi dan ‘sosok’ misterius itu, boy A dan boy B berlari memasuki hutan. Sedangkan Ayano berbalik dan menunggui sampai aku tiba di sisi luar hutan itu.
“Ko?” tanyaku padanya ketika mencapai tempatnya menungguku.
Dia mengulurkan tangannya dan menggandengku “Koko merasakan firasat kurang enak… dan sebaiknya koko tidak berpisah dari kamu, takut ada apa-apa” jelasnya.
Felix menatap kami berdua dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama pada Cindy.
Sedangkan Wati berlari melesat masuk ke dalam hutan menyusul kedua cowok yang sudah masuk duluan.
“Lix…” panggil Ayano sambil berlari “Kasitau gua apa yang lu liat” pintanya.
“Gua nggak ngelihat apapun” kata Felix sambil terengah-engah.
“Apa aja boleh!” desak Ayano.
“Serius!! Gua nggak bisa lihat apapun, semuanya berkabut di mata gua” balas Felix “Harusnya lu tanya dia” teriaknya sambil menunjukku.
Ayano melirikku sejenak, dan menarikku mendekat untuk bersembunyi di punggungnya. “Jangan bawa-bawa Elisa..” geramnya.
Eh?
Apa maksudnya?
“Apa maksud lo?” tuntut Felix “Jangan ngelibatin dia? Jelas-jelas dia lebih bisa ngeliat daripada gua!!” semburnya sambil tetap menunjuk ke arahku yang disembunyikan di belakang punggung Ayano.
“Iya ko.. kenapa?” bisikku pada Ayano.
Ayano berbalik ke arahku, wajahnya penuh dengan kekhawatiran “Justru karena kamu sendiri aja yang bisa lihat Lis…” katanya dengan lembut “Koko nggak mau ‘mahluk’ itu tau kamu bisa lihat dia dengan jelas. Koko nggak mau ambil resiko ‘mahluk’ itu nempel sama kamu”
Waktu itu aku benar-benar merasa terharu ketika mendengarnya. Aku bahkan tidak berpikir sampai ke sana. Aku mengerti alasan Ayano melakukannya. Namun sayangnya, kita sedang berbicara mengenai salah seorang teman kami yang menghilang. Dan mungkin saja bisa mengalami nasib buruk.
Karena itulah aku memutuskan untuk tetap membantu. Meskipun aku merasa bersalah pada Ayano…
“Thanks..” kataku pada Ayano. “Tapi, Dewi perlu ditolong ko, dan aku bisa lihat ‘mahluk’ itu pergi kemana” tambahku.
Mata Ayano terbelalak, namun suara yang kudengar bukanlah suaranya, melainkan Felix “Kamu bisa tau kemana dia pergi?” tanya Felix tidak percaya.
Aku mengangguk “Aura ‘mahluk’ itu terlihat olehku seperti meninggalkan jejak asap yang mengarah ke dalam hutan.
“Ke sana!!” tunjukku.
Ayano dan yang lainnya melihat ke arah yang kutunjuk.
“Baiklah” Ayano mengangguk. “Semuanya, ke arah sana!! Gua liat Dewi sekilas!!” teriaknya kepada Wati, boy A dan boy B yang sudah berada agak jauh dan berlawanan arah dengan arah kemana ‘mahluk’ itu pergi.
Aku menatap Ayano bingung. Dia balas menatapku dan berkata “Kasihtau koko aja petunjuknya. Koko nggak mau ambil resiko kamu ketahuan sama ‘mereka’ ataupun sama teman-teman yang lain”
Ah… benar juga.. pikirku.
Ayano kembali menggandengku selama kami memasuki daerah hutan lebih dalam lagi.
‘Asap’ seperti kabut berwarna hitam yang ditinggalkan oleh ‘mahluk’ itu semakin pekat. Aku yakin kalau kami sudah sangat dekat dengannya.
Pengejaran kami terhenti pada pohon besar berada di hutan itu. Aku melihat kabut asap ‘mahluk’ itu berkumpul bagaikan awan di dasar pohon itu.
Namun hanya itu saja. Aku tidak melihat lagi kabut asap itu ke tempat lainnya. Ini adalah ujung terakhir dari jejak ‘mahluk’ itu.
Aku memberitahukan hal itu pada Ayano. Wajahnya tampak bingung dan dia segera mengatakannya pada Felix yang pada saat ini sudah hampir kehilangan seluruh warna dari wajahnya dan terengah-engah dengan keringat mengucur deras.
Felix nampak bingung mendengar penjelasan dari Ayano itu, namun kemudian dia seakan berpikir sesuatu, dan mengatakan satu kata yang disebutkannya dengan susah payah karena kehabisan nafas.
Jebakan?
Itulah kata-kata Felix yang berhasil dia keluarkan.
Tidak perlu waktu lama untukku dan Ayano untuk mengerti kata-kata Felix itu. Jebakan? Benar juga… apa dasarnya aku memutuskan kalau jejak itu adalah dari ‘mahluk’ itu? Kenapa aku bahkan tidak memperkirakan kalau itu bisa saja upaya ‘mahluk’ itu untuk mengarahkan kami pada arah yang salah?
Memikirkan kalau kesalahanku ini bisa saja mengakibatkan Dewi menjadi korban membuat perutku serasa melilit dan diremas-remas. Aku diselimuti panik, bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir di wajahku. Aku merasa dingin pada tubuhku. Ingatan akan ‘kematian’ Robert membuatku sangat panik.
Aku benar-benar tidak dapat berpikir apa-apa lagi. Rasa takut dan bersalah menguasai diriku dan mengambil semua tenaga yang ada dalam diriku untuk tetap berdiri tegak.
Aku jatuh terduduk.
“Elisa!!” teriak Ayano yang terdengar bagiku seakan terdengar dari tempat yang jauh dan menggema.
Pandanganku mulai kabur dan gelap.
Aku merasakan pelukan Ayano di tubuhku, namun aku seakan tidak bisa membuat tubuhku bergerak. Sementara, panggilan Ayano kepadaku menggema dari tempat yang jauh.
Kesadaranku hampir saja hilang dan gelap ketika aku mendengar satu teriakan yang mengembalikan semua indraku bersamaan.
Teriakan dari Wati “Itu dia!! Dewi!! Di sana!!!” teriaknya.
Aku merasakan sesuatu yang kurasa adalah pacuan adrenalin. Kalimat Wati itu membuat kesadaranku pulih. Harapan!! Aku tidak membawa temanku ke arah yang salah… Dewi ada di sini…
Pikiranku saat itu benar-benar bagaikan badai, karena aku memikirkan berbagai hal sekaligus hingga kepalaku terasa pusing karenanya.
Aku menatap ke arah Wati yang masih berteriak-teriak sambil menunjuk ke atas.
Sebentar…
Ke atas?
Aku menengadahkan kepalaku dan melihat Dewi sedang berada di ranting pohon besar yang berada kurang lebih 5 meter di atas kami.
“Dewi!!” teriak kawan-kawan kami “Kamu ngapain di atas? Turun Wi!!” pinta Wati.
Sementara kami berteriak-teriak memanggil Dewi, gadis itu menatap kami dengan pandangan kosong.
Dan seketika, pandangan kosong itu memudar dan membentuk sebuah senyuman jahat.
“Hihihi…” tawa lirih terdengar dari mulut Dewi. Meskipun suara itu bukanlah suara milik gadis itu.
Gadis itu memiliki suara yang sedikit unik karena falsetto yang seakan selalu keluar sementara dia bicara. Tapi suara ini tajam dan tinggi bagaikan lengkingan.
“Hihihihi… hihihihi… hihihihi!!!” tawanya lagi dengan suara kencang.
Mendengar tawa itu, aku merasakan seluruh bulu kudukku meremang. Wati dan yang lainnya pun terdiam menatap kawannya yang tertawa itu.
Kemudian, dengan mengacuhkan kengerian kami semua, Dewi berdiri di dahan pohon besar itu dengan lincah. Dan melompat turun…..
“Waaaahhh!!!”
“Ahhhhhhh!!!”
Kami semua berteriak ketakutan ketika Dewi melompat turun.
Tapi gadis itu hanya meluncur kurang lebih dua meter dan melakukan hal yang mengejutkan.
Dia mencengkram batang pohon besar itu dengan tangannya dan merangkak turun seperti laba-laba.
Kami semua menganga melihat pemandangan itu.
Dewi terus merangkak turun dengan cepat dan melompat ke tanah dari jarak dua meter dan mendarat dengan tangan dan kakinya.
“Hihihihi….” tawa Dewi sembari berdiri goyah di depan kami.
“Dewi!!” teriak boy A sambil mendekati dan memegang lengan Dewi dan mengguncang-guncangkan gadis itu.
Aku melihat sesuatu keluar dari tubuh Dewi, seperti hewan melata yang menghilang dengan cepat di balik pohon.
“Hilang…” gumam Ayano yang berdiri di depanku.
“Apa?” tanyaku.
“Rasa ‘itu’ hilang….” kata Ayano. Yang dia maksudkan adalah perasaan dingin di tulang belakangnya setiap kali ada ‘mereka’ yang jahat di dekat kami.
“Ahh…” aku mendengar Dewi menggumam dan ambruk di pelukan boy A.
“Dewi!! Dewi!!” panggil kami, namun tubuh gadis itu tetap lunglai. Ayano menggandengku untuk maju mendekati tubuh gadis itu dan setelah dekat, ia berlutut di samping Dewi dan memegang pergelangan tangannya.
“Dia hanya pingsan… sepertinya” kata Ayano. “Tapi detaknya lemah dan tubuhnya sangat dingin…” tambahnya lagi.
Ayano mendongak untuk melihat kerumunan yang mengerubungi Dewi “Kita harus cepat bawa dia balik ke Villa” katanya.
Mendengar itu, boy A menggendong Dewi di punggungnya dan berkata “Ayo!!”.
Tidak ada seorangpun yang membantahnya dan kami semua mencari jalan keluar dari hutan itu. Beruntung sekali aplikasi kompas yang ada di handphone kami masih berjalan dengan baik sehingga tersasar adalah hal yang tidak terlalu kami khawatirkan.
Dan untungnya hal itu memang benar. Beberapa menit kemudian, tanpa kesulitan yang berarti kami berhasil mencapai di pinggiran hutan dan dapat melihat villa kami di kejauhan.
“Hei… ngomong-ngomong… Diana masih belum ketemu lho..” kata boy B mengingatkan kami.
Benar..
Kami terlalu sibuk mengejar Dewi sampai melupakan ada satu teman kami yang masih hilang.
“Untuk sementara kita harus hangatkan Dewi dulu, para cewek nanti bisa jagain Dewi sementara kita cari Diana” kata Ayano yang masih memelukku untuk melindungiku dari semak-semak tajam di jalan setapak hutan.
Seluruh kawanan kami mengangguk setuju. Terlalu lelah untuk berkomentar apapun.
Sebenarnya aku juga sudah terasa lelah. Kami bahkan belum makan siang. Perutku sudah mulai memberontak semenjak kami meninggalkan hutan dan menginjak padang rumput yang terawat di depan villa tempat kami menginap.
Kami mencapai villa tanpa gangguan apapun lagi, membaringkan Dewi dan menyelimutinya agar hangat. Kemudian Wati mengusulkan untuk membuat coklat panas untuk mengisi energi kami sementara. Cindy mengikutinya sementara aku terduduk di salah satu bangku karena kelelahan.
Para cowokpun tampak kelelahan. Ayano duduk tidak jauh dariku, sebelumnya dia mengatakan dilemanya untuk meninggalkan aku apabila dia akan mencari Diana dengan para cowok lain. Tapi dia juga mengatakan lebih banyak orang akan membantu dalam pencarian, apalagi hari semakin gelap dan akan semakin berbahaya.
Sedangkan aku dengan egois memintanya untuk tidak ikut.
Setelah hal yang terjadi hari ini, entah mengapa kejadian mengenai Robert yang ‘meninggal’ di hutan menggangguku. Dan aku memutuskan untuk mempercayai firasatku dan tidak memperbolehkan Ayano pergi.
Aku dan Ayano masih berbicara mengenai hal-hal yang terjadi hari ini. Semuanya terjadi begitu cepat dan membingungkan.
Pada saat itulah kami mendengar suara itu. Dari lantai dua.
‘tok…tok…tok….’
‘tok…tok…tok…’
Aku dan Ayano dengan cepat bangkit berdiri dan melihat ke arah lantai dua.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Pasti Ayano dan teman-teman yang lain juga begitu.
Aku melihat Diana….
Diana teman kami yang hilang.
Dan dia sedang berdiri di lantai dua dengan pandangan menyeringai yang sama seperti Dewi.
Setelah itu segala sesuatunya terjadi dengan sangat cepat…
Seiring dengan teriakan nyaring ‘KHIIIIIII!!!!’, Diana melompat dari lantai dua itu.
Menuju ke arahku….
Hal terakhir yang aku ingat adalah beban tubuh Diana yang menimpa tubuhku. Dan rasa sakit di belakang kepalaku.
Kemudian semuanya gelap….
Diubah oleh ayanokouji 22-10-2016 12:47
johny251976 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas