Part 7
Sekarang Pendekar Slebor telah tahu banyak tentang asal muasal kesaktian ‘Halilintar’, ‘Api’, dan ‘Topan’ dari sahabat kakek buyutnya. Menurut Pertapa Rakit waktu itu, banyak kemungkinan bahaya lain bisa terjadi, bila seseorang menguasai ketiga kesaktian itu sekaligus.
Juga baru diketahui Andika, bahwa tiga lelaki kembar berwajah beruk adalah murid dari tiga orang pencoleng yang menjadi pewaris ketiga kesaktian tangguhnya. Setelah mendapatkan kesaktian masing-masing, ketiga bekas pencoleng yang kemudian tersohor sebagai Tiga Datuk Sesat Penguasa Alam itu mulai bermusuhan satu sama lain. Sebab pada dasarnya, tabiat mereka sudah buruk. Dianggapnya, diri masing-masing adalah orang yang memiliki kesaktian paling ampuh.
Permusuhan mereka ternyata telah sengaja ditanamkan secara cerdik oleh Pendekar Lembah Kutukan. Dengan permusuhan itu, mereka jadi tak terlalu banyak melakukan kejahatan di dunia persilatan, karena disibuki oleh ulah satu sama lain. Memang, sebelum masing-masing benar-benar tuntas diturunkan tiga ilmu berbeda oleh sahabatnya. Pendekar Lembah Kutukan sengaja membakar-bakar rasa kebanggaan berlebihan mereka satu persatu. Pada setiap orang dikatakan kalau kelebihan kesaktian kesaktian yang didapat lebih tinggi dan lebih hebat daripada yang lain. Begitu ketiganya sudah kenyang dicekoki, tentu saja mereka akan merasa paling hebat. Maka perselisihan yang berekor pada permusuhan pun tak dapat dicegah lagi.
Sampai suatu hari, tanpa sengaja mereka menemukan batu berbentuk tengkorak. Di sanalah mereka membuat kesepakatan untuk membuat batas wilayah kekuasaan masing-masing. Setelah bermusuhan selama lebih kurang empat puluh tahun, mereka rupanya mulai bosan dan letih. Agar tidak melakukan sepak terjang di luar balas, tanpa diketahui mereka sendiri, sang guru telah menjalankan hidup sebagai pertapa yang selalu menghalang-halangi niat buruk ketiganya.
Maka tak heran bila tiap murid dari masing-masing tokoh sesat yang berjuluk Tiga Datuk Sesat Penguasa Alam itu kemudian juga saling mengagungkan kepandaian masing-masing. Bahkan begitu mendengar kalau dalam dunia persilatan ada tokoh yang berjuluk Pertapa Rakit dengan kepandaian yang amat tinggi, salah satu murid dan salah salah satu datuk sesat itu, Dewa Halilintar, berani menantang Pertapa Rakit. Dan Dewa Halilintar memang tidak tahu kalau Pertapa Rakit sebenarnya adalah Eyang Gurunya.
Di samping seluruh cerita tadi, Andika pun mendapat tambahan cerita rahasia. Bahwa....
***
Angin puting beliung mengamuk sejadi-jadinya siang itu. Tak peduli pada apa atau siapa, semuanya diterjang, diseruduk, atau dilempar tinggi-tinggi ke udara. Sebagian malah digulung-gulung di angkasa! Orang-orang lari lintang-pukang. Rumah-rumah remuk redam. Binatang ternak terhempas, seperti lembaran-lembaran kapas. Pepohonan tercabut, disedot masuk ke dalam pusaran puting beliung, lalu diputar-putar. Semuanya porak poranda. Tapi, sang raja angin belum juga puas.
Tepat di puncak angin puting beliung, setiap mata pasti akan terbeliak. Bahkan setiap hati tak urung menjadi ciut melihat seorang lelaki berwajah beruk berpakaian hitam pekat berdiri tangguh bagai si penunggang puting beliung! Dialah Dewa Topan.
Segenap mata warga persilatan yang kebetulan berada cukup dekat untuk menyaksikan puncak Bromo menjadi tak berkedip. Mereka tiba-tiba seperti dicekam oleh suatu ancaman yang belum lagi terpahami.
“Tiga Dewa! Tiga Dewaaa, Tiga Dewaaa...!” teriak Dewa Halilintar, bagai sedang menzikirkan keunggulan mereka bertiga.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Rupanya, mereka yang menyebutkan diri sebagai Tiga Dewa telah tahu siapa diri masing-masing!
***
“Kini, telah jelas kalau kita ternyata bersaudara kembar, bukan?” Dewa Topan membuka percakapan pada Dewa Api dan Dewa Halilintar di tempat terakhir mereka bertemu sebelum seluruh kejadian itu.
“Guru kita masing-masing telah jelas-jelas mengatakan begitu!”
“Sekarang, apa mau kita sebenarnya?!” tukas Dewa Halilintar menyela.
“Itu pertanyaannya. Mau apa kita sekarang?” ulang Dewa Topan.
“Bukankah terakhir kali kita membicarakan, siapa yang pantas menjadi pemimpin”
Dewa Api mengangguk. Begitu juga Dewa Halilintar. Keduanya selalu tampak menekuk wajah. Bertolak belakang sekali dengan Dewa Topan yang lalu tampak senang. Satu sifat yang sama buat ketiganya adalah, nafsu membunuh dan nafsu berkuasa yang begitu meraksasa!
“Kalau begitu, mari kita adakan permainan!” ajak Dewa Topan meledak-ledak.
Tangannya terangkat tinggi. Wajahnya dilumat luapan nafsu.
“Apa maksudmu?!” sentak Dewa Api.
“Apa kau hendak membuat malu kami?!”
“Kau jangan bodoh! Permainan ini akan menentukan, siapa di antara kita yang memiliki kehebatan tertinggi. Caranya dengan berlomba mencari nama di dunia persilatan. Siapa saja yang menjadi tersohor dan paling menggegerkan, maka akan pantas menjadi pemimpin!” kata Dewa Topan dengan wajah berbinar-binar.
Pada saatnya, ketiganya benar-benar mewujudkan rencana sinting itu! Maka ketiganya memulai sepak terjangnya bagai tiga makhluk terkutuk yang datang dari dasar neraka untuk memporak-porandakan dunia persilatan. Membasuhnya dengan tumpahan warna merah berbau anyir, serta melantakkannya dengan segenap lengkingan kematian! Lalu, inilah mereka!
Dewa Topan telah mendapat seseorang yang bisa dijadikan sasaran dalam menguji kesaktian serta dalam menumpahkan segenap keinginan gilanya. Seseorang itu berdiri tak bergeming menyaksikan sepak terjang Dewa Topan. Sepertinya dia tak merasa gentar sedetik pun pada angin raksasa berpusing yang dekat dan semakin dekat menuju dirinya.
Dia adalah seorang lelaki berusia lebih tua sekitar dua puluh tahunan dari Dewa Topan. Tengkuknya berpunuk seperti unta gurun. Wajahnya kurus memanjang, dengan hidung seperti paruh gagak. Matanya bulat dan besar, seperti sedang mendelik Dewa Topan di pucuk angin puting beliungnya. Bibirnya berkerut merut seakan bergelombang.
Begitu angin puting beliung Dewa Topan kian dekat, pakaian lelaki yang berupa jubah kulit banteng langsung saja bergeletar hebat Tapi siapa nyana kalau keampuhan angin berpusing yang sanggup membuat terbang pepohonan berakar tangguh itu. ternyata tak sedikit pun bisa memaksa si lelaki berpunuk untuk terhempas.
Seperti tidak peduli pada usikan anak rambutnya yang tebal panjang berwarna kemerahan yang tersibak angin ke mana-mana; lelaki berpunuk tadi terus saja menatap Dewa Topan dengan kilatan mata menantang. Sebentar-sebentar, kelopak matanya menyipit, lalu mulai mendelik kembali. Tak perlu heran jika lelaki berpunuk itu berani bertindak nekat, sementara orang lain sudah menyingkir jauh-jauh dari amukan angin puting beliung. Dia memang bukan sejenis manusia yang sudi menyatu dengan gerombolan pecundang. Baginya lebih baik mati ketimbang hidup dengan wajah tercoreng.
Hati lelaki ini keras membatu. Seperti membaurnya rasa kemanusiaan dalam dirinya. Hingga yang menguasai benaknya hanya kekejaman dan kekejian. Di Rimba persilatan, orang itu ditakuti sebagai si Hati batu. Seorang tokoh kawakan sesat yang terlalu banyak membunuh.
“Siapa kau’?!” hardik Dewa Topan di atas angin yang ditungganginya.
Di kejauhan sana, Dewa Api terlihat begitu kecil. Namun tetap jelas terlihat sedang bertolak pinggang tinggi-tinggi.
Si Hati Batu mendongak. Tubuhnya tetap tak terusik meski libasan berpusing angin puting beliung sudah tinggal sekitar delapan tombak lagi darinya!
“Kau bocah bau kencur rupanya?!” ejek si Hati Batu.
“Apa kau belum pernah dengar julukan yang bisa membuatmu terkencing-kencing? Akulah si Hati Batu!”
“Hiaaa ha ha ha! Terkencing-kencing?! Hia ha ha! Tak akan ada lagi orang yang akan kau buat terkencing-kencing unta sembrono! Karena tak lama lagi, nyawamu akan segera kucampakkan ke dasar neraka!” sahut Dewa Topan, pongah.
Si Hati Batu membuang ludah penuh kemuakan.
“Chuih! Belum lagi kau tahu siapa aku, bisa-bisanya kau berkata seyakin itu!”
“Kenapa aku tidak yakin? Bisa kau saksikan sendiri bukan, kalau aku mampu menunggangi angin raksasa ini? Kau tahu? Dari tempatku ini, kau seperti seorang liliput yang siap kuinjak mampus!”
Kembali ludah si Hati Batu terhempas ke bumi. Hatinya semakin muak dengan pemuda yang seenaknya sesumbar di depan hidungnya. Meskipun dalam hati kecilnya, dia cukup kagum terhadap kehebatan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna milik sang calon lawan.
“Kau tampaknya begitu benci denganku. Atau, kau hanya iri karena kau tak bisa melakukan keluar biasaan seperti yang sedang kulakukan sekarang?” leceh Dewa Topan, makin menjerumuskan si Hati Batu dalam kawah kemurkaannya sendiri
“baik! Kau akan mampus di tanganku!” maki si Hati Batu, kehilangan seluruh kata-kata untuk menangkis cemoohan calon lawannya.
Di ujung makian, kedua tangannya meraih sudut jubah kulit bantengnya.
Prat!
Seperti gerak seekor raja kelelawar buruk rupa mengepak sayap, si Hati Batu mengibaskan sepenuh kekuatan sisi-sisi jubahnya. Siapa yang mau bermain-main dengan lawan yang sanggup menunggangi angin puting beliung? Demikian pikirnya. Sebab itu, si Hati Balu tak mau tanggung-tanggung, meskipun dalam gebrakan pertama.
Sungguh patut dikagumi perlawanan manusia bungkuk itu. Dari kibasan jubahnya, tercipta serang-kum angin yang tak kalah ganas, merangsak ekor angin puting beliung yang berada di permukaan bumi.
Wssshhh!
Serbuan angin tadi demikian kuat. Mungkin lebih hebat daripada kekuatan benteng raksasa dari beton baja. Sayang, yang diterjang justru memiliki kekuatan pertahanan sepuluh kali lebih kuat! Maka yang dihasilkan hanya kesia-siaan. Terjangan angin si Hati Batu itu seperti dilahap begitu saja oleh pusingan angin puting beliung Dewa Topan.
Si Hati Batu dipaksa terperangah dengan kenyataan itu. Tak pernah diduga kalau pemuda lawannya memiliki benteng pertahanan angin yang sebegitu kukuh. Wajahnya sekejap memucat, namun secepatnya menguasai diri. Dirinya sekali lagi bersumpah, bahwa lebih baik mati berkalang tanah, ketimbang harus menjadi pecundang memalukan!
“Hiaaa ha ha ha! Tak kukira, sesumbarmu saja yang hebat! Ternyata, kau hanya bisa melempar hembusan angin sepoi-sepoi padaku!” cemooh Dewa Topan di puncak angin puting beliung.
“Kau salah jika hendak melawanku dengan kekuatan angin pula, Manusia Unta! Karena aku adalah rajanya angin! Dewaaa Topaaan! Hia ha ha!”
“Jangan gembira dulu!” bentak si Hati Batu.
“Terimalah ini!”
Bukan alang kepalang gusarnya si Hati Batu. Ejekan itu terlalu menginjak-injak harga dirinya yang begitu dijunjung tinggi. Untuk menguras kesaktian pamungkasnya pun, sekarang dia tak akan ragu lagi. Maka ketika dadanya menggelembung dan punuk besarnya ikut mekar, berubahlah tubuhnya berubah seperti manusia katak! Wajahnya tertarik melebar ke samping. Sementara tubuhnya seperti menyusut ke bawah sampai tangannya menempel ke bumi.
“Krooogh!”
Lantas tiba-tiba saja terlontar bunyi aneh dari pita suara di kerongkongan si Manusia Batu. Selintas dari suara aneh tadi, tubuh si Manusia Batuyang membungkuk dalam, mendadak lepas dari permukaan bumi. Meluncur deras dan tinggi ke angkasa, menuju tempat Dewa Topan berdiri. Di kalangan atas dunia persilatan, ilmu itu dikenal bernama Terjangan Raja Katak’!
Seperti terbang, si Hati Batu mendekat dalam luncuran deras. Ubun-ubun angin puting beliung setinggi lebih dari tiga puluh tombak, jelas-jelas tak menjadi kesulitan baginya untuk dijangkau. Benar! Beberapa kejapan kemudian, luncuran tubuh si Hati Batu sudah bisa menyamai ketinggian tempat Dewa Topan berdiri di atas angin.
“Chuiiih!”
Srrr!
Tepat pada saat tubuh mereka sejajar di udara, mulut si Hati Batu menyemburkan semacam lendir amat kental berwarna kehijauan. Baunya amat menyengat. Bahkan sampai tercium di tempat Dewa Topan. Dewa Topan sempat terpengaruh oleh bau semburan ludah si Hati Batu. Baru saja hidungnya mengdusi tanpa sadar, kepalanya tiba-tiba seperti dibebani beton baja ribuan kati beratnya! Pandangannya mulai berkunang-kunang. Nyaris keseimbangan dirinya tak bisa lagi dikuasai.
Namun ternyata, ludah si Hati Batu kembali meluncur dalam keadaan demikian, maka mudah sekali ludah itu menyambar kerongkongan Dewa Topan.
Srat!
“Eakhk!”
Lelaki muda berwajah beruk itu terpekik kecil. Kulit lehernya seperti baru saja ditembus batangan besi panas membara. Kemudian, menyusul rasa sesak luar biasa yang menyumbat habis aliran pernapasan di kerongkongannya. Dewa Topan terpontang-panting di ketinggian. Tangannya mendekap leher erat-erat, seolah hendak melepas kepalanya sendiri. Sampai akhirnya, keseimbangannya benar-benar tak bisa dipertahan kan lagi. Tubuhnya tergelincir dari tepian ubun-ubun angin putting beliung, lalu meluncur deras ke bumi!
Pada saat yang sama, tubuh mengkerut si Hati Batu pun sudah meluncur turun pula. Tubuh mereka beriringan jatuh pada jarak yang tak begitu jauh. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh si Hati Batu.
“Sekarang kau baru tahu siapa aku, Monyet Sial! Chuih! Chuihl Chuih...!”
Seraya berteriak penuh kemenangan, si tua buruk rupa itu melepas serbuan ludah beruntun ke arah Dewa Topan. Tepat pada keadaan ujung tanduk itu, kesadaran Dewa Topan mulai pulih. Rasa panas yang menjangkiti sekujur lehernya telah dapat dienyahkan, dengan melepaskan hembusan angin dari pori-pori kulitnya. Dan menyadari kalau si Hati Balu menyusul dengan serangan lebih gencar, Dewa Topan berpura-pura tak sadarkan diri. Lalu sampai segerombolan ludah yang beruntun itu datang dan benar-benar nyaris tiba di tubuhnya, tiba-tiba saja pemuda sakti ini berteriak seguruh petir melantak langit! Seketika itu pula kedua tangannya dikembangkan.
Si Hati Batu terperanjat. Nalurinya mengingatkan bahaya yang siap melalapnya. Sayang, kesalahannya sudah terlambat. Begitu tangan Dewa Topan terkembang, angin puting beliung di sisinya terus berpusing, bagai didorong ke arah si Hati Batu. Sekejap saja, tubuh manusia berpunuk itu ditelan keganasan putarannya.
Di perut puting beliung itu, si Hati Batu dipermainkan bagai sebutir kerikil. Siap diperas darahnya. Atau mungkin, siap dibumikan menjadi serpihan-serpihan! Nyawa tokoh sesat itu berakhir...
Selelah itu, kepala angin puting beliung seperti ditarik oleh tangan Dewa Topan. Puncak pusarannya seketika meliuk, mengejar luncuran jatuh lelaki muda berparas kera itu.
Ssshhh...!
Dengan gemulai dan mulus, kaki Dewa Topan lelah berhasil menjejak kembali ke bibir pusaran. Dia berdiri gagah, seperti semula. Tak beda seorang raja perkasa yang baru menang perang!