Part 8
Di tiga tempat dalam waktu yang sama telah terjadi kegemparan sehebat bencana alam dahsyat. Tiga tokoh sakti yang baru saja menjejaki dunia persilatan telah unjuk gigi. Ketiganya seakan membuat maklumat dahsyat, untuk menantang seluruh lapisan dunia persilatan!
Di sekitar Gunung Bromo, telah berkumpul puluhan bahkan ratusan orang persilatan. Sebagian di antara mereka, bahkan tergolong tokoh penguasa papan atas. Apakah itu dari dunia hitam atau dari dunia putih. Banyak yang tak bisa memungkiri ketakjuban mereka menyaksikan ulah Dewa Halilintar. Namun tak sedikit pula yang menjadi muak. Sementara jumlah mereka terus bertambah, kericuhan besar di Puncak Bromo makin menggila.
“Ada pemuda sinting berilmu tinggi yang mengamuk! Entah, pada siapa,” begitu kata setiap orang yang baru datang.
“Ah! Barangkali dia belum menetek pada ibu nya,” leceh yang lain sebelum benar-benar menyaksikan dengan mala kepala sendiri.
Setelah benar-benar menyaksikan, mereka malah tidak bisa bicara. Bungkam seribu bahasa, seolah baru saja diserobot setan telat buang air!
Di lain tempat, makin banyak kobaran api raksasa menjilat angkasa di beberapa tempat. Itulah ulah si Dewa Api yang telah membuat beberapa perguruan besar menjadi memberantas habis penghuninya, seperti membantai anjing-anjing geladak tak berarti. Setiap kali muncul untuk memberangus sebuah perguruan silat besar, lelaki muda itu akan berdiri pongah di atas bangunan terbesar. Seluruh tubuhnya diselubungi api. Dengan perbuatannya, dia mengumumkan bahwa seorang tokoh sakti dari Tiga Dewa telah datang bertandang dan siap mengirim siapa saja ke dasar kerak neraka!
Tuntas membereskan satu perguruan besar yang sesungguhnya sudah Berjaya dalam persaingan antar perguruan yang keras, Dewa Api memburu perrguruan-perguruan besar di tempat lain. Begitu seterusnya sampai seluruh dunia persilatan tahu kalau Dewa Api telah datang untuk menjadi momok!
Satu lagi kehebohan yang tak mungkin diacuhkan adalah sepak terjang Dewa Topan yang terus saja mengumbar kekuatan angin raksasanya untuk mengelilingi buana dengan menunggang puting beliung! Semua itu amat membuat seorang pendekar menjadi murka besar. Setelah mendengar dari beberapa sumber tentang sepak terjang mereka bertiga, telinganya kontan menjadi panas memerah. Siapa dia? Dia adalah sang pembela kebenaran dan keadilan. Tokoh muda yang saat ini paling menjadi perhitungan siapa pun tokoh sesat.... Pendekar Slebor!
Kini, pemuda sakti itu sedang mengejar waktu menuju tempat Dewa Topan mengamuk. Keputusan pertama itu dibuatnya mengingat sepak-terjang Dewa Topan paling banyak memakan korban yang tak berdosa di kalangan rakyat jelata Apa yang hendak diperbuatnya pada Dewa Topan?
***
“Anak muda sembrono! Hentikan tindakan tololmu seperti itu! Apa kau piker dunia ini milikmu!” hardik seseorang, amat sarat kegusaran di antara suara riuh-rendah angin putting beliung tunggangan Dewa Topan.
Dewa Topan cukup terkesiap mendengar hardikan itu. Dari pucuk angin yang demikian tinggi saja, telinganya sudah begitu pekak mendengar hardikan tadi. Apalagi, jika berada di bawah sana. Belum lagi, kekuatan hardikan yang sanggup menembus suara keras angin puting beliungnya
Sementara melayang jauh di ketinggian, mata Dewa Topan mencari-cari asal suara. Dan dia menemukan seseorang yang membuat bulu halus di sekujur tubuhnya bergetar. Orang itu sedang berdiri bertolak pinggang di lapangan kering. Wajahnya mendongak, melempar kesan kemurkaan pada Dewa Topan.
Sosok yang dilihat Dewa Topan itu hanya seorang pemuda berambut panjang lurus dengan ikat kepala warna merah. Wajahnya tampan sekaligus angker. Matanya setajam sisi sembilu. Sinar matahari terpantul ramai dari pakaian kulit ular keperakan yang dikenakan. Yang jelas bukan hanya karena itu hati Dewa Topan menjadi mengempas. Di mata kalung pemberian gurunya, Datuk Sesat Penguasa Topan, terdapat lukisan pemuda yang amat mirip dengan orang yang disaksikannya sendiri saat ini. Kalaupun hatinya jadi demikian terperangah, karena menurut Datuk Sesal Penguasa Topan, anak muda yang ada dalam lukisan mata kalung itu adalah guru
besarnya yang sudah dianggap seperti dewa!
“Kenapa kau jadi melompong seperti itu! Cepat turun dari mainanmu itu! Apa kau tak bisa sopan sedikit pada eyang gurumu!” bentak pemuda di bawah.
Dewa Topan digasak kebimbangan. Apa benar orang itu adalah eyang gurunya yang hidup berpuluh-puluh tahun silam? Mengapa dia masih semuda itu? Ataukah memang sehebat dewa seperti perkataan gurunya hingga sanggup pula membuat dirinya awet muda?
Merasa kurang yakin dengan pandangannya serta teriakan orang di bawah tadi, Dewa Topan segera saja mengeluarkan mata kalung dari balik bajunya. Sekali lagi dilihatnya lukisan yang agak kusam pada kulit kerang laut itu. Kemudian, dibandingkannya dengan orang di bawah. Dua kali... tiga kali.... Sampai dia sendiri sulit membedakannya dengan seorang yang dilihatnya. Benar-benar mirip dengan lukisan yang terdapat di kalung. Jadi?
“Hoooiii! Apa kau tuli?! Atau Sancini tak pernah memberitahu siapa aku?!”
Sekali lagi tersumbar teriakan Cumiakkan yang lebih guruh daripada suara angin raksasa Dewa Topan.
“Dia tahu pula nama guruku?” kata Dewa Topan, membatin lagi.
“Turun kataku! Atau aku harus melibas angin ini dulu agar kau terjatuh?!”
Mata Dewa Topan membesar, bingung berbaur gusar. Masih saja hatinya tak yakin kalau orang yang dihadapinya kini adalah eyang gurunya. Seorang tokoh angkatan tua yang kesaktiannya selalu digembar-gemborkan gurunya, sebagai dewa berwujud manusia... si Pengumpul Ilmu!
“Siapa kau sebenarnya?!” teriak Dewa Topan, menanggapi teriakan-teriakan liar orang di bawahnya.
“Dasar otak tumpul! Bukankah sudah kukatakan tadi, kalau aku adalah eyang gurumu!” Dewa Topan menyeringai.
“Hia he he.... Jangan anggap aku bisa begitu saja percaya,” cemooh Dewa Topan.
Tangan orang di bawah Dewa Topan makin tinggi bertolak pinggang. Wajahnya makin tersapu warna merah. Sedang matanya makin mendelik-delik panas.
“Kalau begitu, sama saja kau minta digebuk tangan eyang gurumu sendiri!”
“Eyang Guru.... Hia he he,” celoteh Dewa Topan melecehkan kembali.
“Kurang asin, kau ya! Nih, biar tahu rasa!” seru pemuda berpakaian kulit ular yang begitu serupa dengan si Pengumpul Ilmu pada masa jayanya beberapa puluh tahun lalu.
Seraya berseru, tangan pemuda itu mengibas enteng ke pusat angin putting beliung yang berpusing, seakan hendak melubangi bumi sekitar dua puluh tombak dari tempatnya. Beriring gerak kibasan enteng tangannya, berhembus angin lembut sepoi-sepoi. Jangan lagi untuk memporak-porandakan angin ribut, untuk mengayunkan daun kering di udara saja tampaknya sudah tak sanggup.
Lambat tapi pasti, angin semilir itu seperti merambat menuju sasaran. Begitu tiba di kaki angin puting beliung, dalam sekerdipan mata saja angin semilir itu berubah menjadi sebentuk sapuan amat dahsyat, yang sanggup memenggal seketika arus putaran angin raksasa itu! Maka terbuktilah ancaman pemuda yang mengaku sebagai si Pengumpul Ilmu. Dia benar-benar telah berhasil melibas angin puting beliung raksasa langsung dari pusatnya. Tak ayal lagi, arah putarannya pun menjadi tak beraturan. Akibatnya, kekuatan angin menjadi terpecah hingga pusaran raksasa tak dapat terbentuk lagi. Kecuali, tiupan ngawur yang berhembus kencang ke segenap penjuru!
“Yah.... Tamatlah riwayat angin puting beliung...,” tukas pemuda berpakaian ular itu. Kepalanya menggeleng-geleng lamban, seperti menyesali perbuatannya sendiri.
Di lain sisi, Dewa Topan kini melayang deras menuju wajah bumi. Lapangan kering kerontang yang tanahnya sudah terbelah-belah siap menadahi tubuhnya. Dari ketinggian yang begitu luar biasa, ternyata Dewa Topan masih sanggup mengusahakan agar tubuhnya tak salah mendarat. Begitu indah dan mengagumkan, ketika tubuhnya berputar beberapa kali dalam beberapa bentuk gerak. Sampai akhirnya, kakinya mendarat lebih dahulu.
Jleg!
Hanya tercipta detak ringan manakala kaki Dewa Topan menghujam tanah kering, tepat sembilan depa dari pemuda berpakaian kulit ular.
“Sekarang, coba katakan kalau kau masih belum percaya padaku!” ancam pemuda berpakaian kulit ular itu.
Dewa Topan menantang tatapan lelaki muda yang mengaku sebagai eyang gurunya dengan mata mencorong tak kalah mengancam.
“Aku memang masih tetap tak percaya!” tandas Dewa Topan sepenuhnya menantang.
Mata pemuda berpakaian kulit ular itu melotot sejadi-jadinya. Dongkol sekali hatinya menghadapi silat keras kepala Dewa Topan.
“Apa lagi yang kau minta agar aku bisa membuatmu mengakui aku sebagai eyang gurumu, Pemuda Kualat!” hardik si Pengumpul Ilmu terseret dan garang.
“Bertarung! Hanya dengan pertarungan, aku bisa tahu apakah kau benar-benar eyang guruku atau bukan...,” tegas Dewa Topan mantap.
Bibir pemuda berpakaian kulit ular terungkit. Sulit menentukan apakah sedang menyeringai, atau sedang tersenyum.
“Kau akan menyesal nanti..,” desis si Pengumpul Ilmu tajam.
Dewa Topan tak ingin berlama-lama. Segera saja telapak tangannya digenjot ke depan. Seluruh otot-ototnya meregang, bagai jalinan kawat baja. Begitu juga kesepuluh jari-jemarinya. Saat itu pula dari telapak tangannya berhembus amat kencang pukulan ‘Angin Menggila’ tingkat ketiga puluh tiga. Digempurnya pemuda berpakaian kulit ular dengan pukulan yang menghasilkan hembusan angin berkekuatan topan.
Bagai gelombang yang membuncah dari dasar laut, angin pukulan Dewa Topan menyerbu ganas ke arah pemuda berpakaian kulit ular perak. Debu, rerumputan, kerikil, bahkan batu-batu sebesar kepala kerbau ikut terbawa.
Wushhh!
Terjangan angin berkekuatan amukan topan, melahirkan deru yang bisa membuat pecah gendang telinga seorang berkepandaian cetek. Tanah kering di kaki mereka saja dapat terbelah terkena getarannya. Memang sehimpun batu sebesar kepala kerbau ikut tersapu. Demikian pula tanah kering yang menjadi terbelah. Namun pemuda yang menjadi sasaran serangan tetap dingin. Wajahnya setenang permukaan telaga dengan mata terpejam. Bahkan tak tampak sesak manakala menarik napas. Padahal, kekuatan angin Dewa Topan sanggup menahan jalan napas seekor gajah jantan!
Rambut pemuda yang mengaku sebagai si Pengumpul Ilmu itu menjadi awut-awutan tak karuan. Kalau ada yang paling parah menjadi korban serangan, hanya baju kulit ular peraknya. Di beberapa bagian menjadi koyak dibetot angin. Semakin angin menerjang, semakin ramai koyakannya. Gilanya, si pemilik pakaian ular itu justru malah terlihat semakin menikmati! Bibirnya mengumbar senyum. Sesekali matanya membuka, lalu terkatup-katup layaknya seorang kakek menikmati angin sepoi-sepoi di senja hari.
Dewa Topan jadi jengkel bukan main. Baru kali ini ada orang yang bisa menganggap pukulan ‘Angin Menggila’nya hanya sebagai hembusan pengundang kantuk!
“Heaaa...!”
Dengan sebongkah kegusaran melonjak ke tenggorokan, Dewa Topan berteriak lantang-lantang. Digenjotnya lagi tenaga ‘Angin Menggila’nya hingga hamper mencapai tingkat empat puluhdua, satu tingkat menjelang puncak.
“Huaaahhh...!”
Si Pengumpul Ilmu memang sedikit sinting. Menerima peningkatan gempuran yang jauh lebih dahsyat, justru mulutnya malah menguap lebar-lebar. Kalau saja ada seekor tikus ikut terbawa angin, sudah pasti akan tertelan. Tapi jangan dianggap kalau itu kuapan biasa. Justru sambil menguap, dia mulai melakukan serangan balasan.
Nguuung!
Suara bergaung akibat terpaan angin pada mulutnya mulai terdengar. Semula pelan saja. Namun sekejap kemudian mulai meninggi, meninggi dan kian meninggi. Sampai yang terdengar hanya gaung yang menelan deru angin ribut dari tangan Dewa Topan. Bahkan kini telinga Dewa Topan digasaknya. Sebentar saja, pemuda berwajah beruk itu mulai mengungkit-ungkit bahu, tak tahan mendengar bunyi ganjil itu. Matanya pun terkatup, hingga sudut-sudutnya mengerut. Biar begitu, Dewa Topan tak menyerah. Angin pukulannya segera ditingkatkan ke arah pemuda berpakaian ular itu. Namun, apa yang terjadi? Semakin hembusan anginnya ditingkatkan, semakin gila saja gendang telinganya digasak dengung dari mulut lawan!
Serangan balasan yang menggelikan sekaligus mempesona! Menggelikan, karena suara itu dihasilkan bentuk kuapan mulut si Pengumpul Ilmu. Mempesona, karena hanya dengan memanfaatkan tenaga lawan yang diarahkan dengan sempurna, pemuda berpakaian ular itu bisa melancarkan serangan balasan yang merepotkan....
Sampai akhirnya, Dewa Topan tiba di ambang batas pertahanannya. Dijegalnya pukulan ‘Angin Menggila’nya secara tiba-tiba, begitu telinganya bagai hendak disodok tombak bermata baja. Saat itu, cairan berwarna merah sudah pula menggenangi sepasang telinganya. Puncaknya terjadi, ketika dengung itu seperti merasuki seluruh jaringan saraf di otaknya.... Kepalanya mendadak seperti ditimpa gunung. Itulah yang membuat serangannya berhenti tiba-tiba.
“He he he! Bagaimana, Anak Muda? Apa kau masih belum percaya?” leceh pemuda berpakaian kulit ular perak. Matanya santai mengawasi Dewa Topan yang nyaris bersimpuh. Disebutnya Dewa Topan dengan sebutan ‘anak muda’, seolah usianya bertaut demikian jauh.
Masih dengan mendekap telinganya erat-erat didera rasa sakit. Dewa Topan mulai bisa menguasai kesadarannya kembali.
“Kalau kau benar-benar eyang guruku, apa maumu sebenarnya...?” tanya Dewa Topan terseret. Kekukuhan pendirian dan keangkuhannya telah lumer.
“Dasar anak bodoh!” umpat pemuda berpakaian kulii ular setengah menggerutu.
“Kalau eyang gurumu datang, tentu saja ada maunya. Aku ingin memberitahu padamu, bagaimana caranya agar benar-benar dapat menguasai dunia persilatan! Kau mau apa tidak?! Kalau tidak, aku akan segera pergi. Dan aku tak perlu pada anak muda yang tak mau diberi petunjuk oleh eyang gurunya sendiri!”
Pemuda berpakaian kulit ular itu pun mulai melangkah, hendak pergi.
“Eyang tahan!” cegah Dewa Topan.
Pikir punya pikir. Bahkan setelah dipikir bolak-balik, Dewa Topan akhirnya mau juga mengakui lelaki yang tak lebih tua darinya sebagai eyang gurunya. Kalau wajah dan penampilannya sudah sama dengan lukisan di mata kalung, dan kalau kesaktiannya pun sudah tidak diragukan, mau apa lagi?
“Ampuni aku Eyang. Aku tadi hanya....
“Hanya tak percaya!” sergah si Eyang. Matanya mendelik sebesar jengkol. Wajahnya yang tampan jadi terlihat tolol.
“Sekarang aku siap menerima nasihat Eyang,” ucap Dewa Topan luluh bersimpuh di depan kaki si Eyang Muda. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Tanpa sepengetahuan Dewa Topan, si Eyang tersenyum tipis penuh arti. Senyum yang hanya dimengerti olehnya sendiri...