Pagi hari buta, saya mendengar suara orang ramai di depan rumah

. Papah saya ternyata sedang dicari banyak orang, dari suara tersebut, Om Rud juga ada disitu. Mereka berdiskusi mengenai untuk mengajak Pak N juga.
Saya yang masih merem melek mendengar ribut didepan terbangun dan menuju keluar. Listrik yang padam ini membuat penglihatan mata ku makin suram. Sambil meraba mencari pintu keluar dan menuju arah obor yang remang², saya dikagetkan dengan suara desisan ular dari arah samping kamar.
Sambil meraba kantong yang sepertinya berisi Hp, saya jalan maju, menyalakan layar HP saya untuk membantu menerangi jalan saya di rumah yang gelap gulita. Bukannya keluar menuju arah suara ramai tapi mencari sumber suara desisan ular dari kamar sebelah. Antara sadar dan tidak saya buka kamar almarhum Nenek saya, MasyaAllah, kaget bukan main, saya melihat Ular yang kira² besarnya sama dengan saya yang sedang berdiri

. Reflek saya lari kedepan tapi dicegah S.
Dia menggeleng-geleng kan kepalanya, dia melangkah ke kamar almarhum Nenek saya dan menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.
Kami kemudian berjalan keluar menuju keramaian barusan sambil menyalakan rokok. Saya melihat Papah saya sedang berdiri sambil merokok tanpa berkata² tapi lebih seperti sedang berpikir. Sedangkan penduduk desa yang lain seperti sedang ribut sendiri membicarakan mengenai pemagaran jembatan yang semalam terjadi kecelakaan.
S mengajak saya ke masjid yang diikuti oleh teman sebaya ku untuk sekedar duduk dihalaman masjid.
S: "Mau pada ikut saya? Mau lihat yang lebih besar?" (S menggunakan bahasa Indonesia karena bila menggunakan bahasa jawa seperti biasanya teman² kurang paham, karena bahasa Pekalongan setengahnya ngapag.)
Kami menganggukan kepala mengikuti S ke arah kebun belakang masjid, disitu ada anak sungai yang biasanya ada air dan selang warga tapi kali ini hanya hitam dan seperti becek.
S: "Nanti pagi kalian bandingkan dengan yang kalian lihat sekarang ini, apa yang ada di anak kali ini."
Saya manggut² saja dengan instruksi S. Kemudian tiba² Papah saya menghampiri kami untuk membubarkan kami. Disuruh pulang untuk melanjutkan tidur atau seenggaknya mengaji. Kalau saya pilih tidur, masih ngantuk, dengan udara sedingin ini, menyentuh air pun sungkan apalagi mengaji.
Sampai kamar saya langsung tidur seperti biasa, tapi S sepertinya sedang sholat malam atau apa lah saya tidak tau karena begitu memejamkan mata, saya langsung terlelap.
---------------------
Pukul 08.00 Hari minggu saya bangun dan mencuci muka, langsung setelah itu saya membuka kamar almarhum nenek saya, karena saya yakin tadi malam saya melihat ular besar berada disitu, namun kali ini tidak ada apa², hanya kamar kosong dengan lemari dan kasur kapuk yang baunya sangat pengap karena jarang dibuka kamar ini.
S yang sepertinya masih tertidur saya tinggal keluar dan menuju anak sungai untuk melihat apa yang terjadi.
Benar saja disana saya melihat 2 orang yang tadi pagi ikut kita melihat anak sungai tadi sedang mengecek apa yang terjadi dengan anak sungai tersebut.
Air mengalir dengan tenang seperti biasa meski begitu kita bisa melihat dasarnya karena jernih airnya, banyak selang dari para warga yang berada didasar anak sungai tersebut. Para warga disini menggunakan selang yang sangat panjang untuk mendapatkan air langsung dari mata air di desa ini. Terdapat lebih 4 mata air di desa saya.
Saya membatin, lantas tadi malam apa yang saya lihat, kenapa sekarang ada air dan selang nya?
Tanda tanya yang cukup besar memutari kepala saya. Saya langsung berlari menuju rumah untuk mencari informasi apa yang terjadi dengan anak sungai tadi kepada S.
Saya : "Cok ngocok, tangi, wes awan iki!" (bro bangun, sudah siang ini.)
S : "Hmmmmmm, . . .."
Wah susah ini, kayaknya sindrom hibernation nya uda aktif, terus saya ke dapur mencari makanan. Alhamdulillah ada
TAOTO, soto khas Pekalongan yang rasanya bener² ajib

, dengan daging kerbau yang entah bagaimana cara memasaknya menjadi benar² empuk.
Saya kipaskan aroma
TAOTO tersebut kehidung S. Untuk agan² silahkan banyangin orang tertidur kemudian mengendus aroma makanan, hidungnya kayak kucing, eh bukan, lebih cocok kayak berang²

, saking lucunya wajah innocent S, saya ngakak hingga kuah
TAOTO tersebut menetes di hidungnya dia yang langsung kaget dan melompat bangun.
Di jitak, di pelintir, dan di siksa saya waktu itu oleh S karena meneteskan kuah panas itu ke hidung S. Dia langsung lari kekamar mandi dan mencuci wajahnya dengan air.
Begitu selesai, dia ambil sendok dan makan makanan khas kota batik itu dengan wajah yang agak marah.
S : "Jing*n tenan kowe." (Brengsek kamu)
Saya : "Salah e ra tangi, aku ki meh takok, kali cilik kae kok bedo penampakan e karo ndek bengi?" (Makanya bangun, Saya ini mau tanyak mengenai anak sungai yang tadi malem kok berbeda isinya?)
S : "Oh kui, wes mak tiliki? Yo kui karepku, ndek bengi Ulo seng neng kamar sebelah mu kui asline udu Ulo sak awak e, tapi kur Ndas e thok, lha awak e kui seko kamar ngasi Kali gede wingi. (Oh itu, kamu sudah lihat? Semalem ular yang dikamar sebelah itu sebenernya baru kepalanya donk, nah badanya itu memanjang dari anak sungai kemarin sampai ke Sungai besar kemarin.)
Saya : "Weleh, tapi kok iso ndelok aku?" (Tapi kok saya bisa lihat hal begituan?"
S : "Mergo mahkota ne di gowo pak de ne seng ndek bengi ngobrol karo dek nen neng cedak sawah." (Kamu bisa lihat karena mahkotanya di bawa oleh Pak N).
S menjelaskan mengenai acara nanti malam akan banyak hal yang tidak beres terjadi. Dia yakin, nanti malam akan ada keributan besar setelah acara resepsi pernikahan mendekati selesai. Karena dari keterangan S, ular raksasa tadi mengerahkan segala kekuatannya untuk memporak porandakan desa saya hingga mahkota kembali serta tumbal yang dia ingini dia dapatkan.
Bahkan dia juga berkata kalau Papah saya sebenarnya sadar akan apa yang terjadi nanti, sepertinya semua rumah sudah dihuni oleh para makhluk gaib untuk menjaga dari segala kerusakan yang akan dilakukan oleh Ular tersebut.
Satu penjelasan yang benar² saya ingat dari S adalah Pak N memiliki banyak teman
(saya tidak mau menyebutnya peliharaan, karena peliharaan adalah dari Manusia untuk hewan, bukan Manusia untuk Jin atau sebangsanya) Dia memagari setiap rumah dengan meminta tolong teman²nya untuk berada didepan pintu rumah warga.
Tak beberapa lama kemudian Papah saya kembali dari sawah, terdengar deru sepeda motor dari arah depan rumah. S tersenyum menyapa ramah Papah saya, Papah saya pun membalas sapaan tadi dan masuk kedalam rumah membersihkan diri.
Pukul 13.00 Om Rud datang menghampiri Papah saya, mereka ngobrol diruang tamu. Kemudian tiba² Papah saya memanggil S, yah karena saya tidak dipanggil saya main PS aja. Kemudian mereka bertiga pergi keluar meninggalkan saya seorang diri dirumah.
Papah saya mengatakan mereka akan pergi dan pulang Magrib. Bosan pasti sendirian dirumah, kemudian saya iseng texting I untuk ketemuan, karena hari minggu saya yakin dia libur. Benar saja, I malah menelpon saya untuk mengajak ketemuan lagi dikosnya.
------------------------
13.45 saya tiba di kos I, saya parkir motor dan ketuk pintunya. Tidak berapa lama kemudian I keluar dengan dandanan yang rapi.
I : "A, temenin cari makan dulu yuk, kelaparan ini."
Saya :"Siap, kemana kita makan?"
I : "Itu depan aja, seberang jalan."
Kemudian kami berada di warung seberang jalan Kosan I, saya tidak makan waktu itu karena masih kenyang. Kami ngobrol ngalor ngidul di warung tersebut, tidak begitu lama, kira² 15 menitan saya dan I sudah kembali ke kos.
Saya : "Belum mandi ya?"
I : "Hehe, kan libur, mandinya ntar aja."
Saya : "Bauuuuuuuu I, sono mandi gih."
I : "Lagi males A, ntar deh mandinya."
Saya : "Mau gw mandiin?" (Kata saya sambil menyeringai seram)
I : "....." Berfikir lama kemudian
"Yuk ah, mandi bareng aja seru kayaknya."
Kami saling membasahi secara bergantian. Baru kali ini saya merasakan bagaimana nikmatnya mandi bersama. Sensasi yang benar² belum pernah saya rasakan ini sungguh membuat saya tidak kuat melihat tubuh I lagi.
Sampai disini saya sensor lagi.
Saya pulang pukul 18.30 ke rumah dari Kosan I. Masih hening keadaan desa, biasanya bila ada acara pernikahan mulai ramainya setelah Isa'. Banyak orang yang masih di masjid mengobrol dengan jama'ah lainnya, saya juga melihat S sedang ngobrol dengan orang desa lainnya, sepertinya mereka sudah mulai akrab.
Setelah mandi saya menyusul mereka ngobrol kesana kemari, hal² yang ringan saja sampai Isa' datang.