TS
whiteshark21
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh whiteshark21 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whiteshark21
#58
Chapter 1 - Main story
Index 14 - Reunion
***
Raka : "bangun,pemalas!"
Bagas : "hehh!?"
Karina : "bau parfum siapa ini? kamu habis pelukan sama perempuan lain yah!!?"
Bagas : "Karin? Raka?"
Arya : "....."
Bagas : "Jes? Arya?"
Jessica : "hallo"
Bagas : "damn! apa-apaan ini?"
Raka : "aku yang harusnya tanya"
Bagas : "ak-aku sudah mati?"
Arya : "mati karena satu peluru di dahi? yang benar saja"
Bagas : "tapi.. aku memang tertembak kan?"
Raka : "kamu patutnya mati karena komputermu meledak seperti di cerita-cerita fiksi"
Bagas : "ah,benar juga! aku ingat.. aku bertemu dengan mereka!"
Jessica : "...??"
Bagas : "orang-orang yang sudah menghabisi kalian dulu.. aku sudah bertemu mereka semua!"
Jessica : "lalu? kamu mati?"
Bagas : "..!!!"
Jessica : "apa gunanya berhasil mengetahui identitas mereka kalau kamu akhirnya mati?"
Arya : "kalau hanya itu,kami sudah terlebih dahulu mengalaminya"
Bagas : "ah- ahahahaa.. bener juga,kalian juga bertemu mereka dan kemudian mati,sialan.. ini kok jadi kayak lelucon"
Arya : "........"
Jaka : "ngga ada waktu buat becanda lagi! pakai otakmu dan cepet tangkap mereka!"
Bagas : "Hehh!!? Jaka? ngapain kamu juga di sini? apa kamu juga sudah mati?"
Jaka : "...??"
Bagas : "haaaahh.. jangan-jangan kamu ngelakuin percobaan belut itu lagi terus beneran mati sesuai omonganku!?"
Jaka : "brengsek,jangan mati sebelum bayar semua hutangmu! lagian siapa yang bilang aku sudah mati"
Bagas : "ah-hahahaa.. maaf soal hutangnya.. oh iya,aku janji menghubungimu kalau aku berhasil menguak identitas mereka yah"
Jaka : "...."
Bagas : "Wehh,mana HPku? hahaha.. kayaknya setelah mati semua aset duniamu bakalan hilang yah"
Christoper : "memalukan!"
Bagas : "Chris??? tunggu.. kenapa kalian semua ada di sini? aku kira aku sudah mati.. aku kira aku bisa bertemu kalian berempat karena alasan itu.."
Christoper : "then.. artinya kamu belum mati,payah!"
Bagas : "...!!?"
Andini : "ada senyawa kimia dan obat-obatan keras masuk ke otakmu.. merusak semua saraf otakmu di sana"
Bagas : "Andini? What the hell.. kalian semua di sini? Chika juga?"
Chika : "layaknya sebuah jaringan komputer,saraf di otakmu berhak mengatur apapun yang akan kamu rasakan"
Jessica : "semuanya.. penglihatan,pendengaran,penciuman,perasa,aliran darah,suhu badan,detak jantung,emosi,ingatan,rasional dan irasional"
Arya : "otakmu adalah Raja,dan tubuhmu secara keseluruhan adalah prajuritnya"
Karina : "seorang prajurit tak mempunyai hak untuk mengatur sang raja,itulah kenapa tidak satupun dari indramu akan menyangkal keputusan otakmu"
Bagas : "tunggu dulu! apa-apaan ini kalian berkumpul dan mengatakan hal-hal rumit seperti ini!?"
Cinta : "aawww~ lihat! temannya berusaha membantunya tapi dia bahkan terlalu bodoh untuk menerimanya"
Bagas : "!!!"
Radit : "otakmu adalah Raja.. raja tanpa prajurit yang mumpuni takan bisa menang dalam peperangan"
Bima : "hahaha.. mungkin aku perlu menembaknya sebanyak 20 kali seperti yang ku lakukan pada perempuan di sana"
Akbar : "baik fisik maupun psikismu keduanya adalah prajurit perang.. pasukan perang tanpa raja yang mampu memandunya juga takan bisa menang dalam peperangan"
Cinta : "ada lagi lho,kalau rajanya jatuh cinta sama ratu lain.. kamu tau? seorang raja akan tunduk pada sang ratu,so sweet~"
Karina : "apa yang kamu pikirin,hahh!? mau-maunya pelukan dengan perempuan kayak dia"
Denis : "mungkin aku harus menembakmu sekali lagi"
Bagas : "KALIAN NGOMONG NGGAK JELAS BERSAMAAN.. SIALAN!!"
.....
.....
....
...
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagas : "mereka menghilang?"
Bagas : { oke,aku mulai terbiasa sekarang.. jadi aku belum mati.. jangan bilang otakku juga punya RAM buat nyimpen hal semacam ini.. ini sih dunia lain namanya}
Bagas : "....."
Bagas : "Karin,keluarlah!"
Karina : "aku nggak bakal maafin kamu soal pelukan tadi,huhh"
Bagas : "kenapa? emangnya kita pacaran?"
Karina : "ihh.. kamu kan cuma suka aku"
Bagas : "denger.. apa yang barusan terjadi? kamu tau sesuatu?"
Karina : "pria itu nggak nembak kamu"
Bagas : "lalu?"
Jessica : "yang digunakannya bukan pistol sungguhan,perhatikan detailnya!"
Bagas : "mana aku tau..itu asli atau palsu.. aku bukan orang yang berpengalaman soal senjata api sepertimu"
Jessica : "pistol itu tidak berbahaya sama sekali,yang ia hasilkan hanyalah suara tembakan saja"
Bagas : "hanya suara?"
Karina : "ya! hanya suara saja.."
Bagas : "then kenapa aku tertembak? kenapa aku mati?"
Karina : "kamu ingat apa kata perempuan itu sebelumnya?"
Bagas : "satu tembakan di dahi sudah cukup,begitu kurang lebih"
Karina : "betul,ini akan jadi seperti lelucon anak kecil kalau kau tidak terbius sejak awal"
Raka : "kejadiannya hanya seorang perempuan memberitahumu kalau satu peluru ke kepala cukup untuk membunuhmu,lalu seorang dengan senjata mainannya berakting seakan menembak kepalamu"
Jessica : "itulah yang sebenarnya terjadi.. dan kalau hanya ini saja memang benar sangat konyol,seperti sebuah trik sulap yang gagal di depan seluruh penonoton"
Arya : "namun karena obatnya sudah bekerja mempengaruhi otakmu,caramu menanggapi respon akan berubah"
Bagas : "berubah?"
Arya : "layaknya pesulap yang memakai tangan kirinya untuk mengalihkan perhatianmu dari tangan kanannya"
Raka : "kamu mulai mengalami delusi"
Bagas : "..??"
Raka : "alternatif story you know? otakmu berhenti menanggapi semuanya secara normal.. fokusmu teralih pada hal yang mencolok"
Arya : "di samping itu detak jantungmu meningkat karena efek obat,rasa cemas dan rasa takut meningkat,tapi otakmu menolaknya"
Jessica : "otakmu akan bilang,apa yang sedang aku cemaskan? apa yang aku takutkan?"
Karina : "itu akan menguras energimu,menurunkan konsentrasimu"
Raka : "selama otakmu terus bertanya tentang semua itu,kamu mulai mengalami halusinasi"
Karina : "di sini otakmu sudah putus asa,semua hal lainnya mungkin berjalan lancar namun otakmu terus mencari satu potongan puzzle yang hilang ini"
Bagas : "oke,oke.. singkatnya saja! suatu obat membuatku berfikir kalau aku benar-benar mati tertembak begitu?"
Jessica : "tepat sekali"
Bagas : "obat apa? bagaimana itu masuk ke tubuhku?"
Jessica : "kamu cuma sudah terbiasa dengan itu,jadi kamu nggak menyadarinya"
Karina : "parfum,bodoh.. memangnya kamu pikir sudah berapa kali aku membuatmu tergila-gila hanya karena wangi parfum?"
Bagas : "haha,aku ingat.. tapi aku bahkan nggak waspada soal itu.. aneh"
Jessica : "bukan aneh,semua kejadian penembakan palsu itu sudah jelas.. sebuah trik anak kecil yang dipercayai oleh otakmu"
Raka : "ingat pesan Jessica.. jangan perhatikan orangnya tapi perhatikan apa yang dikatakannya"
Bagas : "hooh,aku masih ingat"
Jessica : "mereka sudah menuntunmu menuju kondisi terbaik untuk mengeksekusi aksi terakhirnya tadi"
Bagas : "lewat pembicaraan?"
Jessica : "yah! kamu terbawa oleh pembicaraan itu.. semuanya dilakukan untuk memanipulasi persepsimu.. emosimu"
Karina : "itu sugesti yang cukup ampuh"
Raka : "saat itu kamu dalam keadaan yang sangat siap menerima sugesti apapun dari luar"
Karina : "mata,telinga,hidung.. tiga itu yang sangat penting untuk kamu jaga"
Jessica : "apa yang kamu lihat,apa yang kamu dengar.. dua ini sejatinya sangat kuat untuk memanipulasi pikiranmu"
Bagas : "seperti kalau aku bilang Karina pendek lalu dia marah,begitu?"
Karina : "marah adalah hasil dari proses panjang di otakmu.. setidaknya dengan kamu bilang seperti barusan,kamu memberi sebuah bahan mentah untuk diolah"
Arya : "marah,senang,takut.. itu tergantung caramu mengurus bahan mentah itu"
Bagas : "ayolah.. aku tau kalian ahlinya,tapi bisa nggak langsung ke inti dan mudah dipahami?"
Raka : "mereka membentuk mental kalah dalam dirimu,seni mendominasi.."
Arya : "keluar dari tempat seperti ini gampangnya ampun-ampunan..logikamu belum bisa menerima kata-kata itu tapi otakmu memaksa untuk percaya"
Bagas : "si kepala cindung yang bilang seperti itu.. aku juga sempat memikirkan cara mereka masuk ke ruanganku,dan... tiba-tiba aku cuma mengakuinya begitu saja kalau mereka hebat"
Karina : "baru-baru ini otakmu kayaknya stres berat mikirin mereka.. ya kan?"
Bagas : "....."
Jessica : "baik dari penampilan dan perkataan,semuanya bertujuan untuk itu.. semua perhatianmu hanya tertuju pada mereka,siapa mereka? kamu bahkan belum tau"
Raka : "mereka memanfaatkan momen pertemuan pertama kalian sebagai senjata yang tepat untuk mendominasi... dengan sempurna"
Karina : "lalu sisanya adalah bagaimana obat bius itu masuk ke tubuhmu"
Arya : "sebagai dokter aku bisa saja menyuntikkan paksa ke tubuhmu"
Jessica : "dengan begitu obatnya akan masuk dan mencoba merusak otakmu.. tapi secara psikis kamu akan menolaknya"
Karina : "otakmu merespon masukan dari obat itu,tapi menerima masukan juga dari indra penglihatan dan indra perangsangmu"
Raka : "fakta kalau seorang menyuntikkan paksa padamu adalah suatu keadaan bahaya,otakmu akan merangsangnya sebagai ancaman"
Bagas : "hei,obat bius(drug) tidak peduli dengan keadaanmu kan? sekalinya itu masuk itu akan bekerja apapun yang terjadi"
Karina : "sayaaang,aku nggak sedang bicara soal drug biasa.. obat ini mengharuskan sinkronasi dengan kondisi mental korbannya.. ini bekerja secara dinamis sesuai tanggapan dari otakmu,jadi reaksi dari obat ini bahkan relatif berbeda setiap orangnya"
Jessica : "obat ini mungkin bentuk akhir dari yang Karina teliti sejauh ini"
Karina : "kamu ingat kan? aku bisa menyelipkan emosi melalui susunan senyawa kimia.. yah,aku percaya itu bukan pekerjaan manusia.. tapi singkatnya aku bisa menyelipkan sesuatu hal yang membuatmu merasa nyaman untuk merasa marah,atau merasa sedih,senang,takut,suka dan tidak suka,juga yang lainnya"
Bagas : "otak adalah raja,jadi kamu adalah ratunya?"
Karina : "yah,kalau kamu mau pakai perumpamaan milik perempuan itu juga boleh"
Bagas : "so.. memainkan emosi baru tahap awal,begitu?"
Karina : "aku berusaha mengembangkannya tapi belum pernah berhasil.. dan sekarang seorang di sana telah sampai pada tahap memainkan ilusi"
Bagas : "fatamorgana,begitu? seorang melihat batu seakan melihat kueh bolu?"
Karina : "mengertilah,Gas.. kalau itu cuma visual saja. tapi ini sudah melibatkan semua indra dan emosi.. yang terjadi padamu sudah setara dengan halusinasi,dan parahnya kamu sebagai pusat kendali akan halusinasi tersebut justru jatuh ke dalam kendali orang lain"
Bagas : "..??"
Jessica : "seorang membacakan kisah hantu padamu dan kau mulai menggambarkannya dengan imajinasimu.. sayangnya semua yang kamu bayangkan akan ditangkap oleh indramu sebagai kenyataan,sudah paham?"
Bagas : "yeah.. aku paham sih,tapi.."
Karina : "aneh kan? kamu pasti mikir begitu.."
Bagas : "hmm"
Karina : "aku dulu ngembangin ini buat tujuan pengobatan sih.."
Bagas : "...."
Karina : "nggak nyangka ide ini udah jatuh ke tangan yang salah"
Bagas : "hey! apa bisa aku merasa bertemu kalian lagi kalau saat penembakan itu otakku memikirkan kalian berempat?"
Karina : "maybee.. bisa,tapi nggak juga sih..faktanya kamu sudah setuju kalau kami udah meninggal,so itu beda dengan reaksi otakmu yang percaya kalau 1 peluru di kepala cukup untuk membunuhmu"
Bagas : "jadi maksudnya aku masih dalam kondisi sadar walau sudah terkena obat itu?"
Karina : "iyaa..selama otakmu mempercayai sesuatu maka hal itu yang akan kamu rasakan secara nyata.. begitu kan arti halusinasi?"
Raka : "nggak, aku bilang ini levelnya sudah lebih dari halusinasi.. kamu walaupun hanya sebentar,sejatinya sedang dalam keadaan gila,tapi otakmu masih waras untuk membedakan mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin"
Arya : "otakmu membenarkan apapun yang ingin ia benarkan,suara tembakan itu membuatmu yakin kalau benar-benar ada tembakan.. lalu kemana arahnya? kamu bahkan nggak melihat peluruhnya,but.. otakmu diyakinkan lagi oleh ingatan jangka pendekmu yang mengatakan dahi sebagai lokasi ideal"
Bagas : "baiklah... untuk terakhir kalinya saja,berikan aku gambaran yang paling mudah"
Jaka : "semua itu ibarat kamu bermimpi"
Bagas : "ayolah,Jak.. kamu bukan ahlinya jadi diam saja"
Jaka : "kamu pasti pernah bermimpi sedang melakukan sesuatu di satu tempat tapi setelah kamu sadar sekelilingmu bukanlah tempat yang sama dengan di awal"
Bagas : "....."
Jaka : "kamu mungkin bermimpi sedang bertemu dengan A seiring event antara kalian berdua berlangsung,kemudian kamu sadar kalau kamu ternyata sedang berbicara dengan B bukan lagi dengan A"
Bagas : "....."
Jaka : "kamu mimpi menaiki pesawat,tapi ternyata kamu berada di dalam kereta.. dalam sekajap saja di dalam mimpi itu semua objek berubah secara random,namun masih konsisten secara sifatnya"
Bagas : "damn! penggambaranmu malah nggak jelas,sialan! ngaco!"
Jaka : "itu terjadi saat otakmu bermain SOLO.. saat sang raja berfantasi dan mengabaikan semua prajuritnya"
Bagas : "dasar kalian lima orang aneh! bilang aja kalau otakku baru saja menganggap ilusi sebagai kenyataan,kan simpel"
Karina : well,terserah kamu
Bagas : .....
Karina : Apa liat-liat?
Bagas : kamu bener kok,aku cuma suka kamu..
Karina : jangan merayu..
Raka : so,Divisi 0,hahh? sama kayak namanya,kalian nol besar.
Bagas : jangan salah paham,aku punya arti tersendiri soal nama itu.. mana Raka_01? aku belum lihat dia dari tadi
Raka : bodoh,kamu kelewatan momen terbaik
Bagas : wooh,jadi kalian akhirnya bisa bersatu yah? haha
Arya : .....
Bagas : sampai ketemu lagi,dok
Arya : hooh
Bagas : aku janji bakal tangkap mereka!
Jessica : well,jaga dirimu setelah ini
Bagas : pasti..
Jaka : kau mau bilang apa sama kakakmu?
Bagas : enak saja.. orang yang masih hidup diam saja!
Jaka : .....
Bagas : Makasih Yah!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
....
***
"hoi,dia bangun.." kata Doni terlihat langsung mendekat dengan antusias.
"syukurlah" kata Sarah sama antusiasnya memeriksa keadaan Bagas yang ternyata terbaring di ruang rawat.
"apaan nih? aku diinfus?" tanya Bagas lemas.
"kamu ketinggalan banyak kasus,kapten" ledek Andini di samping kirinya.
"nah,seenggaknya aku nggak ketinggalan acara reoniku" jawab Bagas menangkisnya dengan rileks.
# Reoni panjang yang membuka kembali cerita lama.
Quote:
***
Raka : "bangun,pemalas!"
Bagas : "hehh!?"
Karina : "bau parfum siapa ini? kamu habis pelukan sama perempuan lain yah!!?"
Bagas : "Karin? Raka?"
Arya : "....."
Bagas : "Jes? Arya?"
Jessica : "hallo"
Bagas : "damn! apa-apaan ini?"
Raka : "aku yang harusnya tanya"
Bagas : "ak-aku sudah mati?"
Arya : "mati karena satu peluru di dahi? yang benar saja"
Bagas : "tapi.. aku memang tertembak kan?"
Raka : "kamu patutnya mati karena komputermu meledak seperti di cerita-cerita fiksi"
Bagas : "ah,benar juga! aku ingat.. aku bertemu dengan mereka!"
Jessica : "...??"
Bagas : "orang-orang yang sudah menghabisi kalian dulu.. aku sudah bertemu mereka semua!"
Jessica : "lalu? kamu mati?"
Bagas : "..!!!"
Jessica : "apa gunanya berhasil mengetahui identitas mereka kalau kamu akhirnya mati?"
Arya : "kalau hanya itu,kami sudah terlebih dahulu mengalaminya"
Bagas : "ah- ahahahaa.. bener juga,kalian juga bertemu mereka dan kemudian mati,sialan.. ini kok jadi kayak lelucon"
Arya : "........"
Jaka : "ngga ada waktu buat becanda lagi! pakai otakmu dan cepet tangkap mereka!"
Bagas : "Hehh!!? Jaka? ngapain kamu juga di sini? apa kamu juga sudah mati?"
Jaka : "...??"
Bagas : "haaaahh.. jangan-jangan kamu ngelakuin percobaan belut itu lagi terus beneran mati sesuai omonganku!?"
Jaka : "brengsek,jangan mati sebelum bayar semua hutangmu! lagian siapa yang bilang aku sudah mati"
Bagas : "ah-hahahaa.. maaf soal hutangnya.. oh iya,aku janji menghubungimu kalau aku berhasil menguak identitas mereka yah"
Jaka : "...."
Bagas : "Wehh,mana HPku? hahaha.. kayaknya setelah mati semua aset duniamu bakalan hilang yah"
Christoper : "memalukan!"
Bagas : "Chris??? tunggu.. kenapa kalian semua ada di sini? aku kira aku sudah mati.. aku kira aku bisa bertemu kalian berempat karena alasan itu.."
Christoper : "then.. artinya kamu belum mati,payah!"
Bagas : "...!!?"
Andini : "ada senyawa kimia dan obat-obatan keras masuk ke otakmu.. merusak semua saraf otakmu di sana"
Bagas : "Andini? What the hell.. kalian semua di sini? Chika juga?"
Chika : "layaknya sebuah jaringan komputer,saraf di otakmu berhak mengatur apapun yang akan kamu rasakan"
Jessica : "semuanya.. penglihatan,pendengaran,penciuman,perasa,aliran darah,suhu badan,detak jantung,emosi,ingatan,rasional dan irasional"
Arya : "otakmu adalah Raja,dan tubuhmu secara keseluruhan adalah prajuritnya"
Karina : "seorang prajurit tak mempunyai hak untuk mengatur sang raja,itulah kenapa tidak satupun dari indramu akan menyangkal keputusan otakmu"
Bagas : "tunggu dulu! apa-apaan ini kalian berkumpul dan mengatakan hal-hal rumit seperti ini!?"
Cinta : "aawww~ lihat! temannya berusaha membantunya tapi dia bahkan terlalu bodoh untuk menerimanya"
Bagas : "!!!"
Radit : "otakmu adalah Raja.. raja tanpa prajurit yang mumpuni takan bisa menang dalam peperangan"
Bima : "hahaha.. mungkin aku perlu menembaknya sebanyak 20 kali seperti yang ku lakukan pada perempuan di sana"
Akbar : "baik fisik maupun psikismu keduanya adalah prajurit perang.. pasukan perang tanpa raja yang mampu memandunya juga takan bisa menang dalam peperangan"
Cinta : "ada lagi lho,kalau rajanya jatuh cinta sama ratu lain.. kamu tau? seorang raja akan tunduk pada sang ratu,so sweet~"
Karina : "apa yang kamu pikirin,hahh!? mau-maunya pelukan dengan perempuan kayak dia"
Denis : "mungkin aku harus menembakmu sekali lagi"
Bagas : "KALIAN NGOMONG NGGAK JELAS BERSAMAAN.. SIALAN!!"
.....
.....
....
...
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagas : "mereka menghilang?"
Bagas : { oke,aku mulai terbiasa sekarang.. jadi aku belum mati.. jangan bilang otakku juga punya RAM buat nyimpen hal semacam ini.. ini sih dunia lain namanya}
Bagas : "....."
Bagas : "Karin,keluarlah!"
Karina : "aku nggak bakal maafin kamu soal pelukan tadi,huhh"
Bagas : "kenapa? emangnya kita pacaran?"
Karina : "ihh.. kamu kan cuma suka aku"
Bagas : "denger.. apa yang barusan terjadi? kamu tau sesuatu?"
Karina : "pria itu nggak nembak kamu"
Bagas : "lalu?"
Jessica : "yang digunakannya bukan pistol sungguhan,perhatikan detailnya!"
Bagas : "mana aku tau..itu asli atau palsu.. aku bukan orang yang berpengalaman soal senjata api sepertimu"
Jessica : "pistol itu tidak berbahaya sama sekali,yang ia hasilkan hanyalah suara tembakan saja"
Bagas : "hanya suara?"
Karina : "ya! hanya suara saja.."
Bagas : "then kenapa aku tertembak? kenapa aku mati?"
Karina : "kamu ingat apa kata perempuan itu sebelumnya?"
Bagas : "satu tembakan di dahi sudah cukup,begitu kurang lebih"
Karina : "betul,ini akan jadi seperti lelucon anak kecil kalau kau tidak terbius sejak awal"
Raka : "kejadiannya hanya seorang perempuan memberitahumu kalau satu peluru ke kepala cukup untuk membunuhmu,lalu seorang dengan senjata mainannya berakting seakan menembak kepalamu"
Jessica : "itulah yang sebenarnya terjadi.. dan kalau hanya ini saja memang benar sangat konyol,seperti sebuah trik sulap yang gagal di depan seluruh penonoton"
Arya : "namun karena obatnya sudah bekerja mempengaruhi otakmu,caramu menanggapi respon akan berubah"
Bagas : "berubah?"
Arya : "layaknya pesulap yang memakai tangan kirinya untuk mengalihkan perhatianmu dari tangan kanannya"
Raka : "kamu mulai mengalami delusi"
Bagas : "..??"
Raka : "alternatif story you know? otakmu berhenti menanggapi semuanya secara normal.. fokusmu teralih pada hal yang mencolok"
Arya : "di samping itu detak jantungmu meningkat karena efek obat,rasa cemas dan rasa takut meningkat,tapi otakmu menolaknya"
Jessica : "otakmu akan bilang,apa yang sedang aku cemaskan? apa yang aku takutkan?"
Karina : "itu akan menguras energimu,menurunkan konsentrasimu"
Raka : "selama otakmu terus bertanya tentang semua itu,kamu mulai mengalami halusinasi"
Karina : "di sini otakmu sudah putus asa,semua hal lainnya mungkin berjalan lancar namun otakmu terus mencari satu potongan puzzle yang hilang ini"
Bagas : "oke,oke.. singkatnya saja! suatu obat membuatku berfikir kalau aku benar-benar mati tertembak begitu?"
Jessica : "tepat sekali"
Bagas : "obat apa? bagaimana itu masuk ke tubuhku?"
Jessica : "kamu cuma sudah terbiasa dengan itu,jadi kamu nggak menyadarinya"
Karina : "parfum,bodoh.. memangnya kamu pikir sudah berapa kali aku membuatmu tergila-gila hanya karena wangi parfum?"
Bagas : "haha,aku ingat.. tapi aku bahkan nggak waspada soal itu.. aneh"
Jessica : "bukan aneh,semua kejadian penembakan palsu itu sudah jelas.. sebuah trik anak kecil yang dipercayai oleh otakmu"
Raka : "ingat pesan Jessica.. jangan perhatikan orangnya tapi perhatikan apa yang dikatakannya"
Bagas : "hooh,aku masih ingat"
Jessica : "mereka sudah menuntunmu menuju kondisi terbaik untuk mengeksekusi aksi terakhirnya tadi"
Bagas : "lewat pembicaraan?"
Jessica : "yah! kamu terbawa oleh pembicaraan itu.. semuanya dilakukan untuk memanipulasi persepsimu.. emosimu"
Karina : "itu sugesti yang cukup ampuh"
Raka : "saat itu kamu dalam keadaan yang sangat siap menerima sugesti apapun dari luar"
Karina : "mata,telinga,hidung.. tiga itu yang sangat penting untuk kamu jaga"
Jessica : "apa yang kamu lihat,apa yang kamu dengar.. dua ini sejatinya sangat kuat untuk memanipulasi pikiranmu"
Bagas : "seperti kalau aku bilang Karina pendek lalu dia marah,begitu?"
Karina : "marah adalah hasil dari proses panjang di otakmu.. setidaknya dengan kamu bilang seperti barusan,kamu memberi sebuah bahan mentah untuk diolah"
Arya : "marah,senang,takut.. itu tergantung caramu mengurus bahan mentah itu"
Bagas : "ayolah.. aku tau kalian ahlinya,tapi bisa nggak langsung ke inti dan mudah dipahami?"
Raka : "mereka membentuk mental kalah dalam dirimu,seni mendominasi.."
Arya : "keluar dari tempat seperti ini gampangnya ampun-ampunan..logikamu belum bisa menerima kata-kata itu tapi otakmu memaksa untuk percaya"
Bagas : "si kepala cindung yang bilang seperti itu.. aku juga sempat memikirkan cara mereka masuk ke ruanganku,dan... tiba-tiba aku cuma mengakuinya begitu saja kalau mereka hebat"
Karina : "baru-baru ini otakmu kayaknya stres berat mikirin mereka.. ya kan?"
Bagas : "....."
Jessica : "baik dari penampilan dan perkataan,semuanya bertujuan untuk itu.. semua perhatianmu hanya tertuju pada mereka,siapa mereka? kamu bahkan belum tau"
Raka : "mereka memanfaatkan momen pertemuan pertama kalian sebagai senjata yang tepat untuk mendominasi... dengan sempurna"
Karina : "lalu sisanya adalah bagaimana obat bius itu masuk ke tubuhmu"
Arya : "sebagai dokter aku bisa saja menyuntikkan paksa ke tubuhmu"
Jessica : "dengan begitu obatnya akan masuk dan mencoba merusak otakmu.. tapi secara psikis kamu akan menolaknya"
Karina : "otakmu merespon masukan dari obat itu,tapi menerima masukan juga dari indra penglihatan dan indra perangsangmu"
Raka : "fakta kalau seorang menyuntikkan paksa padamu adalah suatu keadaan bahaya,otakmu akan merangsangnya sebagai ancaman"
Bagas : "hei,obat bius(drug) tidak peduli dengan keadaanmu kan? sekalinya itu masuk itu akan bekerja apapun yang terjadi"
Karina : "sayaaang,aku nggak sedang bicara soal drug biasa.. obat ini mengharuskan sinkronasi dengan kondisi mental korbannya.. ini bekerja secara dinamis sesuai tanggapan dari otakmu,jadi reaksi dari obat ini bahkan relatif berbeda setiap orangnya"
Jessica : "obat ini mungkin bentuk akhir dari yang Karina teliti sejauh ini"
Karina : "kamu ingat kan? aku bisa menyelipkan emosi melalui susunan senyawa kimia.. yah,aku percaya itu bukan pekerjaan manusia.. tapi singkatnya aku bisa menyelipkan sesuatu hal yang membuatmu merasa nyaman untuk merasa marah,atau merasa sedih,senang,takut,suka dan tidak suka,juga yang lainnya"
Bagas : "otak adalah raja,jadi kamu adalah ratunya?"
Karina : "yah,kalau kamu mau pakai perumpamaan milik perempuan itu juga boleh"
Bagas : "so.. memainkan emosi baru tahap awal,begitu?"
Karina : "aku berusaha mengembangkannya tapi belum pernah berhasil.. dan sekarang seorang di sana telah sampai pada tahap memainkan ilusi"
Bagas : "fatamorgana,begitu? seorang melihat batu seakan melihat kueh bolu?"
Karina : "mengertilah,Gas.. kalau itu cuma visual saja. tapi ini sudah melibatkan semua indra dan emosi.. yang terjadi padamu sudah setara dengan halusinasi,dan parahnya kamu sebagai pusat kendali akan halusinasi tersebut justru jatuh ke dalam kendali orang lain"
Bagas : "..??"
Jessica : "seorang membacakan kisah hantu padamu dan kau mulai menggambarkannya dengan imajinasimu.. sayangnya semua yang kamu bayangkan akan ditangkap oleh indramu sebagai kenyataan,sudah paham?"
Bagas : "yeah.. aku paham sih,tapi.."
Karina : "aneh kan? kamu pasti mikir begitu.."
Bagas : "hmm"
Karina : "aku dulu ngembangin ini buat tujuan pengobatan sih.."
Bagas : "...."
Karina : "nggak nyangka ide ini udah jatuh ke tangan yang salah"
Bagas : "hey! apa bisa aku merasa bertemu kalian lagi kalau saat penembakan itu otakku memikirkan kalian berempat?"
Karina : "maybee.. bisa,tapi nggak juga sih..faktanya kamu sudah setuju kalau kami udah meninggal,so itu beda dengan reaksi otakmu yang percaya kalau 1 peluru di kepala cukup untuk membunuhmu"
Bagas : "jadi maksudnya aku masih dalam kondisi sadar walau sudah terkena obat itu?"
Karina : "iyaa..selama otakmu mempercayai sesuatu maka hal itu yang akan kamu rasakan secara nyata.. begitu kan arti halusinasi?"
Raka : "nggak, aku bilang ini levelnya sudah lebih dari halusinasi.. kamu walaupun hanya sebentar,sejatinya sedang dalam keadaan gila,tapi otakmu masih waras untuk membedakan mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin"
Arya : "otakmu membenarkan apapun yang ingin ia benarkan,suara tembakan itu membuatmu yakin kalau benar-benar ada tembakan.. lalu kemana arahnya? kamu bahkan nggak melihat peluruhnya,but.. otakmu diyakinkan lagi oleh ingatan jangka pendekmu yang mengatakan dahi sebagai lokasi ideal"
Bagas : "baiklah... untuk terakhir kalinya saja,berikan aku gambaran yang paling mudah"
Jaka : "semua itu ibarat kamu bermimpi"
Bagas : "ayolah,Jak.. kamu bukan ahlinya jadi diam saja"
Jaka : "kamu pasti pernah bermimpi sedang melakukan sesuatu di satu tempat tapi setelah kamu sadar sekelilingmu bukanlah tempat yang sama dengan di awal"
Bagas : "....."
Jaka : "kamu mungkin bermimpi sedang bertemu dengan A seiring event antara kalian berdua berlangsung,kemudian kamu sadar kalau kamu ternyata sedang berbicara dengan B bukan lagi dengan A"
Bagas : "....."
Jaka : "kamu mimpi menaiki pesawat,tapi ternyata kamu berada di dalam kereta.. dalam sekajap saja di dalam mimpi itu semua objek berubah secara random,namun masih konsisten secara sifatnya"
Bagas : "damn! penggambaranmu malah nggak jelas,sialan! ngaco!"
Jaka : "itu terjadi saat otakmu bermain SOLO.. saat sang raja berfantasi dan mengabaikan semua prajuritnya"
Bagas : "dasar kalian lima orang aneh! bilang aja kalau otakku baru saja menganggap ilusi sebagai kenyataan,kan simpel"
Karina : well,terserah kamu
Bagas : .....
Karina : Apa liat-liat?
Bagas : kamu bener kok,aku cuma suka kamu..
Karina : jangan merayu..
Raka : so,Divisi 0,hahh? sama kayak namanya,kalian nol besar.
Bagas : jangan salah paham,aku punya arti tersendiri soal nama itu.. mana Raka_01? aku belum lihat dia dari tadi
Raka : bodoh,kamu kelewatan momen terbaik
Bagas : wooh,jadi kalian akhirnya bisa bersatu yah? haha
Arya : .....
Bagas : sampai ketemu lagi,dok
Arya : hooh
Bagas : aku janji bakal tangkap mereka!
Jessica : well,jaga dirimu setelah ini
Bagas : pasti..
Jaka : kau mau bilang apa sama kakakmu?
Bagas : enak saja.. orang yang masih hidup diam saja!
Jaka : .....
Bagas : Makasih Yah!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
....
***
"hoi,dia bangun.." kata Doni terlihat langsung mendekat dengan antusias.
"syukurlah" kata Sarah sama antusiasnya memeriksa keadaan Bagas yang ternyata terbaring di ruang rawat.
"apaan nih? aku diinfus?" tanya Bagas lemas.
"kamu ketinggalan banyak kasus,kapten" ledek Andini di samping kirinya.
"nah,seenggaknya aku nggak ketinggalan acara reoniku" jawab Bagas menangkisnya dengan rileks.
# Reoni panjang yang membuka kembali cerita lama.
khuman memberi reputasi
1




















