Part 3
Andika segera pamit pada suami-istri pemilik gubuk. Semakin cepat bertemu orang yang disebut Penggerutu Berkepang sebagai Dewa Topan, akan semakin baik. Artinya, dia harus berlomba dengan waktu. Semakin waktu terulur, maka akan semakin tipis harapan hidup bagi Ketua Partai Pengemis Timur. Sebelum tubuh Pendekar Slebor mencapai pintu keluar, terdengar suara secempreng kaleng rombeng di luar.
“Aku tahu kau berada dalam gubuk itu Pendekar Slebor! Keluarlah! Aku hendak menantangmu bertanding!”
Andika agak melengak. Dia jadi ingat cerita Penggerutu Berkepang tentang Dewa Topan. Bukankah lelaki itu pun menantang bertanding? Seraya menoleh dengan mata tak berkedip pada Penggerutu Berkepang, hatinya bertanya-tanya. Apa orang di luar adalah Dewa Topan?
Pendekar Slebor segera mendekati jendela gubuk, lalu mengintai dari kerai bambu. Di luar tampak seorang lelaki berwajah seperti beruk dan bertelanjang dada. Rambutnya panjang lurus, seperti milik wanita-wanita genit yang selalu memelihara rambutnya dengan sisiran teratur.
Andika menoleh kembali pada Penggerutu Berkepang. Pada saat yang sama, Ketua Partai Pengemis Timur itu makin menyeringai-nyeringai nyeri didera rasa panas serta sakit bagai ditusuk-tusuk jarum-jarum kecil di seluruh serat tubuhnya.
“Apa ciri-ciri Dewa Topan?” tanya Andika hati-hati pada Penggerutu Berkepang.
“Tai kucing, kau ah!” maki lelaki setengah baya dari kalangan gembel sakti itu.
“Sudah tahu aku sudah sekarat seperti ini. masih sempat-sempatnya bertanya padaku! Kalau mau menolong, ya lakukan! Ugh....”
Andika menelan ludah, antara mangkel dan geli.
“Pokoknya, si Dewa Kentut itu bertampang seperti kera!” jelas Penggerutu Berkepang, akhirnya.
“Penampilannya?” susul Andika.
Penggerutu Berkepang tidak menjawab pertanyaan terakhir Pendekar Slebor. Bukannya tidak mau, tapi memang tidak bisa. Tiba-tiba saja serangan racun dalam tubuhnya menghebat. Otot-otot di tubuhnya menegang, berusaha mengadakan perlawanan terhadap rasa sakit luar biasa. Gigi lelaki itu pun bergemeletukan hebat. Wajahnya berubah matang, meregang nyawa. Istri pemilik tempat menjadi agak gugup melihat keadaan Penggerutu Berkepangyang begitu mengenaskan. Wajah perempuan tua itu jadi memucat, di sisi pembaringan tamu sekaratnya. Untung suaminya bisa sedikit menenangkan.
“Kau tidak apa-apa, Ketua Pengemis?” tanya Andika, agak khawatir.
Dengan tergesa, Pendekar Slebor menghampiri kembali lelaki berpakaian gembel itu. Tangannya sengaja digenggam Andika, agar sedikit mendapat dorongan semangat untuk melawan pengaruh racun yang bersarang dalam dirinya.
“Bertahanlah! Secepatnya aku akan menemukan obat pemunah untukmu. Untuk saat ini, kau harus bisa menguasai dirimu agar tidak pingsan. Sekali pun pingsan, maka pengaruh racun itu akan cepat mengoyak pembuluh-pembuluh darah di jantungmu. Atur peredaran jalan darahmu sebisa mungkin, untuk menghambat laju racun itu....”
Untuk sementara waktu, sebelum berhasil mendapatkan pemunah racun bagi kawan keras kepalanya itu, Andika berusaha menutup jalan darah penting agar racun tak cepat mengalir.
Tuk! Tuk! Tuk!
Sayangnya, usaha Andika agak terlambat. Sebab Penggerutu Berkepang tampaknya sudah berada di ambang kegentingan.
“Tha... tha-hi... khu... chingh...”
Bersama melemahnya suara, lelaki setengah baya itu pun tidak sadarkan diri. Benteng kekuatan pertahanan dirinya runtuh, tak kuat menjalani siksaan rasa sakit yang tak terhingga. Andika tercekat. Ini benar benar genting. Tanpa dikehendaki, dia jadi sedikit gugup juga. Bagaimana tidak, kalau ini adalah urusan nyawa kawannya tokoh golongan putih yang meskipun sering mendongkolkan dan menyebalkan, tapi masih mau menegakkan keadilan bersamanya.
Sementara itu, teriakan di luar menyambung. Makin lantang, makin menantang.
***
Pendekar Slebor keluar. Bukan karena terpaksa, tapi memang harus keluar. Karena semakin cepat bertindak, semakin besar harapan hidup Penggerutu Berkepang. Maka dengan langkah tergesa, didekatinya lelaki berwajah mirip beruk di halaman depan gubuk.
“Aku tak punya banyak waktu buatmu. Cepat serahkan saja penawar racun yang telah kau beri pada kawanku!” bentak Andika tanpa berbasa-basi lagi.
Lelaki berwajah beruk di depan Pendekar Slebor bukannya menjawab, malah menggeram. Siapa yang tidak dongkol diperlakukan begitu? Lebih-lebih Andika sedang terburu-buru untuk mendapatkan pemunah racun yang bersarang di tubuh Penggerutu Berkepang.
“Ini soal nyawa kawanku! Kau dengar itu?! Jangan hanya menggeram seperti kucing kimpoi!” bentak Pendekar Slebor, berang.
“Atau aku harus memaksamu?!”
“Kedatanganku ke sini untuk menantangmu mengadu kesaktian!”
Kalimat pertama keluar dari lelaki bertelanjang dada di depan Pendekar Slebor. Suaranya berat, seakan keluar dari pita suara seekor singa jantan.
“Kau tuli, ya? Aku butuh penawar racun!” ulang Pendekar Slebor, membentak.
“Aku telah mengikutimu selama beberapa hari. Dan hari ini, aku harus menantangmu. Dunia persilatan harus tahu bahwa aku dapat mengalahkan pendekar kesohor sepertimu”
“Eee, orang ini benar-benar kadal bau! Aku ngomong begini, dia ngomong begitu. Apa telinganya dijual di tukang loak?” gerutu Andika jadi kian tak sabar.
“Begini saja. Kalau kau memang hendak menantangku, aku terima. Asal, taruhannya penawar racun itu. Kalau aku menang, penawar racun itu harus diberikan padaku.”
“Tak ada taruhan yang lain bagiku, kecuali nyawa!” tandas calon lawan Pendekar Slebor.
Sampai di situ, Andika merasa ubun-ubunnya akan meledak mendadak. Semua ucapannya tak dianggap, kecuali sekadar kentut oleh lelaki itu. Dia marah besar. Darahnya seketika menggelegak.
“Khoek chuih!”
Beriring satu dengusan. Andika meludah ke tanah. Lalu ditunjuknya lender kental itu dengan sikap kasar.
“Kau tahu itu apa?”
Si lelaki yang disangka Andika sebagai Dewa Topan menatap dingin. Biar begitu, ada sebersit sinar keheranan di matanya. Kata banyak orang, Pendekar Slebor suka bertingkah aneh-aneh. Tapi kalau menanyakan ludahnya sendiri, rasanya memang terlalu aneh. Anak kecil saja tahu kalau yang ditunjuknya ludah. Lantas kenapa harus bertanya pula?
“Nah! Kau tidak bisa jawab, bukan? Itu artinya kau terlalu bodoh! Jadi aku dapat maklum kalau kau tak mengerti apa-apa dengan setiap ucapanku sebelumnya!” ledek Pendekar Slebor, semena-mena.
“Aku tidak bodoh!” sangkal lelaki bertelanjang dada bernafsu.
“Tapi kenapa seperti tak mengerti ucapanku, hayo?” cecar Andika.
Tingkahnya sudah seperti bocah ingusan yang sedang bertengkar dengan kawan mainnya. Kalau tidak begitu, jangan sebut Pendekar Slebor!
“Aku....”
kata-kata si lelaki berwajah kera tersendat. Hidungnya yang mendongak menjadi kembang-kempis tak karuan.
“Aku... memang tak mengerti apa maksudmu!” terabas lelaki itu gusar sekali.
“Nah.... Sekarang, kau malah mengaku sendiri! kau memang tak mengerti maksudku. Jadi, otakmu jelas-jelas tumpul!”
“Keparat! Kau telah berani menghina Dewa Api, orang yang bakal menguasai dunia persilatan!”
Sampai di sana, barulah Andika terpana sendiri. Dilalapnya lelaki di depannya dengan pandangan bodoh.
“Dewa Api? Jadi, dia bukan Dewa Topan? Memangnya, ada berapa dewa di dunia persilatan ini, ya? Apa mungkin nama Dewa Topan kurang membawa rejeki, lalu namanya diganti menjadi Dewa Api...,” gumam Pendekar Slebor.
Setelah itu, kepala Andika menggeleng sendiri. Jelas, dia sudah salah menduga orang.
“He he he...,” cengenges Pendekar Slebor.
“Rasanya, aku sudah salah alamat. Jadi, kau bukanlah orang yang kumaksud. Kalau begitu, aku pamit!”
Kemudian Andika berbalik dan siap melangkah.
"Tunggu!” tahan lelaki bertelanjang dada yang mengaku sebagai Dewa Api.
“Masih ada urusan yang belum kita selesaikan, Pendekar Slebor!”
Terpaksa Pendekar Slebor menahan langkahnya, lantas berbalik.
“Aaah! Soal salah paham dalam hidup ini, kan biasa....” tukas Andika.
“Boleh bukan aku minta maaf karena telah menghinamu..., habis-habisan. He he he!”
Semula Andika menyangka Dewa Api tak menanggapi maksud ucapannya. Tapi kini, justru dia yang tak menanggapi maksud lelaki berwajah kera ini.
“Bukan soal itu!”
“Lho, bukan soal itu?” latah Andika dengan raut wajah terperangah.
“Aku hendak menantang adu kesaktian denganmu!” tegas si lelaki amat mengguntur.
“Sekarang, terimalah serangan perkenalanku! Hiaaah!”
Dewa Api langsung menyiapkan gempuran pertama. Seperti dikatakannya tadi pada Pendekar Slebor, dia bukan sekadar bertukar jurus. Maka, Dewa Api pun tidak menyerang dengan jurus biasa. Tidak ada hantaman tinju, tamparan, atau tendangan melayang yang ganas ke arah Pendekar Slebor. Dewa Api malah mempersiapkan kuda-kuda. Tangannya bergerak lambat dalam garis melingkar keluar. Napasnya terdengar turun naik secara teratur. Setelah itu, Pendekar Slebor harus terkesiap menerima kedatangan serangan Dewa Api. Semburan api besar itu juga keluar dari sepasang telapak tangan Dewa Api!
Brrr!
Keterkejutan tak menyebabkan Pendekar Slebor lengah. Sudah banyak asam-garam dunia persilatan yang ditelannya mentah-mentah selama ini. Bahkan nyawanya sudah seringkali dipertaruhkan dalam keadaan paling genting sekali pun. Jadi terjangan yang sebenarnya masih langka ditemuinya, masih dapat dilumpuhkan tanpa banyak kesukaran.
Cukup dengan berjumpalitan ke belakang beberapa putaran, Pendekar Slebor berhasil menyelamatkan diri. Namun kesungguhan Dewa Api untuk menurunkan nama besar pendekar muda kesohor itu, tampaknya benar-benar luar biasa menggelegak. Belum lagi tubuh Pendekar Slebor tiba di bumi, semburan api bagai menjulur dari mulut naga langit raksasa mengejarnya kembali. Lebih cepat, lebih ganas, dan lebih telengas! Tubuh Pendekar Slebor sepertinya hendak ditelan bulat bulat oleh gapaian api raksasa seukuran pohon beringin!
Dari dua arah sejajar, tubuh Pendekar Slebor diburu. Salah satu ruang kosong yang bisa dijadikan tempat menghindar, hanya ke belakang lagi. Untuk itu. Pendekar Slebor butuh satu pijakan untuk menyentak tubuh kembali. Di sisi lain, kalau berusaha untuk tetap menjejak ke bumi, semburan api raksasa akan segera memanggangnya tanpa ampun!
Bermodal sedikit kecerdikan dan kemampuan tenaga dalam tingkat tinggi yang amat disegani dunia persilatan, Pendekar Slebor melepaskan kain bercorak catur dari bahunya di udara. Begitu cepat, bahkan nyaris menyamai kecepatan semburan api yang lebih dahulu meluncur. Lalu
Srat! Ctar!
Begitu kain pusaka yang luar biasa kenyal itu tersentak ke bumi, terlempar suara menggelegar dahsyat. Tentu saja, Pendekar Slebor telah menyalurkan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan tingkat sepuluh pada senjata pusakanya. Dengan demikian, dia sudah cukup mendapat tenaga dorongan ke udara. Dan untuk kedua kalinya, tubuh pendekar bertabiat urakan itu berjumpalitan ringan beberapa putaran lebih ke belakang.
Tap!
Kaki Andika tahu-tahu singgah di sebatang ranting, setipis jari kelingking bayi pada salah satu pohon. Pendekar Slebor tak begitu tahu, Dewa Api tak mencecarnya dengan semburan susulan. Sampai dia tahu dari mulut orang itu sendiri
“Tak percuma seluruh mulut di dunia persilatan menggembar-gemborkan kalau kau memiliki kecerdikan luar-biasa...,” puji Dewa Api, begitu menyaksikan bagaimana Pendekar Slebor mampu menghindari serangan dalam keadaan sudah amat sulit. Bahkan untuk seorang datuk sakti pemilik ilmu peringan tubuh sempurna sekali pun!
“Ya-ya-ya, itulah aku...,” sahut Andika. Mulai timbul kesombongan tengiknya.
“Dan jangan lupa, bukan kecerdikan saja yang kumiliki. Jurus dan kesaktianku pun mesti diperhitungkan jika hendak menantangku....”
Pendekar Slebor semakin pongah. Meski pada dasarnya kepongahannya hanya dibubat-buat. Sebenarnya, dia hanya ingin memancing kegusaran lawan. Di dunia para manusia jumawa, melecehkan kemampuan lawan bisa menjadi senjata ampuh untuk memancing kemarahan. Dan Pendekar Slebor memanfaatkan sebaik-baiknya.
Dewa Api mendengusi pertanyaan Andika yang begitu memuakkan di telinganya.
“Tapi, hari ini kecerdikan dan kesaktianmu akan tinggal cerita basi. Aku bersumpah untuk mengalahkanmu. Dan lebih dari itu, aku akan mengirimmu ke liang lahat!” tandas Dewa Api.
“Heyyy! Nampaknya kau bisa jauh lebih sombong dari aku. Belajar dari mana? Siapa yang mengajarimu kalimat baikah itu? Tentu orang itu sangat pandai mengajar beruk berbicara, bukan?”
Pedas bukan main telinga Dewa Api. Kendati wajahnya memang tak lebih bagus dari Hanoman. harga dirinya tetap akan tersodok oleh kata-kata Pendekar Slebor.
“Kau...,” geram Dewa Api.
“Berani-beraninya mengatakan aku beruk!”
“Kau yang baru saja mengatakan begitu. Sedang aku? Aku hanya mengatakan, kalau orang yang mengajarimu kalimat pongah, tentu orang yang pandai mengajari beruk bicara. Apa hubungannya denganmu? He he he...,” ejek Andika makin keterlaluan disertai tawa terkekeh.
Begitulah kelihaian pendekar urakan mengombang-ambing amarah lawan! Rupanya, Dewa Api kali ini tergolong manusia yang besar perasaan. Pancingan-pancingan Pendekar Slebor nyaris mengena tepat ke dasar harga dirinya. Murkalah Dewa Api. Kemurkaan rupanya membawa satu hal mempesona, sekaligus menggidikkan pada diri lelaki berusia sekitar tiga puluhan itu. Apa yang disaksikan mata kepala Andika?
Tubuh Dewa Api perlahan-lahan menyibakkan lidah-lidah api. Sekujur tubuhnya, tak terkecuali rambut sampai ujung kuku! Mata Pendekar Slebor terbuka lebih besar. Makin membesar, bahkan mendelik manakala menyaksikan api di sekujur tubuh Dewa Api makin tumbuh laksana raksasa. Sampai seluruh tubuh itu tuntas terselimuti kobaran api yang berhembus-hembus, mengirimkan hawa panas mengeringkan daun ke segenap penjuru!
“Ck, ck, ck. Tak percuma dia dijuluki Dewa Api!” puji Andika.
Sekali ini, Pendekar Slebor yang harus jujur mengakui kebesaran nama Dewa Api yang sebenarnya masih cukup asing buatnya.
“Bisa-bisanya dia membuat api unggun di tubuh sendiri... Sayang..., aku tidak punya persediaan daging kelinci mentah...,” gumam Andika lagi, ngawur.
Gumaman Andika dipaksa terpenggal. Jilatan api di tubuh lelaki berwajah kera mendadak saja mengarah ke dirinya. Kalau diperhatikan dari kejauhan, kobaran api itu mirip untaian rambut panjang berwarna merah bara!
Wusss!
“Kutil! Aku bukan kambing guling!” serapah Pendekar Slebor seraya melompat, menerjang udara ke samping. Siapa yang sudi menjadi kambing guling seperti dikatakannya barusan?
Pendekar Slebor luput terpanggang. Akibatnya, Jiohon tempatnya hinggap menjadi sasaran nyasar.
Brrr!
Tak ada sekedip mata, pohon yang semula hijau itu sudah menjadi ladang api besar. Lidah apinya menjilat tinggi seperti barusan menggapai langit. Asap hitam pekat pun membubung.
Sekarang, keadaan sudah menjadi serba telanjur untuk Pendekar Slebor. Untuk mencari Dewa Topan yang memiliki penawar racun bagi Penggerutu Berkepang, sudah telanjur berurusan terlalu jauh dengan Dewa Api. Menghindar begitu saja pun, tampaknya tak mudah. Menilik kemampuan lawan yang sudah diperlihatkan, Andika yakin ilmu meringankan tubuhnya tak bisa dianggap remeh pula. Apalagi Pendekar Slebor tak suka dikejar-kejar. Baginya, hanya orang yang merasa berada di pihak bersalah yang harus diperlakukan begitu.
Bagai ibarat, buah simalakama harus dimakan. Andika. Melanjutkan pertarungan, berarti akan kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa Penggerutu Berkepang. Menghindari pertarungan, berarti membiarkan dirinya diburu oleh lawan seperti babi hutan. Atau, seperti buronan yang patut mendapat hukuman!
“Tunggu!” sergah Pendekar Slebor, begitu tubuhnya sudah mendapat tempat berpijak di atas sebatang pohon lain.
Sekian kejap di udara tadi, dalam benak Andika sempat terbetik muslihat yang bisa menyelesaikan persoalan.
“Kenapa kau menghentikan, Pendekar Slebor? Kau takut menghadapi kenyataan kalau akan menerima kekalahan dariku?” leceh Dewa Api, dari balik api raksasa.