- Beranda
- Stories from the Heart
SAILENDRA TERAKHIR
...
TS
spv7hqfj
SAILENDRA TERAKHIR
WELCOME TO MY THREAD!

Setelah sekian lama disibukan oleh urusan perut dan segala urusan yang menyangkut "Tika", tiba-tiba saya ingin menulis lagi. Tetapi kali ini saya akan membuat cerita fiksi (fantasi). Jadi, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan
Buat yang ngarep di cerita ini ada sosok cewek cantik seksi bahenol, saya mohon maaf 😂😂😂😂😝 wkowko wkowko
Saya tunggu respon kalian 😂
Dan jangan lupa buat "Rate and Share" ya?
Matur Nuwun
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/5805e3b4507410f7208b4567/2/baS E N S O R--macan-kumbang-hitam"]BAB I - MACAN KUMBANG HITAM[/URL]
BAB II -RAMBUT MERAH DAN PUTIH
BAB III - SYLVIA KINANTHI
BAB IV - ORANG ANEH

Setelah sekian lama disibukan oleh urusan perut dan segala urusan yang menyangkut "Tika", tiba-tiba saya ingin menulis lagi. Tetapi kali ini saya akan membuat cerita fiksi (fantasi). Jadi, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan

Buat yang ngarep di cerita ini ada sosok cewek cantik seksi bahenol, saya mohon maaf 😂😂😂😂😝 wkowko wkowko
Saya tunggu respon kalian 😂
Dan jangan lupa buat "Rate and Share" ya?

Matur Nuwun

Spoiler for Prolog:
Tahun 1401
Pemberontakan berkobar di wilayah Tiongkok yang dikuasai oleh Dinasti Tang. Berjuta-juta korban meninggal berjatuhan. Tak hanya di pihak kerajaan, tetapi juga warga sipil yang tidak berdosa dan tak tahu apa-apa. Dengan alasan untuk kedamaian, kedua belah pihak saling membunuh.
Sampai saat ini, sejarah tidak mengetahui, jauh di selatan Tiongkok, secara bersamaan telah terjadi juga Perang antara para Dheva. Negara Sakha yang menaruh benci yang amat dalam tidak tahan lagi untuk tidak menghancurkan Negara Jhiwa— akhirnya memulai perang. Di mulai dengan terbunuhnya Menteri Kerajaan Jhiwa yang paling di hormati, I Halu, lalu tewasnya ribuan pasukan dari pihak Sakha maupun Jhiwa. Sampai akhirnya, hanya tersisa beberapa keluarga dan petinggi kerajaan, kedua belah pihak sepakat untuk menyudahi permusuhan mereka dan mengadakan perjanjian damai. Tetapi, dibalik itu semua, ada dua Dheva yang mengorbankan nyawa untuk perdamaian yang mereka berdua harap akan Abadi. Satu diantaranya bernama, Sailendra, Raja Jhiwa II.
Pemberontakan berkobar di wilayah Tiongkok yang dikuasai oleh Dinasti Tang. Berjuta-juta korban meninggal berjatuhan. Tak hanya di pihak kerajaan, tetapi juga warga sipil yang tidak berdosa dan tak tahu apa-apa. Dengan alasan untuk kedamaian, kedua belah pihak saling membunuh.
Sampai saat ini, sejarah tidak mengetahui, jauh di selatan Tiongkok, secara bersamaan telah terjadi juga Perang antara para Dheva. Negara Sakha yang menaruh benci yang amat dalam tidak tahan lagi untuk tidak menghancurkan Negara Jhiwa— akhirnya memulai perang. Di mulai dengan terbunuhnya Menteri Kerajaan Jhiwa yang paling di hormati, I Halu, lalu tewasnya ribuan pasukan dari pihak Sakha maupun Jhiwa. Sampai akhirnya, hanya tersisa beberapa keluarga dan petinggi kerajaan, kedua belah pihak sepakat untuk menyudahi permusuhan mereka dan mengadakan perjanjian damai. Tetapi, dibalik itu semua, ada dua Dheva yang mengorbankan nyawa untuk perdamaian yang mereka berdua harap akan Abadi. Satu diantaranya bernama, Sailendra, Raja Jhiwa II.
Spoiler for INDEX:
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/5805e3b4507410f7208b4567/2/baS E N S O R--macan-kumbang-hitam"]BAB I - MACAN KUMBANG HITAM[/URL]
BAB II -RAMBUT MERAH DAN PUTIH
BAB III - SYLVIA KINANTHI
BAB IV - ORANG ANEH
Diubah oleh spv7hqfj 26-10-2016 14:14
anasabila memberi reputasi
1
4.9K
Kutip
31
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#19
BAB III - SYLVIA KINANTHI
Quote:
Kelas mendadak sunyi setelah Guru pertama mereka masuk. “Selamat pagi anak-anak?”“Selamat pagi Bu.” Semua murid serempak menjawab sapa dari wanita tua berpenampilan rapi—di depan mereka, terutama Ebi, yang penuh semangat berteriak hingga seluruh kelas memperhatikan dirinya.
“Semangat sekali ya pagi ini?” wanita tua tersebut melangkah, memandangi seluruh ruangan kelas, memandang para murid yang tampak antusias menghadapi pertemuan pertama mereka. “Perkenalkan, nama Ibu—Nur Khasani, kalian bisa memanggil saya Ibu Nur.”
“Nah, tampa banyak membuang waktu,” Ibu Nur melangkah menuju meja-nya, meletakkan tas-nya, dan duduk di kursi kayu jati yang sudah disediakan untuk para Guru yang mengajar,” Ibu akan panggil kalian satu persatu, sesuai nomor absen, yang di sebut harap kedepan dan memperkenalkan diri.” Ia tesenyum bahagia, memandang para murid.
“Ebi Ganesha.” Kata Ibu Nur keras.
Ebi menelan ludah,” apa aku tidak salah dengar, Galih? Oh Tuhan, baru kali ini—absen nomor satu.” Ia melangkah ragu kedepan, sedikit gugup.
“Nah, silahkan”
“Ehm.” Ebi berusaha menenangkan diri. Ia tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini, menjadi pusat perhatian banyak orang. Menarik nafas dalam—dan, “Na--Nama saya, Ebi Ganesha.” Beberapa murid terlihat berusaha menahan tawa, Ebi menoleh kearah wanita tua disampingnya. “Teruskan.."
“Emh, Na—nama panggilan saya, Ebi,” ia menghela nafas lagi,”terima kasih.”
Tepuk tangan meriah memenuhi seisi kelas, walaupun samara-samar terdengar bunyi “Huuu” entah darimana. Ibu Nur sudah melihat kembali daftar absen yang ia pegang.
“Fitri Lestari” Panggil Bu Nur.
Seorang siswi berbadan gemuk pendek dengan rambut poni-nya yang aneh—melangkah kedepan. “Nama saya Fitri Lestari, biasa dipanggil Fitri, terima kasih.” Tepuk tangan kembali terdengar.
Ibu Nur terdiam sejenak, melihat daftar absensi kelas, tatapan matanya kesana kemari memandangi murid-muridnya. “Galih Yudhistira.”
Seisi kelas tiba-tiba diam, semua menengok kearah Galih, seperti sudah tau siapa yang dimaksud oleh Ibu Nur.
Galih berdiri, melangkahkan kakinya perlahan menuju kedepan untuk memperkenalkan diri. Sayup-sayup terdengar bisik-bisik para murid yang dilewatinya. Lihat, dia anak aneh dari SMP-ku dulu—eh eh dia anak yang dulu masuk Tivi—oh Tuhan, dia benar-benar si rambut merah—Oh my God, aku suka dia, wajahnya imut—besok aku akan minta pindah ke kelas lain—mimpi buruk—bangunkan aku.
Galih tidak menanggapi perkataan para murid tentangnya, ia tetap berjalan kedepan. Ia berdiri, memandang sekeliling, tak dipungkiri lagi ia gugup. “Nama Saya Galih Yudhistira, bisa dipanggil--…” “ANAK YATIM!” teriak salah satu murid, diiringi tawa beberapa murid.
“DIAM!” Ibu Nur menampar meja,”siapa tadi yang bilang?” ia memelankan suaranya, tetapi nadanya seperti marah.
Tidak ada yang menjawab. Kelas hening. “Sekali-lagi ada yang berkata seperti itu, Ibu akan suruh dia berdiri di kelas sampai pelajaran selesai,” ia tersenyum kearah Galih,”silahkan duduk, Nak”
Setelah itu, satu-persatu murid maju kedepan untuk memperkenalkan diri, tetapi suasana menjadi lebih kaku. Sampai akhirnya Ibu Nur menyebut salah satu anak untuk maju memperkenalkan diri. “Sylvia Kinanthi.”
Seorang siswi melangkah kedepan, tubuhnya kurus langsing seperti anak perempuan seumurannya, hidungnya tidak terlalu mancung, matanya jernih membuat siapa saja yang menatapnya akan gugup. Dan, satu hal yang membuatnya berbeda, rambutnya berwarna putih perak. Ya, dia adalah si rambut putih perak.
“Nama saya Sylivia Kinanthi, bisa dipanggil—Sylvi, atau Via. Terima kasih.”
Rupanya Sylvia membuat suasana kembali mencair. Terdengar siulan dari para murid laki-laki, juga teriakan entah dari mana (“I Love you—jadian yuk?—nanti malam ada waktu tidak?—minta nomor Handphone-nya dong.”). Beberapa murid jadi tertawa mendengar godaan mereka.
Jam istirahat akhirnya datang, Galih dan Ebi berjalan menyusuri koridor hendak menuju kantin.
“Sialan, tadi ulah si baik Hanung. Ku tampar dia kalau tidak ada Ibu Nur.” Ebi geram.
“Sudah-sudah Ebi. Lupakan saja,” kata Galih yang sedang berjalan di koridor kelas bersama Ebi,”Nanti kita susun rencana untuk memberi dia kejutan.”
“I like it!” Emosi Ebi hilang, berubah menjadi semangat api yang berkobar.
“Emh, kau memperhatikan, Galih? Wanita tadi—tak melepas tatapannya—matanya—darimu.”
Bahu Galih terangkat,”ah, bukannya semua murid yang maju memperkenalkan diri juga ditatap olehnya?”
“Ish, tatapannya beda! Beda!” Ebi merasa ada yang aneh, sesekali sambil merogoh saku-nya,”tatapan waktu dia berdiri di depan memperkenalkan diri, dia melihatmu terus.”
“Ah, mabuk kamu, Ebi? Sudahlah lupakan! Aku ingin beli Siomay.”
“Ish, dasar keras kepala!” Ebi menggerutu tak jelas,”Eh, masih ada kan untuk traktir temanmu yang baik hati ini, Galih?”
--&@&--
Malam harinya, Galih sedang berada di kamarnya yang berukuran lima meter persegi. Ia tidak sendiri, bersama ketiga temannya yang tidur sekamar dengannya. Berisikan empat tempat tidur bertingkat dua, dan satu lemari besar berisi pakaian. Tidak ada tempat untuk menaruh buku. Semua buku pelajaran juga di taruh di lemari pakaian.
Temannya yang bertubuh kecil berambut keriting sedang duduk melamun dikasurnya,”Inikah yang dinamakan cinta?” ia menatap kearah jendela, tetapi tatapannya kosong jauh kedepan.
Ketiga teman sekamarnya menoleh, termasuk Galih. “Kumat lagi dia—selalu saja.” Kata anak jangkung bermata sipit.
“Siapa lagi yang kamu taksir, Ivan?” Ivan tidak menjawab. Ia tetap menikmati lamunan-nya.
“Akibat terlalu banyak makan mie instan,sepertinya.” Kata anak yang satu lagi. Semua tertawa.
Ivan melompat dari kasurnya, berlari kecil kearah temannya yang sipit. “ Rafael, kamu pernah punya pacar kan? Bagaimana caranya?” bibirnya terlalu dekat, membuat Rafael jijik.
“Najis, minggir! Atau ku pukul kau!” ujar Rafael marah. Ivan tidak merasa takut dengan ancaman temannya, ia kembali bertanya,”bagaimana?” sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Kembali ke kasur-mu, baru aku jawab,” Rafael berjalan menuju lemari pakaiannya, membuka, dan mengambil sesuatu,”Nih..” ia memberikan sebuah buku kepada Ivan.
Mata Ivan bersinar, seperti mendapatkan hadiah besar,”Seribu satu cara—mendapat—kekasih” Ivan berlari melompat dan memeluk Rafael,”Aku cinta kamu Yolanda, aku cinta kamu.”
Tangan Rafael mengepal,menjitak kepala Ivan,”minggir!”
Galih tertawa keras melihat tingkah laku teman-temannya.
--@&@--
Esoknya, saat istirahat, Galih dan Ebi sedang duduk di bangku kelasnya, membaca sebuah buku sambil makan siomay. Sepertinya, Galih serius sekali membaca bukunya sampai-sampai ‘khotbah’ Ebi tidak di dengar. Mereka tidak sendiri, ada beberapa anak yang memilih tetap di kelas daripada pergi keluar untuk sekedar membeli jajan.
“Galih, kapan kita beraksi?” Kata Ebi bersemangat, sambil mengunyah siomay-nya.
“Nanti dulu Bi, aku belum selesai membuatnya,” Kata Galih santai,” yang lebih penting lagi—baca ini,” ia menyodorkan bukunya kearah Ebi.
“Perang—Bubat?” tanya Ebi bingung,”apa menariknya?”
“Perang Bubat—atau lebih tepatnya Perang Buah Batu, aku sangat menyesal dengan tindakan Gadjah Mada—sangat menyesal, akibat perbuatannya masih terasa sampai sekarang.”
“Bukankah Gadjah Mada itu pahlawan ya? Dengan sumpah palapa-nya?” Ebi masih bingung,”apa yang beliau lakukan?”
“Haishh, baca dulu!” kata Galih, lalu merebut siomay milik Ebi.
“Galih! Itu punyaku!” terlambat, bulatan terakhir sudah masuk kedalam mulut Galih. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Saat jam istirahat kedua, Galih dan Ebi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Di sepanjang perjalanan, ada saja anak yang mengejek mereka. Anak aneh lah, yatim piatu lah, anak malang lah, dan lain-lain. Mungkin, semua anak yang mengejek akan dipukul
Oleh Ebi andai saja Galih tidak menahannya.
“Harusnya aku tonjok muka mereka biar tahu rasa!”
“Sudahlah Bi, tidak usah dipikirkan, toh kita tidak merasa hina?” kata Galih menghibur.
“Aku sudah tidak tahan, pasti ini ulah si baik Hanung sampai mereka ikut mengejek kita.”
“Yah—yah—mungkin, nanti kita balas oke?” Galih menghibut lagi.
Mereka sampai diperpustakaan, mengisi daftar kunjuungan, lalu langsung menuju lemari yang berisi banyak buku yang tertata rapi.
“Galih! Itu Sylivia!” bisik Ebi ketelinga Galih.
Galih menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Ebi. Ia melihat seorang siswi berrambut putih perak yang sedang berdiri diantara lemari buku yang berjejer, mencari sesuatu untuk dibaca. Ia adalah, Sylvia Kinanthi, orang yang dimaksud Ebi.
“Semangat sekali ya pagi ini?” wanita tua tersebut melangkah, memandangi seluruh ruangan kelas, memandang para murid yang tampak antusias menghadapi pertemuan pertama mereka. “Perkenalkan, nama Ibu—Nur Khasani, kalian bisa memanggil saya Ibu Nur.”
“Nah, tampa banyak membuang waktu,” Ibu Nur melangkah menuju meja-nya, meletakkan tas-nya, dan duduk di kursi kayu jati yang sudah disediakan untuk para Guru yang mengajar,” Ibu akan panggil kalian satu persatu, sesuai nomor absen, yang di sebut harap kedepan dan memperkenalkan diri.” Ia tesenyum bahagia, memandang para murid.
“Ebi Ganesha.” Kata Ibu Nur keras.
Ebi menelan ludah,” apa aku tidak salah dengar, Galih? Oh Tuhan, baru kali ini—absen nomor satu.” Ia melangkah ragu kedepan, sedikit gugup.
“Nah, silahkan”
“Ehm.” Ebi berusaha menenangkan diri. Ia tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini, menjadi pusat perhatian banyak orang. Menarik nafas dalam—dan, “Na--Nama saya, Ebi Ganesha.” Beberapa murid terlihat berusaha menahan tawa, Ebi menoleh kearah wanita tua disampingnya. “Teruskan.."
“Emh, Na—nama panggilan saya, Ebi,” ia menghela nafas lagi,”terima kasih.”
Tepuk tangan meriah memenuhi seisi kelas, walaupun samara-samar terdengar bunyi “Huuu” entah darimana. Ibu Nur sudah melihat kembali daftar absen yang ia pegang.
“Fitri Lestari” Panggil Bu Nur.
Seorang siswi berbadan gemuk pendek dengan rambut poni-nya yang aneh—melangkah kedepan. “Nama saya Fitri Lestari, biasa dipanggil Fitri, terima kasih.” Tepuk tangan kembali terdengar.
Ibu Nur terdiam sejenak, melihat daftar absensi kelas, tatapan matanya kesana kemari memandangi murid-muridnya. “Galih Yudhistira.”
Seisi kelas tiba-tiba diam, semua menengok kearah Galih, seperti sudah tau siapa yang dimaksud oleh Ibu Nur.
Galih berdiri, melangkahkan kakinya perlahan menuju kedepan untuk memperkenalkan diri. Sayup-sayup terdengar bisik-bisik para murid yang dilewatinya. Lihat, dia anak aneh dari SMP-ku dulu—eh eh dia anak yang dulu masuk Tivi—oh Tuhan, dia benar-benar si rambut merah—Oh my God, aku suka dia, wajahnya imut—besok aku akan minta pindah ke kelas lain—mimpi buruk—bangunkan aku.
Galih tidak menanggapi perkataan para murid tentangnya, ia tetap berjalan kedepan. Ia berdiri, memandang sekeliling, tak dipungkiri lagi ia gugup. “Nama Saya Galih Yudhistira, bisa dipanggil--…” “ANAK YATIM!” teriak salah satu murid, diiringi tawa beberapa murid.
“DIAM!” Ibu Nur menampar meja,”siapa tadi yang bilang?” ia memelankan suaranya, tetapi nadanya seperti marah.
Tidak ada yang menjawab. Kelas hening. “Sekali-lagi ada yang berkata seperti itu, Ibu akan suruh dia berdiri di kelas sampai pelajaran selesai,” ia tersenyum kearah Galih,”silahkan duduk, Nak”
Setelah itu, satu-persatu murid maju kedepan untuk memperkenalkan diri, tetapi suasana menjadi lebih kaku. Sampai akhirnya Ibu Nur menyebut salah satu anak untuk maju memperkenalkan diri. “Sylvia Kinanthi.”
Seorang siswi melangkah kedepan, tubuhnya kurus langsing seperti anak perempuan seumurannya, hidungnya tidak terlalu mancung, matanya jernih membuat siapa saja yang menatapnya akan gugup. Dan, satu hal yang membuatnya berbeda, rambutnya berwarna putih perak. Ya, dia adalah si rambut putih perak.
“Nama saya Sylivia Kinanthi, bisa dipanggil—Sylvi, atau Via. Terima kasih.”
Rupanya Sylvia membuat suasana kembali mencair. Terdengar siulan dari para murid laki-laki, juga teriakan entah dari mana (“I Love you—jadian yuk?—nanti malam ada waktu tidak?—minta nomor Handphone-nya dong.”). Beberapa murid jadi tertawa mendengar godaan mereka.
Jam istirahat akhirnya datang, Galih dan Ebi berjalan menyusuri koridor hendak menuju kantin.
“Sialan, tadi ulah si baik Hanung. Ku tampar dia kalau tidak ada Ibu Nur.” Ebi geram.
“Sudah-sudah Ebi. Lupakan saja,” kata Galih yang sedang berjalan di koridor kelas bersama Ebi,”Nanti kita susun rencana untuk memberi dia kejutan.”
“I like it!” Emosi Ebi hilang, berubah menjadi semangat api yang berkobar.
“Emh, kau memperhatikan, Galih? Wanita tadi—tak melepas tatapannya—matanya—darimu.”
Bahu Galih terangkat,”ah, bukannya semua murid yang maju memperkenalkan diri juga ditatap olehnya?”
“Ish, tatapannya beda! Beda!” Ebi merasa ada yang aneh, sesekali sambil merogoh saku-nya,”tatapan waktu dia berdiri di depan memperkenalkan diri, dia melihatmu terus.”
“Ah, mabuk kamu, Ebi? Sudahlah lupakan! Aku ingin beli Siomay.”
“Ish, dasar keras kepala!” Ebi menggerutu tak jelas,”Eh, masih ada kan untuk traktir temanmu yang baik hati ini, Galih?”
--&@&--
Malam harinya, Galih sedang berada di kamarnya yang berukuran lima meter persegi. Ia tidak sendiri, bersama ketiga temannya yang tidur sekamar dengannya. Berisikan empat tempat tidur bertingkat dua, dan satu lemari besar berisi pakaian. Tidak ada tempat untuk menaruh buku. Semua buku pelajaran juga di taruh di lemari pakaian.
Temannya yang bertubuh kecil berambut keriting sedang duduk melamun dikasurnya,”Inikah yang dinamakan cinta?” ia menatap kearah jendela, tetapi tatapannya kosong jauh kedepan.
Ketiga teman sekamarnya menoleh, termasuk Galih. “Kumat lagi dia—selalu saja.” Kata anak jangkung bermata sipit.
“Siapa lagi yang kamu taksir, Ivan?” Ivan tidak menjawab. Ia tetap menikmati lamunan-nya.
“Akibat terlalu banyak makan mie instan,sepertinya.” Kata anak yang satu lagi. Semua tertawa.
Ivan melompat dari kasurnya, berlari kecil kearah temannya yang sipit. “ Rafael, kamu pernah punya pacar kan? Bagaimana caranya?” bibirnya terlalu dekat, membuat Rafael jijik.
“Najis, minggir! Atau ku pukul kau!” ujar Rafael marah. Ivan tidak merasa takut dengan ancaman temannya, ia kembali bertanya,”bagaimana?” sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Kembali ke kasur-mu, baru aku jawab,” Rafael berjalan menuju lemari pakaiannya, membuka, dan mengambil sesuatu,”Nih..” ia memberikan sebuah buku kepada Ivan.
Mata Ivan bersinar, seperti mendapatkan hadiah besar,”Seribu satu cara—mendapat—kekasih” Ivan berlari melompat dan memeluk Rafael,”Aku cinta kamu Yolanda, aku cinta kamu.”
Tangan Rafael mengepal,menjitak kepala Ivan,”minggir!”
Galih tertawa keras melihat tingkah laku teman-temannya.
--@&@--
Esoknya, saat istirahat, Galih dan Ebi sedang duduk di bangku kelasnya, membaca sebuah buku sambil makan siomay. Sepertinya, Galih serius sekali membaca bukunya sampai-sampai ‘khotbah’ Ebi tidak di dengar. Mereka tidak sendiri, ada beberapa anak yang memilih tetap di kelas daripada pergi keluar untuk sekedar membeli jajan.
“Galih, kapan kita beraksi?” Kata Ebi bersemangat, sambil mengunyah siomay-nya.
“Nanti dulu Bi, aku belum selesai membuatnya,” Kata Galih santai,” yang lebih penting lagi—baca ini,” ia menyodorkan bukunya kearah Ebi.
“Perang—Bubat?” tanya Ebi bingung,”apa menariknya?”
“Perang Bubat—atau lebih tepatnya Perang Buah Batu, aku sangat menyesal dengan tindakan Gadjah Mada—sangat menyesal, akibat perbuatannya masih terasa sampai sekarang.”
“Bukankah Gadjah Mada itu pahlawan ya? Dengan sumpah palapa-nya?” Ebi masih bingung,”apa yang beliau lakukan?”
“Haishh, baca dulu!” kata Galih, lalu merebut siomay milik Ebi.
“Galih! Itu punyaku!” terlambat, bulatan terakhir sudah masuk kedalam mulut Galih. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Saat jam istirahat kedua, Galih dan Ebi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Di sepanjang perjalanan, ada saja anak yang mengejek mereka. Anak aneh lah, yatim piatu lah, anak malang lah, dan lain-lain. Mungkin, semua anak yang mengejek akan dipukul
Oleh Ebi andai saja Galih tidak menahannya.
“Harusnya aku tonjok muka mereka biar tahu rasa!”
“Sudahlah Bi, tidak usah dipikirkan, toh kita tidak merasa hina?” kata Galih menghibur.
“Aku sudah tidak tahan, pasti ini ulah si baik Hanung sampai mereka ikut mengejek kita.”
“Yah—yah—mungkin, nanti kita balas oke?” Galih menghibut lagi.
Mereka sampai diperpustakaan, mengisi daftar kunjuungan, lalu langsung menuju lemari yang berisi banyak buku yang tertata rapi.
“Galih! Itu Sylivia!” bisik Ebi ketelinga Galih.
Galih menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Ebi. Ia melihat seorang siswi berrambut putih perak yang sedang berdiri diantara lemari buku yang berjejer, mencari sesuatu untuk dibaca. Ia adalah, Sylvia Kinanthi, orang yang dimaksud Ebi.
Diubah oleh spv7hqfj 21-10-2016 17:06
0
Kutip
Balas