- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
...
TS
suwandilam
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
INDEX
PART 1 - Perkenalan - Langsung ada di postingan ini
PART 2 - Keberangkatan
PART 3 - Tiba di Desa
PART 4 - Malam Pertama
PART 5 - Ibu Tua
PART 6 - Informasi Mengejutkan
PART 7 - Suara
PART 8 - Terkuncikah ?
PART 9 - Rumah Terang
PART 10 - Gadis Cantik Yang Kesepian
PART 11 - Tangisan
PART 12 - Pernyataan Kades
PART 13 - Terjebak
PART 14 - Pengungkapan
PART 15 - Silahturahmi Pertama
PART 16 - Tamu
PART 17 - Jalan Malam
PART 18 - Berteduh Lagi
PART 19 - Balik !!!
PART 20 - Maksud Terselubung
PART 21 - Perdebatan
PART 22 - Halusinasi ?
PART 23 - Halusinasi 2
PART 24 - Tangis dan Tawa
PART 25 - Pengejaran Amelia
PART 26 - Ngecek Lagi ?
PART 27 - Gak Hoki
PART 28 - Siapa Itu Ya ?
PART 29 - Hari Yang Tenang
PART 30 - Kebelet !
PART 31 - Bertemu Lagi !
PART 32 - Tertabrak !
PART 33 - Terror
PART 34 - Kejutan !!!
PART 35 - Terror 2
PART 36 - Terror 3
PART 37 - Lemari Cermin
PART 38 - Ngecek yuk
PART 39 - Tangisan
PART 40 - Ketukan
PART 41 - Mimpi atau Nyata
PART 42 - Penampakan
PART 43 - Haruskah Melapor ?
PART 44 - Mencari Solusi
PART 45 - Pengungkapan Misteri !
PART 46 - Pengungkapan Misteri 2
PART 47 - Pengungkapan Misteri 3
PART 48 - Pengungkapan Misteri 4
PART 49 - Sebenarnya ini apa ?!
PART 50 - Pengungkapan Lemari Cermin
PART 51 - Nenek oh Nenek
PART 52 - Konflik !
PART 53 - Kejutan
PART 54 - Bolehkah Gue Kabur ?
PART 55 - Hilang !
PART 56 - Duniaku
PART 57 - Gue Dimana?
PART 58 - SURAT
PART 59 - Suara dan Penglihatan ?
PART 60 - Masuk atau Kagak ?!
PART 61 - Aku Hilang !
PART 62 - Kembali
PART 63 - Penjelasan
PART 64 - Siksaan !
PART 65 - Ketenangan
PART 66 - Suara Aneh
PART 67 - Terjebak !
PART 68 - TOLONG GUE !
PART 69 - Kuburan (NEW UPDATE)
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil - Part 1
Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.
Nah mari kita mulai ceritanya.
1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).
Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :
“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”
Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.
Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”
Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”
Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”
Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”
Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”
Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”
Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.
Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”
Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”
Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”
Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”
Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”
Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.
Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”
Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”
Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”
Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”
Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”
Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”
Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”
Saya : “Sip bro !”
Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.
Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”
Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”
Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”
Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang tipe gue or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe yg tipe gue, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”
Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”
Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Gue dan Victor punya kriteria tipe cewe kami masing-masing. Ya moga-moga aja ada yg sesuai tipe, jadi bisa aktivitas bareng sambilan PDKT. hehehe
Polling
0 suara
Bagusnya Cerita ini memiliki Alur Panjang atau pendek ? Bagaimana isi ceritanya?
Diubah oleh suwandilam 18-09-2019 21:40
symoel08 dan 17 lainnya memberi reputasi
12
1.7M
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suwandilam
#1367
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 57
Gue yang berjalan selangkah demi selangkah dengan perlahan sambil bernyanyi “naa.naaa.naaanaa..” menuju pintu keluar rumah terus mendengar adanya panggilan nama gue.
“Kooo…. Kooo.. Dony…. !”
Entahlah, kepala gue bener-bener pusing. Gue seakan kagak bisa membedakan mana panggilan yang benar ataupun panggilan halusinasi.
Beragam panggilan telah gue dengar, dari tangisan, tawa, panggilan nama gue dan bahkan ucapan samar-samar yang bahkan gue ga ngerti apa itu.
Gue terus melangkah keluar rumah sambil bernyanyi kecil. Semua panggilan nama gue, gue cuekin. Pandangan gue sedikit kabur seperti tidak sadarkan diri.
Tapi…..
Gue masih heran. Kenapa di luar rumah begitu ramai??
Gue melihat ada anak-anak kecil sedang berlari dan bermain di depan rumah kami.
Yang bener aja? Ini kan tengah malam???
Entahlah….
Badan gue seakan gak bisa gue kendalikan…
Badan gue berjalan sendiri terus…
Sekeliling rumah tempat tinggal gue yang seharusnya sepi dan hening di tengah malam seperti ini, sekarang terlihat begitu ramai di pandangan gue.
Ada orang sedang berjalan, ada anak-anak kecil yang sedang bermain dengan riang gembira, ada orang tua yang berjalan dengan bungkuk-bungkuk, ada yang duduk di dekat pohon, dsb.
Kenapa??? Kenapa begitu ramai???
Badan gue terus berjalan hingga gue terdiam di sebuah rumah yang terlihat cukup besar…
Rumah iniiii… Rumah iniii sepertinya gue pernah lihat ?!
Astaga… Ini kan rumah gadis bernama Diana !!!
Tapi… Kenapa rumahnya terlihat begitu bagus? Bukannya sebenarnya rumahnya sudah hancur terbakar ?!
Kaki gue bergerak sendiri dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah Diana ini.
Hati gue bingung dan takut. Pikiran gue kacau.
Gue sebenarnya kagak mau masuk, tapi gue ga bisa menahan dan mengendalikan badan gue sendiri.
Apa.. apa ini yang namanya kerasukan ??? Atau gue terbawa halusinasi berlebihan ???
…………………………
Gue pun masuk di dalam rumah Diana ini.
Seperti biasa, sosok gadis cantik yang berambut panjang hitam dan lurus, wangi tubuhnya yang membuat perasaan gue luluh dan nyaman, membuat hati gue menjadi tenang berada di dalam rumah ini.
Diana yang menyapa gue dengan lembut, semua omongannya benar-benar masuk ke dalam pikiran gue.
“Mas Dony, sudah lama tidak kemari ? Diana kangen loh !” ucap Diana dengan suara yang begitu lembut sambil menggenggam tangan kiri gue.
Gue yang dalam keadaan oyong-oyong, secara spontan gue juga membalas ucapannya “Ya Diana. Mas juga kangen dengan mu!”
Diana yang terus nempel di badan gue, kepalanya di sandarkan di bahu gue. Wangi badan dan rambutnya bener-bener membuat gue semakin luluh.
Gue membiarkan dia bersandar di bahu gue, sementara gue hanya duduk diam.
Gue ga tau sudah berapa lama gue di sini, tanpa disadari gue tertidur lelap. Mungkin karena capek.
Malam itu gue lewatin bersama Diana di rumahnya.
………….
“Ko Dony !!!” teriak seseorang dr luar
Gue yang mendengar teriakan itu sedikit kaget dan terbangun dari tidur lelap gue. Badan gue serasa capek banget, padahal perasaan gue kagak ada ngerjain apa-apa.
“Lu kok bisa sampai tidur di sini Ko?! Kami cari lu gak ketemu kemarin malam !” ucap Monica yang menghampiri gue bersama Amelia dan Victor
“Woi Don ?! Lu gile apa lu ga sadarkan diri? Napain lu tidur di sini?!” ucap Victor yang heran.
Kepala gue yang masih berat dan pusing membuat gue terdiam sejenak dan bingung.
“Gue dimana yah? Bukannya ini di rumah?!” ucap gue dengan pelan sambil melihat sekeliling gue yang rasanya begitu aneh.
“Eh kok rumah kita berantakan dan rusak begini? Ada masalah apa?!” ucap Gue yang kaget karena sekeliling gue hanyalah barang rongsokan yang sudah gosok, berantakan dan penuh debu.
“Gileee loe Don ! Loe sekarang di rumah gadis yang bernama Diana. Rumah yang sudah terbakar itu ! Loe lupa?” ucap Victor nyadarin gue
Perasaan gue bingung dan kacau. Kok gue bisa sampai ke sini yah? Gue masih sedikit susah mengingat kejadian kemarin malam, mungkin gue masih terlalu lelah.
“Ya udah, ayuk balik Ko ! Feby uda ketemu, tapi Danu blom ketemu.” Ucap Monica sambil narik tangan gue biar bangun
…………..
“Loe tau apa yang terjadi kemarin ama gue Vic? Mon? Mel?” tanya gue yang masih belum mengingat semua kejadian yang gue alamin.
“Tau ko, Kemarin tengah malam, mungkin sekitar jam 12an lewat, lu entah kenapa nangis sendiri, tertawa sendiri, terus bernyanyi sendiri keluar rumah. Kami uda berusaha memanggilmu dan mencegatmu, tapi gak kamu hiraukan !” ucap Monica menjelaskan ke gue dengan serius
“Terus.. Lu ga cegat gue?” tanya gue heran, kok gue dibiarin jalan terus sich
“Sorry Ko, bukannya kami gak mau cegat, tapi kamu jalan begitu cepat dan disampingmu seperti ada sosok aneh gitu berwarna putih. Kami sudah manggil dan menahanmu saat mau keluar rumah, tapi kamu ga menghiraukan kami.” Ucap Monica sambil tertunduk minta maaf
…………………
“Ah udahlah Don. Loe nya doank yang gile. Masa bisa gak sadarkan diri sih? Kerasukan loe?” ucap Victor
“Berisik Vic. Gue aja ga tau apa-apa nih. Tar gue coba inget-inget kejadian apa yang gue alamin kemarin, Kepala gue masih agak pusing. Ntar yeee..” ucap Gue
“Ya uda ayo balik rumah. Itu Pak Anto ntar mau datang ke rumah, tadi kami ada singgah rumah dia, minta bantuan dia untuk nenangin Feby.” Jelas Monica
“Memangnya kenapa dia?” tanya gue heran
“Entahlah Ko, Feby jadi aneh gitu, murung sendiri, makan gak mau, sibuk dengan dunianya sendiri gitu.” Jelas Monica dan Amelia yang lebih tau karena mereka nemenin Feby katanya
“Unn..untung lu kagak kenapa-kenapa Ko.” Jawab Monica sambil megang tangan gue saat kami kami berjalan berdua di belakang, sedangkan Victor dan Amelia di depan kami.
Gue yang berjalan selangkah demi selangkah dengan perlahan sambil bernyanyi “naa.naaa.naaanaa..” menuju pintu keluar rumah terus mendengar adanya panggilan nama gue.
“Kooo…. Kooo.. Dony…. !”
Entahlah, kepala gue bener-bener pusing. Gue seakan kagak bisa membedakan mana panggilan yang benar ataupun panggilan halusinasi.
Beragam panggilan telah gue dengar, dari tangisan, tawa, panggilan nama gue dan bahkan ucapan samar-samar yang bahkan gue ga ngerti apa itu.
Gue terus melangkah keluar rumah sambil bernyanyi kecil. Semua panggilan nama gue, gue cuekin. Pandangan gue sedikit kabur seperti tidak sadarkan diri.
Tapi…..
Gue masih heran. Kenapa di luar rumah begitu ramai??
Gue melihat ada anak-anak kecil sedang berlari dan bermain di depan rumah kami.
Yang bener aja? Ini kan tengah malam???
Entahlah….
Badan gue seakan gak bisa gue kendalikan…
Badan gue berjalan sendiri terus…
Sekeliling rumah tempat tinggal gue yang seharusnya sepi dan hening di tengah malam seperti ini, sekarang terlihat begitu ramai di pandangan gue.
Ada orang sedang berjalan, ada anak-anak kecil yang sedang bermain dengan riang gembira, ada orang tua yang berjalan dengan bungkuk-bungkuk, ada yang duduk di dekat pohon, dsb.
Kenapa??? Kenapa begitu ramai???
Badan gue terus berjalan hingga gue terdiam di sebuah rumah yang terlihat cukup besar…
Rumah iniiii… Rumah iniii sepertinya gue pernah lihat ?!
Astaga… Ini kan rumah gadis bernama Diana !!!
Tapi… Kenapa rumahnya terlihat begitu bagus? Bukannya sebenarnya rumahnya sudah hancur terbakar ?!
Kaki gue bergerak sendiri dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah Diana ini.
Hati gue bingung dan takut. Pikiran gue kacau.
Gue sebenarnya kagak mau masuk, tapi gue ga bisa menahan dan mengendalikan badan gue sendiri.
Apa.. apa ini yang namanya kerasukan ??? Atau gue terbawa halusinasi berlebihan ???
…………………………
Gue pun masuk di dalam rumah Diana ini.
Seperti biasa, sosok gadis cantik yang berambut panjang hitam dan lurus, wangi tubuhnya yang membuat perasaan gue luluh dan nyaman, membuat hati gue menjadi tenang berada di dalam rumah ini.
Diana yang menyapa gue dengan lembut, semua omongannya benar-benar masuk ke dalam pikiran gue.
“Mas Dony, sudah lama tidak kemari ? Diana kangen loh !” ucap Diana dengan suara yang begitu lembut sambil menggenggam tangan kiri gue.
Gue yang dalam keadaan oyong-oyong, secara spontan gue juga membalas ucapannya “Ya Diana. Mas juga kangen dengan mu!”
Diana yang terus nempel di badan gue, kepalanya di sandarkan di bahu gue. Wangi badan dan rambutnya bener-bener membuat gue semakin luluh.
Gue membiarkan dia bersandar di bahu gue, sementara gue hanya duduk diam.
Gue ga tau sudah berapa lama gue di sini, tanpa disadari gue tertidur lelap. Mungkin karena capek.
Malam itu gue lewatin bersama Diana di rumahnya.
………….
“Ko Dony !!!” teriak seseorang dr luar
Gue yang mendengar teriakan itu sedikit kaget dan terbangun dari tidur lelap gue. Badan gue serasa capek banget, padahal perasaan gue kagak ada ngerjain apa-apa.
“Lu kok bisa sampai tidur di sini Ko?! Kami cari lu gak ketemu kemarin malam !” ucap Monica yang menghampiri gue bersama Amelia dan Victor
“Woi Don ?! Lu gile apa lu ga sadarkan diri? Napain lu tidur di sini?!” ucap Victor yang heran.
Kepala gue yang masih berat dan pusing membuat gue terdiam sejenak dan bingung.
“Gue dimana yah? Bukannya ini di rumah?!” ucap gue dengan pelan sambil melihat sekeliling gue yang rasanya begitu aneh.
“Eh kok rumah kita berantakan dan rusak begini? Ada masalah apa?!” ucap Gue yang kaget karena sekeliling gue hanyalah barang rongsokan yang sudah gosok, berantakan dan penuh debu.
“Gileee loe Don ! Loe sekarang di rumah gadis yang bernama Diana. Rumah yang sudah terbakar itu ! Loe lupa?” ucap Victor nyadarin gue
Perasaan gue bingung dan kacau. Kok gue bisa sampai ke sini yah? Gue masih sedikit susah mengingat kejadian kemarin malam, mungkin gue masih terlalu lelah.
“Ya udah, ayuk balik Ko ! Feby uda ketemu, tapi Danu blom ketemu.” Ucap Monica sambil narik tangan gue biar bangun
…………..
“Loe tau apa yang terjadi kemarin ama gue Vic? Mon? Mel?” tanya gue yang masih belum mengingat semua kejadian yang gue alamin.
“Tau ko, Kemarin tengah malam, mungkin sekitar jam 12an lewat, lu entah kenapa nangis sendiri, tertawa sendiri, terus bernyanyi sendiri keluar rumah. Kami uda berusaha memanggilmu dan mencegatmu, tapi gak kamu hiraukan !” ucap Monica menjelaskan ke gue dengan serius
“Terus.. Lu ga cegat gue?” tanya gue heran, kok gue dibiarin jalan terus sich
“Sorry Ko, bukannya kami gak mau cegat, tapi kamu jalan begitu cepat dan disampingmu seperti ada sosok aneh gitu berwarna putih. Kami sudah manggil dan menahanmu saat mau keluar rumah, tapi kamu ga menghiraukan kami.” Ucap Monica sambil tertunduk minta maaf
…………………
“Ah udahlah Don. Loe nya doank yang gile. Masa bisa gak sadarkan diri sih? Kerasukan loe?” ucap Victor
“Berisik Vic. Gue aja ga tau apa-apa nih. Tar gue coba inget-inget kejadian apa yang gue alamin kemarin, Kepala gue masih agak pusing. Ntar yeee..” ucap Gue
“Ya uda ayo balik rumah. Itu Pak Anto ntar mau datang ke rumah, tadi kami ada singgah rumah dia, minta bantuan dia untuk nenangin Feby.” Jelas Monica
“Memangnya kenapa dia?” tanya gue heran
“Entahlah Ko, Feby jadi aneh gitu, murung sendiri, makan gak mau, sibuk dengan dunianya sendiri gitu.” Jelas Monica dan Amelia yang lebih tau karena mereka nemenin Feby katanya
“Unn..untung lu kagak kenapa-kenapa Ko.” Jawab Monica sambil megang tangan gue saat kami kami berjalan berdua di belakang, sedangkan Victor dan Amelia di depan kami.
0