Masih terasa berat mata ini untuk dibuka karena kelelahan semalam. Teman saya langsung melangkah ke masjid untuk Shubuhan, sedangkan saya Solat di kamar aja.
Ketika ambil wudhu, saya papasan dengan Papah saya, saya cuman diam aja dan beliau juga begitu. Papah saya orang yang acuh, jarang ngobrol dengan orang lain kalau tidak perlu. Belum lagi logat Papah saya menggunakan bahasa Sulawesi, biarpun beliau lahir di Pekalongan, tapi setelah selesai masa pendidikannya banyak merantau hingga akhirnya menetap di Sulawesi kurang lebih 30 tahun.
Papah saya terkadang menjadi imam masjid di Masid utama, itupun kalau memang tetua di desa tidak ada yang datang.
Saya lanjut tidur setelah Sholat.
Bangun pagi, pukul 08.00, lapar bukan main rasanya, teman saya ternyata sudah selesai mandi dan sedang bermain PS di ruang tengah, mumpung masih ada listrik, repot nanti kalau malam mati lampu lagi, tidak ada hiburan. Kebetulan waktu itu kita bawa PS biar tidak mati kebosanan di sana.
Saya ajak makan S ke warung langganan saya waktu saya masih tinggal di Pekalongan, nama masakannya ada Nasi Megono + Mendoan + Sambal tomat

, benar² masakan yang membuat saya rindu kota ini. Sekitar pukul 09.00 saya dapat sms dari temen saya semasa sekolah di kota batik ini untuk mengajak ketemuan. Saya ajak S untuk menemani saya dan dia mau menemani.
Sebut saja I nama teman saya SMA, dia adalah gadis Desa tetangga yang dulu pernah pacaran dengan saya selama 2 tahun dan putus karena saya harus sekolah di Solo. S kurang senang dengan saya bertemu I, sudah pasti dia menjadi obat nyamuk

. Karena jenuh S jalan² mengelilingi kota naik motor papah saya. Owh iya, saya dan S bertemu I di daerah Kedungwuni dengan menggunakan motor terkotor sedunia punya Papah saya dikarenakan sering di bawa ke kebun.
S sms yang isinya dia sedang berada di warnet, dan dalam isi smsnya ada isyarat kode yang menohok
"
Nek wes rampung Ke*t* ne kabari Su." (
Kalau sudah kelar IYKWIM kabarin ya.)
Saya langsung keselek ludah saya sendiri ketika membaca note SMS saya. I ini adalah orang asli Tasikmalaya, dia pindah ke Pekalongan bersama kedua orang tuanya yang saya sebenarnya juga sudah mengenalnya. Mereka pindah sejak I masuk kelas 3 SMP. I adalah gadis berdarah sunda dengan perawakan yang langsing dengan dada sintal, tingginya kira² 155cm pokoknya super

, yang jelas saya sama dia lebih tinggi saya (gengsi dong pacaran sama orang yang lebih tinggi). Saya dan I pergi ke kos I untuk ngobrol² dengan saya nebeng motornya dia.
Tidak jauh dari lokasi kita ketemuan, saya juga mengabari S dimana saya saat itu. S tidak membalas, barangkali sudah bertemu Dota di warnet dan pasti hp tidak dibuka.
Kos tempat tinggal I benar² bersih, rapi, namun sayangnya campuran, cowok cewek dicampur dan tidak ada batasan jam bertamu. Saya masuk ke kamar dia dan menyetel TV sambil merokok. Segelas teh manis dengan aroma yang khas kota ini dihidangkan.
Saya: "Gak usah repot², tapi makasih ya."
I: "He em A', mau makan?"
Saya: "Emang masak apa?"
I: "Ya beli diluar kalau mau makan (sambil nyengir)."
Saya: "Kalau saya makan kamu boleh, hehe?"
I nya cuman senyum aja. Kami ngobrol kesana kemari hingga saya menanyakan kenapa kos disini, ternyata doi lagi kuliah sambil kerja. Sekilas info lagi mengenai I, dia ini 1 tahun lebih muda dari saya, bisa dibilang adik tingkat.
Kami bernostalgia ketika masih bersama, banyak hal yang kami alami kala itu, dari hujan²an sampai ciuman pertama kami yang langsung kenak bogem mentah dari dia.
I: "A' tadi saya dapet kabar dari Mumun, katanya Aa' disini."
Saya: "Iya, dari sapa lagi coba kamu tau
."
Eh gak taunya HP saya berdering, ternyata S, dia bilang lagi Dota (kan bener feeling saya), entar suruh nungguin ke tempat ketemuan tadi aja karena S pasti nyasar kalau mencari saya di kos I.
Makin lama makin intens obrolan kita, sampai nanyak uda punya pacar belum, uda cium berapa cewek, dan hal² semacam itu. Ya saya cuman nyengir doank lah kalau ditanyak begitu. Waktu itu kita nonton acara tv yang gak bermutu menurut saya, FTV. Tapi lama² baper juga waktu lihat acara tersebut. Waktu rasanya berjalan cepat kalau sama dia, gak tau uda 1 jam kita ngobrol sampai dia nyander di bahu saya.
Saya memainkan rambut dia, kemudian saya rebahan, pegel sekali duduk sambil dia menahan dia nyander.
Belum 1 menit saya rebahan saya tidak tau apa yang terjadi karena tiba² kita sudah berpagutan, berciuman

, berpelukan

, dan saya kira tidak usah diperjelas apa lagi yang terjadi kelanjutannya.
Mohon maaf, saya potong kejadian dikamar, jam 13.40 saya menunggu S untuk segera pulang ke rumah, soalnya saya juga belum menyebar oleh² dari mamah saya untuk saudara di sana.
S dijalan benar² menjadi sosok yang menyebalkan, gak berhentinya dia membully saya, yah saya cuman manyun aja sambil nyetir motor ketika diperjalanan pulang. Sesampainya dirumah saya langsung ambil kunci mobil untuk memberikan buah tangan kepada saudara² disana, kira² pukul 17.00 kami sudah dirumah.
Sembari menunggu Magrib dan Isa', saya dan S nongkrong diperempatan bersama teman² sebaya di desa tersebut. Tidak ada hal spesial yang terjadi disana hingga pukul 20.00, dimana acara resepsi dipersiapkan, dari sound system hingga tenda dan penataan kursi. Baru mulai acara gotong royong tersebut, ada seorang ibu tua lari menghampiri Papah saya, kalau ada mobil jatuh di kali. Serempak kita semua ambil motor masing² untuk melihat apa yang terjadi.
Benar saja, ada mobil jatuh ke kali, kita turun ke kali menolong korban yang hanya ada supir. Acara evakuasi ini tergolong mudah, karena kekompakan orang² desa, sopir selamat meski luka dikepala hingga kaki terlihat dengan jelas. Namun untuk mengangkat mobil tersebut ke jalan saya kira akan dilakukan besok.
Sebuah keajaiban atau apa itu namanya, Papah saya dan Om Rud menarik mobil itu dengan tali berdua saja. S langsung menyebut AllahuAkbar. S melihat bahwa Papah dan Om Rud dibantu oleh semacam kekuatan gaib. Itu adalah mobil L-300, mengangkatnya untuk berdua saya rasa tidak mungkin kalau hanya dilakukan 2 orang saja.
Menurut S, dia melihat sesosok makhluk berpakain serba putih memakai sorban dan ditangan kirinya memegang tasbih sedang tangan kanannya memegang bahu Papah saya.
Kemudian Pak N, seseorang yang paling sering menjadi imam di Masjid utama berlari menuju seberang jembatan yang kemudian duduk di galengan sawah. Karena jauhnya saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya. S pun kembali menjelaskan bahwa Pak N berusaha menghalau sosok Ular besar yang sedang duduk (melilitkan tubuhnya sendiri). Matanya merah besar, seperti sedang berbicara dengan Pak N.
Sekitar 10 menit kemudian Pak N kembali dikeramaian dan mengobrol dengan Papah saya, tidak lupa Om Rud terlibat pembicaraan seru tersebut. S mendekati Papah saya untuk mengetahui kejadian barusan.
Pukul 21.30 kami semua kembali ke desa, di sana kursi sudah tertata dengan rapi, hanya tinggal memindahkan Salon Speaker. Mungkin tadi sudah dikerjakan oleh remaja desa yang tidak ikut ke Kali untuk menolong kecelakaan tadi.
Saya langsung pulang kerumah bersama S. Tanpa basa basi saya menanyakan apa yang terjadi di kali tadi. S yang mendengar pembicaraan para orang tua ketika di dekat kali tadi menjelaskan secara rinci.
Mobil tadi terjatuh ke kali karena selip, awalnya Om Rud yang mengatakan seperti itu, tetapi Pak N berkata lain, bagian bamper belakang mobil itu di sabet ekor Ular Raksasa tadi. Pak N menjelaskan Ular itu meminta tumbal agar tidak menghancurkan jembatan tersebut. Baru seru² nya ngobrol, Papah saya dateng dan meminta rokok ke saya, katanya rokoknya jatuh pas di kali tadi.
Papah saya kemudian mewanti² kita untuk tidak keluyuran malam ini. Yah, saya dan S memang sedang tidak mau keluar rumah malam ini.
Kemudian S menyelidik saya mengenai apa yang saya lakukan dengan I, saya berusaha membohongi dia dengan mengatakan tidak terjadi apa², tapi saya terus di desak dan akhirnya saya menceritakan apa yang terjadi.
Tak lama kemudian kami pun tertidur pulas dengan diringi suara serangga malam dan juga ditemani hembusan angin malam yang benar² dingin.
Akan saya ceritakan detailnya apa yang terjadi malam itu di next Part.