- Beranda
- Stories from the Heart
Cold Cold Ice Love
...
TS
rajifggwp
Cold Cold Ice Love

Intro :
Permisi Mimin, momod dan kaskuser sejagat raya, ane izin mau share cerita karena terinspirasi dari para sepuh2 sfth yang sering share ceritanya, jadi ane disini nubie yang ingin share cerita apa adanya, makasih
Spoiler for CCIL:
Spoiler for Index:
Diubah oleh rajifggwp 03-11-2016 11:53
anasabila memberi reputasi
1
60.2K
444
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rajifggwp
#199
Part 17
Bulan datang silih berganti, roda waktu terus berputar begitu juga dengan hari-hari gw di SMA yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Semester 1. Sekarang gw juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai "penjaga" seseorang ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah sampai dia pulang ke rumah dengan selamat, dengan upah yang lumayan uang kos dan kebutuhan sehari-hari gw tercukupi dan sisanya gw tabung untuk biaya kuliah kelak. Gw juga aktif melaporkan kepada bos gw segala kegiatan putri semata wayangnya Silvi, di sekolah serta di luarnya, dia juga tahu tentang hubungan anaknya yang sedang dekat dengan seorang lelaki di sekolah yang belakangan gw tahu namanya Adrian. Anaknya ganteng, postur tubuhnya tinggi dan atletis, dan pastinya anggota tim basket inti sekolah. Anak-anak mengira mereka pasangan yang klop pada umumnya yang satu cantik bak seorang Puteri dan yang satunya lagi tampan bak seorang Pangeran.
Hubungan mereka dari bulan ke bulan semakin lengket, Silvi tak malu lagi menggandeng Adrian di luar kelas walaupun sampai saat ini mereka HTS. Hubungan gw dengan Silvi juga terkesan datar-datar saja, ngobrol-ngobrol di kelas kadang dia curhat soal hubungannya dengan Adrian, sesekali dia mengajak gw ke kantin berdua tapi gw selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Bahkan pernah sekali dia curhat ke gw, dia merasa seperti ada yang mengawasinya walaupun dia gak tahu siapa tapi dia yakin seperti ada yang mengawasinya dari jauh. Gw sambil bercanda mengatakan"alah, mungkin jin kali juga naksir sama lo" sambil cengengesan. Gw merasa hati ini ditusuk perlahan-lahan dikala menyaksikan mereka dikejauhan berduaan bergandengan mesra, "beginilah cinta deritanya tiada akhir
"
Skip ke hari seminggu sebelum ujian semester 1, pagi hari itu gw datang agak cepat karena ingin menyelesaikan PR matematika di kelas karena malam sebelumnya gw ketiduran
, mana gurunya killer lagi, bisa-bisa dijemur gw kalo gak ngerjain. Sepuluh menit kemudian PR tinggal sisa 1 soal buat diselesaikan tiba-tiba ada yang menoyor kepala gw dengan buku tulis. PLETAK...PLETAK....
Gw pun buru-buru mengerjakan soal terakhir, baru saja selesai buku gw sudah ditarik Reza dengan semena-mena. Si cewek tomboy gila kelas kami. Ya, nama panjangnya Reza Oktavia, namanya mengandung unsur setengah cowok setengah cewek tak pelak sikapnya tomboy abis. Gw sering jadi korban bullying-nya karena gw yang "culun" ini selalu nurut perkataannya daripada gw digampar bolak-balik sama nih Singa mending gw nurut aja. Sebenarnya Reza ini cantik, banget malah. Sebelas dua belas sama Silvi cuman penampilannya tuh cowok abis, gelang hitam dengan hiasan besi putih melingkar di pergelangan tangannya, di lehernya juga terdapar kalung besi bulat melingkar ketat, rambutnya panjang selalu disanggul pendek, roknya pendek agak longgar, seragamnya ngepas membentuk bodynya yang gemulai, tak sedikit cowok keder mendekatinya tapi masih banyakan yang naksir sih
bahkan Joni Kakak kelas yang paling disegani di sekolah juga menaruh rasa padanya. Tomboy gini aja banyak yang naksir apalagi jadi cewek feminim, bakal jadi saingannya Silvi
.
Menurut sumber info dari intel gw Reza jago silat juga dan masih aktif latihan di salah satu padepokan tak jauh dari sekolah.
Setelah selesai menyalin bebas PR yang gw kerjakan dengan berdarah-darah(lebay) dia melempar buku gw begitu saja lalu kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah katapun, asli gw pengen lempar ke jendela nih cewek. Tak lama bel masuk berbunyi, gw lalu menyiapkan buku PR lalu membukanya ke halaman tugas yang gw kerjakan, mata gw tertuju ke sebuah tulisan asing di bawah jawaban soal terakhir,
Gw lalu melihat ke arah Reza dia melihat ke arah gw dengan senyum-senyum gak jelas sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya
. Istirahat pertama tiba Silvi langsung beranjak ke luar menemui "pangeran"nya setelah sedikit berbincang dengan gw, gw pun bersiap-sipa untuk mengikutinya. Tiba-tiba tangan gw ditarik dengan kasar oleh Reza
Gw pun langsung mengambil langkah seribu ke luar kelas terdengar suara maki-makian Reza sambil mengejar gw tapi kalah cepat, gw pun langsung menyisir area sekolah mencari keberadaan Silvi, sampai bel masuk gw tak kunjung menemukan keberadaannya. Gw berasumsi Silvi sudah di kelas, gw pun beranjak ke kelas, tapi yang gw dapati di bangku sebelah gw bukan Silvi melainkan Reza dengan tatapan buasnya seolah ingin menerkam gw, tak terdapat keberadaan Silvi di sana. Saat gw ingin keluar guru masuk ke kelas, alhasil gw pun pasrah dan kembali ke bangku, Reza terus menatap tajam ke arah gw sampi gw duduk di sebelahnya dan CIIIIIIT... sebuah cubitan keras mendarat di perut gw, gw hanya bisa mengaduh, sakitnya luar biasa mak
Satu jam berlalu Silvi tak kunjung menampakkan batang hidungnya, gw semakin kuatir dan gelisah gw gak bisa fokus lagi ke pelajaran, pikiran gw terus bertanya-tanya di mana Silvi sekarang, apa dia sengaja bolos buat nambah waktu mojok dengan Adrian, pikiran gw semakin ke mana-mana. Reza menyadari kegelisahan gw karena kesal dia lalu menendang tulang kering gw, Asyu sakit tenan, lagi-lagi gw hanya bisa mengaduh,
Gw pun kembali meringis karena kaki gw yang satu lagi disepak Reza dengan ujung sepatunya, Reza lalu tersenyum puas melihat gw menderita, sakit nih anak
.
Sampai bel pulang berbunyi Silvi tak kunjung masuk ke kelas, tasnya masih berada di lacinya, gw semakin gelisah, gw semakin kalut kalau-kalau Silvi berhasil diculik oleh komplotannya Bang Udin saat gw lengah tadi, gw harus bilang apa nih sama Papanya, bisa-bisa disunat gw
.
Tak lama murid-murid bergerombol berlari-lari heboh di luar kelas menuju ke suatu tempat, gw mendengar disela keheohan mereka menyebut Silvi, karena penasaran gw mengikuti kemana gerombol itu berkumpul. Ternyata mereka berkumpul di depan UKS, ramai sekali yang berdiri penasaran melihat ke dalam UKS. Gw berusaha menerobos sekumpulan siswa yang ramai tersebut sampai ke depan UKS.
Dari jendela depan gw bisa melihat dengan jelas, gw terhenyak melihat Silvi duduk dipinggir kasur sambil memegangi pipi mulusnya yang sedikit tergores dan berdarah, dan dia sedang diobati, gw lebih kaget melihat Adrian tim basket inti, mukanya lebam di sana-sini, hidungnya berdarah, kancing seragamnya banyak yang lepas, celana panjangnya sobek memperlihatkan kaki tingginya yang luka di sana-sini.
Silvi tampak menangis sambil ikut membantu mengobati luka memar Adrian yang lumayan parah, sejenak kemudian pihak guru memutuskan untuk membawa Adrian ke rumah sakit terdekat.
Hubungan mereka dari bulan ke bulan semakin lengket, Silvi tak malu lagi menggandeng Adrian di luar kelas walaupun sampai saat ini mereka HTS. Hubungan gw dengan Silvi juga terkesan datar-datar saja, ngobrol-ngobrol di kelas kadang dia curhat soal hubungannya dengan Adrian, sesekali dia mengajak gw ke kantin berdua tapi gw selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Bahkan pernah sekali dia curhat ke gw, dia merasa seperti ada yang mengawasinya walaupun dia gak tahu siapa tapi dia yakin seperti ada yang mengawasinya dari jauh. Gw sambil bercanda mengatakan"alah, mungkin jin kali juga naksir sama lo" sambil cengengesan. Gw merasa hati ini ditusuk perlahan-lahan dikala menyaksikan mereka dikejauhan berduaan bergandengan mesra, "beginilah cinta deritanya tiada akhir
"Skip ke hari seminggu sebelum ujian semester 1, pagi hari itu gw datang agak cepat karena ingin menyelesaikan PR matematika di kelas karena malam sebelumnya gw ketiduran
, mana gurunya killer lagi, bisa-bisa dijemur gw kalo gak ngerjain. Sepuluh menit kemudian PR tinggal sisa 1 soal buat diselesaikan tiba-tiba ada yang menoyor kepala gw dengan buku tulis. PLETAK...PLETAK.... Quote:
Gw pun buru-buru mengerjakan soal terakhir, baru saja selesai buku gw sudah ditarik Reza dengan semena-mena. Si cewek tomboy gila kelas kami. Ya, nama panjangnya Reza Oktavia, namanya mengandung unsur setengah cowok setengah cewek tak pelak sikapnya tomboy abis. Gw sering jadi korban bullying-nya karena gw yang "culun" ini selalu nurut perkataannya daripada gw digampar bolak-balik sama nih Singa mending gw nurut aja. Sebenarnya Reza ini cantik, banget malah. Sebelas dua belas sama Silvi cuman penampilannya tuh cowok abis, gelang hitam dengan hiasan besi putih melingkar di pergelangan tangannya, di lehernya juga terdapar kalung besi bulat melingkar ketat, rambutnya panjang selalu disanggul pendek, roknya pendek agak longgar, seragamnya ngepas membentuk bodynya yang gemulai, tak sedikit cowok keder mendekatinya tapi masih banyakan yang naksir sih
bahkan Joni Kakak kelas yang paling disegani di sekolah juga menaruh rasa padanya. Tomboy gini aja banyak yang naksir apalagi jadi cewek feminim, bakal jadi saingannya Silvi
.Menurut sumber info dari intel gw Reza jago silat juga dan masih aktif latihan di salah satu padepokan tak jauh dari sekolah.
Setelah selesai menyalin bebas PR yang gw kerjakan dengan berdarah-darah(lebay) dia melempar buku gw begitu saja lalu kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah katapun, asli gw pengen lempar ke jendela nih cewek. Tak lama bel masuk berbunyi, gw lalu menyiapkan buku PR lalu membukanya ke halaman tugas yang gw kerjakan, mata gw tertuju ke sebuah tulisan asing di bawah jawaban soal terakhir,
Quote:
Gw lalu melihat ke arah Reza dia melihat ke arah gw dengan senyum-senyum gak jelas sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya
. Istirahat pertama tiba Silvi langsung beranjak ke luar menemui "pangeran"nya setelah sedikit berbincang dengan gw, gw pun bersiap-sipa untuk mengikutinya. Tiba-tiba tangan gw ditarik dengan kasar oleh RezaQuote:
Gw pun langsung mengambil langkah seribu ke luar kelas terdengar suara maki-makian Reza sambil mengejar gw tapi kalah cepat, gw pun langsung menyisir area sekolah mencari keberadaan Silvi, sampai bel masuk gw tak kunjung menemukan keberadaannya. Gw berasumsi Silvi sudah di kelas, gw pun beranjak ke kelas, tapi yang gw dapati di bangku sebelah gw bukan Silvi melainkan Reza dengan tatapan buasnya seolah ingin menerkam gw, tak terdapat keberadaan Silvi di sana. Saat gw ingin keluar guru masuk ke kelas, alhasil gw pun pasrah dan kembali ke bangku, Reza terus menatap tajam ke arah gw sampi gw duduk di sebelahnya dan CIIIIIIT... sebuah cubitan keras mendarat di perut gw, gw hanya bisa mengaduh, sakitnya luar biasa mak

Satu jam berlalu Silvi tak kunjung menampakkan batang hidungnya, gw semakin kuatir dan gelisah gw gak bisa fokus lagi ke pelajaran, pikiran gw terus bertanya-tanya di mana Silvi sekarang, apa dia sengaja bolos buat nambah waktu mojok dengan Adrian, pikiran gw semakin ke mana-mana. Reza menyadari kegelisahan gw karena kesal dia lalu menendang tulang kering gw, Asyu sakit tenan, lagi-lagi gw hanya bisa mengaduh,
Quote:
Gw pun kembali meringis karena kaki gw yang satu lagi disepak Reza dengan ujung sepatunya, Reza lalu tersenyum puas melihat gw menderita, sakit nih anak
.Sampai bel pulang berbunyi Silvi tak kunjung masuk ke kelas, tasnya masih berada di lacinya, gw semakin gelisah, gw semakin kalut kalau-kalau Silvi berhasil diculik oleh komplotannya Bang Udin saat gw lengah tadi, gw harus bilang apa nih sama Papanya, bisa-bisa disunat gw
.Tak lama murid-murid bergerombol berlari-lari heboh di luar kelas menuju ke suatu tempat, gw mendengar disela keheohan mereka menyebut Silvi, karena penasaran gw mengikuti kemana gerombol itu berkumpul. Ternyata mereka berkumpul di depan UKS, ramai sekali yang berdiri penasaran melihat ke dalam UKS. Gw berusaha menerobos sekumpulan siswa yang ramai tersebut sampai ke depan UKS.
Dari jendela depan gw bisa melihat dengan jelas, gw terhenyak melihat Silvi duduk dipinggir kasur sambil memegangi pipi mulusnya yang sedikit tergores dan berdarah, dan dia sedang diobati, gw lebih kaget melihat Adrian tim basket inti, mukanya lebam di sana-sini, hidungnya berdarah, kancing seragamnya banyak yang lepas, celana panjangnya sobek memperlihatkan kaki tingginya yang luka di sana-sini.
Silvi tampak menangis sambil ikut membantu mengobati luka memar Adrian yang lumayan parah, sejenak kemudian pihak guru memutuskan untuk membawa Adrian ke rumah sakit terdekat.
Quote:
Diubah oleh rajifggwp 21-10-2016 14:59
0
) kulit agak putih(mungkin karena jarang maen keluar
pokoknya lumayanlah katanya kalo gw sendiri mah biasa aja. Kalian pernah denger lagu "Kece"-bong gak. Nah, seperti itulah gw kece dari lahir apa adanya tapi sayang gw gak bisa mastiin apa emang gw kece semenjak lahir taunya pas SD
. Sejak SD gw suka tuh yang namanya silat karena Kakek gw nyatanya ahli bela diri pencak silat, gw belajar dari beliau sampai sekarang.
. Gw dari kecil tinggal di rumah sederhana bersama dengan nenek dan kakek dan paman yang masih zomblo padahal udah 30-an
) dan Ibu udah nikah lagi semenjak gw SD lalu pergi ninggalin gw dan tinggal dengan nenek-kakek
(bagi yang keluarganya masih utuh bersyukurlah kalian sebanyak mungkin, ok)
mau ceweknya para bidadari pun ane sekuatnya tahan dulu demi masa depan yang lebih cerah secerah mata hari
. Gw sih kalem aja liat tuh geng-geng. Gw liat beberapa anak cowok ngerubutin cewek"bidadari" Mingo, sekedar merayu atau cari perhatian, gw liat muka si mingo udah kusut.
"