- Beranda
- Stories from the Heart
Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]
...
TS
suboyxxx
Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]
![Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/02/20/8768924_201702200412380277.jpg)
credit to agan quatzcoatlfor awesome cover
![Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/10/22/8901141_20161022083333.jpg)
credit to agan aweyayefor the awesome cover
![Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/11/30/9261325_20161130095434.jpg)
credit to agan kepo.lufor the awesome cover
![Belalang Kupu-Kupu (Story of Young Boy) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/01/16/9166190_201701161248300939.jpg)
credit to agan rizki.jahatfor the awesome cover
I really appreciate your works!!
Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for Q & A:
PROLOG
Sekilas tentang gue..
Perkenalkan.. gue biasa dipanggil Boy. Nama penuh makna pemberian papa gue. Dari nama itu lah goresan cerita masa lalu gue tulis ulang disini. Gue adalah anak kebanggaan orang tua gue yang ditakdirkan Tuhan untuk menyapa dunia terlebih dahulu dibanding adik gue. Gue lahir, tinggal dan bersekolah di kota yang memiliki sejarah heroik dalam mengusir penjajah di negeri ini. Masa ini adalah masa paling absurd dan sanggup membuat gue senyum2 sendiri ketika gue mengingat2 lagi kenangan jaman itu
Akan ada beberapa pemikiran yg salah, filosofi ngawur, arogansi, dan sifat sok pahlawan khas anak abg labil dalam cerita ini. Tapi itu semua juga akan dibalut dengan manisnya cinta, sex ala anak muda, kehidupan remaja, persahabatan, solidaritas dan kecantikan bidadari yg lupa balik ke surga
Cerita ini bersetting waktu di masa kejayaan.. sebelum negara api menyerang dan sebelum Indonesia tampil di final piala dunia. Tepat nya berawal di jaman semasa SMA, masa-masa paling indah dalam sebuah fase kehidupan seorang remaja. Berlatar tempat di 2 kota berbeda yg penuh cerita cinta. 2 kota berseteru yg seakan selalu membawa gue larut dalam album nostalgia. Dimana itu? Semua tersirat di dalam cerita tanpa harus gue tunjukan dengan gamblang
Anggaplah cerita yg gue tulis adalah sebuah dongeng sebelum tidur. Cerita yg mungkin bisa lu ambil nilai positif nya bila ada dan acuhkan nilai negatif yg sangat kentara. Gue ga akan memaksa kalian untuk menganggap ini real story, kalo ada yg menganggap fiksi juga gapapa.. itu lebih baik karena yg mengalami adalah gue dan beberapa tokoh yg gue cantumkan, lebih dari itu harap diam dan jangan berisik ya..
Jadi, seperti apa kisah seorang Boy muda? Yuk ikutin keseharian gue
Perkenalkan.. gue biasa dipanggil Boy. Nama penuh makna pemberian papa gue. Dari nama itu lah goresan cerita masa lalu gue tulis ulang disini. Gue adalah anak kebanggaan orang tua gue yang ditakdirkan Tuhan untuk menyapa dunia terlebih dahulu dibanding adik gue. Gue lahir, tinggal dan bersekolah di kota yang memiliki sejarah heroik dalam mengusir penjajah di negeri ini. Masa ini adalah masa paling absurd dan sanggup membuat gue senyum2 sendiri ketika gue mengingat2 lagi kenangan jaman itu
Akan ada beberapa pemikiran yg salah, filosofi ngawur, arogansi, dan sifat sok pahlawan khas anak abg labil dalam cerita ini. Tapi itu semua juga akan dibalut dengan manisnya cinta, sex ala anak muda, kehidupan remaja, persahabatan, solidaritas dan kecantikan bidadari yg lupa balik ke surga
Cerita ini bersetting waktu di masa kejayaan.. sebelum negara api menyerang dan sebelum Indonesia tampil di final piala dunia. Tepat nya berawal di jaman semasa SMA, masa-masa paling indah dalam sebuah fase kehidupan seorang remaja. Berlatar tempat di 2 kota berbeda yg penuh cerita cinta. 2 kota berseteru yg seakan selalu membawa gue larut dalam album nostalgia. Dimana itu? Semua tersirat di dalam cerita tanpa harus gue tunjukan dengan gamblang
Anggaplah cerita yg gue tulis adalah sebuah dongeng sebelum tidur. Cerita yg mungkin bisa lu ambil nilai positif nya bila ada dan acuhkan nilai negatif yg sangat kentara. Gue ga akan memaksa kalian untuk menganggap ini real story, kalo ada yg menganggap fiksi juga gapapa.. itu lebih baik karena yg mengalami adalah gue dan beberapa tokoh yg gue cantumkan, lebih dari itu harap diam dan jangan berisik ya..
Jadi, seperti apa kisah seorang Boy muda? Yuk ikutin keseharian gue

Spoiler for index:
Spoiler for SIDE STORY:
Spoiler for chit chat:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 510 suara
Siapakah Perempuan Dibalik Sosok Permaisuri?
Amelia
36%
Farah
37%
Bela
16%
Ima
7%
Dewi
4%
Diubah oleh suboyxxx 22-02-2017 09:29
ezzasuke dan 51 lainnya memberi reputasi
46
3M
8.2K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suboyxxx
#1562
Part 76
Diujung Tanduk
Pagi itu.. gue ngerasa sepertinya bakal ada suatu keputusan yg akan diberikan pihak sekolah untuk gue. Tindakan gue kemarin memang sudah kelewatan.. untuk ukuran murid di SMA teladan, tindakan gue sudah benar-benar diluar batas kewajaran
Sengaja gue ga membawa buku paket untuk mata pelajaran hari ini.. gue cuma memasukan 2 buku tulis ke dalam tas gue. 1 buku buat jaga-jaga seandainya dikumpulkan, 1 lagi buat gue mencatat pelajaran hari ini
Gue masuk ke kelas.. setelah menghela nafas dalam-dalam, gue duduk di bangku gue. Sebisa mungkin gue menutupi kekhawatiran gue dari temen-temen gue, terutama Weni.. dia paling paham dengan raut wajah gue soalnya. Gue ikut nimbrung dengan mereka, ikut tertawa dan terkadang ikut bikin rusuh suasana kelas, gue berusaha menyamar di depan mereka. Mungkin inilah hari terakhir gue bersekolah disini. Seenggaknya gue masih meninggalkan kesan manis di depan anak buah gue di hari terakhir sekolah disini
Guru matematika pun masuk ke kelas.. gue yakin semua guru sudah tau kasus ini jadi gue harap guru itu ga membahas sedikitpun tentang kejadian motor yg sudah hancur lebur di parkiran guru. Beruntung bagi gue karena guru tersebut seperti menangkap kegelisahan gue.. walaupun guru tersebut guru killer (kata murid kelas lain) tapi di kelas gue beliau adalah guru yg menyenangkan, ga pernah sekalipun beliau marah2 di kelas gue karena murid di kelas gue sudah jinakkan keganasan beliau. Semua murid di kelas gue jadinya dekat dengan beliau
Gue coba jawab pertanyaan seperti biasa dan adu debat dengan guru tersebut.. seolah-olah tidak ada hal yg mengganjal di pikiran gue. Semua tampak serius memperhatikan pelajaran dan ga jarang terjadi sharing bagaimana cara menyelesaikan soal dengan cepat, hal yg selalu ditunggu2 oleh murid ketimbang cuma berpatok dari cara penyelesaian di buku paket. Begitulah keseharian kelas gue dengan guru matematika tersebut. Hal ini yg akhirnya membuat beliau dekat dengan murid kelas gue
“..teeettt..teeettt..” bel istirahat pun berbunyi
Beberapa anak sudah langsung keluar kelas, mungkin ke kantin.. gue ke depan kelas untuk menghapus papan tulis.. itu hanya alibi gue ke temen2 gue karena gue bisa menangkap sepertinya ada yg ingin guru gue sampaikan ke gue
Gue kembali duduk di bangku gue.. bergabung dengan kegembiraan temen-temen gue yg sedari tadi tertawa terbahak-bahak karena ada bahan yg mereka tertawakan. Gue cuma duduk dan bersandar di kursi, ga sedikitpun gue tertawa.. hanya tersenyum kecil untuk ikut merasakan kebahagiaan mereka.. sebentar lagi gue bakal meninggalkan tawa canda mereka. Agung, Panji, Weni, Dinda, Bencis.. semua bakal gue tinggalkan
Lalu..
“panggilan ditujukan kepada siswa yg bernama Boy dari kelas XI IPS 1.. harap segera menghadap ke wakasek kesiswaan di ruang BK.. saya ulangi.. panggilan..”
Gue lepaskan erat nya pelukan Weni di tangan gue. Gue terpaksa tinggalkan mereka yg sedang menangis.. gue melangkah dengan mantap ke arah ruang BK, tanpa keraguan sedikitpun. Ulah yg gue buat harus gue juga yg bertanggung jawab.. gue laki, segala konsekuensi bakal gue tanggung, sendiri..
Di ruang BK..
Gue mulai mendengar ceramahan-ceramahan dari para guru di ruangan itu. Mulai ceramah ngata-ngatain gue jagoan, preman, mau jadi apa kalo tingkah gue kaya gini, bermacam-macam pokoknya. Gue dianggap mencoreng nama baik sekolah gue karena ulah gue ini dan tindakan gue kemarin merupakan yg pertama kali semenjak sekolah ini berdiri. Melawan guru emang sudah sering terjadi tapi sampe merusak motor merupakan hal yg pertama. Rasanya panas kuping gue diceramahin seperti itu.. gue tau yg gue lakuin itu salah, gaperlu dikasih tau juga gue paham tapi mereka ga ngerti kenapa gue ngelakuin ini. Ada alasan kuat buat gue untuk bertindak brutal tapi gue ga bisa ngomong disini, gue ga mau ngomong sekarang
Gue cuma memandang mereka dengan tatapan tajam dan gue yakin cuma guru BK yg paham dengan tatapan gue, karena cuma guru BK yg dibelakali ilmu psikologi.. sisanya ga bakal paham dengan gestur seperti ini
Di ruangan itu, sedari tadi gue cuma mendengarkan mereka ngomel-ngomel nuturin gue. Mau ngoceh sampe sobek juga gue ga bakal mau minta maaf. Andai mereka tau permasalahan apa yg terjadi sebenernya, gue yakin muka mereka yg bakal malu sendiri. Mulut gue susah untuk bicara, bagi gue.. ga ada yg bisa gue percaya termasuk guru BK gue sendiri
Gue pamit keluar dan langsung menuju lapangan.. gue berdiri di depan tiang bendera sembari hormat menghadap keatas. Lu bayangin aja panasnya matahari di kota gue terus gue disuruh hormat. Kalo lu tanya gue males apa engga, gue jawab gue males!! Tapi dulu sewaktu kecil, gue pernah berjanji sama kakek.. sampe kapan pun gue bakal selalu hormat ke merah putih, kalo perlu sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara paling lantang karena.. almarhum buyut gue adalah salah satu orang yg gugur demi berjuang memerdekakan negara ini. Rakyat jelata yg cuma mengandalkan golok sebagai senjata jihad nya. Karena ini lah di part sebelum nya gue bilang cinta sejarah
Ga jarang ketika gue dan temen2 gue upacara mesti kena gampar oleh guru2 sok nasionalis karena dianggap selengek’an menyanyikan lagu Indonesia. Gue dan geng bedebah selalu menyanyi dengan suara yg paling lantang, saking lantang nya, nih urat di leher sampe terlihat. Mereka ngeliatnya gue menghina lagu kebangsaan padahal ada maksud kenapa gue seperti itu. Itu lah syarat ketika Panji berikrar gabung ke geng bedebah.. dia juga harus melalui proses gamparan itu
Panas.. itu adalah kesan pertama saat baru beberapa menit gue berdiri. Haus.. ga bakal bisa gue hindari kalo yg satu ini.. ntah sudah berapa jam gue berdiri. Terkadang gue juga bernyanyi lirih lagu Indonesia Raya sambil sedikit menangis.. Bukan sebuah tangisan ketakutan.. Melainkan sebuah tangisan ketika gue tidak bisa lagi melawan sebuah superioritas yg melekat di status sosial nya. Gue ngerasa apa yg gue lakukan hanya lah hal yg sia2 belaka. Baskoro tetaplah baskoro.. Yg hanya berani memaki di muka lalu berselimut seragam kebesaran nya. Sekeras apa pun usaha gue untuk balas dendam, rasa nya bakal percuma. Bener2 ga adil..
Ingin rasanya gue cerita ke kakek tentang masalah ini. Gue berpikir kakek pasti memahami kondisi gue.. kenapa masih saja ada superioritas? Bukan nya guru dan murid itu sama? Kenapa Baskoro bisa seenak nya berkata kasar hanya karena Weni tertidur? Weni emang salah tapi apa harus seperti itu? mana ada manusia tanpa tidur? Apa ga ada hukuman yg lebih pantas buat seorang perempuan?
Pandangan gue mulai kabur.. ketika gue liat lapangan, pantulan cahaya matahari diatas paving pun serasa bergelombang.. segitu panaskah ini? kenapa gue masih sebegitu kuatnya berdiri.. kenapa ga pingsan aja gue.. kepala gue udah mulai pusing ya Tuhan..
Bel istirahat pun berbunyi..
Gue ga bakal merubah posisi gue.. gue terlalu teguh untuk terus hormat ke bendera sampai guru memanggil gue. Gue cuma butuh temen gue, gue haus.. kemana mereka semua.. kenapa ga ada satupun yg nyamperin gue.. kasih gue topi dan minum aja udah cukup buat gue
Kemana geng bedebah.. kemana Weni, Dinda dan selir-selir gue lainnya.. andai mbak Farah masuk sekolah hari ini, pasti dia udah nemenin gue daritadi.. gue tengok kulit gue udah memerah.. bentar lagi gue pasti mimisan. Gue berharap gue ga pingsan aja.. daya tahan tubuh gue udah dibatas maksimal ini. Kuat Boy kuaatt.. jangan bikin malu nama kakek buyut lu!!
Hingga akhirnya.. dari sekian banyak orang yg cuma ngeliatin gue, ada satu orang yg datang nyamperin gue. Dia adalah Bela.. kakak kelas gue yg misterius itu. Dia kasih gue jaket, topi dan air mineral dingin. Rasanya nyeess.. gue bener2 sangat tertolong dengan kehadiran nya
Gue serahin jaket dan topi buat Panji pakai.. dia gantiin gue hormat di depan tiang bendera, tetap hormat sama seperti yg gue lakukan walaupun sikapnya ga sempurna karena tangan nya terus-terusan nyuruh gue cepet menuju ke kelas Amel
Gue berlari kesana dengan kondisi yg capek parah dan seragam yg sudah sangat basah. Ketika gue baru sampe di depan kelas Amel, gue ketemu Agung yg keluar kelas sambil menutup mulut yg sudah berdarah-darah
Gue masuk ke kelas.. dan betapa terkejutnya gue dengan keadaan 2 temen cewe gue ini. Amel sudah berantakan rambutnya.. ini pasti abis kena jambak, lalu pipinya yg putih sudah memerah di bagian kiri.. Maya ngegampar Amel??
Gue tengok Maya.. rambutnya yg diikat sudah berantakan.. bahkan karet rambutnya sudah ada di pundaknya
Mata keduanya sudah berlinang air mata.. tapi masih saling memandang dengan sorot mata yg tajam. Gue jadi ketakutan sendiri.. gue ga pernah melihat mereka berdua seperti itu. Galer dan Joni sudah disana.. sambil menghela nafas yg ga biasa. Joni memegangi Amel dan Galer memegangi Maya, tentunya sambil dibantu oleh temen2 lainnya
Semuanya bubar.. gue bawa Maya ke kelasnya.. gue suruh yg lain ga mengganggu Maya dulu. Kelas gue tutup dan gue suruh temen gue jaga di depan. Jangan sampe kekacauan ini terdengar di telinga para guru. Bisa makin rumit ceritanya ntar.. karena ada gue yg jadi biang penyebabnya
Diujung Tanduk
Pagi itu.. gue ngerasa sepertinya bakal ada suatu keputusan yg akan diberikan pihak sekolah untuk gue. Tindakan gue kemarin memang sudah kelewatan.. untuk ukuran murid di SMA teladan, tindakan gue sudah benar-benar diluar batas kewajaran
Sengaja gue ga membawa buku paket untuk mata pelajaran hari ini.. gue cuma memasukan 2 buku tulis ke dalam tas gue. 1 buku buat jaga-jaga seandainya dikumpulkan, 1 lagi buat gue mencatat pelajaran hari ini
Gue masuk ke kelas.. setelah menghela nafas dalam-dalam, gue duduk di bangku gue. Sebisa mungkin gue menutupi kekhawatiran gue dari temen-temen gue, terutama Weni.. dia paling paham dengan raut wajah gue soalnya. Gue ikut nimbrung dengan mereka, ikut tertawa dan terkadang ikut bikin rusuh suasana kelas, gue berusaha menyamar di depan mereka. Mungkin inilah hari terakhir gue bersekolah disini. Seenggaknya gue masih meninggalkan kesan manis di depan anak buah gue di hari terakhir sekolah disini
Guru matematika pun masuk ke kelas.. gue yakin semua guru sudah tau kasus ini jadi gue harap guru itu ga membahas sedikitpun tentang kejadian motor yg sudah hancur lebur di parkiran guru. Beruntung bagi gue karena guru tersebut seperti menangkap kegelisahan gue.. walaupun guru tersebut guru killer (kata murid kelas lain) tapi di kelas gue beliau adalah guru yg menyenangkan, ga pernah sekalipun beliau marah2 di kelas gue karena murid di kelas gue sudah jinakkan keganasan beliau. Semua murid di kelas gue jadinya dekat dengan beliau
Gue coba jawab pertanyaan seperti biasa dan adu debat dengan guru tersebut.. seolah-olah tidak ada hal yg mengganjal di pikiran gue. Semua tampak serius memperhatikan pelajaran dan ga jarang terjadi sharing bagaimana cara menyelesaikan soal dengan cepat, hal yg selalu ditunggu2 oleh murid ketimbang cuma berpatok dari cara penyelesaian di buku paket. Begitulah keseharian kelas gue dengan guru matematika tersebut. Hal ini yg akhirnya membuat beliau dekat dengan murid kelas gue
“..teeettt..teeettt..” bel istirahat pun berbunyi
Beberapa anak sudah langsung keluar kelas, mungkin ke kantin.. gue ke depan kelas untuk menghapus papan tulis.. itu hanya alibi gue ke temen2 gue karena gue bisa menangkap sepertinya ada yg ingin guru gue sampaikan ke gue
Quote:
Gue kembali duduk di bangku gue.. bergabung dengan kegembiraan temen-temen gue yg sedari tadi tertawa terbahak-bahak karena ada bahan yg mereka tertawakan. Gue cuma duduk dan bersandar di kursi, ga sedikitpun gue tertawa.. hanya tersenyum kecil untuk ikut merasakan kebahagiaan mereka.. sebentar lagi gue bakal meninggalkan tawa canda mereka. Agung, Panji, Weni, Dinda, Bencis.. semua bakal gue tinggalkan
Lalu..
“panggilan ditujukan kepada siswa yg bernama Boy dari kelas XI IPS 1.. harap segera menghadap ke wakasek kesiswaan di ruang BK.. saya ulangi.. panggilan..”
Quote:
Gue lepaskan erat nya pelukan Weni di tangan gue. Gue terpaksa tinggalkan mereka yg sedang menangis.. gue melangkah dengan mantap ke arah ruang BK, tanpa keraguan sedikitpun. Ulah yg gue buat harus gue juga yg bertanggung jawab.. gue laki, segala konsekuensi bakal gue tanggung, sendiri..
Di ruang BK..
Quote:
Gue mulai mendengar ceramahan-ceramahan dari para guru di ruangan itu. Mulai ceramah ngata-ngatain gue jagoan, preman, mau jadi apa kalo tingkah gue kaya gini, bermacam-macam pokoknya. Gue dianggap mencoreng nama baik sekolah gue karena ulah gue ini dan tindakan gue kemarin merupakan yg pertama kali semenjak sekolah ini berdiri. Melawan guru emang sudah sering terjadi tapi sampe merusak motor merupakan hal yg pertama. Rasanya panas kuping gue diceramahin seperti itu.. gue tau yg gue lakuin itu salah, gaperlu dikasih tau juga gue paham tapi mereka ga ngerti kenapa gue ngelakuin ini. Ada alasan kuat buat gue untuk bertindak brutal tapi gue ga bisa ngomong disini, gue ga mau ngomong sekarang
Quote:
Gue cuma memandang mereka dengan tatapan tajam dan gue yakin cuma guru BK yg paham dengan tatapan gue, karena cuma guru BK yg dibelakali ilmu psikologi.. sisanya ga bakal paham dengan gestur seperti ini
Di ruangan itu, sedari tadi gue cuma mendengarkan mereka ngomel-ngomel nuturin gue. Mau ngoceh sampe sobek juga gue ga bakal mau minta maaf. Andai mereka tau permasalahan apa yg terjadi sebenernya, gue yakin muka mereka yg bakal malu sendiri. Mulut gue susah untuk bicara, bagi gue.. ga ada yg bisa gue percaya termasuk guru BK gue sendiri
Quote:
Gue pamit keluar dan langsung menuju lapangan.. gue berdiri di depan tiang bendera sembari hormat menghadap keatas. Lu bayangin aja panasnya matahari di kota gue terus gue disuruh hormat. Kalo lu tanya gue males apa engga, gue jawab gue males!! Tapi dulu sewaktu kecil, gue pernah berjanji sama kakek.. sampe kapan pun gue bakal selalu hormat ke merah putih, kalo perlu sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara paling lantang karena.. almarhum buyut gue adalah salah satu orang yg gugur demi berjuang memerdekakan negara ini. Rakyat jelata yg cuma mengandalkan golok sebagai senjata jihad nya. Karena ini lah di part sebelum nya gue bilang cinta sejarah
Ga jarang ketika gue dan temen2 gue upacara mesti kena gampar oleh guru2 sok nasionalis karena dianggap selengek’an menyanyikan lagu Indonesia. Gue dan geng bedebah selalu menyanyi dengan suara yg paling lantang, saking lantang nya, nih urat di leher sampe terlihat. Mereka ngeliatnya gue menghina lagu kebangsaan padahal ada maksud kenapa gue seperti itu. Itu lah syarat ketika Panji berikrar gabung ke geng bedebah.. dia juga harus melalui proses gamparan itu
Panas.. itu adalah kesan pertama saat baru beberapa menit gue berdiri. Haus.. ga bakal bisa gue hindari kalo yg satu ini.. ntah sudah berapa jam gue berdiri. Terkadang gue juga bernyanyi lirih lagu Indonesia Raya sambil sedikit menangis.. Bukan sebuah tangisan ketakutan.. Melainkan sebuah tangisan ketika gue tidak bisa lagi melawan sebuah superioritas yg melekat di status sosial nya. Gue ngerasa apa yg gue lakukan hanya lah hal yg sia2 belaka. Baskoro tetaplah baskoro.. Yg hanya berani memaki di muka lalu berselimut seragam kebesaran nya. Sekeras apa pun usaha gue untuk balas dendam, rasa nya bakal percuma. Bener2 ga adil..
Ingin rasanya gue cerita ke kakek tentang masalah ini. Gue berpikir kakek pasti memahami kondisi gue.. kenapa masih saja ada superioritas? Bukan nya guru dan murid itu sama? Kenapa Baskoro bisa seenak nya berkata kasar hanya karena Weni tertidur? Weni emang salah tapi apa harus seperti itu? mana ada manusia tanpa tidur? Apa ga ada hukuman yg lebih pantas buat seorang perempuan?
Pandangan gue mulai kabur.. ketika gue liat lapangan, pantulan cahaya matahari diatas paving pun serasa bergelombang.. segitu panaskah ini? kenapa gue masih sebegitu kuatnya berdiri.. kenapa ga pingsan aja gue.. kepala gue udah mulai pusing ya Tuhan..
Bel istirahat pun berbunyi..
Gue ga bakal merubah posisi gue.. gue terlalu teguh untuk terus hormat ke bendera sampai guru memanggil gue. Gue cuma butuh temen gue, gue haus.. kemana mereka semua.. kenapa ga ada satupun yg nyamperin gue.. kasih gue topi dan minum aja udah cukup buat gue
Kemana geng bedebah.. kemana Weni, Dinda dan selir-selir gue lainnya.. andai mbak Farah masuk sekolah hari ini, pasti dia udah nemenin gue daritadi.. gue tengok kulit gue udah memerah.. bentar lagi gue pasti mimisan. Gue berharap gue ga pingsan aja.. daya tahan tubuh gue udah dibatas maksimal ini. Kuat Boy kuaatt.. jangan bikin malu nama kakek buyut lu!!
Hingga akhirnya.. dari sekian banyak orang yg cuma ngeliatin gue, ada satu orang yg datang nyamperin gue. Dia adalah Bela.. kakak kelas gue yg misterius itu. Dia kasih gue jaket, topi dan air mineral dingin. Rasanya nyeess.. gue bener2 sangat tertolong dengan kehadiran nya
Quote:
Gue serahin jaket dan topi buat Panji pakai.. dia gantiin gue hormat di depan tiang bendera, tetap hormat sama seperti yg gue lakukan walaupun sikapnya ga sempurna karena tangan nya terus-terusan nyuruh gue cepet menuju ke kelas Amel
Gue berlari kesana dengan kondisi yg capek parah dan seragam yg sudah sangat basah. Ketika gue baru sampe di depan kelas Amel, gue ketemu Agung yg keluar kelas sambil menutup mulut yg sudah berdarah-darah
Quote:
Gue masuk ke kelas.. dan betapa terkejutnya gue dengan keadaan 2 temen cewe gue ini. Amel sudah berantakan rambutnya.. ini pasti abis kena jambak, lalu pipinya yg putih sudah memerah di bagian kiri.. Maya ngegampar Amel??

Gue tengok Maya.. rambutnya yg diikat sudah berantakan.. bahkan karet rambutnya sudah ada di pundaknya
Mata keduanya sudah berlinang air mata.. tapi masih saling memandang dengan sorot mata yg tajam. Gue jadi ketakutan sendiri.. gue ga pernah melihat mereka berdua seperti itu. Galer dan Joni sudah disana.. sambil menghela nafas yg ga biasa. Joni memegangi Amel dan Galer memegangi Maya, tentunya sambil dibantu oleh temen2 lainnya
Quote:
Semuanya bubar.. gue bawa Maya ke kelasnya.. gue suruh yg lain ga mengganggu Maya dulu. Kelas gue tutup dan gue suruh temen gue jaga di depan. Jangan sampe kekacauan ini terdengar di telinga para guru. Bisa makin rumit ceritanya ntar.. karena ada gue yg jadi biang penyebabnya
Quote:
Lanjutan ↓↓↓
Diubah oleh suboyxxx 09-10-2016 10:54
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6







