Part 4
“Anggaplah begitu...,” kata Andika, meski muak mengatakannya.
“Jadi kau menyerah? Itu artinya kau harus menyerahkan nyawa padaku!”
“Aku tak berkata begitu,” kilah Pendekar Slebor.
“Hanya ada satu hal yang harus kusampaikan padamu. Untuk mengalahkanku, tampaknya kau tak akan menemui kesulitan.”
Pendekar Slebor mulai mengibul. Wajahnya sengaja dibuat buat seperti pemain ketoprak yang melakoni tokoh saling tertangkap basah. Dewa Api tergelak mendengar kalimat yang membuat kepalanya membesar seketika itu. Bukan main bangganya dia, mendapat pengakuan dari tokoh muda yang namanya menggegerkan dunia persilatan.
“Jadi, apa maksudmu?!” tanya Dewa Api menggertak pongah.
Umpan muslihat yang dipasang Andika ternyata mudah ditelan bulat-bulat oleh lelaki berilmu tinggi yang baru saja masuk dalam dunia persilatan. Karena tahu kalau Dewa Api masih baru dalam dunia persilatan pula, Andika merasa yakin bisa mengibulinya. Sejauh ihi, Pendekar Slebor sepertinya berhasil.
“Kau tak perlu membunuhku jika ingin tenar dalam dunia persilatan. Ada seorang sakti, bahkan luar biasa sakti. Kepandaiannya di atasku. Dan dia bisa cepat membuatmu berkuasa jika mampu mengalahkannya...,” tutur Pendekar Slebor amat meyakinkan.
Sewaktu menyebutkan kala ‘seorang sakti’ sengaja Andika menyipilkan kelopak matanya agar terlihat sungguh-sungguh. Andika pun bisa melihat, bagaimana mata Dewa Api berbinar geram mendengar perkataannya.
“Dan menurutku, orang itu pun lebih tangguh beberapa tingkat di atasmu!” tambah Andika, makin membuat mata Dewa Api berbinar-binar.
“Katakan siapa orang itu! Apa dia gurumu?!”
Berkawal gemeletak nyala api membakar daun kering di tanah tempatnya berpijak, terdengar geraman berat Dewa Api. Andika terdiam sejenak. Dia berpikir-pikir, apa perlu mengatakan orang yang dimaksud sebagai gurunya atau tidak?
“Cepat jawab!” bentak Dewa Api.
“Ya. dia guruku!” tegas Andika, khawatir kebohongannya terbaca.
“Kalau begitu, cepat sebutkan namanya! Biar kujadikan arang gurumu itu!”
“Kau tak akan mungkin mengalahkannya...,” leceh Pendekar Slebor.
Sandiwaranya makin meyakinkan saja. Kepalanya menggeleng dengan bibir mencibir sewaktu berkata. Seperti tikus buduk yang ngotot masuk perangkap, darah Dewa Api bertambah menggelegak-gelegak. Dalam pikirannya, tidak boleh ada orang yang lebih sakti dibanding dirinya. Apalagi, dia begitu bernafsu untuk menguasai dunia persilatan.
“Cepat katakan!” teriak Dewa Api. Kemurkaannya sudah tiba di ambang batas.
“Baik. Jangan menyesal kalau kau justru terbunuh oleh tangan guruku...,” kata Andika, masih juga memanas-manasi.
“Katakan!”
“Nama guruku.... Dewa Topan!”
“Di mana dia?!
Begitu mendengar Andika menyebutkan nama itu, si Dewa Api bertanya lagi pada Andika dengan bernafsu.
“Aku tidak tahu, di mana guruku berada. Dia selalu berpindah tempat tak pasti. Kalau kau ingin mengantar nyawa padanya, lebih baik carilah terlebih dahulu....”
“Dewa Topan! Akan kucari dan kulumatkan tubuhmu dengan apiku! Biar muridmu tahu, kalau aku bukan pecundang!” seru Dewa Api sambil mendongak.
Seolah dia hendak menjadikan langit sebagai saksi Setelah itu, Dewa Api pergi bersama kobaran api yang tetap membakar seperti kemarahan dalam dirinya. Sementara, Andika sendiri cengar-cengir penuh arti.
“Dasar beruk... ya, beruk juga! Otak hanya sebesar koreng!” ejek Andika sambil menggenjot tubuh pula. Kini Pendekar Slebor bisa mencari Dewa Topan tanpa halangan.
“Siapa tahu Dewa Jelek itu malah membantuku menemukan si Dewa Kentut,” bisik hati Andika geli.
***
Pertemuan, selamanya tak akan mungkin dipisahkan dari perpisahan. Seperti tak mungkinnya kehidupan dipisahkan dengan kematian. Satu akan melengkapi yang lain. Bagai api yang tetap dikawal asap. Perpisahan selama tiga puluh tahun yang lalu, telah merentangkan jarak antara tiga lelaki yang sebenarnya bersaudara kembar. Dewa Api, Dewa Topan, dan Dewa Halilintar.
Latar belakang mereka sebenarnya berawal dari seorang lelaki desa yang telah membuang tiga anaknya ketika masih bayi pada tiga puluh tahun yang lalu. Dengan tergesa-gesa, seorang laki-laki setengah baya melintasi sebuah jalan sambil membopong pikulan bambu pada bahunya. Di ujung-ujung pikulan, terdapat dua keranjang beban. Wajah lelaki itu memperlihatkan raut ketakutan, Bukan pada sesuatu yang mungkin mengejarnya di belakang, tapi pada sesuatu yang sedang dipikulnya kini. Itu tampak jelas, karena entah sudah berapa kali matanya melirik takut-takut ke arah keranjang di depan dan di belakangnya.
Sebenarnya, lelaki itu belum lama menerima kegembiraan, setelah istri tercintanya melahirkan. Dan kedatangan si jabang bayi memang sudah dinanti-nantikan. Yang dihadiahkan sang istri ternyata lebih dari satu bayi. Mestinya hal itu makin menambah kegembiraan, kalau saja tidak mendapati kenyataan lain. Tiga bayi kembar mereka, ternyata memiliki wajah tidak seperti bayi biasa. Wajah mereka buruk. Rambut mereka lebat dan kaku. Sedangkan tubuh mereka terlalu kekar untuk seorang bayi yang baru lahir.
Semula, sepasang suami islri itu tidak mempermasalahkannya. Mereka, biar bagaimanapun, mensyukuri karunia yang diberikan Ilahi. Seburuk – buruknya ketiga bayi itu, tetap darah daging mereka juga. Sayang, kejadian yang sama sekali tidak diharapkan terjadi. Baru saja ketiga bayi merah itu dibersihkan oleh seorang dukun yang membantu persalinan, salah satu bayi sudah mampu mencakar wajah perempuan tua itu. Kejadian sama juga terjadi pada sang ibu. Wajahnya terluka oleh cakaran bayi yang lain, meski kuku-kuku bayi belum lagi tumbuh.
Bukan hanya itu. Manakala memperhatikan mata setiap bayi, tiba tiba diri mereka seperti dirasuki ketakutan yang amat sangat. Ada sinar mengancam di mata masing-masing bayi. Lebih mengancam daripada tatapan seekor serigala liar sekalipun! Suami istri itu bergidik ngeri. Rasa kasih sayang mereka tertumpas seketika oleh kejadian yang sama sekali dianggap mustahil.
Sebuah keranjang bayi terbuat dari bambu kontan rusak, ketika ketiga bayi itu ditempatkan di situ. Rusak seperti dipatahkan tenaga orang dewasa! Seluruh kejadian demi kejadian dengan singkat menghantui suami istri ini. Maka pada pagi harinya, mesti dengan berat mereka memutuskan untuk memberikan ketiga bayi itu pada orang lain. Pada siapa, mereka tidak tahu. Jelasnya, entah bagaimana, mereka merasa waswas untuk membesarkan bayi-bayinya sendiri.
Tiba di satu perempatan jalan, langkah lelaki yang memikul keranjang bayi menjadi ragu. Ada yang menggebah nyalinya ketika matanya tertumbuk pada sebongkah batu besar berbentuk tengkorak tepat di tengah-tengah persimpangan jalan.
Menurut kabar burung yang sering didengarnya, batu di pertigaan itu adalah tanda wilayah kekuasaan bagi tiga orang datuk sesat yang menguasai tiga kekuatan alam. Ketiganya berdarah dingin dan saling bermusuhan. Itu sebabnya, mereka membuat batasan wilayah kekuasaan masing-masing. Jika ada salah satu melanggar, maka kancah pertarungan besar tanpa dapat dicegah akan tercipta. Begitu pula bila ada orang lain yang melintas dalam wilayah kekuasaan mereka. Satu-satunya pilihan untuk orang itu adalah, mati!
Cukup lama si lelaki pemikul keranjang mematung bagai arca. Begitu sinar hangat mentari pagi mengusik wajahnya, barulah dia tersadar. Peluh sudah membasahi hampir sekujur tubuhnya. Dia amat ketakutan untuk melanjutkan perjalanan, sampai-sampai seperti lupa bagaimana cara melangkah. Maka tanpa banyak pertimbangan lagi, keranjang pikulan di bahunya diturunkan. Diletakkannya dua keranjang itu, tepat di kaki batu besar berbentuk tengkorak. Setelah itu, laki-laki ini melarikan diri bagai dikejar sekawanan dedemit haus darah ke jalan semula.
***
Hampir dua hari, ketiga bayi yang membawa ketakutan pada kedua orangtuanya itu terbengkalai di tempat bertanda batu tengkorak. Selama itu pula, tak ada seorang pun yang berani mendekati keranjang mereka. Bagi siapa saja yang merasa dirinya ingin lebih lama hidup, akan merasa lebih baik menyingkir sejauh-jauhnya dari tempat berbatu tengkorak itu. Pasalnya, tiga datuk sesat yang sudah dianggap sebagai siluman, akan segera melempar nyawa siapa saja ke neraka jika berani menginjak batas wilayah itu. Dengan begitu, tiga bayi kembar di dalam keranjang pun tak ada yang berani mengusiknya.
Selama dua hari, mereka tak pernah tersentuh air atau makanan sedikit pun. Anehnya, bocah-bocah yang masih merah itu tampak sehat-sehat saja. Bahkan menangis pun tidak. Sesekali mereka memang terbangun dari tidur nyenyak, lalu menggeliat-geliat kuat. Seolah-olah, otot-otot muda mereka telah berubah menjadi kenyal. Setelah itu, ketiganya tidur kembali seperti tidak pernah mengalami rasa haus atau lapar.
Pada hari ketiga, tiga lelaki yang selama ini dikenal dengan julukan angker Tiga Datuk Sesat Penguasa Kekuatan Alam, muncul di tempat itu. Telah tiga hari ini mereka tahu kalau ada benda asing yang menempati batas wilayah kekuasaan. Semula mereka tak peduli. Bahkan tetap tak peduli, meski mereka tahu kalau dalam keranjang itu ada tiga sosok bayi merah yang membutuhkan pertolongan. Mereka lebih suka bayi-bayi itu mati, daripada menyusahkan.
Namun ketika tiga hari berlalu dan tak tampak ada penderitaan mendera ketiga bayi kembar itu, mereka pun mulai tertarik. Maka pada hari yang sama, Tiga Datuk Sesat Penguasa Kekuatan Alam muncul di tempat itu. Kedatangan mereka dengan niat yang sama, ingin mengambil ketiga bayi sebagai murid. Karena, mereka menganggap bayi-bayi itu memiliki keistimewaan bawaan dari lahir yang tak dimiliki manusia biasa.
Begitu tahu masing-masing menginginkan ketiga bayi tersebut, tiga datuk sesat yang selama ini selalu tak akur menjadi sama-sama geram. Mereka mulai meributkan, siapa di antara ketiganya yang berhak menjadi guru dari ketiga bayi itu. Karena pada dasarnya, keranjang bayi berada tepat di batas wilayah kekuasaan masing-masing. Tepatnya, di bawah batu berbentuk tengkorak.
“Aku yang berhak memiliki bayi ini. Tentu saja!” tukas Datuk Penguasa Halilintar waktu itu.
Lelaki bangkotan itu berusia sekitar sembilan puluh tahunan. Di antara ketiganya, dialah yang paling tua. Rambut putihnya amat panjang, hingga mencapai mata kaki. Dia tak mengenakan selembar benang pun sebagai penutup tubuh. Hanya jenggot putihnya yang sama panjang dengan rambutnya, menjadi penutup tubuh. Meski begitu, wajahnya tak diusik keriput segaris pun. Dia tetap muda, seperti lelaki berusia tiga puluhan. Begitu juga perawakannya. Tak tampak bungkuk atau keropos!
“Khah! Jangan mentang-mentang kau lebih tua dari kami, Sancaka!” sergah Datuk Penguasa Api.
Jika orang yang dihardik memiliki rambut kelewat panjang, Datuk Penguasa Api justru tak berambut. Benar-benar klimis. Bahkan sampai ke alis mata. Barangkali, bulu hidung pun dia tak punya. Datuk yang satu ini berbaju tameng baja yang menutupi dari bahu hingga di atas pahanya. Umurnya hanya berselisih enam tahun lebih muda daripada Datuk Penguasa Topan. Namun jika dilihat wajahnya, tampak lebih tua. Keriput sudah menoreh beberapa bagian pipi dan keningnya.
“Lalu apa kau merasa berhak mendapatkan bayi-bayi luar biasa ini?!” Datuk Penguasa Halilintar balik menghardik. Mukanya memerah dirangsak kegusaran.
“Ya! Bocah-bocah merah itu butuh ilmu apiku. Hanya itu yang dibutuhkan untuk menjadi jago-jago dunia persilatan!”
“Ah, gundul tak tahu adat! Kau pikir hanya ilmu apimu yang hebat!”
Seorang lagi tak mau berdiam mulut. Dia adalah datuk ketiga dari Tiga Datuk Penguasa Alam. Seorang wanita yang parasnya sulit dikenali, karena selalu terbungkus pembaiut warna hitam. Hanya bagian matanya saja yang tampak. Dari corak suaranya yang agak bergetar dan sumbang, bisa diduga kalau usianya sekitar enam puluh tahun. Apalagi dengan perawakannya yang agak membungkuk. Maka akan nyata kalau perempuan itu tentu sudah tak memiliki wajah yang cukup membuat penasaran. Dia mengenakan pakaian kurung berwarna hitam seperti pem-balut wajahnya. Bagian belakang pakaiannya seperti sayap kelelewar. Julukan angkernya Datuk Wanita Penguasa Topan.
Pertengkaran mulut kemudian tumbuh menjadi pertarungan sengit antara ketiga tokoh sakti yang sebenarnya sudah sejak lama selalu mencari kesalahan masing-masing. Jadi kalau kali itu mereka bertarung, bukanlah suatu yang luar biasa lagi.
Seperti pertempuran yang sudah-sudah, mereka sama-sama kelelahan tanpa ada seorang pun yang menjadi pemenang. Biar memiliki ilmu berbeda, namun kesaktian ketiga datuk yang malang melintang dalam dunia persilatan itu pada dasarnya setingkat. Usul punya usul, timbang punya timbang, akhirnya merereka sepakat untuk mengambil masing-masing satu bayi.
Sewaktu ketiganya mulai memilih, ketegangan nyaris pecah lagi. Mereka ngotot satu sama lain untuk menentukan pilihan terlebih dahulu. Sebabnya, tentu saja karena mencari gara-gara seperti sudah mendarah daging. Jika perlu, soal sepele seperti melewati bayangan salah seorang pun akan menjadi pemicu perkelahian brutal yang akhirnya hanya menghasilkan keletihan. Untung saja, mereka sudah terlalu banyak kehabisan tenaga. Sampai akhirnya, diputuskan untuk mengundi sampai semuanya mendapatkan satu bayi agar kelak bisa dijadikan murid!
Itu memang cerita tiga puluh tahun yang lalu. Hasilnya, kini muncul tokoh-tokoh sesat berjuluk, Dewa Topan, Dewa Halilintar, dan Dewa Api dengan sepak terjang masing-masing yang menggiriskan. Dan sebagai rasa hormat terhadap si Pengumpul Ilmu yang telah menjadi eyang guru ketiga murid berwajah beruk itu, oleh guru mereka masing-masing diberi kalung yang bandulnya bergambar wajah si Pengumpul Ilmu.
***
Sementara itu Dewa Api terus mencari Dewa Topan. Lelaki bersifat panasan seperti ilmu apinya itu, rupanya telah berhasil menemukan buruan yang dicari, atas keterangan yang dikorek dari seseorang.
“Dewa Topan, berhenti kau!” perintah Dewa Api pada Dewa Topan yang sedang menari-nari di udara bagai meniti angin.
“Ada yang mau menantang kesaktianku?” sambut Dewa Topan, sebelum kepalanya sendiri menoleh kearah orang yang memanggil.
Begitu satu sama lain sama-sama menyaksikan wajah, kontan saja mereka terheran-heran berbarengan.
“Siapa orang ini? Kenapa wajahnya sama jelek denganku?” tanya hati masing-masing.
Kalau saja penampilan mereka tak berbeda, mungkin akan serupa seperti sedang berada di depan cermin luar biasa persis. Baik matanya, bibirnya, juga hidung yang mendongak itu.
“Siapa kau?!” tanya Dewa Topan terheran-heran.
“Kau sendiri siapa?!” tanya Dewa Api pula.
“Aku sendiri siapa, ya? He he he...,” bisik seseorang amat samar di kerimbunan semak-semak lebat yang cukup jauh dari tempat itu.
Siapa lagi orang itu kalau bukan Pendekar Slebor. Tanpa sengaja, dia tadi melihat Dewa Api sudah menemukan orang yang sama-sama dicari. Andika tentu saja memang ada keperluan, hendak mencoba mendapatkan penawar racun untuk Penggerutu Berkepang. Sedangkan Dewa Api, ya... tentu saja tak ada keperluan sama sekali. Selain, jadi korban keusilan otak encer Pendekar Slebor!
“Wah! Tak kukira, guruku ternyata berwajah mengenaskan,” gurau Andika lagi.
Sekarang pendekar muda itu tidak ragu lagi kalau dirinya telah menemukan Dewa Topan, orang yang tentunya memiliki penawar racun untuk kawannya, Penggerutu Berkepang. Hanya saja. Andika agak bingung mengetahui wajah keduanya yang sama sekali tidak terdapat perbedaan. Dengan wajah yang begitu serupa sempurna seperti itu. mereka bisa bertukar penampilan dengan sempurna pula. Yang satu bisa menyamar menjadi yang lain.
Dan Andika jadi teringat pada kejadian beberapa waktu lalu dengan sahabatnya dari Cina, Chin Liong. Belakangan, diketahui kalau sahabatnya itu ternyata bersaudara kembar dengan musuh besarnya sendiri. Chin Chung! Bukan mustahil Dewa Topan dan Dewa Api bersaudara kembar juga. Kalaupun mereka kini tidak saling mengenal, mungkin keduanya memang telah terpisah sejak kecil....
“Kalau memang begitu, suatu saat urusan akan menjadi semakin runyam,” gumam pemuda yang tersohor sebagai Pendekar Slebor itu.
“Bisa saja mereka bersekongkol untuk menguasai dunia persilatan....”