- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1426
Part ini agak berat untuk aku tuliskan kembali karena banyak mengingatkanku pada hal-hal yang tidak ingin kuingat. Tapi ya sudahlah, itu hal yang sudah lewat.
Part XXXIII
Aku masih menatap ke arah kamar Ayano ketika Cindy memanggilku dengan mengguncang-guncangkan tubuhku “Hei, Lisa, lu ngapain bengong gitu?”
“Eh? Ah… enggak apa kok…” jawabku. Sepertinya Cindy tidak menyadari sosok di dalam kamar Ayano itu.
“Nggak usah ngelihatin kamar Ayano begitu kali” godanya, kemudian dia mendekat ke untuk berbisik ke telingaku “nanti malam saja lu nyusup ke kamar Ayano, emang sengaja gua atur supaya lu orang berdua yang di atas” bisiknya.
Aku merasakan wajahku memanas dan menatap Cindy dengan pandangan tidak percaya, sedangkan gadis itu mengedipkan matanya sambil mengacungkan jempol padaku sambil tersenyum penuh arti.
“Haaah?” aku sedikit berteriak karena kaget mendengar kata-kata Cindy itu.
‘Bruk-bruk’
Ayano datang tergopoh-gopoh dari arah dapur “Kamu kenapa Lis?” tanyanya.
Aku buru-buru menggeleng “Nggak, nggak ada apa-apa kok, hanya mengobrol dengan Cindy” jawabku sebelum menatap Cindy dengan kesal “Apa-apaan yang kamu bilang?” desisku mengancam.
Cindy menunjukkan muka polosnya sambil pura-pura bingung.
“Aku.nggak.ada.hubungan.apa-apa.dengan.Ayano!!” desisku sambil melirik ke arah Ayano yang sudah menghilang dibalik tembok penghalang ruangan aula dengan dapur.
“Belum!!” jawab Cindy sembari kabur sambil tertawa-tawa genit.
Astaga… mengapa semua orang menyangka kalau kami ini pacaran. Pikirku.
(Well… jujur sih, waktu itu aku sama sekali belum melihat Ayano sebagai boyfriend material. Ayanopun begitu, awalnya dia hanya melihatku sebagai adik kecil yang harus dilindungi. Lagipula selera Ayano waktu itu hanyalah wanita yang terlihat anggun dan dewasa. Jelas bukan cewek galak dan anti dandan sepertiku. Mungkin gangguan dari ‘mereka’ yang terlalu sering membuat otaknya sedikit rusak sehingga saat ini benar-benar hanya fokus ke diriku. Yahh, aku tidak complain soal itu sih, malah mungkin bersyukur. Hahaha)
Aku masih merasakan wajahku masih panas karena komentar Cindy. Ada-ada saja, pikirku sambil mencoba menghilangkan pikiran kalau Ayano dan aku sampai berpacaran. Waktu itu aku berpikir kalau sepertinya aku akan lebih sering bertengkar daripada bermesraan dengannya. Hahahaha..
(Yeah… waktu membuktikan kalau aku salah…)
Butuh waktu semenit untuk menormalkan kembali wajahku.
Setelah merasa kalau wajahku sudah baik-baik saja, aku berjalan ke arah dapur untuk mencari Ayano dan memberitahukan kepadanya perihal sosok yang kulihat di dalam kamarnya.
Aku menemukan Ayano sedang tengah memasak bersama Diana dan Dewi. Pemandangan yang cukup unik sebenarnya. Karena Ayano sebagai lelaki malahan sedang memberikan petunjuk kepada dua gadis lainnya sedangkan dia sendiri berperan sebagai koki utama.
Dan waktu itu aku tidak menyadari kenapa aku merasa sedikit tidak menyukai pemandangan itu.
Meskipun begitu, aku tidak melakukan apapun untuk mengganggu mereka. Maksudku, aku hanya merasa tidak suka melihat pemandangan di depanku, tapi karena aku tidak punya cukup alasan untuk mengatakannya, aku memutuskan untuk tidak terlalu mengacuhkannya.
Ayano mendongak menatapku ketika menyadari aku sedang berdiri memperhatikan dia.
“Elisa?” panggilnya “Ada apa?”
“Nggak kok, baunya harum… jadi aku kemari” jawabku berbohong. Tentu saja, mana mungkin aku mengatakan tentang kemungkinan adanya ‘mereka’ ketika ada orang lain selain Ayano, aku dan Cindy.
Oh, aku melupakan satu orang lagi. Felix.
Dan Ayano terlalu mengenalku untuk percaya kebohonganku. Tentu saja.
Ayano memandang wajahku dan berkata tanpa suara “…’mereka’ ya?...” bisiknya tanpa suara.
Aku mengangguk.
Dia menengok ke kedua gadis di belakangnya dan berkata lagi padaku, tanpa suara “Ok.. sebentar ya…” bisiknya.
Kemudian dia berbalik dan mengatakan beberapa petunjuk cara untuk menyelesaikan masakan yang sedang mereka buat kemudian Ayano sendiri berjalan ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku membawanya pergi dari dapur untuk menghindari pembicaraan kami terdengar oleh yang lainnya.
Kemudian aku menceritakan hal-hal yang baru kualami, termasuk adanya sosok yang mengintip dari dalam kamar Ayano.
Ayano tampak berpikir sejenak, kemudian menatapku lurus-lurus “Sebenarnya… koko udah mencium bau wangi semenjak awal kita melangkah masuk” katanya.
“Bau wangi? Melati?” tanyaku.
Ayano menggeleng “Sepertinya bukan, tapi memang bau bunga sih. Koko enggak tau bau bunga apa ini.. baunya manis, tapi kalau dicium seperti… gimana ya, ada rasa kesepian? Kayak gitu deh pokoknya” jelas Ayano.
Aku menautkan alisku bingung, informasi yang baru kudapatkan dari Ayano ini membuatku agak takut.
Ayano sepertinya mengetahui itu, karena itu dia berbisik “Jangan takut, koko nggak ngerasakan ‘itu’ “ katanya.
‘Itu’ yang dimaksud oleh Ayano adalah perasaan dingin di tulang belakangnya setiap kali ada sesuatu yang cukup jahat dan kuat yang berada di dekat kami. Baru akhir-akhir ini saja dia bisa merasakan itu.
“Kalau kamu ragu, apa mau tanya Felix?” usul Ayano.
“Felix?” tanyaku kembali karena heran mendengar nama itu disebut oleh Ayano.
Ayano mengangkat bahunya “Entah deh, tapi sepertinya dia tahu banyak soal ‘mereka’ dan sepertinya cukup punya kemampuan untuk mengatasinya atau apalah” kata Ayano.
Seperti Robert, pikirku, dan lihat keadaan Robert waktu itu saat dia mencoba melawan sesuatu yang lebih dari kemampuannya.
Dan lihat nasibnya sekarang…. Pikirku lagi sambil merasa miris dengan nasib yang menimpa Robert.
Aku tidak mau hal itu terjadi pada Felix. Selain karena Cindy sepertinya benar-benar menyayangi cowok itu, juga karena aku tidak mau hal itu terjadi pada seseorang apabila aku bisa mencegahnya. Tidak perlu mengorbankan orang lain… pikirku.
“Tidak perlu” aku mengatakan maksudku pada Ayano.
Ayano menatapku dan berkata dengan senyuman menenangkan a-la dirinya “Kalau begitu semua akan baik-baik saja” katanya sambil menepuk kepalaku.
Aku baru saja hendak mengatakan ‘iya’ ketika gorden yang terpasang menutupi semua jendela villa ini berkibar seakan baru saja ada angin kencang yang meniupnya.
Dan tidak ada angina apapun yang kami rasakan. Padahal aku dan Ayano berdiri di tengah-tengah aula di depan pintu masuk yang terbuka sebelah.
Seperti biasa, Ayano langsung maju dan menyembunyikan tubuhku di balik punggungnya.
‘KRIEET..’
Pintu masuk villa yang hanya terbuka satu, perlahan-lahan menggeser menutup. Sangat pelan sampai akhirnya pintu itu menutup dengan bunyi ‘ceklek’ yang meyakinkan.
Tidak berhenti sampai di sana. Lampu chandelier besar yang menggantung megah di tengah-tengah ruangan aula dan lampu-lampu gantung dengan ukuran lebih kecil yang menggantung di sisi-sisi dinding sebagai sumber penerangan utama di aula ini berkedip-kedip.
“Apa?....” aku menggumam heran melihat kejadian ini.
Kemudian lampu chandelier itu beserta lampu-lampu gantung di sekelilingnya mati berbarengan. Untungnya hari masih siang, sehingga ruangan hanya menjadi redup karena masih ada sinar matahari dari luar yang menembus jendela-jendela kecil di bagian atas dinding aula yang tinggi.
‘tok..tok..tok…’
‘tok…tok…tok…’
Suara itu berasal dari lantai dua. Dengan cepat Ayano dan aku berbalik menatap ke arah suara itu.
Di lantai dua, pada ‘pagar’ railing pembatas yang terbuat dari kayu, terlihat sebuah sosok seakan seseorang sedang berdiri dengan menumpukan tangannya pada pagar kayu itu dan menatap ke arahku dan Ayano.
Aku tidak dapat melihat wajah dari sosok itu karena tidak adanya cahaya matahari yang jatuh ke lantai tersebut. Aku hanya melihat siluetnya.
Sosok itu masih mengetuk-ngetukkan jarinya pada pagar kayu itu sehingga masih membuat bunyi ‘tok…tok…tok….’ Berirama.
Ayano berdiri di antara diriku dan sosok itu.
Kami tetap pada posisi itu untuk beberapa menit sebelum Felix dan Cindy merangsek masuk ke dalam dengan separuh mendobrak pintu masuk aula.
“Elisa!! Ayano!!” teriak Cindy dengan panik seraya menghambur ke arahku dan memelukku.
“Lu nggak apa?” tanya Cindy padaku.
“Hah? Justru aku kira kamu yang kenapa-kenapa” jawabku heran “Kenapa lu? Ketakutan begitu?”.
Mulut Cindy membentuk huruf ‘O’, kemudian menjelaskan dengan cepat “Felix bilang dia ngerasa kalau lu ama Ayano dalam bahaya. Dia bilang ngerasa aura lu ama Ayano disekap ama aura lain yang lebih gelap”
Aku dan Ayano berpandangan.
“Kalian kenapa?” tanya Cindy heran.
Ayano menjawabnya “Sepertinya kami mengerti maksud kalian deh” kata Ayano. “Lis, kamu mau kan ceritain ke mereka dari awal?”
Dan aku melakukannya.
Cindy terlihat pucat sedangkan wajah Felix terlihat datar, tidak ada perubahan ekspresi berarti padanya.
Ayano juga menyadarinya “Lix… kayaknya lu udah tau yang diceritain Elisa?” tanyanya pada Felix.
Felix mengangguk dengan muram. “Iya, gua udah tau, gua bisa ‘lihat’ semuanya terjadi. Walopun kadang nggak jelas dan dalam bentuk aura”
“Aura?” tanyaku.
“Iya, aura..” Felix mengkonfirmasi “Jadi, dari aura kalian bisa…” “AHHHH!!!”
Penjelasan yang ingin dikatakan oleh Felix terpotong karena suara teriakan.
Dari arah dapur!!!
Ayano menatapku sejenak dan sesaat kemudian kami semua berlarian ke arah dapur.
Di dapur, kami melihat Diana sedang terduduk sambil menangis sedangkan Dewi bersandar pada nakas yang berada di sebelah kulkas.
Di tengah-tengah mereka, sebilah pisau dapur yang mengkilat menancap pada talenan kayu yang berada di tengah meja dapur. Tempat Ayano terakhir kalinya sedang membersihkan ikan saat aku datang tadi.
“Ada apa ini?” tanya Ayano.
Diana menatap kami semua, kemudian dengan cepat berdiri dan masuk.ke.dalam.pelukan.Ayano.
Sambil tetap terisak tentunya.
“Diana?” Ayano bertanya pada gadis yang tidak berhenti menangis di dadanya.
Kemudian, seorang gadis lagi, Dewi mendekati kami dengan wajah pucat dan berdiri di sisi agak.terlalu.dekat dengan Ayano.
“Apa yang terjadi Wi?” tanya Ayano lagi, kali ini kepada Dewi.
Kemudian Dewi menceritakan kalau mereka berdua sedang mempersiapkan piring untuk menyajikan makanan yang sudah selesai dimasak. Mereka berdua sedang berada di bawah lemari gantung yang berada tepat di atas talenan di mana pisau dapur itu menancap.
Dewi mengatakan kalau tiba-tiba pintu lemari atas itu terbuka ketika mereka menutup nakas yang berada tepat dibawahnya setelah selesai mengambil piring-piring plastik.
Diana merasa penasaran melihat pintu lemari gantung yang terbuka sendiri itu ketika tiba-tiba pisau dapur yang entah mengapa tersimpan di dalam lemari gantung itu meluncur dan menancap tepat di depan Diana.
Diana berteriak ketika pisau itu menancap tepat di depannya, dan kemudian terduduk menangis. Sedangkan Dewi sendiri merasa tubuhnya membeku dan lemas sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. Dan tidak lama kemudian, kami semua masuk.
Aku dan yang lainnya mendengar cerita Dewi dengan diam. Kemudian Ayano menyenggol sedikit tanganku dan berbisik “Lis… koko ngerasain ‘itu’ “ bisiknya.
“Ap….” Baru saja aku bermaksud bertanya ketika kami mendengar suara yang sangat kencang.
‘BRAKKK!!!!!’
Apa itu?
Kami semua tergopoh-gopoh kembali ke aura tengah sambil membawa Dewi yang masih pucat ketakutan dan Diana yang masih terisak dengan tangan.Ayano.di.bahunya.
Setibanya di Aula, suasana masih remang-remang dengan sedikit sinar matahari yang menembus jendela sebagai satu-satunya sumber cahaya.
Pintu masuk utama yang sebelumnya kami tinggalkan terbuka ketika berlari ke dapur kini terlihat menutup. Sebagai informasi saja, pintu kayu itu cukup besar dan berat. Sehingga kecil kemungkinan kalau pintu itu tertutup karena tertiup angin. Kecuali anginnya sebesar angin badai. Itupun cukup aneh karena pintu itu terbuka ke arah dalam, jadi butuh angin yang sangat kencang bertiup dari arah dalam ruangan ke luar, karena hanya dengan cara itulah baru bisa muncul kemungkinan pintu itu tertutup karena angin.
Kami semua berdiri terpaku menatap ke pintu besar yang tertutup itu. Satu-satunya suara keras yang memungkinkan adalah suara pintu itu terbanting menutup. Tapi bagaimana mungkin?
‘Krekk..Krekk…’
“Ahh!!” beberapa dari kami terkesiap melihat kenop pintu besar itu perlahan-lahan memutar.
‘Krieeett….’
Perlahan, sangat perlahan pintu besar itu bergeser terbuka dengan suara deritan pintu yang membuat bulu kuduk merinding.
Pintu itu bergeser terbuka hingga hampir sepertiganya dan berhenti total.
Tidak ada satupun dari kami yang berani bersuara. Sampai akhirnya Felix melangkah maju menuju ke pintu itu. Aku mendengar Felix menggumamkan sesuatu sembari mendekati pintu itu.
Felix memegang ujung daun pintu dengan sebelah tangannya dan menyentaknya terbuka.
Ketika pintu itu terbuka, aku merasakan angin kencang berhembus dari luar. Dan kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Angin yang kencang itu seakan meniup gorden yang terletak tepat di sebelah pintu sehingga tersibak sedikit.
Aku melihat sepintas sosok anak kecil yang bersembunyi di balik gorden itu. Dengan gorden panjang menutupi seluruh badannya sampai kaki. Kemudian ketika gorden itu menutup, aku masih melihat bentuk menggelembung dari gorden itu, seakan memang benar ada ‘sesuatu’ yang berada di baliknya.
Kemudian, bagian yang menggelembung itu bergeser perlahan, dan kemudian dengan cepat bergeser di sepanjang gorden itu seakan ‘sesuatu’ yang ada di belakang gorden itu sedang berlari memutari ruangan aula.
Aku mengikuti bagian yang menggelembung itu dengan kepalaku dan secara kebetulan memperhatikan kalau Ayano juga sedang mengikuti arah bagian menggelembung yang ‘berlari’ tersebut hingga menghilang tiba-tiba bertepatan dengan ujung dimana gorden itu berakhir.
“Apa itu…?” bisikku pada Ayano yang sedang melihat pada tempat yang sama sepertiku.
Kemudian Ayano yang sedang berada di depanku bergerak dengan sangat cepat, memegang bahuku dan mendorongku lembut hingga berada di belakangnya.
“Ko?” tanyaku bingung seraya dia menyembunyikan aku dengan tangannya di belakang punggungnya.
Aku menengadah untuk menatap wajahnya dan melihat ekspresinya yang menunjukkan roman yang hanya bisa kuartikan sebagai rasa was-was dan takut.
Aku mengintip dari bahu Ayano ke arah di mana Ayano sedang menatap.
Dan aku melihatnya, dan cukup yakin kalau itulah penyebab Ayano menempatkanku di belakangnya untuk melindungiku.
Aku melihat sosok seperti manusia dengan jubah compang-camping. Namun aku tidak bisa melihatnya dengan lebih jelas lagi. Sosok itu seakan tertutupi oleh asap berwarna hitam yang membuatku hanya bisa melihat siluetnya.
‘Srekk’
Felix dan Cindy juga beringsut mundur. Wajah Felix penuh dengan keringat yang hampir sebesar bulir-bulir jagung. Cindy sendiri terlihat pucat, mulutnya menganga karena ketakutan dan tidak bersuara ataupun berkomentar apapun.
“Felix..”
Aku mendengar Ayano bicara pelan pada Felix. Cowok yang dipanggil itu menengok, wajahnya sangat pucat dan penuh dengan keringat yang aku yakin adalah keringat dingin. “Lu tau apa itu?” tanya Ayano lagi pada cowok itu.
Felix menggeleng “Nggak tau… gua nggak bisa lihat wujudnya, Cuma bisa lihat Aura yang item banget..”
“… Sama…” Cindy berbisik dari sebelah Felix.
“Gua nggak bisa lihat… tapi gua ngerasain firasat buruk seakan gua udah deket sama ajal” kata Ayano.
Nafas mereka bertiga memburu, seakan sesuatu yang sedang berada di depan pintu itu membuat mereka sulit bernafas.
“Aku bisa melihatnya…” bisikku pelan.
Ayano menengok ke arahku, begitu pula dengan Felix dan Cindy.
“Kamu bisa lihat?” tanya Ayano.
“Nggak mungkin….” Bisik Felix.
Aku menatap ke sosok itu dan menggambarkan penampilannya dan wajah Felix terlihat membiru dan lebih pucat dari sebelumnya.
“Kamu kenapa?” Cindy bertanya pada pacarnya itu. Tapi Felix hanya menggeleng dan menjawab “Tidak apa”. Kami semua menatap Felix yang menghindari tatapan mata kami. Cowok ini menyembunyikan sesuatu. Itu perasaanku saat itu.
“Hei!!”
“!!!!”
Kami semua terkejut dengan suara panggilan itu dan dengan reflek menengok ke arah suara berasal. Pintu utama.
Dari luar, Wati dan kedua cowok yang ikut bersama kami (maaf aku tidak pernah ingat nama mereka berdua dan tidak pernah mencatatnya di Diaryku, sebut saja dia boy A dan boy B. Boy A adalah anggota penjelajah alam tulen, dengan badan jangkung dan berotot serta kulit coklat terbakar matahari. Sedangkan Boy B sedikit gemuk, dan belakangan diketahui kalau dia punya hobby yang sama dengan Ayano, yaitu memasak).
“Kalian ngapain nyambut kami?” tanya Wati lagi dengan riang.
Tidak ada.
Sosok itu sudah tidak ada. Kami semua celingukan satu sama lain karena bingung. “Sejak kapan?...” bisik Felix.
Mereka semua menatapku “Aku juga nggak lihat” kataku “Tadi aku lagi ngelihatin Felix”.
“HEII!! Kalian kok ditanyain diem sih?” Wati memanggil kami.
“Eh..ah…. umm… iya, kami lagi nungguin kalian, soalnya lama banget. Takut kalian khilaf” Ayano menjawab mereka dengan bercanda.
“Sembarangan!! Nggak lah ya!!” jawab Wati.
Aku dan Cindy memaksakan tertawa dengan gugup. Sementara Felix masih bermuram durja.
“Masakan udah kelar belum?” tanya Wati pada Ayano.
“Oh.. iya.. masakan…” Ayano memukul dahinya “Udah sih, tadi udah Dewi ama Diana beresin…….”
“Lho.. mana mereka?” Ayano bertanya, tidak ke siapapun sebenarnya. Lebih kepada diri sendiri.
“Siapa?” tanya Wati.
“Dewi dan Diana?”
Kedua gadis itu yang tadinya berada di belakang kami menghilang. Bahkan kami tidak tau semenjak kapan mereka pergi, atau kemana mereka pergi.
Atau jangan-jangan…..
Sorry bersambung lagi.. kepanjangan soalnya
Part XXXIII
Spoiler for :
Aku masih menatap ke arah kamar Ayano ketika Cindy memanggilku dengan mengguncang-guncangkan tubuhku “Hei, Lisa, lu ngapain bengong gitu?”
“Eh? Ah… enggak apa kok…” jawabku. Sepertinya Cindy tidak menyadari sosok di dalam kamar Ayano itu.
“Nggak usah ngelihatin kamar Ayano begitu kali” godanya, kemudian dia mendekat ke untuk berbisik ke telingaku “nanti malam saja lu nyusup ke kamar Ayano, emang sengaja gua atur supaya lu orang berdua yang di atas” bisiknya.
Aku merasakan wajahku memanas dan menatap Cindy dengan pandangan tidak percaya, sedangkan gadis itu mengedipkan matanya sambil mengacungkan jempol padaku sambil tersenyum penuh arti.
“Haaah?” aku sedikit berteriak karena kaget mendengar kata-kata Cindy itu.
‘Bruk-bruk’
Ayano datang tergopoh-gopoh dari arah dapur “Kamu kenapa Lis?” tanyanya.
Aku buru-buru menggeleng “Nggak, nggak ada apa-apa kok, hanya mengobrol dengan Cindy” jawabku sebelum menatap Cindy dengan kesal “Apa-apaan yang kamu bilang?” desisku mengancam.
Cindy menunjukkan muka polosnya sambil pura-pura bingung.
“Aku.nggak.ada.hubungan.apa-apa.dengan.Ayano!!” desisku sambil melirik ke arah Ayano yang sudah menghilang dibalik tembok penghalang ruangan aula dengan dapur.
“Belum!!” jawab Cindy sembari kabur sambil tertawa-tawa genit.
Astaga… mengapa semua orang menyangka kalau kami ini pacaran. Pikirku.
(Well… jujur sih, waktu itu aku sama sekali belum melihat Ayano sebagai boyfriend material. Ayanopun begitu, awalnya dia hanya melihatku sebagai adik kecil yang harus dilindungi. Lagipula selera Ayano waktu itu hanyalah wanita yang terlihat anggun dan dewasa. Jelas bukan cewek galak dan anti dandan sepertiku. Mungkin gangguan dari ‘mereka’ yang terlalu sering membuat otaknya sedikit rusak sehingga saat ini benar-benar hanya fokus ke diriku. Yahh, aku tidak complain soal itu sih, malah mungkin bersyukur. Hahaha)
Aku masih merasakan wajahku masih panas karena komentar Cindy. Ada-ada saja, pikirku sambil mencoba menghilangkan pikiran kalau Ayano dan aku sampai berpacaran. Waktu itu aku berpikir kalau sepertinya aku akan lebih sering bertengkar daripada bermesraan dengannya. Hahahaha..
(Yeah… waktu membuktikan kalau aku salah…)
Butuh waktu semenit untuk menormalkan kembali wajahku.
Setelah merasa kalau wajahku sudah baik-baik saja, aku berjalan ke arah dapur untuk mencari Ayano dan memberitahukan kepadanya perihal sosok yang kulihat di dalam kamarnya.
Aku menemukan Ayano sedang tengah memasak bersama Diana dan Dewi. Pemandangan yang cukup unik sebenarnya. Karena Ayano sebagai lelaki malahan sedang memberikan petunjuk kepada dua gadis lainnya sedangkan dia sendiri berperan sebagai koki utama.
Dan waktu itu aku tidak menyadari kenapa aku merasa sedikit tidak menyukai pemandangan itu.
Meskipun begitu, aku tidak melakukan apapun untuk mengganggu mereka. Maksudku, aku hanya merasa tidak suka melihat pemandangan di depanku, tapi karena aku tidak punya cukup alasan untuk mengatakannya, aku memutuskan untuk tidak terlalu mengacuhkannya.
Ayano mendongak menatapku ketika menyadari aku sedang berdiri memperhatikan dia.
“Elisa?” panggilnya “Ada apa?”
“Nggak kok, baunya harum… jadi aku kemari” jawabku berbohong. Tentu saja, mana mungkin aku mengatakan tentang kemungkinan adanya ‘mereka’ ketika ada orang lain selain Ayano, aku dan Cindy.
Oh, aku melupakan satu orang lagi. Felix.
Dan Ayano terlalu mengenalku untuk percaya kebohonganku. Tentu saja.
Ayano memandang wajahku dan berkata tanpa suara “…’mereka’ ya?...” bisiknya tanpa suara.
Aku mengangguk.
Dia menengok ke kedua gadis di belakangnya dan berkata lagi padaku, tanpa suara “Ok.. sebentar ya…” bisiknya.
Kemudian dia berbalik dan mengatakan beberapa petunjuk cara untuk menyelesaikan masakan yang sedang mereka buat kemudian Ayano sendiri berjalan ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku membawanya pergi dari dapur untuk menghindari pembicaraan kami terdengar oleh yang lainnya.
Kemudian aku menceritakan hal-hal yang baru kualami, termasuk adanya sosok yang mengintip dari dalam kamar Ayano.
Ayano tampak berpikir sejenak, kemudian menatapku lurus-lurus “Sebenarnya… koko udah mencium bau wangi semenjak awal kita melangkah masuk” katanya.
“Bau wangi? Melati?” tanyaku.
Ayano menggeleng “Sepertinya bukan, tapi memang bau bunga sih. Koko enggak tau bau bunga apa ini.. baunya manis, tapi kalau dicium seperti… gimana ya, ada rasa kesepian? Kayak gitu deh pokoknya” jelas Ayano.
Aku menautkan alisku bingung, informasi yang baru kudapatkan dari Ayano ini membuatku agak takut.
Ayano sepertinya mengetahui itu, karena itu dia berbisik “Jangan takut, koko nggak ngerasakan ‘itu’ “ katanya.
‘Itu’ yang dimaksud oleh Ayano adalah perasaan dingin di tulang belakangnya setiap kali ada sesuatu yang cukup jahat dan kuat yang berada di dekat kami. Baru akhir-akhir ini saja dia bisa merasakan itu.
“Kalau kamu ragu, apa mau tanya Felix?” usul Ayano.
“Felix?” tanyaku kembali karena heran mendengar nama itu disebut oleh Ayano.
Ayano mengangkat bahunya “Entah deh, tapi sepertinya dia tahu banyak soal ‘mereka’ dan sepertinya cukup punya kemampuan untuk mengatasinya atau apalah” kata Ayano.
Seperti Robert, pikirku, dan lihat keadaan Robert waktu itu saat dia mencoba melawan sesuatu yang lebih dari kemampuannya.
Dan lihat nasibnya sekarang…. Pikirku lagi sambil merasa miris dengan nasib yang menimpa Robert.
Aku tidak mau hal itu terjadi pada Felix. Selain karena Cindy sepertinya benar-benar menyayangi cowok itu, juga karena aku tidak mau hal itu terjadi pada seseorang apabila aku bisa mencegahnya. Tidak perlu mengorbankan orang lain… pikirku.
“Tidak perlu” aku mengatakan maksudku pada Ayano.
Ayano menatapku dan berkata dengan senyuman menenangkan a-la dirinya “Kalau begitu semua akan baik-baik saja” katanya sambil menepuk kepalaku.
Aku baru saja hendak mengatakan ‘iya’ ketika gorden yang terpasang menutupi semua jendela villa ini berkibar seakan baru saja ada angin kencang yang meniupnya.
Dan tidak ada angina apapun yang kami rasakan. Padahal aku dan Ayano berdiri di tengah-tengah aula di depan pintu masuk yang terbuka sebelah.
Seperti biasa, Ayano langsung maju dan menyembunyikan tubuhku di balik punggungnya.
‘KRIEET..’
Pintu masuk villa yang hanya terbuka satu, perlahan-lahan menggeser menutup. Sangat pelan sampai akhirnya pintu itu menutup dengan bunyi ‘ceklek’ yang meyakinkan.
Tidak berhenti sampai di sana. Lampu chandelier besar yang menggantung megah di tengah-tengah ruangan aula dan lampu-lampu gantung dengan ukuran lebih kecil yang menggantung di sisi-sisi dinding sebagai sumber penerangan utama di aula ini berkedip-kedip.
“Apa?....” aku menggumam heran melihat kejadian ini.
Kemudian lampu chandelier itu beserta lampu-lampu gantung di sekelilingnya mati berbarengan. Untungnya hari masih siang, sehingga ruangan hanya menjadi redup karena masih ada sinar matahari dari luar yang menembus jendela-jendela kecil di bagian atas dinding aula yang tinggi.
‘tok..tok..tok…’
‘tok…tok…tok…’
Suara itu berasal dari lantai dua. Dengan cepat Ayano dan aku berbalik menatap ke arah suara itu.
Di lantai dua, pada ‘pagar’ railing pembatas yang terbuat dari kayu, terlihat sebuah sosok seakan seseorang sedang berdiri dengan menumpukan tangannya pada pagar kayu itu dan menatap ke arahku dan Ayano.
Aku tidak dapat melihat wajah dari sosok itu karena tidak adanya cahaya matahari yang jatuh ke lantai tersebut. Aku hanya melihat siluetnya.
Sosok itu masih mengetuk-ngetukkan jarinya pada pagar kayu itu sehingga masih membuat bunyi ‘tok…tok…tok….’ Berirama.
Ayano berdiri di antara diriku dan sosok itu.
Kami tetap pada posisi itu untuk beberapa menit sebelum Felix dan Cindy merangsek masuk ke dalam dengan separuh mendobrak pintu masuk aula.
“Elisa!! Ayano!!” teriak Cindy dengan panik seraya menghambur ke arahku dan memelukku.
“Lu nggak apa?” tanya Cindy padaku.
“Hah? Justru aku kira kamu yang kenapa-kenapa” jawabku heran “Kenapa lu? Ketakutan begitu?”.
Mulut Cindy membentuk huruf ‘O’, kemudian menjelaskan dengan cepat “Felix bilang dia ngerasa kalau lu ama Ayano dalam bahaya. Dia bilang ngerasa aura lu ama Ayano disekap ama aura lain yang lebih gelap”
Aku dan Ayano berpandangan.
“Kalian kenapa?” tanya Cindy heran.
Ayano menjawabnya “Sepertinya kami mengerti maksud kalian deh” kata Ayano. “Lis, kamu mau kan ceritain ke mereka dari awal?”
Dan aku melakukannya.
Cindy terlihat pucat sedangkan wajah Felix terlihat datar, tidak ada perubahan ekspresi berarti padanya.
Ayano juga menyadarinya “Lix… kayaknya lu udah tau yang diceritain Elisa?” tanyanya pada Felix.
Felix mengangguk dengan muram. “Iya, gua udah tau, gua bisa ‘lihat’ semuanya terjadi. Walopun kadang nggak jelas dan dalam bentuk aura”
“Aura?” tanyaku.
“Iya, aura..” Felix mengkonfirmasi “Jadi, dari aura kalian bisa…” “AHHHH!!!”
Penjelasan yang ingin dikatakan oleh Felix terpotong karena suara teriakan.
Dari arah dapur!!!
Ayano menatapku sejenak dan sesaat kemudian kami semua berlarian ke arah dapur.
Di dapur, kami melihat Diana sedang terduduk sambil menangis sedangkan Dewi bersandar pada nakas yang berada di sebelah kulkas.
Di tengah-tengah mereka, sebilah pisau dapur yang mengkilat menancap pada talenan kayu yang berada di tengah meja dapur. Tempat Ayano terakhir kalinya sedang membersihkan ikan saat aku datang tadi.
“Ada apa ini?” tanya Ayano.
Diana menatap kami semua, kemudian dengan cepat berdiri dan masuk.ke.dalam.pelukan.Ayano.
Sambil tetap terisak tentunya.
“Diana?” Ayano bertanya pada gadis yang tidak berhenti menangis di dadanya.
Kemudian, seorang gadis lagi, Dewi mendekati kami dengan wajah pucat dan berdiri di sisi agak.terlalu.dekat dengan Ayano.
“Apa yang terjadi Wi?” tanya Ayano lagi, kali ini kepada Dewi.
Kemudian Dewi menceritakan kalau mereka berdua sedang mempersiapkan piring untuk menyajikan makanan yang sudah selesai dimasak. Mereka berdua sedang berada di bawah lemari gantung yang berada tepat di atas talenan di mana pisau dapur itu menancap.
Dewi mengatakan kalau tiba-tiba pintu lemari atas itu terbuka ketika mereka menutup nakas yang berada tepat dibawahnya setelah selesai mengambil piring-piring plastik.
Diana merasa penasaran melihat pintu lemari gantung yang terbuka sendiri itu ketika tiba-tiba pisau dapur yang entah mengapa tersimpan di dalam lemari gantung itu meluncur dan menancap tepat di depan Diana.
Diana berteriak ketika pisau itu menancap tepat di depannya, dan kemudian terduduk menangis. Sedangkan Dewi sendiri merasa tubuhnya membeku dan lemas sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. Dan tidak lama kemudian, kami semua masuk.
Aku dan yang lainnya mendengar cerita Dewi dengan diam. Kemudian Ayano menyenggol sedikit tanganku dan berbisik “Lis… koko ngerasain ‘itu’ “ bisiknya.
“Ap….” Baru saja aku bermaksud bertanya ketika kami mendengar suara yang sangat kencang.
‘BRAKKK!!!!!’
Apa itu?
Kami semua tergopoh-gopoh kembali ke aura tengah sambil membawa Dewi yang masih pucat ketakutan dan Diana yang masih terisak dengan tangan.Ayano.di.bahunya.
Setibanya di Aula, suasana masih remang-remang dengan sedikit sinar matahari yang menembus jendela sebagai satu-satunya sumber cahaya.
Pintu masuk utama yang sebelumnya kami tinggalkan terbuka ketika berlari ke dapur kini terlihat menutup. Sebagai informasi saja, pintu kayu itu cukup besar dan berat. Sehingga kecil kemungkinan kalau pintu itu tertutup karena tertiup angin. Kecuali anginnya sebesar angin badai. Itupun cukup aneh karena pintu itu terbuka ke arah dalam, jadi butuh angin yang sangat kencang bertiup dari arah dalam ruangan ke luar, karena hanya dengan cara itulah baru bisa muncul kemungkinan pintu itu tertutup karena angin.
Kami semua berdiri terpaku menatap ke pintu besar yang tertutup itu. Satu-satunya suara keras yang memungkinkan adalah suara pintu itu terbanting menutup. Tapi bagaimana mungkin?
‘Krekk..Krekk…’
“Ahh!!” beberapa dari kami terkesiap melihat kenop pintu besar itu perlahan-lahan memutar.
‘Krieeett….’
Perlahan, sangat perlahan pintu besar itu bergeser terbuka dengan suara deritan pintu yang membuat bulu kuduk merinding.
Pintu itu bergeser terbuka hingga hampir sepertiganya dan berhenti total.
Tidak ada satupun dari kami yang berani bersuara. Sampai akhirnya Felix melangkah maju menuju ke pintu itu. Aku mendengar Felix menggumamkan sesuatu sembari mendekati pintu itu.
Felix memegang ujung daun pintu dengan sebelah tangannya dan menyentaknya terbuka.
Ketika pintu itu terbuka, aku merasakan angin kencang berhembus dari luar. Dan kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Angin yang kencang itu seakan meniup gorden yang terletak tepat di sebelah pintu sehingga tersibak sedikit.
Aku melihat sepintas sosok anak kecil yang bersembunyi di balik gorden itu. Dengan gorden panjang menutupi seluruh badannya sampai kaki. Kemudian ketika gorden itu menutup, aku masih melihat bentuk menggelembung dari gorden itu, seakan memang benar ada ‘sesuatu’ yang berada di baliknya.
Kemudian, bagian yang menggelembung itu bergeser perlahan, dan kemudian dengan cepat bergeser di sepanjang gorden itu seakan ‘sesuatu’ yang ada di belakang gorden itu sedang berlari memutari ruangan aula.
Aku mengikuti bagian yang menggelembung itu dengan kepalaku dan secara kebetulan memperhatikan kalau Ayano juga sedang mengikuti arah bagian menggelembung yang ‘berlari’ tersebut hingga menghilang tiba-tiba bertepatan dengan ujung dimana gorden itu berakhir.
“Apa itu…?” bisikku pada Ayano yang sedang melihat pada tempat yang sama sepertiku.
Kemudian Ayano yang sedang berada di depanku bergerak dengan sangat cepat, memegang bahuku dan mendorongku lembut hingga berada di belakangnya.
“Ko?” tanyaku bingung seraya dia menyembunyikan aku dengan tangannya di belakang punggungnya.
Aku menengadah untuk menatap wajahnya dan melihat ekspresinya yang menunjukkan roman yang hanya bisa kuartikan sebagai rasa was-was dan takut.
Aku mengintip dari bahu Ayano ke arah di mana Ayano sedang menatap.
Dan aku melihatnya, dan cukup yakin kalau itulah penyebab Ayano menempatkanku di belakangnya untuk melindungiku.
Aku melihat sosok seperti manusia dengan jubah compang-camping. Namun aku tidak bisa melihatnya dengan lebih jelas lagi. Sosok itu seakan tertutupi oleh asap berwarna hitam yang membuatku hanya bisa melihat siluetnya.
‘Srekk’
Felix dan Cindy juga beringsut mundur. Wajah Felix penuh dengan keringat yang hampir sebesar bulir-bulir jagung. Cindy sendiri terlihat pucat, mulutnya menganga karena ketakutan dan tidak bersuara ataupun berkomentar apapun.
“Felix..”
Aku mendengar Ayano bicara pelan pada Felix. Cowok yang dipanggil itu menengok, wajahnya sangat pucat dan penuh dengan keringat yang aku yakin adalah keringat dingin. “Lu tau apa itu?” tanya Ayano lagi pada cowok itu.
Felix menggeleng “Nggak tau… gua nggak bisa lihat wujudnya, Cuma bisa lihat Aura yang item banget..”
“… Sama…” Cindy berbisik dari sebelah Felix.
“Gua nggak bisa lihat… tapi gua ngerasain firasat buruk seakan gua udah deket sama ajal” kata Ayano.
Nafas mereka bertiga memburu, seakan sesuatu yang sedang berada di depan pintu itu membuat mereka sulit bernafas.
“Aku bisa melihatnya…” bisikku pelan.
Ayano menengok ke arahku, begitu pula dengan Felix dan Cindy.
“Kamu bisa lihat?” tanya Ayano.
“Nggak mungkin….” Bisik Felix.
Aku menatap ke sosok itu dan menggambarkan penampilannya dan wajah Felix terlihat membiru dan lebih pucat dari sebelumnya.
“Kamu kenapa?” Cindy bertanya pada pacarnya itu. Tapi Felix hanya menggeleng dan menjawab “Tidak apa”. Kami semua menatap Felix yang menghindari tatapan mata kami. Cowok ini menyembunyikan sesuatu. Itu perasaanku saat itu.
“Hei!!”
“!!!!”
Kami semua terkejut dengan suara panggilan itu dan dengan reflek menengok ke arah suara berasal. Pintu utama.
Dari luar, Wati dan kedua cowok yang ikut bersama kami (maaf aku tidak pernah ingat nama mereka berdua dan tidak pernah mencatatnya di Diaryku, sebut saja dia boy A dan boy B. Boy A adalah anggota penjelajah alam tulen, dengan badan jangkung dan berotot serta kulit coklat terbakar matahari. Sedangkan Boy B sedikit gemuk, dan belakangan diketahui kalau dia punya hobby yang sama dengan Ayano, yaitu memasak).
“Kalian ngapain nyambut kami?” tanya Wati lagi dengan riang.
Tidak ada.
Sosok itu sudah tidak ada. Kami semua celingukan satu sama lain karena bingung. “Sejak kapan?...” bisik Felix.
Mereka semua menatapku “Aku juga nggak lihat” kataku “Tadi aku lagi ngelihatin Felix”.
“HEII!! Kalian kok ditanyain diem sih?” Wati memanggil kami.
“Eh..ah…. umm… iya, kami lagi nungguin kalian, soalnya lama banget. Takut kalian khilaf” Ayano menjawab mereka dengan bercanda.
“Sembarangan!! Nggak lah ya!!” jawab Wati.
Aku dan Cindy memaksakan tertawa dengan gugup. Sementara Felix masih bermuram durja.
“Masakan udah kelar belum?” tanya Wati pada Ayano.
“Oh.. iya.. masakan…” Ayano memukul dahinya “Udah sih, tadi udah Dewi ama Diana beresin…….”
“Lho.. mana mereka?” Ayano bertanya, tidak ke siapapun sebenarnya. Lebih kepada diri sendiri.
“Siapa?” tanya Wati.
“Dewi dan Diana?”
Kedua gadis itu yang tadinya berada di belakang kami menghilang. Bahkan kami tidak tau semenjak kapan mereka pergi, atau kemana mereka pergi.
Atau jangan-jangan…..
Sorry bersambung lagi.. kepanjangan soalnya
johny251976 memberi reputasi
1
Kutip
Balas