Kumandang Adzan Isa' memecah obrolan² kami para pemuda yang sedang di emperan masjid, rokok kami buang dan menuju tempat Wudlu. Kali ini Pak N datang lebih awal, tumben sekali beliau ambil wudlu di Masjid, biasanya kan beliau Wudlu di rumah dan begitu beliau datang komat langsung berkumandang dari mu'adzin. Selesai bersuci, beliau duduk di depan mimbar, Saya dan teman² saya mengikuti Pak N serta duduk di belakangnya.
Di desa ini, Sholat Shubuh, Magrib, dan Isa' adalah jam penuhnya masjid, karena kebiasaan mereka inilah Masjid utama di desa saya selalu terpelihara, bahkan urusan non-agama juga dilakukan di dalam masjid.
Tidak sampai 5 menit Masjid utama sudah lumayan penuh, tidak kurang 5 shaf sudah ditempati para jama'ah Sholat Isa'. Pak N berdiri, melangkahkan kakinya kedepan, Qomat langsung berkumandang.
Kurang lebih 10 menit setelah ibadah Sholat Isa' ditunaikan, Para jama'ah berhamburan keluar masjid menuju rumah masing², wajar saja karena mereka akan menghadiri acara pernikahan saudara saya. Dari jauh sudah mulai terdengar suara pedagang kaki lima menjejalkan jajanannya. Hal yang sangat biasa di Desa, di mana ada resepsi pernikahan, terlebih ada panggungnya, di situlah pedagang kaki lima berkumpul layaknya pasar malam.
S, teman saya yang berketurunan Arab itu memandang seluruh atap rumah sejauh ia sanggup memandang, kadang dia melemparkan senyum kepada apa itu yang tidak bisa saya lihat. Dari Panggung, sudah terdengar alunan² lagu jawa sebagai acara penyambutan. Mobil dan motor memarkirkan di pinggir jalan, ada yang parkir hingga ujung desa saking penuhnya pendatang yang menghadiri acara pernikahan saudara saya tersebut.
Belum setengah jam acara dimulai petir besar memamerkan cahayanya serta diikuti teriakan benturan cahaya tersebut yang Cumiakkan telinga. Baru kali ini saya melihat petir menyambar pohon secara langsung, hingga pohon mahoni yang berada 10 meter dari acara resepsi tersebut terbelah menjadi dua.
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba² ada petir besar, pertanda apa ini pikirku. Anak² kecil yang ikut orang tuanya langsung bersembunyi dibawah pelukan bapak dan ibu nya.
Pak N, yang belum menampakkan dirinya dari acara dimulai, keluar dari rumah dengan pakaian putih, sorban putih, serta sarung tidak lupa tasbih melingkar di tangan kirinya. Saya dan S menganggukkan kepala ketika Pak N melewati kami berdua, beliau pun tersenyum kecil membalas sapaan kami.
Pak N : Hati², jangan pulang sebelum acara selesai."
Itulah kata² yang keluar dari beliau kepada kami, tanpa menjawab sepatah katapun S hanya menganggu yakin serta menatap tajam ke wajah Pak N.
Saya : "Emang ngopo sih? Ulo ne bakal balik meneh?" (Memangnya kenapa? Ularnya balik lagi?)
S : "Aku ora paham yow an, tapi nek enek bledek tanpo angin karo udan, kui tondone enek seng ora beres." (Aku nggak ngerti juga, tapi kalau ada petir yang datang tiba² itu adalah pertanda buruk.)
Benar saja, baru beberapa detik setelah petir tadi, Pak N langsung melangkah menuju tempat pohon yang terbelah 2 karena petir. S menarik tangan saya mengikuti Pak N, sampai di sana Pak N berdiri dan seperti tidak bergerak lagi. Om Rud tiba² juga datang dari arah yang berlawanan.
S : "Moto, geteh, mabur, lambene suwek, tangan e ireng." (Mata, darah, terbang, bibirnya sobek, tangannya hitam)
OM Rud : "Owalah, sampeyan bisa lihat hal begituan juga tho Dek?"
Saya menanggapi jawaban Om Rud dengan anggukan kepala mewakili S, karena sepertinya S sedang terpaku dengan apa yang dia lihat.
Om Rud menarik badan S mundur. Tiba² S seperti baru tersadar dari tidur.
S : "Woi, ngopo jee?" (Eh, ada apa)
Sambil menggeleng² kan kepala, S menjabarkan apa yang dia lihat.
S : "Ternyata kunt*lan*k kui koyo ngono rupane. Mangsane njaluk tulung." (Ternyata wajah Kunt*lan*k seperti itu, memangnya minta tolong.)
Maksud dari minta tolong ini apa batinku.
Om Rud : "Kui seng seko lemah abang kidul desone dewe, dek e bakal ngeramek e koyo ne." (Dia dateng dari desa tetangga, kemungkinan dia bakal ikut campur dalam masalah ini.)
Saya cuman terbengong aja waktu itu, bingung rasanya, apa maksud pembicaraan mereka berdua. Kemudian Pak N yang dari tadi terdiam terpaku melangkah menuju kami. Sambil memegang pundak S, beliau berkata seperti ini.
Pak N : "Kuatken hati, selalu isi pikiran dengan doa serta dzikir, bakat mu ora alami, tapi cekelan mu isa menyatu karo awak mu." (Kuatkan hati, selalu isi pikiran dengan doa serta dzikir, bakat yang kamu miliki tidak data secara alami, tapi jimatmu bisa menyatu dengan tubuh mu)
Mungkin maksud dari Pak N ke teman saya si S adalah sebenarnya S tidak memiliki kemampuan apapun dalam hal ghaib, melainkan karena S menyimpan jimat (besel) dari guru spiritual yang notabenenya juga adalah orang pintar (bukan dukun) sehingga S saat itu memiliki kemampuan untuk melihat hal ghaib.
SIDE: Barangkali ada pembaca yang mampu melihat hal ghaib tapi tidak kuat hatinya, kemungkinan besar dapat dirasuki atau dijadikan wadah untuk hal ghaib tersebut (copas dari Papah saya)
Saya dan S melangkah menuju keramaian lagi, S tertunduk seperti syok setelah melihat penampakan tadi. Sepertinya apa yang dia lihat benar² di luar akal sehat dia. Saya ajak S ke pedagang kaki lima yang jualan makanan ringan. Sampai pukul 21.00 S tidak menampakkan wajah syoknya lagi.
Tepat pukul 21.00, tiba² di parkiran sepeda motor terjadi kericuhan. Motor yang diparkir berjatuhan menyamping, hingga motor yang di sampingnya jatuh semua. Tidak ada angin juga saat itu, ternyata benar, Ular Raksasa tersebut mulai menunjukkan kekuatannya.
Saya disuruh S untuk masuk rumah bersama beberapa teman yang berada di dekat kami. Saya dan teman² saya yang tidak memiliki kemampuan melihat hal ghaib bertanya² mengapa kami disuruh masuk rumah oleh S, Om Rud dan Papah saya melangkahkan kakinya dengan cepat, bukan lari tapi berjalan cepat menuju parkiran motor yang di susul Pak N.
Dari kejauhan Saya melihat Pak N bersama Papah dan Om Rud menuju Sungai besar.
S : "Kui ulo ne digiring lagian." (Itu ularnya baru digiring kesungai)
Saya : "Owh, berarti motor e mau dimbruk ke Ulo ne mau?" (Berarti yang ngerubuhin ular tadi Ular Raksasa?)
S : "Ho oh, kui disenggol nganggo buntut e thok. Senggol menggot, hehe." (Iya, itu cuman disenggol dengan ekornya doank padahal.)
S mengatakan selama berada di dalam rumah, kita tidak akan diganggu oleh Ular Raksasa tersebut karena rumah di desa ini sudah dipagari semua oleh Pak N. Kedamaian rasanya belum mau menyelimuti malam ini ketika secara mendadak saya dan S melihat bola api dari jendela rumah yang sedang mengitari rumah saya.
Saya kira itu adalah anak² yang sedang bermain obor malam², tapi S mengatakan jangan mencari tau hal² yang tidak bisa dimenangkan ini, karena itu bukanlah bola api biasa atau obor melainkan Banaspati (CMIIW agak lupa juga sih namanya apa

).
S bergidik, mengajak pulang ke Solo saat itu juga. Tentu saja saya menolak ajakan S tersebut, mana mungkin kita bisa pulang dalam keadaan seperti ini, terlebih lagi mobil tempat kita parkir juga tidak bisa keluar dikarenakan ditutup oleh para pedagang kaki lima. Dia berkali² dzikir, terkadang membaca doa² dan surat pendek, saya yang awalnya tidak merasa takut sama sekali perlahan mulai bisa merasakannya ketakutan akan hal gaib tersebut

.
Tak sengaja Jimat yang disimpan S di dompetnya tiba² terjatuh, . . . .