Part 5
“Aku Dewa Topan, calon penguasa dunia persilatan!” jelas lelaki berpakaian hitam-hitam pekat, sarat keangkuhan. Apalagi sewaktu memperlihatkan kebolehannya melayang dengan memanfaatkan hembusan angin yang tak terlalu kencang bertiup.
“Jangan sembarangan berucap! Akulah, Dewa Api calon penguasa dunia persilatan!” sangkal lelaki lain. tak kalah angkuh.
Dewa Topan melayang lebih dekat menuju Dewa Api. Geraknya setenang layang-layang di udara. Dengan tenang pula, tubuhnya melayang turun perlahan, lalu hinggap di selembar daun keladi tanpa sempat memaksa daun lebar yang rapuh itu bergeming sedikit pun. Unjuk gigi ini membuat Dewa Api, lelaki berpribadi panas berangasan, mulai mengkelap
“Jangan pamer kesaktian di depanku! Karena sebentar lagi kau akan segera kukirim menjadi kerak neraka!” Dewa Topan tersenyum mengejek.
“Wajahku dengan wajahmu entah kenapa bisa serupa seperti ini. Tapi, peruntungan tampaknya tak selalu serupa pula. Bukan aku yang akan menjadi kerak neraka. Tapi kau!” tangkis Dewa Topan enteng.
Bertolak belakang dengan pribadi Dewa Api, Dewa Topan memang lebih dingin. Sifatnya seperti es. Terlihat bersahabat, tapi selalu mampu membunuh dengan kebekuannya. Dewa Api menggeram. Kalau darahnya mulai mendidih, maka tubuhnya pun mulai pula mengepulkan hawa panas. Sehingga, membuat rerumputan di dekat tempatnya berpijak langsung menjadi kering kerontang, bagai didera kemarau panjang.
“Kalau kau memang sehebat seperti kata Pendekar Slebor, cepat buktikan!” lantang Dewa Api. Kalimatnya terlempar dalam satu gelegak.
“Pendekar Slebor.... Hm. hm. hm.” gumam Dewa Topan.
Sebenarnya Dewa Topan sendiri sedang berusaha mencari pendekar besar itu untuk ditantang adu kesaktian. Dia jadi tak mengerti, kalau Pendekar Slebor menyebut-nyebut tentang dirinya pada lelaki yang mirip dengannya. Sementara di lain sisi, Dewa Topan belum pernah sekalipun berurusan dengan Pendekar Slebor. Sepertinya, ada sesuatu yang ganjil. Sebelum kecurigaan Dewa Topan berkembang lebih jauh, Dewa Api telah memberangusnya dengan bentakan kasar.
“Jangan diam saja! Kalau kau memang tak punya nyali, katakan!”
“Nanti dulu, kalau kau hendak menyebutku pengecut...,” sergah Dewa Topan, tetap sedatar permukaan laut yang membeku.
“Bagus kalau begitu!”
Di ujung kalimat, Dewa Api melepas sebongkah bola api sebesar anak banteng ke arah Dewa Topan.
Wusshhh!
Dewa Topan meski hanya berjarak delapan tombak, tak terlalu terkesiap dengan serangan mendadak secepat sambaran hantu. Sambil tetap menyeringai melecehkan, tubuhnya melayang kembali ke udara. Seperti sebelumnya, hembusan angin kecil pun dijadikan tunggangannya.
Hanya dengan gerak menghindar remeh seperti ini. Dewa Topan dapat membiarkan bola api dari telapak tangan Dewa Api nyasar ke lain tempat Setelah itu, dibalasnya serangan pembuka Dewa Api dengan satu kibasan sebelah tangan. Enteng saja tangannya bergerak. Hasilnya, ternyata jauh lebih gila. Serangkum terjangan angin ribut menggasak ke arah lawan!
Werrr!
Dewa Api yang ilmu meringankan tubuhnya jauh di bawah Dewa Topan, tak bisa lagi menghindar dari terjangan angin ribut lawan. Saat itu juga, tubuhnya seperti hendak dicampakkan ke tepi dunia. Kalau pohon-pohon sebesar tiga kali pelukan orang dewasa bertumbangan lalu terseret-seret lunglai tanpa daya, Dewa Api justru tetap menenggak di tempat semula. Kakinya seperti memiliki sehimpun akar yang jauh menghujam ke perut bumi. Hanya rambutnya yang tertata apik menjadi blingsatan. Begitu juga celananya yang terbuat dari bahan tahan api berwarna abu-abu.
“Hm.... Satu-satu nilai kita bukan?” kelakar Dewa Topan bernada mengancam.
“Ya! Untuk berikutnya, kau tak akan sempat menilai lagi...,” desis Dewa Api.
Dalam segebrakan berikutnya, mereka sudah bersiap kembali menjajal ketangguhan masing-masing. Jangan dikatakan sekadar menjajal. Sebab dalam benak masing-masing, selalu terbetik selera membunuh! Selanjutnya manakala keduanya hendak melontar kesaktian masing-masing, sebuah pemandangan memukau mendadak saja lercipta dari sudut langit sebelah utara. Langit yang tak mendung, dijejali gerombolan halilintar liar!
Dewa Topan dan Dewa Api sama-sama mengurungkan serangan. Serempak keduanya menoleh ke utara. Di sana, gelegar dan kerjapan-kerjapan menghentak kian membrutal!
Jlegar! Jlegar!
Sementara Andika di tempat tersembunyi tak luput terperangah seperti orang tolol.
“Orang sinting manalagi yang memiliki ketangguhan seperti itu?!” batin Pendekar Slebor merutuk gemas.
***
“Aku, Dewa Halilintar, tak sudi ada orang yang berani unjuk kesaktian di depanku!” seru lelaki berpakaian merah kusam yang baru datang sambil memutar-mutarkan senjata aneh berbentuk gada pendek berantai di atas kepalanya.
Dari gada itulah lahir beruntun sambaran lidah petir akibat bergesekan dengan udara. Dialah anak muda berusia sebaya dengan Dewa Topan dan Dewa Api yang menantang adu nyawa Pertapa Rakit beberapa waktu yang lalu.
Sesungguhnya pula, Dewa Halilintar pun bersaudara kembar dengan kedua lelaki yang didatanginya. Kalau Dewa Api diangkat murid oleh Datuk Penguasa Api, lalu Dewa Topan diangkat murid oleh Datuk Perempuan Penguasa Topan, maka Dewa Halilintar diangkat murid oleh Datuk Penguasa Halilintar. Semua itu terjadi dalam jurang waktu selama tiga puluh tahun. Artinya baru kali ini mereka bersama-sama lagi. Sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Kemunculan Dewa Halilintar membuat Dewa Topan serta Dewa Api tergugu sejenak. Hari ganjil apa ini? Kenapa ada tiga lelaki yang berwajah sama persis satu sama lain? Demikian kira-kira isi batin mereka. Bahkan Dewa Halilintar sendiri dihadapkan pada mimpi aneh. Putaran senjatanya saat itu juga terhenti, lalu lunglai di sisi tubuhnya.
Cukup jauh dari tempat mereka. Pendekar Slebor pun dipaksa turut dalam suasana kaku. Bibirnya membuka tanpa sengaja. Tampangnya jadi terlihat tolol sekali!
“‘Endhuaan’! Jangan-jangan ketiga orang itu semuanya bersaudara kembar. Lebih ‘endhuan’ lagi, bila mereka benar-benar bisa menguasai dunia persilatan kalau bergabung dengan kesaktian masing-masing... “Endhuan-endhuan-endhuan!” sumpah serapah Pendekar Slebor tertahan-tahan.
Saking gemasnya pada kenyataan di depan mata. tangannya memukul beberapa kali ke tanah. Rejeki memang tak ke mana-mana. Ketika sedikit saja arah pukulannya berubah, tahu-tahu sebuah benda telah hancur lebur menjadi sasaran. Mata pemuda itu kontan mendelik.
“Yang ini justru ‘paling eduan’!” rutuk Andika serayu meringis melihat kotoran seekor rusa yang udah hampir mengering.
“Shih! Aku benar-benar tak sudi ada orang yang mirip denganku! Aku terhina! Aku terhina!” maki Dewa Api.
Bagaimana Dewa Api merasa terhina? Wajahnya itu...Dia merasa sama-sama seburuk dua lelaki lain. Seolah-olah tubuhnya sedang berdiri di depan dua cermin yang memperlihatkan wajahnya yang begitu dibenci. Dan di antara ketiga lelaki yang sebenarnya satu darah itu, memang dia paling telat berpikir. Sedangkan sifat berangasannya tak jauh beda dengan Dewa Halilintar. Lain halnya Dewa Topan. Otaknya cukup cerdas untuk mencari kesimpulan-kesimpulan. Begitu Dewa Api selesai mengumpat, Dewa Topan pun mulai berpikir kalau mereka bertiga mungkin saja bersaudara kembar.
“Kalau ingin cepat membuktikan siapa yang paling unggul di antara kita, hayo kalian berdua hadapi aku!” tantang Dewa Api gelap mata.
“Tunggu! Tunggu dulu!” potong Dewa Topan.
“Apa kalian tak merasa aneh dengan kemiripan wajah kita?”
“Aneh...? Kau menghina?! Bagaimana tidak aneh dengan wajah seperti beruk?!” sambar Dewa Api lagi. Masih saja perasaannya tergiring oleh arus kemarahannya sendiri.
Kalau Dewa Halilintar justru memperhatikan ucapan Dewa Topan barusan.
“Kurasa ucapannya benar. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui.... Mungkin saja kita memang bersaudara kembar. Begitu maksudmu?!” tanggap Dewa Halilintar, pada Dewa Topan.
“Benar! Apa kalian tak penasaran untuk mencari tahu?! Maksudku, kalau kita bertiga benar saudara kembar, bukankah bisa menyatukan kesaktian masing-masing. Lalu, kita bisa kuasai dunia persilatan!” sambung Dewa Topan menggebu-gebu.
Hal yang ditakutkan Pendekar Slebor pun mulai muncul ke permukaan.
“Aku ingin menguasai dunia persilatan sendiri!” sentak Dewa Api, memberangus harapan dua saudara kembarnya.
“Aku pun tak ingin berbagi kekuasaan dengan orang lain!” timpal Dewa Halilintar. Kali ini ucapan Dewa Topan tak begitu saja diperhatikannya.
“Kalian jangan bodoh! Kalau benar kita bersaudara kembar, itu berarti sebenarnya adalah satu. ‘Satu darah’ Maka jalinan darah itu yang menyatukan kita. Hanya pada keluarga kita dunia persilatan bertekuk lutut!” papar Dewa Topan, seperti khotbah.
Barulah dua lelaki berwajah beruk lainnya menimbang-nimbang seluruh perkataan lelaki berpakaian hitam pekat itu.
“Jadi, bagaimana dengan adu kesaktian kita?” tanya Dewa Api sekian lama kemudian.
“Kita tak perlu lagi membuktikan, siapa yang lebih sakti di antara kita! Yang perlu dibuktikan adalah apakah kita benar-benar bersaudara kembar!” jawab Dewa Topan, kian menggebu.
“Setelah kita tahu kita bersaudara kembar, sudah tentu harus menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin. Tak mungkin memilih orang yang paling tua, karena usia kita sama!” sela Dewa Halilintar. Seperti Dewa Api, lelaki ini pun mengungkapkan kata-katanya dengan nada yang selalu panas meletup-letup.
Dewa Topan berpikir sejenak.
“Bisa! Kita bisa menentukan, siapa yang berhak menjadi pemimpin. Kita buktikan dengan kesaktian!” cetus Dewa Topan kemudian.
“Kau katakan, kita tidak perlu adu kesaktian!” terabas Dewa Halilintar.
“Ya! Kita tak perlu bertarung. Yang dibutuhkan hanya permainan....”
“Permainan? Permainan apa?!” tanya Dewa Api dan Dewa Halilintar nyaris berbarengan.
“Lihat saja nanti....”
Di lain tempat, Andika makin tambah panjang mengulur makian demi makiannya. Kekhawatirannya terbukti sudah. Dia hanya tinggal menunggu pembuktian kalau mereka bersaudara kembar. Jika terbukti, maka dunia persilatanpun siap hancur lebur di bawah telapak kaki mereka. Dan itu tidak boleh terjadi....
Sampai saat ini Pendekar Slebor tak tahu secara tepat, apa yang bisa dilakukan untuk menjagal penyatuan mereka. Pikiran sehatnya pun menahannya untuk melakukan tindakan bodoh. Sayangnya, perasaan khawatir terlalu kuat berkecamuk. Tanpa dapat ditahan, tubuhnya mencelat keluar untuk menghadapi tiga tokoh yang sebenarnya bisa membuatnya menemui maut jika sudah bergabung menjadi satu!
“Jangan pergi dulu kalian, manusia-manusia jelek bertabiat jelek, berdengkul jelek!” maki Pendekar Slebor sewot.
Andika berlari mendekati tiga lelaki di sana dengan wajah merah padam. Setumpuk kemarahan buta siap dimuntahkan! Tapi sebentang gerbang maut pun, bisa saja telah siap menelan dirinya....
***
“Bor! Hey, Slebor! Guoblok! Keterlaluan kau! katanya hendak mencari penawar racun untukku?!”
Sebentuk suara menyakitkan telinga telah menyadarkan Andika dari pingsannya. Begitu kelopak matanya terbuka, deraan rasa sakit luar biasa pun muncul. Tubuhnya seperti hendak diremuk redam oleh penggilingan baja. Tampak wajah Penggerutu Berkepang cemberut tak tertolong di depan hidung Andika. Juga serentet gerutuan menyebalkan didengarnya.
“Di mana aku?” tanya Andika, kesadarannya belum pulih benar.
“Di mana.... di mana! Tai kucing! Masa’ kau hanya enak-enakkan tidur, sementara aku meregang-regang nyawa menghadapi racun si Dewa Kentut!”
“Aku tidur...’.’” gumam Andika lirih.
Setelah itu benak Pendekar Slebor kembali terngiang pada kejadian yang menimpanya. Sewaktu keluar dari semak-semak, tanpa dapat dihindari Andika harus berurusan dengan Tiga Dewa. Seperti dugaan Andika, penggabungan kesaktian tiga dewa itu melahirkan sebentuk kesaktian yang hampir tak mungkin dikalahkan. Bahkan Andika tetap tak mampu melukai salah seorang pun, meski seluruh kesaktian warisan Pendekar Lembah Kutukan dikurasnya sampai habis!
Maka, jadilah dia bulan-bulanan empuk. Masih teringat dalam benak Pendekar Slebor, puncak kegentingan pertarungan antara dirinya dengan Tiga Dewa. Dari tiga penjuru berbeda, dirinya digempur tiga kekuatan berbeda. Halilintar, Api, dan Topan! Selubung sinar keperakan yang sering muncul di saat-saat amat genting sebagai perwujudan tingkat puncak kesaktian yang bersemayam dalam dirinya pun, tak kuasa bertahan. Benteng pertahannya lebur.
Meski Andika yang dalam tubuhnya bersemayam buah khasiat ‘Inti Petir’ yang bisa menyerap tenaga halilintar milik seorang musuhnya, tetap saja terdesak dahsyat. Kekuatan halilintar yang biasanya dapat dimanfaatkan untuk menambah kehebatan pukulan jarak jauhnya, ternyata malah memantul balik mendera benteng selubung tenaga saktinya. Tentu saja hal ini akibat terpecahnya seluruh perhatian Pendekar Slebor pada tiga medan serangan yang memanfaatkan kekuatan alam raksasa!
“Hey, jangan bengong begitu, Guoblok!”
Andika terkesiap. Lamunannya kontan buyar.
“Kau yang guoblok! Aku bukannya tidur-tiduran! Aku hampir mampus dikeroyok!” balas Andika. “Kau lihat bajuku yang sudah koyak dan hangus sebagian ini?!”
Lalu Pendekar Slebor meringis-ringis begitu rasa sakit luar biasa menggerogotinya lagi di beberapa bag ian tubuhnya.
“Peduli setan kau baru saja menolong kebakaran rumah, atau apa!”
“Aku bertarung! Sudah kubilang aku bertarung!”
Andika jadi kian mengkelap. Kalau saja Penggerutu Berkepang bukan golongan tua yang mesti dihormati, bogemnya sudah dimasukkan ke mulut menyebalkan itu.
“Lalu, bagaimana dengan janjimu untuk membawakan aku penawar racun?! Sialan benar....”
“Eh, tunggu dulu...,” tahan Andika. Tegas-tegas diperhatikannya keadaan Penggerulu Berkepang dengan dahi mengernyit.
“Bukankah kau sedang sekarat terkena racun?!”
“Terkena racun..., terkena racun,” rutuk Penggerutu Berkepang dengan bibir dimaju-majukan. “Kalau tak ada seorang tua yang menolongku, aku bisa mati membiru! Kau memang goublok! Ke mana saja selama ini?!”
“Diam!” bentak Andika sambil bangkit tertatih-tatih. Bibirnya tak berhenti meringis-ringis
“Kau bilang tadi, ada orang yang menolongmu. Siapa dia?”
Penggerutu Berkepang membantu memapah Pendekar Slebor.
“Karena itu aku mencarimu, sialan... sebalnya, kau enak-enakan tidur di semak-semak padang ilalang ini.”
Kini mereka mulai melangkah. Andika tertatih-tatih dipapahan Penggerutu Berkepang.
“Apa maksudmu?”
“Guoblok!” teriak Penggerutu Berkepang persis di telinga pemuda di sisinya.
Andika sampai mengangkat bahu, tak sadar karenanya.
“Maksudku, si tua yang menolongku itu hendak berjumpa denganmu,” lanjut Penggerutu Berkepang. Kalimatnya mendadak menjadi datar lagi.
“Siapa dia?”
“Nghhhl Mumh..., mumhhh sialan,” Penggerutu Berkepang menggerutu. Dia agak lupa dengan nama si tua yang menolongnya.
“Apa? Aku tak dengar?!” tanya Andika.
“Aku memang belum ngomong! Oh, iya aku ingat sekarang.... Namanya, Pertapa Rakit.”
Pertapa Rakit? Andika merasa asing dengan nama itu. Siapa lagi sesungguhnya orang tua ini?