JUWANDANA
part 11:
Quote:
Kali ini gerakan surobendo lebih cepat dari yang sebelumnya, walaupun penglihatannya buram dan nyaris buta, tapi tetap tidak mengganggu pergerakannya, cahaya merah yang tadinya hanya ada di kepalan tangan kini merambat hingga ke siku. Ajian gada yamadipati andalannya semakin bertambah kuat. Ajian ini akan semakin menguat seiring dengan naiknya amarah penggunanya, semakin marah maka semakin kuat dan sempurna pula ajian itu.
"Orang ini hebat sekali, walaupun sudah terkena ajian mendung peteng tapi tetap saja lincah pergerakannya, luar biasa", gumam jayasegara sedikit kagum. Jayasegara terus mengendalikan asap keluk geninya dengan mata tertutup.
Asap keluk geni kembali menyembur menyongsong surobendo yang maju menyerang, tetapi pemimpin rampok itu tidak menghindarinya. Ia malah menembus asap yang seolah ingin merenggut nyawanya. Hawa panas yang menyengat ia rasakan saat menembus asap yang menyembur itu.
Entah ajian apa yang digunakan surobendo sehingga ia mampu menahan panasnya keluk geni walaupun dibeberapa bagian tubuhnya terlihat melepuh. Biasanya, orang yang terkena ajian itu akan langsung mati terbakar hangus karena saking panasnya ajian keluk geni, mirip dengan panasnya awan panas dari gunung yang meletus.
Jayasegara terkejut menyadari ajian keluk geni buatannya mampu ditembus, ia langsung membuka mata. Tepat didepannya terlihat surobendo dengan tangan merahnya yang ternyata juga bisa menembus asap putih yang digunakan untuk pertahanan yang sedari tadi membungkus tubuhnya.
"Cepat sekali, aku tak bisa menghindar, sial!", geram jayasegara.
Dalam jarak yang sangat dekat, surobendo mengayunkan tangannya. Jayasegara bersiap menangkis dengan cara menyilangkan kedua tangannya kedepan. Jayasegara berharap ajian topeng wojo yang menempel ditubuhnya mampu melindunginya.
Hantaman tangan surobendo tepat mengenai tangan jayasegara yang disilangkan. Namun, hantaman surobendo kali ini sangat kuat layaknya sebuah gada raksasa yang memukul telak lawannya. Jayasegara pun terpental, ajian topeng wojo yang diandalkannya tak sepenuhnya mampu melindungi tubuhnya. Jayasegara merasa seperti dihantam oleh sebuah benda yang besar dan keras, ia merasa tubuhnya hampir hancur, dadanya terasa sesak. Murid kesayangan dang hyang kencono itu merasakan jantung dan paru-parunya nyeri seolah-olah tertusuk oleh sebuah pedang.
Serangan surobendo tak berhenti sampai disitu, karena entah bagaimana caranya surobendo tiba-tiba saja sudah berada dibelakang jayasegara yang terpental, gerakannya yang sangat cepat sulit untuk diikuti pandangan mata. Sadar akan musuhnya yang sudah berpindah tempat, jayasegara pun menoleh kebelakang.
"Gawat!", pekik jayasegara yang panik. Ia kemudian mempertebal ajian topeng wojo yang merupakan ajian kekebalan. Hanya itu saja yang bisa ia lakukan.
Jayasegara benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk menghindari, menangkis atau bahkan membalas, tubuhnya terasa sakit semua.
Surobendo yang sudah sangat bernafsu menghabisi lawannya kembali mengayunkan tangan kanannya yang diselimuti ajian gada yamadipati. Ia memukul bagian pelipis kiri jayasegara dengan sangat telak.
"Modar koe...!!!" (mati kamu), teriak surobendo seraya memukul telak kepala jayasegara.
"Aaakkkhh....!!!", jayasegara berteriak panjang, ia sangat kesakitan.
Ajian gada yamadipati memang sangat mematikan, sekali pukul bisa langsung membuat nyawa melayang.
Pemuda itu terpelanting untuk kemudian jatuh bergulung-gulung di tanah. Tapi, beruntung bagi jayasegara yang memiliki ajian topeng wojo yang mampu melindungi tubuhnya sehingga pukulan surobendo tidak langsung membuat tubuhnya hancur, tetapi tetap saja merasakan sakit luar biasa akibat dampak dari terkena ajian musuhnya. Badannya terasa seperti ditusuk oleh ratusan pedang. Tulang-tulangnya terasa remuk semua.
Dari mulutnya keluar banyak darah yang menandakan ia mengalami luka dalam yang sangat parah. Tubuhnya bergetar hebat, begitu sulit baginya untuk menguasai diri, jayasegara layaknya orang sekarat.
"Mati koe le!! modar tenan koe bajingan!" (mati kamu bocah, mati kamu bajingan), surobendo berteriak meluapkan kepuasannya.
Surobendo mendekati jayasegara, ditariknya baju bagian atas jayasegara.
"Koe mau nantang aku, nantang kadigdayan ku. Ayo tangio koe! tangi...!!" (kamu tadi menantangku, nantang kesaktianku, ayo bangunlah! bangun!), bentak surobendo.
Lagi-lagi surobendo mendaratkan pukulannya di wajah jayasegara. Darah segar mengucur dari hidung. Lalu tubuh lemah jayasegara diangkat dengan mudahnya oleh surobendo, kemudian dilempar dengan kasar. Jayasegara kembali jatuh bergulung-gulung. Terlihat sudah kebrutalan surobendo saat menghabisi musuhnya, segerombolan burung emprit yang sedari tadi melihat pergulatan dua manusia itu menjadi ngeri sendiri, sebagian dari mereka memilih pergi karena tidak kuat melihat pemandangan seperti itu.
"Koe udu tandinganku, modar koe saiki" (kamu bukan tandinganku, mati kamu sekarang), kata surobendo melanjutkan omongannya setelah melempar jayasegara.
Pimpinan rampok itu pun membalikkan badannya, surobendo yang merasa menang dan sudah cukup puas menghajar musuhnya berjalan menjauhi jayasegara yang ia pikir akan mati dengan sendirinya, kecuali dewa menurunkan keajaiban. Tapi, kemungkinan itu sangat kecil. Karena itulah ia meninggalkan jayasegara yang tergeletak dengan kondisi hampir mati. Sambil berjalan terhuyung-huyung karena merasakan pusing dan perih matanya akibat ajian mendung peteng yang mulai merembet ke otak dan beberapa luka bakar karena menembus asap keluk geni, ia memikirkan bagaimana caranya agar penglihatannya bisa normal kembali, tapi lagi-lagi ia malah mengeluarkan umpatannya.
"Diamputt...!! mataku malah picek siji, laknat!" (diamputt, mataku malah buta satu, laknat), surobendo kembali geram.
Mata kanan surobendo mendadak menjadi buta, mata yang tadinya buram terkena ajian aneh dari jayasegara itu kini kondisinya lebih parah, ajian mendung peteng perlahan mulai merusak matanya. Selain merusak mata, ajian yang diciptakan sendiri oleh jayasegara itu jika dibiarkan terus maka sanggup menyerang otak.
"Haaaaahhh....!!! iblis!!", surobendo berteriak keras menunjukkan kekesalannya. Ia yang berharap nantinya akan mengobati matanya agar kembali seperti semula malah mendapati kenyataan yang tak menyenangkan, mata kanannya malah menjadi buta, sedangkan sebelah kiri buram.
Kalau keadaan seperti itu tak berubah, selanjutnya surobendo hanya bisa mengandalkan mata hatinya untuk mengetahui keadaan sekitar, dan yang lebih parah, ia tak bisa melihat kemolekan tubuh wanita yang sering mengundang nafsunya.
Jayasegara benar-benar tidak berdaya, ia merasakan nyawanya seperti ingin loncat dari tubuhnya, tapi ia berusaha bertahan sekuat tenaga. Matanya menatap langit yang cerah kala itu, beberapa kali ia mengedipkan mata, penglihatannya berkunang-kunang. Kali ini ia benar-benar merasakan bagaimana susahnya mempertahankan selembar nyawa. Tenaganya nyaris tak bersisa. Asap keluk geni pun menghilang tak berbekas karena pengendalinya nyaris mati.
Apalagi sudah dua kali jayasegara menggunakan ajian mendung peteng, yang pertama ia gunakan untuk melawan anak buah surobendo yang mencegatnya di ujung pedukuhan, yang kedua ia gunakan untuk melawan si pimpinan rampok, surobendo. Ajian yang membuat orang menjadi buta itu ternyata menyedot tenaga yang tidak sedikit, karena memang dampaknya sangat berbahaya & ajian itu tak bisa diketahui kapan datangnya, lawan yang terkena ajian ini tiba-tiba seolah melihat awan gelap di atas kepalanya. Tenaga berkurang banyak dan dihajar musuh sampai tak berdaya, lengkap sudah.
Disaat seperti itulah jayasegara teringat akan paman dan bibinya yang jauh keberadaannya. Ingatannya kembali menjelajah masa lalu, dimana dua orang yang sangat ia sayangi dengan penuh kasih merawatnya. Ia ingat saat pertama kali dilatih oleh pamannya belajar ilmu kanuragan, hingga beberapa tahun kemudian ia dititipkan di padepokan gading wukir. Sang guru membimbingnya dengan sepenuh hati, hingga pada suatu hari sang guru berkata bahwa ilmu yang ia pelajari sudah cukup, tapi butuh disempurnakan.
"Pergilah ke hutan sironggono ngger", begitulah sabda dari sang guru, orang yang sangat ia hormati itu menyuruhnya untuk bertapa di sebuah hutan yang namanya sedikit aneh, sironggono. Hutan yang terkenal sangat angker dan banyak penghuninya, banyak cerita kelam didalamnya. Mulai saat itu juga ia melakukan perjalanan jauh mengemban sebuah tugas, yang walaupun pada dasarnya tugas itu berguna untuk kebaikan dirinya sendiri.
Perjalanan panjang mulai ditempuh, mulai dari meminjam kuda dari panji sawung pamannya, keluar masuk hutan, bertemu dengan ki buyut selangetan dan yang terakhir bertarung melawan rampok surobendo yang membuatnya babak belur.
"Aku masih ingin hidup, sabda dari bapa guru harus dilaksanakan, aku tidak mau bapa guru kecewa", ucap jayasegara dalam hati. Jayasegara berniat bangkit, ia tidak mau membuat gurunya yang selama ini sudah mengasuh dan mendidiknya menjadi kecewa. Dan yang tidak kalah penting, jayasegara ingin membalas surobendo.
Dang hyang kencono yang sedari tadi melihat pertarungan itu menjadi khawatir. Dalam benaknya muncul rasa takut kehilangan murid kesayangannya, namun ia segera membuang rasa takut dan khawatirnya itu. Sang guru menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Orang tua itu tak berniat menolong jayasegara, ia melihat muridnya itu masih bisa bangkit dengan sendirinya, ia sangat yakin. Dang hyang kencono yakin kalau jayasegara masih bisa bertahan karena ia tau kalau jayasegara adalah pemuda yang kuat, pemuda terkuat yang pernah ia jumpai.
Jayasegara mulai mencoba menggerakkan tangannya perlahan, ia sudah bulat tekadnya untuk mengalahkan surobendo. Ternyata hanya untuk membangunkan badannya, pemuda yang telah melakukan perjalanan jauh itu kesulitan. Tapi, ia tetap terus mencoba walaupun setiap kali menggerakkan bagian tubuhnya, ia merasa sakit yang luar biasa.
Berkali-kali ia terus mencoba untuk sekedar duduk, sakit yang dirasakan dicoba untuk ditahan. Hingga akhirnya setelah berjuang keras jayasegara berhasil duduk bersila, telapak tangannya mengatup rapat didepan dada.
Tindakan pertama yang diambil adalah meredam rasa sakit dan memulihkan keadaannya, sungguh luar biasa, dengan badan yang penuh luka dalam dan beberapa luka luar yang menyebabkan tubuhnya penuh darah, ia masih mampu mempertahankan nyawanya.
Dang hyang kencono tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan melihat muridnya yang luar biasa kuat daya tahan tubuhnya.
Dengan mata terpejam dan duduk bersila, jayasegara mulai menghimpun kekuatan yang sedikit demi sedikit dipulihkannya. Manakala kedua telapak tangannya dibuka, keponakan dari kebo mbranang itu mengeluarkan suara.
"Aaaaarrrgggghhh....!!", suara jayasegara tak terlalu keras tapi surobendo bisa mendengarnya.
"Wah edan, dancok! belum mati ternyata", surobendo terkejut bukan kepalang melihat musuhnya mampu bangkit. Ia juga bingung, bagaimana bisa orang yang sudah sekarat itu masih bisa bertahan. "Bagaimana bisa dia tidak mati, sial! seharusnya aku membunuhnya saja tadi!".
Sebuah penyesalan yang tiada gunanya. Sebuah kemungkinan kecil yang dibiarkan oleh surobendo kini menjadi masalah yang nampaknya akan kembali merepotkan. Tapi, dibalik amarahnya, pimpinan rampok itu menyimpan kekaguman kepada jayasegara.
"Tapi dia pemuda hebat, mungkin dialah lawan terkuat yang pernah aku hadapi, aku yakin dia masih punya ajian yang disimpan", kata surobendo dalam hati.
Diantara kedua telapak tangan jayasegara yang terbuka setelah tadinya terkatup itu terlihat satu titik cahaya berwarna biru, hanya kecil saja, sebesar biji kacang tanah.
Titik biru yang semula kecil itu perlahan-lahan membesar hingga sekepalan tangan. Nampak jelas wujudnya adalah sebuah bola api yang berwarna biru, menandakan api yang sangat panas.
Surobendo yang masih dihinggapi rasa pusing karena ajian mendung peteng yang mulai merambati otak kembali membangkitkan ilmu kesaktiannya. Tangannya kembali berwarna merah, tidak hanya yang sebelah kanan, tapi juga tangan sebelah kirinya.
Mata jayasegara terbuka, pandangannya tajam ke arah surobendo.
"Ini adalah ajian terakhir yang bisa aku gunakan menilik tenagaku yang tidak sempurna. Jika dengan ini tetap tidak berhasil maka matilah aku", ucap jayasegara dalam hati. "Lebur geni, aku mengandalkanmu".
Ia seperti berjudi, jika berhasil ia yang keluar sebagai pemenang, tapi jika kalah, maka nyawa melayang. Jayasegara benar-benar mengandalkan ajiannya kali ini.
Sebenarnya jayasegara ingin menggunakan salah satu ilmu yang diberikan gurunya, ilmu yang dimana hanya boleh digunakan saat terdesak, dang hyang kencono hanya mewariskan ilmu itu kepada murid pilihan, murid yang punya tubuh yang kuat, cerdas & watak yang baik. Baru tiga orang yang mewarisi ajian itu, mereka adalah mahapatih kebo mbranang, jayasegara dan seseorang yang bernama ronggo sabrang, tetapi ronggo sabrang sudah meninggal karena sakit.
Sayang sekali, tenaga jayasegara tidak memenuhi untuk membangkitkan ajian itu, bagaimana mau menggunakan ilmu itu jika hanya untuk berdiri saja ia kesulitan. Maka, dipilihlah ajian lebur geni sebagai ajian pamungkasnya (pamungkas = terakhir).
Bersamaan dengan menutup mata, bola api yang berwarna biru itu melesat cepat ke arah surobendo, dengan cepat pula surobendo membuat semacam rajah atau sejenis dinding yang tak tampak oleh mata untuk membentengi dirinya. Surobendo menamai ajian itu rajah kalacakra.
Rajah itupun membentuk persegi empat dan tinggi yang mengelilingi surobendo, ketika bola api dari ajian lebur bumi itu menabrak dinding tak kasat mata buatan surobendo, dentuman keras kembali terdengar. Saking kerasnya, kuda jayasegara yang ditambatkan di sebuah pohon bambu sampai terlonjak dan meringkik. Untung saja tali ikatannya cukup kuat sehingga tidak memungkinkan untuk lepas. Dang hyang kencono pun juga ikut melindungi kuda itu kalau-kalau terjadi sesuatu, menilik sang guru berada di atas pohon bambu yang digunakan untuk menambatkan kuda pinjaman itu.
Kedua orang yang sedang perang tanding itu saling menekan untuk mengalahkan lawannya. Karena gumpalan api lebur geni sangat kuat, maka hancurlah dinding pelindung milik surobendo.
Dengan cepat, surobendo menggeliat ke samping kanan untuk menghindar. Tapi ternyata gumpalan api yang dikendalikan jayasegara mampu mengejar musuhnya. Gumpalan api itu terus berusaha untuk menyentuh musuhnya. Surobendo pun menghindari dan terus menghindar. Sesekali ia mengeluarkan cahaya merah dari tangannya untuk menghancurkan gumpalan api itu, tapi ternyata tetap tidak hancur juga.
"Sialan, ajianku tidak mempan!", kata surobendo dengan nada kesal. "Akan aku coba menghentikannya dari jarak dekat".
Sebenarnya, jayasegara juga sudah hampir sampai pada batasnya. Tenaganya yang belum pulih seperti semula & ditambah dengan rasa sakit di badannya membuatnya lemah. Tapi ia masih tetap berusaha mengendalikan ajiannya.
"Gawat, aku sudah tidak bisa bertahan lagi", desis jayasegara. Tubuhnya yang penuh luka membuatnya merasakan sakit yang luar biasa dan sangat mengganggunya. Jayasegara sudah hampir menyerah.
Surobendo pun mencoba usaha terakhirnya, gumpalan api yang selalu mengejarnya kini berniat untuk dihentikannya. Saat gumpalan api itu datang, ia menjulurkan telapak tangan kanannya kedepan dan telapak kirinya menempel di belakang telapak kanannya. Dengan seluruh tenaganya, laju api itupun ditahan.
Gumpalan api yang berada di depan tangan surobendo berputar cepat berusaha menembus tekanan dari surobendo.
Agaknya upaya surobendo membuahkankan hasil, sedikit demi sedikit api itu pun padam dan berkurang hawa panasnya.
"Apa yang akan terjadi terjadilah, aku sudah sampai pada batasku, bila aku kalah aku tidak tau harus bagaimana lagi, dia benar-benar hebat", kata jayasegara sambil menahan rasa sakit. Sesekali bibirnya meringis dan mengeluarkan darah.
Manakala api lebur geni itu padam, yang tersisa hanyalah sebuah batu kali (sungai) yang berbentuk bundar dan terus berputar kencang, sesaat kemudian batu itupun meledak seiring dengan jayasegara yang badannya ambruk kedepan.
"Aaaakkkhhh....!!! Buajingaaannn....!!", surobendo berteriak kesakitan. Tubuhnya terhempas jauh, pakaian yang dikenakannya robek di beberapa bagian, bahkan ia sekarang bertelanjang dada. Beberapa bagian tubuhnya luka parah, terutama bagian tangan.
Surobendo merasakan badannya panas seperti dibakar, kulit tubuhnya menjadi kemerah-merahan. Ia pun menggeliat-geliat layaknya cacing yang kepanasan.
"Aduuuuuhhh...panas... arghh...panas...!!", surobendo terus berteriak-teriak dan meraung-raung kesakitan.
Jayasegara yang masih mempunyai sedikit kesadaran mendengar teriakan musuhnya.
"Apa lebur geni mengenainya? matikah ia?", tanya jayasegara pada diri sendiri, "sepertinya ia hanya kesakitan. Lebur geni tadi jauh dari kata sempurna". Sejenak kemudian jayasegara kehilangan kesadaran.
Ajian lebur geni sangat berbahaya, apabila dilepas biasanya meminta nyawa. Ajian ini adalah ciptaan jayasegara sendiri, dalam latihannya ia mencoba mengenai burung yang sedang terbang. Burung itupun dikejar menggunakan bola api sampai dapat.
Waktu terus bergulir. Bersamaan dengan datangnya sore yang menggantikan panasnya siang, jayasegara terbangun dari pingsannya, sementara surobendo masih terlihat menggeliat dan kepanasan walaupun ia sudah mulai bisa mengendalikan diri, tapi tetap saja sekujur tubuhnya masih terasa panas. Ia sangat tersiksa dengan keadaannya.
Jayasegara mencoba untuk berdiri, perlahan tapi pasti ia mampu berdiri tegak. Nampak di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang cukup parah, ia berjalan tertatih-tatih menuju surobendo. Pemuda yang akan bertapa di hutan sironggono itu sempat mengambil sebuah pisau kecil yang sebenarnya milik surobendo yang terjatuh. Saat sudah di dekat surobendo, jayasegara mengajak bicara.
"Surobendo, aku yang menang, sesuai dengan omonganku tadi, jika aku kalah maka aku akan mengabdi padamu. Tapi jika aku menang suka tidak suka kau harus turuti apa permintaanku", jayasegara berbicara dengan sedikit tersengal, pisau kecil temuannya ia tempelkan di leher surobendo.
bersambung... 